You are on page 1of 6

Positivisme

Misalnya: dari hasil penelitian objektif terhadap karyawan di berbagai institusi ditemukan fakta
bahwa jumlah jam kerja dan gaya kepemimpinan dapat mempengaruhi absensi karyawan. Ini
kemudian dianggap sebagai suatu kebenaran karena telah melalui penelitian yang empiris. Fakta ini
dianggap sebagai kebenaran yang umum dan berlaku dimanapun juga terhadap organisasi apapun.

Konstruksionisme

Misalnya: Berfokus pada kasus yang spesifik. Fakta yang diangap kebenaran oleh positivist, mungkin
tidak bisa digeneralisasi. Penganut pendekatan ini lebih bisa menyimpulkan suatu hal karena
fenomena yang spesifik. Misalnya dengan kasus yang sama, mereka hanya bisa menyimpulkan untuk
kasus yang terbatas, seperti alasan-alasan yang mempengaruhi absensi karyawan di perusahaan X.
Mereka menganggap ini bukan realitas objektif yang bisa digeneralisasi.

Realisme Kritis

Misalnya: Mereka percaya fakta yang seperti diungkapkan para positivis, bahwa jam kerja dan gaya
kepemimpinan dapat mempengaruhi absensi karyawan. Tetapi mereka menganggap bahwa itu
bukanlah kebenaran yang dapat diukur secara objektif. Karena hal-hal seperti itu sebenarnya
merupakan alasan subjektif dari sample yang diobservasi, walaupun memang itu dapat
digeneralisasi.

Pragmatisme

Misalnya: Karena penganut pendekatan ini berfokus pada hal-hal praktis, yaitu masalah yang
memang muncul untuk kemudian mencari pemecahan masalah. Jadi mereka juga menganggap
bahwa hal-hal yang mempengaruhi absensi karyawan itu juga merupakan subjektif, tergantung dari
sample yang diobservasi. Namun mereka juga menggunakan fakta-fakta pada teori yang sudah ada
untuk membantu penelitian mereka. Mereka menganggap bahwa alasan-alasan ini mungkin saja
berubah di waktu mendatang. Jadi kesimpulan yang dihasilkan hanya bersifat sementara.

didengar. (b) secara epistemologis. Dalam ilmu komunikasi pandangan positivisme digunakan dalam teori kultivasi (Cultivation) dan teori Agenda Setting. Positivisme menggunakan asumsi objectivist atau empirical realist. penelitian mengenai kekerasan dalam televisi yang berpengaruh kepada mental anak. sosiometri. yaitu upaya untuk mencari generalisasi terhadap fenomena. Proses nalar tidak lain berlandaskan pada pengujian terhadap berbagai jenis logam yang memuai saat dipanaskan. diraba dan dirasakan). Dalam pendekatan ini.POSITIVISME Dalam kerangka filsafat positivisme. dan sebagainya. Jika dilihat dari tiga pilar keilmuan. Misalnya: seseorang pada akhirnya berkesimpulan dan itu “benar”.id/2012/09/penelitian-positivistik. Pengambilan kesimpulan seperti ini disebut sebagai penalaran induktif. Data diambil berdasarkan rancangan yang telah matang. Melihat suatu kejadian atau gejala sosial atau fenomena yang ada sebagai suatu yang causal (hukum sebab akibat). survei.blogspot. menghendaki agar proses penelitian bebas nilai. http://mastaritanova. berawal pada peristiwa yang bersifat khusus. pengetahuan manusia dianggap bermakna jika dapat dicapai dan dibuktikan melalui pengamatan inderawi empirik. menuju ke arah yang lebih umum untuk mencapai kesimpulan. dan penelitian mengenai meningkatnya daya beli masyarakat dikarenakan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. seperti kuesioner. inventori. peneliti mengejar obyektivitas agar dapat ditampilkan prediksi meyakinkan yang berlaku bebas waktu dan tempat. teramati. diraba. sesuatu yang terjadi karena disebabkan oleh suatu alasan.co. Misalnya saja. penelitian terhadap ilmu sosial menggunakan data kuantitatif yang akurat dan menggunakan eksperien. (c) secara aksiologis. Artinya. ciri-ciri positivistik yaitu: (a) aspek ontologis.html Pandangan yang paling tertua yang digunakan dalam ilmu sosial adalah positivisme dimana merupakan pendekatan dalam ilmu-ilmu alam. Penemuan bukti bahwa logam tersebut dapat memuai dipandang sebagai kebenaran yang bersifat umum. positivistik menghendaki bahwa arealitas penelitian dapat dipelajari secara independen. kurangnya berolahraga dapat menyebabkan fisik menjadi lemah dan mudah terserang penyakit. dapat dieliminasikan dari obyek lain dan dapat dikontrol. Cara penalaran ini merupakan proses yang diawali dari fakta-fakta pendukung yang spesifik. Paham positivistik akan mengejar data yang terukur. . Kata kunci positivisme yang penting adalah jangkauan yang bisa dibuktikan secara empirik (nyata) oleh pengalaman indrawi (dilihat. dan menggeneralisasi berdasarkan rerata tersebut. bahwa logam apapun jenisnya akan memuai jika dipanaskan. Generalisasi diperoleh dari rerata di lapangan. Implikasi dari pernyataan itu berarti bahwa pengetahuan ilmiah pun dianggap valid sejauh diperoleh melalui prosedur ketat ilmiah positivistik atau melalui proses yang mengandalkan pada pengamatan- pengamatan dan eksperimen-eksperimen yang bersifat empirik inderawi. dan statistik untuk mencari ketelitian dan melihat dengan objektif. Kevalidan penelitian positivisme dengan cara mengandalkan studi empirik.

Paradigma positivist sesuai dengan pendapat Durkheim mengenai penelitian sosial. Jika hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan kelompok sosial karena adanya persamaan minat yang dimiliki individu dengan anggota dalam kelompok tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hal itu yang menjadi pola umum. Dengan pengukuran yang dilakukan pada beberapa individu. . melihat dasar pembentukan kelompok sosial. Kelompok sosial dapat dijadikan sebagai realita yang juga merupakan fakta sosial. Paradigma ini sama halnya dengan mempertanyakan suatu realita dengan “what?” mengenai apa yang terjadi pada masyarakat pada umumnya. Dalam penelitian ini. Peneliti benar-benar menggambarkan realita yang ada pada masyatakat secara objektif dengan tujuan keakuratan pengukurn dalam penelitian. Metodologi ini juga ditujukan untuk memprediksi atau menemukan pola umum sebagai hukum alam dalam suatu fakta atau gejala sosial. Hasil penelitian dengan paradigma ini juga menggambarkan keadaan yang universal. Keberadaan objek penelitian benar berada di luar diri peneliti. dan dapat diuji (testable). Penelitian dengan paradigma positivistmenggunakan metode yang empiris untuk dapat menggambarkan sebuah fakta sosial sebagai realita atau objek penelitian. Ontologi paradigma positivist melihat realita sosial berada di luar peneliti. Hal ini menentukan kualitas hasil penelitian. dapat dilihat pola umum yang menggambarkan dasar individu-individu membentuk suatu kelompok. sehingga objektivitas dapat terjaga sesuai dengan paradigma positivist. Peneliti tidak berinteraksi dengan objek penelitian sehingga terdapat jarak antara peneliti dan objek penelitian. peneliti dapat memprediksi pola umum yang terjadi pada masyarakat dalam membentuk kelompok sosial. pernyataan dari hasil dapat diuji ketepatannya dengan teori dan kejadian-kejadian lain yang sama pada masyarakat sehingga memiliki validitas internal dan eksternal. Keberadaan yang berada di luar peneliti menyatakan epistimologi paradigma ini bahwa peneliti tidak berhubungan atau terlibat dalam objek penelitian.yaitu persepsi atas adanya suatu “realitas” yang sebenarnya ada diluar pemikiran atau pandangan manusia. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa penelitian paradigma positivist merupakan penelitian kuantitatif. Paradigma ini melihat fakta sosial yang berada dalam masyarakat dapat digambarkan sebagai hukum alam yang sifatnya umum dan mengetahui bahwa fakta sosial itu benar keberadaannya sehingga realita itu sifatnya eksis atau dapat digambarkan. Hal ini juga menjelaskan bahwa paradigma ini menjaga objektivitas penelitian. dapat diukur (measureable). eksternal. sehingga dapat dibuktikan. dan objektivitas itu sendiri. Namun. Penelitian dengan paradigma positivist juga mengenal syarat yaitu dapat diamati (observable). dapat diulang (repeatable).# Validitas internal berarti memiliki ketepatan atau kesesuaian dengan teori yang sebelumnya sudah ada sehingga validitas eksternal juga dapat dibuktikan melalui ketepatan dan kesesuaian dengan temuan-temuan lain yang bersifat sama di saat berbeda dan tempat yang berbeda.# Hasil penelitian dengan paradigma positivis dapat ditentukan kualitasnya melalui validitas internal. Paradigma Positivist Paradigma positivist merupakan paradigma penelitian yang melihat fakta sosial sebagai realita. Peneliti menjaga nilai-nilai yang ada dalam dirinya untuk tidak dimasukkan pada penelitian sebagai aksiologinya. Peneliti dapat melakukan penelitian pada beberapa kelompok sosial yang tidak ada hubungan dengan dirinya sendiri atau berada di luar dirinya. Penelitian dengan paradigma positivist dapat dicontohkan dengan penelitian mengenai kelompok sosial.

paradigma ini lebih bersifat kualitatif. Tujuan penelitian dengan paradigma ini sama dengan positivist yaitu untuk mengetahui pola umum yang ada dalam masyarakat. Dalam hal ini juga peneliti lebih mengkritisi bahwa realita sebagai objek penelitiannya benar-benar terdapat dalam masyarakat. Paradigma post-positivist menganggap bahwa penelitian tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai pribadi peneliti sendiri. Peneliti berinteraksi atau terlibat dengan objek penelitiannya yang ditentukan bahwa peneliti merupakan salah satu anggota kelompok sosial.# Dapat dikatakan bahwa . maka memiliki aksiologi di mana peneliti lebih memasukkan nilai-nilai pendapatnya dalam penelitian dan hasil penelitiannya juga lebih subjektif. Dapat dilihat ontologinya bahwa realita sebagai objek yang diteliti memang berada di luar. Hal ini juga menyatakan epistimologinya. Menurut paradigma ini. Namun dalam meneliti kelompok sosial mengenai dasar individu-individu dalam pembentukan kelompok sosial. Jika didapat bahwa pola umum individu-individu membentuk kelompok sosial karena persamaan minat. Realita yang dijadikan sebagai objek penelitian merupakan suatu tindakan sosial oleh aktor sosial. Dengan hal itu maka peneliti dapat lebih memandang suatu realita secara kritis. Sehingga berbeda dengan paradigmapositivist. peneliti termasuk dalam objek penelitiannya. Karena paradigma ini bersifat kualitatif. Paradigma ini dapat dicontohkan sama dengan yang sebelumnya yaitu meneliti kelompok sosial.Paradigma Post-positivist Paradigma post-positivist merupakan paradigma penelitian yang mengkritik paradigma positivist. Atau dapat juga peneliti memasukkan pendapat-pendapatnya yang masih dalam cakupan daasar pembentukan kelompok sosial. peneliti memasukkan nilai pribadinya yang nilainya dapat sama dengan objek penelitian yang ada pada masyarakat secara umum. Paradigma Konstruksionisme Paradigma konstruksionis merupakan paradigma penelitian yang melihat suatu realita dibentuk oleh berbagai macam latar belakang sebagai bentuk konstruksi realita tersebut. Latar belakang yang menkonstruksi realita tersebut dilihat dalam bentuk konstruksi mental berdasarkan pengalaman sosial yang dialami oleh aktor sosial sehingga sifatnya lokal dan spesifik. di mana jarak hubungan antarapeneliti dnegan objek lebih dekat. Sehingga dalam penelitiannya. namun peneliti berinteraksi dengan objek penelitian tersebut. maka peneliti juga mengalami hal yang sama. peneliti perlu memasukkan nilai-nilai sebagai pendapatnya sendiri dalam menilai realita sebagai objek penelitian yang diteliti.

Dengan penelitian ini. yang secara spesifik oleh aktor sosial. penelitian ditujukan untuk memahami apa yang menjadi konstruksi suatu realita. Namun pada penelitiannya. peneliti tidak terlibat namun berinteraksi dengan objek penelitian. Paradigma penelitian konstruktivis sifatnya kualitatif. Sehingga dapat dilihat juga bahwa epistimologi paradigma ini jarak antara peneliti dan objek penelitian tidak terlalu dekat. sehingga dalam penelitiannya. perubahan yang ditujukan pada penelitian paradigma kritis merupakan upaya untuk perbaikan pada struktur yang ada di masyarakat. Paradigma penelitian ini melihat realita yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang sebaiknya terjadi pada masyarakat. Dapat dilihat juga bahwa penelitian dengan paradigma kritis bersifat kualitatif di mana peneliti memasukkan nilai pendapatnya pada penelitian. Peneliti tidak terlibat langsung pada realita tersebut. peneliti berinteraksi dengan objek penelitian untuk mengetahui dan memahami bagaimana realita tersebut dapat terjadi. Dalam berinteraksi dengan objek penelitian. menyatakan jarak peneliti dengan objek penelitian sangat dekat. keberadaan realita juga terjadi pada diri peneliti dan juga terjadi di luar peneliti. namun untuk dapat meneliti kasus ini. realitas hanya dapat dibuktikan pada satu realita saja. Pada paradigma ini. peneliti melihat beberapa aspek yang menjadi faktor pendorong pemakaian narkoba sebagai tindakan sosial.paradigma ini dalam melakukan penelitiannya mempertanyakan “why?” mengenai bagaimana konstruksi realita tersebut dapat terjadi. Dalam paradigma ini. peneliti terlibat langsung dengan objek yang diteliti. Penelitian paradigma konstruktivis dapat dicontohkan dengan penelitian terhadap pemakaian narkoba oleh seorang anak. Paradigma konstruktisionis merupakan penelitian dengan ontologi realita berada di luar peneliti namun dapat memahami melalui interaksi dengan realita sebagai objek penelitian. Anak pemakai narkoba ini merupakan aktor sosial yang diteliti karena memiliki spesifikasi sendiri. peneliti mengobservasi anak tersebut dan memasukkan nilai pendapatnya sehingga penjelasan mengenai konstruksi suatu realita memiliki kesesuaian dan ketepatan dengan penilaian masyarakat pada umumnya supaya hasil penelitian sifatnya dapat dibuktikan. Hal ini juga menjadikan penelitian dengan paradigma ini sifatnya subjektif. Pada intinya. Kualitas penelitian dengan paradigma konstruktivis baik apabila objek yang diteliti benar-benar dapat diobservasi secara keseluruhan sehingga didapatkan pengukuran yang sesuai dan tepat yang dapat menjadi penjelasan karakteristiknya. Oleh karena itu peneliti harus dapat mengetahui faktor apa saja yang mendorong suatu realita dapat terjadi dan menjelaskan bagaimana faktor-faktor itu merekonstruksi realita tersebut. Pemakaian narkoba oleh seorang anak ini dilihat sebgai tindakan sosial yang mengandung beberapa latar belakang sebagai konstruksi tidakan sosial tersebut. Hal ini juga menyatakan bahwa epistimologi paradigma kritis. Realita inilah yang menjadi objek penelitian paradigma kristis. Pemakaian narkoba pada seorang anak dapat disebabkan oleh pergaulan dan kurangnya kontrol orang tua yang menjadi pengalaman sosial anak tersebut dan memberikan pengaruh pada mentalnya. realita yang dijadikan sebagai objek penelitian . Penelitian dengan paradigma kritis ditujukan untuk membangun kesadaran kolektif demi mengubah struktur untuk menjadi lebih baik. Paradigma Kritis Paradigma kritis merupakan paradigma penelitian yang melihat suatu realita secara kritis sebagai objek penelitian. Sehingga secara ontologi. peneliti memasukkan nilai-nilai pendapat ke dalam penelitiannya.

. Dalam hal ini. Dalam penelitian ini. Penelitian paradigma kritis dapat dicontohkan dengan penelitian terhadap gender dalam suatu organisasi di mana peneliti merupakan bagian dari organisasi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa peneliti terlibat langsung dan penelitian bersifat kualitatif karena memasukkan nilai pendapat pribadi peneliti. Namun penilaian ini disesuaikan ketepatannya baik dengan teori maupun praksis di mana teori menyatakan persamaan hak antar gender namun pada kenyataannya masih terdapat perbedaan perlakuan antar gender dalam perusahaan. Peneliti dengan observasinya dalam proses sejarah dapat melihat bahwa ada kekuatan sosial yang menjadikan struktur memihak pada gender laki-laki dalam suatu organisasi. Namun dalam memasukkan penialian pada penelitian. peneliti merupakan bagian dari realita sebagai objek penelitiannya.merupakan proses sejarah dan kekuatan sosial yang semu dalam masyarakat. subjektivitas sangat tinggi karena penilaian terhadap suatu realita berasal dari peneliti sendiri. Namun peneliti menggunakan penilaiannya tersebut sebagai bagian dari subjektivitas dalam mengkritisi keadaan struktur organisasi yang masih membedakan gender. Dalam penelitian ini. peneliti melakukan penelitian ditujukan untuk memperbaiki struktur yang masih membedakan perlakuan antar gender dalam organisasi. peneliti juga melihat penilaian masyarakat pada umumnya. Peneliti melihat kesesuaian dan ketepatan teori dengan praksis yang ada pada realita.