You are on page 1of 13

Anatomi Sistem Respirasi

Respirasi = pernapasan adalah proses inspirasi (inhalasi = pemasukan) udara ke dalam paru-
paru & ekspirasi (ekshalasi = pengeluaran) udara dari paru-paru ke lingkungan luar tubuh.
Sistem respirasi = sistem pernapasan adalah: Suatu sistem pengambilan O2 (oksigen) dari
atmosfir ke dalam alveoli paru-paru dan pengeluaran CO2 (karbon dioksida) yang dihasilkan sel-sel
tubuh kembali ke atmosfir.
Sistem respirasi/pernapasan terdiri dari saluran pernapasan & paru-paru.

1. Saluran Pernapasan
Hidung
Hidung terdiri atas hidung luar dan cavum nasi. Cavum nasi dibagi oleh septum nasi menjadi dua
bagian, kanan dan kiri.

1. Hidung Luar
Hidung luar mempunyai dua lubang berbentuk lonjong disebut nares, yang dipisahkan satu dengan
yang lain oleh septum nasi (Gambar 2-1). Pinggir lateral, ala nasi, berbentuk bulat dan dapat
digerakkan. Rangka hidung luar dibentuk oleh os nasale, processus frontalis maxillaries, dan pars
nasalis ossis frontalis. Di bawah, rangka hidung dibentuk oleh lempeng-lempeng tulang rawan hialin
(Gambar 2-1).

Suplai Darah Hidung Luar
Kulit hidung luar mendapatkan darah dari cabang-cabang arteria ophthalmica dan arteria maxillaris.
Kulit alanasi dan bagian bawah septum mendapatkan darah dari cabang-cabang arteria facialis.

Suplai Saraf Sensoris Hidung Luar
N.infratrochlearis dan rami nasales externae nervus ophthalmicus (Nervus cranialis V) dan ramus
infraorbitalis nervus maxillaris (Nervus cranialis V) mengurus hidung luar.

2. Cavum Nasi
Cavum nasi terbentang dari nares di depan sampai ke aperture nasalis posterior atau choanae di
belakang, di mana hidung bermuara ke dalam nasopharlmx. Vestibulum nasi adalah area di
dalam cavum nasi yang terletak tepat di belakang nares (Gambar 2-2). Cavum nasi dibagi menjadi dua
bagianya kiri dan kanan oleh septum nasi (Gambar 2-1). Septum nasi dibentuk oleh cartilage septi nasi,
lamina verticalis osis ethmoidalis, dan vomer.

Dinding Cavum Nasi
Setiap belahan cavum nasi mempunyai dasar, atap, dinding lateral dan dinding medial atau dinding
septum.
 Dasar
Dasar dibentuk oleh processus palatinus os maxilla dan lamina horizontalis ossis palatini (Gambar 2-
1).
 Atap
Atap sempit dan dibentuk di sebelah anterior mulai dari bagian bawah batang hidung oleh os nasale
dan os frontale, di tengah oleh lamina cribrosa ossis ethmoidalis, terletak di bawah fossa crania
anterior, dan di sebelah posterior oleh bagian miring ke bawah corpus ossis sphenoidalis (Gambar 2-2).
 Dinding Lateral
Dinding lateral mempunyai tiga tonjolan tulang disebut concha nasalis superior, media, dan inferior
(Gambar 2-2). Area di bawah setiap concha disebut meatus.

 Dinding
Medial
Dinding medial
dibentuk oleh septum
nasi. Bagian atas dibentuk
oleh lamina verticalis
ossis ethmoidalis
dan os vomer
(Gambar 2- 1). Bagian
anterior dibentuk oleh
cartilago septalis.
Septum ini jarang
terletak pada bidang
median, sehingga
belahan cavum nasi
yang satu lebih besar
dari belahan sisi lainnya.

Membrana Mucosa Cavum Nasi
Vestibulum dilapisi oleh kulit vang telah
mengalami modifikasi dan mempunvai
rambut yang kasar. Area di atas concha
nasalis superior dilapisi membrana
mucosa olfactorius dan berisi ujung-ujung saraf sensitif reseptor penghidu. Bagian bawah cavum nasi
dilapisi oleh membrane mucosa respiratorius. Di daerah respiratorius terdapat sebuah anyaman vena
yang besar di dalam submucosa jaringan ikat.

Suplai Saraf Cavum Nasi
Nervus olfactorius yang berasal dari membrana mucosa olfactorius berjalan ke atas melalui lamina
cribrosa os ethmoidale menuiu ke bulbus olfactorius (Gambar 2-3). Saraf untuk sensasi umum
merupakan cabang-cabang nervus ophthalmicus (N.Vl) dan nervus maxillaris (N.V2) divisi nervus
trigeminus (Gambar 2-3).

Pendarahan Cavum Nasi
Pendarahan cavum nasi berasal dari cabang-cabang arteria maxillaris, yang merupakan salah satu
cabang terminal arteria carotis externa. Cabang yang terpenting adalah arteria sphenopalatina. Arteria
sphenopalatina beranastomosis dengan ramus septalis arteria labialis superior yang merupakan cabang
dari arteria facialis di daerah vestibulum. Darah di dalam anyaman vena submucosa dialirkan oleh
vena-vena yang menyertai arteri.

Aliran Limfe Cavum Nasi
Pembuluh limfe mengalirkan limfe dari vestibulum ke nodi submandibulares. Bagian lain cavum nasi
dialirkan limfenya menuju ke nodi cervicales profundi superiores.

Pharynx
Pharynx terletak di belakang cavum nasi, cavum oris, dan larynx dan dibagi menjadi bagian-bagian
nasopharynx, oropharynx dan laryngopharynx. Pharynx berbentuk seperti corong, dengan bagian
atasnya yang 1ebar, terletak di bawah cranium dan bagian bawahnya yang sempit dilanjutkan sebagai
oesophagus setinggi vertebra cervicalis ke enam. Pharynx mempunyai dinding musculomembranosa
yang tidak sempurna di bagian depan. Di tempat ini, jaringan musculomembranosa diganti oleh
apertura nasalis posterior (choanae), isthmus faucium (pembukaan ke rongga mulut), dan aditus
laryngis. Melalui tuba auditiva, membrana mucosa juga berhubungan dengan membrane mucosa dari
cavitas tympani. Fungsi pharynx :
- Menyalurkan udara ke larynx.
- Menyalurkan makanan ke oesophagus.

Nasopharynx
Nasopharynx terletak di atas palatum molle dan di belakang rongga hidung.Di dalam submucosa atap
terdapat kumpulan jaringan limfoid yang disebut tonsilla pharyngea. Isthmus pharyngeus adalah
lubang di dasar nasopharynx di antara pinggir bebas palatum molle dan dinding posterior pharynx.
Pada dinding lateral terdapat muara tuba auditiva, berbentuk elevasi yang disebut elevasi tuba.
Recessus pharyngeus adalah lekukan kecil pada dinding pharynx di belakang elevasi tuba. Plica
salpingopharyngea adalah lipatan vertikal membrana mucosa yang menutupi M.salphingopharyngeus.

Oropharynx
Oropharynx terletak dibelakang cavum oris. Dasar dibentuk oleh sepertiga posterior lidah dan celah
antara lidah dan epiglotis. Pada garis tengah terdapat plica glossoepiglottica mediana dan plica
glossoepigloftica lateralis pada masing-masing sisi. Lekukan kanan dan kiri dari plica glossoepiglottica
mediana disebut vallecula. Pada kedua sisi dinding lateral terdapat arcus atau arcus palatoglossus dan
palatofaringeus dengan tonsila palatina di permukaan
posterior larynx antaranya. Arcus palatoglossus adalah lipatan membrana mucosa yang menutupi
musculus palatoglossus. Celah di antara kedua arcus palatoglossus drsebut isthmus
faucium dan merupakan batas antara rongga
mulut dan pharynx. Arcus palatophaqmgeus
adalah lipatan rnembrana mucosa yang
menutupi musculus palatopharyngeus.
Recessus di antara arcus palatoglossus dan
palatopharyngeus diisi oleh tonsilla palatina.

Laryngopharynx
Laryngopharynx terletak di belakang aditus
laryngis. Dinding lateral dibentuk oleh
cartilage thyroidea dan membrana
thyrohyoidea. Recessus piriformis,
merupakan cekungan pada membrana
mucosa yang terletak di kanan dan kiri
aditus laryngis.

Larynx
Larynx adalah organ yang berperan sebagai sphlncter pelindung pada pintu masuk jalan nafas dan
berperan dalam pembentukan suara. Larynx terletak di bawah lidah dan os hyold, di antara pembuluh-
pembuiuh besar leher, dan terletak setinggi vertebra cervicalis keempat, kelima, dan keenam. Ke atas,
larynx terbuka ke laryngopharynx, ke bawah larynx berlanjut sebagai trachea. Di depan, larynx ditutupi
oleh ikatan otot-otot infrahyoid dan di lateral oleh glandula thyroidea. Kerangka larynx dibentuk oleh
beberapa cartilago, yang dihubungkan oleh membrana dan ligamentum, dan digerakkari oleh otot.
Larynx dilapisi oleh membrana mucosa. Fungsi larynx:
1. Saluran udara untuk pernapasan.
2. Menghasilkan suara.
Ini terjadi dengan adanya pita suara yang terletak di sebelah dalam larynx & dengan
adanya getaran pita yang disebabkan udara yang melalui larynx maka suara dihasilkan.

Cartilago Larynx

Cartilago Thyroidea
Cartilago thyroidea merupakan cartilago terbesar larynx dan terdiri dari dua lamina cartilago hyalin
yang bertemu di garis tengah pada tonjolan bersudut V (disebut Adam's apple). Pinggir posterior
menjorok ke atas sebagai cornu superius dan ke bawah cornu inferius. Pada permukaan luar setiap
lamina terdapat linea obliqua sebagai tempat lekat otot-otot.

Cartilago Cricoidea
Cartilago cricoidea dibentuk oleh cartilago hyalin dan berbentuk seperti cincin cap, mempunyai lamina
yang lebar di belakang dan arcus yang sempit di anterior. Carlilago cricoidea terletak di bawah
cartilago thyroidea, dan pada masing-masing permukaan lateralnya terdapat facies articularis untuk
bersendi dengan cornu inferius cartilago thyroidea. Di posterior, pada setiap lamina di pinggir atasnya
terdapat facies articularis untuk bersendi dengan basis cartilago arytenoidea. Semua sendi ini adalah
jenis sinovial.

Cartilago Arytenoidea
Terdapat dua buah cartilago arytenoidea; kecil, berbentuk pyramid, dan terletak pada permukaan
belakang larynx. Cartilago ini bersendi dengan pinggir atas lamina cartilage sarung carotts M.
constrictor pharyngis superior A. carotis interna tonsil yang membesar vallecula plica glossoepig lotica
cricoidea. Masing-masing cartilago mempunyai apex di atas yang bersendi dengan cartilago
corniculata yang kecil, serta basis di bawah yang bersendi dengan lamina cartilago cricoidea, dan
sebuah processus vocalis yang menonjol ke depan dan merupakan tempat lekat dari ligamentum
vocale. Processus muscularis yang menonjol ke lateral, menjadi tempat lekat Musculus
cricoarytenoideus lateralis dan posterior.

Cartilago Corniculata
Dua buah cartilago kecil berbentuk kerucut, bersendi dengan apex cartilaginis arytenoideae. Menjadi
tempat lekat plica aryepiglottica.

Cartilago Cuneiforme
Dua cartilago kecii yang berbentuk batang ini terletak di dalam plica aryepiglottica dan berperan
memperkuat plica tersebut.
Epiglotis
Merupakan cartilago elastis berbentuk daun yang terletak di belakang radix linguae. Tangkainya
dilekatkan di belakang cartilago thyroidea. Sisi epiglottis dihubungkan dengan cartilago arytenoidea
oleh plica aryepiglottica, yang merupakan sebuah lipatan membrana mucosa. Pinggir atas epiglottis
bebas. Membrana mucosa yang melapisinya berjalan ke depan, meliputi permukaan posterior lidah
sebagai plica glossoepiglottica mediana. Lekukan pada membrana mucosa di kanan dan kiri plica
glossoepiglottica disebut vallecula. Di sebelah lateral, membrana mucosa berjalan ke dinding pharynx
membentuk plica glossoepigloftica lateralis.

Trachea
Trachea adalah sebuah tabung cartilaginosa dan membranosa yang dapat bergerak (Gambar 2-30).
Dimulai sebagai lanjutan larynx dari pinggir bawah cartilago cricoidea setinggi corpus vertebrae
cervicalis VI. Berjalan turun ke bawah di garis tengah leher. Di dalam rongga thorax, trachea berakhir
pada catina dengan cara membelah menjadi bronchus principalis dexter dan sinister setinggi angulus
sterni (di depan discus antara vertebra thoracica IV dan V), terletak sedikit agak ke kanan dari garis
tengah. Pada eksplrasi, bifurcatlo trachea naik sekitar satu vertebra, dan selama inspirasi dalam
bifurcatio dapat turun sampai setinggi vertebra thoracica VI. Jaraknya sekitar 3 cm. Pada orang
dewasa, panjang trachea sekitar 11.25 cm dan diameter 2.5 cm. Pada bayi, panjang trachea sekitar 4-5
cm dan diameter sekitar 3 mm. Selama pertumbuhan anak-anak, diameter trachea bertambah sekitar 1
mm setiap tahurmya. Tabung fibroelastika dipertahankan utuh dengan adanya cartilago hyaline
berbentuk U (cincin) di dalam dindingnya. Ujung posterior cartilago yang bebas dlhubungkan oleh otot
polos, Musculus trachealis. Membrana mucosa trachea dilapisi oleh epitel silinder bertingkat semu
bersilia (Gambar 2-31) serta mengandung banyak sel goblet dan glandula mucosa tubular.

Bronchus
Trachea bercabang dua di belakang arcus aortae menjadi bronchus principalis dexter dan sinister
(primer atau utama) (Gambar 2-30). Bronchus principalis dexter meninggalkan trachea dengan
membentuk sudut sebesar 25 derajat dengan garis vertikal. Bronchus prlncipalis sinister meninggalkan
trachea dengan membentuk sudut 45 derajat dengan garis vertikal. Pada anak-anak dengan usia lebih
kecil dari 3 tahun, kedua bronchus menlnggalkan traihea dengan membentuk sudut yang hampir sama.
Bronchus terus-menerus bercabang dua sehingga akhirnva membentuk jutaan bronchiolus terminalis
yang berakhir di dalam satu atau leblh bronchiolus respiratorius. Setiap bronchioles respiratorius
terbagi menjadi 2 sampai 11 ductus alveolaris yang masuk ke dalam saccus alveolaris. Alveoli timbul
dari dinding saccus sebagai diverticula.

Bronchus Principalis Dexter
Bronchus principalis dexter lebih lebar, lebih pendek, dan lebih vertikal dari bronchus principalis
sinister dan panjangnya lebih kurang 2,5 cm (Gambar 2-30). Vena azygos melengkung di atas pinggir
superiornya. Bronchus lobaris superior dimulai sekitar 2 cm dari pangkal bronchus principalis di
carlna. Kemudian bronchus principalis dexter masuk ke hilus paru-paru kanan, dan bercabang dua
menjadi bronchus lobaris medius dan bronchus lobaris inferior.

Bronchus Principalis Sinister
Bronchus principalis sinister lebih sempit, leblh panjang, dan lebih horizontal dibandingkan bronchus
principalis dexter dan panjangnya lebih kurang 5 cm (Gambar 2-30). Berjalan ke kiri di bawah arcus
aorta dan di depan oesophagus. Pada waktu masuk ke hilus pulmonalis sinister, bronchus principalis
sinister bercabang menjadi bronchus lobaris superior dan bronchus lobaris inferior.

Segmen-Segmen Bronchopulmoner
Segmen-segmen bronchopulmoner akan dibahas pada tentang struktur pada paru.
2. Paru - Paru
Paru (kanan dan kiri) terletak di samping kanan dan kiri mediastinum. Di antaranya, di dalam
mediastinum, terletak jantung dan pembuluh darah besar. Paru berbentuk kerucut dan diliputi oleh
pleura visceralis. Paru tergantung bebas dan dilekatkan pada mediastinum oleh radiksnya. Masing-
masing paru mempunyai apex yang tumpul, yang menonjol ke atas ke dalam leher sekitar 2,5 cm di
atas clavicula; basis yang konkaf yang terletak di atas diaphragma; facies costalis yang konveks yang
disebabkan oleh dinding thorax yang konkaf; facies mediastinalis yang konkaf yang merupakan
cetakan pericardium dan alat-alat mediastinum lainnya. Sekitar pertengahan facies mediastinalis
terdapat hilus pulmonis, yaitu suatu cekungan di mana bronchus, pembuluh darah, dan saraf yang
membentuk radix pulmonis masuk dan keluar dari paru. Pinggir anterior tipis dan tumpang tindih
dengan jantung; pada pinggir anterior ini pada paru kiri terdapat incisura cardiaca. Pinggir posterior
tebal dan terletak di samping columna vertebralis.
Lobus dan Fissura
 Paru Kanan
Paru kanan sediklt lebih besar dari paru kiri, dan dibagi oleh fissure obliqua dan fissura horizontalis
menjadi tiga lobus; lobus superior, lobus medius, dan lobus inferior. Fissura oblique berjalan dari
pinggir inferior ke atas dan belakang menyilang permukaan medial dan costalis sampai memotong
pinggir posterior. Fissura horizontalis berjalan horizontal menyilang permukaan costalis dan bertemu
dengan fissura obliqua. Lobus medius merupakan lobus kecil berbentuk segitiga yang dibatasi oleh
fissure horizontalis dan fissura obliqua.
 Paru Kiri
Paru kiri dibagi oleh satu fissura (fissura obliqua) menjadi dua lobus: lobus superior dan lobus inferior.
Segmenta Bronchopulmonalia
Segmenta bronchopulmonalia merupakan unit paru secara anatomi, fungsi, dan pembedahan.
Setiap bronchus lobaris (sekunder) yang berjalan ke lobus paru mempercabangkan bronchus
segmentalis (tersier). Setiap bronchus segmentalis kemr-rdian masuk ke segmenta bronchopulmonalia.
Sebuah segmenta bronchopulmonalia mernpunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Merupakan sr-rbdivisi lobus paru.
2. Berbentuk pyramld dengan apex menghadap ke radix pulmonis.
3. Dikelilingi oleh jaringan ikat.
4. Mempunyai safu bronchus segmentalis, safu arteria segmentalis, pembuluh limfe, dan
persarafan otonom.
5. Venae segmentales terletak di dalarn jaringan ikat di antara segmenta
bronchopulmonalia yang berdekatan.
6. Karena merupakan unit struktural, segnen yang sakit dapat dibuang dengan
pembedahan.

Setelah masuk segmenta bronchopulmonalia, setiap bronchus segrnentalis terbagi dua
berulang-ulang. Pada saat bronchus menjadi lebih kecil, cartilago yang berbentuk U yang ditemui sejak
dari trachea perlahan-lahan diganti dengan lempeng cartilago yang lebih kecil dan lebih sedikit
jumlahnya. Bronchus yang paling kecil membelah dua menjadi bronchiolus, yang diameternya kurang
dari 1 mm. Bronchiolus tidak mempunyai cartilago di dalam dindingnya dan dilapisi oleh epitel
silender bersilia. Lapisan submucosa mempunyai serabut otot polos melingkar yang utuh. Bronchiolus
kemudian membagi dua menjadi bronchioles terminalis, yang mempunyai kantong- kantong lembut
pada dindingnya. Pertukaran gas yang terjadi antara darah dan udara terjadl pada dinding kantong-
kantong tersebut, karena itu dinamakan bronchiolus respiratorius. Diameter bronchioles respiratorius
sekitar 0,5 mm. Bronchiolus respiratorius berakhir dengan bercabang menjadi ductus alveolaris yang
menuju ke arah saluran berbentuk kantong dengan dinding yang tipis disebut saccus alveolaris. Saccus
alveolaris terdiri dari beberapa alveoli yang terbuka ke satu ruangan. Masing-masing alveolus
dikelilingi oleh jaringan yang mengandung kapiler yang padat. Pertukaran gas terjadi antara udara yang
terdapat di dalam lumen alveoli, melalui dinding aiveoli ke dalam darah yang ada di dalam kapiler di
sekitarnya. Segmen-segmenta bronchopulmonalia utama adalah sebagai berikut ini:
 Paru kanan
Lobus superior: Apicalis, posterior, anterior
Lobus medius: Lateralis, medlalis
Lobus inferior: Superior (apical), basalis medialis, basalis anterior, basalis lateralis, dan basalis
posterior.
 Paru kiri
Lobus superior: Apicalis, posterior, anterior, lingularis superior, lingu laris inferior
Lobus inferior: Superior (apicalis), basalis medialis, basalis anterior, basalis lateralis, basalis posterior.

Walaupun susunan umum segmenta bronchopulmonalia penting dalam klinik, tidak perlu
mengingatnya secara rinci, kecuali bermaksud mengambil spesialisasi paru atau bedah paru.

Radix Pulmonis
Radix pulmonis dibentuk oleh alat-alatyangmasuk dankeluarparu. Alat-alat tersebut adalah bronchus,
arteria dan vena pulmonalis,
pembuluh limfe, arteria dan vena bronchialis, dan saraf. Radix pulmonis dikelilingi oleh selubung
pleura, yang menghubungkan pleura parietalis pars mediastinalis dengan pleura visceralis yang
membungkus paru.

Pembuluh Darah Paru
Bronchus, jaringan ikat paru, dan pleura visceralis menerima darah dari arteriae bronchiales, yang
merupakan cabang darl aorta descendens. Venae bronchiales mengalirkan darahnya ke vena azygos dan
vena hemiazygos. Alveoli menerima darah terdeoksigenasi dari cabang-cabang terminal arteria
pulmonalis. Darah yang telah mengalami oksigenasi meninggalkan kapiler-kapiler alveoli dan akhirnya
bermuara ke dalam kedua vena pulmonalis. Dua vena pulmonalis meninggalkan radix pulmonis
masing-rnasing paru untuk bermuara ke dalam atrium kiri jantung.

Aliran Limfe Paru
Pembuluh limfe berasal dari plexus superficialis dan plexus profundus, dan tidak terdapat pada dinding
alveoli. Plexus superficialis (subpleura) terletak di bawah pleura visceralis dan mengalirkan cairannya
melalui permukaan paru ke arah hilus pulmonalis, tempat pembuluh-pembuluh limfe bermuara ke nodi
bronchopulmonales. Plexus profundus berjalan sepanjang bronchus dan arteria dan vena pulmonalis
menuju ke hilus pulmonis, mengalirkan limfe ke nodi pulmonis yang terletak di dalam substansi paru.
Limfe kemudian masuk ke dalam nodi bronchopulmonales di dalam hilus pulmonis. Semua limfe dari
paru meninggalkan hilus pulmonis mengalir ke nodi tracheobronchiales dan kemudian masuk ke dalam
truncus lymphaticus bronchomediastinalis.

Persarafan Paru
Pada radix setiap paru terdapat plexus pulmonalis. Plexus dibentuk dari cabang-cabang truncus
sympathicus dan serabut-serabut parasimpatik nervus vagus. Serabut-serabut eferen simpatik
mengakibatkan bronchodilatasi dan vasokonstriksi. Serabut-serabut eferen parasimpatik
mengakibatkan bronchokonstriksi, vasodilatasi, dan peningkatan sekresi kelenjar. Impuls aferen yang
berasal dari membrane mucosa bronchus dan dari reseptor regang dinding alveoli berjalan ke sistem
saraf pusat di dalam saraf simpatik dan parasimpatik.
Inspirasi & Ekspirasi

Inspirasi

lnspirasi Biasa
Bandingkan cavitas thoracis dengan sebuah kotak yang hanya mempunyai satu pintu masuk di bagian
atasnya. Pintu masuk ini berbentuk tabung, disebut trachea (Gambar 3-34). Kapasitas kotak dapat
ditambah dengan penambahan semua diameternya, dan mengakibatkan udara dengan tekanan atmosfir
masuk ke dalam kotak melaiui tabung. Sekarang bayangkan tiga diameter rongga thoraks dan
bagaimana kapasitasnya akan bertambah (Gambar 3-34 dan 3-35).

 Diameter vertikal. Secara teoritis, apex pulmonalis dapat dinaikkan dan basis diturunkan. Apex
pulmonalis dibentuk oleh membrana suprapleuralis dan terfiksasi. Sebaliknya, basis
pulmonalis dibentuk oleh diaphragma yang mudah bergerak. Jika diaphragma berkontraksi,
kubahnya menjadi datar dan diaphragma turun (Gambar 3-34).

 Diameter anteroposterior. Jika costa yang letaknya miring ke bawah diangkat pada ujung
sternalnya, diameter anteroposterior rongga thoraks akan bertambah dan ujung bawah sternum
akan terdorong ke depan (Gambar 3-34). Hal ini dapat dilakukan dengan mengfiksasi costa I
melalui kontraksi musculi scaleni pada leher dan kontraksi musculi intercostales (Gambar 3-
35). Dengan cara ini semua costa akan tertarik bersama-sama dan terangkat menuju costa I.

 Diameter transversal. Costa di depan bersendi dengan sternum melalui cartilago costalisnya
dan di belakang dengan columna vertebralis. Oleh karena costa melengkung ke bawah dan
depan di sekeliling dinding thoraks, costa-costa ini menyerupai tangkai ember (Gambar 3-34).
Oleh karena itu bila costa terangkat (seperti tangkai ember), diameter transversa rongga thorax
akan bertambah. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, hal ini dapat pula dilakukan dengan
mengfiksasi costa I dan mengangkat costa-costa lainnya ke arah costa I dengan kontraksi
musculi intercostales (Gambar 3-35).

Faktor lain yang tidak boleh dilupakan adalah efek turunnya diaphragma pada viscera
abdomen, dan tonus otot-otot dinding anterior abdomen. Bila diaphragma turun waktu inspirasi,
tekanan intraabdominal akan meningkat. Peninggian tekanan ini diimbangi oleh relaksasi otot-otot
dinding abdomen. Akan tetapi dapat tercapai suatu titik di mana relaksasi otot-otot abdomen tidak
mungkin dilakukan lagi, hati beserta viscera abdomen bagian atas bekerja sebagai penyanggah
mempertahankan diaphragma agar ticlak bergerak turun lagi.

Ekspirasi

Ekspirasi Biasa
Sebagian besar ekspirasi biasa merupakan fenomena pasif dan dilakukan oleh elastisitas paru, relaksasi
musculi intercostales dan diaphragma, dan peningkatan tonus otot-otot dinding anterior abdomen yang
mendorong diaphragma yang sedang relaksasi ke atas.
Ekspirasi Kuat
Ekspirasi kuat merupakan proses aktif sebagai akibat kontraksi kuat otot-otot dinding anterior
abdomen. Musculus quadrates lumborum juga berkontraksi dan menarik costa XII ke bawah. Dalam
keadaan ini mungkin sebagian dari musculi intercostales berkontraksi dan menarik costa secara
bersamaan dan menekan costa tersebut ke bawah ke costa XII (Gambar 3-35). Musculus serratus
postedor inferior dan Musculus latissimus dorsi mungkin ikut berperan.

Perubahan Paru pada Ekspirasi
Pada ekspirasi, radix pulmonis naik bersama dengan bifurcation trachea. Bronchus memendek dan
berkontraksi. Jaringan elastic paru memendek dan ukuran paru mengecil. Dengan bergeraknya
diaphragma ke atas, daerah pleura parietalis pars
diaphragmatica dan costalis yang berdekatan menjadi iebih besar, dan recessus costodiaphragmaticus
mengecil ukurannya. Pinggir bawah paru mengerut dan lebih tinggi Ietaknya.

Snell, Richard S. Anatomi klinis berdasarkan sistem / Richard S. Snell ; alih bahasa, Liliana Sugiharto ;
editor edisi bahasa Indonesia, Ardy Suwahjo, Yohanes Antoni Liestyawan. - Jakarta : EGC, 2011