You are on page 1of 21

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya. Dalam penyelesaian makalah ini ada beberapa kesulitan yang penulis
temukan. Untuk itu, pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankan penulis
mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan anugrah-Nya kepada pihak
yang telah membantu penyelesaian makalah ini dan semoga makalah ini dapat
berguna untuk memberikan kontribusi dalam mata kuliah Kegawatdaruratan
dengan judul “Terapi Cairan”. Di samping itu penulis menyadari makalah ini jauh
dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari semua
pihak sangat penulis harapkan demi kesempurnaannya.

Denpasar, 9 Oktober 2017

Penulis

DAFTAR ISI

ii
KATA PENGANTAR........................................................................................................i

DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I (PENDAHULUAN)..............................................................................................1

1.1 Latar Belakang................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................1

1.3 Tujuan.............................................................................................................2

1.4 Manfaat...........................................................................................................2

BAB II (PEMBAHASAN)...............................................................................................3

2.1 Pengertian syok..............................................................................................3

2.2 Syok Hivopolemik...........................................................................................5

2.3 Dasar-Dasar Terapi Cairan Dan Elektrolit......................................................7

2.4 Terapi Cairan Pada Kegawatdaruratan Syok Hipovolemik............................14

BAB III (PENUTUP).....................................................................................................18

3.1 Simpulan.......................................................................................................18

3.2 Saran.............................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................19

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Secara patofisiologi syok merupakan gangguan sirkulasi yang diartikan
sebagai kondisi tidak adekuatnya transport oksigen ke jaringan atau
perfusi yang diakibatkan oleh gangguan hemodinamik. Sementara itu, syok
hipovolemik adalah kondisi medis atau bedah dimana terjadi kehilangan
cairan dengan cepat yang berakhir pada kegagalan beberapa organ, disebabkan
oleh volume sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat pada perfusi yang
tidak adekuat. Paling sering, syok hipovolemik merupakan akibat kehilangan
darah yang cepat (syok haemoragik). (Hardisman, 2013).
Asuhan keperawatan dengan kasus Syok memerlukan tindakan cepat
sebab penderita berada pada keadaan Gawat darurat, obat-obat emergensi dan
alat bantu resusitasi gawat darurat serta dilakukan secepat mungkin. Hal ini
diperlukan karena kita berpacu dengan waktu yang singkat agar tidak terjadi
kematian atau cacat organ tubuh menetap.
Syok hipovolemik kebanyakan akibat dari kehilangan darah akut sekitar
20% dari volume total. Tanpa darah yang cukup atau penggantian cairan, syok
hipovolemik dapat menyebabkan kerusakan irreversible pada organ dan
system (Dewi & Rahayu, 2010).
Syok merupakan keadaan gawat yang membutuhkan terapi yang agresif dan
pemantauan yang kontinyu atau terus-menerus di unit terapi intensif.
Pengelolaan resusitasi cairan yang tepat dan cepat diperlukan untuk
menangani keadaan gawat syok.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian syok ?
2. Apakah syok hipovolemik ?
3. Bagaimanakah dasar - dasar terapi cairan dan elektrolit ?
4. Bagaimanakah terapi cairan pada keawatdaruratan syok hipovolemik ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian syok
2. Untuk mengetahui syok hipovolemik

1
3. Untuk mengetahui dasar-dasar terapi cairan dan elektrolit
4. Untuk mengetahui terapi cairan pada keawatdaruratan syok hipovolemik

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini ialah agar mahasiswa mampu
mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai terapi cairan dalam
kegawatdaruratan sehingga dapat diterapkan dalam pemberian asuhan
keperawatan kepada pasien.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian syok
Secara patofisiologi syok merupakan gangguan sirkulasi yang
diartikan sebagai kondisi tidak adekuatnya transport oksigen ke jaringan atau
perfusi yang diakibatkan oleh gangguan hemodinamik. Gangguan
hemodinamik tersebut dapat berupa penurunan tahanan vaskuler sitemik
terutama di arteri, berkurangnya darah balik, penurunan pengisian ventrikel
dan sangat kecilnya curah jantung. Dengan demikian syok dapat terjadi oleh
berbagai macam sebab dan dengan melalui berbagai proses. Secara umum
dapat dikelompokkan kepada empat komponen yaitu masalah penurunan
volume plasma intravaskuler, masalah pompa jantung, masalah pada
pembuluh baik arteri, vena, arteriol, venule atupun kapiler, serta sumbatan
potensi aliran baik pada jantung, sirkulasi pulmonal dan sitemik
(Hardisman, 2013)
Penurunan hebat volume plasma intravaskuler merupakan faktor
utama yang menyebabkan terjadinya syok. Dengan terjadinya penurunan
hebat volume intravaskuler apakah akibat perdarahan atau dehidrasi
akibat sebab lain maka darah yang balik ke jantung (venous return) juga
berkurang dengan hebat, sehingga curah jantung pun menurun. Pada
akhirnya ambilan oksigen di paru juga menurun dan asupan oksigen ke
jaringan atau sel (perfusi) juga tidak dapat dipenuhi. Begitu juga halnya bila
terjadi gangguan primer di jantung, bila otot-otot jantung melemah yang
menyebabkan kontraktilitasnya tidak sempurna, sehingga tidak dapat
memompa darah dengan baik dan curah jantungpun menurun. Pada
kondisi ini meskipun volume sirkulasi cukup tetapi tidak ada tekanan
yang optimal untuk memompakan darah yang dapat memenuhi kebutuhan
oksigen jaringan, akibatnya perfusi juga tidak terpenuhi.
Gangguan pada pembuluh dapat terjadi pada berbagai tempat, baik
arteri (afterload), vena (preload), kapiler dan venula. Penurunan hebat
tahanan vaskuler arteri atau arteriol akan menyebabkan tidak
seimbangnya volume cairan intravaskuler dengan pembuluh tersebut

3
sehingga menyebabkan tekanan darah menjadi sangat rendah yang
akhirnya juga menyebabkan tidak terpenuhinya perfusi jaringan.
Peningkatan tahanan arteri juga dapat mengganggu sistim sirkulasi yang
mengakibatkan menurunya ejeksi ventrikel jantung sehingga sirkulasi dan
oksigenasi jaringan menjadi tidak optimal. Begitu juga bila terjadi
peningkatan hebat pada tonus arteriol, yang secara langsung dapat
menghambat aliran sirkulasi ke jaringan. Gangguan pada vena dengan
terjadinya penurunan tahanan atau dilatasi yang berlebihan menyebabkan
sistim darah balik menjadi sehingga pengisian jantung menjadi berkurang
pula. Akhirnya menyebabkan volume sekuncup dan curah jantung juga
menurun yang tidak mencukupi untuk oksigenasi dan perfusi ke jaringan.
Gangguan pada kapiler secara langsung seperti terjadinya sumbatan atau
kontriksi sistemik secara langsung menyebabkan terjadinya gangguan perfusi
karena area kapiler adalah tempat terjadinya pertukaran gas antara vaskuler
dengan jaringan sel-sel tubuh (Hardisman, 2013).
Berdasarkan bermacam-macam sebab dan kesamaan mekanisme
terjadinya itu syok dapat dikelompokkan menjadi beberapa empat macam
yaitu:
 Syok hipovolemik : kehilangan cairan/plasma (karena luka bakar,
gagal ginjal, diare, muntah), kehilangan darah (sebelum atau sesudah
operasi).
 Syok kardiogenik : syok yang disebabkan kegagalan jantung, metabolisme
miokard. Apabila lebih dari 40% miokard ventrikel mengalami gangguan,
maka akan tampak gangguan fungsi vital dan kolaps kardiovaskular.
 Syok distributif : terjadinya gangguan distribusi aliran darah (pada
seseorang yang sehat mendadak timbul demam tinggi dan keadaan
umum memburuk setelah dilakukan tindakan instrumentasi atau prosedur
invasif).
 Syok obstruktif : terjadinya gangguan anatomis dari aliran darah berupa
hambatan aliran darah
(Hardisman, 2013; Herdiyanto, 2010).

4
2.2 Syok Hivopolemik
Syok hipovolemik merupakan syok yang terjadi akibat berkurangnya
volume plasma di intravaskuler. Syok ini dapat terjadi akibat perdarahan
hebat (hemoragik), trauma yang menyebabkan perpindahan cairan
(ekstravasasi) ke ruang tubuh non fungsional, dan dehidrasi berat oleh
berbagai sebab seperti luka bakar dan diare berat. Kasus-kasus syok
hipovolemik yang paling sering ditemukan disebabkan oleh perdarahan
sehingga syok hipovolemik dikenal juga dengan syok hemoragik. Perdarahan
hebat dapat disebabkan oleh berbagai trauma hebat pada organ-organ tubuh
atau fraktur yang disertai dengan luka ataupun luka langsung pada pembuluh
arteri utama (Hardisman, 2013).
Syok hipovolemik dapat disebabkan oleh kehilangan volume massive
yang disebabkan oleh: perdarahan gastro intestinal, internal dan eksternal
hemoragi, atau kondisi yang menurunkan volume sirkulasi intravascular atau
cairan tubuh lain, intestinal obstruction, peritonitis, acute pancreatitis, ascites,
dehidrasi dari excessive perspiration, diare berat atau muntah, diabetes
insipidus, diuresis, atau intake cairan yang tidak adekuat (Dewi & Rahayu,
2010).
Pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis adanya syok
hipovolemik berupa pemeriksaan frekuensi nadi, tekanan darah, pengisian
kapiler yang dilakukan pada ujung-ujung jari (refiling kapiler), suhu dan
turgor kulit. Berdasarkan persentase volume kehilangan darah, syok
hipovolemik dapat dibedakan menjadi empat tingkatan atau stadium (ATLS,
2004).
Tabel 1. Klasifikasi perdarahan menurut ATLS

5
Berbahaya untuk menunggu sampai tanda-tanda syok jelas, dan baru
setelah itu mulai pemulihan volume dengan agresif. Resusitasi cairan harus
dimulai bila tanda-tanda dan gejala kehilangan darah nampak atau diduga,
bukan bila tekanan darah menurun atau sudah tidak terdeteksi (ATLS, 2004).
Selain karena perdarahan, syok hipovolemik juga dapat terjadi pada
keadaan dehidrasi. Dehidrasi merupakan kondisi defisit air dan elektrolit
dengan penyebab multifaktor. Balita adalah kelompok yang paling rentan
mengalami kondisi ini. Proses dehidrasi yang berkelanjutan dapat
menimbulkan syok hipovolemia yang akan menyebabkan gagal organ dan
kematian (Leksana, 2015). Kriteria dehidrasi dapat diklasifikasikan sebagai
berikut.

Tabel 2. Klasifikasi Derajat Dehidrasi

6
2.3 Dasar-Dasar Terapi Cairan Dan Elektrolit
Penatalaksanaan terapi cairan meliputi dua bagian dasar yaitu ;
 Resusitasi cairan
Ditujukan untuk menggantikan kehilangan akut cairan tubuh, sehingga
seringkali dapat menyebabkan syok. Terapi ini ditujukan pula untuk
ekspansicepat dari cairan intravaskuler dan memperbaiki perfusi jaringan.
 Terapi rumatan
Bertujuan untuk memelihara keseimbangan cairan tub uh dan nutrisi yang
diperlukan oleh tubuh
Hal ini digambarkan dalam diagram berikut :

Terapi cairan

Resusitasi Rumatan
i

Kristaloid Koloid Elektrolit Nut risi

Prinsip pemilihan cairan dimaksudkan untuk :
 Mengganti kehilangan air dan elektrolit yang normal melaui urine, IWL,
dan feses
 Membuat agar hemodinamik agar tetap dalam keadaan stabil
Pada penggantian cairan, maka jenis cairan yang digunakan didasarkan pada :
 Cairan pemeliharaan ( jumlah cairan yang dibutuhkan selama 24 jam )
 Cairan defisit ( jumlah kekurangan cairan yang terjadi )
 Caitran pengganti ( replacement ) o Sekuestrasi ( cairan third space ) o
Pengganti darah yang hilang
Pengganti cairan yang hilang melalui fistel, maag slang dan drainase
Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang dapat dilakukan penghitungan
untuk menghitung berapa besarnya cairan yang hilang tersebut :

7
 Refraktometer
Defisit cairan : BD plasma – 1,025 x BB x 4 ml
Ket. BD plasma = 0,001
 Dari serum Na+
Air yang hilang : 0,6 Berat Badan x BB (Plasma Natrium –
1 ) Ket. Plasma Na = 140
 Dari Hct
Defisit plasma (ml) = vol.darah normal – (vol.darah normal x nilai Hct
awal )
Sementara kehilangan darah dapat diperkirakan besarnya melalui beberapa
kriteria klinis seperti pada tabel di bawah ini ;
Klas I Klas II Klas III Klas IV
Kehilangan Sampai 750 750-1500 1500-2000 >2000
darah
( ml)
Kehilangan Sampai 15% 15-30% 30-40% >40%
darah
( %EBV)
Denyut nadi <100 >100 >120 >140
Tek. Darah Normal Normal Menurun Menurun
(mmHg)
Tek. Nadi Normal atau Menurun Menurun Menurun
(mmHg) meningkat
Frek. Napas 14-20 20-3- 30-35 >35
Produksi urin >30 20-30 5-15 Tidak ada
(ml/jam)
SSP / status Gelisah ringan Gelisah sedang Gelisah dan Bingung
dan
mental bingung letargi
Cairan Kristaloid Kristaloid Kristaloid dan Kristaloid
pengganti darah dan darah
( rumus 3 :1)

8
Pemilihan Cairan
Cairan intravena diklasifikasikan menjadi kristaloid dan koloid. Kristaloid
merupakan larutan dimana molekul organik kecil dan inorganik dilarutkan dalam
air. Larutan ini ada yang bersifat isotonik, hipotonik, maupun hipertonik. Cairan
kristaloid memiliki keuntungan antara lain : aman, nontoksik, bebas reaksi, dan
murah. Adapun kerugian dari cairan kristaloid yang hipotonik dan isotonik adalah
kemampuannya terbatas untuk tetap berada dalam ruang intravaskular.
Kristaloid
Cairan kristaloid yang paling banyak digunakan adalah normal saline dan
ringer laktat. Cairan kristaloid memiliki komposisi yang mirip cairan ekstraselular.
Karena perbedaan sifat antara kristaloid dan koloid, dimana kristaloid akan lebih
banyak menyebar ke ruang interstitial dibandingkan dengan koloid maka
kristaloid sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit cairan di ruang intersisial.
Penggunaan cairan normal salin dalam jumlah yang besar dapat
menyebabkan timbulnya asidosis hiperkloremik, sedangkan penggunaan cairan
ringer laktat dengan jumlah besar dapat menyebabkan alkalosis metabolik yang
disebabkan adanya peningkatan produksi bikarbonat akibat metabolisme laktat.
Larutan dekstrose 5% sering digunakan jika pasien memiliki gula darah
yang rendah atau memiliki kadar natrium yang tinggi. Namun penggunaannya
untuk resusitasi dihindarkan karena komplikasi yang diakibatkan antara lain
hiperomolalitashiperglikemik, diuresis osmotik, dan asidosis serebral.

Tabel 6. Komposisi Cairan Kristaloid
Solution Glucose Sodium Chloride Potassium Kalsium Lactate (mOsmol/L)
(mg/dL) (mEq/L) (mEq/L) (mEq/L) (mEq/L) (mEq/L)
5% 5000 253
Dextrose
in water
D5 ½ NS 5000 77 77 406
D5 NS 5000 154 154 561
0,9% 154 154 308
NaCl
Ringer 130 109 4.0 3.0 28 273
Laktat

9
D5 RL 5000 130 109 4.0 3.0 28 525
5% NaCl 855 855 1171

Koloid
Cairan koloid disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa
disebut “plasma expander”. Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan yang
mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan
cairan ini cenderung bertahan agak lama dalam ruang intravaskuler.
Koloid dapat mengembalikan volume plasma secara lebih efektif dan
efisien daripada kristaloid, karena larutan koloid mengekspansikan volume
vaskuler dengan lebih sedikit cairan dari pada larutan kristaloid. Sedangkan
larutan kristaloid akan keluar dari pembuluh darah dan hanya 1/4 bagian tetap
tinggal dalam plasma pada akhir infus. Koloid adalah cairan yang mengandung
partikel onkotik dan karenanya menghasilkan tekanan onkotik. Bila diberikan
intravena, sebagian besar akan menetap dalam ruang intravaskular.
Meskipun semua larutan koloid akan mengekspansikan ruang
intravaskular, namun koloid yang mempunyai tekanan onkotik lebih besar
daripada plasma akan menarik pula cairan ke dalam ruang intravaskular. Ini
dikenal sebagai ekspander plasma, sebab mengekspansikan volume plasma lebih
dari pada volume yang diberikan.
Albumin
Albumin merupakan larutan koloid murni yang berasal dari plasma
manusia. Albumin dibuat dengan pasteurisasi pada suhu 60 0C dalam 10 jam untuk
meminimalisir resiko transmisi virus hepatitis B atau C atau pun virus
imunodefisiensi. Waktu paruh albumin dalam plasma adalah sekitar 16 jam,
dengan sekitar 90% tetap bertahan dalam intravascular 2 jam setelah pemberian.
Dekstran
Dekstran merupakan semisintetik koloid yang secara komersial dibuat dari
sukrose oleh mesenteroides leukonostok strain B 512 dengan menggunakan enzim
dekstran sukrose. Ini menghasilkan dekstran BM tinggi yang kemudian
dilengketkan oleh hidrolisis asam dan dipisahkan dengan fraksionasi etanol
berulang untuk menghasilkan produk akhir dengan kisaran BM yang relatif
sempit. Dekstran untuk pemakaian klinis tersedia dalam dekstran 70 (BM 70.000)

10
dan dekstran 40 (BM 40.000) dicampur dengan garam faal, dekstrosa atau Ringer
laktat.
Dekstran 70 6 % digunakan pada syok hipovolemik dan untuk profilaksis
tromboembolisme dan mempunyai waktu paruh intravaskular sekitar 6 jam.
Pemakaian dekstran untuk mengganti volume darah atau plasma hendaknya
dibatasi sampai 1 liter (1,5 gr/kgBB) karena risiko terjadi perdarahan abnormal.
Batas dosis dekstran yaitu 20 ml/kgBB/hari.
Sekitar 70% dosis dekstran 40 yang diberikan akan dieksresikan ke dalam
urine dalam 24 jam. Molekul- molekul yang lebih besar dieksresikan lewat usus
atau dimakan oleh sel-sel sistem retikoloendotelial. Volume dekstran melebihi 1 L
dapat mengganggu hemostasis. Disfungsi trombosit dan penurunan fibrinogen dan
faktor VIII merupakan alasan timbulnya perdarahan yang meningkat. Reaksi
alergi terhadap dekstran telah dilaporkan, tetapi kekerapan reaksi anafilaktoid
mungkin kurang dari 0,02 %. Dekstran 40 hendaknya jangan dipakai pada syok
hipovolemik karena dapat menyumbat tubulus ginjal dan mengakibatkan gagal
ginjal akut.

Gelatin
Gelatin dibuat dengan jalan hidrolisis kolagen sapi. Preparat yang umum
dipasaran adalah gelatin yang mengalami suksinasi seperti Gelofusin dengan
pelarut NaCL isotonik. Gelatin dengan ikatan urea-poligelin ( Haemaccel ) dengan
pelarut NaCL isotonik dengan Kalium 5,1 mmol/l dan Ca 6,25 mmol/ L.
Pemberian gelatin agaknya lebih sering menimbulkan reaksi alergik
daripada koloid yang lain. Berkisar dari kemerahan kulit dan pireksia sampai
anafilaksis yang mengancam nyawa. Reaksi-reaksi tersebut berkaitan dengan
pelepasan histamine yang mungkin sebagai akibat efek langsung gelatin pada sel
mast.
Gelatin tidak menarik air dari ruang ekstravaskular sehingga bukan
termasuk ekspander plasma seperti dekstran. Larutan gelatin terutama
diekskresikan lewat ginjal dalam urin, sementara itu gelatin dapat menghasilkan
diuresis yang bagus. Sebagian kecil dieliminasikan lewat usus. Karena gelatin
tidak berpengaruh pada sistem koagulasi, maka tidak ada pembatasan dosis.
Namun, bila terlalu banyak infus, pertimbangkan adanya efek dilusi. Gelatin dapat

11
diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal bahkan pada pasien yang
menjalani hemodialisis. Indikasi gelatin : Penggantian volume primer pada
hipovolemia, stabilisasi sirkulasi perioperatif. Sedangkan kontraindikasi adalah
infark miokard yang masih baru terjadi, gagal jantung kongestif dan syok
normovolemik.
Hydroxylethyl Starch (HES)
Senyawa kanji hidroksietil ( HES ) merupakan suatu kelompok koloid
sintetik polidisperse yang mempunyai glikogen secara struktural. Kurang dapat
diterima kanji hidroksi (HES ) untuk pengantian volume paling mungkin akibat
laporan-laporan adanya koagulasi abnormal yang menyertai subtitusi plasma ini.
Laporan laporan tentang HES yang memperlihatkan koagulasi darah yang
terganggu dan kecenderungan perdarahan yang meningkat sebagian besar
berdasarkan pemakaian preparat HES berat molekul tinggi ( HMW-HES ). Waktu
paruh dari 90% partikel HES adalah 17 hari.
Seperti semua koloid lainnya, kanji hidroksietil juga berkaitan dengan
reaksi anafilaktoid yang ringan dengan kekerapan kira-kira 0,006 %. Indikasi
pemberian HES adalah :Terapi dan profilaksis defisiensi volume (hipovolemia)
dan syok (terapi penggantian volume) berkaitan dengan pembedahan (syok
hemoragik), cedera (syok traumatik), infeksi (syok septik), kombustio (syok
kombustio). Sedangkan kontra indikasi adalah : Gagal jantung kongestif berat,
Gagal ginjal (kreatinin serum >2 mg/dL dan >177 mikromol/L).Gangguan
koagulasi berat (kecuali kedaruratan yang mengancam nyawa). Dosis penggunaan
HES adalah 20 ml/kgBB/hari.

Tabel 7. Perbandingan Kristaloid dan Koloid
Kristaloid Koloid

12
Keunggulan 1. Lebih mudah tersedia dan 1. Ekspansi volume
murah plasma
2. Komposisi serupa dengan tanpa ekspansi interstitial
plasma (Ringer asetat/ringer 2. Ekspansi volume
laktat) lebih besar
3. Bisa disimpan di suhu 3. Durasi lebih lama
kamar 4. Oksigenasi jaringan
4. Bebas dari reaksi lebih baik
anafilaktik 5. Insiden edema paru
5. Komplikasi minimal dan/atau edema sistemik
lebih rendah
Kekurangan 1. Edema bisa mengurangi 1. Anafilaksis

ekspansibilitas dinding dada 2. Koagulopati
2. Oksigenasi jaringan 3. Albumin bisa
terganggu karena memperberat depresi
bertambahnya jarak kapiler miokard pada pasien
dan sel syok
3. Memerlukan volume 4
kali lebih banyak

Berikut ini tabel beberapa jenis cairan kristaloid dan kandungan masing- masing :
Nama Na+ K+ Mg+ Cl- Laktat Dekstrose Kalori
produk (gr/L) (Kcal/L)
Ringer 130 4 - 109 28 - -
laktat
NaCl 154 - - 154 - - -
0,9%
Dextrose - - - - - 27 108
5%

Berikut ini tabel yang menunjukkan pilihan cairan pengganti untuk suatu kehilangan
cairan yaitu :

13
Kandungan rata- rata
Kehilangan (mmol/ L) Cairan pengganti yang sesuai
Na+ K+

Darah 140 4 Ringer asetat / RL / NaCl 0,9% /
koloid / produk darah
Plasma 140 4 Ringer asetat / RL / NaCl 0,9% /
koloid
Rongga ketiga 140 4 Ringer asetat / RL / NaCl 0,9%
Nasogastrik 60 10 NaCl 0,45% + KCl 20 mEq/L
Sal. Cerna atas 110 5-10 NaCl 0,9% ( periksa K+ dengan
teratur )
Diare 120 25 NaCl 0,9% + KCl 20 mEq/L

2.4 Terapi Cairan Pada Kegawatdaruratan Syok Hipovolemik
Manajemen resusitasi cairan merupakan hal penting pada syok, dan
kekeliruan manajemen dapat berakibat fatal. Untuk mempertahankan
keseimbangan cairan maka input cairan harus mampu untuk mengganti cairan
yang hilang. Tujuan terapi cairan bukan untuk kesempurnaan keseimbangan
cairan, tetapi penyelamatan jiwa dengan menurunkan angka mortalitas.
Perdarahan yang banyak (syok hemoragik) akan menyebabkan gangguan
pada fungsi kardiovaskuler. Syok hipovolemik karena perdarahan merupakan
akibat lanjut. Pada keadaan demikian, memperbaiki keadaan umum dengan
mengatasi syok yang terjadi dapat dilakukan dengan pemberian cairan elektrolit,
plasma, atau darah. Untuk perbaikan sirkulasi, langkah utamanya adalah
mengupayakan aliran vena yang memadai. Sebelumnya, ambil darah ± 20 ml
untuk pemeriksaan laboratorium rutin, golongan darah, dan bila perlu Cross test.
Perdarahan berat adalah kasus gawat darurat yang membahayakan jiwa. Jika
hemoglobin rendah maka cairan pengganti yang terbaik adalah tranfusi darah
(Hardisman, 2013).
Larutan elektrolit isotonik digunakan untuk resusitasi awal. Jenis cairan
ini mengisi intravaskuler dalam waktu singkat dan juga menstabilkan volume
vaskuler dengan cara menggantikan kehilangan cairan berikutnya ke dalam
ruang interstisial dan intraseluler. Larutan Ringer Laktat adalah cairan pilihan

14
pertama. NaCl fisiologis adalah pilihan kedua. Walaupun NaCl fisiologis
merupakan cairan pengganti yang baik namun cairan ini memiliki potensi
untuk terjadinya asidosis hiperkloremik. Kemungkinan ini bertambah besar
bila fungsi ginjal kurang baik (ATLS, 2004).
Pada saat awal cairan diberikan dengan tetesan cepat sebagai bolus.
Dosis awal 1 sampai 2 liter pada dewasa dan 20ml/kgBB pada anak,
selanjutnya dilakukan evaluasi respon pasien terhadap pemberian cairan ini.
Jumlah cairan dan darah yang diperlukan untuk resusitasi sukar
diramalkan pada evaluasi penderita. Perkiraan kehilangan cairan dan darah
dapat dilihat cara menentukan jumlah cairan dan darah yang mungkin
diperlukan oleh penderita. Perhitungan kasar untuk jumlah total volume
kristaloid yang secara akut diperlukan adalah mengganti setiap milliliter darah
dengan 3 ml cairan kristaloid, sehingga memungkinkan restitusi volume
plasma yang hilang ke dalam ruang intersitisal dan intraseluler, hal ini dikenal
sebagai “hokum 3 untuk 1 “(3 for 1 rule)”. Namun, lebih penting untuk
menilai respon penderita kepada resusitasi cairan dan bukti perfusi dan
oksigenasi end-organ yang memadai, misalnya keluaran urin, tingkat kesadaran,
dan perfusi perifer (ATLS, 2004). Produksi urin dalam kondisi tertentu dapat
digunakan sebagai pemantau fungsi ginjal. Penggantian volume yang memadai
seharusnya menghasilkan keluaran urin sekitar 0,5 ml/kg/jam pada orang dewasa, 1
ml/kg/jam pada anak-anak, dan 2 ml/kg/jam untuk bayi.
Respon Cepat Respon Sementara Tanpa
Respon
Tanda Vital Kembali ke normal Perbaikan sementara Tetap
Tensi dan nadi kembali abnormal
turun
Dugaan Minimal (10%- Sedang, masih ada (20- Berat
Kehilangan 20%) 40%) (>40%)
darah
Kebutuhan Sedikit Banyak Banyak
kristaloid
Kebutuhan Sedikit Sedang-Banyak Segera
darah
Persiapan darah Type specific dan Type spesific Emergensi

15
crossmatch
Operasi Mungkin Sangat mungkin Hampir
pasti
Kehadiran dini Perlu Perlu Perlu
ahli bedah
Pada dehidrasi, cecara sederhana prinsip penatalaksanaan dehidrasi
adalah mengganti cairan yang hilang dan mengembalikan keseimbangan
elektrolit, sehingga keseimbangan hemodinamik kembali tercapai. Selain
pertimbangan derajat dehidrasi, penanganan juga ditujukan untuk mengoreksi
status omolaritas pasien (Leksana, 2015). Penanganan kondisi ini dibagi
menjadi 2 tahap :
Tahap Pertama berfokus untuk mengatasi kedaruratan dehidrasi, yaitu
syok hipovolemia yang membutuhkan penanganan cepat. Pada tahap ini dapat
diberikan cairan kristaloid isotonik, seperti ringer lactate (RL) atau NaCl 0,9%
sebesar 20 mL/kgBB. Perbaikan cairan intravaskuler dapat dilihat dari
perbaikan takikardi, denyut nadi, produksi urin, dan status mental pasien.
Apabila perbaikan belum terjadi setelah cairan diberikan dengan kecepatan
hingga 60 mL/kgBB, maka etiologi lain syok harus dipikirkan (misalnya anafi
laksis, sepsis, syok kardiogenik). Pengawasan hemodinamik dan golongan
inotropik dapat diindikasikan. Tahap Kedua berfokus pada mengatasi defisit,
pemberian cairan pemeliharaan dan penggantian kehilangan yang masih
berlangsung. Kebutuhan cairan pemeliharaan diukur dari jumlah kehilangan
cairan (urin, tinja) ditambah IWL. Jumlah IWL adalah antara 400-500 mL/m2
luas permukaan tubuh dan dapat meningkat pada kondisi demam dan takipnea.
Secara kasar kebutuhan cairan berdasarkan berat badan adalah :

 Berat badan < 10 kg = 100 mL/kgBB
 Berat badan 10-20 kg = 1000 + 50 mL/kgBB untuk setiap kilogram
berat badan di atas 10 kg
 Berat badan > 20 kg = 1500 + 20 mL/kgBB untuk setiap kilogram berat
badan di atau 20 kg
(Leksana, 2015).

16
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Syok adalah berbeda daripada shock emosional atau syok psikologi yang
dapat terjadi setelah kejadian emosional yang traumatik atau menakutkan.
Syok memerlukan perawatan segera karena gejala-gejala dapat memburuk
secara cepat.Tipe atau penyebab syok, perawatan-perawatannya akan berbeda.
Pada umumnya, memberikan jumlah cairan yang besar untuk menaikan
tekanan darah dengan cepat dengan IV (intravena) kamar keadaan darurat
adalah perawatan garis pertama untuk semua tipe-tipe syok.
Berhasil tidaknya penanggulangan syok tergantung dari kemampuan
mengenal gejala-gejala syok, mengetahui, dan mengantisipasi penyebab syok
serta efektivitas dan efisiensi kerja kita pada saat-saat/menit-menit pertama
penderita mengalami syok.

3.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Kami
menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Kritik dan saran sangat kami harapkan guna penulisan mekalah yang lebih
baik lagi kedepannya.
Semoga makalah ini dapat membantu mahasiswa khususnya dalam
bidang keperawatan sebagai suatu bahan acuan dalam belajar guna menambah
wawasan serta informasi dalam bidang Keperawatan Kegawatdaruratan.

17
DAFTAR PUSTAKA

18