You are on page 1of 17

PRESENTASI KASUS

EFUSI PLEURA

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Radiologi
Rumah Sakit Umum Daerah Temanggung

Disusun oleh :
Sonia Afika Aziza
20120310100

Pembimbing :
dr. R.S. Sulistijawati, Sp. Rad, M.Sc

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI RSUD TEMANGGUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2017

Riwayat Penyakit Dahulu Tidak pernah mengalami seperti ini sebelumnya. KU : Cukup 2. Pasien mengeluh 3 minggu sebelum masuk RS batuk berdahak disertai demam. Keluhan nyeri dada disertai rasa panas yang menjalar sampai ke punggung dan sesak nafas. ketertinggalan gerak (-) Perkusi : Redup pada hemithoraks kiri RM.RM : 235775 Nama : Tn. Kepala : Normocephal 5. riwayat dirawat di RS (-) 3. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke IGD RSUD Temanggung dengan keluhan nyeri dada kiri sejak 1 minggu sebelum masuk RS. Thorax Inspeksi : Jejas (+). M Umur/JK : 53 Tahun / Laki-laki Agama : Islam Alamat : Sukomarto Kunjungan RS tanggal : 09 Februari 2017 Dokter yang merawat : dr. konjungtiva anemis (-/-). K IDENTITAS Ruang : Flamboyan 1 Umur : 42 Tahun Nama Lengkap : Tn. BAK dan BAB tidak ada keluhan. Kesadaran : Compos Mentis 3. 2. . Sp. Tidak ada riwayat jatuh sebelumnya. reflek cahaya (+/+) 6. Mata : Sclera ikterik (-/-).02. simetris. Djoko Agung. Vital Sign : TD : 130/ 80 mmHg Nadi : 90 x/menit Suhu : 38.PD KELUHAN UTAMA: Nyeri dada 1.5 oC Respirasi : 24 x/menit 4. PEMERIKSAAN FISIK 1. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga yang memiliki riwayat yang sama dengan pasien.

5 % (25-40) Kimia Klinik Ureum N: 23.RM : 235775 Palpasi : Vokal fremitus asimetris +/↓.3) Hematokrit N: 42 % (40-52) Jumlah Leukosit H: 14.03. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO.4-5.4 mg/dL (10-50) Kreatinin N: 0.2) RM.2-17.9) Jumlah Trombosit N: 244 10^3/ul (150-440) Hitunng Jenis Neutrofil H: 86.6) Jumlah Eritrosit N: 5. krepitasi (-) Auskultasi : SDV + /- 7. Oedem (-). Ekstremitas : Akral dingin (-).4 % (50-70) Limfosit L: 5.3 g/dl (13.29 10^6/ul (4.8-10. Abdomen Inspeksi : datar Auskultasi : Bising usus (+) Perkusi : Timpani Palpasi : Supel 8.6 10^3/ul (3.6-1.63 mg/dL (0. . Sianosis (-) PEMERIKSAAN PENUNJANG  Pemeriksaan Laboratorium Darah lengkap Hemoglobin N: 13.

kondisi cukup. VI. Sinus costofrenikus dextra et sinistra lancip . . Tampak multiple fracture costae IV. asimetris. VIII. cardiomegaly. Tampak corakan bronkovaskuler di kedua lapang paru normal .RM : 235775  Pemeriksaan Radiologi Roentgen Thorax Gambar 1. Cor > 0. Tampak gambaran lusen pada subkutis lateral hemithorax dextra .56 . emfisema subkutis hemithorax dextra. inspirasi kurang. Hasil pemeriksaan roentgen thorax pertama pasien Deskripsi : Roentgen Thorax proyeksi AP. Diafragma dextra et sinistra licin Kesan : Multiple fracture costae IV. Trakea dan mediastinum di tengah .04. V. . RM. IX thorax dextra. IX hemithorax dextra aspek lateral . V. VIII. VII. VI. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. VII.

IX hemithorax dextra aspek lateral . Tampak corakan bronkovaskuler meningkat di hemithorax dextra . V. Sinus costofrenikus dextra et sinistra lancip . Cor > 0. VII. Hasil pemeriksaan Roentgen Thorax kedua pasien Deskripsi : Foto Roentgen Thorax proyeksi AP supine. . Diafragma dextra et sinistra licin Kesan : Multiple fracture costae IV. cardiomegaly.56 . V. kondisi kurang. VIII. VIII. VII. inspirasi kurang. .RM : 235775 Gambar 2. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. emfisema subkutis hemithorax dextra. Trakea dan mediastinum di tengah . Tampak emfisema subkutis lateral hemithorax dextra .05. IX hemithorax dextra. simetris. VI. Tampak multiple fracture costae IV. RM. VI.

VI. Tampak emfisema subkutis aspek lateral hemithorax dextra . Trakea dan mediastinum di tengah Kesan : Multiple fracture costae IV. Hasil Roentgen thorax ketiga pasien Deskripsi : Foto Roentgen Thorax proyeksi AP 1/2 duduk.06. Tampak multiple fracture costae IV. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. . emfisema subkutis hemithorax dextra. VI. VII. . Cor > 0. cardiomegaly. V. kondisi keras. inspirasi cukup. IX hemithorax dextra.RM : 235775 Gambar 3. RM. Sinus costofrenikus dextra tumpul. VII. Tampak corakan bronkovaskuler tidak meningkat . simetris. IX hemithorax dextra aspek lateral . VIII. VIII. sinistra lancip .56 . V.

Hasil roentgen thorax keempat pasien Deskripsi : Foto Roentgen Thorax proyeksi AP setengah duduk. VII.56 . kondisi cukup. RM. VI. sinistra lancip . . Tampak corakan bronkovaskuler tidak meningkat .07. inspirasi cukup. V.RM : 235775 Gambar 4. VII. Tampak emfisema subkutis aspek lateral hemithorax dextra berkurang . VIII. IX hemithorax dextra. VI. simetris. Tampak multiple fracture costae IV. Cor > 0. VIII. V. Trakea dan mediastinum di tengah Kesan : Hematothorax dextra minimal. . multiple fracture costae IV. cardiomegaly. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. Sinus costofrenikus dextra tumpul. IX hemithorax dextra aspek lateral .

multiple fracture costae IV. . VIII. VII.RM : 235775 Gambar 5. sinistra lancip . VI. RM. IX hemithorax dextra aspek lateral . simetris. Sinus costofrenikus dextra tumpul. Tampak multiple fracture costae IV. Tampak opasitas pada hemithorax dextra inferior . VII.56 . FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. kondisi keras. Tampak emfisema subkutis aspek lateral hemithorax dextra menghilang . Tampak corakan bronkovaskuler tidak meningkat . VI. Trakea dan mediastinum di tengah Kesan : Hemathotorax dextra. Cor > 0. .08. VIII. V. V. IX hemithorax dextra. cardiomegaly. inspirasi cukup. Hasil roentgen thorax kelima pasien Deskripsi : Foto Roentgen Thorax proyeksi AP ½ duduk.

VII. asimetris. Tampak opasitas pada hemithorax dextra inferior . VI. Sinus costofrenikus dextra tumpul. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. VIII.56 . VI. . Tampak corakan bronkovaskuler tidak meningkat .RM : 235775 Gambar 6. . RM. IX hemithorax dextra aspek lateral . Ceftriaxone 2x1 Inj. Namun sekarang sudah dipulangkan. Trakea dan mediastinum di tengah Kesan : Hematothorax dextra. Diagnosis klinis : Hematothorax et causa multiple fracture costae thorax dextra Diagnosis banding : Effusi Pleura Terapi : Oksigenasi Infus Asering 20 tpm Inj. sinistra lancip . inspirasi cukup. Cor < 0. Tampak multiple fracture costae IV. Ketorolac 3x1 A Inj. V. IX hemithorax dextra. VII. multiple fracture costae IV. V. VIII. Hematothorax dextra Deskripsi : Foto Roentgen Thorax proyeksi AP ½ duduk. kondisi keras. Kalnex 3x500 mg Status akhir pasien : Pasien dirawat intensif oleh bagian penyakit bedah.09.

akibat proses penyakit di dalam dinding dada jarang ( misalnya bone eksostoses). Extrapleura Pada kasus trauma. jantung. interkosta. Hematothoraks masive dapat diakibatkan oleh cedera dari arteri atau vena utama di dalam thoraks atau oleh jantungnya sendiri. Hematothorax II. Ini juga mungkin merupakan komplikasi dari beberapa penyakit.mamaria interna. Pada kasus nontrauma. Intrapleura Trauma tumpul dan penetrans yang melibatkan kerusakan struktur intrathoraks dapat mengakibatkan hematothoraks. Ini meliputi aorta dan cabang RM.010. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. hepar melalui diafragma. pecahnya pembuluh darah pada mediastinum. yang dapat berasal dari : pecahnya a. Kondisi biasanya merupakan konsekuensi dari trauma tumpul atau tajam . DEFINISI Hematothoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat darah dalam cavum pleura. organ abdomen misal : lien. Gambar 7. a. . ETIOLOGI Perdarahan ke dalam rongga pleura dapat mengakibatkan baik dari cedera extrapleural atau intrapleural.RM : 235775 PEMBAHASAN HEMATOTHORAKS I. kerusakan jaringan dari dinding dada yang sampai mengenai kerusakan dari membran pleura dapat menyebabkan pendarahan ke dalam rongga pleura. Sumber pendarahan yang hampir bisa dipastikan dan penting pada perdarahan dari dinding dada adalah arteri intercosta dan arteri mamaria interna.

Hilangnya darah 750-1500 mL pada individu yang sama akan menyebabkan gejala awal shock. terutama yang berhubungan dengan pneumothorax dan pendarahan minimal. RM. gejala yang berhubungan dengan pernapasan mendominasi. Darah yang hilang sampai 750 mL pada seorang manusia dengan BB 70-kg tidak tampak menyebabkan perubahan hemodinamik penting. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. Pergerakan pernapasan normal mungkin dihambat oleh efek akumulasi darah yang banyak di dalam rongga pleura. tetapi pada umumnya selflimited sebab tekanan vaskuler paru-paru secara normal rendah. merupakan prosentase besar kelainan vaskuler spesifik yang dapat menyebabkan hematothoraks. vena azygos . Hemodinamik Perubahan hemodinamik tergantung pada jumlah pendarahan dan kecepatan kehilangan darah. Penyakit pada aorta dan cabang utamanya. PATOFISIOLOGI Respon fisiologi terhadap perkembangan suatu hematothoraks dinyatakan dalam 2 gejala utama: berhubungan dengan pernapasan dan hemodinamik. yang utama atau arteri pulmanalis utama atau cabangnya . Cedera pada jantung dapat menghasilkan suatu hematothoraks jika terdapat hubungan antara perikardium dan rongga pleura. . vena cava inferior.RM : 235775 brachiocephalicnya. Hematothoraks sebagai hasil penyakit metastatic pada umumnya dari tumor yang menyebar pada permukaan pleura. tachypnea. kelainan ventilasi dan oksigenasi dapat terjadi. Tanda shock yang penting berupa turunnya perfusi ke jaringan. terutama jika dihubungkan dengan adanya cedera pada dinding dada. perdarahan dapat terjadi tanpa bukti adanya perdarahan eksterna. seperti tachycardia. Cedera parenchim paru-paru pada umumnya dihubungkan dengan pneumothorax dan mengakibatkan perdarahan yang terbatas. Cedera yang mengenai parenchim paru dapat menyebabkan hematothoraks. Respon terhadap tingkat gangguan hemodinamik ditentukan oleh kecepatan dan jumlah kehilangan darah. Pada kasus trauma. vena cava superior dan vena brachiocephalica. Dalam beberapa kasus bukan karena trauma. dan suatu penurunan tekanan denyut nadi. seperti pecahnya bentuk aneurisma.011. Sebab rongga pleura seorang manusia dengan BB 70-kg dapat menampung 4 liter atau lebih darah. dan vena-vena pulmonalis utama. terjadi karena hilangnya volume darah 30% atau lebih ( 1500-2000 mL). III.

Volume darah yang diperlukan untuk mengakibatkan gejala ini pada individu tergantung pada sejumlah faktor.RM : 235775 Pernapasan Darah menempati rongga pleura menyebabkan paru-paru tidak dapat mengembang. Paru-paru terfiksasi pada posisi tertentu oleh suatu proses adhesi dan tidak dapat mengembang secara luas. beratnya cedera. Jika tidak diketahui atau tidak dilakukan perawatan. seperti sekunder karena penyakit metastase. . suatu hemothorax yang asymptomatic dan minimal dapat berubah menjadi efusi suatu pleura yang banyak dan simptomatik. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. Lysis sel darah merah mengakibatkan suatu peningkatan konsentrasi protein dalam cairan pleura dan suatu peningkatan di tekanan osmotik di dalam rongga pleura.012. Sequele fisiologi dari unresolved hematothoraks Dua keadaan patologis dihubungkan dengan perkembangan hematotoraks selanjutnya. Fibrothorax terjadi ketika deposisi fibrin berkembang di dalam suatu hematothoraks yang terorganisasi dan melingkupi permukaan pleura parietal dan visceral. mencakup organ/ bagian yang terluka. paru-paru. mulai terjadi lysis clotting yang ada oleh enzim pleura. RM. Dengan cara ini. dan menjerat paru-paru. Di dalam beberapa jam dari penghentian pendarahan. ini dapat mendorong kearah bacteremia dan shock septik. Dyspnea adalah suatu gejala umum jika hematothoraks belum tampak/ tersembunyi. Hal ini dalam beberapa tingkat terjadi defibrinasi darah sedemikian sehingga terjadi clotting tidak sempurna. Empiema diakibatkan oleh pencemaran bakteri yang mengenai sisa hematothoraks yang tertahan. Peningkatan tekanan osmotik intrapleura menghasilkan suatu osmotic gradien antara rongga pleura dan jaringan yang melingkupi sehingga terjadi transudasi cairan ke dalam rongga pleura. Resolusi Fisiologi hematothoraks Darah yang masuk rongga pleura mengenai diafragma. Yaitu meliputi empiema dan fibrothoraks. dan penyakit paru yang mendasari dan berhubungan dengan cadangan jantung. Timbunan darah yang cukup banyak menyebabkan pasien mengeluh dyspnea dan tachypnea pada pemeriksaan klinis. dan struktur intrathoraks lain. Akibatnya akan terjadi sebagian atelektasis paru persisten dan fungsi paru menurun. dan mengganggu fungsi pernapasan yang normal.

Takikardi (kehilangan darah  volume darah menurun  cardiac output menurun  hipoksia  kompensasi tubuh takikardi) . Takipneu . diantaranya : . mungkin didapatkan gerakan napas tertinggal atau adanya pucat karena perdarahan. Anamnesis Didapatkan penderita hematothorax mengeluh nyeri dada dan sesak napas. Deviasi trakea ke sisi yang terkena .RM : 235775 IV. Pemeriksaan Fisik Dari inspeksi biasanya tidak tampak kelainan. Anemia . seperti hipotensi. pemeriksaan fisik. DIAGNOSIS Penegakkan diagnosis hemothorax berdasarkan pada data yang diperoleh dari anamnesis. . sedangkan auskultasi didapatkan bunyi napas menurun atau bahkan menghilang. dan pemeriksaan penunjang (pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi). FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO.013. nadi cepat dan lemah. MANIFESTASI KLINIS Tanda dan gejala dapat bersifat simtomatik namun dapat juga asimtomatik. Nyeri dada yang berkaitan dengan trauma dinding dada . Hipoksemia . akral dingin . Pemeriksaan Penunjang RM. Penurunan suara napas atau menghilang pada sisi yang terkena . pucat. Dyspnea . Juga bisa didapatkan keterangan bahwa penderita sebelumnya mengalami kecelakaan pada dada. Tanda-tanda syok. Pada perkusi didapatkan pekak dengan batas tidak jelas. Asimtomatik didapatkan pada pasien dengan hematothorax yang sangat minimal sedangkan kebanyakanpasien akan menunjukkan simptom. Gerak dan pengembangan paru tidak sama (paradoksikal) . Adanya krepitasi saat palpasi V.

. USG hemothorax RM. Gambar 9. Roentgen Thorax Hematothorax Sinistra  USG USG yang digunakan adalah jenis FAST dan diindikasikan untuk pasien yang tidak stabil dengan hemothorax minimal. Gambar 8.014. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. Pemeriksaan Radiologi  Pemeriksaan Roentgen Thorax (Chest x-ray) Dapat ditemukan adanya gambaran opasitas (menunjukkan akumulasi cairan) pada rongga pleura di sisi yang terkena dan adanya mediastinum shift (menunjukkan penyimpangan struktur mediastinal (jantung)). Pemeriksaan ini sebagai pemeriksaan standar untuk menegakkan diagnosis.RM : 235775 Dilakukan pemeriksaan laboratorium dilihat menurunnya Hb dan hematokrit (menunjukkan jumlah darah yang hilang pada hematothorax).

Hal ini berguna untuk mengidentifikasi posisi chest tube. Gambar 10. Setelah dilakukan tube thoracostomi. Chest tube (tube thoracostomy drainage) Penempatan tube thoracostomi untuk hematothoraks idealnya pada spasi intercosta keenam atau ketujuh pada linea axillaris posterior.015.RM : 235775  CT Scan Computerized Tomography (CT) Scan adalah suatu teknik tomografi sinar X dimana pancaran sinar X melewati sebuah potongan aksial yang tipis dari berbagai tujuan terhadap pasien. cairan infus. dilanjutkan pemberian analgetik dan antibiotik. Langkah selanjutnya adalah mengeluarkan darahdari rongga pleura yang dapat dilakukan dengan cara : . transfusi darah. dan dapat mengungkapkan penyakit intrathoraks lain sebelumnya yang digelapkan oleh adanya hematothoraks. Jika drainase tidak sempurna RM. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. . Rib fractures with retained hemothorax PENATALAKSANAAN Tujuan terapi dari hematothorax adalah untuk menstabilkan hemodinamik pasien menghentikan perdarahan dan mnegeluarkan darah serta udara dari rongga pleura. selalu dilakukan pengulangan rongten dada. menentukan hasil evakuasi hematothoraks. Pemeriksaan CT scan diindikasikan untuk pasien dengan hemothorax minimal untuk evaluasi lokasi clotting (bekuan darah) dan untuk menemukan kuantitas atau jumlah bekuan darah di rongga pleura. Langkah pertama untuk menstabilkan hemodinamik adalah dengan resusitasi seperti diberikan oksigenasi.

tetapi hal ini sangat beresiko karena dapat memicu perdarahan dan perlu tindakan operasi segera.016. PROGNOSIS Prognosis berdasarkan pada penyebab hematothorax dan seberapa cepat penanganan diberikan. RM. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. . Lebih disukai. penempatan chest tube kedua perlu dipertimbangkan. .RM : 235775 seperti yang tampak pada gambaran rongten postthoracostomi. . Apabila penanganan tidak dilakukan segera maka kondisi pasien dapat bertambah buruk karena akan terjadi akumulasi darah di rongga thoras yang menyebabkan paru-paru kolaps dan mendorong mediastinum serta trakea ke sisi yang sehat. Thoracotomy Prosedur pilihan untuk eksplorasi rongga dadaketika hemothorax masif atau terjadi perdarahan persisten. suatu perawatan dengan videoassisted thoracic surgery (VATS) dikerjakan untuk mengevakuasi ruang pleura. Trombolitic agent Untuk memecahkan bekuan darah pada chest tube atau ketika bekuan telah membentuk massa di rongga pleura.

Portland. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Wim. The ABC’s of Thoracic Trauma Imaging. Hall. Hal: 623. OR. Marc V. MD. John. Wilson. Gosselin.RM : 235775 DAFTAR PUSTAKA Guyton. dan De Jong. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA PRESUS STASE RADIOLOGI NO. Edisi 9. RM. Jakarta : EGC. and Steven L. Sylvia A. 2006.. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 2. C.017. Oregon Health and Science University. Lorraine M. Edisi 2. 2012. Primack. Arthur. 2003. MD. E. MD. R. 1997. Price. Sjamsuhidajat. Jakarta: EGC. . Jakarta: EGC Mary Costantino. Department of Radiology. Buku Ajar Ilmu Bedah .