You are on page 1of 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang
menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang
yang dipengaruhinya. Untuk menyembuhkan penyakit, orang-orang biasa
berkonsultasi dengan seorang dokter.

Setiap orang pasti pernah terserang penyakit baik penyakit ringan maupun
penyakit kronis. Tubuh manusia tersusun atas berbagai macam organ dan juga
jaringan sel yang sangat rentan terserang berbagai macam bibit-bibit penyakit.
Pola hidup yang tidak sehat disertai dengan tingkat kebersihan yang tergolong
cukup rendah sering kali membuat berbagai macam organ yang ada di dalam
tubuh manusia menjadi terserang penyakit. Menurut Undang-Undang RI. No.
23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari
badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup secara
produktif secara sosial dan ekonomi.

Menurut WHO, kesehatan adalah kondisi dinamis meliputi kesehatan jasmani,
rohani, sosial, dan tidak hanya terbebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.
Dikatakan sehat secara fisik adalah orang tersebut tidak memiliki gangguan
apapun secara klinis. Fungsi organ tubuhnya berfungsi secara baik, dan dia
memang tidak sakit. Sehat secara mental/psikis adalah sehatnya pikiran,
emosional, maupun spiritual dari seseorang. Ada suatu kasus seseorang yang
memeriksakan kondisi badannya serba tidak enak, akan tetapi secara
klinis/hasil pemeriksaan dokter menunjukan bahwa orang tersebut tidak sakit,
hal ini bisa disebabkan karena orang tersebut mengalami gangguan secara
mental/psikis yang mempengaruhi keadaan fisiknya. Contoh orang yang sehat
secara mental adalah tidak autis, tidak stress, tidak mengalami gangguan jiwa
akut, tidak mempunyai masalah yang berhubungan dengan kejiwaan, misalnya
kleptomania, psikopat, dan lain-lain. Penderita penyakit hati juga merupakan
contoh dari orang yang tidak sehat mentalnya, karena tidak ada seorang dokter

1

Kemudaian orang dengan katagori sehat secara ekonomi adalah orang yang produktif. Apa maksud dari thalassemia? 1. Untuk mengetahui tentang penyakit leukimia 3. Untuk mengetahui tentang penyakit thalasemia 2 . Apa maksud dari hemofilia? 5. Apa maksud dari anemia? 4. Apa maksud dari varises? 2. Untuk mengetahui tentang penyakit hemofilia 5. Untuk mengetahui tentang penyakit varises 2. Contoh orang yang tidak sehat sosial diantaranya adalah seorang Wanita Tuna Susila (WTS). Apa maksud dari leukimia? 3. Untuk mengetahui tentang penyakit anemia 4.2 Rumusan Masalah 1. 1. bedah jantung sekalipun yang bisa menghilangkan poenyakkit ini dengan peralatan bedahnya.3 Tujuan 1. produktifitasnya mengantarkan ia untuk bekerja dan dengan bekerja ia akan dapat menunjang kehidupan keluarganya. Sedangkan dikatakan sehat secara sosial adalah kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungan di mana ia tinggal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Lupus eritematosus sistemik. Poliartritis nodosa. Artritis rheumatoid. dan pada sejumlah kasus proses imunologisnya tampaknya dicetuskan oleh proses-proses lokal. Infeksi olehPseudomonas. Artritis psoriatic b) Penyakit Granulomatosa Tuberkulosis. Pioderma gangrenosum. Sifilis. mungkin terjadi invasi mikroba langsung. 2.1 Definisi Skleritis didefinisikan sebagai gangguan granulomatosa kronik yang ditandai olehdestruksi kolagen. Skleritis adalah peradangan sklera pada mana pembuluh darah cenderung tampak bewarna purpel2. Kolitisulserativa.misalnya bedah katarak. sebukan sel dan kelainan vaskular yang mengisyaratkan adanya vaskulitis1. Toksoplasmosis. Sarkoidosis. Sindrom Vogt-Koyanagi-Harada c) Gangguan metabolik Gout. Staphylococcus 3 . Polikondritis berulang. Tirotoksikosis.Granulomatosis Wegener.1 Skleritis 2. Herpes Simpleks. Lepra. Nefropati IgA. Penyakit jantung rematik aktif Infeksi Onkoserkiasis. kelainan-kelainan skelritis murni diperantarai oleh proses imunologi yakni terjadi reaksi tipe IV (hipersensitifitas tipe lambat) dan tipe III (kompleks imun) dan disertai penyakit sistemik. Streptococcus.1. Herpes Zoster. yaitu: a) Penyakit Autoimun Spondilitis ankylosing.Berikut ini adalah beberapa penyebab skleritis.2 Etiologi Pada banyak kasus. Pada beberapa kasus.1.Aspergillus.

Sekitar 20% kasus berkembang menjadi skleritis nekrosis. 4 . Pasca ekstraksi katarak Tidak diketahui 2.1. sering bilateral. Episkleritis a. b. tidak dapat digerakkan. Simple Biasanya jinak. 5% dihubungkan dengan penyakit kolagen vaskular seperti artritis rematoid. Skleritis Anterior Skleritis dapat diklasifikasikan menjadi anterior atau posterior. Merupakan skleritis yang paling umum terjadi. reaksi inflamasi terjadi pada usia muda yang berpotensi mengalami rekurensi3. Empat tipe dari skleritis anterior adalah: a) Diffuse anterior scleritis. Mekanis (cederatembus). disertai berbagai derajat inflamasi dan fotofobia. Sekitar30% penyebab skleritis nodular dihubungkan dengan dengan penyakit sistemik. b) Nodular anterior scleritis. luka bakar termal). Rosasea. 7% dihubungkan dengan herpeszoster oftalmikus dan 3% dihubungkan dengan gout. d) Lain-lain Fisik (radiasi. Terdapat pelebaran pembuluh darah baik difus maupunsegmental. Wanita lebih banyak terkena daripada pria dan sering mengenai usia decade 40 an.3 Pengklasifikasian Skleritis Skleritis diklasifikasikan menjadi 3 antara lain: 1. Limfoma. Ditandai dengan peradangan yang meluas pada seluruh permukaan sklera. Kimia (luka bakar asam atau basa). dan nyeri pada sklera anterior. 2. Nodular Baik bentuk maupun insidensinya hampir sama dengan bentuk simple scleritis.Gejala klinis yang muncul berupa rasa tidak nyaman pada mata.Ditandai dengan adanya satu atau lebih nodulradang yang eritem.

udem nervus optikus dan udem makular. Biasanya skleritis posterior ditandai dengan rasa nyeri dan penurunan kemampuan melihat. ankylosing spondylitis. c) Pemeriksaan funduskopi dapat menunjukan papiledema. Inflamasi skleritis posterior yang lanjut dapat menyebabkan ruang okuli anteriordangkal. Karena sklera terdiri dari jaringan ikat dan 5 . sensitivitas pada palpasi danproptosis. pergerakan ekstra ocular yang terbatas dan retraksi kelopak mata bawah. c) Necrotizing anterior scleritis with inflammation. Apabila disertai dengan inflamasi kornea. Wegener's granulomatosis. Juga dikenal sebagai 3. Biasa terjadi pada pasien yang sudah lama menderita rheumatoid arthritis. 2. polyarteritis nodosa. Skleritis posterior dapat menimbulkan amelanotik koroidal. dan perdarahan atau ablasio retina. a) Dapat ditemukan tahanan gerakan mata. adanya perlengketan massa eksudat di sebagian retina. perlengketan cincin koroid. proptosis. b) Dilatasi fundus dapat berguna dalam mengenali skleritis posterior. systemic lupus erythematosus. gout dan sifilis.4 Patofisiologi Penyakit tersering yang menyebabkan skleritis antara lain adalah rheumatoid arthritis.1. dikenal sebagai sklerokeratitis. Dari pemeriksaan objektif didapatkan adanya perubahan fundus7. Biasa mengikuti penyakit sistemik seperti rheumatoid arthtitis. lipatan koroid. Diakibatkan oleh pembentukan nodul rematoid dan absennya gejala. e) Necrotizing anterior scleritis without inflammation. Nyeri sangat berat dan d) kerusakan padasklera terlihat jelas. massa di retina. Skleritis Posterior Sebanyak 43% kasus skleritis posterior didiagnosis bersama dengan skleritis anterior. herpes zoster virus.

Reaksi sistemik terjadi dengan adanya antigen dalam sirkulasi yang mengakibatkan pembentukan kompleks antigen – antibodi yang dapat larut dalam sirkulasi. secara umum memakan waktu maksimal 4 – 8 jam dan bersifat lebih menyeluruh. bahan endogen. Hipersensitivitas tipe III dimediasi oleh kompleks imun yang terdiri dari antibody IgG dengan antigen. Kompleks imun yang terdeposisi menyebabkan netrofil mengeluarkan isi granul dan membuat kerusakan pada endotelium dan membrane basement sekitarnya. skleritis adalah gejala utama dari gangguan vaskular kolagen pada 15% dari kasus. atau trauma. Patologiutama dikarenakan deposisi kompleks yang ditingkatkan oleh peningkatan permeabilitas vaskular yang diakibatkan oleh pengaktivasian dari sel mast melalui FcgammaRIII. Tipe hipersensitivitas ini disebut juga hipersensitivitas tipe lambat. Gangguan regulasi autoimun pada pasien yang memiliki predisposisi genetik dapat menjadi penyebab terjadinya skleritis. Reaksi lokal dapat diperagakan dengan menginjeksi secara subkutan larutan antigen kepada penjamu yang memiliki titer IgG yang signifikan. ginjal.Proses peradangan dapat disebabkan oleh kompleks imun yang mengakibatkan kerusakan vaskular (hipersensitivitas tipe III) atau pun respon granulomatosa kronik (hipersensitivitas tipe IV). Hipersensitivitas tipe lambat 6 .4 Hipersensitivitas tipe IV adalah satu – satunya reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh sel T spesifik – antigen.serat kolagen. reaksi hipersensitivitas lebih lama dibandingkan dengan tipe I. Kompleks tersebut dapat terdisposisi pada bermacam – macam lokasi seperti kulit. Hipersensitivitas tipe III terbagi menjadi reaksi local (reaksi Arthus) dan reaksi sistemik. Faktor pencetus dapat berupa organisme menular. atau sendi. Karena FcgammaRIII adalah reseptor dengan daya ikat rendah dan juga karena ambang batas aktivasi melalui reseptor ini lebih tinggi dari pada untuk reseptor IgE. Contoh paling sering dari hipersensitivitas tipe III adalah komplikasi post – infeksi seperti arthritis dan glomerulonefritis.

5 Jaringan imun yang terbentuk dapat mengakibatkan kerusakan sklera. Nyeri dapat hilang sementara dengan penggunaan obat analgetik. Contoh klasik dari hipersensitivitas tipe lambat adalah tuberkulosis. Aktivasi dari sel T tersebut. peradangan pada skleritis dapat menyebar pada bagian anterior atau bagian posterior mata.. sel T lainnya. Nyeri adalah gejala yang paling sering dan merupakan indikator terjadinya inflamasi yang aktif. spasme. terjadi saat sel jaringan dendritik telah mengangkat antigen lalu memprosesnya dan menunjukkan pecahan peptida yang sesuai berikatan dengan MHC kelas II.dan juga kepada netrofil. fotofobia. Mata berair atau fotofobia pada skleritis tanpa disertai sekret mukopurulen. Nyeri timbul dari stimulasi langsung dan peregangan ujung saraf akibat adanya inflamasi. Reaksi maksimal memakan waktu 48– 72 jam. rahang dan sinus. pasien terbangun sepanjang malam. Konsekuensi dari hal ini adalah adanya infiltrasi seluler yang mana sel mononuklear (sel T dan makrofag) cenderung mendominasi. sklera dan venul poskapiler (peradangan mikroangiopati). Karakteristik nyeri pada skleritis yaitu nyeri terasa berat.1.5 Tanda Dan Gejala Gejala-gejala dapat meliputi rasa nyeri.membuatnya memproduksi sitokin seperti kemokin untuk makrofag. mata berair. kemudian mengalami kontak dengan sell TH1 yang berada dalam jaringan. dan penurunan ketajaman penglihatan.Tanda primernya adalah mata merah. alis. 7 . kambuh akibat sentuhan. Contoh yang paling sering adalah hipersensitivitas kontak yang diakibatkan dari pemaparan seorang individu dengan garam metal atau bahan kimia reaktif. Tidak seperti episkleritis. nyeri tajam menyebar ke dahi. 2. yaitu deposisi kompleks imun di kapiler episklera.

ablasio retina eksudatif. Bentuk keratitis sklerotikan adalah segitiga yang terletak dekat skleritis yang sedang meradang. proptosis. Keratitis bermanifestasi sebagai pembentukan alur perifer. Sering bagian sentral kornea tidak terlihat pada keratitis sklerotikan. Pada skleritis. Kelainan ini sering disertai oleh penurunan penglihatan akibat edema makula. granuloma subretina. vaskularisasi perifer.Sklera bisa terlihat merah kebiruan atau keunguan yang difus. Dapat terjadi galukoma sudut terbuka dan tertutup.1.Selain itu perlu pemeriksaan 8 . Skleritis biasanya disertai dengan peradangan di daerah sekitarnya seperti uveitis atau keratitis sklerotikan. Hal ini terjadi akibat gangguan susunan serat kolagen stroma. 2. Juga dapat terjadi glaukom akibat steroid. Pada skleritis akibat terjadinya nekrosis sclera atau skleromalasia maka dapat terjadi perforasi pada sklera.1. area dengan tampilan vaskular yang baru dan juga area yang avaskular total. Uveitis adalah tanda buruk karena sering tidak berespon terhadap terapi.Pemeriksaan ini dapat membantu menegakkan area yang mempunyai kongesti vaskularyang maksimum.6 Komplikasi Penyulit skleritis adalah keratitis. galukoma. terjadi bendungan yang masif di jaringan dalam episklera dengan beberapabendungan pada jaringan superfisial episklera.dimana terjadi kekeruhan kornea akibat peradangan sklera terdekat. atau vaskularisasi dalam dengan atau tanpa pengaruh kornea. Pada keadaan ini tidak pernah terjadi neovaskularisasi6 kedalam stroma kornea.2. katarak. Proses penyembuhan kornea yaitu berupa menjadi jernihnya kornea yangdimulai dari bagian sentral. uveitis. Penyulit pada kornea dapat dalam bentuk keratitis sklerotikan. c) Pemeriksaan Red-free Light . dan hipermetropia. b) Pemeriksaan Slit Lamp.7 Pemerikasaan Fisik a) Daylight.

Obat-obat imunosupresif lain juga dapat digunakan. penyakit yang beratmengharuskan terapi intravena berdenyut dengan metil prednisolon 1 g setiap minggu. harus diberikan terapi spesifik. nyeri cepat mereda diikuti oleh pengurangan peradangan. Terapi awal skleritis adalah obat antiinflamasi non-steroid sistemik.1. Tetapi steroid topikal saja tidak bermanfaattetapi dapat dapat menjadi terapi tambahan untuk terapi sistemik. Apabila dapat diidentifikasiadanya infeksi. Obat pilihan adalah indometasin 100 mg perhari atau ibuprofen300 mg perhari. 2 Siklofosfamid sangat bermanfaatapabila terdapat banyak kompleks imun dalam darah.9 Penatalaksanaan Terapi skleritis disesuaikan dengan penyebabnya. Tindakan ini kemungkinan besar 9 .1.Tindakan bedah jarang dilakukan kecuali untuk memperbaiki perforasi sklera ataukornea. Pada sebagian besar kasus. tekanan intraokular dan fundus. uvea. Steroid ini biasanya diberikan peroral yaitu prednison 80 mg perhari yang ditirunkan dengan cepat dalam 2minggu sampai dosis pemeliharaan sekitar 10 mg perhari.8 Pemeriksaan Penunjang Pemerikasaan Lab a) Hitung darah lengkap dan laju endap b) Kadar komplemen serum (C3) c) Antibody antinukleus serum d) Imunologi E e) Kadar asam urat serum 2. 2. Peran terapi steroid sistemik kemudian akanditentukan oleh sifat proses penyakitnya.lensa. kornea. Kadangkala. Apabila tidak timbul respon dalam 1-2 minggu atau segera setelah tampak penyumbatan vaskular harus segera dimulai terapi steroid sistemik dosis tinggi. yakni apakah penyakitnya merupakan suatu responhipersensitif atau efek dari invasi langsung mikroba. secara umum pada mata meliputi otot ekstra okular.

2001) Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva atau mata merah atau pink eye. atau pada granulomatosis Wegener atau poliarteritis nodosa yang disertai penyulit perforasi kornea. tetapi tandur semacam itu tidak jarang mencair kecuali apabila juga disertai pemberian kemoterapi. virus. dan iritasi bahan-bahan kimia.Penipisan sklera pada skleritis yang semata-mata akibat peradangan jarang menimbulkan perforasi kecuali apabila juga terdapat galukoma atau terjadi trauma langsung terutama pada usaha mengambil sediaan biopsi. jamur. jamur). bakteri. Karena pada stadium inijarang timbul gejala. Arif dkk: 2001) Jadi Konjungtivitis adalah suatu peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri. sehingga sering disebut mata merah. Pada konjungtivitis mata tampak merah.1 Pengertian Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat. (Mansjoer. alergi. sebagian besarkasus tidak diobati sampai timbul penyulit. 10 . Corwin: 2001) Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikroorganisme (virus. (Elizabeth. 2. (Suzzane. alergi atau iritasi dengan bahan-bahan kimia. clamida.2 Konjungtivitis 2.Skleromalasia perforans tidak terpengaruh oleh terapi kecuali apabila terapi diberikanpada stadium paling dini penyakit.2. diperlukan apabila terjadi kerusakan hebat akibat invasilangsung mikroba. Tandur sklera pernah digunakan sebagai tindakan profilaktik dalam terapi skleritis.

Juga dapat disebabkan oleh butir-butir debu dan serbuk sari. 2. pneumokokus. kontak langsung dengan kosmetika yang mengandung klorin. Pada konjungtivitis yang akut dan ringan akan sembuh sendiri dalam waktu 2 minggu tanpa pengobatan. Namun ada juga yang berlanjut menjadi kronis.2. dan bila tidak mendapat penanganan yang adekuat akan menimbulkan kerusakan 11 . Gejala yang muncul tergantung dari factor penyebab konjungtivitis dan factor berat ringannya penyakit yang diderita oleh pasien.2 Etiologi Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai hal dan dapat bersifat infeksius seperti:  Bakteri  Klamidia  Virus  Jamur  Parasit (oleh bahan iritatif => kimia. Organisme penyebab tersering adalah stafilokokus.3 Patofisiologi Konjungtiva selalu berhubungan dengan dunia luar sehingga kemungkinan terinfeksi dengan mikroorganisme sangat besar. penyebabnya adalah toksik atau kimia. atau benda asing yang masuk kedalam mata. Kebanyakan konjungtivitis bersifat bilateral. radiasi) maupun imunologi (pada reaksi alergi). streptokokus. suhu.2. Adanya infeksi atau virus. Apabila ada mikroorganisme yang dapat menembus pertahanan konjungtiva berupa tear film yang juga berfungsi untuk mmelarutkan kotoran- kotoran dan bahan-bahan toksik melalui meatus nasi inferior maka dapat terjadi konjungtivitas. Konjungtivitis merupakan penyakit mata eksternal yang diderita oleh masyarakat. ada yang bersifat akut atau kronis.2. Bila hanya unilateral. dan hemofilius.

menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva yang diikuti edema epitel. Sel-sel kemudian bergabung dengan fibrin dan mucus dari sel goblet. Pada film air mata. menyebabkan hoperemi yang tampak paling nyata pada forniks dan mengurang kearah limbus. mucus menangkap debris dan kerja memompa dari pelpebra secara tetap menghanyutkan air mata ke duktus air mata dan air mata mengandung substansi antimikroba termasul lisozim. Pertahanan konjungtiva terutama oleh karena adanya tear film. Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluh-pembuluh konjungtiva posterior. panas. Beberapa mekanisme melindungi permukaan mata dari substansi luar. Mungkin pula terdapat edema pada stroma konjungtiva (kemosis) dan hipertrofi lapis limfoid stroma (pembentukan folikel). Sensai ini merangsang sekresi air mata. Adanya agen perusak. pada permukaan konjungtiva yang berfungsi melarutkan kotoran dan 12 . kematian sel dan eksfoliasi. atau gatal. Konjungtiva karena lokasinya terpapar pada banyak mikroorganisme dan factor lingkungan lain yang mengganggu. hipertrofi epitel atau granuloma. Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh darah yang hyperemia dan menambah jumlah air mata. Karena Konjungtiva selalu berhubungan dengan dunia luar kemungkinan konjungtiva terinfeksi dengan mikroorganisme sangat besar. Pada hiperemi konjungtiva ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertrofi papilla yang sering disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores.pada kornea mata atau komplikasi lain yang sifatnya local atau sistemik. Sel-sel radang bermigrasi dari stroma konjungtiva melalui epitel kepermukaan. Jika klien mengeluh sakit pada iris atau badan siliare berarti kornea terkena. unsure berairnya mengencerkan materi infeksi. embentuk eksudat konjungtiva yang menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat bangun tidur.

Penyebab keluhan ini adalah edema konjungtiva. 2. epifora (keluar air mata berlebihan). bulu-bulu. Konjungtivitis alergi mungkin juga dapat terjadi setelah kontak dengan bahan kimia beracun seperti hair spray. gigitan serangga. gatal-gatal karena alergi tanaman dan eksim. protein hewani. lysozyne. asap. atau asap rokok. Apabila ada kuman pathogen yang dapat menembus pertahanan tersebut sehingga terjadi infeksi konjungtiva yang disebut konjungtivitis. kasar ( ngeres/tercakar ) atau terasa ada benda asing. juga berhubungan dengan alergi konjungtivitis. debu. Konjungtivitis Bakteri Konjungtivitis bakteri disebut juga “Pink Eye”. Ig G yang berfungsi menghambat pertumbuhan kuman. Tear film mengandung beta lysine. pseudoptosis (kelopak mata atas seperti akan menutup). bahan makanan tertentu. dan folikel yang mengakibatkan perasaan adanya benda asing didalam mata. make up.2. bahan-bahan yang toksik kemudian mengalirkan melalui saluran lakrimalis ke meatus nasi inferior. terbentuknya hipertrofi papilaris.5 Klasifikasi Konjungtivitis a.2. Asthma. Konjungtivitis Alergi Konjungtivitis alergi adalah salah satu dari penyakit mata eksternal yang paling sering terjadi. Gejala objektif meliputi hyperemia konjungtiva. obat-obatan. 2. tampak semacam membrane atau pseudomembran akibat koagulasi fibrin. Ig A. Bentuk konjungtivitis ini mungkin musiman atau musim-musim tertentu saja dan biasanya ada hubungannya dengan kesensitifan dengan serbuk sari. b. Bentuk ini adalah konjungtivitis yang mudah ditularkan. yang biasanya disebabkan 13 .4 Manifestasi Klinis Gejala subjektif meliputi rasa gatal.

Blenore neonatorum merupakan konjungtivitis yang terdapat pada bayi yang baru lahir.6 Pemeriksaan Penunjang a. Mata yang lain biasanya tertular dalam 24- 48 jam. e. Biasanya disertai dengan pembentukan folikel sehingga disebut juga konjungtivitis folikularis. Konjungtivitis Bakteri Hiperakut Neisseria gonnorrhoeae dapat menyebabkan konjungtivitis bakteri hiperakut yang berat dan mengancam penglihatan. Mungkin juga terjadi setelah sembuh dari haemophylus influenza atau neiseria gonorhe. kampimeter dan perimeter (sebagai alat pemeriksaan pandangan). c. d. Pemeriksaan Mata o Pemeriksaan tajam penglihatan o Pemeriksaan dengan uji konfrontasi. o Pemeriksaan dengan melakukan uji fluoresein (untuk melihat adanya efek epitel kornea).2. o Pemeriksaan dengan melakukan uji festel (untuk mengetahui letak adanya kebocoran kornea). oleh staphylococcus aureus. Konjungtivitis Viral Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus (yang paling sering adalah keratokonjungtivitis epidermika) atau dari penyakit virus sistemik seperti mumps dan mononukleus. Konjungtivitis Blenore Konjungtivitis purulen (bernanah pada bayi dan konjungtivitis gonore). o Pemeriksaan oftalmoskop 14 . 2.

b. seperti gentamisin.05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut dibuat sediaan yang dicat dengan pegecatan gram atau giemsa dapat dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil. konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin (antazidine 0. rapazoline 0.5 %.5 %). kemudian bila tidak memberikan hasil yang baik.2.3 %. chlorampenicol 0.7 Penatalaksanaan Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. obat tetes steroid untuk alergi (kontra indikasi pada herpes simplek virus). folimiksin selama 3-5 hari. c. kloramfenikol. Konjungtivitis Bakteri Sebelum terdapat hasil pemeriksaan mikrobiologi. Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika (Gentamycine 0. Adapun penatalaksanaan konjungtivitis sesuai dengan klasifikasinya adalah sebagai berikut: a. Therapy Medik o Antibiotic topical. o Pemeriksaan dengan slitlamp dan loupe dengan sentolop (untuk melihat benda menjadi lebih besar disbanding ukuran normalnya). Konjungtivitis karena jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.1 %). dapat diberikan antibiotic tunggal. 2. 15 .

sodium kromolin. Secret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih atau dengan garam fisiologik setiap ¼ jam.  Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokokus. Disusul pemberiansalep penisilin setiap 1 jam selama 3 hari. diberikan tetes mata disertai antibiotic spectrum obat salep luas tiap jam mata untuk tidur atau salep mata 4-5 kali sehari. Konjungtivitis Alergi Penatalaksanaan keperawatan berupa kompres dingin dan menghindarkan penyebab pencetus penyakit. Bila tidak ditemukan kuman dalam sediaan langsung. dihentikan dan menunggu hasil pemeriksaan.  Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksaan mikroskopik yang dibuat setiap hari menghasilkan 3 kali berturut-turut negative. medika menstosa :  Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisilin G 10. Pemakaian pelindung seluloid pada mata yang sakit tidak dianjurkan 16 . c. Rasa sakit dapat dikurangi dengan membuang kerak-kerak dikelopak mata dengan mengusap pelan-pelan dengan salin (gram fisiologi). Kemudian diberi salep penisilin setiap ¼ jam. Konjungtivitis Bakteri Hiperakut Pasien biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit untuk terapi topical dan sistemik.000/ml setiap 1 menit sampai 30 menit.  Kemudian salep diberikan setiap 5 menit selama 30 menit.000-20. – Pengobatan biasanya dengan perawatan di rumah sakit dan terisolasi. b. Dokter biasanya memberikan obat antihistamin atau bahan vasokonstkiktor dan pemberian astringen. steroid topical dosis rendah.

 Suntikan pada bayi diberikan 50. karena akan memberikan lingkungan yang baik bagi mikroorganisme. e. d. Konjungtivitis Viral Beberapa pasien mengalami perbaikan gejala setelah pemberian antihistamin/dekongestan topical. 17 . Tetes ini dapat diberikan setiap setengah jam pada 6 jam pertama disusul dengan setiap jam sampai terlihat tanda-tanda perbaikan. Penatalaksanaan pada konjungtivitis blenore Berupa pemberian penisilin topical mata dibersihkan dari secret. Pengobatan konjungtivitis blenore :  Penisilin topical tetes atau salep sesering mungkin.  Kadang-kadang perlu diberikan bersama-sama dengan tetrasiklin infeksi chlamdya yang banyak terjadi. karena bila tidak maka pemberian obat tidak akan efektif. Pengobatan dokter biasnay disesuaikan dengan diagnosis. Kompres hangat atau dingin dapat membantu memperbaiki gejala. Pencegahan merupakan cara yang lebih aman yaitu dengan membersihkan mata bayi segera setelah lahir dengan memberikan salep kloramfenikol.000 U/KgBB selama 7 hari.

1. 18 . sifat-sifat gangguan. dan akibat-akibat sekunder gangguan semacam itu pada proses vital yang lain. Kesimpulan Patologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana organ dan jaringan tubuh yang sehat secara anatomi dan fisiologi kemudian mengalami perubahan yang disebabkan oleh ganggyan luar maupun dalam. Untuk memahami dan mengobati penyakit secara adekuat. harus memperhitungkan identitas proses-proses normal yang dipengaruhi. proses terjadinya penyakit. Patologi membahas penyakit dari segala segi meliputi penyebab penyakit. BAB III PENUTUP 3. perubahan anatomi dan fungsional yang disebabkan penyakit tersebut dan efek klinisnya.

III. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. http://cipoohaku. Jakarta : EGC 19 . Penerbit : EGC. Ilmu Kesehatan Anak. III. 2000.co. Jakarta: Media Aeuscualpius. Jakarta.id/2012/06/skreritis. 2006. Arvin. Lynda Juall. 2001. Jakarta: Media Aeuscualpius. Jakarta: EGC .blogspot. Arif. Mansjoer. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Kliegman. Lynda Juall. Smeltzer. Edisi 8. 2000. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. DAFTAR PUSTAKA Behrman. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Ed.html diakses pada 19 maret 2018 pukul 14. Capernito-Moyet.23 Mansjoer. 2000. EGC Carpenito. Arif. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Ed. Suzzane C.