You are on page 1of 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah
ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas
bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun
pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi. Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman
kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, 21 September. 17

Penyusun

1

...................................................... Pangan.......................................17 2 ..........16 DAFTAR PUSTAKA.......................16 Kesimpulan dan Saran........ Tujuan...............................................3 A.................................. Kelompok Masyarakat dan Interaksi Urang Kanekes........... Mata Pencaharian Urang Kanekes................................................................ Latar Belakang Masalah............... Papan Urang Kanekes...................................................................... DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.................................................................................................................3 C................................................................................................... Rumusan Masalah.......................................................... Sandang.....................................................................................................12 H................................9 G.........................2 BAB I PENDAHULUAN................................................8 F..................................................................................3 B................................................6 D..............................4 A.........5 C.......... Wilayah dan Pemerintahan Urang Kanekes.......... Kepercayaan Urang Kanekes....14 BAB III PENUTUP...................................................................3 BAB II PEMBAHASAN............................................................ Kehidupan Urang Kanekes........................................4 B..1 DAFTAR ISI.............................................................................................................................................................................................................7 E....................................... Bahasa Urang Kanekes..................................................................... Asal Usul Urang Kanekes...............................................

Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Tujuan 1. Untuk mengetahui Kehidupan Urang Kanekes 3. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya. perkakas. termasuk sistem agama dan politik. Siapakah Urang Kanekes? 2. sebagaimana juga budaya. Bagaimana Kehidupan Urang Kanekes? 3. merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. dan karya seni. Bahasa. pakaian. abstrak. B. Budaya merupakan pola hidup menyeluruh. Bagaimana Urang Kanekes Mempertahankan Kebudayaannya? C. bangunan. Rumusan Masalah 1. Budaya ini diajarkan untuk tetap dijaga dan dilestarakan. Budaya bersifat kompleks. Untuk menegetahui Urang Kanekes 2. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit. Untuk mengetahui Cara Urang Kanekes Mempertahankan Kebudayaannya 3 . BAB I PENDAHULUAN A. dan luas. Latar Belakang Masalah Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. bahasa. adat istiadat. sehingga nantinya suatu keluarga mampu menghadapi masalah-masalah yang akan datang. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu. Orang Kanekes sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang- 4 . catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok. 2000). termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia. seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928. yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti. Menurut dia. serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim keberadaannya. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar.Populasi mereka sekitar 5. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto. Asal Usul Urang Kanekes Menurut kepercayaan yang mereka anut. wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda.000 orang. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. orang Kanekes atau orang baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis di wiliayah Kabupaten Lebak. yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Kanekes sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.000 hingga 8. khususnya penduduk wilayah baduy dalam. Sebelum berdirinya Kesultanan Banten. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja. dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umun menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Mereka mengaku keturunan dari Batara Cikal. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Banten. dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Van Tricht. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Pendapat mengenai asal usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu. BAB II PEMBAHASAN A. identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup. menyangkal teori tersebut. Menurut kepercayaan mereka. orang Kanekes adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna. 1993b: 146). Adam dan keturunannya.

Cikeusek. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%. Wilayah dan Pemerintahan Urang Kanekes Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana. Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes. berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Kabupaten Lebak. yaitu Cibeo. Ada 3 pemukiman Baduy dalam. Setiap daerah memiliki puun sendiri yang memiliki tugas khusus dan mengadakan hubungan dengan sejumlah pemukiman daerah bagian luar Baduy. suhu rata-rata 20 °C. tanah endapan (di bagian tengah). Rangkasbitung. karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang). Saat ini semakin banyak penduduk juga orang Baduy tinggal diluar tata susun resmi. Penduduk Kanekes dipimpin oleh 5 . Kecamatan Leuwidamar. dan Cikartawana. 2001). asal. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitan=asli. bukan agama Hindu atau Budha. Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan B. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi perbenturan. orang pelarian dari Pajajaran. ibu kota Kerajaan Sunda.Setiap pemukiman luar memiliki pemimpin sendiri yang disebutJaro. Banten. pokok. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja. yaitu di pemukiman tambahan yang disebut penamping atau pajaroan. yaitu sistem nasional yang mengikuti aturan Negara Indonesia dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. dan tanah campuran (di bagian selatan). jati). Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan. Seluruh organisasi ini disebut “Masyarakat tiga Tangtu dan tujuh Jaro”. yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara).

Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanékés adalah "puun" yang ada di tiga kampung tangtu. D. Jangka waktu jabatan puun tidak ditentukan. Wilayah Tangtu: Terletak paling jauh dari masyarakat luar. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia. Wilayah Panamping: Terletak di sebelah luarnya. Wilayah Kanekes dibagi atas 3 wilayah (berdasarkan tingkat kemandalaannya): 1. mayoritas orang Kanekes tidak dapat membaca atau menulis. sehingga adat-istiadat. yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa. yaitu "puun". yang apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai jaro duabelas. yang ada di bawah camat. 2. yang dibagi ke dalam empat jabatan. menyebabkan penduduknya disebut urang kajeroan (orang Dalam)/Baduy Dalam 2. namun tidak otomatis dari bapak ke anak. dan kokolot lembur atau tetua kampong. Adapun jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanékés dengan pemerintah nasional. kepercayaan/agama. dan memelihara tanah titipan leluhur yang ada di dalam dan di luar Kanékés. C. Bahasa Urang Kanekes Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Banten. biasanya disebut urang kaluaran (orang luar)/Baduy Luar. Bahkan hingga hari ini. hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut. Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapuunan (kepuunan) dilaksanakan oleh jaro. kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah. Jaro dangka bertugas menjaga. dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja. Kepercayaan Urang Kanekes 6 . Struktur pemerintahan secara adat Kanekes. Akibatnya. Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Jabatan tersebut berlangsung turun- temurun. walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Wilayah Dangka: Lokasinya lebih luar lagi. beberapa kampung berada di luar Kanekes. 3. karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Orang Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis. 3. carik. 4. yaitu: 1. melainkan dapat juga kerabat lainnya. Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan. mengurus. sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanékés yang tertinggi. walaupun sejak era Soeharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka. Orang Kanekes tidak mengenal sekolah. Jaro dangka berjumlah 9 orang. orang Kanekes masih menolak usaha pemerintah tersebut.

kebun. dan di kemudian hari ajaran Islam. dengan cara merawat dan menjaga hutan larangan sebagai bagian dalam upaya menjaga keseimbangan alam semesta. Sebaliknya. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. tanpa basa-basi. yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. 1993). maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun. bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar. maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana. ajaran leluhur turun temurun yang berakar pada penghormatan kepada karuhun atau arwah leluhur dan pemujaan kepada roh kekuatan alam (animisme). atau perubahan sesedikit mungkin: Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. pada perkembangan selanjutnya ajaran leluhur ini juga sedikit dipengaruhi oleh beberapa aspek ajaran Hindu. Hanya Pu'un atau ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. E. dan segala ekosistem di dalamnya). 2003a). Perkataan dan tindakan mereka pun jujur. Buddha. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya. dan panen akan berhasil baik. yaitu merawat alam sekitar (gunung. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna. Meskipun sebagian besar aspek ajaran ini adalah asli tradisi turun-temurun. hutan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih. serta memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada alam. sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. tidak membuat terasering. polos. lembah. sungai. kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam. yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. hanya menanam dengan tugal. bukit. bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang. apabila batu lumpang kering atau berair keruh. mata air. tidak mengolah lahan dengan bajak. berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya. Bentuk penghormatan kepada roh kekuatan alam ini diwujudkan melalui sikap menjaga dan melestarikan alam. Bagi sebagian kalangan. Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas. sehingga cara berladangnya sangat sederhana. Kehidupan Urang Kanekes 7 . Di bidang pertanian. Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai ajaran Sunda Wiwitan. Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apa pun".

Setelah sunatan selesai dilakukan. pasangan yang belum mendapat anak akan selalu disebut pengantén (pengantin).  Pernikahan Di kalangan orang Kanékésumumnya pernikahan terjadi pada usia sekitar 18 tahun bagi perempuan dan sekitar 23 tahun bagi laki-laki. Sebutan kepada orangtua akan mengikuti nama anak sulung mereka. meskipun telah lama menikah. Kelahiran Kelahiran anak merupakan suatu hal yang sangat didambakan oleh orang Kanékés yang telah berumah tangga. Dalam masyarakat Kanékés umumnya urusan jodoh masih menjadi urusan orangtua. Setelah diberi nama. Sejak saat itu dia diakui sebagai anggota warga masyarakat secara penuh. sedangkan untuk nama anak perempuan ketentuan itu dikaitkan dengan nama ibunya. Misalnya. Pada hari ke-7 bayi itu diberi nama. Oleh sebab itu. maka orang tuanya mendapat panggilan Ayah Arceu bagi bapaknya dan Ambu Arceu bagi ibunya. baik laki-laki maupun perempuan. Proses kelahiran bayi selalu ditolong oleh dukun beranak yang disebut Ambu Beurang atau Ambu Girang. Orang Kanékés yang belum memiliki anak tidak dapat diangkat menjadi pejabat di masyarakat. Orang tualah yang mencarikan jodoh anak mereka. suatu pasangan bernama Nakiwin (ayahnya) dan Sawiti (ibunya). anak sulung sebuah pasangan bernama Arceu. karena anak bagi orang Kanékés turut menentukan kedudukan orangtuanya dalam masyarakat dan juga kehidupan beragama mereka. Gelang tersebut dipercayai sebagai penolak bala. Sebagai contoh. Bila orang tua 8 . maka anak laki-laki mereka mungkin bernama Naiwin dan anak perempuan mereka mungkin bernama Sainah.  Sunatan Pada usia 5-7 tahun anak laki-laki orang Kanékés biasa disunat. anak tersebut digelangi sebagai ciri bahwa dia telah memasuki masa persiapan menuju masa dewasa. Ada ketentuan umum yang berlaku di Kanékés dalam pemberian nama anak: Bahwa suku kata pertama nama anak laki-laki harus sama dengan suku kata pertama nama ayahnya. anak itu dipasangi geulang kantéh (gelang terbuat dari benang) pada tangan kirinya bagi anak perempuan atau pada tangan kanannya bagi anak laki-laki.

yaitu ke arah Sasaka Pada Ageung F. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. dia akan pindah ke daerah Panamping. selanjutnya dikuburkan. didalam suku baduy terdapat berbedaan dalam berbusana yang didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. Untuk bagian bawahnya menggunakan kain serupa sarung warna biru kehitaman. bertempat dirumah pengantin perempuan dan diselenggarakan oleh jaro tangtu. model ataupun corak busana Baduy 9 . Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. Sandang. Jika terjadi kematian. yaitu : 1. sirih-pinang. Keberangkatan jenazah ke kuburan dipimpin oleh jaro tangtu dan diiringi ceurik panglayungan (tangisan jenazah) yang dilakukan salah seorang anggota keluarga si mati. Jangka waktu antara upacara lamaran dengan pernikahan relatif sifatnya. bisa lambat. 3. Jenazah orang Kanékés dikuburkan arah barat-timur dengan kepala di sebelah barat. Suasananya tenang dan tertib sambil diiringi dengan kegiatan pengurusan jenazah. berupa pengiriman kain putih. masyarakat Kanékés tidaklah timbul suasana hiruk-pikuk tangisan anggota keluarganya sebagai tanda duka. bisa cepat. para pria memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. Orang Tangtu pada dasarnya tidak diperkenankan untuk bercerai. Upacara ngabokoran. Papan Urang Kanekes  Sandang Dari segi berpakain. Ia dipandang dapat membersihkan si mati dari dosa-dosa yang melekat pada tubuhnya. kemudian dibungkus dengan kain kafan. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. kedua belah pihak sepakat untuk menjodohkan anak mereka. Pertama-tama jenazah itu dimandikan dengan air bersih.  Kematian Dalam kosakata mereka dikenal istilah kaparupuhan (kehilangan) untuk peristiwa kematian dan ngahiyang (mendiang). Upacara pasabunan. meminang). Tergantung pada kesiapan kedua belah pihak.melamar. Upacara akad nikah. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. Terlihat dari warna. tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. Serta pada bagian kepala suku baduy menggunakan ikat kepala berwarna putih. bagi suku Baduy Luar. dan nasi kuning(kabuli) kepada puun 2. mereka mempersiapkan segala sesuatu guna melaksanakan upacara lalamar (lamaran. Potongannya tidak memakai kerah.Untuk Baduy Dalam. berupa penyerahan bokor yang berisi sirih-pinang kepada puun bertempat di Balé Kapuunan. Pengurusan jenazah orang Kanékés dilakukan oleh orang khusus yang jabatannya panghulu. Kalau terpaksa harus bercerai. Ada beberapa upacara yang harus dilaksanakan dalam proses upacara pernikahan. Posisi penguburannya berbaring dengan wajah menghadap ke selatan. Pangan.

Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang. Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. Mereka minum air teh yang airnya dimasak dulu dan tehnya dibuat sendiri dari daun tulang.  Papan 10 . Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. untuk busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy dalam maupun Baduy Luar tidak terlalu menampakkan perbedaan yang mencolok. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Ikan diperolah dari tangkapan di sungai dan juga dibeli diluar Kanékés. Makanan mereka dimasak dengan cara dikukus. daging. Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. Luar. Mereka tidak memakai celana. Kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. karena pakaian tersebut dianggap barang tabu.dibakar.  Pangan Makanan pokok orang Kanékés adalah nasi. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas. dan sayur mayur. Lauk pauk untuk pengiring makan mereka terdiri atas ikan. Bila ada upacara adat mereka mengenakan kebaya berwarna putih. Bagi wanita yang sudah menikah. digodog. Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman. terutama ikan asin. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. kelengkapan busana pada bagian kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. Orang Kanékés biasa pula memasak anak nyiruan (tawon) dengan cara dipepas untuk lauk- pauk. Sedangkan. lalap. Agar kuat dan tidak melorot. dan dipepes. sarung tadi diikat dengan selembar kain.

dan tangga. G. sedangkan orang Sunda lebih terbuka kepada pengaruh asing dan mayoritas memeluk 11 . dinding. bantal (terbuat dari kayu). daun rumbia. lampu minyak tanah. rotan. garpu. koja (tas yang dirajut). Lainnya : seperti totok (pelita dari bambu yang bahan bakarnya minyak picung). ijuk. reng. Satu-satunya perbedaan adalah kepercayaan dan cara hidup mereka. Penampilan fisik dan bahasa mereka mirip dengan orang-orang Sunda pada umumnya. siwue (alat penyiduk air). leukur (tempat menyimpan dandang). dandang (terbuat dari tembaga). dan panjang (piring porselen kuno). piring. Kayu untuk membuat tiang dan kerangka rumah. dan batu. kélé (tempat air dari bambu).  Peralatan a. Rumah orang Kanekes terbuat dari bahan yang tersedia di alam sekitarnya. Daun rumbia berguna untuk membuat atap. d. Rotan untuk mengikat dan peneguh bangunan. terutama pada sambungan kayu atau bambu. cangkir terbuat dari bambu. c. dan selimut (kain tenunan sendiri). piring terbuat dari kayu. kenceng (tempat penggorengan). pintu. kukusan. lodong (tempat air nira atau tuak dari bambu). b. tape recorderbahkan handphone saat ini walaupun dipakai secara sembunyi-sembunyi jika ada orang Tangtu datang ke tempat tinggal mereka. bambu. Masak : hawu (tungku). radio. Bambu untuk usuk. kipas (terbuat dari anyaman bambu). Makan-minum : bakul. sendok. yaitu kayu. Orang Kanekes menutup diri dari pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka yang tradisional. lampu senter. pakara (alat tenun) Di Penampang terdapat cermin. Kelompok Masyarakat dan Interaksi Urang Kanekes Orang Kanekes memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda. Ijuk untuk membuat bubungan. nyiru (alat penampi gabah). dan dulang (tempat mengaduk nasi). tomo (periuk tanah tempat menyimpan air matang). pinggan. Batu untuk tatapakan (penyangga tiang). lantai. gelas. batok (cangkir tempurung kelapa). Tidur : tikar (terbuat dari pandan).

Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing. dan Cikeusik. Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Kanekes Dalam antara lain:  Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi  Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki  Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu'un atau ketua adat)  Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)  Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern. seperti Cikadu. Kelompok masyarakat kedua yang disebut panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar). dan dangka (Permana. dan lain sebagainya. Tidak seperti Kanekes Luar. yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo.Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam).Islam. yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam. Cikertawana.  Berkeinginan untuk keluar dari Kanekes Dalam  Menikah dengan anggota Kanekes Luar Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar 12 . 2001). Cisagu. Gajeboh.Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu. warga Kanekes Dalam masih memegang teguh adat-istiadat nenek moyang mereka. Masyarakat Kanekes Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna biru gelap (warna tarum). Kadukolot. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar:  Mereka telah melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam. Ciri khas Orang Kanekes Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua (warna tarum) serta memakai ikat kepala putih. Kaduketuk. Kanekes Dalam adalah bagian dari keseluruhan orang Kanekes. yang paling ketat mengikuti adat. Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. panamping.

paku. yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali. dll. penduduk Kanekes Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar.  Sebagian di antara mereka telah terpengaruh dan berpindah agama menjadi seorang muslim dalam jumlah cukup signifikan.  Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar telah menggunakan alat-alat bantu.  Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam. palawija. 13 . maka "Kanekes Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. madu. piring & gelas kaca & plastik. Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter. seperti gergaji.  Menggunakan peralatan rumah tangga modern. ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. yang menandakan bahwa mereka tidak suci. 1993). masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna. dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. palu. Orang Kanekes menjual hasil buah- buahan. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans. Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes. berupa menghantar hasil bumi (padi. seperti peralatan elektronik. misalnya dalam sewa-menyewa tanah. seperti kasur. 2001). Di bidang pertanian. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya. buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat). dan Ciboleger. sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Sampai sekarang. melalui bupati Kabupaten Lebak. yang sebelumnya dilarang oleh adat # Kanekes Dalam  Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki). Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat-istiadat bukan merupakan masyarakat terasing. dan tenaga buruh. Mereka telah mengenal teknologi. dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa. Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana. Cibengkung. terpencil. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. bantal.

wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). gandaria. 14 . Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk. Namun. Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan. biasanya merupakan remaja dari sekolah. Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak. petai. Mata Pencaharian Urang Kanekes Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji. H. maka mata pencaharian utama masyarakat Kanékés adalah bertani padi huma. kelapa. berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Kanekes sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. serta madu hutan.  Huma serang: merupakan suatu ladang suci bagi mereka yang berpemukiman dalam. dan juga para pengunjung dewasa lainnya.  Huma tangtu: merupakan ladang yang dikerjakan oleh orang Baduy Dalam yang meliputi Huma tuladan atau huma jaro. Mereka menerima para pengunjung tersebut.  Huma penamping: merupakan ladang yang dikerjakan oleh orang Baduy diluar kawasan tradisional. bahkan untuk menginap satu malam. Ada beberapa tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yaitu pohon durian. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup. mahasiswa. dan pohon buah atap (kolang-kaling). dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. rambutan. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Kanekes Dalam. Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun. maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. api. tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang. orang Kanekes juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki.

Setiap warga yang akan menanam padi cukup memberi tahu kepada puun kapan waktu mereka akan menanam padi. Alat yang digunakan adalah jerat dari bambu. Kehidupan orang Baduy berpenghasilan dari pertanian. Puun bertanggung jawab menjaga adat Baduy agar tidak berubah. dan tenaga buruh. penduduk Baduy Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar. misalnya dalam sewa menyewa tanah. Setelah puun barulah warga lain mulai menanam. berupa menghantar hasil bumi (padi. buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat). palawija. di kampung-kampung Baduy Dalam dimulai ketika puun sudah menanam padi. Orang Baduy Dalam juga mengenal teknik menjala ikan. sejenis ketapel dan jala dari tali serat kulit pohon. 15 . selain untuk kebutuhan pangan juga untuk upacara adat. melalui bupati Kabupaten Lebak. Ada 4 jenis ladang untuk padi gogo yaitu Acara berburu bagi orang Baduy. dimulai pada bulan kaampat kalender Baduy yang dimulai dengan kegiatan nyacar yakni membersihkan semua belukar untuk menyiapkan ladang. Di bidang pertanian. Upacara seba terus dilangsungkan setahun sekali. Masa tanam padi.

Masyarakat baduy merupakan masyarakat yang menjungjung tinggi nilai demokrasi diantara kesukuannya. Kabupaten Lebak-Rangkasbitung. Kepercayaan Suku Baduy atau masyarakat kanekes sendiri sering disebut dengan Sunda Wiwitan yang berdasarkan pada pemujaan nenek moyang (animisme). salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Populasi masyrakat suku baduy saat ini mencapai antara ± 5000 – 8000 orang yang tersebar dalam 54 kampung yang mengelilingi tiga kampung utama yaitu kampung cikeusik. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang perta Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana. Mereka mengaku keturunan dari Batara Cikal. Mereka hanya diperbolehkan untuk menikah kembali jika salah satu dari mereka telah meninggal. 16 . Budha dan Hindu. mereka percaya terhadap kepercayaan / keyakinan yang terus diturunkan turun temurun hingga sekarang dan dijaga sedemikian ketatnya supaya kepercayaan mereka tidak tersisihkan oleh agama-agama yang begitu banyak mempengaruhi kehidupan dunia modern. berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung Orang Baduy Dalam tidak mau di masuki budaya dari luar sedangkan Baduy Dalam sudah mau mengikuti budaya dari luar meskipun sedikit. Orang Baduy tidak mengenal poligami dan perceraian. BAB III PENUTUP Kesimpulan dan Saran Menurut kepercayaan yang mereka anut. Di dalam proses pernikahan suku baduy pasangan yang akan menikah selalu dijodohkan dan tidak ada yang namanya pacaran. orang Kanekes atau orang baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis di wiliayah Kabupaten Lebak. Banten. Banten. Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes. dengan kedisiplinan dan keteguhan mereka semuanya dapat terjaga dengan baik. namun semakin berkembang dan dipengaruhi oleh agama lainnya seperti agama Islam. Kecamatan Leuwidamar. Cikertawana dan cibeo. kehidupan suku baduy masih mempertahankan adat istiadat dan budaya leluhur mereka hingga saat ini. Orang tua laki-laki akan bersilaturahmi kepada orang tua perempuan dan memperkenalkan kedua anak mereka masing-masing. Suku baduy merupakan suku asli yang mendiami tanah banten. 2001).

blogspot. 1985  [online] https://id. Rajawali.bisnis.id/2013/07/suku-baduy-urang-kanekes. Setangkai Bunga Sosiologi.org/wiki/Urang_Kanekes. 1986.wikipedia. 1971  Selo Soemarjan-Soelaeman Soemardi.id  [online] http://ekspresi-diri.Ahmad.S.google.com/read/20150509/224/431561/suku-baduy-dalam- kokoh-pegang-amanah-leluhur-sunda-wiwitan.blogspot.com. Kehidupan suku baduy.co.  Marcus. 19 September 2017  Koentjaraningrat. Manusia Dan Beberapa Kebudayaan Di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA  Yani.2008. Jakarta : CV. 20 September 2017 KETAHANAN KELUARGA URANG KANEKES 17 .co. Etnografi suku Baduy: panduan pramuwisata Indonesia. dkk.A. 20 September 2017  [online] http://yulutrip. Djakarta : Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.  Soekarto. 1964.Books. Soerjono. 19 September 2017  [online] http://traveling. Djakarta : Penerbit Djambatan. Sosiologi Suatu Pengantar.html.

Disusun Oleh: Arini Himmataki 5545153771 Taufiq Ismail 5545152699 Yoanita Nur A 5545151841 Zahra Adina 5545150301 UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA ILMU KESEJAHTERAAN KELUARGA PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA 2015 18 .