You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Infertilitas atau kemandulan merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang
sering berkembang menjadi masalah sosial karena pihak istri selalu dianggap sebagai
penyebabnya. Akibatnya wanita sering terpojok dan mengalami kekerasan, terabaikan
kesehatannya, serta diberi label sebagai wanita mandul sebagai masalah hidupnya (Aprillia,
2010).

Infertilitas disebut juga subfertilitas dan dapat didefinisikan sebagai ketidak mampuan
pasangan untuk mengandung secara spontan. Infertilitas primer adalah keadaan di mana
seorang istri belum pernah hamil walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada
kemungkinan kehamilan selama 12 bulan (Prawirohardjo, 1999).

Banyak faktor yang menyebabkan pasutri sulit untuk hamil setelah kehidupan seksual
normal yang cukup lama. Banyak pasutri yang memilih bercerai karena salah satu dari
mereka tidak dapat memberi keturunan. Ancaman terjadinya perceraian ini mencapai 43%
dari masalah dalam sebuah pernikahan yang ada. Infertilitas tidak semata-mata terjadi
kelainan pada wanita saja, seperti dikemukakan bahwa suami sebaiknya diperiksa lebih
dahulu dan dinyatakan sehat jasmani dan rohani, karena kehamilan dapat terjadi apabila
suami benar-benar sehat dan kemampuan menunaikan tugas dengan baik, suami
menyumbang 40% dari angka kejadian infertil, sedangkan sisanya ada pada istri

Pasangan suami istri yang mengalami gangguan kesuburan pada tingkat dunia
mencapai 10-15%, dari jumlah tersebut 90% diketahui penyebabnya, sekitar 40% diantaranya
berasal dari faktor wanita (Hadibroto, 2007). Kejadian infertilitas di Amerika Serikat sebesar
12 %, ternyata fertilitas menurun setelah usia 35 tahun, kejadian infertilitas pada wanita umur
16-20 tahun sebesar 4,5%, umur 35-40 tahun 31,3% dan umur lebih dari 40 tahun sebesar
70% (Infertilitas, 2008) Menurut penelitian Mashuri, 2006, 93 pasangan infertil di Rumah
Sakit Umum dr. Pirngadi Medan, data yang diperoleh , 49,46% infertilitas berasal dari pihak
istri, 43,01% dari pihak suami dan 7,34% dari keduanya hasil penelitian menunjukkan bahwa
infertilitas paling banyak diderita oleh perempuan dan paling banyak ditemukan kasus
infertilitas primer sebanyak 90,32%.

1

Survei awal yang dilakukan peneliti di praktek dr. 2010). Binarwan Halim. peneliti tertarik melakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan dan sikap pasutri tentang infertilitas primer. SpOG (K) melalui metode wawancara pada tujuh pasutri dengan infertilitas primer. sedangkan 2 orang pasutri mengetahui tentang infertilitas primer. mereka tidak dapat menjawab pertanyaan yang peneliti ajukan mengenai pengetahuan dasar tentang infertilitas primer. 2 . Binarwan Halim. didapatkan bahwa lima orang pasutri tidak mengetahui tentang infertilitas primer. mereka dapat menjawab pertanyaan yang peneliti ajukan mengenai pengetahuan dasar infertilitas primer. serta pentingnya pengetahuan dan sikap pasutri tentang kesehatan reproduksi khususnya infertilitas. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa angka kejadian infertilitas masih tinggi.Dari data klinik dr. SpOG (K) Medan dari bulan Mei sampai dengan bulan Oktober tahun 2010 jumlah pasutri yang mengalami infertilitas primer sebanyak 517 orang (RM BH.

2. DEFINISI Infertilitas adalah kegagalan untuk memperoleh kehamilan setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi. EPIDEMIOLOGI Diperkirakan 85-90% pasangan yang menikah dalam satu tahun pernikahannya akan menjadi hamil. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. 3 . : 2. tetapi sebelumnya pernah hamil. dimana 10-15 % pasangan tersebut akan mengalami kesulitan untuk menjadi hamil dan mereka ini lah yang disebut sebagai pasangan infertil. Prevalensi infertilitas yang tepat tidak diketahui dengan pasti. sangat bervariasi tergantung keadaan geografis. 3. Infertilitas primer adalah belum pernah hamil pada wanita yang telah berkeluarga meskipun hubungan seksual dilakukan secara teratur tanpa perlindungan kontrasepsi untuk selang waktu paling kurang 12 bulan. JENIS INFERTILITAS Batasan yang diberikan WHO terhadap jenis Infertilitas:: 1. budaya dan status sosial suatu negara. Infertilitas sekunder adalah tidak terdapat kehamilan setelah berusaha dalam waktu 1 tahun atau lebih pada seorang wanita yang telah berkeluarga dengan hubungan seksual secara teratur tanpa perlindungan kontrasepsi.

kegagalan ovarium dini (10%). 2. Terjadi sekitar 4-5 % dari seluruh gangguan ovulasi. Anovulasi kelas 2 terjadi sekitar 85 % dari seluruh kasus kelainan ovulasi. Kelas 2 : Gangguan fungsi ovarium (normogonadotropinnormogonadism). 3. ovulasi harus dicatat sebagai bagian dari penilaian dasar pasangan infertil. PCOS ( 30 % kasus). satu pertiga pada pria dan satu pertiga disebabkan oleh faktor kombinasi.4. Gangguan-gangguan ini umumnya sangat mudah didiagnosis menjadi penyebab infertilitas. prolaktin normal. Gangguan ovulasi Gangguan ovulasi jumlahnya sekitar 30-40% dari seluruh kasus infertilitas wanita. Kelas 1 : Kegagalan pada hipotalamus hipopise (hipogonadotropin hipogonadism). Manifestasi klinik kelainan kelompok ini adalah oligomenorea atau amenorea yang banyak terjadi pada kasus PCOS. Karakteristik dari kelas ini adalah kelainan pada gonadotropin namun estradiol normal. WHO membagi kelainan ovulasi ini dalam 4 kelas: 1. Kelas 3 : Kegagalan ovarium (hipogonadotropin hipogonadism). Kelainan ini terjadi sekitar 10 % dari seluruh kelainan ovulasi. PENYEBAB INFERTILITAS ORGANIK Penyebab infertilitas dapat dibagi menjadi tiga kelompok : satu pertiga masalah terkait pada wanita. sekresi hormon prolaktin oleh tumor hipopise (20 % kasus). Karakteristik kelainan ini adalah kadar gonadotropin yang tinggi dengan kadar estradiol yang rendah. Karakteristik dari kelas ini adalah gonadotropin yang rendah. Infertilitas pada wanita A. Terjadinya anovulasi dapat disebabkan tidak ada atau sedikitnya produksi gonadotropin releasing hormon (GnRH) oleh hipotalamus ( 40 % kasus). Delapan puluh sampai sembilan puluh persen pasien PCOS akan mengalami oligomenorea dan 30 % akan mengalami amenorea. dan rendahnya estradiol. 1.Kelompok wanita yang mengalami gangguan ovulasi akibat 4 . Karena ovulasi sangat berperan dalam konsepsi.

Adanya riwayat PID. pembedahan panggul atau tuba sebelumnya. biasanya berhubungan dengan penyakit peradangan panggul. secara keseluruhan. abortus septik. insidensi berkisar pada 10-12% setelah 1 kali menderita PID. Studi klasik pada wanita dengan diagnosis PID setelah dilaparoskopi menunjukkan bahwa resiko infertilitas tuba sekunder meningkat seiring dengan jumlah dan tingkat keparahan infeksi panggul. Infertilitas faktor tuba dan peritoneum Selama 20 tahun terakhir terdapat pergeseran penyebab infertilitas. terbukti kuat bahwa “silent infection” sekali lagi merupakan penyebab yang paling sering. B. faktor serviks. 1. ruptur apendiks. pembedahan tuba. memiliki kadar prolaktin yang tinggi (hiperprolaktinemia).39 Faktor tuba mencakup kerusakan atau obstruksi tuba fallopii. Infeksi pelvis subklinik oleh Chlamydia Trachomatis yang menyebabkan infertilitas karena faktor tuba. Penyebab lain faktor infertilitas 5 . 23-35% setelah 2 kali menderita PID. atau kehamilan ektopik sebelumnya menjadi faktor resiko besar untuk terjadinya kerusakan tuba. dari faktor ovarium dan uterus mengarah ke faktor tuba. serta faktor uterus. Faktor tuba dan peritoneum menjadi penyebab kasus infertilitas yang cukup banyak dan merupakan diagnosis primer pada 30-40% pasangan infertil. dan 54-75% setelah menderita 3 kali episode akut PID. PID tidak diragukan lagi menjadi penyebab utama infertilitas faktor tuba dan kehamilan ektopik. Kelas 4 : Kelompok wanita yang mengalami gangguan ovulasi akibat disfungsi ovarium. gangguan cadangan ovarium (premature ovarian failure/diminisshed ovarian reserved). Kelainan Anatomis Kelainan anatomis yang sering ditemukan berhubungan dengan infertilitas adalah abnormalitas tuba fallopii dan peritoneum. Meskipun banyak wanita dengan penyakit tuba atau perlekatan pelvis tidak diketahui adanya riwayat infeksi sebelumnya. 4.

Stadium I : 0-1 cm . Serviks berfungsi sebagai barier terhadap mikrobiologi infeksius dan merupakan saluran sperma ke dalam uterus. Mioma Uteri. atau tidak mampu mempertahankan produk kehamilan 3.mioma) dapat menutupi saluran sperma atau menimbulkan discharge yang mengganggu spermatozoa. Faktor Serviks Faktor serviks berjumlah tidak lebih dari 5 % penyebab infertilitas secara keseluruhan. Perkembangan serviks yang abnormal sehingga dapat mencegah migrasi sperma 2. 6 . serta interaksi antara mukus serviks dan sperma. 2. Serviks akan memberi respon secara immunologis bila bertemu dengan mikrobiologi infeksius namun tidak memberi respon secara immunologik bila bertemu dengan antigen permukaan spermatozoa. Servisitis yang menghasilkan asam atau sekresi purulen yang bersifat toksin terhadap spermatozoa. adanya sperma dan jumlah sperma motil pada saluran genitalia wanita setelah koitus. Tumor serviks (polip. Septum Uteri Hal ini dapat menghambat maturasi normal embrio karena kapasitas uterus yang kecil. staphylococcus. Infertilitas karena faktor Uterus Kelainan Uterus yang menyebabkan infertilitas antara lain : 1. Kelainan Serviks yang dapat menyebabkan infertilitas adalah: 1. Septum uteri menurut tingkatan berdasarkan ukuran septum dibagi menjadi 3 kelompok yakni : . Tes klasik untuk evaluasi peran potensial faktor serviks pada infertilitas adalah Post Coital Test (PCT). Dibuat untuk menilai kualitas mukus serviks. Inflammatory Bowel Disease. tuba adalah peradangan akibat endometriosis.Stadium III : >3 cm 2. gonococcus. 3.Stadium II : 1-3 cm . atau trauma pembedahan. tricomonas dan infeksi campuran merupakan penyebab terbanyak. Streptococcus.

Selain itu pada endometriosis yang ringanpun dapat menyebabkan infertilitas melalui beberapa mekanisme. endometritis. dan usus besar. yaitu: 7 . Kelainan endometrium. keluaran IVF pada wanita yang diterapi (sebelumnya dilakukan polipektomi histeroskopi) dan yang tidak diterapi tidak berbeda. Dalam 1 penelitian yang melibatkan grup wanita infertil dengan polip endometrium yang tidak direseksi (lebih besar dari 2 cm). ovarium. Mioma khususnya mioma submukosa mungkin mempengaruhi transportasi gamet dengan cara menghalangi ostium tuba. mioma uteri dapat dikaitkan dengan infertilitas pada 5- 10% perempuan. coklat atau putih. yang pada gilirannya bisa mengganggu dengan migrasi sperma. yang secara respektif persentase insiden terjadinya sindroma Asherman akibat kuretase adalah 14-36 %. jumlah dan besar dari mioma itu sendiri. ditaksir dari rentetan kasus dengan temuan diagnostik histeroskopi sekitar 3 – 5%. kantong rekto-uterina. merupakan penyebab infertilitas. Bozdag dkk. Endometriosis non klasik tampak seperti lesi dan vesikel merah. 4. Endometriosis berat dengan kerusakan tuba falopi dan ovarium menyebabkan adhesi atau munculnya endometrioma. menyebabkan disfungsional kontraktilitas uterus. tergantung lokasi. Seperti adanya polip. Endometriosis Endometriosis klasik tampak sebagai pigmen hitam-kebiruan seperti lesi( “powder-burn”) pada permukaan kandung kemih. Pembesaran dari rahim dan distorsi dari kontur uterus mungkin mempengaruhi implantasi. tuba falopi. transportasi sel telur atau mengganggu nidas 3. Saat ini. Prevalensi polip pada wanita infertil. mengatakan bahwa penyebab utama dari sindroma Asherman adalah dilakukannya dilatasi dan kuretrade yang mana merupakan blind method. hiperplasia dan perlengketean intrauterin (Sindroma Asherman). Sindroma Asherman terjadi oleh karena dilakukannya dilatasi dan kuretase yang merupakan blind procedure sehingga terjadi intrauterine scar dan akhirnya menjadi sinekhia intrauterin. dan mungkin menjadi satu-satunya penyebab infertilitas pada 2-3%.

misalnya akibat vasektomi. c. disfungsi ovulasi dan kegagalan perkembangan embrio. atau gangguan dengan perlengketan sperma ( ke zona pelusida) atau penetrasi. atau sumbatan kongenital atau yang didapat (acquired) pada epididimis atau duktus ejakulatorius (penanganan interil). Faktor pekerjaan Produksi sperma yang optimal membutuhkan suhu di bawah temperature tubuh. tidak adanya vas deferens bilateral. Gangguan fungsi sperma.varikokel). Gangguan produksi sperma misalnya akibat kegagalan testis primer (hipergonadotropik hipogonadisme) yang disebabkan oleh faktor genetik (sindrome Klinefelter. Stimulasi gonadotropin yang tidak adekuat yang disebabkan karena faktor genetik (isolated gonadotropin deficiency). radang saluran genital (prostatitis). Masalah interaktif 8 . kegagalan reaksi akrosom. misalnya Danazol. Metiltestoteron (penekanan pada sekresi gonadotropin) merupakan penyebab lain dari produksi sperma yang buruk. misalnya akibat antibodi antisperma. efek langsung maupun tidak langsung dari tumor hipotalamus atau pituitari. ditemukan peningkatan aktifitas makrofag yang akan memfagosit sperma. Produksi prostaglandin sehingga mempengaruhi motilitas tuba atau dan fungsi korpus luteum. e. Melalui makrofag peritoneum. 2. infeksi (mumps orchitis). atau penggunaan androgen eksogen. asupan alkohol berlebihan dan nikotin. Faktor lain Adapun yang berpengaruh terhadap produksi sperma atau semen adalah infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. d. atau gonadotoksin. ketidaknormalan biokimia. 2. Sumbatan pada duktus. b. varikokel. nutrisi yang tidak adekuat. mikrodelesi kromosom Y) atau kerusakan langsung lainnya terkait anatomi (crytorchidism. 3. 1. yaitu pada petugas pemadam kebakaran dan pengemudi truk jarak jauh 3. stress. Dapat menyebabkan kelainan pertumbuhan folikel. Infertilitas pada pria Penyebab infertilitas pada pria di bagi menjadi 3 kategori utama yaitu : a. Spermagenesis diperkirakan kurang efisien pada pria dengan jenis pekerjaan tertentu.

Sebagian besar pasangan dengan infertilitas sekunder menemukan penyebab masalah kemandulan sekunder tersebut. perkembangan antibody terhadap sperma pasangan dan ketidakmampuan sperma untuk melakukan penetrasi ke sel telur ( Stritgh B. Meskipun pria terus menerus memproduksi sperma sepanjang hidupnya. dari kombinasi berbagai faktor meliputi : 1. waktu sanggama yang buruk. Selain itu usia yang semakin tua juga mempengaruhi kualitas sperma ( Kasdu. misalnya perempuan yang melahirkan dengan operasi caesar. PENYEBAB INFERTILITAS NON ORGANIK Masalah pada infertilitas sekunder sangat berhubungan dengan masalah pada pasangan dengan infertilitas primer. Penelitian mengungkapkan hanya sepertiga pria yang berusia diatas 40 tahun mampu menghamili isterinya dalam waktu 6 bulan dibanding pria yang berusia dibawah 25 tahun. 5. Selama wanita tersebut masih dalam masa reproduksi yang berarti mengalami haid yang teratur. 2. akan tetapi morfologi sperma mereka mulai menurun. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Center for Health Statistics menunjukkan bahwa wanita subur berusia dibawah 25 tahun memiliki kemungkinan hamil 96% dalam setahun. Berupa masalah yang berasal dari penyebab spesifik untuk setiap pasangan meliputi : frekuensi sanggama yang tidak memadai. kemungkinan masih bisa hamil. Pada pria dengan bertambahnya usia juga menyebabkan penurunan kesuburan. dapat menyebabkan jaringan parut yang mengarah pada penyumbatan tuba. Usia Faktor usia sangat berpengaruh pada kesuburan seorang wanita. Masalah lain yang juga berperan dalam 9 . 2005 : 61 ). Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia maka kemampuan indung telur untuk menghasilkan sel telur akan mengalami penurunan. usia 25 – 34 tahun menurun menjadi 86% dan 78% pada usia 35 – 44 tahun. kehamilan sebelumnya kadang-kadang menyebabkan masalah reproduksi yang benar-benar mengarah pada infertilitas sekunder. 2001:63 ). Masalah reproduksi Masalah pada system reproduksi dapat berkembang setelah kehamilan awal bahkan. Penelitian menunjukkan bahwa potensi wanita untuk hamil akan menurun setelah usia 25 tahun dan menurun drastis setelah usia diatas 38 tahun.

dan yang besar dari 30 disebut obesitas. b. Wanita dengan berat badan yang berlebihan sering mengalami gangguan ovulasi. Pada wanita. menghasilkan peningkatan kadar estradiol dan testosteron bebas. Beberapa hal yang dapat dikontrol pasangan adalah penyalahgunaan zat. Hubungan antara BMI dan kesuburan pada pria belum diteliti secara rinci. Frekuensi obesitas pada wanita dengan anovulasi dan suatu ovarium polikistik telah dilaporkan adalah berkisar dari 35% hingga 60%. c. pada pria telah dikaitkan 10 . Peningkatan aromatisasi perifer dari androgen menjadi estrogen. reproduksi yaitu ovulasi tidak teratur. Bentuk lain penyalahgunaan zat juga dapat mempengaruhi infertilitas. merokok adalah yang terpenting. Obesitas berkaitan dengan tiga perubahan yang mengganggu ovulasi normal dan penurunan berat badan akan memperbaiki tiga keadaan tersebut: a. Peningkatan kadar insulin yang dapat merangsang produksi androgen oleh jaringan stroma ovarium. Marijuana menghambat sekresi dari GnRH dan dapat menekan fungsi reproduksi dari pria dan wanita. marijuana dapat menganggu fungsi ovulasi. karena kelebihan berat badan dapat mempengaruhi estrogen dalam tubuh dan mengurangi kemampuan untuk hamil. 3. Penurunan kadar glubulin pengikat hormon seks (Sex Hormone Binding Globulin [SHBG]. Motivasi pasangan untuk memaksimalkan ferlititas mereka memberikan kesempatan emas untuk mendidik mereka dan menetapkan strategi penghentian rokok. Faktor gaya hidup Perubahan pada faktor gaya hidup juga dapat berdampak pada kemampuan setiap pasangan untuk dapat menghamili atau hamil lagi. Kelebihan berat badan didefininsikan dengan indeks massa tubuh (BMI) lebih besar dari 25. Abnormalitas dari sekresi GnRH dan gonadotropin relatif sering pada berat badan lebih. Banyak yang tidak perduli sama sekali efek buruk yang ditimbulkan rokok terhadap kesuburan dan kehamilan. obesitas dan yang berat badan kurang (BMI kurang dari 17). Penggunaan kokain dapat merusak spermatogenesis dan berkaitan dengan peningkatan resiko penyakit tuba. Konsumsi alkohol yang berat pada wanita biasa menurunkan fertilitas. gangguan pada kelenjar pituitary dan penyumbatan saluran sperma.

di mana proses fisiologis tersebut berasal dari sekresi internal yang mempengaruhi kesuburan. Penelitian tidak berhasil memastikan dampak buruk kafein (lebih dari 250mg/hari. yang biasanya mengakibatkan ketidakmampuan wanita menjadi hamil. walau pada jumlah yang sedang. Penelitian kedokteran juga menemukan bahwa peningkatan kadar prolaktin dan kadar Lutheinizing Hormon (LH) berhubungan erat dengan masalah psikis. Pengalaman-pengalaman membuktikan. Kecemasan dan ketegangan cenderung mengacaukan kadar LH. Asupan alkohol dalam jumlah yang sedang juga mengurangi fekundabilits. Kesulitan. Pada umumnya dinyatakan bahwa sebab yang paling banyak dari kemandulan adalah ketakutan-ketakutan yang tidak disadari atau yang ada dibawah sadar. Dalam hal ini kesuburan wanita itu merupakan satu unit psikosomatis yang selalu dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor psikis dan factor organis atau fisis. Kadar prolaktin yang tinggi dapat mengganggu pengeluaran LH dan menekan hormon gonadotropin yang mempengaruhi terjadinya ovulasi ( Kasdu. 6 FAKTOR PENYEBAB INFERTILITAS DARI SEGI PSIKOLOGIS Kesuburan wanita secara mutlak dipengaruhi oleh proses-proses fisiologis dan anatomis. konsumsi alkohol berkaitan dengan angka kehamilan yang lebih rendah dengan ART. walaupun hasil penelitian masih bertentangan. 2 minuman standard) terhadap fertilitas. Pasangan suami istri yang mengalami infertilitas sering kali mengalami perasaan tertekan terutama pihak wanita yang pada akhirnya dapat jatuh pada keadaan depresi. abnormal siklus atau mutugenesis gamet atau embrio yang diinduksi oleh toxin pada rokok. Penelitian menunjukkan 13% wanita infértil berhubungan dengan rokok. Pada pria dan wanita. serta kesedihan dan murung cenderung meningkatkan prolaktin. Mekanisme yang terlibat dapat meliputi akselerasi deplesi folicular. Hubungan kausal antara rokok dan infertilitas wanita belum dilakukan.kesulitan psikologis ini berkaitan dengan koitus dan kehamilan. 2001 : 70 ). Perasaan yang dialami para wanita 11 . Data yang ada menunjukkan bahwa dampak merokok pada fertilitas bergantung dosis. cemas dan lelah yang berkepanjangan. bahwa unsur ketakutan serta kecemasan berkaitan dengan fungsi reproduksi yang menimbulkan dampak yang merintangi tercapainya orgasme pada koitus.. walaupun kadar yang lebih tinggi dapat meperlambat kehamilan atau meningkatkan terhentinya kehamilan. yang infantile atau kekanak-kanakan sifatnya. dengan penurunan kualitas semen dan impoten.

Jika riwayat medis pasangan hasilnya normal. Kelebihan hormon estrogen akan memberikan sinyal kepada hormon progesteron untuk tidak berproduksi lagi karena kebutuhannya sudah mencukupi. pertanyaan yang dapat diajukan antara lain mengenai ketidakteraturan siklus menstruasi. suami dan keluarga ataupun lingkungan dimana wanita itu berada. Pernyataan ini seperti dikemukakan oleh Mark Saver pada penelitiannya tahun 1995. Adapun perasaan tertekan atau tegang yang dialami wanita tersebut berpengaruh terhadap fungsi hipotalamus yang merupakan kelenjar otak yang mengirimkan sejumlah sinyal untuk mengeluarkan hormon stres keseluruh tubuh. tersebut timbul sebagai akibat dari hasil pemeriksaan. 12 . sistem reproduksi ataupun kesuburan. a. Hal ini terjadi karena wanita tersebut mengalami ketidakseimbangan hormon (hormon estrogen). Pemeriksaan riwayat infertilitas (anamnesis). riwayat adanya bedah pelvis. atau orkidopeksi yang tidak bisa dihindari. Hormon stress yang terlalu banyak keluar dan lama akan mengakibatkan rangsangan yang berlebihan pada jantung dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Kelebihan hormon stres juga dapat mengganggu keseimbangan hormon. Akibatnya akan terjadi kekurangan hormon progesteron yang berpengaruh terhadap proses terjadinya ovulasi. mengenai Psychomatic Medicine yang menjelaskan bahwa wanita dengan riwayat tekanan jiwa kecil kemungkinan untuk hamil dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalaminya. DIAGNOSIS INFERTILITAS Investigasi infertilitas biasanya segera dilakukan ketika pasangan datang untuk konsultasi pertama kali. Jika pasangan telah melakukan usaha untuk memperoleh kehamilan selama kurang dari 1 tahun. maka pasien harus diberi penjelasan mengenai harapan peluang kehamilan kumulatif selama satu periode waktu dan investigasi sebaiknya ditunda sampai pasangan telah mencobanya selama periode satu tahun. Tahap Pertama (Fase I) 1. pengobatan dan penanganan yang terus menerus tidak membuahkan hasil. 7. maka pengajuan beberapa pertanyaan guna memastikan permasalahan utama sangatlah bermanfaat. Keadaan wanita yang lebih rileks ternyata lebih mudah hamil dibandingkan dengan wanita yang selalu dalam keadaan stres. Hal inilah yang mengakibatkan wanita merasa kehilangan kepercayaan diri serta perasaan tidak enak terhadap diri sendiri.

riwayat penyakit sebelumnya dan sekarang. panjang siklus haid. Wanita dengan siklus menstruasi yang tidak teratur dan tampilan fisik obesitas mungkin saja berhubungan dengan diagnosis SOPK. Cara yang optimal untuk mengukur 13 . frekuensi koitus dan waktu koitus.. Sangatlah penting untuk memastikan apakah ovulasi terjadi (Tabel 3). riwayat kehamilan sebelumnya. Anamnesis masih merupakan cara terbaik untuk mencari penyebab infertilitas pada wanita. merokok dan stress. Keberadaan ciri-ciri seksual sekunder normal sebaiknya diamati. Pemeriksaan fisik Penghitungan indeks massa tubuh (Body Mass Index (BMI)) dihitung dari tinggi dan berat badan (kg/m2) – kisaran normal BMI adalah 20-25 kg/m2. 2. Penilaian Ovulasi Penentuan penyebab infertilitas merupakan kunci pengobatan karena hal tersebut akan menghasilkan laju kehamilan kumulatif yang menyerupai laju kehamilan pada wanita normal di usia yang sama. Penampilan/rupa pasien secara keseluruhan dapat memberikan petunjuk mengenai penyakit sistemik ataupun masalah endokrin. Hal ini semua dapat mempengaruhi terjadinya infertilitas. Faktor-faktor penting yang berkaitan dengan infertilitas yang harus ditanyakan kepada pasien adalah mengenai usia pasien. Pada umumnya wanita dengan tampilan overweight atau obesitas mengalami kelainan berupa resistensi insulin atau bahkan sindroma metabolik. 3. riwayat operasi. Perlu juga diketahui pola hidup dari pasien mengenai alkohol.

UPS dapat memberikan gambaran tentang kualitas sperma. fungsi getah serviks dan keramahan getah serviks terhadap sperma. UPS dikatakan positif. UPS dilakukan 2 – 3 hari sebelum perkiraan ovulasi dimana “spin barkeit” dari getah serviks mencapai 5 cm atau lebih. 14 . Pengambilan getah serviks dari kanalis endo-serviks dilakukan setelah 2 – 12 jam senggama. 4. ovulasi pada wanita yang memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur adalah dengan mengkombinasikan serangkaian pemindaian ultrasound dan pengukuran konsentrasi serum FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (luteinizing hormone) pada fase folikular dan progesteron pada fase luteal. bila ditemukan paling sedikit 5 sperma perlapangan pandang besar (LPB). Uji Pasca Senggama Merupakan cara pemeriksaan yang sederhana tetapi dapat memberi informasi tentang interaksi antara sperma dengan getah serviks. Pemeriksaan dilakukan di bawah mikroskop.

Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan HSG untuk menilai patensi tuba.b.22 Pada suatu metaanalisis dari 20 studi yang membandingkan HSG dan laparoskopi ditemukan bahwa sensitivitas dan spesivisitas HSG untuk patensi tuba secara berturut-turut adalah 0.83. Histerosalpingografi sinar-X (HSG) memberikan gambar rongga uterus dan tuba Fallopi. (b) Tuba Paten 15 . Tahap Kedua (Fase II) (a) Histerosalpingografi (HSG) Infertilitas tuba didiagnosa sekitar 15%-50% pada pasangan subfertil. HSG merupakan uji pendahuluan yang paling sederhana untuk menggambarkan rongga uterus dan tuba Fallopi dan sedikit komplikasi.65 dan 0.

serta endometriosis yang dapat mempengaruhi fertilitas yang tidak terdeteksi oleh HSG 16 . Laparoskopi memberikan gambaran panoramik terhadap anatomi reproduktif panggul dan pembesaran dari permukaan uterus. dan peritoneum. ultrasound dapat memvisualisasikan morfologi ovarium dan abnormalitas jaringan lunak. Oleh karenanya. (c) Tahap Ketiga (Fase III) Laparoskopi Akhir-akhir ini laparoskopi dianggap cara terbaik untuk menilai fungsi tuba falopi.Hysterosalpingo-contrast sonography (HyCoSy) Saat ini HSG menggunakan ultrasonografi dan medium kontrasultrasound yang mengandung mikropartikel galaktosa mungkin untuk dilakukan dan demikian bebas dari kemungkinan risiko radiasi. Tidak hanya patensi tuba saja yang dapat diperiksa tetapi juga sebelum diinjeksikan agen kontras. adhesi pelvis atau adneksa. tuba. seperti fibroid atau kelainan cacat bawaan uterus dan servik. laparoskopi dapat mengidentifikasi penyakit oklusif tuba yang lebih ringan (aglutinasi fimbria. 22. ovarium. fimosis).43 Universitas Sumatera Utara Prosedur sebaiknya dilakukan dalam cara dan waktu yang sama di dalam siklus seperti pada HSG konvensional.

Infertilitas primer merupakan belum pernah hamil pada wanita yang telah berkeluarga meskipun hubungan seksual dilakukan secara teratur tanpa perlindungan kontrasepsi untuk selang waktu paling kurang 12 bulan. tetapi sebelumnya pernah hamil. pemeriksaan ovulasi. Tatalaksana untuk infertilitas dilakukan berdasarkan atas gangguan yang dialami apakah gangguan itu terdapat pada organic. non organic maupun idiopatik. Gangguan organic pada wanita yaitu adanya gangguan ovulasi maupun gangguan pada anatomisnya yaitu masalah pada tuba maupun peritoneum. Diagnosis infertilitas mencakup dari anamnesis. Penyebab dari infertilitas terdiri dari beberapa faktor yaitu gangguan organic yang terjadi pada wanita maupun pria. serta pemeriksaan pasca senggama yang mencakup untuk melihat bagaimana kualitas sperma serta lendir serviks yang sangat mempengaruhi dari proses pembuahan atau kehamilan. serta uterus. serta faktor gaya hidup dari individu tersebut. sedangkan infertilitas sekunder merupakan tidak terdapat kehamilan setelah berusaha dalam waktu 1 tahun atau lebih pada seorang wanita yang telah berkeluarga dengan hubungan seksual secara teratur tanpa perlindungan kontrasepsi. gangguan fungsi sperma. yaitu infertilitas primer dan sekunder. BAB III KESIMPULAN Infertilitas merupakan kegagalan untuk memperoleh kehamilan setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual minimal 2-3 kali dalam seminggu secara teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi. sedangkan gangguan organic pada pria yaitu mencakup dari adanya gangguan reproduksi sperma. pemeriksaan fisik. Infertilitas terbagi menjadi 2 jenis. 17 . serviks.

36. 251-67. Tatalaksana Pemeriksaan Dalam Infertilitas. Bari dan Trijatmo Rachimhadhi. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2. Bloom.id/bitstream/handle/123456789/41554/Chapter%20II. DAFTAR PUSTAKA 1. Leveno. Hestiantoro. Ginekologi. https://www. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Cunningham.id/wp- content/uploads/2015/ref/ref/Konsensus_Infertilitas_Revisi_9-1. Jurnal Cermin Dunia Kedokteran 170/ vol. Jakarta: EGC. Fakutas Kedokteran UNPAD Wiknjosastro. Dallas: Mc Graw-Hill Companies.co. 2011. Rouse. 2008. 2001 18 .ac. Shephard LA.ac. Hauth. diunggah pada tanggal 31 Agustus 2017. Wiknjosastro. Ilmu Kandungan. Sivalingam VN. J Fam Plann Reprod Health Care (2011) p. Konsensus Penanganan Infertilitas. 2. Sheerwood L. 2010 h. Inc.1-10.usu. 7. No 41.pdf.usu. Hanifa. Kirk E.pdf? sequence=4 diunggah pada tanggal 22 Agustus 2017 4. http://repository.Juli-Agustus 2009. Horne AW. 3. Williams Obstetrics 23rd Ed.pdf? sequence=4 diunggah pada tanggal 21 Agustus 2017 http://repository. Saifuddin. Ilmu Kandungan. Hanifa. Hal 226-233. Duncan WC. A.id/bitstream/handle/123456789/27266/Chapter%20II. 5. Spong. Andon. Jakarta: PT. 6.labcito.