You are on page 1of 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator dalam menentukan
derajat kesehatan masyarakat. Di Indonesia Angka Kematian Ibu tertinggi dibandingkan
negara-negara ASEAN lainnya seperti Thailand hanya 44 per 100.000 kelahiran hidup,
Malaysia 39 per 100.000 kelahiran hidup, dan Singapura 6 per 100.000 kelahiran hidup
(BPS, 2010). Berdasarkan SDKI 2007 Indonesia telah berhasil menurunkan Angka
Kematian Ibu dari 390/100.000 kelahiran hidup (2010) menjadi 334/100.000 kelahiran
hidup (2010). Selanjutnya turun menjadi 228/100.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI,
2010). Meskipun telah terjadi penurunan dalam beberapa tahun tarakhir akan tetapi
penurunan tersebut masih sangat lambat (Wilopo, 2010).
Angka Kematian Bayi di Indonesia bervariasi, Provinsi dengan Angka Kematian Bayi
terendah adalah DKI Jakarta dan tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Profil
Kesehatan 2010). Di Provinsi Nusa Tenggara Barat, ditemukan angka kematian Bayi
sebesar 99 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010, tahun 2010 menjadi 130 per
100.000 kelahiran hidup dan tahun 2010 sebesar 114 per 100.000 kelahiran hidup.
Tingginya Angka Kematian Bayi di Provinsi Nusa Tenggara Barat tidak terlepas dari
tingginya angka kematian Bayi pada beberapa Kabupaten/Kota khususnya di Pulau
Lombok. Dalam tiga tahun terakhir Angka Kematian Bayi cenderung menunjukkan
peningkatan yaitu: tahun 2010 angka kematian ibu 88 per 100.000 kelahiran hidup, naik
menjadi 120 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010 dan naik lagi pada tahun
2010 menjadi 123 per 100.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Provinsi NTB, 2010). .
Upaya percepatan penurunan angka kematian Bayi telah banyak dilakukan, antara
lain melalui peningkatan aksessibilitas serta kualitas pelayanan. Upaya peningkatan
aksessibilitas pelayanan kesehatan dilakukan dengan mendekatkan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat melalui paket penempatan tenaga bidan dan polindes di
berbagai pelosok pedesaan serta tenaga dokter di daerah terpencil atau sangat
terpencil. Sedangkan dari aspek kualitas pelayanan, dilakukan melalui upaya
peningkatan kemampuan / kompetensi tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan dasar
dan rujukan (PONED/PONEK), serta berbagai program intervensi lain (Kemenkes RI,
2010).

1
Pada kasus kematian bayi akibat faktor budaya yang berpengaruh terhadap
tingginya angka kematian bayi di Pulau Lombok adalah kecenderungan bagi ibu di
perdesaan dan keluarga miskin untuk melahirkan dengan bantuan dukun beranak, bukan
dengan bantuan petugas medis yang telah disediakan, intervensi yang dilakukan adalah
intensitas penyuluhan dan pendidikan mengenai masalah kesehatan,kehamilan, dan
melahirkan, program kerjasama antara dukun dengan Polindes di beberapa desa di
Pulau Lombok. Intervensi yang dilakukan untuk masyarakat kurang mampu dengan
menyediakan pembiayaan kesehatan melalui Askeskin dan Jamkesda. Pemerataan
polindes dan bidan desa merupakan intervensi yang dilakukan untuk mendekatkan
akses layanan kesehatan karena geografis yang jauh serta penyediaan ambulan desa
sebagai sarana transportasi. Memanfaatkan sumber daya atau kelembagaan
masyarakat merupakan salah satu intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan
partisipasi keluarga dan masyarakat, sehingga keluarga dan masyarakat mempunyai
perencanaan untuk menghadapi kehamilan dan persalinan. Dinas Kesehatan juga
melaksanakan berbagai program yang berdampak langsung untuk menurunkan AKI
melalui pelatihan- pelatihan untuk meningkatkan keterampilan petugas dalam
penatalaksanaan kasus kegawatdaruratan (Pemda Prov. NTB, 2010).
Meskipun berbagai upaya tersebut telah dilakukan namun jumlah kasus kematian
yang terjadi di Pulau Lombok masih tinggi dan jauh dari target nasional yang diharapkan.
Sesuai target Nasional menurut MDGs yaitu menurunkan Angka Kematian Ibu sebesar ¾
dari Angka Kematian Ibu dan bayi pada tahun 1990 (450 per 100.000) menjadi 102 per
100.000 pada tahun 2015 (Agan et al, 2010). Hal ini menunjukkan bahwa status
kesehatan masyarakat di Pulau Lombok masih perlu mendapatkan penanganan
terutama masalah kesehatan ibu. Hal ini terjadi karena intervensi yang diberikan masih
bersifat parsial dan pada lokasi tertentu saja, disamping itu juga masih banyak program
intervensi yang kurang tepat sasaran (Pemda Prov. NTB,2010).
Perdarahan dalam kehamilan dan persalinan terdiri dari perdarahan ante, intra, dan
post partum (pasca persalinan). Perdarahan pasca persalinan ialah perdarahan yang
terjadi setelah bayi lahir dengan angka kejadian berkisar antara 5%-15% dari laporan-
laporan pada negara maju maupun negara berkembang, termasuk di dalamnya
perdarahan karena rest plasenta, insidens perdarahan pasca persalinan akibat rest
plasenta dilaporkan berkisar 23%-24% (Mochtar, 1998). Sedangkan untuk Puskesmas
Karang Pule tercatat kasus perdarahan pasca salin sebanyak 13 kasus pada Tahun
2016.

2
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu melakukan asuhan kebidanan dengan menerapkan manajemen kebidanan
SOAP dalam kasus patologis pada Ny “L”
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian melalui data subjektif pada asuhan kebidanan patologis
pada Ny ”L”
b. Melakukan pengkajian melalui data objektif pada asuhan kebidanan patologis
pada Ny “L”
c. Melakukan analisa terhadap asuhan kebidanan patologis pada Ny “L”
d. Melakukan penatalaksanaan asuhan kebidanan patologis pada Ny “L”
C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
a. Dapat meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam melakukan asuhan
kebidanan pada persalinan patologis dan dan mendeteksi komplikasi dan
masalah yang di alami.
b. Dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan pengkajian
kesehatan pada ibu bersalin dengan dokumentasi soap.
2. Bagi masyarkat
Dapat mengetahui lebih awal apa saja komplikasi dalam kehamilan,persalinan dan
nifas sehingga ibu bisa mengetahui tanda gejala tersebut.
3. Bagi Lahan Praktek Puskesmas Karang Pule
Dapat memberikan pelayanan yang bermutu bagi pasien dan menerapkan
semboyan lebih baik mencegah dari pada mengobati
4. Bagi Pendidikan
Meningkatkan pembinaan pada mahasiswa dalam memberikan asuhan kebidan
pada persalinan patoloogis dengan dokumentasi soap.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Definisi Perdarahan Post Partum

3
Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 500 cc yang terjadi setelah
bayi lahir pervaginam atau lebih dari 1000 ml setelah persalinan abdominal. (Nugroho,
2011).
Kondisi dalam persalinan menyebabkan kesulitan untuk menentukan jumlah
perdarahan yang terjadi, maka batasan jumlah perdarahan disebutkan sebagai
perdarahan yang lebih dari normal yang telah menyebabkan perubahan tanda vital,
antara lain pasien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, menggigil, hiperapnea,
tekanan darah sistolik <90 mmHg, denyut nadi >100 x/menit, kadar Hb <8 gr/dL.
Perdarahan post partum dibagi menjadi dua yaitu antara lain :
1. Perdarahan post partum dini atau perdarahan post partum primer ( early post partum
hemorrhage) merupakan perdarahan post partum diniadalah perdarahan yang
terjadi dalam 24 jam pertama setelah kala III.
2. Perdarahan pada masa nifas atau perdarahan post partum skunder ( late post
partum hemorrhage) merupakan perdarahan masa nifas adalah perdarahan yang
terjadi pada masa nifas (puerperium) tidak termasuk 24 jam pertama setelah kala III.
Perdarahan pervaginam yang melebihi 500ml,setelah bersalin di definisikan sebagai
perdarahan pasca persalinan. Terdapat beberapa masalah mengenai definisi ini :
1. Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya kadang
hanya setegah dari sebenarnya. Darah tersebut tercampur dengan cairan amnion
atau dengan urine. Darah tersebar pada spons,handuk, dan kain, di dalam ember
dan dilantai.
2. Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar HB ibu.
Seorang ibu dengan kadar HB normal akan menyesuaikan diri terhadap kehilangan
darah. Namun berakibat fatal pada ibu dengan anemia.
3. Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan
kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadinya syok. (buku panduan praktis
pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, halaman M-25)

B. Etiologi atau penyebab


Menurut buku Sinopsis Obstetri Fisiologi & Patologi, Prof.Dr. Rustam Mochtar, hal-
hal yang menyebabkan perdarahan post partum adalah :
1. Atonia uteri
2. Perlukaan jalan lahir
3. Terlepasnya sebagaian plasenta dari uterus

4
4. Tertinggalnya sebagian plasenta umpamanya kotiledon atau plasenta suksentriata.
(sisa plasenta)
Rest Plasenta (sisa plasenta) dan ketuban yang masih tertinggal dalam rongga
rahim dapat menimbulkan perdarahan post partum dini atau perdarahan post partum
lambat. Pada perdarahan post partum dini akibat sisa plasenta ditandai dengan
perdarahan dirongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik. Pada
perdarahan post partum lambat gejalanya sama dengan subinvolusio rahim yaitu
perdarahan yang berulang atau berlangsung terus dan berasal dari rongga rahim.
Perdarahan skibar sisa plasenta jarang menimbulkan syok.
Penilaian klinis sulit untuk memastikan adanya sisa plasenta kecuali apabila
penolong persalinan memeriksa kelengkapan plasenta setelah palasenta lahir. Apabila
kelahiran plasenta dilakukan oleh orang lain atau terdapat keraguan akan sisa plasenta,
maka untuk memastikan adanya sisa plasenta ditentukan dengan eksplorasi dengan
tangan, kuret atau alat Bantu diagnostic yaitu ultrasonografi. Pada umumnya perdarahan
dari rongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi uterus rahim baik dianggap
sebagai akibat sisa plasenta yang tertinggal dalam rongga rahim.
C. Diagnosis perdarahan pascapersalinan :
Gejala dan tanda yang Diagnosis
Gejala dan tanda yang selalu ada
kadang – kadang selalu ada kemungkinan
1. Uterus tidak berkontraksi Syok Atonia uteri
dan lembek
2. Perdarahan segera
setelah anak lahir (Perdarahan
Pascapersalinan Primer atau P3)
1. Perdarahan segera (P3) 1. Pucat Robekan jalan
2. Darah segar yang 2. Lemah lahir
mengalir segera setelah bayi lahir 3. Menggigil
3. Uterus berkontraksi baik
4. Plasenta lengkap
1. Plasenta belum lahir setelah 30 1. Tali pusat Retensio uteri
menit putus akibat traksi
2. Perdarahan segera (P3) berlebihan
3. Uterus kontraksi baik
2. Inversio uteri akibat tarikan
3. Perdarahn lanjutan
1. Plasenta atau sebagian selaput Uterus berkontraksi tetapi Tertinggalnya
(mengandung pembuluh darah) tidak tinggi fundus tidak berkurang sebagian
lengkap plasenta
2. Perdarahan segera
1. Uterus tidak teraba 1. Syok neurogenik Inversio uteri
2. Lumen vagina terisi massa 2. Pucat dan limbung
3. Tampak tali pusat (jika plasenta
belum lahir)

5
4. Perdarahan segera
5. Nyeri sedikit atau berat
1. Sub – involusi uterus 1. Anemia Perdarahan
2. Nyeri tekan perut bawah 2. Demam terlambat
3. Peradarahan > 24 jam setelah Endometritis
persalinan. Perdarahan sekunder
atau sisa
atau P2S. Perdarahan bervariasi
(ringan atau berat, terus – menerus plasenta
atau tidak teratur) dan berbau (jika (terinfeksi atau
disertai infeksi) tidak)
1. Peradarahan segera (P3) 1. Syok Robekan
(Peradarahan intraabdominal dan/ 2. Nyeri tekan perut dinding uterus
atau vaginum) 3. Denyut nadi ibu cepat (Ruptura uterus)
2. Nyeri perut berat

D. Rest Plasenta
Sewaktu suatu bagian dari plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus
tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan.
Tetapi mungkin saja pada beberapa keadaan tidak ada perdarahan dengan sisa
plasenta. Tertinggalnya sebagian plasenta (sisa plasenta).
1. Gejala dan tanda yang selalu ada
2. Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak
lengkap.
3. Perdarahan segera
4. Gejala dan tanda kadang-kadang ada: Uterus berkontraksi tetapi tinggi
fundus tidak berkurang
5. Diagnosis Perdarahan Pasca persalinan.
a. Palpasi uterus: bagaimana kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri
b. Memeriksa plasenta dan ketuban apakah lengkap atau tidak.
c. Lakukan eksplorasi cavum uteri untuk mencari:
1) Sisa plasenta atau selaput ketuban
2) Robekan rahim
3) Plasenta suksenturiata.
d. Inspekulo: untuk melihat robekan pada serviks, vagina, dan varises yang pecah
e. Pemeriksaan Laboratorium periksa darah yaitu Hb.
Perdarahan pasca persalinan ada kalanya merupakan perdarahan yang hebat
dan menakutkan hingga dalam waktu singkat ibu dapat jatuh kedalam keadaan
syok. Atau dapat berupa perdarahan yang menetes perlahan-lahan tetapi terus
menerus yang juga bahaya karena kita tidak menyangka akhirnya perdarahan
berjumlah banyak, ibu menjadi lemas dan juga jatuh dalam presyok dan syok.
Karena itu, adalah penting sekali pada setiap ibu yang bersalin dilakukan
pengukuran kadar darah secara rutin, serta pengawasan tekanan darah, nadi,
pernafasan ibu, dan periksa juga kontraksi uterus perdarahan selama 1 jam.
6. Penanganan perdarahan postpartum yang disebabkan oleh sisa plasenta :

6
Penemuan secara dini hanya mungkin dengan melakukan pemeriksaan
kelengkapan plasenta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan
perdarahan pasca persalinan lanjut, sebagian besar pasien akan kembali lagi ke
tempat bersalin dengan keluhan perdarahan
Lakukan eksplorasi (bila servik terbuka) dan mengeluarkan bekuan darah atau
jaringan. Bila servik hanya dapat dilalui oleh instrument, lakukan evakuasi sisa
plasenta dengan AMV atau dilatasi dan kuretase
Bila kadar Hb8 gr%, berikan sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari.
a. Perdarahan pasca persalinan primer ( true HPP )
b. Periksa apakah plasenta lengkap
c. Masase fundus uteri
d. Pasang infuse RL dan berikan uterotonik ( oksitosin , methergin atau
misoprostol ).
e. Bila perdarahan > 1 L pertimbangkan tranfusi.
f. Periksa faktor pembekuan darah.
g. Bila kontraksi uterus baik dan perdarahan terus terjadi , periksa kembali
kemungkinan adanya laserasi jalan lahir.
h. Bila perdarahan terus berlangsung , lakukan kompresi bimanual
7. Penanganan Rest plasenta
a. Pada umunya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase dalam
kondisi tertentu apabila memungkinkan, sisa plasenta dapat dilakukan secara
manual. Kuretase harus dilakukan di RS dengan hati-hati karena dinding rahim
retaltif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.
b. Raba bagian dalam uterus untuk mencari sisa plasenta. Eksplorai Mannual
uterus menggunakan teknik yang serupa dengan teknik yang digunakan untuk
mengeluarkan plasenta yang tidak keluar.
c. Keluarkan sisa plasenta dengan tangan, cunam ovum, atau kuret besar.
Catatan: Plasenta yang melekat dengn kuat mungkin merupakan plasenta
akreta. Usaha untuk melepaskan plasenta yang melekat kuat dapat
mengakibatkan perdarahan berat atau perforasi uterus, yang biasanya
membutuhkan tindakan histerektomi.
d. Jika perdarahan berlanjut, lakukan uji pembekuan darah sederhana.
e. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan
pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau peroral
f. Antibiotika dalam dosis pencegahan sebaiknya diberikan
8. Perdarahan Pasca persalinan Tertunda ( Perdarahan Post Partum
Sekunder)
a. Jika terjadi anemia berat (hemoglobin kurang dari 8 g/dl atau hematokrit kurang
dari 20 %), siapkan transfusi dan berikan tablet besi oral dan asam folat.

7
b. Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam, secret vagina yang berbau), berikan
antibiotik untuk metritis.
c. Berikan oksitosin
d. Jika serviks masih berdilatasi, lakukan eksplorasi dengan tangan untuk
mengeluarkan bekuan-bekuan besar dan sisa plasenta. Eksplorasi manual
uterus menggunakan teknik yang serupa dengan teknik yang digunakan untuk
mengeluarkan plasenta yang tidak keluar.
e. Jika dserviks tidak berdilatasi, evakuasi uterus untuk mengeluarkan sisa
plasenta.
f. Pada kasus yang lebih jarang, jika perdarahan terus berlanjut, pikirkan
kemungkinan melakukan ligasi arteri uterine dan utero ovarika atau
histerektomi.
g. Lakukan pemeriksaan histology dari jaringan hasil kuret atau histerektomi, jika
memungkinkan untuk menyingkirkan penyakit trofoblast ganas.

E. Metode Pendokumentasian SOAP


SOAP adalah catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis dan tertulis. Pencatatan
ini dipakai untuk mendokumentasikan asuhan kebidanan. Ada 4 (empat) langkah dalam
metode ini adalah ini secara rinci adalah sebagai berikut:
1. Data Subjektif
Merupakan informasi yang diperoleh langsung dari klien. Informasi tersebut dicatat
sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang berhubungan dengan diagnose.
2. Data Objektif
Data yang diperoleh dari apa yang dilihat dan dirasakan oleh bidan pada waktu
pemeriksaan termasuk juga hasil pemeriksaan laboratorium, USG, dll. Apa yang
dapat diobservasi oleh bidan akan menjadi komponen yang berarti dari diagnosa
yang akan ditegakkan.
3. Analisa/assessment
Merupakan kesimpulan yang dibuat berdasarkan data subjektif dan data objektif
yang didapatkan. Merupakan suatu proses yang dinamik, meliputi: Diagnosa,
Antisipasi diagnosa/masalah potensial, perlunya tindakan segera (Langkah 2,3,4
dalam manajemen varney).
4. Penatalaksanaan/Planning = perencanaan

8
Merupakan perencanaan pelaksanaan dan evaluasi sesuai dengan kesimpulan yang
dibuat ( berdasarkan langkah 5,6,7 pada manajemen varney).
Alasan pemakaian SOAP dalam pendokumentaian Asuhan kebidanan, yaitu:
a. SOAP merupakan pencatatan yang memuat kemajuan informasi yang
sistematis, mengorganisasikan penemuam kesimpulan sehingga terbentuk
suatu rencana asuhan.

b. SOAP merupakan intisari dari manajemen kebidanan untuk penyediaan


pendokumentasian.

c. SOAP merupakan urutan-urutan yang dapat embantu bidan mengorganisasikan


pikiran dalam pemberian asuhan yang bersifat komprehensif.

BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN PERSALINAN NORMAL PADA NY ”L” KALA IV DENGAN

REST PLASENTA DI PUSKESMAS KARANG PULE

TANGGAL 15-04-2017

Masuk tgl/jam : Sabtu, 15-04-2017 / 05.30 wita


Tempat : Ruang Bersalin Puskesmas Karang Pule

PENGKAJIAN` : Tanggal/Jam : Sabtu, 15-04-2017 / 05.00 wita

KALA I :
A. SUBYEKTIF (S)
1. Identitas Istri Suami

9
Nama : Ny.L Tn. M
Umur : 19 tahun 22 tahun
Agama : Islam Islam
Pendidikan : SMP SD
Pekerjaan : IRT Buruh
Suku/bangsa : Sasak Sasak
Alamat : Jempong Timur

2. Keluhan Utama
Sakit pinggang menjalar ke perut bagian bawah ingin melahirkan
3. Riwayat Perjalan Penyakit
Ibu mengatakan merasakan sakit pinggang menjalar ke perut bagian bawah sejak
tanggal 15-04-2017 jam 00.30 wita,pengeluaran lender bercampur darah sejak tanggal
15-04-17 pukul 04.30 tidak ada pengeluaran cairan ketuban, dan gerakan janin masih
dirasakan.

4. Riwayat Menstruasi
Menarche : 13 tahun
Siklus : 28 hari
Lama : 7 hari
Jumlah : 2 kali ganti pembalut perhari
Flour albus : tidak ada
Kelainan : tidak ada
5. Riwayat Kehamilan sekarang
Hamil ke :3
HPHT : 16-07-2016 HTP : 23-04-2017
Umur Kehamilan : 9 bulan
Pergerakan fetus dalam 12 jam terakhir: lebih dari 10 kali
Masalah/tanda bahaya yang dirasakan selama kehamilan ini : tidak ada
Imunisasi : TT5 pada kehamilan ini
Jumlah kunjungan : 8 kali
Tablet Fe : 90 biji (selama 9 bulan)
Riwayat KB yang lalu : ibu mengatakan belum pernah menggunakan KB
Rencana Kontrasepsi : suntik 3 bulan
6. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu
Ibu mengatakan ini adalah kehamilan yang pertama dan tidak pernah mengalami
keguguran
7. Riwayat penyakit yang diderita
Penyakit kardiovaskular : tidak ada
Penyakit Hipertensi : tidak ada

10
Penyakit DM : tidak ada
Penyakit Hepatitis : belum dilakukan pemeriksaan
Penyakit Ginjal : tidak ada
Penyakit HIV/AIDS : belum dilakukan pemeriksaan
Penyakit kelamin : tidak ada
Penyakit Malaria : tidak ada
Penyakit Campak : tidak ada
Penyakit TBC : tidak ada
Anemia berat : tidak ada
Penyakit asma : tidak ada
Gangguan mental : tidak ada
Lain-lain : tidak ada
8. Riwayat Kembar : tidak ada
9. Kebutuhan Biologis
a. Nutrisi
- Makan
Makan terakhir : jam 08.00 wita
Komposisi : nasi, sayur
Porsi : 1 piring
Pantangan : tidak ada
Masalah : tidak ada
- Minum
Minum terakhir : jam 09.15 wita
Jenis : air putih
Banyaknya : 1 gelas
Masalah : tidak ada
b. Eliminasi
BAK terakhir : jam 07.00 wita
Konsistensi : cair
Warna : kuning jernih
Masalah : tidak ada

BAB terakhir : 16.00 wita (tanggal 14-04-17)


Konsistensi : lunak
Warna : kuning kecoklatan
Masalah : tidak ada
c. Istirahat
Istirahat terakhir : 09.00
Lama : 1 jam
Masalah : tidak ada
10. Riwayat Psikososial
Status perkawinan : 1 kali
Lama perkawinan : ±1 tahun
Pengambilan keputusan : suami
Dukungan keluarga : ibu mengatakan keluarga sangat mendukung kehamilan.
Respon ibu : ibu sangat senang terhadap kehamilan ini.
Kekhawatiran : ibu mengatakan khawatir dengan proses persalinan yang
dihadapi tidak berjalan lancar

11
Beban kerja : ibu mengatakan melakukan pekerjaan sehari-hari dibantu oleh
ibu dan saudara.
Kekhawatiran khusus dalam persalinan : khawatir proses persalinan yang dihadapi tidak
berjalan lancar.
Persiapan persalinan : ibu sudah mempersiapkan untuk persalinannya.
Seperti, kain ibu, kain bayi, perlengkapan bayi,pendamping persalinan, pendonor darah,
uang tabungan, dan transportasi yang akan digunakan.
Pendamping persalinan yang diinginkan : ibu kandung.

B. OBYEKTIF (O)
1) Pemeriksaan umum
Keadaan umum ibu : baik
Kesadaran : compos mentis
Emosi : stabil
TB : 154 cm
BB sebelum hamil : 50 kg
BB sekarang : 59 kg
Lila : 24 cm
Tanda – tanda vital :
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 77 x/menit
Respirasi : 25 x/menit
Suhu : 36,7 C

2) Pemeriksaan fisik
a. Kepala
Rambut hitam, distribusi merata, kulit kepala bersih, lesi ( - ), massa ( - )
b. Muka
Oedema : tidak ada
Pucat : tidak
c. Mata
Konjungtiva : tidak anemis
Sclera : tidak ikterus
d. Hidung
Simetris, tidak ada pernafasan cuping hidung
e. Telinga
Simetris sejajar dengan mata, bersih, tidak ada lesi atau pembengkakan
f. Mulut dan gigi
Warna bibir : normal tidak pucat

12
Lidah dan geraham : bersih, tidak ada caries
Gigi : bersih
g. Leher
Kelenjar tyroid : tidak ada
Kelenjar getah bening : tidak ada
Vena jugularis : tidak ada
h. Abdomen
Bekas luka operasi : tidak ada
Kandung kemih : kosong
Linea nigra : ada
Striae : tidak ada
Palpasi uterus
Leopold I : TFU 29 cm, teraba bokong pada fundus
Leopold II : Teraba punggung pada kanan ibu, dan teraba tonjolan
tonjolan kecil pada bagian kiri ibu .
Leopold III : Presentasi kepala, sudah masuk PAP
Leopold IV : Sudah masuk PAP 3/5 bagian
TBBJ : (29-11)x 155 = 2750 gram (rumus Jhonson)
Kontraksi uterus : 3x dalam 10 menit selama 35 detik
DJJ (+) frekuensi : 144 x/menit Irama : 12-12-12 teratur
i. Ekstremitas atas dan bawah
Kuku : tidak pucat
Oedema : tidak ada
Varises :-/-
Rfleks patella : +/+
j. Pemeriksaan genetalia eksterna
Vulva dan vagina : lesi (-),massa (-), tanda infeksi (-), kelenjar bartolin
normal, kelenjar skene normal
Pengeluaran pervaginam : blood slym
Perineum : tidak ada luka parut
Anus : ada
k. Pemeriksaan dalam tanggal 15-04-2017 pukul 05.30 wita
VT Ø 5 cm, eff 50%, air ketuban (-),selaput ketuban (+), teraba kepala,
denominator belum teraba, penurunan HI , tidak teraba bagian kecil janin atau
tali pusat.

3) Pemeriksaan Penunjang
Tanggal : 3-01-17
HB : 12,0 gr/dl
Goldar :O
Protein urine : negatif (-)
Glukosa urine : negatif (-)

C. ANALISA
1) Diagnosa

13
Ibu : G1 P0 A0 H0, umur kehamilan 38 minggu, KU Ibu baik dengan
inpartu kala I fase aktif
Janin : Janin Tunggal, hidup, intrauterin, presentasi kepala. KU Janin
baik
2) Masalah :kekhawatiran terhadap proses persalinan, dan
ketidaknyamanan pada proses persalinan
3) kebutuhan :memberi informasi bahwa keluhan yang dirasakan ibu normal
dan membantu ibu mengatasi keluhan, serta memberi ibu dukungan moril
untuk mengurangi rasa khawatir ibu.

D. PENATALAKSANAAN (P) Tgl/Jam : 15-04-2017 / 05.35 wita


1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan yaitu secara keseluruhan Normal (TD: 120/80
mmHg , Pembukaan jalan lahir 5cm) dan keadaan janin baik
2. Melakukan informed konsen kepada suami atau keluarga pasien.
3. Memberikan dukungan Moril, memberikan informasi proses persalinan,
menghadirkan orang- orang terdekat bagi ibu yaitu suami atau keluarga lainnya.
4. Menganjurkan ibu untuk makan dan minumlebih sering saat his hilang.
5. Mengajarkan pada ibu cara mengurangi rasa sakit yang timbul yaitu ibu bisa
menarik nafas dalam dalam lewat hidung dan menghembuskannya pelan- pelan
lewat mulut, selain itu ibu bisa memilih posisi yang nyaman misalnya berjalan-
jalan, duduk, atau berbaring miring ke kiri. Ibu sebaiknya menghindari tidur
terlentang karena rahim akan menekan pembuluh darah yang ada di punggung
ibu sehingga bisa menyebabkan janin ibu kekurangan udara.
6. Menyiapkan lingkungan, alat dan bahan, persiapan ibu dan bayi
- Menyiapkan lingkungan yaitu : ruangan yang bersih , nyaman ,dan menjaga
privasi ibu, pencahayaan yang dapat disesuaikan, tidak bising, keluasan
mobilisasi.menyiapkan tempat sampah hanya satu, air DTT , larutan clorin
0,5%
- Menyiapkan alat dan obat obatan untuk partus :
Partus set : satu buah ½ cocher , 1 gunting episiotomy, 1 gunting tali pusat , 2
buah klem kely, 2 pasang sarung tangan , 3 buah kasa , 1 benang tali pusat.
Heating set : 1 buah nalpuder , 1 buah jarum jahit , 1 buah gunting, 2 buah
pinset anatomis , benang catgut, kasa secukupnya, balon penghisap lender,
Obat obatan : oksitocin 10 IU (8 ampul), betadine , spuid 2,5cc.

14
7. Melakukan Observasi kemajuan persalinan, kesejahteraan ibu dan janin
menggunakan lembar observasi dan partograf bila sudah masuk fase aktif

15
16
17
KALA II
Tanggal : sabtu, 15- april -2017
Pukul : 09.30 wita
Tempat: Puskesmas Karang Pule

A. Subyektif (S)
ibu mengatakan sakit pinggang menjalar ke perut semakin sering dan kuat, dan
ada rasa seperti ingin BAB.

B. Obyektif (O)
1. HIS : 5x dalam 10 menit selama 45 detik, intensitas kuat.
2. DJJ : frekuensi : 140 x/menit, irama 12-11-12 teratur.
3. N : 80 x/menit
4. Pemeriksaan dalam :
Tanggal 15-04-2017 Jam 09.30 Wita
VT Ø 10cm ,eff 100%, air ketuban (-),warna air ketuban jernih, presentasi
kepala, denominator UUK di depan, penurunan kepala di HIII+ , tidak teraba
bagian kecil janin atau tali pusat.
5. Perineum menonjol
6. Vulva, vagina, dan spingter ani membuka
7. Pengeluaran lendir bercampur darah semakin banyak

C. Analisa (A)
a. Diagnosa : KALA II
b. Masalah : Rasa nyeri yang dirasakan oleh ibu
c. Kebutuhan :mengajari ibu cara mengatasi nyeri yaitu dengan tehnik
pernafasan: tarik nafas dalam kemudian hembuskan perlahan lahan , atur
posisi sesuai kenyamanan ibu.

18
D. Penatalaksanaan (P) Tgl/Jam : 15-04-2017 / Pukul : 09.40 wita
1. Memberitahu ibu hasil pemerksaan bahwa keadaan diri dan janinnya baik.
Ibu mengetahui tentang keadannya.
2. Memberikan dukungan moril dan menjelaskan pada suami dan keluarga
untuk memberi dukungan. Keluarga mengerti dan bersedia melakukan saran
bidan.
3. Memastikan kandung kemih kosong. Kandung kemih kosong
4. Memberitahu ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan mengajari cara
mengejan yang benar yaitu dagu ibu menempel di dada , mata membuka dan
melihat perut , tangan di selipkan di kedua paha dan batas siku, gigi
dirapatkan , kemudian manarik dangkal dan perlahan-lahan , menganjurkan
ibu untuk melakukan hal tersebut pada saat kontraksi kuat.ibu mengerti
dengan penjelasan yang diberikan.
5. Menolong persalinan sesuai 60 langkah APN:
a. Melakukan pimpinan meneran , menyiapkan diri ibu untuk meneran terjadi
kontraksi hilang sambil ibu diminta untuk makan dan minum yang manis.
b. Pada saat kepala bayi nampak pada vulva dengan diameter 5-6 cm ,
penolong meletakkan handuk bersih diatas perut ibu dan kain yang dilipat 1/3
bagian di taruh dibawah bokong ibu, membuka partus set dan memeruksa
kelengkapan peralatan dan bahan lalu penolong memakai sarung tanagan
steril/DTT.
c. Setelah nampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm , tangan kanan si lapisi
dengan kain di bawah bokong ibu menahan perinium . sedangkan tanagan
kiri menahan belakangkepala bayi untuk mencegah defleksi terlalu cepat
serta membantu lahirnya kepala, setelah dipimpin sekitar 30 menit namun
tidak ada kemajuan persalinan, dilakukan episiotomi dengan indikasi
perineum kaku, selanjutnya dengan kapas dan betadine, mengoleskan kapas
tersebut di sekitar perineum , tangan kanan kemudian mengambil gunting
episiotomi dan melakukan episiotomi pada bagian mediolateral. Dalam
proses episiotomi tidak di berikan lidokain karena akan menyebabkan proses
penyembuhan lama.
d. kemudian penolong menganjurkan ibu untuk meneran perlahan , bernafas
secara cepat dan dangkal. Kemudian lahirlah berturut-turut UUB, dahi, mata ,
hidung, mulut dan dagu

19
e. Kemudian penolong memeriksa apakah ada lilitan tali pusat dan ternyata
tidak ada lilitan .
f. Setelah itu penolong menunggu kepala bayi melakukan putar paksi luar
secara spotan, menurut arah punggungnya yaitu punggung kiri . kemudian
tangan penolong berada dalam posisi bipariental . penolong menganjurkan
ibu untuk meneran saat kontraksi
g. Kemudian penolong dengan lembut menggerakkan kepala bayi keatas untuk
melahirkan bahu belakang
h. Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah untuk menompang kepala dan
bahu. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang lengan dan
siku sebelah atas
i. Setelah lengan lahir penolong menelusuri lengan atas berlanjut ke
punggung , bokong, tungkai dan kaki . lalu memegang kedua kaki dengan
cara memasukkan telunjuk diantara kedua kaki dan memegang kedua kaki
dengan melingkarkan ibu jari pasca satu sisi dan jari-jari lainnya pada sisi
yang lain agar bertemu dengan telunjuk jari.
j. Kemudian penolong melakukan penilaian sepintas : bayi menangis spontan
dan bernafas tanpa kesulitan, warna kulit kemerahan, tonus otot baik, dan
penilaian APGAR SCORE 1 menit pertama hasilnya ( 7 ).
k. Kemudian bayi di keringkan seluruh tubuhnya kecuali tangan tanpa
membersihkan verniks . lalu handuk basah diganti handuk yang kering.
Penolong membiarkan bayi diatas perut ibu. Kemudian menilai APGAR
SKOR 5 menit kedua, dan hasilnya yaitu ( 9 )
Tanggal : 15-04-2017 pukul 10.50 wita
- Bayi lahir spontan, letak belakang kepala, langsung menangis, JK : ♂, BB
2900 gr, PB 51cm, LIKA 33 cm, LIDA 32 cm, LILA 11 cm, Anus (+), A-S: 7-9.
- TFU sepusat, CUT baik

Tabel 2.1 Penilaian keadaan bayi dengan APGAR SCORE

20
Aspek yang 1 menit
No Nilai 5 menit kedua Nilai
dinilai pertama
1 Appearance Badan merah 1 Seluruh tubuh 2
(Penampilan) ekstremitas biru kemerahan
2 Pulse  100 x/mnt 2  100 x/mnt 2
(Denyut Jantung)
3 Grimace (Reaksi Menyeringai 1 Menangis kuat 2
terhadap
rangsangan)
4 Activity (Tonus Fleksi sedikit 1 Fleksi sedikit 1
Otot)
5 Respiration Teratur 2 Teratur 2
(Pernafasan)
Jumlah 7 9

KALA III
Tanggal : 15-04-2017
Pukul : 10.50. wita
Tempat: Puskesmas Karang Pule

a. Subyektif (S)

21
Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas

b. Obyektif (O)
1. Plasenta belum lahir
2. Tinggi fundus uteri Sepusat
3. Kontraksi baik
4. Terlihat tali pusat di vulva
5. Kandung kemih kosong

c. Analisa (A)
a. Diagnosa : KALA III
b. Masalah : ketidak nyamanan yang ibu rasakan
c. Kebutuhan : informasi tentang ketidaknyamanan yang dirasakan ibu, yaitu
rasa mulas-mulas. Cara mengatasinya yaitu mengajarkan teknik masase di
fundus.

d. Penatalaksanaan (P) Tgl/Jam : 15 - 04 – 2017 / 10.50 Wita


1. Menjelaskan ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaanya baik.
2. Memberi tahu ibu bahwa ia akan di suntik oksitosin 10 IU/ IM Segera setelah
lahir di 1/3 paha kanan atas bagian luar
3. Mengklem tali pusat 2-3cm dari umbilicus bayi dan klem kedua 2cm dari klem
pertama. Setelah itu potong tali pusat di antara kedua klem dengan tetap
melindungi perut bayi agar tidak terkena gunting. Selanjutnya mengikat tali
pusat dengan kuat
4. Membiarkan bayi di atas perut ibu untuk kontak kulit dan IMD
5. Menyelimuti bayi dengan kain hangat dan memasangkan topi bayi
6. Memindahkan klem hingga berjarak 5-10cm dari vulva
7. Meletakkan satu tangan pada tepi atas simpisis untuk mendeteksi kontraksi,
sedangkan tangan lain menegangkan tali pusat.
8. Melakukan peregangan tali pusat terkendali dengan cara meregangkan tali
pusat dengan tangan kanan dan tangan kiri menekan tepi atas simpisis untuk
mengetahui pelepasan plasenta
9. Setelah ada tanda tanda plasenta lepas yaitu tali pusat semakin memanjang
setelah di lakukan peregangan tali pusat, adanya semburan darah, perut ibu
membundar (globular). Tangan kiri menekan uterus secara lembut kearah

22
dorso cranial. Plasenta dikeluarkan kearah bawah dan selanjutnya ke atas
sesuai dengan kurve jalan lahir
10. Setelah plasenta lahir, kedua tangan menerima plasenta kemudian melakukan
gerakan memutar searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketubannya.
11. Masase fundus uteri selama kuarang lebih 15 detik dengan cara tangan kiri
berada di atas fundus dengan gerakan memutar
12. Memeriksa kelengkapan plasenta yaitu selaput korion dan amnion, kotiledon,
dan panjang tali pusat,
13. Memeriksa robekan jalan lahir, terdapat luka episiotomy dibagian mukosa
vagina dan dinding perineum.
14. Mengobservasi keadaan umum ibu, perdarahan, dan kontraksi uterus
Tgl 15 -04 -2017 jam 11.05 wita
1. Plasenta lahir spontan dengan cara scultze, plasenta lengkap baik
kotiledon dan selaput korion maupun amnion , berat plasenta kurang lebih
500 gram serta panjang tali pusat kurang lebih 50cm, diameter
18x17x2cm
2. TFU 1 jari dibawah pusat , CUT Baik , kandung kemih kosong
3. Keadaan umum ibu baik , tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi : 80x/mnt
Suhu : 36,7˚C, Respirasi : 24x/mnit
4. Jumlah perdarahan kurang lebih 200cc

KALA IV
Tanggal : 15- 04- 2017
Pukul : 11.05 wita
Tempat: Puskesmas Karang Pule

a. Subyektif (S)
- Ibu mengatakan perutnya masih mulas
- Ibu mengatakan merasa lemas
- Ibu mengatakan khawatir dengan keadaannya

b. Obyektif (O)
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum : Lemah
b. Kesadaran : Compos Mentis
c. Emosi : Stabil
2. Tanda vital
a. Nadi : 89 x/menit

23
b. Suhu : 36,5 ̊C
c. Tekanan darah : 120/80 mmHg
d. Respirasi : 20 x/menit

3. Pemeriksaan fisik
a. Wajah : pucat, tidak ada oedema pada wajah
b. Mata : Kelopak mata normal, konjungtiva tidak pucat, sklera
tidak kuning / ikterus
c. Abdomen : Tidak ada luka bekas operasi, kandung kemih penuh,
kontraksi uterus baik dan TFU 1 jari bawah pusat..
d. Genetalia
- Inspeksi :
1) Keadaan labia mayor dan minor : Baik
2) Perinium : Tampak luka laserasi
3) Perdarahan : aktif ±500 ml
4) Warna : merah tua :
- Pemeriksaan dalam : Terdapat sisa-sisa plasenta
e. Ekstremitas : Normal dan tidak ada oedema pada ektremitas atas
dan bawah, kulit teraba dingin.

c. Analisa (A)
1. Diagnosa : Kala IV
2. Masalah : ketidaknyamanan yang ibu rasakan karena perut mula dan rasa
nyeri pada luka jahitan.
3. Kebutuhan : informasi tentang ketidaknyamanan yang dirasakan ibu, yaitu
rasa mulas-mulas. Cara mengatasinya yaitu mengajarkan teknik masase di
fundus dan mobilisasi dini.

d. Penatalaksanaan (P) Tgl/Jam : 15-04-2017 / 11.15 wita


1. Memberitahu ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan yaitu keadaan ibu
secara keseluruhan lemah tetapi ibu mengalami perdarahan yang diduga
disebabkan karena sisa-sisa ari-ari yang masih terdapat di dalam rahim ibu,
karena pada luka jahitan tidak terjadi perdarahan aktif dan sudah dilakukan
penjahitan, dan kontraksi dalam keadaan baik..Ibu dan keluarga mengerti
tentang hasil pemeriksaan dan merasa khawatir dengan kondisi ibu.
2. Memberikan dukungan moril pada ibu supaya ibu tetap merasa tenang dengan
apa yang dialaminya sekarang.Ibu mengerti.
3. Melakukan informed consent dengan keluarga untuk dilakukan tindakan. Ibu
dan keluarga setuju untuk dilakukan tindakan penanganan.
4. Melakukan katerisasi urine. Jumlah urine ± 100 cc.

24
5. Melakukan eksplorasi yakni tindakan memasukkan tangan kedalam rahim
untuk mengeluarkan sisa-sisa plasenta. Masih terdapat sisa-sisa plasenta di
dalam rahim ibu dan perdarahan masih aktif.
6. Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk tindakan selanjutnya. Advis dokter
pasang inus RL tetesan cepat dan rujuk.
7. Melakukan informed consent pada keluarga pasien untuk tindakan rujukan.
Keluarga bersedia jika ibu dirujuk.
8. Melakukan persiapan rujukan. Surat-surat, pasien, bidan, dan kendaraan
sudah siap.
9. Pasien dirujuk ke RSUP Kota Mataram pukul 11.30 WITA dengan Rest
Plasenta.

BAB IV
PEMBAHASAN

25
Hasil anamnesis yang di lakukan pada Ny."L" di dapatkan keluhan Ibu mengatakan
bahagia atas kelahiran bayinya, namun perutnya masih terasa mulas. Ibu melahirkan tanggal
15 April 2017 / 10.50 WITA, ditolong oleh bidan di Puskesmas Karang Pule. Ibu mengalami
komplikasi pada saat persalinan yaitu mengalami perdarahan pasca salin setelah ari-arinya
lahir dengan tidak lengkap. Menurut teori, rest plasenta adalah perdarahan yang melebihi
500 ccsetelah bayi lahir karena tertinggalnya sebagian sisa plasenta termasuk selaput
ketuban (Saifudin, 2010). Dalam hal ini, tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori
dengan praktiknya.
Kemudian pada pengkajian data objektif, keadaan umum ibu lemah, kesadaran
composmentis, TD = 120/80 mmHg, N = 80 x/mnt, S = 36,5 °C, RR = 20 x/mnt. Pada
pemeriksaan abdomen diperoleh hasil tidak ada luka bekas operasi, kandung kemih kosong,
kontraksi baik dan TFU sepusat. Pada pemeriksaan genetalia di dapatkan hasil keadaan
labia mayora dan minora baik, tampak luka pada periuneum, adanya pengeluaran darah dan
saat dilakukan eksplorasi terdapat sisa-sisa plasenta. Berdasarkan teori tentang rest
plasenta, tanda dan gejala sisa plasenta menurut Anggraini (2010) antara lain plasenta atau
sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap, terjadi perdarahan rembesan
atau mengucur, saat kontraksi uterus keras, darah berwarna merah muda, bila perdarahan
hebat timbul syok, pada pemeriksaan inspekulo terdapat sisa plasenta, uterus berkontraksi
tetapi tinggi fundus tidak berkurang. Jadi, tidak ada kesenjangan antara teori dan praktik di
lapangan.
Dari kasus yang di alami Ny ”L” dan telah dilakukan pengkajian data subjektif dan
objektif, dapat di ambil kesimpulan ibu mengalami rest plasenta.
Dari pengumpulan data subjektif, pemeriksaan obyektif dan analisa yang di dapat
dilakukan penatalaksanaan sesuai dengan kasus. Dalam penatalaksanaan yang di berikan
pada Ny. “L” yaitu dilakukan rujukan. Menurut teori, tindakangan penanganan rest plasenta
yaitu pasang infus, berikan antibiotik adekuat, berikan uterotonika atau metergin, dan
tindakan kuretase oleh dokter Sp.OG. Tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori
dengan praktiknya. Pada kasus Ny “L” hanya dilakukan tindakan pemasangan infus
mengingat bahwa tempat pelayanan adalah Puskesmas sehingga untuk tindakan
selanjutnyan dilakukan rujukan ke RSUP Kota Mataram.

BAB V
PENUTUP

26
A. Kesimpulan
1. Penulis telah mampu melakukan pengkajian data subjektif pada Ny. “L” secara
benar.
2. Dari data objektif penulis telah mampu melakukan pengambilan data objektif yang
menunjang dari hasil pemeriksaan seperti pemeriksaan keadaan umum,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan dalam yang dilakukan.
3. Setelah melakukan pengumpulan data secara subjektif dan pemeriksaan secara
objektif penulis telah mampu menarik suatu kesimpulan atau analisa secara tepat.
4. Dari analisa yang didapatkan penulis dapat memberikan asuhan sesuai dengan
keluhan yang di alami ibu sesuai dengan protap yang ada dan sesuai dengan
standar pelayanan kebidanan.
B. Saran
1. Bagi Mahasiswi
Diharapkan untuk lebih aktif dan melakukan pengkajian dalam kasus patologi yang
ada di lahan atau instansi terkait agar dapat melakukan pendokumentasian dengan
baik, dan data-data yang di dapat lengkap dan akurat.
2. Bagi Masyarakat
Diharapkan untuk rutin memeriksaan kehamilannya setiap bulan di tenaga
kesehatan untuk mendeteksi secara dini adanya komplikasi selama kehamilan dan
melakukan persalinan di fasilitas kesehatan yang ditolong oleh tenaga kesehatan
yang profesional.
3. Bagi Petugas Kesehatan
Diharapkan untuk menjaga kualitas dalam memberikan pelayanan pada klien. Selain
itu untuk menambah fasilitas yang ada di tempat pelayanan sehingga lebih efektif
dalam memberikan pelayanan.
4. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan untuk lebih mengarahkan kepada mahasiswa cara pengkajian kasus
patologi yang baik dan sesuai dengan konsep yang ada, agar mahasiswi tidak
mengalami kesulitan dalam melakukan pendokumentasian dalam pengkajian dalam
kasus patologi yang ada di lahan.

27