You are on page 1of 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Puskesmas sebagai salah satu institusi pelayanan umum, dapat dipastikan
membutuhkan keberadaan sistem informasi yang akurat dan handal, serta cukup
memadai untuk meningkatkan pelayanan puskesmas kepada para pengguna
(pasien) dan lingkungan terkait. Dengan lingkup pelayanan yang begitu luas,
tentunya banyak sekali permasalahan kompleks yang terjadi dalam proses
pelayanan di puskesmas. Banyaknya variabel di puskemas turut menentukan
kecepatan arus informasi yang dibutuhkan oleh pengguna dan lingkungan
puskesmas. (https://aplikasisimkes.wordpress.com/2011/01/18/aplikasi-sistem-
informasi-manajemen-puskesmas-simpus/)
Selama ini banyak puskesmas yang masih mengelola data-data kunjungan
pasien, data-data arus obat, dan juga membuat pelaporan dengan menggunakan
cara-cara yang manual. Selain membutuhkan waktu yang lama, keakuratan dari
pengelolaan data juga kurang dapat diterima, karena kemungkinan kesalahan sangat
besar. Beberapa puskesmas mungkin sudah memakai komputer sebagai alat bantu
untuk pengelolaan data, hanya saja sampai sekarang belum banyak program
komputer yang secara khusus didesain untuk manajemen data di puskesmas.
(https://aplikasisimkes.wordpress.com/2011/01/18/aplikasi-sistem-informasi-
manajemen-puskesmas-simpus/)
SIMPUS dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi yang secara
umum banyak dijumpai di puskesmas. Berbagai kendala dalam implementasi
SIMPUS ataupun program aplikasi yang sudah pernah dialami di berbagai daerah
ikut menjadi masukkan untuk menentukan model pengembangan SIMPUS.
Salah satu laporan Puskesmas yaitu adalah Laporan Pemantauan Wilayah
Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA). Pemantauan Wilayah Setempat
(PWS) telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1985. Pada saat itu pimpinan
puskesmas maupun pemegang program di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota belum
mempunyai alat pantau yang dapat memberikan data yang cepat sehingga pimpinan
dapat memberikan respon atau tindakan yang cepat dalam wilayah kerjanya. PWS
dimulai dengan program Imunisasi yang dalam perjalanannya, berkembang menjadi
PWS-PWS lain seperti PWS-Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA) dan PWS Gizi.
(https://staff.blog.ui.ac.id/r-suti/files/2010/03/buku-pws-bab-i-pendahuluan.pdf)

1
Pelaksanaan PWS imunisasi berhasil baik, dibuktikan dengan tercapainya
Universal Child Immunization (UCI) di Indonesia pada tahun 1990. Dengan
dicapainya cakupan program imunisasi, terjadi penurunan AKB yang signifikan.
Namun pelaksanaan PWS dengan indikator Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) tidak
secara cepat dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) secara bermakna
walaupun cakupan pelayanan KIA meningkat, karena adanya faktor-faktor lain
sebagai penyebab kematian ibu (ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dsb). Dengan
demikian maka PWS KIA perlu dikembangkan dengan memperbaiki mutu data,
analisis dan penelusuran data. (https://staff.blog.ui.ac.id/r-suti/files/2010/03/buku-
pws-bab-i-pendahuluan.pdf)
Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, AKI 228 per
100.000 kelahiran hidup, AKB 34 per 1.000 kelahiran hidup, AKN 19 per 1.000
kelahiran hidup, AKABA 44 per 1.000 kelahiran hidup. Penduduk Indonesia pada
tahun 2007 adalah 225.642.000 jiwa dengan CBR 19,1 maka terdapat 4.287.198 bayi
lahir hidup. Dengan AKI 228/100.000 KH berarti ada 9.774 ibu meninggal per tahun
atau 1 ibu meninggal tiap jam oleh sebab yang berkaitan dengan kehamilan,
persalinan dan nifas. Besaran kematian Neonatal, Bayi dan Balita jauh lebih tinggi,
dengan AKN 19/1.000 KH, AKB 34/1.000 KH dan AKABA 44/1.000 KH berarti ada 9
Neonatal, 17 bayi dan 22 Balita meninggal tiap jam. (SDKI, 2007)
Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Development Goals/MDGs, 2000)
pada tahun 2015 diharapkan Angka Kematian Ibu menurun sebesar tiga-
perempatnya dalam kurun waktu 1990-2015 dan Angka Kematian Bayi dan Angka
Kematian Balita menurun sebesar dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015.
Sehubungan dengan penerapan sistim desentralisasi dan memperhatikan PP
38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah
Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan PP 41/2007 tentang
Struktur Organisasi Pemerintah di Daerah, maka pelaksanaan strategi MPS di
daerahpun diharapkan dapat lebih terarah dan sesuai dengan permasalahan
setempat. Dengan adanya variasi antar daerah dalam hal demografi dan geografi
maka kegiatan dalam program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) perlu disesuaikan.Agar
pelaksanaan program KIA dapat berjalan lancar, aspek peningkatan mutu pelayanan
program KIA tetap diharapkan menjadi kegiatan prioritas ditingkat Kabupaten/Kota.
Peningkatan mutu program KIA juga dinilai dari besarnya cakupan program di
masing-masing wilayah kerja. Untuk itu, besarnya cakupan pelayanan KIA di suatu
wilayah kerja perlu dipantau secara terus menerus, agar diperoleh gambaran yang
jelas mengenai kelompok mana dalam wilayah kerja tersebut yang paling rawan.

2
Dengan diketahuinya lokasi rawan kesehatan ibu dan anak, maka wilayah kerja
tersebut dapat lebih diperhatikan dan dicarikan pemecahan masalahnya. Untuk
memantau cakupan pelayanan KIA tersebut dikembangkan sistem Pemantauan
Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA).
B. Rumusan Masalah
Bagimanakah Pelasanaan Sistem Informasi Puskesmas (SIMPUS) dan Pemantauan
Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA) di Puskesmas Karang Pule?
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Adapun tujuan umum dari perlaksaan kegiatan praktik klinik ini yaitu untuk
menganalisa Sistem Informasi Puskesmas (SIMPUS) di Puskesmas Karang Pule.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi Sistem Informasi Puskesmas (SIMPUS) di Puskesmas
Karang Pule.
b. Mengidentifikasi pelaksanaan Sistem Informasi Puskesmas (SIMPUS) di
Puskesmas Karang Pule.
c. Mengidentifikasi pelaksanaan Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu
dan Anak (PWS KIA) di Puskesmas Karang Pule.
d. Menganalisa tentang Sistem Informasi Puskesmas (SIMPUS) dan
Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA) di
Puskesmas Karang Pule.
e. Melakukan evaluasi terhadap SIMPUS dan PWS KIA di Puskesmas Karang
Pule.
D. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Meningkatkan ketrampilan dalam pembuatan grafik PWS-KIA, dan kegiatan
pelayanan kebidanan komunitas.
2. Bagi Puskesmas
Sebagai bahan rencana tindak lanjut program puskesmas mengenai PWS-KIA.
3. Bagi Institusi
Dapat lebih meningkatkan pengetahuan dan pengelolaan tentang program
puskesmas khususnya PWS-KIA.