You are on page 1of 25

BAB II

LANDASAN TEORI

A. SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PUSKESMAS (SIMPUS)


1. Pengertian
Penyelenggaraan layanan kesehatan masyarakat melalui puskesmas merupakan
kegiatan yang membutuhkan proses pencatatan dan pengolahan data yang cukup
kompleks. Dibutuhkan suatu system informasi yang dapat menangani berbagai
macam kegiatan operasional Puskesmas mulai dari pengolahan data registrasi
pasien, data rekam medis pasien, farmasi, keuangan, hingga berbagai laporan
bulanan, tribulan, dan tahunan. Sebagai bahan evaluasi tentunya sistem yang
berjalan perlu adanya perubahan sistem yang diharapkan bisa menyelesaikan
masalah tersebut, salah satunya membangun Sistem Informasi Manajemen
Puskesmas (SIMPUS) secara terpadu dan handal. SIMPUS adalah program
sistem informasi kesehatan daerah yang memberikan informasitentang segala
keadaan kesehatan masyarakat di tingkat PUSKESMAS mulai dari datadiri orang
sakit, ketersediaan obat sampai data penyuluhan kesehatan masyarakat.
(Sutanto, 2009)
2. Latar Belakang penggunaan SIMPUS
a. Belum adanya ke-validan data mengenai orang sakit, penyakit, bumil,dll
dalam wilayahsuatu puskesmas.
b. Memperbaiki pengumpulan data di Puskesmas, guna laporan ke Dinas
KesehatanKabupaten.
c. Memasuki Era Otonomi Daerah mutlak diperlukan Informasi yang tepat,
akurat dan upto date berkenaan dengan data orang sakit, ketersediaan obat,
jumlah ibu hamil,masalah imunisasi dll. (Sutanto, 2009)
3. Maksud dan Tujuan SIMPUS
a. Mengumpulkan data dari tiap Puskesmas baik data orang sakit, bayi lahir, ibu
hamil obat, penyuluhan kesehatan masyarakat, dll
b. Menghasilkan Informasi up to date tentang kondisi kesehatan di suatu
Puskesmas dari jumlah orang sakit sampai ketersediaan obat sehingga dapat
digunakan sebagai data awal dalam pengambilan kebijaksanaan bagi
pimpinan
c. Membantu kelancaran administrasi dan Manajemen Puskesmas dalam
penyusunan laporan mengenai kondisi kesehatan di Puskesmas masing-
masing

4
d. Memudahkan pekerjaan administrasi Puskesmas dalam membuat laporan
harian maupun bulanan. (Sutanto, 2009)
4. Alur SIMPUS
Adapun alur SIMPUS data pasien rawat jalan atau kesakitan adalah sebagai
berikut :
a. Formulir rekam medis yang sudah di isi kode diagnosis dan kode obatnya oleh
dokter atau perawat dari poli langsung di inputkan datanya ke dalam program
SIMPUS.
b. Setelah selesai mengentri data, petugas SIMPUS wajib membackup data
untuk membuat file cadangan demi keamanan data.
c. Setelah selesai pelayanan petugas SIMPUS wajib menutup program SIMPUS.
d. Dari alur tersebut, program SIMPUS dapat memberikan keluaran atau output
atau hasil data yang valid mengenai kunjungan pasien, data penyakit, data
penggunaan obat, dan lain sebagainya.
e. Data tersebut digunakan dalam pembuatan laporan ke Dinas Kesehatan Kota.
5. Keunggulan Komparatif SIMPUS
a. Program didesain under Windows sehingga lebih mudah dalam operasional
dan menarik dalam laporan - laporan yang dihasilkan.
b. Dengan data-data yang up to date akan dapat dibuat analisa-analisa yang
mendukung kebijakan Pemda.
c. Pelayanan terintegrasi dari bagian Pendaftaran hingga bagian Obat, sehingga
memini malisasi pemakaian kertas.
d. Pengelolaan database yang dapat diakses bersama (terbentuk Bank Data
Kesehatan Daerah).
e. Dapat menampilkan sekaligus mencetak per-kategori yang dikehendaki
ataupun rekapkeseluruhan
f. berkenaan dengan masalah kesehatan
g. SIMPUS dapat bekerja secara multi user maupun stand alone
6. Pentahapan Proyek
Penerapan suatu Teknologi baru selalu memerlukan proses yang bertahap, faktor
yang paling umum menjadi penyebab adalah kualitas Sumber Daya Manusia dan
minimnya saranan pendukung. Oleh karena itu, sebagai tahap Awal PUSKOM
menawarkan paket untuk pelayanan Pendaftaran, Rawat Jalan dan Obat. Adapun
fasilitas yang include didalamnya antara lain :

5
a. Tabel :
1) Tabel Pasien
2) Tabel Penyakit
3) Tabel Obat
4) Tabel Kecamatan, Desa
b. Input :
1) Register Harian Pasien
2) Penerimaan Obat
3) Pengeluaran Obat
4) Stok Obat Bulanan
c. Laporan
1) Query Register Harian
2) Query Penyakit
3) Query Obat
4) Rekap (bulanan, harian, mingguan) pasien per jenis dan golongan umur
5) Rekap Penyakit
6) Rekap Obat
7) Data Kesakitan (LB1)
8) LPLPO
Pentahapan di atas berdasarkan pengalaman PUSKOM di beberapa Dinas
Kesehatan yang menjadi Klien kami. Pelayanan pada bagian-bagian lain baru
dapat ditambahkan apabila tahap ini sudah berhasil. Untuk mendukung
pelaksanan SIMPUS secara utuh, setiap puskesmas dituntut minimal
menyediakan 3 (tiga) unit Komputer dengan spesifikasi :
1) Porcessor min P- II 233
2) HD 10 Gb
3) Memori 128 MB Ram
4) Vga 2 MB

6
Contoh Tampilan Simpus
Keterangan :
1. Tampilan di atas adalah Tampilan Utama Simpus.
2. Isi Menu File, Tabel dll, telas di jelaskan

Keterangan :
1. Tampilan di atas adalah Menu Register Harian Pasien.
2. Input Data diri Pasien di loket Pendaftaran, Diagnosa dan Obat di Poli
3. Daftar Pasien dapat ditampilkan di menu Browse

Keterangan :
1. Tampilan di atas adalah Stok Bulanan Obat.
2. Stok otomatis ter-up date setiap ada Pemasukan maupun Pemakaian Obat.

7
Keterangan :
1. Menu di atas adalah Laporan Query Data Pasien
2. Laporan dapat per satuan waktu yang dikehendaki Harian, Tgl ..s/d .., bulanan,
dll.
3. Laporan dapat per kriteria umur (tahun, bulan, hari), jenis kelamin, jenis pasien
ataupun kombinasi, misal : pasien askes umur > 15 Tahun.
4. Cetakan dalam bentuk format MS Word, sehingga sangat fleksibel pengeditan.

Keterangan :
1. Tampilan di atas adalah Menu Laporan Query Obat.
2. Dapat menampilkan pemakaian Obat per satuan waktu
3. Tampilan per obat per criteria pasien secara kombinasi dapat ditampilkan.

8
Keterangan :
1. Tampilan di atas adalah Menu Laporan Data Kesakitan LB1.
2. Proses Laporan secara Otomatis terbagi sesuai criteria umur.
3. Dapat ditampilkan sekian besar penyakit (mis : 3 Besar, 5 Besar, atau 10 Besar
Penyakit)

Keterangan :
1. Tampilan di atas adalah Menu Laporan LPLPO
2. Laporan Otomatis tampil dengan satu klik terbagi sesuai criteria.
3. Menu cetak dalam format MS Word.

9
B. PEMANTAUAN WILAYAH SETEMPAT (PWS)
1. Pengertian Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-
KIA)
Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA) adalah
alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA di suatu wilayah
kerja secara terus menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan
tepat. Program KIA yang dimaksud meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu
nifas, ibu dengan komplikasi kebidanan, keluarga berencana, bayi baru lahir,
bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi, dan balita. Kegiatan PWS KIA terdiri dari
pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data serta penyebarluasan
informasi ke penyelenggara program dan pihak/instansi terkait dan tindak lanjut
(Hermawan, C. Lukas, dkk.2009. Pedoman PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta)
Definisi dan kegiatan PWS tersebut sama dengan definisi Surveilens.
Menurut WHO, Surveilens adalah suatu kegiatan sistematis berkesinambungan,
mulai dari kegiatan mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasikan data
yang untuk selanjutnya dijadikan landasan yang esensial dalam membuat
rencana, implementasi dan evaluasi suatu kebijakan kesehatan masyarakat.
Oleh karena itu, pelaksanaan surveilens dalam kesehatan ibu dan anak adalah
dengan melaksanakan PWS KIA (Hermawan, C. Lukas, dkk.2009. Pedoman
PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta)
Penyajian PWS KIA juga dapat dipakai sebagai alat advokasi, informasi dan
komunikasi kepada sektor terkait, khususnya lintas sektor setempat yang
berperan dalam pendataan dan penggerakan sasaran. Dengan demikian PWS
KIA dapat digunakan untuk memecahkan masalah teknis dan non teknis.
Pelaksanaan PWS KIA harus ditindaklanjuti dengan upaya perbaikan dalam
pelaksanaan pelayanan KIA, intensifikasi manajemen program, penggerakan
sasaran dan sumber daya yang diperlukan dalam rangka meningkatkan
jangkauan dan mutu pelayanan KIA. Hasil analisis PWS KIA di tingkat
puskesmas dan kabupaten/kota dapat digunakan untuk menentukan puskesmas
dan desa/kelurahan yang rawan.
Demikian pula hasil analisis PWS KIA di tingkat propinsi dapat digunakan
untuk menentukan kabupaten/kota yang rawan (Hermawan, C. Lukas, dkk.2009.
Pedoman PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta).
2. Prinsip Program KIA
Pengelolaan program KIA bertujuan memantapkan dan meningkatkan
jangkauan serta mutu pelayanan KIA secara efektif dan efisien. Pemantapan
pelayanan KIA ini diutamakan pada kegiatan-kegiatan pokok, sebagai berikut:

10
a. Peningkatan pelayanan antenatal di semua fasilitas pelayanan dengan mutu
sesuai standar serta menjangkau seluruh sasaran.
b. Peningkatan pertolongan persalinan ditujukan kepada peningkatan
pertolongan oleh tenaga kesehatan kebidanan secara bertahap.
c. Peningkatan deteksi dini resiko tinggi/komplikasi kebidanan baik oleh tenaga
kesehatan maupun di masyarakat oleh kader dan dukun bayi, serta
penanganan dan pengamatannnya secara terus-menerus.
d. Peningkatan penanganan komplikasi kebidanan secara adekuat dan
pengamatan secara terus menerus oleh tenaga kesehatan.
e. Peningkatan pelayanan neonatal dan ibu nifas dengan mutu sesuai standar
dan menjangkau seluruh sasaran.
(Hermawan, C. Lukas, dkk.2009. Pedoman PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta)
Prinsip pengelolaan PWS KIA meliputi beberapa hal yang mencakup
indikator ketercapaian program PWS KIA. Adapun indikator tersebut adalah :
a. Pelayanan antenatal
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga
kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai
dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar
Pelayanan Kebidanan (SPK). Pelayanan antenatal sesuai standar meliputi
anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan), pemeriksaan
laboratorium rutin dan khusus, serta intervensi umum dan khusus (sesuai
risiko yang ditemukan dalam pemeriksaan) (Hermawan, C. Lukas, dkk.2009.
Pedoman PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta).
Dalam penerapannya terdiri atas 10 T, yakni:
a. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan.
b. Ukur tekanan darah.
c. Nilai Status Gizi (ukur lingkar lengan atas).
d. Ukur tinggi fundus uteri.
e. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).
f. Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus
Toksoid (TT) bila diperlukan.
g. Pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan.
h. Test laboratorium (rutin dan khusus).
i. Tatalaksana kasus
j. Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan.

11
Pemeriksaan laboratorium rutin mencakup pemeriksaan golongan
darah, hemoglobin, protein urine dan gula darah puasa. Pemeriksaan
khusus dilakukan di daerah prevalensi tinggi dan atau kelompok ber-risiko,
pemeriksaan yang dilakukan adalah hepatitis B, HIV, Sifilis, malaria,
tuberkulosis, kecacingan dan thalasemia. Dengan demikian maka secara
operasional, pelayanan antenatal disebut lengkap apabila dilakukan oleh
tenaga kesehatan serta memenuhi standar tersebut. Ditetapkan pula bahwa
frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan,
dengan ketentuan waktu pemberian pelayanan yang dianjurkan sebagai
berikut
a. Minimal 1 kali pada triwulan pertama
b. Minimal 1 kali pada triwulan kedua
c. Minimal 2 kali pada triwulan ketiga.
Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk menjamin
perlindungan kepada ibu hamil, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan
dan penanganan komplikasi. Tenaga kesehatan yang berkompeten
memberikan pelayanan antenatal kepada Ibu hamil adalah : dokter spesialis
kebidanan, dokter, bidan dan perawat.
b. Pertolongan Persalinan
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan
persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
kompeten. Pada kenyataan di lapangan, masih terdapat penolong persalinan
yang bukan tenaga kesehatan dan dilakukan di luar fasilitas pelayanan
kesehatan.
Oleh karena itu secara bertahap seluruh persalinan akan ditolong oleh
tenaga kesehatan kompeten dan diarahkan ke fasilitas pelayanan kesehatan
(Hermawan, C. Lukas, dkk.2009. Pedoman PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta).
Pada prinsipnya, penolong persalinan harus memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
a. Pencegahan infeksi
b. Metode pertolongan persalinan yang sesuai standar.
c. Manajemen aktif kala III
d. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani ke tingkat pelayanan yang
lebih tinggi.
e. Melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
f. Memberikan Injeksi Vit K 1 dan salep mata pada bayi baru lahir.

12
Tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelayanan
pertolongan persalinan adalah : dokter spesialis kebidanan, dokter dan
bidan.
c. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai
standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca bersalin oleh tenaga
kesehatan. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan
pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan
nifas minimal sebanyak 3 kali dengan ketentuan waktu :
a. Kunjungan nifas pertama pada masa 6 jam sampai dengan 3 hari
setelah persalinan.
b. Kunjungan nifas ke dua dalam waktu 2 minggu setelah persalinan (8 –
14 hari).
c. Kunjungan nifas ke tiga dalam waktu 6 minggu setelah persalinan (36 –
42 hari)
Pelayanan yang diberikan adalah :
a. Pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu.
b. Pemeriksaan tinggi fundus uteri (involusi uterus).
c. Pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya.
d. Pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan.
e. Pemberian kapsul Vitamin A 200.000 IU sebanyak dua kali , pertama
segera setelah melahirkan, kedua diberikan setelah 24 jam pemberian
kapsul Vitamin A pertama.
f. Pelayanan KB pasca salin
Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan kesehatan ibu
nifas adalah : dokter spesialis kebidanan, dokter, bidan dan perawat
(Hermawan, C. Lukas, dkk.2009. Pedoman PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta).
d. Deteksi Dini Ibu Hamil Beresiko
Untuk menurunkan angka kematian ibu secara bermakna maka deteksi
dini dan penanganan ibu hamil beresiko/komplikasi kebidanan perlu lebih
ditingkatkan baik fasilitas pelayanan KIA maupun di masyarakat. Dalam
rangka itulah deteksi ibu hamil beresiko/komplikasi kebidanan perlu
difokuskan kepada keadaan yang menyebabkan kematian ibu bersalin di
rumah dengan pertolongan oleh dukun bayi juga oleh masyarakat atau
tenaga non kesehatan yang tidak berwenang (Hermawan, C. Lukas,
dkk.2009. Pedoman PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta).

13
Resiko tinggi/komplikasi kebidanan pada kehamilan merupakan
keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan
kesakitan dan kematian ibu maupun bayi.
Semakin cepat diketahuinya adanya resiko tinggi/komplikasi semakin
cepat akan mendapatkan penanganan yang semestinya. Sehingga angka
kematian ibu secara signifikan dapat diturunkan.
Faktor resiko ibu hamil diantaranya :
1) Primigravida kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
2) Anak lebih dari 4.
3) Jarak persalinan terakhir dan kehamilan sekarang kurang dari 2 tahun.
4) Tinggi badan kurang dari 145 cm.
5) Berat badan kurang dari 38 kg atau lingkar lengan atas < 23,5 cm.
6) Kelainan bentuk tubuh, misalnya kelainan tulang belakang atau panggul.
7) Riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya atau sebelum
kehamilan ini.
8) Sedang/pernah menderita penyakit kronis, antara lain : tuberkulosis,
kelainan jantung-ginjal-hati, psikosis, kelainan endokrin (diabetes
melitus, sistemik lupus erritematosus dll), tumor dan keganasan.
9) Riwayat kehamilan buruk : keguguran berulang, kehamilan ektopik
terganggu, mola hidatidosa, ketuban pecah dini, bayi dengan cacat
kongenital.
10) Riwayat persalinan beresiko : persalinan dengan seksio sesarea,
ekstraksi vakum/forseps.
11) Riwayat nifas beresiko : perdarahan pasca persalinan, infeksi masa
nifas, psikosis postpartum (post partum blues).
12) Riwayat keluarga menderita penyakit kencing manis, hipertensi dan
riwayat cacat kongenital.
Semakin banyak ditemukan faktor resiko pada seorang ibu hamil, maka
semakin tinggi resiko kehamilannya. Resiko tinggi/komplikasi kebidanan
meliputi:
1) Hb kurang dari 8 gr%.
2) Tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg, diastole > 90 mmHg.
3) Oedema yang nyata.
4) Eklamsia.
5) Perdarahan pervaginam (abortus imminens, plasenta previa, solusio
plasenta).
6) Ketuban pecah dini.

14
7) Letak lintang pada usia kehamilan lebih dari 32 minggu.
8) Letak sungsang pada primigravida.
9) Infeksi berat/sepsis.
10) Ancaman persalinan prematur.
11) Kelainan jumlah janin (kehamilan ganda, kembar siam, dll).
12) Kelainan besar janin (janin besar, intra uterine growth retardation).
13) Distosia (persalinan macet, persalinan tak maju).
14) Perdarahan pasca persalinan : atonia uteri, retensi plasenta, robekan
jalan lahir, kelainan darah
15) Infeksi masa nifas.
16) Penyakit kronis pada ibu. (jantung, paru, ginjal, dll).
17) Riwayat obstetrik buruk (riwayat bedah sesar dan komplikasi
kehamilan).
Sebagian besar kematian ibu dapat dicegah apabila mendapat
penanganan yang adekuat di fasilitas pelayanan kesehatan. Faktor waktu
dan transportasi merupakan hal yang sangat menentukan dalam merujuk
kasus resiko tinggi. Oleh karenanya deteksi faktor resiko pada ibu baik oleh
tenaga kesehatan maupun masyarakat merupakan salah satu upaya penting
dalam mencegah kematian dan kesakitan ibu.
Penempatan bidan di desa memungkinkan penanganan dan rujukan ibu
hamil beresiko sejak dini, serta identifikasi tempat persalinan yang tepat bagi
ibu hamil sesuai dengan resiko kehamilan yang disandangnya.
e. Penanganan Komplikasi Kebidanan
Diperkirakan sekitar 15-20 % ibu hamil akan mengalami komplikasi
kebidanan. Komplikasi dalam kehamilan dan persalinan tidak selalu dapat
diduga atau diramalakan sebelumnya, oleh karenanya semua persalinan
harus ditolong oleh tenaga kesehatan agar komplikasi kebidanan dapat
segera di deteksi dan ditangani. Oleh karena itu ibu hamil harus berada
sedekat mungkin pada sarana pelayanan yang mampu memberi pelayanan
obstetric dan neonatal emergensi dasar (PONED). Kebijakan Depkes dalam
penyediaan puskesmas mampu PONED adalah setiap kabupaten/kota harus
mempunyai minimal 4 puskesmas mampu PONED (Hermawan, C. Lukas,
dkk.2009. Pedoman PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta).

15
Pelayanan medis yang dapat dilakukan di puskesmas PONED meliputi
pelayanan obstetric berikut :
1) Pencegahan dan penanganan perdarahan.
2) Pencegahan dan penanganan pre-eklamsi dan eklamsi.
3) Pencegahan dan penanganan infeksi.
4) Penanganan partus lama/macet.
5) Pencegahan dan penanganan abortus.
Pelayanan neonatal meliputi :
1) Pencegahan dan penanganan asfiksia.
2) Pencegahan dan penanganan hipotermi.
3) Pencegahan dan penanganan BBLR
4) Pencegahan dan penanganan kejang/ikhterus ringan-sedang.
5) Pencegahan dan penanganan gangguan minum.
f. Pelayanan Kesehatan Neonatal
Pelayanan kesehatan neonatus adalah pelayanan kesehatan sesuai
standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten kepada
neonatus sedikitnya 3 kali, selama periode 0 sampai dengan 28 hari setelah
lahir, baik di fasilitas kesehatan maupun melalui kunjungan rumah
(Hermawan, C. Lukas, dkk.2009. Pedoman PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta).
Pelaksanaan pelayanan kesehatan neonatus :
a. Kunjungan Neonatal ke-1 (KN 1) dilakukan pada kurun waktu 6 – 48
Jam setelah lahir.
b. Kunjungan Neonatalke-2 (KN 2) dilakukan pada kurun waktu hari ke 3
sampai dengan hari ke 7 setelah lahir.
c. Kunjungan Neonatalke-3 (KN 3) dilakukan pada kurun waktu hari ke 8
sampai dengan hari ke 28 setelah lahir,
Kunjungan neonatalbertujuan untuk meningkatkan akses neonatus
terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin bila
terdapat kelainan/masalah kesehatan pada neonatus. Risiko terbesar
kematian neonatus terjadi pada 24 jam pertama kehidupan, minggu pertama
dan bulan pertama kehidupannya. Sehingga jika bayi lahir di fasilitas
kesehatan sangat dianjurkan untuk tetap tinggal di fasilitas kesehatan
selama 24 jam pertama. Pelayanan Kesehatan Neonatal dasar dilakukan
secara komprehensif dengan melakukan pemeriksaan dan perawatan Bayi
baru Lahir dan pemeriksaan menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu
Bayi Muda (MTBM) untuk memastikan bayi dalam keadaan sehat.

16
Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan kesehatan
neonatus adalah : dokter spesialis anak, dokter, bidan dan perawat.
g. Pelayanan Kesehatan Bayi
Kunjungan bayi bertujuan untuk meningkatkan akses bayi terhadap
pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin bila terdapat
kelainan bayi, sehingga cepat mendapat pertolongan, pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit melalui pemantauan pertumbuhan,
imunisasi, serta peningkatan kualitas hidup bayi dengan stimulasi tumbuh
kembang (Hermawan, C. Lukas, dkk.2009. Pedoman PWS-KIA. Depkes RI :
Jakarta).
Dengan demikian hak anak mendapatkan pelayanan kesehatan dapat
terpenuhi. Pelayanan kesehatan tersebut meliputi :
1) Pemberian imunisasi dasar (BCG, Polio 1 s.d 4, Hepatitis B1 s/d 3, dan
Campak)
2) Stimulasi deteksi intervensi tumbuh kembang bayi (SDIDTK)
3) Pemberian vitamin A 100.000 IU 6-11 bulan)
4) Konseling ASI Eksklusif dan pemberian makanan pendamping ASI.
5) Konseling pencegahan hipotermi dan perawatan kesehatan bayi di
rumah.
6) Penanganan dan rujukan kasus.
Pelaksanaan kesehatan bayi :
1) Kunjungan bayi antara umur 29 hari-3 bulan
2) Kunjungan bayi antara umur 3-6 bulan.
3) Kujungan bayi antara 6-9 bulan
4) Kunjungan bayi antara umur 9-11 bulan
h. Pelayanan Kesehatan Balita
Pelayanan kesehatan anak balita adalah pelayanan kesehatan terhadap
anak yang berumur 12-59 bulan yang sesuai dengan standar oleh tenaga
keshatan, ahli gizi, penyuluh kesehatan masyarakat dan petugas sector lain,
yang meliputi :
1) Pelayanan pemantauan pertumbuhan setiap bulan yang tercatat dalam
buku KIA/KMS, dan pelayanan stimulasi deteksi dan intervensi dini
tumbuh kembang (SDIDTK) serta mendapat Vitamin A 2 kali dalam
setahun.
2) Pelayanan SDIDTK meliputi pemantauan perkembangan motorik kasar,
motorik halus, bahasa, sosialisasi dan kemandirian minimal 2 kali per
tahun (setiap 6 bulan)

17
3) Suplementasi Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) diberikan pada anak
balita minimal 2 kali per tahun.
4) Kepemilikan dan pemanfaatan buku KIA oleh setiap anak balita.
i. Pelayanan KB berkualitas
Pelayanan KB berkualitas adalah pelayanan KB yang sesuai dengan
standar dengan menghormati hak individu sehingga diharapkan mampu
meningkatkan derajat kesehatan dan menurunkan tingkat fertilitas
(kesuburan).
Pelayanan KB bertujuan untuk menunda, menjarangkan dan/atau
menghentikan kehamilan, dengan menggunakan metode kontrasepsi. Untuk
mempertahankan dan meningkatkan cakupan peserta KB perlu diupayakan
pengelolaan program yang berhubungan dengan peningkatan aspek kualitas,
teknis, dan aspek manajerial pelayanan KB.
Dari aspek kualitas perlu diterapkan pelayanan yang sesuai standar dan
variasi pilihan metode KB, sedangkan dari segi teknis perlu dilakukan
pelatihan klinis dan non klinis secara berkesinambungan. Selanjutnya aspek
manajerial, pengelola program KB perlu melakukan revitalisasi dalam segi
analisis situasi program KB dan system pencatatan dan pelaporan pelayanan
KB.
Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan KB kepada
masyarakat adalah : dokter spesialis kebidanan, dokter umum, perawat dan
bidan (Hermawan, C. Lukas, dkk.2009. Pedoman PWS-KIA. Depkes RI :
Jakarta).
7. Batasan PWS-KIA
a. Pelayanan Antenatal
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional
untuk ibu selama masa kehamilannya, yang dilaksanakan sesuai dengan
standar pelayanan antenatal yang ditetapkan. Standar operasioanal yang
ditetapkan untuk pelayanan antenatal adalah 10 T (Hermawan, C. Lukas,
dkk.2009. Pedoman PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta)
b. Penjaringan (Deteksi) Dini Kehamilan Beresiko
Kegiatan ini bertujuan menemukan ibu hamil beresiko, yang dapat dilakukan
oleh kader, dukun bayi, dan tenaga kesehatan.

18
c. Kunjungan Ibu Hamil
Yang dimaksud disini adalah kontak ibu hamil dengan tenaga profesional
untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan.
Istilah “kunjungan” disini tidak mengandung arti bahwa ibu hamil yang
berkunjung ke fasilitas pelayanan, tetapi setiap kontak tenaga kesehatan (di
posyandu, pondok bersalin desa, kunjungan rumah) dengan ibu hamil untuk
memberikan pelayanan antenatal sesuai standar dapat dianggap sebagai
kunjungan ibu hamil.
d. Kunjungan Baru Ibu Hamil (K1)
Adalah kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa kehamilan.
e. Kunjungan Ulang
Adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang kedua dan
seterusnya, untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar selama
satu periode kehamilan berlangsung.
f. Kunjungan Ibu Hamil Lengkap (K4)
Adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang ke-4 (atau lebih),
untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan,
dengan syarat :
a. Minimal satu kali kontak pada trimester I
b. Minimal satu kali kontak pada trimester II
c. Minimal dua kali kontak pada trimester III
g. Kunjungan Neonatal (KN)
Adalah kontak neonatal dengan tenaga kesehatan minimal dua kali untuk
mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan neonatal, baik di
dalam maupun di luar gedung puskesmas (termasuk bidan di desa, polindes,
dan kunjungan rumah), dengan ketentuan :
a. Kunjungan pertama kali pada hari pertama sampai dengan hari ke-7
(sejak 6 jam setelah lahir)
b. Kunjungan kedua kali pada hari ke-8 sampai dengan hari ke-28.
c. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan bukan merupakan
kunjungan neonatal.
h. Cakupan Akses
Adalah persentase ibu hamil di suatu wilayah, dalam kurun waktu tertentu,
yang pernah mendapat pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit
satu kali selama kehamilan.

19
Cara menghitungnya adalah sebagai berikut :
Jumlah kunjungan baru ibu hamil dibagi dengan jumlah sasaran ibu hamil
yang ada disuatu wilayah kerja dalam kurun waktu satu tahun) dikalikan 100
%.
i. Cakupan Ibu Hamil (K4)
Adalah persentase ibu hamil disuatu wilayah, dalam kurun waktu tertentu,
yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit 4 kali
dengan trimester I, 1 kali pada trimester ke II dan 2 kali pada trimester ke III.
Cara menghitungnya adalah sebagai berikut :
Jumlah ibu hamil yang telah menerima K4 dibagi jumlah sasaran ibu hamil
dengan kurun waktu 1 tahun) dikalikan 100 %
j. Sasaran Ibu Hamil
Adalah jumlah semua ibu hamil disuatu wilayah dalam kurun waktu 1 tahun,
angka ini dapat diperoleh dengan berbagai cara yaitu :
1) Angka sebenarnya, yang diperoleh berdasarkan cacah jiwa
2) Angka perkiraan, yaitu memakai rumus :
Angka kelahiran kasar (CBR) x 1.1 x jumlah penduduk setempat ;
dengan pengambilan angka CBR dari provinsi atau bila ada dari
kabupaten setempat atau 3 % x jumlah penduduk setempat.
k. Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan
Adalah persentase ibu bersalin di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu
yang ditolong persalinannya oleh tenaga kesehatan.
l. Cakupan Penjaringan Ibu Hamil Beresiko Oleh Masyarakat
Adalah persentase ibu hamil beresiko yang ditemukan oleh kader dan
dukun bayi yang kemudian dirujuk ke puskesmas/tenaga kesehatan, dalam
kurun waktu tertentu.
m. Cakupan Penjaringan Ibu Hamil Beresiko Oleh Tenaga Kesehatan
Adalah persentase ibu hamil beresiko yang ditemukan baik oleh tenaga
kesehatan maupun oleh kader/ dukun bayi yang telah dipastikan oleh tenaga
kesehatan, yang kemudian ditindaklanjuti (dipantau secara intensif dan
ditangani sesuai kewenangan dan /atau dirujuk ke tingkat pelayanan yang
lebih tinggi) dalam kurun waktu tertentu.
n. Ibu Hamil Beresiko
Adalah ibu hamil yang mempunyai faktor resiko dan resiko tinggi.

20
o. Cakupan Kunjungan Neonatal (KN)
Adalah persentase neonatal (bayi umur kurang dari 1 bulan) yang
memperoleh pelayanan kesehatan minimal dua kali dari tenaga kesehatan,
satu kali pada hari pertama sampai dengan hari ketujuh dan satu kali pada
hari kedelapan sampai dengan hati keduapuluh delapan.
8. Indikator PWS-KIA
Indikator pemantauan program KIA yang dipakai untuk PWS-KIA meliputi
indikator yang dapat menggambarkan keadaan kegiatan pokok dalam program
KIA (Hermawan, C. Lukas, dkk.2009. Pedoman PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta).
Ditetapkan 6 indikator dalam PWS-KIA, yaitu :
a. Akses pelayanan antenatal (cakupan K1)
Indikator akses ini digunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan
antenatal serta kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat.
Rumus yang dipakai untuk perhitungannya adalah :

Jumlah kunjungan baru (K1) ibu hamil


X 100 %
Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun

Jumlah sasaran ibu hamil dalam 1 tahun dihitung berdasar jumlah perkiraan
(angka proyeksi) ibu hamil dalam 1 wilayah tertentu dengan rumus :
Jumlah sasaran ibu hamil dalam 1 tahun = angka kelahiran kasar (Crude
Birth Rate/CBR) x 1,1 x jumlah penduduk wilayah tersebut.
Angka kelahiran kasar (CBR) digunakan angka terakhir kabupaten/kota yang
diperoleh dari kantor statistik kabupaten/kota.
Contoh:
Untuk menghitung jumlah perkiraan ibu hamil di desa maju propinsi X yang
mempunyai penduduk 2000 jiwa, maka jumlah ibu hamil = 0,027 (CBR
Propinsi X) x 1,1 x 2000 = 59,4.
Jadi sasaran ibu hamil adalah 59 orang.
b. Cakupan Pelayanan Ibu Hamil ( Cakupan K4 )
Dengan indikator ini dapat diketahui cakupan pelayanan antenatal secara
lengkap (memenuhi standar pelayanan dan menepati waktu yang
ditetapkan), yang menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di suatu
wilayah, disamping menggambarkan kemampuan manajemen ataupun
kelangsungan program KIA.

21
Rumus :
Jumlah kunjungan ibu hamil (K4)
X 100 %
Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun

c. Cakupan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan


Indikator ini dapat diperkirakan proporsi persalinan yang ditangani oleh
tenaga kesehatan dan ini menggambarkan kemampuan manajemen
program KIA dalam pertolongan persalinan secara profesional.
Rumus :
Jumlah persalinan oleh tenaga kesehatan
X 100 %
Jumlah sasaran persalinan dalam satu tahun

Jumlah sasaran ibu bersalin dalam 1 tahun dihitung berdasar jumlah


perkiraan melalui perhitungan :
CBR propinsi x 1,05 x jumlah penduduk setempat. Bila propinsi tidak
mempunyai data CBR dapat digunakan angka nasional, sehingga rumusnya
sebagai berikut : 2,8 % x jumlah penduduk setempat.
d. Penjaringan (Deteksi) Ibu Hamil Beresiko Oleh Masyarakat.
Dengan indikator ini dapat diukur tingkat kemampuan dan peran serta
masyarakat dalam melakukan deteksi ibu hamil beresiko di suatu wilayah.
Rumus :
Jumlah ibu hamil beresiko yang dirujuk oleh dukun
bayi/kader ketenagakesehatan X 100 %
Jumlah sasaran ibu hamil dalam 1 tahun
e. Penjaringan ( Deteksi) Ibu Hamil Beresiko Oleh Tenaga Kesehatan
Dengan indikator ini dapat diperkirakan besarnya masalah yang dihadapi
oleh program KIA dan harus ditindaklanjuti dengan intervensi secara intensif.
Rumus :
Jumlah ibu hamil beresiko yang ditemukan oleh tenaga
kesehatan dan atau dirujuk oleh dukun bayi dan kader
Jumlah sasaran ibu hamil dalam 1 tahun X 100 %

f. Cakupan Pelayanan Neonatal (KN) Oleh Tenaga Kesehatan


Dengan indikator ini dapat diketahui jangkauan dan kualitas pelayanan
kesehatan neonatal.

22
Rumus :
Jumlah kunjungan neonatal yang mendapat pelayanan
kesehatan minimal 2 kali oleh tenaga kesehatan
Jumlah seluruh sasaran bayi dalam 1 tahun X 100 %

Kunjungan minimal 2 kali dengan ketentuan :


1) Kunjungan pertama kali pada hari pertama sampai dengan hari ke-7
2) Kunjungan ke-2 kali pada hari ke-8 sampai dengan hari ke-28.
3) Pertolongan persalinan oleh nakes bukan merupakan kunjungan
neonatal
Jumlah sasaran bayi diperkirakan melalui perhitungan
1) CBR Propinsi X jumlah penduduk
2) Bila propinsi tidak mempunyai data CBR, dapat digunakan angka
nasional dengan perhitungan : 2,7% x jumlah penduduk.
g. Cara Membuat Grafik PWS-KIA
PWS-KIA disajikan dalam bentukgrafik dari tiap indikator yang dipakai,
yang juga menggambarkan pencapaian tiap desa dalam tiap bulan. Dengan
demikian tiap bulannya dibuat 6 grafik, yaitu :
1) Grafik cakupan K1
2) Grafik cakupan K4
3) Grafik cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan
4) Grafik penjaringan ibu hamil beresiko oleh masyarakat
5) Grafik penjaringan ibu hamil beresiko oleh tenaga kesehatan
6) Grafik cakupan neonatal oleh tenaga kesehatan
Semuanya itu dipakai untuk alat pemantauan program KIA, dapat
dimanfaatkan juga untuk alat motivasi dan komunikasi lintas sektor. Di bawah
ini dijabarkan cara membuat grafik PWS-KIA untuk tingkat Puskesmas, yang
dilakukan tiap bulan, untuk desa.
Langkah-langkah pokok dalam pembuatan grafik PWS-KIA :
1) Pengumpulan Data
Data yang diperlukan untuk menghitung tiap indikator diperoleh dari
catatan ibu hamil per desa, register kegiatan harian, register kohort ibu
dan bayi, kegiatan pemantauan ibu hamil per desa, catatan posyandu,
laporan dari bidan/dokter praktek swasta, rumah sakit bersalin dan
sebagainya.

23
2) Pengelolaan Data
Sebagai contoh dalam menggambarkan grafik PWS-KIA untuk bulan juni
2012, maka data yang diperlukan adalah :
a) Cakupan kumulatif per desa.
b) Cakupan bulan (Juni 2012) untuk keenam indikator.
c) Cakupan bulan lalu (Mei 2012).
Di bawah ini contoh perhitungan/pengelolaan data untuk cakupan K1 dan
K4 :
a) Perhitungan untuk cakupan K1 (akses)
1. Pencapaian kumulatif per desa adalah :
Pencapaian cakupan kumulatif ibu hamil baru per desa (januari
s/d juni 2012) per sasaran ibu hamil per desa selama 1 tahun
dikali 100%.
2. Pencapaian bulan ini per desa :
Pencapaian sasaran ibu hamil per desa selama bulan juni 2012
per sasaran ibu hamil per desa selama 1 tahun dikali 100%.
3. Pencapaian bulan lalu per desa adalah :
Pencapaian cakupan ibu hamil baru per desa selama bulan juni
2012 per sasaran ibu hamil per desa selama 1 tahun dikali
100%.
b) Perhitungan untuk cakupan K4
1. Pencapaian kumulatif per desa adalah :
Pencapaian cakupan kumulatif kunjungan ibu hamil (K4) per
desa (januari s/d juni 2012) per sasaran ibu hamil per desa
selama 1 tahun dikali 100%.
2. Pencapaian bulan ini
Pencapaian cakupan kunjungan ibu hamil (K4) per desa selama
bulan juni 2012 per sasaran ibu hamil per desa selama 1 tahun
dikali 100%.
3. Pencapaian bulan lalu adalah :
Pencapaian cakupan kunjungan ibu hamil (K4) per desa selama
bulan mei 2012 per sasaran ibu hamil per desa selama 1 tahun
dikali 100%. Cara untuk keempat indikator lainnya sama dengan
perhitungan di atas.

24
9. Penggambaran Grafik PWS-KIA
Langkah-langkah yang dilakukan dalam membuat grafik PWS-KIA (dengan
menggunakan indikator cakupan K1) adalah sebagai berikut :
a. Menentukan target rata-rata per bulan untuk menggambarkan skala pada
garis vertikal (sumbu Y).
i. Misalnya : target cakupan ibu hamil baru (cakupan K1) dalam 1 tahun
ditentukan 90% (garis a), maka sasaran rata-rata setiap bulan adalah : 90% /
12 bln = 7,5%. Dengan demikian, maka sasaran pencapaian kumulatif
sampai dengan bulan juni adalah (6 x 7,5%=) 45,0% (garis b)
b. Hasil perhitungan pencapaian kumulatif cakupan K1 s/d bulan juni
dimasukkan ke dalam jalur % kumulatif secara berurutan sesuai peringkat.
Pencapaian tertinggi di sebelah kiri dan terendah di sebelah kanan,
sedangkan pencapaian untuk puskesmas dimasukkan ke dalam kolom
terakhir.
c. Nama desa bersangkutan dituliskan pada lajur desa, sesuai dengan cakupan
kumulatif masing-masing desa yang dituliskan pada butir b diatas.
d. Hasil perhitungan pencapaian bulan ini (Juni) dan bulan lalu (Mei) untuk tiap
desa dimasukkan ke dalam lajur masing-masing
e. Gambar anak panah dipergunakan untuk mengisi lajur Trend. Bila
pencapaian cakupan bulan ini lebih besar dari pencapaian cakupan bulan
lalu, maka digambar anak panah yang menunjuk ke atas. Sebaliknya, untuk
cakupan bulan ini yang lebih rendah dari cakupan bulan lalu, digambarkan
anak panah yang menunjukkan ke bawah, sedangkan untuk cakupan yang
tetap/sama gambarkan dengan tanda (-) (Hermawan, C. Lukas, dkk.2009.
Pedoman PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta).
10. Sistem Pencatatan dan Pelaporan
a. Jenis Data
1) Data sasaran
a) Jumlah seluruh ibu hamil.
b) Jumlah seluruh ibu bersalin.
c) Jumlah seluruh bayi berusia kurang dari 1 bulan (neonatal).
d) Jumlah seluruh ibu nifas.
e) Jumlah seluruh bayi.
2) Data Pelayanan :
a) Jumlah K1.
b) Jumlah K4
c) Jumlah Ibu hamil beresiko yang dirujuk oleh masyarakat.

25
d) Jumlah ibu hamil beresiko yang dilayani oleh tenaga kesehatan.
e) Jumlah ibu nifas yang dilayani oleh tenaga kesehatan.
f) Jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan.
g) Jumlah bayi berusia kurang dari 1 bulan yang dilayani oleh tenaga
kesehatan minimal 2 kali.
Sumber Data
Data pelayanan pada umumnya berasal dari :
1) Register kohort ibu dan bayi.
2) Laporan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dan dukun
bayi.
3) Laporan dari dokter/bidan praktik swasta.
4) Laporan dari fasilitas pelayanan selain puskesmas yang berada di
wilayah puskesmas.
b. Pelaporan
Data dari tingkat puskesmas dikumpulkan dan kemudian diolah. PWS
KIA di puskesmas merupakan rekapitulasi cakupan (indikator PWS KIA) dari
tiap desa/kelurahan, yang juga berfungsi sebagai laporan untuk dikirimkan
ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Laporan ini dikirimkan setiap bulan,
selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya. Dinas kesehatan
kabupaten/kota membuat rekapitualsi laporan puskesmas untuk dikirimkan
ke pusat.
Laporan ini dikirimkan ke pusat setiap triwulan, paling lambat satu bulan
setelah triwulan tersebut berakhir (Hermawan, C. Lukas, dkk.2009. Pedoman
PWS-KIA. Depkes RI : Jakarta).
c. Proses Penerapan PWS KIA
Proses yang perlu dilakukan dalam penerapan PWS KIA dimulai dengan
langkah-langkah persiapan, pelaksanaan, pemantauan dan diikuti dengan
tindak lanjut sesuai kebutuhan.
1) Persiapan
a) Pertemuan ditingkat provinsi (pertemuan sosialisasi/reorientasi)
b) Pertemuan ini merupakan pertemuan persiapan dan dapat berupa
rangkaian pertemuan dengan tujuan yang saling melengkapi, yaitu
untuk :
 Menyamakan persepsi mengenai PWS KIA.
 Menentukan kebijaksanaan dalam pelaksanaan PWS KIA.
 Merencanakan fasilitas tingkat kabupaten/kota dan puskesmas.
 Menyususn mekanisme pemantauan kegaiatan dll.

26
Pihak yang terlibat meliputi :
a) Subdinas/bidang yang menangani KIA.
b) Subdinas/bidang yang menangani puskesmas dan rumah sakit.
c) Subdinas/bidang yang menangani pengendalian penyakit.
Pertemuan ini dilaksanakan satu kali untuk memfasilitasi
kabupaten/kota untuk memberikan bantuan teknis, bentuknya adalah
kunjungan ke lapangan atau pertemuan di propinsi. Pelaksanaan 2 x
setiap tahunnya. Evaluasi/tindak lanjut untuk menilai kemajuan cakupan
program KIA, merencanakan kegiatan hasil dari analisa. Pelaksanaan
pertemuan 1x per tahun.
a) Pertemuan di tingkat kabupaten/kota
Pertemuan sosialisasi/reorientasi untuk memfasilitasi puskesmas
dan analisis tinadak lanjut.
b) Pertemuan di puskesmas
Minilokakarya untuk mengatur alur data KIA, memfasilitasi bidan
desa, implementasi PWS KIA. Bidan bekerjasama dengan kader,
dukun dan masyarakat dan tindak lanjut.
c) Fasilitasi petugas kabupaten/kota
Petugas kabupaten dibekali untuk dapat memfasilitasi petugas
puskesmas. Peserta terdiri dari unsur-unsur lain dari dinas
kesehatan kabupaten/kota seperti : yankes, pengendalian penyakit
Setiap kali fasilitasi, sebaiknya peserta tidak lebih dari 30 orang.
Materi memfasilitasi :
(1) Pedoman PWS KIA
(2) Pedoman pelayanan kebidanan dasar
(3) Kebijaksanaan program KIA
(4) Perencanaan pelaksanaan dan pemantauan kegiatan.
d) Pelatihan petugas puskesmas
Pelatihan petugas kesehatan mengenai PWS KIA ini diikuti oleh:
(1) Kepala puskesmas
(2) Pengelola Program KIA
(3) Petugas SP2TP
(4) Pelatihnya adalah petugas dari kabupaten dan propinsi yang
dilatih.

27
e) Pertemuan dengan unit kesehatan swasta dan RSU
Pertemuan ini penting karena PWS KIA mempunyai pendekatan
wilayah. Dengan demikian semua pelayanan KIA dari fasilitas
pelayanan di luar puskesmas pun perlu dilibatkan agar dapat
diketahui cakupan pelayanan KIA oleh tenaga kesehatan.
2) Pelaksanaan
Pelaksanaan PWS-KIA dimulai di kabupaten, yaitu melalui:
a) Pertemuan di kabupaten/kota
Pertemuan yang diperlukan adalah :
b) Pertemuan intern kesehatan, yang dihadiri oleh para kepala seksi
terkait di lingkungan dinas kesehatan/kota, serta puskesmas.
c) Pertemuan lintas sektor, yang dihadiri oleh sektor terkait di tingkat
kabupaten dan kecamatan.
Pertemuan ini bertujuan memberikan informasi mengenai PWS-
KIA, rencana yang akan dilakukan dan peran masing-masing yang
diharapkan.
Pertemuan di puskesmas. Pertemuan ini dapat disatukan
dengan minilokakarya yang merupakan pertemuan rutin bulanan di
puskesmas. Semua staf yang memberikan pelayanan KIA dan
disusun rencana tindak lanjut.
d) Pertemuan di tingkat kecamatan
Pertemuan bulanan berupa rapat koordinasi dapat dipakai
untuk menginformasikan mengenai PWS-KIA non teknis. Hadir
dalam pertemuan tersebut biasanya adalah kepala desa/kelurahan,
tim penggerak PKK desa/kelurahan, puskesmas dan lintas sektor.
3) Pemantauan
Pemantauan kegiatan PWS-KIA dapat dilakukan melalui bagan
terlampir:
a) Tingkat kabupaten/kota
 Laporan puskesmas.
 Laporan rumah sakit.
 Laporan pelayanan kesehatan swasta.
b) Tingkat puskesmas
 Sarana pencatatan PWS-KIA (kohort ibu, kohort bayi dll).
 Laporan yankes swasta.
 Kunjungan ke desa/kelurahan yang statusnya jelek.

28