You are on page 1of 107

BAB I

PENDAHULUAN

Sumber Daya Manusia merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu

apotek karena perannya sebagai subjek pelaksana kebijakan dan kegiatan

operasional apotek. Oleh karena itu SDM merupakan salah satu faktor yang

sangat penting dalam suatu apotek di samping faktor lain seperti modal. Sehingga

SDM harus dikelola dengan baik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi

organisasi (Hariandja dan Marihot, 2002).

Tenaga kefarmasian merupakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada

di apotek. Dalam hal ini, tenaga kefarmasian menjadi kekayaan tersendiri dalam

apotek, yaitu sebagai perencana, pelaksana dan pengendali yang selalu berperan

aktif dalam mewujudkan tujuan dari suatu apotek tersebut. Akan tetapi, tenaga

kefarmasian mempunyai pikiran, perasaan, dan keinginan yang mempengaruhi

sikap-sikapnya terhadap pekerjaannya. Sikap ini akan menjadi dan menentukan

kecintaannya terhadap pekerjaannya. Sikap ini yang dikenal sebagai kepuasan

kerja yang ditimbulkan oleh pekerjaan, peralatan, lingkungan dan sebagainya

(Hasibuan, 2001).

Kepuasan kerja berhubungan erat dengan kinerja. Seseorang yang puas

dalam pekerjaannya akan memiliki motivasi, komitmen pada organisasi dan

partisipasi kerja yang tinggi sehingga akan terus memperbaiki kinerja mereka

(Sinambela, 2016). Kinerja merupakan hasil kerja nyata yang ditampilkan setiap

orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan sesuai dengan perannya (Rivai dan

Sagala 2013). Kinerja tenaga kesehatan merupakan masalah yang sangat penting

1

untuk dikaji dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan pembangunan

kesehatan. Kajian mengenai kinerja memberikan kejelasan faktor-faktor yang

berpengaruh terhadap kinerja personel. Dari penelusuran kepustakaan organisasi

dan kinerja personal diketahui ada 3 (tiga) kelompok variabel yang berpengaruh

terhadap kinerja yaitu variabel individu, psikologis dan organisasi (Gibson,dkk,

2005).

Salah satu kinerja yang bisa diukur dari seorang tenaga kefarmasian adalah

kinerja dalam penyimpanan obat. Penyimpanan merupakan suatu kegiatan dan

usaha untuk melakukan pengurusan penyelenggaraan dan pengaturan barang

persediaan di dalam ruang penyimpanan. Penyimpanan berfungsi untuk menjamin

penjadwalan yang telah ditetapkan dalam fungsi-fungsi sebelumnya dengan

pemenuhan setepat-tepatnya dan dengan biaya serendah mungkin. Menurut Dirjen

Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI, 2010 tujuan dari

penyimpanan adalah memelihara mutu sediaan farmasi, menghindari penggunaan

yang tidak bertanggung jawab, menjaga ketersediaan, memudahkan pencarian dan

pengawasan (Anonim, 2010). Salah satu faktor yang mendukung penjaminan

mutu obat adalah bagaimana penyimpanan obat yang tepat dan sesuai dengan

standar yang telah ditetapkan. Kegiatan penyimpanan disini mencakup tiga faktor

yaitu pengaturan ruangan, penyusunan obat, serta pengamatan mutu fisik obat

(Linarni & Hasanbasri, 2006). Berdasarkan penelitian oleh Sheina, dkk, 2010

yang berjudul penyimpanan obat di gudang instalasi farmasi RS PKU

Muhammadiyah Yogyakarta unit I menyatakan bahwa faktor sistem penyimpanan

obat di Gudang Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadiyah Unit I tidak sesuai

2

dengan standar seto yaitu penggolongan obat tidak berdasarkan kelas

terapi/khasiat obat. Hal tersebut dikarenakan tidak semua petugas gudang

memiliki latar belakang pendidikan kefarmasian. Petugas yang berasal dari

sekolah umum akan kesulitan dalam menghafalkan nama-nama obat berdasarkan

kelas terapi/khasiat obat, sehingga dikhawatirkan proses penyimpanan akan

berlangsung lebih lama.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Auliani, 2012, dalam

penelitiannya yang berjudul faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja

petugas pelaksana farmasi RSUD Budi Asih Jakarta tahun 2012 menyatakan

bahwa dari hasil analisa menunjukkan 58,8% kinerja petugas pelaksana farmasi

masih buruk dan dari 3 variabel yang diteliti (variabel individu, variabel

organisasi, dan variabel psikologi), hanya terdapat 1 variabel yang mempunyai

hubungan signifikan dengan kinerja yaitu variabel psikologi (motivasi) dengan p

value sebesar 0,024 (<0,05) dan Odd Ratio (OR) yang didapat adalah 10,636.

Kendala yang banyak terjadi pada instalasi farmasi adalah mengenai sistem kerja

yang tumpang tindih, fasilitas dan lingkungan kerja yang kurang nyaman serta

kurangnya dorongan positif yang diberikan atasan.

Pada beberapa peneliti biasanya percaya bahwa hubungan antara kepuasan

kerja dengan kinerja pekerjaan adalah mitos manajemen, tetapi, sebuah tinjauan

dari 300 penelitian menunjukkan bahwa korelasi tersebut cukup kuat. Ketika data

produktivitas dan kepuasaan secara keseluruhan dikumpulkan untuk organisai

yang mempunyai karyawan yang lebih puas cenderung lebih efektif bila

dibandingkan organisasi yang mempunyai karyawan yang kurang puas (Robbins

3

Pekanbaru Kota adalah sebuah kecamatan di Kota Pekanbaru. yaitu Kelurahan Rejosari. Oleh karena itu peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai korelasi kepuasan kerja tenaga kefarmasian terhadap kinerja penyimpanan obat di apotek yang ada di kecamatan Pekanbaru Kota dan Kecamatan Tenayan Raya kota Pekanbaru.016). Indonesia yang terdiri dari 6 kelurahan.dan Judge.927).019). yaitu Kelurahan Suka Ramai.020). kepuasan terhadap sistem penilaian prestasi (p=0. Indonesia. kepuasan terhadap kondisi kerja (p=0. Apotek yang akan dijadikan sebagai lokasi penelitian adalah apotek yang berada di Kecamatan Pekanbaru Kota dan kecamatan Tenayan Raya yang sebelumnya tidak pernah di lakukan penelitian yang sama. Kelurahan Kota Baru. Riau. 2008). Tenayan Raya terdiri dari 4 Kelurahan. Kecamatan ini merupakan hasil pemekaran dari kecamatan Bukitraya. Kelurahan Kulim.615) tidak mempunyai hubungan signifikan dengan kinerja (p>0. kepuasan terhadap manajemen (p=0.2016).639). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Syaiin. kepuasan terhadap hubungan kerabat kerja (p=0. dan Kelurahan Simpang Empat (Anonim. kepuasan terhadap promosi (p=0. Kelurahan Sail.05). 4 .739). Kelurahan Suma Hilang.046). Kelurahan Kota Tinggi. kepuasan terhadap pengawasan (p=0. Kelurahan Tanah Datar. Provinsi Riau. kepuasan terhadap gaji (p=0. dengan judul pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai klinik spesialis Bestari Medan tahun 2007 dikatakan bahwa kepuasan kerja mempunyai hubungan yang signifikan dengan kinerja yaitu variabel kepuasan terhadap pekerjaan (p=0. 2008. Sedangkan Tenayan Raya merupakan sebuah kecamatan di Kota Pekanbaru. Kecamatan ini membentang sepanjang jalan Lintas Timur sampai ke Desa Teluk Lembu Ujung (Teleju).

5 .2015). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi kepuasan kerja tenaga kefarmasian terhadap kinerja penyimpanan obat di apotek di kecamatan Pekanbaru Kota dan kecamatan Tenayan Raya kota Pekanbaru. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan kepada pemilik sarana apotek (PSA) untuk melihat dan mengukur kepuasan kerja karyawannya sehingga dapat meningkatkan kualitas kinerjanya terhadap pekerjaan kefarmasian yang ada di apotek tersebut. Selama ini belum pernah dilakukan penelitian sejenis ditempat ini. terutama dalam penyimpanan obat.dan Kelurahan Tangkerang Timur (Anonim.

1. 6 . Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individu. Ini disebabkan karena adanya perbedaan pada maasing-masing individu. maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakannya.1 Kepuasan Kerja 2. Semakin banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu tersebut. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. afektif. maka semakin rendah tingkat kepuasan yang dirasakannya. dan evaluatif dan menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan emosi yang senang atau emosi positif yang berasal dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja seseorang. sebaliknya semakin sedikit aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu. Kepuasan kerja adalah hasil dari persepsi karyawan mengenai seberapa baik pekerjaan mereka memberikan hal yang dinilai penting (Luthans. Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai-nilai yang berlaku pada dirinya. Wexley dan Gary (2003) menyatakan bahwa kepuasan kerja merupakan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. kerja sama antara pimpinan dengan sesama karyawan (Sutrisno. 2009).1 Definisi Kepuasan Kerja Locke memberikan definisi komprehensif dari kepuasan kerja yang meliputi reaksi atau sikap kognitif. situasi kerja. 2006). Tiffin dan Errest mengemukakan kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri.

2009) : 1. tetapi menerima penghargaan lebih sedikit. pimpinan. Kepuasan kerja sering ditentukan menurut seberapa baik hasil yang dicapai memenuhi atau melampaui harapan. Kepuasan kerja mewakili beberapa sikap yang berhubungan. Sebaliknya. Dengan demikian. Mereka tidak puas.1. maka mereka mungkin akan memiliki sikap positif terhadap pekerjaan mereka. 2.antara lain (Sutrisno. antara lain (Luthans. jika mereka merasa bahwa mereka diperlakukan dengan baik dan dibayar dengan pantas. 7 . 2. Kepuasan kerja merupakan respons emosional terhadap situasi kerja. kepuasan kerja dapat dilihat dan dapat diduga. dan atau rekan kerja mereka.2 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Gilmer. Misalnya. maka mereka mungkin akan memiliki sikap negatif terhadap pekerjaan. Kesempatan untuk maju Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan selama kerja. Terdapat tiga dimensi yang diterima secara umum dalam kepuasan kerja. jika anggota organisasi merasa bahwa mereka bekerja terlalu keras daripada yang lain dalam departemen. 3. Mereka merasa puas. 2006) : 1.

Keamanan kerja Faktor ini disebut sebagai penunjang kepuasan kerja. keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan karyawan selama kerja. dan tempat parkir. 3. baik bagi karyawan. Faktor instrinsik dari pekerjaan Atribut yang ada dalam pekerjaan mensyaratkan keterampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggan akan tugas dapat meningkatkan atau mengurangi kepuasan. 5. penyinaran. Perusahaan dan manajemen Perusahaan dan manajemen yang baik adalah yang mamapu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil. Kondisi kerja Termasuk didalamnya kondisi tempat. 6. ventilasi. dan jarang orang mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang diperolehnya 4. Gaji Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan. 7. 8 .2. supervisi yang bururk dapat mengakibatkan absensi dan turn over. Faktor ini yang menentukan kepuasan kerja karyawan. Pengawasan Sekaligus atasannya. kantin.

Kunci menuju kepuasan kerja dalam pendekatan ini adalah 9 . maka akan semakin puas. Fokusnya pada hasil manapun yang menilai orang tanpa memperhatikan siapa mereka. dan sebaliknya. atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas. 9. memahami. Teori nilai ini memfokuskan diri pada hasil manapun yang menilai orang tanpa memperhatikan siapa mereka. Fasilitas Fasilitas rumah sakit. Aspek sosial dalam pekerjaan Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas dalam kerja. 2016) : a.1. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar. antara lain sebagai berikut (Sinambela. cuti. Teori Nilai (Value Theory) Konsep ini terjadi pada tingkatan ketika hasil pekerjaan diterima individu seperti diharapkan. dan mengakui pandapat ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja.3 Teori Kepuasan Kerja Banyak teori yang membahas kepuasan kerja dalam berbagai kepustakaan. 10. Komunikasi Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. dana pensiun. Semakin banyak orang menerima hasil. 8. 2.

Teori ini lebih menekankan bahwa kepuasan kerja dapat diperoleh dari banyak faktor. semakin besar perbedaan maka semakin rendah kepuasan orang. 2016) : 1. 2. keuntungan tambahan. tidak liniernya hubungan antara besarnya kompensasi dengan tingkat kepuasan lebih banyak bertentangan dengan kenyataan. pengalaman. b. Input adalah semua nilai yang diterima karyawan yang dapat memperpanjang pelaksanaan kerja. 3. yaitu dengan cara efektif dalam memuaskan pekerjaan dengan menemukan apa yang mereka inginkan dan apabila mungkin memberikannya. Outcome adalah semua nilai yang diperoleh dan dirasakan karyawan. Comparison person adalah seorang karyawan dalam organisasi yang sama. Teori keseimbangan (Equity Theory) Teori ini menekankan bahwa dalam organisasi harus ada keseimbangan. dan usaha. 10 . perbedaan antara aspek pekerjaan yang dimiliki dan diinginkan seseorang. Seperti upah. status simbol. Selain itu. pengenalan kembali dan lain-lain. Komponen dari teori ini antara lain (Sinambela. Seperti pendidikan. seorang karyawan dalam organisasi yang berbeda atau dirinya sendiri dalam pekerjaan sebelumnya. Kelemahan teori ini adalah kenyataan bahwa kepuasan orang juga ditentukan oleh individual differences. keahlian. Dalam hal ini.

Teori Perbedaan (Discrepancy Theory) Teori ini dikemukakan oleh Proter. Menurut teori ini. e. apabila yang didapat karyawan ternyata lebih besar daripada apa yang diharapkan maka mereka akan puas. Teori Pemenuhan Kebutuhan (Need Fulfillment Theory) Menurut teori ini. puas atau tidaknya pegawai merupakan hasil dari perbandingan yang mereka lakukan secara input-outcome dirinya dengan perbandingan input-outcome karyawan lain. Semakin besar kebutuhan karyawan terpenuhi maka semakin puas pula mereka. Sebaliknya. Teori Pandangan Kelompok (Social Reference Group Theory) 11 . apabila perbandingan tersebut dirasakan seimbang maka karyawan tersebut akan merasa puas. apabila tidak seimbang maka dapat menyebabkan ketidakpuasan. yang intinya berpendapat bahwa mengukur kepuasan dapat dilakukan dengan cara menghitung selisih antara apa yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan oleh karyawan. apabila yang diperoleh karyawan justru lebih mudah daripada yang diharapkan maka akan menyebabkan ketidakpuasan. karyawan akan merasa puas jika mereka mendapatkan apa yang dibutuhkannya. c. kepuasan kerja karyawan bergantung pada terpenuhi atau tidaknya kebutuhan karyawan. Sebaliknya. Jadi. Menurut Sinambela (2016) mengemukakan bahwa kepuasan kerja karyawan bergantung pada perbedaan antara apa yang didapat dengan apa yang diharapkan oleh karyawan. d.

Kedua kepuasan tersebut akan berkontribusi pada kepuasan hidup. Teori Dua Faktor Teori dua faktor dikembangkan oleh Frederick Hezberg. kesehatan rohani dan lain-lain. Kelompok rujukan tersebut oleh karyawan dijadikan tolak ukur untuk menilai dirinya maupun lingkungannya. Oleh sebab itu. kepuasan kerja pegawai bukanlah bergantung pada pemenuhan kebutuhan saja. misalnya penghargaan yang diperoleh dan kepuasan keluarga. Kepuasan hidup diperoleh dari faktor kerja maupun dari faktor non kerja. melainkan juga bergantung pada persepsi kelompok pekerja tentang kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja melalui dimensi yang terpisah sebagaimana dikemukakan oleh Hezberg. yang akan mempengaruhi kesehatan fisik. 2016). Kepuasan kerja seseorang berhubungan timbal balik dengan kepuasan hidup (Sinambela. kepuasan kerja karyawan bukanlah bergantung pada pemenuhan kebutuhan saja. Ia menggunakan teori Abraham Maslow sebagai acuannya. Schermerhorn dan John (2003) dalam Sinambela 12 . melainkan juga bergantung pada pendapat kelompok yang oleh para karyawan dianggap sebagai kelompok rujukan. Menurut teori ini. Jadi. para karyawan akan merasa puas jika hasil kerjanya sesuai dengan minat dan kebutuhan yang diharapkan oleh kelompok rujukan. Menurut teori ini. karyawan dalam pekerjaannya dapat masuk kedalam berbagai kombinasi hasil yang positif yang akan membayangi kepuasan kerja yang tinggi atau ketidakpuasan yang rendah. f.

(2016). yaitu prestasi.1. bekerja sendiri. yaitu : 1) Rating scales dan kuesioner Cara ini merupakan pendekatan pengukuran kepuasan kerja yang paling umum dipakai dengan menggunakan kuesioner. menunjukkan ada tiga cara untuk melakukan pengukuran kepuasan kerja. dan bawahan 6 Status. Dengan menggunakan 13 . 2. upah Tanggung jawab 5 Hubungan dengan kelompok Kemajuan sebaya. pengakuan. menjelaskan bahwa sumber kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja adalah seperti terlihat dalam tabel berikut : Tabel 1. keamanan Pertumbuhan Tabel diatas dapat dijadikan sebagai acuan mengelola kepuasan kerja karyawan dengan mengkondisikan faktor-faktor yang menyebabkan kepuasan. Greenbert dan Baron (2003). kemajuan dan pertumbuhan.4 Cara Mengukur Kepuasan Kerja Penilaian pekerja tentang puas dan tidak puas terhadap pekerjaannya merupakan sejumlah ciri-ciri elemen pekerjaan yang kompleks. tanggung jawab. Sumber Kepuasan Kerja dan Ketidakpuasan Kerja No Faktor yang cenderung Faktor yang cenderung menyebabkan ketidakpuasan menyebabkan kepuasan 1 Kebijakan dan admisitrasi Prestasi perusahaan 2 Supervisi Pengakuan 3 Berhubungan dengan Bekerja sendiri supervisor 4 Kondisi kerja.

5 Hasil Kepuasan Kerja Dari sudut pandang masyarakat dan karyawan individu. Kepuasan dan kinerja 14 . Dengan menanyakan secara langsung tentang sikap mereka. 2) Critical insidents Cara ini menjelaskan kejadian yang menghubungkan pekerjaan mereka yang mereka rasakan terutama memuaskan atau tidak memuaskan. 2. Jawaban yang didapat dipelajari untuk mengungkap tema yang mendasar. dari perspektif keefektifan organisasi dan manajerial yang pragmatis. yaitu (Luthans. Akan tetapi. penting untuk menganalisis serangkaian hasil yang spesifik.1. Dengan mengajukan pertanyaan dan mencatat jawabannya secara sistematis. 2006) : 1. penting untuk mengetahui bagaimana kepuasan kerja berhubungan dengan variabel hasil. orang menjawab pertanyaan yang memungkinkan mereka melaporkan reaksi mereka terhadap pekerjaannya. kepuasan kerja merupakan hasil yang diinginkan. Dalam membahas hasil kepuasan kerja. metoda ini. maka hubungan pekerjaan dengan sikap dapat dipelajari. 3) Interview Interview merupakan prosedur pengukuran kepuasan kerja dengan melakukan wawancara tatap muka dengan pekerja. Berikut ini akan membahas rangkaian hasil yang paling penting.

tetapi mungkin tidak sebesar kebijakan konvensional yang mengasumsikan karyawan yang merasa senang sebagai karyawan yang produktif.17) antara kepuasan dan kinerja. studi yang dinilai menurut meta-analisis mengindikasikan hubungan yang lemah (korelasi taksiran terdekat 0. Dengan demikian. analisis terakhir ini menunjukkan hubungan yang jauh lebih kuat antara kepuasan kerja dan kinerja karyawan. tetapi yang paling penting adalah penghargaan. Bukti penelitian juga mengindikasikan bahwa kepuasan mungkin tidak perlu menghasilkan perkembangan kinerja individu. Mungkin kesimpulan terbaik mengenai kepuasan dan kinerja adalah terdapat hubungan yang pasti didalamnya. tidak demikian halnya dengan penelitian saat ini. metodologi. Meskipun banyak orang mengasumsikan hubungan yang positif. mungkin ia menghasilkan kinerja yang lebih besar. Meta-analisis yang lebih rumit yang dilakukan oleh Tim Judge dan rekannya pada 312 sampel dengan kombinasi N 54. Sekitar 20 tahun lalu. Misalnya. Meta-analisis terbaru mengenai unit bisnis 15 . tetapi menyebabkan perkembangan level departemen dan organisasi. Akan tetapi. dan praktis mempertanyakan dan memperdebatkan hasil yang lemah tersebut.417 menemukan korelasi sebenarnya menjadi 0. Jika orang yang menerima penghargaan merasa pantas mendapatkannya.30. “Kontroversi kepuasan-kinerja” telah muncul sejak lama. tampaknya ada banyak variabel yang menghubungkan. empiris. Hubungan ini mungkin akan lebih kompleks daripada hubungan lain dalam perilaku organisasi. analisis konseptual. dan puas.

banyak orang ingin keluar jika ada kesempatan lain yang lebih menjanjikan. tersebut (7. Akan tetapi. Sebaliknya. usia. kepuasan pelanggan. mungkin memainkan peranan. Kepuasan dan pergantian karyawan Penelitian mengungkapkan hubungan negatif antara kepuasan dan pergantian karyawan. kedudukan dalam organisasi. pergantian karyawan akan meningkat karena orang akan mulai mencari kesempatan yang lebih baik dengan organisasi lain. Kepuasan kerja yang tinggi tidak akan membuat pergantian karyawan menjadi rendah. tetapi hal tersebut mungkin membantu. Faktor lain adalah ekonomi secara umum. 2. Secara jelas. maka pergantian karyawan mungkin tinggi. Saat segala hal dalam ekonomi berjalan baik dan terdapat sedikit pengangguran. jika terdapat ketidakpuasan kerja. memainkan peranan penting dalam studi dan aplikasi perilaku organisasi. maka terdapat hubungan yang signifikan antara kepuasan dengan kinerja berupa produktivitas. Beberapa orang tidak dapat melihat dirinya bekerja ditempat lain. karyawan yang 16 . kepuasan kerja bersama dengan dimensi lain. Sekalipun mereka merasa puas. jika pekerjaan sulit diperoleh dan terjadi pengurangan jumlah tenaga kerja. Sebaliknya. jadi mereka tetap bertahan meskipun mereka merasa tidak puas. dan bahkan profit.939 unit bisnis pada 36 perusahaan) menemukan bahwa ketika kepuasan didefinisikan dan diukur menurut keterlibatan karyawan. terdapat bukti bahwa. Secara keseluruhan. komitmen pada organisasi. kepuasan kerja sebaiknya tidak dianggap sebagai titik akhir dalam kinerja individu.

pada dasarnya tepat untuk mengatakan bahwa kepuasan kerja merupakan hal penting dalam pergantian karyawan. 4. terdapat variabel seperti tingkat dimana orang merasa bahwa pekerjaan mereka penting. bahwa tingkat pengangguran secara langsung memepengaruhi pergantian karyawan. Misalnya. Selain itu. meskipun tidak adanya pergantian karyawan merupakan hal yang tidak penting dalam organisasi. tetapi kepuasan kerja yang rendah mungkin menyebabkan ketidakhadiran. tidak puas akan segera sukarela tetap tinggal dipekerjaan mereka sekarang. Penelitian melaporkan 17 . Kepuasan dan ketidakhadiran Penelitian hanya menunjukkan hubungan negatif yang lemah antara kepuasan dan ketidakhadiran. terdapat sejumlah pengaruh lain dari kepuasan kerja yang tinggi. Akan tetapi. namun tingkat pergantian yang rendah lebih diinginkan mengingat biaya pelatihan dan kerugian karena tidak adanya pengalaman kerja. banyak variabel lain yang menjadi pertimbangan untuk menetap selain kepuasan kerja. Seperti halnya dengan pergantian karyawan. penelitian terhadap karyawan pemerintah menunjukkan bahwa orang yang yakin bahwa pekerjaannya penting memiliki ketidakhadiran rendah daripada orang yang tidak merasa pekerjaannya penting. penting untuk diingatkan bahwa kepuasan kerja tinggi belum tentu menghasilkan ketidakhadiran yang rendah. Pengaruh lain dan cara untuk meningkatkan kepuasan Selain yang telah dijelaskan sebelumnya. Misalnya. 3. Penelitian terbaru menjelaskan.

2009). dan kondisi seseorang. atau memperlihatkan sikap yang tidak kooperatif. Dengan kata lain. Mereka sering menjadi marah-marah. Pada sisi positif ditemukan bahwa terdapat hubungan negatif yang kuat antara kepuasan kerja dan stres yang dirasakan. agresif. Beban kerja yang sulit dan berlebihan b. Berdasarkan pengetahuan terbaru. Stres karyawan perlu sedini mungkin diatasi oleh pimpinan agar hal-hal yang merugikan perusahaan dapat diatasi. Stres keryawan timbul akibat kepuasan kerja tidak terwujud dari pekerjaannya. pedoman berikut ini mungkin membantu meningkatkan kepuasan kerja : 18 . Balas jasa yang teralu rendah f. mertua.bahwa karyawan yang tingkat kepuasannya tinggi cenderung memiliki kesehatan fisik yang lebih baik. Faktor-faktor penyebab stres karyawan antara lain sebagai berikut : a. Tekanan dan sikap pimpinan yang kurang adil dan wajar c. dan lain-lain (Sutrisno. Orang-orang yang mengalami stres menjadi nervous dan merasakan kekhawatiran kronis. Stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi. tidak dapat relaks. stres mungkin berkurang (Luthans. dengan membangun kepuasan. proses berpikir. Konflik antara pribadi dengan pimpinan atau kelompok kerja e. 2006). Masalah-masalah keluarga seperti anak. Waktu dan peralatan kerja yang kurang memadai d. istri.

dan bersaing secara serius. Lebih baik menjadi diri sendiri. dan Microsoft memberikan perhatian dalam 19 . tetapi tidak menghilangkan kebosanan dan mengurangi kesempatan bagi ketidakpuasan. ini mengasumsikan bahwa organisasi mengetahui minat dan keahlian seseorang. Terdapat berbagai cara dimana organisasi secara khusus mencoba membuat karyawan mereka puas. dan kesempatan promosi yang adil. IBM. Tentu saja. Cara penting untuk membuat benefit menjadi lebih efektif adalah membuat cara fleksibel yang disebut kafetaria. tidak perlu ada penyesuaian dengan apa yang mereka inginkakan karena semuanya merupakan pilihan mereka sendiri. Dengan demikian. 3. Perusahaan dengan manajemen sumber daya manusia yang efektif seperti Disney. Cara ini memungkinkan karyawan untuk memilih distribusi benefit mereka sendiri dalam jumlah yang sudah dianggarkan. Memberikan pekerjaan yang sesuai merupakan hal yang paling penting untuk memuaskan karyawan. Memiliki gaji. Ford. Memiliki budaya fun membuat pekerja lebih menyenangkan. tetapi sering diabaikan. Perusahaan kelas dunia seperti Southwest Airlines memiliki budaya fun bagi para karyawannya. Menyesuaikan orang dengan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan keahlian mereka. benefit.1. 2. Membuat pekerjaan menjadi menyenangkan. Manajemen menjelaskan bahwa ketidaksopanan itu sah-sah saja.

Mendesain pekerjaan agar menarik dan menyenangkan. Sebaliknya. 4. Sayangnya. 2006). terlalu banyak pekerjaan saat ini yang membosankan dan perlu diubah atau dieliminasi sebanyak mungkin (Luthans. pedoman ini menyarankan desain pekerjaan yang sesuai dengan orangnya. beberapa kritik memperdebatkan bahwa dugaan tersebut adalah dugaan murni karena banyak yang kita tidak ketahui tentang efek positif dari kepuasan. Kebanyakan orang tidak akan bosan. Jadi. maka kepuasan kerja adalah nilai dari kesehatan dan keefektifan organisasi secara keseluruhan. pekerjaan yang diulang-ulang tetap menyenangkan. agar sesuai dengan pekerjaaan mereka. dan merupakan studi dan aplikasi dalam bidang perilaku organisasi (Luthans. menemukan minat dan keahlian dari orang yang akan dipekerjakan. Secara singkat. jika hanya dilihat dari sudut pandang kepuasan kerja sebagai persyaratan minimum atau titik awal. saat kepuasan kerja rendah. Akan tetapi. 20 . maka terdapat efek negatif pada organisasi. banyak ahli perilaku organisasi dan manajer berpendapat bahwa kepuasan kerja merupakan hal penting dalam organisasi. dan karyawan yang sudah ada. 2006). Selain menemukan orang yang tepat dalam suatu pekerjaan seperti dijelaskan pada nomor 3.

Apoteker pengelola Apotek (APA) harus memenuhi persyaratan (Anonimᵃ. Hal ini dikarenakan apoteker merupakan moto penggerak kemajuan suatu apotek (Lydianita dan Jauhar. pemikiran dan tenaganya untuk menguasai. Oleh karena itu. Telah mengucapkan sumpah/janji sebagai Apoteker 3.2. Sesuai dengan permenkes RI No. Memiliki Surat Izin Kerja dari Menteri Kesehatan 21 . 2014) sebagai berikut : 1. 922/MENKES/PER/X/2014 pasal 5. 2016).2 Tenaga Kefarmasian 2. Sebelum melaksanakan kegiatannya seorang APA wajib memiliki Surat Izin Apotek (SIA) yang berlaku untuk seterusnya selama apotek masih aktif melakukan kegiatan dan APA dapat melakukan pekerjaannya serta masih memenuhi persyaratan. Pekerjaan kefarmasian seorang apoteker di apotek adalah bentuk hakiki dari profesi apoteker.1 Apoteker Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun 2014 tentang standar pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit dijelaskan bahwa Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker. 2014). memanfaatkan dan mengembangkan apotek yang didasarkan pada kepentingan masyarakat. Pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh apoteker di apotek merupakan bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasiannya untuk meningkatkan kualitas hidup pasien (Anonim. Apoteker Pengelola Apotek (APA) berkewajiban mencurahkan waktu.2. Ijazahnya telah terdaftar pada Departemen Kesehatan 2.

36 tahun 2014 STR diberikan oleh konsil masing-masing Tenaga Kesehatan setelah memenuhi persyaratan. dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker (Anonimᵇ. Memperoleh persetujuan dari Penerima Pelayanan Kesehatan atau keluarganya atas tindakan yang akan diberikan 22 .2.2 Tenaga Teknis Kefarmasian Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker dalam menjalani Pekerjaan Kefarmasian. Memenuhi syarat-syarat kesehatan fisik dan mental untuk melaksanakan tugasnya sebagai Apoteker 5. Memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan Standar Profesi. Membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi Tenaga kesehatan dalam menjalankan praktek wajib : a. Menurut UU No. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental 4. Standar Pelayanan Profesi. yang terdiri atas Sarjana Farmasi. Analis Farmasi. Memiliki ijazah pendidikan di bidang kesehatan 2. 4. 2014). Memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji profesi 5. Memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi 3. Persyaratannya meliputi: 1. Standar Prosedur Operasional. Ahli Madya Farmasi. Setiap Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR). Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi dan tidak menjadi Apoteker Pengelola Apotek di apotek lain 2. dan etika profesi serta kebutuhan kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan b.

dan tindakanyang dilakukan e. Menjaga kerahasiaan kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan d. Asisten apoteker tidak dimasukkan tenaga kesehatan karena pendidikannya di bawah D3.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Membuat dan menyimpan catatan dan/atau dokumen tentang pemeriksaan. 36 tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan. termasuk didalamnya Sekolah Menengah Kejuruan Farmasi (SMK Farmasi) . Keterampilan dan keahlian yang mereka miliki dibidang kefarmasian merupakan kompetensi yang menjadi tolok ukur untuk nantinya bersaing dalam dunia pekerjaan terutama pekerjaan kefarmasian di apotek dan juga dalam mengantisipasi kebutuhan kemampuan sumber daya manusia (SDM) di era pasar global. asuhan. Hal yang tidak kalah penting dalam sistem pendidikan di SMK Farmasi ini adalah tentang proses dan output yang dihasilkan. Asisten apoteker tidak lagi disebut tenaga kesehatan tetapi masuk sebagai asisten tenaga kesehatan. 2003).3 Asisten Tenaga Kefarmasian Undang-Undang No. karena bukan tenaga kesehatan konsekuensinya asisten apoteker tidak dapat memperoleh Surat Tanda 23 . Menurut UU No. serta tantangan saat ini dengan adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) (Anonim. Merujuk Penerima Pelayanan Kesehatan ke Tenaga Kesehatan lain yang mempunyai Kompetensi dan kewenangan yang sesuai 2. posisi asisten apoteker berubah. c. Output dari SMK Farmasi adalah seorang yang mempunyai keahlian dan keterampilan dibidang kefarmasian atau biasa disebut dengan Asisten Tenaga Kefarmasin (ATK).2. yaitu siswa lulusan. telah menetapkan tentang wadah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

tujuan. dkk (2011) mengemukakan faktor penting dalam pendidikan kefarmasian adalah keterampilan. Kinerja merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran. 24 . 2009). 2014). tetapi berada pada apoteker. Boschman. Karena tidak termasuk tenaga teknis kefarmasian. Menteri dapat menempatkan Tenaga Teknis Kefarmasian yang memiliki STRTTK pada sarana pelayanan kesehatan dasar yang diberi wewenang untuk meracik dan menyerahkan obat kepada pasien (Anonim. Nina. Sedangkan Brent. dkk (2009) mengatakan bahwa kualitas pendidikan kefarmasian harus memperhatikan kurikulum pembelajaran. Penjelasan pasal 11 ayat 6 Draft UU Tenaga Kesehatan menyebut tenaga teknis kefarmasian meliputi sarjana farmasi. asisten apoteker tidak perlu lagi mengurus STRTTK dan SIPTTK apabila bekerja di apotek (Anonimᶜ. Untuk itu SMK Farmasi sebagai lembaga yang mendidik serta mencetak para lulusan SMK Farmasi yang disebut AA dituntut untuk dapat menghasilkan output yang handal sehingga memiliki kinerja yang baik di bidang kefarmasian. 2012). dan analis farmasi. Dalam PP 51 dan Permenkes 889 wewenang dan tanggung jawab pekerjaan kefarmasian tidak berada pada asisten apoteker. Wewenang yang tampaknya lenyap adalah wewenang asisten apoteker pada tempat-tempat tertentu seperti tertera pada PP 51 pasal 21 ayat 3 yaitu dalam hal di daerah terpencil tidak terdapat apoteker. ahli madya farmasi. visi dan misi organisasi yang dituangkan melalui perencanaan strategis suatu organisasi (Moeheriono.Registrasi (STR) Tenaga Kesehatan. dan Therese dan Santanello (2010) lebih mengedepankan sikap dan pengetahuan yang baik dalam pembelajaran.

Menurut Warman. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2004) penyimpanan obat adalah suatu kegiatan pengamanan terhadap obat-obat yang diterima agar aman (tidak hilang). dan penyimpanan barang. Penyimpanan berfungsi untuk menjamin penjadwalan yang telah ditetapkan dalam fungsi-fungsi sebelumnya dengan pemenuhan setepat-tepatnya dan biaya serendah-rendahnya. Mempertahankan mutu obat dari kerusakan akibat penyimpanan yang tidak baik b. terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin (Anonim. pengelolaan. pencarian barang yang lebih mudah dan aman dari pencuri (Mustikasari.3 Penyimpanan Obat Penyimpanan merupakan suatu kegiatan dan usaha untuk melakukan pengelolaan barang persediaan di tempat penyimpanan. Fungsi yang lain yaitu kualitas barang dapat dipertahankan. Fungsi ini mencakup semua kegiatan mengenai pengurusan. 2004 tujuan dari penyimpanan antara lain: a. Mempermudah pencarian di gudang/kamar penyimpanan c. standarakreditasi pendidikan farmasi yang memadai dan membekali pengetahuan dan keterampilan yang baik. menghormati budaya. memakai tenaga kerja lokal. Mencegah kehilangan dan mencegah bahaya 25 .dkk (2015) menyimpulkan bahwa kurikulum (teori) dan praktek penting dalam pembentukan seorang AA dan Nazer (2012) mengatakan dalam penelitiannya bahwa pendidikan farmasi dalam menghadapi globalisasi memerlukan 5 (lima) kunci yaitu inovatif. obat terhindar dari kerusakan. 2007). 2. 2004).

d. indikator ini digunakan untuk mengetahui ketelitian petugas gudang dan mempermudah dalam pengecekan obat. Pengeluaran obat memakai sistem FEFO (First expired First Out) dan FIFO (First In First Out) Terdapat beberapa indikator dalam penyimpanan obat. Mempermudah stock opname dan pengawasan Menurut Permenkes No 35 tahun 2014 terdapat 4 parameter penyimpanan obat. antara lain : a. Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain. Wadah sekurang-kurangnya memuat nama Obat. membantu dalam perencanaan dan pengadaan obat sehingga tidak menyebabkan terjadinya akumulasi obat dan kekosongan obat b. yaitu seberapa cepat obat dibeli. antara lain yaitu : 1. nomor batch. Kecocokan antara barang dan kartu stok. didistribusi. dengan demikian nilai TOR akan berpengaruh kepada 26 . Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk sediaan dan kelas terapi obat serta disusun secara alfabetis 4. indikator ini digunakan untuk mengetahui kecepatan perputaran obat. Semua bahan obat/bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai sehingga terjamin keamanan dan stabilitasnya 3.dan tanggal kadaluwarsa 2. sampai dipesan kembali. Obat/bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru. Turn Over Ratio.

bahan obat dan obat tradisional (Lydianita. indikator ini digunakan untuk menilai kerugian apotek d. 2. Persentase stok mati. perbekalan kesehatan. pengadaan. pelayanan obat atas resep dokter. sehingga biaya penyimpanan akan menjadi minimal c. tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan Farmasi. Persentase obat yang sampai kadaluwarsa atau rusak. Pekerjaan kefarmasian yang dimaksud diatas adalah pembuatan. TOR yang tinggi berarti mempunyai pengendalian persediaan yang baik. indikator ini digunakan untuk menilai sistem penataan gudang standar adalah FIFO dan FEFO e. ketersediaan obat.4 Apotek 2.1 Definisi Apotek Menurut Kepmenkes RI No 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin Apotek dalam pasal 1 ayat (a) : "Apotek adalah suatu tempat tertentu. nilai persentase stok akhir berbanding terbalik dengan nilai TOR (Aditama. nilai stok akhir adalah nilai yang menunjukkan berapa besar persentase jumlah barang yang tersisa pada periode tertentu. Sistem penataan gudang. pengamanan. 27 . 2003). termasuk pengendalian mutu sediaan Farmasi. 2016). penyimpanan dan distribusi obat. dkk. demikian pula sebaliknya. pelayanan informasi obat serta pengembangan obat. stok mati merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan item persediaan obat di gudang yang tidak mengalami transaksi dalam waktu minimal 3 bulan Persentase nilai stok akhir.4.

menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik. meliputi : a. Aspek teknis Aspek teknis yang dimaksud disini adalah kondisi dan peralatan yang dibutuhkan untuk menunjang pelayanan kefarmasian di apotek. Aspek manajemen Apotek perlu mendapat dukungan tenaga manajemen yang ahli dan berpengalaman. Jenis pekerjaan e. serta memiliki motivasi dan dedikasi yang tinggi untuk mengembangkan apotek. SOP) b. Strategi manajemen (visi. Tugas-tugas tersebut kemudian dituangkan dalam jabatan-jabatan tertentu dan disusun dalam satu organisasi. Aspek manajemen. Secara umum studi kelayakan dari suatu usaha mencakup 4 aspek penilaian. misi. Bentuk badan usaha c. Program kerja 2. strategi. Dengan tersusunnya struktur organisasi lebih mudah untuk menentukan apa yang harus dipenuhi oleh calon pegawai apotek. yaitu : 1. program kerja. Kebutuhan tenaga kerja f. Struktur organisasi d. Apotek merupakan sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang wajib menyediakan. Karena itu hendaknya disusun tugas-tugas pokok yang harus dijalankan agar apotek dapat berjalan dengan baik. Aspek teknis meliputi : 28 .

Aspek pasar meliputi: a. bagaimana) mendapatkan produk yang akan dijual c. Target konsumen 4. Reseller) f. Oligopoli. Monopsoni) d. dapat satu orang pribadi atau beberapa orang dengan pembagian saham. Korporasi. Jenis produk yang akan dijual b. Tata letak bangunan c. Aspek pasar Dalam pendirian apotek. Aspek keuangan Aspek finansial ditujukan untuk memperkirakan berapa jumlah dana yang dibutuhkan untuk membangun dan kemudian untuk mengoperasikan apotek. Aspek keuangan meliputi : a. Monopoli. Target pasar ( Individu. a. Cara ( dari mana. Peta lokasi dan lingkungan (posisi apotek terhadap sarana pelayanan kesehatan lain) b. Interior dan peralatan teknis 3. Aspek ini diantaranya menyangkut jumlah praktek dokter yang ada di sekitar apotek dan jumlah apotek pesaing di lokasi tersebut. Bentuk pasar (persaingan sempurna. Sumber pembiayaan apotek dapat menggunakan dua sumber. Investasi dan modal kerja 29 . yaitu : pertama modal sendiri. Potensi dasar e. aspek pemasaran mendapatkan prioritas utama agar laju perkembangan apotek sesuai denngan yang diharapkan. Kedua dapat dengan pinjaman dengan melalui bank atau lembaga nonbank.

2. pengendalian. Alat Kesehatan. serta pelayanan informasi obat. Penilaian analisis keuangan (PBP (Pay Back Period). penyimpanan. pemusnahan. pengadaan. pengelolaan obat. BEP (Break Even Point) yaitu analisa yang berkenaan dengan biaya operasional dan biaya investasi c. pengelolaan apotek meliputi Pengelolaan Sediaan Farmasi. penyimpanan. dan pendistribusian atau penyaluran obat. penerimaan.35/Per/Menkes/2014. 2009) : a) Tempat pengabdian tenaga kefarmasian yaitu apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. IRR (Internal Rate of Return).3 Pengelolaan Apotek Berdasarkan Permenkes RI No. pencatatan dan pelaporan. pengadaan. 30 . b) Sarana yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian oleh tenaga kefarmasian c) Sarana pembuatan dan pengendalian mutu sediaan farmasi. Cash Flow Analysis (Lydianita.2 Tugas dan Fungsi Apotek Apotek memiliki tugas dan fungsi sebagai berikut (Syamsuni. ROI (Return On Investment). NPV (Net Present Value). pelayanan obat atas resep dokter. dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku meliputi perencanaan. pengamanan. 2. 2016). b.4.4.

mutu. nomor dokumennya. Penyimpanan Penyimpanan obat atau pembekalan farmasi dilakukan oleh Asisten Apoteker. d. budaya dan kemampuan masyarakat. Penerimaan Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis spesifikasi. jumlah barang yang diisi atau diambil. Setiap pemasukan dan penggunaan obat atau barang diinput ke dalam sistem komputer dan dicatat pada kartu stok yang meliputi tanggal penambahan atau pengurangan. Alat Kesehatan. dan Bahan Medis Habis Pakai perlu diperhatikan pola penyakit. sisa barang dan paraf petugas yang melakukan penambahan atau pengurangan barang. bentuk sediaan dan alfabetis untuk 31 . pola konsumsi. b. Kartu stok ini diletakan di masing-masing obat atau barang. jumlah. Penyimpanan barang disusun berdasarkan jenis sediaan. Perencanaan Dalam membuat perencanaan pengadaan Sediaan Farmasi. waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima. c. Pengadaan Untuk menjamin kualitas Pelayanan Kefarmasian maka pengadaan Sediaan Farmasi harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.a. Setiap Asisten Apoteker bertanggung jawab terhadap stok barang yang ada di lemari.

Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kelebihan. e. Pemusnahan Obat selain narkotika dan psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki surat izin praktik atau surat izin kerja. melalui pengaturan sistem pesanan atau pengadaan. kekurangan. kehilangan serta pengembalian pesanan. penyimpanan dan pengeluaran. 32 . Pemusnahan 1. Pemusnahan dibuktikan dengan berita acara pemusnahan menggunakan Formulir 1 sebagaimana terlampir. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun dapat dimusnahkan. kekosongan. Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis dan bentuk sediaan. kadaluwarsa. Pemusnahan Resep dilakukan oleh Apoteker disaksikan oleh sekurang-kurangnya petugas lain di Apotek dengan cara dibakar atau cara pemusnahan lain yang dibuktikan dengan Berita Acara Pemusnahan Resep menggunakan Formulir 2 sebagaimana terlampir dan selanjutnya dilaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota. serta berdasarkan farmakologi untuk obat-obat OTC (Over The Counter). 2. obat-obat ethical. Pemusnahan Obat kadaluwarsa atau rusak yang mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pengendalian Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah persediaan sesuai kebutuhan pelayanan. kerusakan. f.

meliputi keuangan. Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal. Alat Kesehatan. Pengendalian persediaan dilakukan menggunakan kartu stok baik dengan cara manual atau elektronik. dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi pengadaan (surat pesanan. penyerahan (nota atau struk penjualan) dan pencatatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. g. Pelaporan internal merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan manajemen Apotek. tanggal kadaluwarsa. psikotropika (menggunakan Formulir 4 sebagaimana terlampir) dan pelaporan lainnya. 33 . faktur). penyimpanan (kartu stock). jumlah pemasukan. barang dan laporan lainnya. jumlah pengeluaran dan sisa persediaan. Pencatatan dan Pelaporan Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan Sediaan Farmasi. Kartu stok sekurang-kurangnya memuat nama Obat. Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan meliputi pelaporan narkotika (menggunakan Formulir 3 sebagaimana terlampir).

2 Metode Penelitian 3. 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan jenis penelitian deskriptif analitik secara cross sectional.3. Apoteker.2 Sampel Sampel yang dipilih adalah apotek dan tenaga kefarmasian yang bekerja di apotek yang ada di kecamatan Pekanbaru Kota dan Tenayan Raya di kota pekanbaru yang memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan sampel secara Purposive Sampling.3 Populasi dan Sampel 3.2. BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN 3. 3. Penilaian kepuasan kerja diukur dengan menggunakan kuesioner. Apotek di kecamatan Pekanbaru Kota terdiri dari 10 apotek dan 29 34 . Penelitian dilaksanakan di apotek-apotek yang ada di Kecamatan Pekanbaru Kota dan Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di bulan November sampai Desember 2016.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah apotek dan semua tenaga kefarmasian (Tenaga Teknis kefarmasian. dan Asisten Tenaga Kefarmasian) yang bekerja di apotek yang ada di dua kecamatan yaitu Kecamatan Pekanbaru Kota dan Kecamatan Tenayan Raya kota Pekanbaru yang terdiri dari 44 apotek. 3.3.

dkk. Tenaga kefarmasian yang sudah lewat masa percobaan (karyawan tetap) Perhitungan jumlah sampel minimal responden digunakan rumus (Lameshow.01+0.5) n= 0. 1988) : N.96) 35 .5) n= (44−1)0.96 𝑥 0.5(1−0.01) Kriteria inklusi responden : 1.8 ~ 10 (sampel minimal) keterangan : n = besar sampel Z1‐a⁄2 = nilai Z pada derajat kemaknaan (biasanya 95%=1. 1990) : Z1‐a⁄2 𝑝(1−𝑝) n= d 1.5) 11 n = 0.responden tenaga kefarmasian sedangkan di Tenayan Raya terdiri dari 11 apotek dan 16 responden tenaga kefarmasian.05) D = derajat penyimpangan terhadap populasi yang digunakan (0.5(1−0. Tenaga kefarmasian yang bersedia berpartisipasi 2. Perhitungan jumlah sampel apotek digunakan rumus (Nazir.5(1−0.68 = 16 ~ sampel minimal keterangan: N = besar sampel p = proporsi persentase terhadap populasi (0. p(1 − p) n= (N − 1)D + p(1 − p) 44 x 0. Kriteria inklusi apotek adalah apotek yang bersedia berpartisipasi.05 n = 9.

1 n = 96.50) d = derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan (0. Untuk perhitungan jumlah sampel obat yang diamati penyimpanannya tiap apotek digunakan teknik stratified random sampling dengan perhitungan jumlah sampel minimal yaitu (Notoadmojo. 36 .p = proporsi suatu kasus tertentu terhadap populasi. bila tidak diketahui proporsinya.05) Kriteria eksklusi responden adalah tenaga kefarmasian yang tidak mengisi kuesioner dengan lengkap.00 – p) Z½a = derajat koefisien pada (95% = 1. 2012) : Z½a n = pq ( )² d 1.96) d = persentase perkiraan kemungkinan membuat kekeliruan dalam menetapkan sampel. 04 ~ 96 (sampel minimal) Keterangan : n = ukuran sampel p = proporsi populasi persentase kelompok pertama q = proporsi sisa dalam populasi (1. Contoh yang masih dapat ditolerir (pada penelitian ini ditetapkan 10%) Dalam hal ini diambil 105 item obat yang akan dijadikan sampel.96 n = 0.5 x 0. ditetapkan 50% (0.5( )² 0.

3.12.4. Jenjang pendidikan 37 . Pengurusan surat pengambilan data ke Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru untuk mendapatkan data jumlah apotek yang ada di kecamatan Pekanbaru kota dan Tenayan Raya kota Pekanbaru (Nomor : 440/DISKES/UM/142) e. A.2016 dan 2521.STIFAR.STIFAR.XI. Pengurusan surat permohonan izin penelitian kepada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) kota Pekanbaru (Nomor : 071/BKBP- REKOM/2016/4541) d.XI.2016) b. Pengurusan surat izin ke apotek sebagai dasar untuk melakukan penelitian (Nomor : 2520.12.2016) 3. Jenis kelamin 2. Pengurusan surat pengantar izin penelitian kepada kepala bagian administrasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau (Nomor : 2520.12.4 Prosedur Kerja 3. Lembar kuesioner data sosio-demografi terdiri dari : 1.2 Penyusunan Kuesioner dan Lembar Check List Lembar kuesioner yang digunakan terdiri dari data Sosio-demografi responden dan lembar kuesioner tingkat kepuasan kerja responden.4. X. Pengurusan surat permohonan izin penelitian kepada BP2T (Badan Perizinan Penelitian Terpadu) kota Pekanbaru (Nomor : 503/BP2T- IR/2016/13520) c.1 Pengurusan Izin Penelitian a.STIFAR. Rentang usia 3.

4 Analisa data A. 4. Analisa Univariat a. Lama bekerja B. Jumlah dan persentase tenaga kefarmasian berdasarkan jenis kelamin. 2. Data primer Data primer adalah data yang diperoleh berdasarkan kuesioner terhadap responden (Tenaga Kefarmasian) yaitu berupa data sosio demografi dan data kepuasan kerja.3 Pengumpulan data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi : 1. Data sosio-demografi tenaga farmasi: 1. 38 . Lembar Kuesioner tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian yang disusun berdasarkan standar Gilmer dan dikembangkan menjadi 26 pernyataan yang kemudian dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Jumlah dan persentase tenaga kefarmasian berdasarkan rentang usia. C. Data sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) kota yaitu berupa jumlah Apotek yang ada di Kecamatan Pekanbaru Kota dan Kecamatan Tenayan Raya. 2.4.4. 3. 3. Lembar check list penyimpanan obat di apotek yang disusun oleh peneliti berdasarkan Permenkes No 35 tahun 2014 yang terdiri dari 4 parameter terhadap 5 jenis obat di setiap apotek yang menjadi tempat penelitian.

3. Skala Penilaian Korelasi Tingkat Kepuasan Tenaga Kefarmasian Nilai Rata-rata Skor Kepuasan Tingkat Kepuasan 1 Sangat puas 0. Jumlah dan persentase tenaga kefarmasian berdasarkan pendidikan terakhir.00-0. b. Jumlah dan persentase tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian berdasarkan skala Likert. 4.74 Cukup puas 0.25-0.75-0.99 Puas 0.50-0.24 Tidak puas 39 . Jumlah dan persentase tenaga kefarmasian berdasarkan lama bekerja. Tabel 2. Nilai rata-rata skor kepuasan = Total bobot jawaban x 100% Total skor ideal Tabel 3. Skala Penilaian Tingkat Kepuasan Tenaga Kefarmasian Skala Tingkat Penilaian Kepuasan Bobot Jawaban Sangat Puas 5 Puas 4 Cukup puas 3 Kurang puas 2 Tidak puas 1 Nilai rata-rata skor kepuasan dapat dihitung menggunakan rumus : Analisa skala Likert.49 Kurang puas 0.

dan tidak tepat diberi nilai 0. Analisa penyimpanan obat di apotek berupa tepat dan tidak tepat jika tepat diberi nilai 1. Analisa kinerja dalam penyimpanan obat Untuk kinerja tenaga kefarmasian dalam penyimpanan dengan melihat distribusi frekuensi berdasarkan nilai median karena data tidak terdistribusi normal. 3. Yaitu untuk melihat penyimpanan obat di apotek berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 35 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. c. B.5 Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : a. Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa untuk melihat pengaruh atau hubungan antara variabel yang saling berkaitan. Dikatakan kinerja baik jika skor ≥ median dan dikatakan kinerja tidak baik jika skor < median. Dalam analisa penelitian pada analisa bivariat ini peneliti ingin melihat seberapa besar korelasi tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian terhadap kinerja dalam penyimpanan obat di apotek menggunakan uji Gamma. 40 . Analisa penyimpanan obat di apotek. Peneliti menganalisa penyimpanan 100 item obat di setiap apotek yang menjadi sampel penelitian dengan memperhatikan 4 parameter penyimpanan obat menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 35 tahun 2014. d. Lembaran kuesioner data sosio-demografi dan lembaran kuesioner tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian.

Kriteria penilaian uji validitas. maka dapat dikatakan item kuesioner tersebut tidak valid. perlu dikonsultasikan dengan tabel r product moment. maka dapat dikatakan item kuesioner tersebut valid. Perhitungan tersebut akan dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS (Statistical Package for Social Science) versi 21. Untuk menentukan nomor-nomor item yang valid dan yang gugur.00.5. b.1 Uji Validitas dan Reliabilitas a. Lembar Check List penyimpanan obat 3. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil diukur sekali saja. Untuk mengetahui apakah suatu variabel reliabel atau tidak digunakan uji α- cronbach. Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Masing-masing item dikatakan valid apabila r hitung > r tabel. Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tdiaknya suatu kuesioner. b) Apabila r hitung < r tabel (pada taraf signifikansi 5%). adalah: a) Apabila r hitung > r tabel (pada taraf signifikansi 5%). Semakin nilai alphanya mendekati satu maka nilai reliabilitas datanya 41 . Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. b. Jadi validitas ingin mengukur apakah pertanyaan dalam kuesioner yang sudah dibuat betul-betul dapat mengukur apa yang hendak diukur. (Ghozali (2005).

Kerangka Konsep 3. Kurang puas 5.6 dengan asumsi bahwa daftar pertanyaan yang diuji akan dikatakan reliabel bila nilai α-cronbach > 0. Sangat puas 2. Tidak puas Gambar 1. Apabila koefisien alpha (α) lebih besar dari 0. Baik 1.6 Kerangka Konsep Tingkat kepuasan Kinerja dalam kerja tenaga penyimpanan obat : kefarmasian : 1. yang dilakukan di apotek yang berada didua kecamatan di kota Pekanbaru. terlebih dahulu peneliti menjelaskan maksud dan tujuan riset yang dilakukan dan dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data. maka mereka harus 42 . Tidak baik 2.semakin terpercaya.6 maka alat ukur dianggap handal (Ghozali (2005). Perhitungan tersebut akan dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS (Statistical Package for Social Science) versi 21. Cukup puas 4. 3.00. Puas 3. Lembar persetujuan responden (informed concent) Sebelum lembar persetujuan diberikan kepada responden.7 Etika Penelitian a.6 Syarat suatu alat ukur menunjukkan kehandalan yang semakin tinggi adalah apabila koefisien reliabilitas (α) yang mendekati angka satu. Apabila calon responden bersedia diteliti. Nilai α-cronbach pada penelitian ini akan digunakan nilai 0.

Hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset. dan apabila calon responden tersebut menolak maka peneliti tetap menghormati hak-haknya. Kerahasiaan (confidentiality) Peneliti memberikan jaminan kerahasiaan. peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data atau kuesioner yang diisi oleh responden. Definisi operasional untuk data dari responden meliputi : 1. Lembar tersebut hanya diberi kode tertentu c. Tanpa nama (anonimity) Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden. 2004). Sampel adalah apotek yang bersedia berartisipasi dan tenaga kefarmasian yang memenuhi kriteria inklusi 2. menandatangani lembar persetujuan penelitian.8 Definisi Operasional Definisi operasional merupakan penjelasan semua variabel dan istilah yang akan digunakan dalam penelitian secara operasional sehingga akhirnya mempermudah pembaca dalam mengartikan makna penelitian (Ridwan. b. Jumlah dan persentase jenis kelamin responden adalah perempuan dan laki-laki Skala : Nominal 43 . 3. baik informasi maupun masalah-masalah lainnya yang berhubungan dengan apotek dan tenaga kefarmasian.

3. D3 farmasi c. Dewasa lanjut : > 60 tahun Skala : Ordinal 4.40 tahun b. SMK farmasi b. Dewasa muda : 18 tahun . Dewasa madya : 41 tahun – 60 tahun c. 1-5 tahun c. Analisa kepuasan responden berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Gilmer yaitu dengan melihat nilai skor rata-rata responden untuk setiap faktor yang terdiri dari: 44 . > 5 tahun Skala : Ordinal 6. S1 farmasi d. 2001): a. Jumlah dan persentase rentang usia responden dihitung sejak lahir sampai dengan ulang tahun terakhir dengan kategori (Hurlock. Jenis dan persentase tenaga kefarmasian berdasarkan lama bekerja sebagai Tenaga kefarmasian di sebuah Apotek dibagi atas: a. kategori yaitu: a. <1 tahun b. S1 Apoteker e. dinilai berdasarkan ijazah terakhir yang dimiliki responden. S2 Apoteker Skala : Ordinal 5. Jumlah dan persentase responden berdasarkan pendidikan terakhir adalah pengalaman mengikuti pendidikan formal.

Perusahaan dan manajemen e. Gaji d. Aspek sosial dalam pekerjaan i. Sangat puas. Komunikasi j. Fasilitas Skala : Ordinal Tingkat kepuasan kerja responden : a.99 c. jika nilai rata-rata kepuasan 0. Puas.50-0. Pengawasan f.74 d. jika nilai rata-rata skor kepuasan 1 b. Faktor intrinsik dari pekerjaan g. Kondisi kerja h.75-0.49 e. jika nilai rata-rata kepuasan 0. Cukup puas. Analisis penyimpanan obat berdasarkan Permenkes No 35 tahun 2014 yang meliputi : 45 .24 Skala : Ordinal 7.25-0.00-0. jika nilai rata-rata skor kepuasan 0. Kesempatan untuk maju b. Kurang puas. a. Keamanan kerja c. Tidak puas. jika nilai rata-rata kepuasan 0.

Tidak tepat jika salah satu dari kriteria di atas tidak terpenuhi.batch. Tidak tepat jika obat/bahan obat tidak disimpan dalam wadah asli atau obat/bahan obat dipindahkan dan tidak disertai salah satu dari keterangan tersebut. b. Tingkat kinerja dalam penyimpanan obat di apotek (Permenkes 35 tahun 2014) : a. c. d. no. melalui pengamatan Tepat jika obat/bahan obat di simpan dalam wadah asli atau obat/bahan obat dipindahkan dan disertai dengan nama. Baik jika total skor ≥ median 46 . Parameter pertama. 8. melalui pengamatan Tepat jika obat/bahan obat disimpan sesuai dengan tempat penyimpanan yang tertera di brosur dan tidak bisa diakses oleh umum. dan tanggal kadaluwarsa. Parameter kedua. a. Parameter ketiga. Tidak tepat jika salah satu kriteria di atas tidak terpenuhi. melalui pengamatan Tepat jika obat/bahan obat disimpan berdasarkan bentuk sediaan dan kelas terapi dan secara alfabetis. Tidak tepat jika tidak mengikuti persyaratan di atas. Untuk FEFO jika obat yang ED nya lebih dahulu diletakkan didepan. Parameter keempat. melalui wawancara dan pengamatan Tepat jika obat/bahan obat menggunakan sistem FEFO (First Expired First Out) dan FIFO (First In First Out).

47 . b. Analisa korelasi antara tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian dengan kinerja dalam penyimpanan obat di apotek yaitu dengan menggunakan uji korelasi Gamma. Tidak baik jika total skor < median Skala : Ordinal 9.

1. peneliti mengambil data dengan menggunakan lembaran Check list dan Kuesioner. Hasil Analisa Data Sosiodemografi Responden Data sosiodemografi yang diteliti antara lain yaitu jenis kelamin. Hasil data sosiodemografi dapat dilihat pada tabel dibawah ini : 48 . pendidikan terakhir. peneliti menggunakan lembaran kertas yang berisi 4 parameter-parameter dalam kinerja penyimpanan obat yang terdiri dari 105 item obat tiap apotek. Apotek yang bersedia berpartisipasi sebanyak 21 apotek yang memenuhi kriteria inklusi yaitu sebanyak 45 responden dari dua kecamatan tersebut. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. dan lama bekerja. Sedangkan kuesioner. Didapatkan jumlah apotek berdasarkan data Dinkes sebanyak 49 apotek. rentang usia. Dalam rangka memperoleh data yang diperlukan. peneliti mengambil data dengan memberikan lembaran kertas yang diisi sendiri oleh tenaga kefarmasian yang berisi 26 pertanyaan yang berkaitan dengan kepuasan kerja tenaga kefarmasian di apotek. Dalam pengambilan data menggunakan Check list.1 Hasil Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan November sampai Desember tahun 2016 di apotek-apotek yang ada di kecamatan Pekanbaru Kota dan di Kecamatan Tenayan Raya kota Pekanbaru. Setelah di telusuri ternyata hanya terdapat 44 apotek yang ada di dua kecamatan tersebut.

86 Puas 10 Fasilitas 502 675 0.7 % 2.80 Puas 4 Perusahaan dan manajemen 366 450 0.82 Puas 49 . Hasil Analisa Data Sosiodemografi Responden Jumlah Persentase No.81 Puas 5 Pengawasan 572 675 0. Lama bekerja <1 tahun 9 20.3 % Terakhir S1 Apoteker 8 17.9 % 2.89 Puas 3 Gaji 542 675 0.86 Puas 8 Aspek sosial dalam pekerjaan 573 675 0.84 Puas 6 380 pekerjaan 7 Kondisi kerja 581 675 0.3 % Pendidikan S1 Farmasi 6 13. D3 Farmasi 6 13.4 % 18 – 40 Tahun 40 88.3 % >5 tahun 12 26. Hasil Analisa Tingkat Kepuasan Kerja Responden Faktor-faktor yang Skor Nilai Interpretasi Skor No Mempengaruhi Kepuasan Ideal Korelasi Total Kerja 1 Kesempatan untuk maju 338 450 0.74 Cukup Puas Total 4845 5850 0.75 Puas 2 Keamanan kerja 606 675 0.84 Puas Faktor intrinsik dari 450 0.84 Puas 9 Komunikasi 385 450 0. Hasil Analisa Data Tingkat Kepuasan Kerja Responden Berdasarkan Faktor- faktor yang Mempengaruhinya Tabel 5.6 % 1. Rentang Usia 41 – 60 tahun 5 11. Jenis Kelamin Perempuan 38 84.6 % 3.1 % >60 Tahun 0 0% SMK Farmasi 25 55.Tabel 4.8 % S2 Apoteker 0 0% 4.0 % 1-5 tahun 24 53. Data Sosiodemografi (n=45) (%) Laki-laki 7 15.

66 28.78 Total 45 100 4.33 86.23 24.362 0.09 1. Hasil Analisa Korelasi Tingkat Kepuasan Kerja Responden Terhadap Kinerja Responden dalam Penyimpanan Obat di Apotek Tabel 8.488 Puas 5 32 37 Signifikan Total 7 38 45 50 . Hasil Analisa Hubungan Tingkat Kepuasan Kerja Responden Terhadap Kinerja Responden Kinerja Uji Korelasi Tidak Total Baik R baik P Hasil Cukup 2 6 8 Tidak Kepuasan puas 0. Hasil Analisa Kinerja Responden dalam Penyimpanan Obat No Kategori Jumlah Responden Persentase (%) 1 Baik 37 82.67 4 Parameter 4 100 0 Rata-rata 71. Hasil Analisa Data Tingkat Kinerja Responden dalam Penyimpanan Obat di Apotek Tabel 6.3.76 2 Parameter 2 98. Hasil Analisa Penyimpanan Obat di Apotek Tepat No Parameter Tidak Tepat (%) (%) 1 Parameter 1 75.34 Tabel 7.22 2 Tidak Baik 8 17.91 3 Parameter 3 13.

26 km². Dengan luas wilayah yang relatif kecil dibandingkan dengan kecamatan- kecamatan lainnya di kota Pekanbaru. Dari 44 apotek tersebut didapat apotek yang bersedia berpartisipasi di Pekanbaru Kota sebanyak 10 apotek dan Tenayan Raya sebanyak 11 apotek. namun Kecamatan Pekanbaru Kota memiliki kepadatan penduduk yang cukup besar yaitu 12. Kepuasan kerja tenaga kefarmasian sangat penting hubungannya dengan pelayanan kefarmasian. Setelah peneliti melakukan survei langsung ke lapangan didapatkan hanya 44 apotek yang ada di 2 kecamatan tersebut.2 Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian terhadap kinerja dalam penyimpanan obat di apotek.4. Kecamatan Pekanbaru Kota memiliki luas wilayah mencapai 2. Jadi hanya 21 apotek 51 . 2015).27 km². Penelitian ini dilakukan dari bulan November sampai Desember tahun 2016 di Kecamatan Pekanbaru Kota dan Kecamatan Tenayan Raya kota Pekanbaru. Sedangkan Kecamatan Tenayan Raya memiliki luas wilayah 171. 2016). Kecamatan Tenayan Raya memiliki 23 apotek. Berdasarkan dari data Dinas Kesehatan (DinKes) didapatkan jumlah apotek yang ada di kecamatan Pekanbaru Kota dan kecamatan Tenayan Raya kota Pekanbaru sebanyak 49 apotek.794 jiwa/km². maka akan meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian. Jika tenaga kefarmasian merasa puas dengan pekerjaannya. Kecamatan Pekanbaru Kota memiliki 21 apotek (Anonim. Dengan luas wilayah terbesar di Pekanbaru (Anonim.

yang mau dilakukan penelitian. Dari 21 apotek tersebut didapat 45 responden dari

dua kecamatan. Kecamatan Pekanbaru Kota sebanyak 29 responden dan

kecamatan Tenayan Raya sebanyak 16 responden yang memenuhi kriteria inklusi.

23 apotek yang tidak termasuk dalam pengambilan sampel dikarenakan apotek

tersebut menolak diberikan kuesioner ataupun lembar Check list oleh peneliti, dan

termasuk dalam kriteria eksklusi dalam penelitian ini.

Sebelum pengambilan sampel secara keseluruhan, diambil terlebih dahulu

20 sampel untuk dilakukan validasi dan reliabilitas terhadap kuesioner. Dari 26

pernyataan didapatkan hasil r hitung lebih besar dari r tabel yaitu 0,44 dengan

tingkat kepercayaan 95% dan d = 5%, sehingga semua pernyataan dikatakan

valid. Nilai α cronbach yang didapat adalah 0,957 menunjukkan nilai α cronbach

yang lebih besar dari 0,60 sehingga semua pernyataan dikatakan reliabel. Setelah

dinyatakan valid dan reliabel, baru kuesioner dibagikan ke semua responden di

apotek yang ada di 2 kecamatan, yaitu kecamatan Pekanbaru Kota dan Kecamatan

Tenayan Raya. Penelitian ini menggunakan kuesioner kepuasan kerja tenaga

kefarmasian dan lembar Check list penyimpanan obat di apotek sebagai

pengambilan data. Dalam kuesioner terdapat 26 pertanyaan yang disusun oleh

peneliti berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut

Gilmer (1996) dan pemilihan analisa berdasarkan skala Likert. Dalam kuesioner

terdapat 5 pilihan penilaian kepuasan kerja yang meliputi sangat puas, puas,

cukup puas, tidak puas dan kurang puas. Lembar Check list penyimpanan obat di

apotek disusun peneliti berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 35 tahun

2014 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek.

52

4.2.1 Analisa Univariat

1. Pembahasan Analisa Data Sosiodemografi Responden

a) Analisa berdasarkan jenis kelamin

Pada analisa data distribusi frekuensi jenis kelamin responden di

apotek kecamatan Pekanbaru Kota dan Tenayan Raya Kota Pekanbaru

diperoleh 45 orang responden. Responden yang berjenis kelamin laki-laki

sebanyak 7 responden (15,6%) sementara responden yang berjenis

kelamin perempuan sebanyak 38 responden (84,4%). Dari 45 responden

didapatkan data bahwa responden perempuan lebih banyak dari laki-laki

dengan jumlah 38 responden yaitu 84,4%. Hal ini menunjukkan bahwa

karyawan di apotek-apotek kecamatan Pekanbaru Kota dan Tenayan Raya

kota Pekanbaru rata-rata didominasi oleh perempuan dan hal ini

menunjukkan bahwa tenaga kefarmasian lebih banyak diminati dan sesuai

untuk kaum perempuan.

Besarnya jumlah tenaga kefarmasian perempuan yang bekerja di

apotek mungkin dikarenakan lebih besarnya minat perempuan dalam

bidang farmasi dibandingkan dengan laki-laki. Ini didukung oleh

penelitian menurut Djamaan, dkk (2013) bahwa dari 50 responden

didapatkan data bahwa responden wanita lebih banyak dari pada pria

dengan jumlah 41 responden yaitu 82%. Hal ini juga dapat dilihat dari

jumlah mahasiswa yang ada di Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau

(STIFAR) lebih dominan perempuan dibandingkan laki-laki. Dari data ini

53

dapat disimpulkan bahwa tenaga kefarmasian lebih banyak diminati oleh

perempuan daripada laki-laki.

b) Analisa berdasarkan rentang usia

Analisa data distribusi frekuensi rentang usia dibagi menjadi 3

kategori berdasarkan Hurlock (2001), yaitu dewasa muda (18 tahun-40

tahun), dewasa madya (41 tahun-60 tahun), dan dewasa lanjut (> 61

tahun). Didapatkan responden terbanyak yaitu dewasa muda (18 tahun-40

tahun) sebanyak 40 responden (88,9%) dan dewasa madya (41 tahun-60

tahun) sebanyak 5 responden (11,1%). Hal ini menggambarkan kondisi

tenaga kerfarmasian yang bekerja di apotek pada umumnya adalah farmasi

muda yang baru saja lulus. Greenberg dan Baron 2003 mengemukakan

bahwa pada umur 30-an keinginan untuk bekerja lebih tinggi dan akan

menurun pada umur 40-an dan akan meningkat lagi pada umur 50-an

sampai mereka pensiun. Dari data ini menggambarkan bahwa pada usia

dewasa muda akan mempengaruhi kekuatan fisik dan psikis seseorang

sehingga akan mempengaruhi potensi kerja di apotek. Pada usia dewasa

muda ini, merupakan usia tamatan SMK Farmasi yang sudah siap bekerja

di apotek.

c) Analisa berdasarkan pendidikan terakhir

Distribusi frekuensi pendidikan terakhir dibagi menjadi 5 kategori,

yaitu SMK Farmasi, D3 Farmasi, S1 Farmasi, S1 Apoteker dan S2

Apoteker. Berdasarkan hasil data yang diperoleh responden dengan

pendidikan tertinggi adalah SMK Farmasi yaitu sebanyak 25 responden

54

Tempat pekerjaan yang banyak dicari oleh tamatan SMK Farmasi adalah apotek. hanya tingkat ilmu yang didapatkan berbeda. S1 Farmasi sebanyak 6 responden (13. Hal ini mendukung teori dari Hasibuan (2001) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan seseorang dapat mempengaruhi pengalaman kerja. maka akan semakin tinggi keahlian dan keterampilan.3%) dan D3 Farmasi sebanyak 6 responden (13.3%). dkk (2011) dari hasil penelitian sebagian besar lulusan SMF/SAA yang bekerja di apotek menggambarkan bahwa kondisi apotek yang masih menggunakan Asisten Apoteker (AA) yang baru lulus untuk membantu kinerja apoteker di apotek. Hal ini menunjukkan tingkat pendidikan yang ditempuh oleh sebagian besar karyawan apotek adalah SMK Farmasi.6%). Sehingga di apotek lebih 55 . S1 Apoteker sebanyak 8 responden (17. Tenaga kefarmasian yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi cenderung memiliki wawasan dan ilmu yang tinggi pula.8%). sehingga pengalaman kerja akan meningkat. Bukan berarti tenaga kefarmasian yang tamatan SMK Farmasi tidak memiliki wawasan dan ilmu yang tinggi. dengan arti semakin tinggi tingkat pendidikan karyawan. Semakin tinggi tingkat pendidikan tenaga kefarmasian maka semakin tinggi pula motivasinya dalam bekerja sehingga akan mempengaruhi kinerjanya di apotek. karena tamatan SMK Farmasi sudah siap untuk bekerja di apotek dengan bekal ilmu yang mereka dapatkan sewaktu di sekolah.(55. Dari data yang didapat lebih banyak tamatan SMK farmasi yang bekerja di apotek. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Atmini.

Oleh karena itu S1 Apoteker dan S2 Apoteker dituntut untuk memiliki pengetahuan yang tinggi. Tamatan D3 berjumlah 6 responden dan S2 Apoteker tidak terdapat didalam sampel. Dari hasil analisa didapatkan juga bahwa pendidikan S1 Apoteker hanya berjumlah 8 responden. 56 . pelayanan obat atas resep dokter. pengembangan obat. peranan Apoteker dalam pelayanan kefarmasian dapat ditinjau dari 2 aspek. yaitu berupa pengendalian mutu sediaan farmasi. pengelolaan apotek dengan sistem manajemen yang baik. keterampilan dan wawasan. Seperti yang kita ketahui bahwa peran apoteker di apotek sangat penting. yaitu aspek pengabdian profesi yang berupa layanan yang terkait dengan sifat pemerataan kesempatan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kefarmasian secara profesional. pengelolaan obat. serta memberikan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) terutama dalam upaya swamedikasi (self medication) yang dilakukan oleh masyarakat. pengadaan. bahan obat dan obat tradisional.banyak karyawan yang memiliki tamatan SMK Farmasi dibandingkan tamatan Sarjana Farmasi. ini dikarenakan tidak stand by nya apoteker di apotek dan mungkin juga saat pemberian kuesioner apoteker tidak ikut dalam pengisian. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan no 35 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Ini dikarenakan di setiap Apotek hanya memiliki 1 penanggung jawab apotek yaitu seorang apoteker. pelayanan informasi obat. penyimpanan. pengamanan. dan distribusi obat.

dan aspek manajerial yang dikaitkan dengan kelangsungan hidup apotek itu sendiri. PIO dan penguasaan obat-obatan yang dijual di apotek dibandingkan dengan tamatan SMK Farmasi. Menurut Boschmans. Sehingga lulusan sarjana farmasi sangat dibutuhkan di apotek karena mereka sudah memiliki bekal ilmu yang banyak tentang dunia kefarmasian sehingga pelayanan di apotek akan lebih baik. Tenaga kefarmasian lulusan D3 Farmasi. pembacaan resep. hal ini menunjukkan bahwa yang terbanyak adalah 1-5 tahun. Hal ini menggambarkan bahwa 57 . 1-5 tahun dan > 5 tahun.7%) yang bekerja selama > 5 tahun. S1 farmasi memiliki keterampilan dalam peracikan obat. Berdasarkan data distribusi frekuensi lama bekerja diperoleh sebanyak 12 responden (26. dkk (2015) menyatakan bahwa kualitas pendidikan sangat mempengaruhi keterampilan para AA dan lulusan SMK Farmasi dalam melakukan pekerjaan kefarmasian.3%) yang bekerja selama 1-5 tahun dan yang terendah adalah yang bekerja selama < 1 tahun sebanyak 9 responden (20. sebanyak 24 responden (53.0%). d) Analisa berdasarkan lama bekerja di apotek Analisa data distribusi frekuensi lama bekerja dibagi menjadi 3 bagian yaitu yang bekerja selama < 1 tahun. Ini disebabkan karena apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kefarmasian yang jumlahnya banyak dan menjadi pilihan tempat kerja bagi tenaga kefarmasian terutama yang baru tamat.

Tenaga kefarmasian yang memiliki masa kerja 1-5 tahun dan >5 tahun cenderung sudah memilki keterampilan dalam bekerja dan diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di apotek tersebut. Pembahasan Analisa Tingkat Kepuasan Kerja Responden a) Analisa tingkat kepuasan kerja pada faktor kesempatan untuk maju 58 . Dengan demikian tenaga kefarmasian yang memiliki masa kerja yang lama akan mampu untuk membantu meningkatkan kinerja apoteker di apotek karena mereka sudah memiliki penyesuaian diri dan pengalaman kerja yang banyak. Hal ini akan berdampak pada dirinya sendiri juga akan berdampak bagi apotek tempat tenaga kefarmasian itu bekerja. maka kinerjanya juga akan memburuk. Jika tenaga kefarmasian tidak puas dengan pekerjaannya. Jika kinerjanya sudah buruk pihak apotek tentu akan lebih tegas lagi menyikapi permasalahan tersebut. tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.74. responden yang memiliki masa kerja 1-5 tahun adalah seorang farmasis muda yang baru saja lulus. Menurut Foster (2001) menyatakan bahwa dimensi pengalaman kerja dapat dilihat dari lama waktu atau masa kerja. 2. Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan bahwa fasilitas menjadi faktor paling terendah dalam kepuasan kerja tenaga kefarmasian sebesar 0. serta jenis pekerjaan. Sehingga ketidakpuasan kerja akan timbul dan tenaga kefarmasian rentan untuk berpindah-pindah pekerjaan untuk mencari kenyamanan saat bekerja.

dan tidak puas. yang dianalisa menggunakan skala Likert. puas. Dari 2 pernyataan pada faktor kepuasan untuk maju. dikarenakan pada umumnya yang sering mengikuti seminar dan pelatihan adalah apoteker. Pada faktor kesempatan untuk maju ini terdapat 2 item pertanyaan dengan 5 kriteria jawaban. Pada pernyataan pertama tidak semua tenaga kefarmasian dapat mengikuti seminar dan pelatihan. Yang pertama adalah faktor kesempatan untuk maju. kurang puas. cukup puas. didapatkan pada pernyataan pertama dan kedua sebesar 3.73 dan 3. Sehingga mampu mendorong dan mengarahkan kreativitas yang dimiliki oleh tenaga kefarmasian untuk memperbaiki dan meningkatkan efektifitas pelayanan dalam mewujudkan tujuan dari apotek tersebut. Berdasarkan hasil data distribusi frekuensi tingkat kepuasan kerja rata-rata responden pada faktor kesempatan untuk maju didapatkan nilai korelasi 0. meliputi sangat puas. Pada pernyataan kedua PSA memberikan kesempatan bagi tenaga kefarmasian yang bekerja di apoteknya untuk mengikuti seminar atau pelatihan guna untuk memperoleh pengetahuan serta wawasan baru yang selanjutnya akan diterapkan di apotek tempat tenaga kefarmasian itu bekerja.75 dengan interpretasi puas. Pada penelitian tingkat kepuasan kerja tenaga kefamasian ini terdapat 10 faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja itu sendiri.78. Kegiatan pelatihan ataupun seminar sangat penting karena bermanfaat guna menambah pengetahuan atau keterampilan untuk tenaga kefarmasian terutama untuk apoteker. Gambaran kepuasan kerja terhadap 59 .

b) Analisa tingkat kepuasan kerja pada faktor keamanan kerja Faktor kedua dalam tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian adalah keamanan kerja yang akan dianalisa menggunakan skala Likert. Menurut Ivana. maupun promosi) dimana tenaga kefarmasian dirasakan perlu untuk mengikuti seminar. dimana selalu tersedia APAR di apotek. peluang pengembangan (persepsi karyawan terhadap kesempatan dalam mengikuti pelatihan. jika tempat kerja tidak terorganisir dan banyak terdapat bahaya. 2014 dalam penelitiannya yang berjudul 60 . cukup puas. kurang puas. Jika tempat kerja aman dan sehat. kerusakan dan absen sakit tak terhindarkan. Sebaliknya.89 dengan interpretasi puas. Berdasarkan hasil data distribusi frekuensi tingkat kepuasan kerja rata-rata responden pada faktor kemanan kerja didapatkan nilai korelasi 0. Pada faktor keamanan kerja ini terdapat 3 item pertanyaan dengan 5 kriteria jawaban. setiap orang dapat melanjutkan pekerjaan mereka secara efektif dan efisien. dkk. dan tidak puas. mengakibatkan hilangnya pendapatan bagi pekerja dan produktivitas berkurang bagi suatu apotek. puas. meliputi sangat puas. pelatihan ataupun training sehingga dapat memotivasi dirinya untuk mengerjakan tugas- tugas mereka di apotek dengan baik dan mereka akan lebih merasa puas serta termotivasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di apotek tersebut. Dari ke 3 item pernyataan pada keamanan kerja ini. didapatkan nilai tertinggi yaitu pada poin ke 2. pendidikan.

Maka dapat disimpulkan bahwa dari ketiga pernyataan. Untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh karyawannya. karena apabila sudah terciptanya keamanan dan kenyamanan dalam bekerja maka kepuasan kerja akan timbul sehingga dapat meningkatkan kinerja tenaga kefarmasian di apotek. Total capaiannya responden untuk kepuasan terhadap keamanan kerja adalah berada dalam kriteria kurang. Ini bertentangan dengan penelitian menurut Djamaan. c) Analisa tingkat kepuasan kerja pada faktor gaji Faktor ketiga dalam tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian adalah gaji yang akan dianalisa menggunakan skala Likert. Pada faktor 61 . 2013 yang menyatakan bahwa faktor yang paling rendah yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja adalah faktor keamanan kerja di apotek. dkk. Jaminan keamanan akan sangat mempengaruhi timbulnya rasa puas dalam bekerja. Analisa komitmen manajemen Rumah Sakit (RS) terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada RS Prima Medika Pemalang menyatakan bahwa sudah terdapat pengadaan alat-alat yang menunjang untuk keselamatan kerja yaitu APAR dan safety sign. responden merasa puas dengan keamanan kerja yang ada di apotek tempat mereka bekerja serta didukung adanya APAR di apotek dan PSA menjalankan apotek sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. RS mengadakan pelatihan penggunaan APAR serta alat pemadam api tradisional dengan mendatangkan pemadam kebakaran unit pemalang dan diikuti oleh semua karyawan RS.

Sebagian responden puas dengan gajinya karena sesuai dengan perjanjian kerja. kurang puas. dkk (2014) menjelaskan bahwa pasal sub faktor gaji dan kompensasi. dan tidak puas. hal ini memang bisa diterima. Sebagian besar orang berpendapat bahwa gaji atau upah merupakan faktor utama untuk dapat menimbulkan kepuasan kerja. maka gaji atau upah ini tidak menjadi faktor utama. Sebagian besar responden mengaku puas dengan pemberian gaji yang telah diberikan. meliputi sangat puas. Sampai taraf tertentu. Namun pada dasarnya kepuasan kerja 62 . maka upah atau gaji merupakan kebutuhan dasar. jika gaji yang diberikan ke karyawan rendah dan terlambat maka akan menimbulkan ketidakpuasan kerja pada karyawan. dimana uang merupakan kebutuhan yang sangat vital untuk bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. puas. tingkat kepuasannya adalah cukup.gaji ini terdapat 3 item pertanyaan dengan 5 kriteria jawaban. terutama dalam negara yang sedang berkembang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh IF.80 dengan interpretasi puas. Akan tetapi kalau masyarakat sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarganya secara wajar. cukup puas. Ini sejalan dengan pendapat Marwansyah dan Mukaram (2000) bahwa salah satu yang mempengaruhi kepuasan kerja yakni gaji. Sesuai dengan tingkatan motivasi manusia yang dikemukakan oleh Maslow. Berdasarkan hasil data distribusi frekuensi gaji rata-rata responden pada faktor gaji didapatkan nilai korelasi 0. Menurut Andini (2006) gaji merupakan indikator kepuasan karyawan dalam bekerja.

karena bisa jadi gaji menurut satu karyawan sudah cukup memuaskan namun untuk karyawan lain kurang memuaskan. sehingga dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan di apotek tersebut. d) Analisa tingkat kepuasan kerja pada faktor perusahaan dan manajemen 63 . Gaji yang diterima oleh Apoteker yang bekerja di apotek yang ada di kota Padang bersifat signifikan dan berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja Apoteker di apotek. merupakan sesuatu yang bersifat individual. Karena jika gajinya sesuai dengan kinerja tenaga kefarmasian tersebut maka kepuasan kerja juga akan meningkat.20.79%. Tingkat kepuasan yang berbeda-beda tersebut bisa terjadi karena persepsi masing-masing yang dialami oleh karyawan. dkk (2013) dalam penelitiannya mengatakan bahwa Gaji merupakan imbalan atas pekerjaan yang dilakukan seseorang untuk orang lain dapat mempengaruhi kepuasan kerja. Tenaga kefarmasian sudah merasa puas dengan ketepatan waktu pemberian gaji selama bekerja di apotek. Perolehan gaji yang diterima oleh Apoteker berada dalam kriteria baik dengan rata-rata jawaban responden sebesar 72. Hal ini tentu dapat menjadi masukan bagi pemilik apotek untuk lebih memperhatikan gaji yang diberikan kepada tenaga kefarmasian yang bekerja di apoteknya. termasuk persepsi karyawan terhadap gaji. Dari penelitian ini pernyataan yang memiliki poin tertinggi adalah pada pernyataan ke 3 dimana gaji yang diterima tenaga kefarmasian tepat waktu memiliki nilai 4. karena setiap individu memliliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda. Menurut Djamaan.

Manajemen perlu melakukan komunikasi antara karyawan dan atasan serta melibatkan peran serta yang aktif dalam lingkungan kerja. Dengan demikian apabila suasana kerja di apotek yang kondusif maka akan tercipta lingkungan kerja yang baik. Manajemen apotek juga perlu memberikan fasilitas kerja yang dapat bermanfaat serta mendukung tenaga kefarmasian dalam melakukan pekerjaan kefarmasian yang diharapkan memperoleh 64 . Faktor keempat dalam tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian adalah faktor perusahaan dan manajemen yang akan dianalisa menggunakan skala Likert.81 dengan interpretasi puas. manajemen merupakan ilmu dan seni untuk mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. kurang puas. meliputi sangat puas. dan tidak puas. Manajemen yang tepat akan memudahkan terwujudnya tujuan perusahaan. Manajemen merupakan alat untuk pencapaian tujuan yang diinginkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tenaga kefarmasian sudah puas dengan manajemen yang berlaku diapotek. cukup puas. Berdasarkan hasil data distribusi frekuensi perusahaan dan manajemen rata-rata responden pada faktor perusahaan dan manajemen didapatkan nilai korelasi 0. Menurut Malayu (2007). Pada faktor perusahaan dan manajemen ini terdapat 2 item pertanyaan dengan 5 kriteria jawaban. karyawan dan masyarakat. puas. sehingga sudah memenuhi harapan tenaga kefarmasian untuk mendapatkan haknya selama bekerja di apotek tersebut.

Dimana PSA konsisten menjalankan peraturan yang dibuat yaitu setiap apotek wajib mengikuti peraturan- peraturan yang berlaku sesuai dengan undang-undang. Pada faktor pengawasan ini terdapat 3 item pertanyaan dengan 5 kriteria jawaban. Dengan adanya pengawasan yang baik dari PSA. Dengan pengawasan yang baik dapat mencegah terjadinya penyimpangan dan menjamin kegiatan apotek berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. meliputi sangat puas. Pengawasan juga merupakan suatu usaha mengevaluasi prestasi kerja pada tenaga kefarmasian dan mengadakan tindakan yang dianggap perlu untuk menyesuaikan hasil pekerjaan agar dapat sesuai dengan yang diharapkan. Terdapat pengaruh kebijakan dan manajemen apotek terhadap kepuasan kerja tenaga kefarmasian. sehingga dia akan melakukan pekerjaan semaksimal mungkin dan 65 . maka tenaga kefarmasian akan berhati-hati dalam mengerjakan pekerjaan. hasil kerja yang lebih baik.31 pada pernyataan ke 2. Dalam suatu apotek fungsi pengawasan sangatlah dibutuhkan. puas. Berdasarkan hasil data distribusi frekuensi pengawasan rata-rata responden pada faktor pengawasan didapatkan nilai korelasi 0. Pada faktor pengawasan didapatkan nilai tertinggi sebesar 4. tidak melanggarnya hanya demi keuntungan sendiri ataupun kelompok.84 dengan interpretasi puas. dan tidak puas. e) Analisa tingkat kepuasan kerja pada faktor pengawasan Faktor kelima dalam tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian adalah faktor pengawasan yang akan dianalisa menggunakan skala Likert. kurang puas. cukup puas.

produktivitas kerjanya pun akan optimal. Bila tenaga kefarmasian merasa

produktivitasnya meningkat maka kepuasannya pun akan meningkat.

Gambaran kepuasaan kerja terhadap pengawasan yang dilakukan

oleh Pemilik Sarana Apotek (PSA) terhadap tenaga kefarmasian dapat

dilihat sejauh mana PSA dianggap sungguh-sungguh memperhatikan dan

mendukung tenaga kefarmasian yang bekerja di apoteknya. Dimana

pengawasan ini meliputi pengamatan, penelitian, penilaian dari

pelaksanaan seluruh kegiatan yang ada di apotek yang sedang ataupun

sudah berjalan untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Sehingga PSA memastikan apakah semua sudah berjalan dengan

memuaskan sesuai dengan arah tujuan. Ini berarti bahwa sebagian besar

tenaga kefarmasian sudah merasa puas terhadap pengawasan yang

dilakukan oleh PSA di apotek tempat mereka bekerja.

Ini sejalan dengan penelitian oleh Gumilar (2010) menemukan

bahwa semakin jelas peraturan yang dibuat oleh menajemen dan semakin

mendukung kinerja karyawan, maka semakin tinggi pula motivasi dan

kepuasan kerja dari karyawan.

f) Analisa tingkat kepuasan kerja pada faktor intrinsik dari pekerjaan

Faktor keenam dalam tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian

adalah faktor intrinsik dari pekerjaan yang akan dianalisa menggunakan

skala Likert. Pada faktor intrinsik dari pekerjaan ini terdapat 2 item

pertanyaan dengan 5 kriteria jawaban, meliputi sangat puas, puas, cukup

puas, kurang puas, dan tidak puas. Berdasarkan hasil data distribusi

66

frekuensi faktor intrinsik dari pekerjaan rata-rata responden pada faktor

intrinsik dari pekerjaan didapatkan nilai korelasi 0,84 dengan interpretasi

puas. Kepuasan terhadap pekerjaan adalah salah satu dimensi kepuasan

kerja karyawan. Beberapa ahli mengemukakan pendapat mereka mengenai

kepuasan kerja terhadap pekerjaan, antara lain Rivai (2013)

mengemukakan salah satu faktor-faktor kepuasan kerja adalah pekerjaan

yang sesuai dengan minat dan kemampuan. Responden merasa selalu

tertarik dan ingin meningkatkan kemampuan mereka dengan cara selalu

belajar, meskipun demikian responden mengaku terkadang mereka merasa

jenuh akan pekerjaan yang monoton sehingga bosan bekerja.

Berdasarkan hasil didapatkan bahwa pada pernyataan ke 2

memiliki nilai skor tertingi dari 2 pernyataan tersebut yaitu sebesar 4,31.

Ini menunjukkan bahwa tenaga kefarmasian yang bekerja di apotek

tersebut sudah sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki.

Oleh karena itu tenaga kefarmasian sudah mengerti tentang setiap hal yang

berkaitan dengan apotek dan isinya sehingga mereka tidak merasa

terbebani dengan pekerjaan yang telah diberikan. Hal ini sejalan dengan

penelitian Nawawi (2011) bahwa pekerjaan berkaitan erat dengan

kepuasan, dimana hasil kerja yang baik akan memberikan pengalaman

bagi pelaku dan selanjutnya akan membuat mereka untuk mengembangkan

pekerjaannya.

Hal ini menunjukkan bahwa tenaga kefarmasian yang bekerja di

apotek kecamatan Pekanbaru Kota dan kecamatan Tenayan Raya sudah

67

merasa puas dengan pekerjaan yang diberikan di apotek. Ini sesuai dengan

pendidikan terakhir mereka yang berhubungan dengan dunia farmasi.

Sehingga mereka merasa puas dengan pekerjaan yang sesuai dengan latar

belakang pendidikan mereka. Dengan demikian, hasil kinerja yang baik

dari tenaga kefarnasian akan mampu membuat mereka mengembangkan

pekerjaannya dan akan berdampak baik bagi apotek itu sendiri.

g) Analisa tingkat kepuasan kerja pada faktor kondisi kerja

Faktor ketujuh dalam tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian

adalah faktor kondisi kerja yang akan dianalisa menggunakan skala Likert.

Pada faktor kondisi kerja ini terdapat 3 item pertanyaan dengan 5 kriteria

jawaban, meliputi sangat puas, puas, cukup puas, kurang puas, dan tidak

puas. Berdasarkan hasil data distribusi frekuensi kondisi kerja rata-rata

responden pada faktor kondisi kerja didapatkan nilai korelasi 0,86 dengan

interpretasi puas. Kondisi kerja yang dimaksud adalah ketersediaan

lingkungan kerja yang aman dan kondusif untuk mendukung keselamatan

kerja tenaga kefarmasian. Kondisi lingkungan kerja sangat penting bagi

tenaga kefarmasian untuk kenyamanan pribadi maupun untuk

memudahkan pengerjaan tugas di apotek.

Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa dari 3 item pernyataan,

didapatkan pernyataan dengan nilai tertinggi adalah pada item nomor 1.

Dimana kondisi penerangan (lampu/cahaya) diruangan tempat kerja tenaga

kefarmasian sudah baik. Tenaga kefarmasian sudah merasa puas dengan

kondisi kerja di apotek kecamatan Pekanbaru Kota dan kecamatan

68

Sehingga tenaga kefarmasian mampu meningkatkan kinerjanya di apotek dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang baik terhadap pasien yang berkunjung. 69 . maka menimbulkan ketidakpuasan bagi tenaga kefarmasian sehingga mereka merasa tidak nyaman dan dapat menurunkan produktivitas. dan tidak puas. 2013 yaitu kondisi kerja seperti penerangan yang cukup. baik untuk kenyamanan mereka pribadi maupun kenyamanan pasien yang datang ke apotek tersebut. nyaman. puas. Pada faktor aspek sosial dalam pekerjaan ini terdapat 3 item pertanyaan dengan 5 kriteria jawaban. dkk. meliputi sangat puas. Jika kondisi kerja tidak menyenangkan.68%. Ini bertentangan dengan penelitian oleh Djamaan. cukup puas. Tenaga kefarmasian peduli akan lingkungan kerjanya. tidak adanya polusi suara dan puasnya dengan jam kerja hanya berada dalam kategori cukup yaitu 75. Kondisi kerja yang mendukung merupakan salah satu faktor yang terdapat dalam kepuasan kerja. h) Analisa tingkat kepuasan kerja pada faktor aspek sosial dalam pekerjaan Faktor ke delapan dalam tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian adalah faktor aspek sosial dalam pekerjaan yang akan dianalisa menggunakan skala Likert. Untuk mendapatkan lingkungan kerja yang baik diperlukan kesadaran pihak manajemen dari apotek tersebut. bersih dan terkendali dalam menjalankan kerjanya. Tenayan Raya kota Pekanbaru. kurang puas. Tenaga kefarmasian lebih menyukai kondisi kerja yang aman. suhu udara yang menunjang aktifitas kerja.

Hal ini dapat dilihat dari 5 item pernyataan puas dengan peran positif pimpinan di tempat kerja. mengorganisasikan.92% apoteker merasa puas terhadap pimpinannya. dimana PSA adalah pemilik modal yang ada di apotek.84 dengan interpretasi puas. mempunyai hubungan baik dengan pimpinan. pimpinan memberikan masukan apabila terjadi kesulitan. Penelitian ini menunjukkan 70 . Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pimpinan adalah Pemilik Sarana Apotek (PSA). Dari 3 item pernyataan didapatkan nilai tertinggi yaitu sebesar 4. Gambaran kepuasan kerja terhadap kepemimpinan. Penerapan gaya kepemimpinan yang baik dari PSA mampu menimbulkan kepuasan tenaga kefarmasian terhadap kerjanya sehingga dengan sendirinya pelayanan kefrmasian akan menjadi lebih maksimal. pimpinan yang konsisten danpemimpin yang adil kepada bawahannya. 2013 bahwa 73. dan begitu juga sebaliknya.Berdasarkan hasil data distribusi frekuensi aspek sosial dalam pekerjaan rata-rata responden pada faktor aspek sosial dalam pekerjaan didapatkan nilai korelasi 0. Berdasarkan penelitian menurut Djamaan. merencanakan.33 pada pernyataan item pertama. peningkatan kepuasan kerja tenaga kefarmasian di apotek tidak bisa dilepas dari peranan pemimpin dalam apotek tersebut. Pemimpin merupakan pencetus tujuan. menggerakkan dan mengendalikan seluruh sumber daya yang dimiliki sehingga tujuan dari apotek dapat tercapai secara efektif dan efisien. dkk. dimana PSA selalu memperlakukan tenaga kefarmasian dengan baik.

puas. sehingga apotek mencapai tujuan yang dinginkan. dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tenaga kefarmasian sudah merasa puas dengan komunikasi yang ada di apotek baik dengan sesama tenaga kefarmasian maupun dengan PSA. bahwa tenaga kefarmasian yang bekerja di apotek kecamatan Pekanbaru Kota dan kecamatan Tenayan Raya sudah merasa puas dengan perlakuan PSA selama di apotek.86 dengan interpretasi puas. Hal ini sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja. cukup puas. meliputi sangat puas. kurang puas. adanya pihak atasan untuk mau mendengar. Pada faktor komunikasi ini terdapat 2 item pertanyaan dengan 5 kriteria jawaban. 71 . Komunikasi merupakan hal yang penting didalam hubungan antara PSA dan tenaga kefarmasian. misalnya. Dengan adanya hubungan yang baik antara PSA dengan tenaga kefarmasian akan memudahkan tenaga kefarmasian melakukan pekerjaannya tanpa beban dan mampu meningkatkan kinerjanya di apotek. memahami. Gilmer dalam buku (As’ad. i) Analisa tingkat kepuasan kerja pada faktor komunikasi Faktor kesembilan dalam tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian adalah faktor komunikasi yang akan dianalisa menggunakan skala Likert. dan tidak puas. Berdasarkan hasil data distribusi frekuensi komunikasi rata-rata responden pada faktor komunikasi didapatkan nilai korelasi 0. 2004) mengemukakan bahwa komunikasi yang lancar antara karyawan dengan pihak manajemen banyak di pakai alasan untuk menyukai jabatannya.

74 dengan interpretasi cukup puas. j) Analisa tingkat kepuasan kerja pada faktor fasilitas Faktor terakhir dalam tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian adalah faktor fasilitas yang akan dianalisa menggunakan skala Likert. sehingga komplain kepada manajemen kurang terwakili. cukup puas. dan tidak puas. Menurut responden hal ini disebabkan adanya kesulitan dalam berkomunikasi dengan atasan. Ini menunjukkan bahwa interaksi antara PSA dengan tenaga kefarmasian harus berjalan dengan baik. Pada faktor fasilitas ini terdapat 3 item pertanyaan dengan 5 kriteria jawaban. Ini bertentangan dengan penelitian oleh IF. dkk (2014) dalam penelitiannya yang berjudul faktor pembentuk kepuasan kerja tenaga kesehatan di rumah sakit menyatakan bahwa tingkat kepuasan pada komunikasi dalam hubungan antara atasan dan bawahan di RS X adalah cukup. Kesulitan tersebut dikarenakan kurang tertampungnya komplain dari responden yang sebagian besar adalah pelaksana oleh kepala instalasinya. puas. meliputi sangat puas. karena ini juga akan mempengaruhi kinerja dari tenaga kefarmasian itu sendiri. kurang puas. Berdasarkan hasil data distribusi frekuensi fasilitas rata-rata responden pada faktor fasilitas didapatkan nilai korelasi 0. Dari 3 item pernyataan didapatkan nilai paling terendah 72 . dan sesama tenaga kefarmasian harus kompak dan adanya kerjasama saat bekerja di apotek untuk meningkatkan kualitas dari pelayanan apotek tersebut dan juga dapat menciptakan kepuasan kerja yang meningkat.

cukup puas. kurang puas. Dengan demikian tenaga kefarmasian menjadi tidak puas dengan pekerjaannya. Sehingga akan mempengaruhi kinerja dari tenaga kefarmasian itu sendiri. k) Analisa total tingkat kepuasan kerja responden Pada penelitian ini analisa tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian dianalisa menggunakan skala Likert. Ini dapat menjadi masukan bagi PSA untuk lebih pintar dalam menyiasati keluhan para tenaga kefarmasian yang bekerja di apoteknya untuk dapat meningkatkan kualitas dan untuk mencapai tujuan dari apotek tersebut. Ini menyatakan bahwa sebagian besar tenaga kefarmasian yang bekerja di apotek merasa kurang mendapatkan fasilitas yang dapat menunjang kinerjanya di apotek. Analisa ini bertujuan untuk melihat seberapa besar nilai korelasi faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja terhadap kepuasan kerja tenaga kefarmasian. Berdasarkan hasil data penelitian diperoleh nilai korelasi total faktor- 73 . Pada faktor ini terdapat 26 item pernyataan dengan 5 kriteria jawaban meliputi sangat puas. dan tidak puas. Dengan begitu tenaga kefarmasian akan lebih menghargai pekerjaannya dan dapat meningkatkan kepuasan kerja di apotek tersebut. mereka akan merasa kurang puas dengan pekerjaannya dikarenakan kurangnya pemberian fasilitas oleh PSA kepada tenaga kefarmasian. sehingga ini akan berdampak pada kinerjanya terutama dalam penyimpanan obat. adalah pada item ke 3 dimana setiap tenaga kefarmasian mendapatkan uang transportasi setiap kedatangan ke apotek. puas.

Hal ini disebabkan oleh pada faktor pertama kesempatan untuk maju. aspek sosial dalam pekerjaan dengan interpretasi puas (0.86).84). Menurut Mangkunegara (2000) kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. pengawasan dengan interpretasi puas (0. Kelangsungan suatu apotek ditentukan oleh tenaga kefarmasiannya.80).74 fasilitas. Dan tenaga kefarmasian merasa cukup puas dengan 0. Hal ini dapat dilihat dari total capaian responden. kondisi kerja dengan interpretasi puas (0.84). perusahaan dan manajemen dengan interpretasi puas (0.89).86). gaji dengan interpretasi puas (0. yaitu kesempatan untuk maju dengan interpretasi puas (0. Dari hasil penelitian secara keseluruhan tenaga kefarmasian merasa puas terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dalam pekerjaan yang mereka lakukan.81).75). faktor intrinsik dari pekerjaan dengan interpretasi puas (0. tenaga kefarmasian sudah mendapatkan kesempatan untuk 74 . Dari ke sepuluh faktor-faktor terdapat 9 faktor yang dirasakan puas oleh tenaga kefarmasian. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tenaga kefarmasian puas terhadap pekerjaannya di apotek.84) dan komunikasi dengan interpretasi puas (0.faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja sebesar 0.82 dengan interpretasi puas. keamanan kerja dengan interpretasi puas (0.

tenaga kefarmasian dengan tenaga kefarmasin maka akan mendorong karyawan berkomunikasi secara lebih terbuka dan rileks tanpa beban. tingkat kepuasan tenaga kefarmasian akan meningkat sehingga mereka nyaman bekerja di apotek tersebut. Dengan adanya hubungan yang baik antara PSA dengan tenaga kefarmasian. serta kebersihan selalu terjaga. penerangan yang cukup. Tugas yang diterima oleh tenaga kefarmasian sesuai dengan minat dan kemampuannya.mengikuti seminar dan pelatihan yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan efektifitas pekerjaan dalam mewujudkan tujuan dari apotek tersebut. kepuasan kerja akan meningkat serta dengan komunikasi yang lancar antara PSA dan tenaga kefarmasian. Gaji yang diterima tenaga kefarmasian sudah berdasarkan kemampuan yang dimiliki dan diberikan tepat waktu sehingga tenaga kefarmasian puas dengan pekerjaannya. sehingga tenaga kefarmasian akan merasa puas dengan pekerjaannya. Keamanan kerja yang dirasakan oleh tenaga kefarmasian sudah puas karena pihak apotek menjalankan apotek sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan sudah tersedianya APAR di setiap apotek. Semakin tinggi tingkat kepuasan kerja tenaga kefarmasian di apotek maka kinerjanya juga akan semakin baik sehingga dapat 75 . Untuk faktor pengawasan yang dilakukan pihak apotek terhadap tenaga kefarmasian sudah berdasarkan peraturan yang berlaku. Selama bekerja di apotek tenaga kefarmasian sudah menerima hak-haknya tepat waktu. Dengan ruang kerja yang nyaman.

Tenaga kefarmasian akan cenderung akan meningkatkan kinerjanya baik dari ukuran kuantitas dan kualitas apabila kepuasan tenaga kefarmasian terpenuhi. maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru. 2013 mengatakan bahwa kinerja karyawan memiliki peranan penting bagi perusahaan. nomor batch dan tanggal kadaluwarsa. meningkatkan kualitas dan kuantitas dari apotek tempat mereka bekerja. Menurut Ariana dan Riana.76% 76 . Berdasarkan hasil penelitian analisa penyimpanan obat di apotek kecamatan Pekanbaru Kota dan kecamatan Tenayan Raya kota Pekanbaru didapatkan hasil bahwa 75. Wadah sekurang-kurangnya memuat nama obat. dan 24. Analisa Penyimpanan Obat a) Analisa penyimpanan obat pada parameter satu Parameter pertama dalam penyimpanan obat Menurut Peraturan Mentri Kesehatan No 35 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek yaitu obat atau bahan obat parameter pertama mengatakan bahwa obat atau bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. 3.23% penyimpanan obat dikategorikan tepat. Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain. Tenaga kefarmasian yang mampu menggunakan keterampilan dan pengetahuannya pada pekerjaannya di apotek akan menjadi sangat puas dengan pekerjaan tersebut. apabila kinerja yang ditampilkan karyawan rendah maka akan mengakibatkan perusahaan dalam mencapai tujuan menjadi terhambat.

Prinsip tersebut dijalankan agar obat yang diterima oleh pasien memiliki kualitas yang sama dengan yang dikeluarkan oleh industri dan perlu ada dokumentasi yang mencakup seluruh kegiatan di apotek tersebut. Jika prinsip-prinsip pada Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) tidak dilaksanakan maka kualitas obat tidak 77 . Ini menunjukkan bahwa tenaga kefarmasian yang bekerja di apotek sudah mengikuti standar penyimpanan obat di apotek yang sesuai dengan Permenkes No 35 tahun 2014. oleh karena itu apoteker di apotek harus melaksanakan prinsip-prinsip mengenai Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Apotek merupakan salah satu fasilitas distribusi yang berhubungan langsung dengan konsumen. Apoteker harus memastikan bahwa pengadaan barang (obat) berasal dari sumber resmi dan sudah memiliki izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan. oleh karena itu pengelolaan obat yang baik harus bisa terlaksana di apotek. 2012). Pengelolaan obat yang baik merupakan faktor utama dalam mendukung tingkat kesembuhan dari suatu penyakit pasien. penyimpanan. Kemudian untuk penyimpanan obatnya pun harus disimpan sesuai dengan kondisi penyimpanan yang direkomendasikan dari industri farmasi yang memproduksi obat tersebut (Anonim. Proses penyalurannya pun harus tetap dipastikan bahwa obat diberikan pada pasien yang tepat dan dengan indikasi yang tepat pula agar tidak terjadi penyalahgunaan obat. sampai pada saat penyerahan obat kepada pasien harus terdokumentasi dan memenuhi prinsip-prinsip dari CDOB.penyimpanan dikatakan tidak tepat. Proses pengadaan obat.

Hasil analisa penyimpanan obat pada parameter kedua di apotek yang ada di Kecamatan Pekanbaru Kota dan Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. ukuran dan fungsinya selama penyimpanan (Anonim. 78 . nomor batch dan tanggal kadaluwarsa sehingga itu akan menimbulkan kesalahan dalam pemberian obat kepada pasien dan akan membahayakan pasien. Ini kemungkinan disebabkan oleh pengeluaran obat dari wadah asli tanpa memberikan informasi yang jelas pada wadah baru tersebut seperti nama obat. didapatkan hasil bahwa 98.91% penyimpanan obat dikatakan tidak tepat. 2004). dapat dipastikan atau dapat terjadi perubahan kualitas obat dari yang dikeluarkan oleh industri dengan yang diterima oleh pasien. sifat. Masih terdapat 24.09% penyimpanan obat di apotek dikategorikan penyimpanan tepat dan 1. b) Analisa penyimpanan obat pada parameter kedua Parameter kedua tentang penyimpanan obat di apotek adalah Semua obat atau bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai sehingga terjamin keamanan dan stabilitasnya. Ini menjadi perhatian khusus bagi tenaga kefarmasian untuk lebih jeli dalam masalah ini yang akan berakibat buruk bukan hanya pada pasien tetapi juga bagi apotek.76% penyimpanan obat yang masih dalam kategori tidak tepat. bau. Hasil ini sesuai dengan tujuan penyimpanan obat yang mengatakan bahwa salah satu tujuan penyimpanan obat terkait dengan stabilitas obat adalah obat tidak berubah warnanya.

Ini menjadi perthatian khusus bagi tenaga kefarmasian untuk lebih hati-hati dalam masalah ini yang nantinya akan berdampak buruk bukan hanya bagi pasien juga bagi pihak apotek. Salah satu faktor yang mendukung penjaminan mutu obat adalah bagaimana penyimpanan obat yang tepat dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. c) Analisa penyimpanan obat pada parameter ketiga Parameter ketiga tentang penyimpanan obat di apotek adalah Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk sediaan 79 . 2000). Kegiatan penyimpanan disini mencakup tiga faktor yaitu pengaturan ruangan. 2006). serta pengamatan mutu fisik obat (Linarni dan Hasanbasri. Hal ini menunjukkan bahwa tenaga kefarmasian di apotek ini sudah mengikuti standar penyimpanan obat menurut standar pelayanan farmasi di apotek.91% penyimpanan obat yang masih dalam kategori tidak tepat. sehingga obat tidak terjamin kemanan dan stabilitas sehingga bisa menyebabkan kerusakan pada obat tersebut. kekuatan. Masih terdapat 1. kualitas. Seperti yang kita ketahui bahwa stabilitas obat merupakan kemampuan suatu produk untuk mempertahankan sifat dan karakteristiknya agar sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat (identitas. dan kemurnian) dalam batasan yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan (Shelf-Life) (Carstensen. Ini kemungkinan disebabkan oleh ketidaktelitian tenaga kefarmasian dalam meletakkan obat pada kondisi yang seharusnya. penyusunan obat.

Ini juga bisa menjadi penyebab kenapa penyimpanan obat pada parameter ketiga masih banyak ketidaktepatan dalam penyimpanan obat di apotek karena keterbatasan ilmu yang mereka dapatkan sewaktu di sekolah. karena mereka memiliki peranan penting bukan hanya dalam proses pengelolaan kefarmasian tetapi juga dalam proses pelayanan kefarmasian.33% penyimpanan dikategorikan tepat dan 86. membaca buku bacaan dan pedoman kerja. Menurut Simanjuntak (2005) pekerja indonesia juga kurang terbiasa untuk menambah pengetahuan dan kemampuan melalui belajar sendiri.67% penyimpanan dikatakan tidak tepat. dkk (2010) bahwa 80 . tamatan SMK Farmasi lebih banyak yang bekerja di apotek dibandingkan dengan tamatan lainnya. Seorang tenaga kefarmasian harus memiliki cukup pengetahuan mengenai ilmu-ilmu kefarmasian. dan kebanyakan penyusunannya berdasarkan abjad/alfabetis tanpa melihat kelas terapi. Terdapatnya penyimpanan obat yang tidak tepat dikarenakan ada sebagian obat yang diletakkan tidak sesuai dengan kelas terapi dan tidak sesuai dengan alfabetis. Dari hasil ini menunjukkan bahwa tenaga kefarmasian belum memenuhi standar dalam penyimpanan obat di apotek. mereka lebih banyak menyukai penjelasan langsung dengan bertatap muka. Didapatkan hasil analisa bahwa 13. Berdasarkan penelitian menurut Sheina. Penyusunan obat di Apotek Kecamatan Pekanbaru Kota dan kecamatan Tenayan Raya belum berdasarkan abjad/alfabetis dari A-Z serta bentuk sediaan dan kelas terapi/khasiat obat.dan kelas terapi obat serta disusun secara alfabetis. Berdasarkan hasil analisa pendidikan terakhir.

Ini menunjukkan bahwa di apotek- apotek tempat dilakukannya penelitian sudah menerapkan metode FIFO dan metode FEFO. d) Analisa penyimpanan obat pada parameter keempat Parameter keempat tentang penyimpanan obat di apotek adalah Pengeluaran obat harus memakai sistem FEFO (First Expire First Out) atau FIFO (First In First Out). Untuk proses penyimpanan memprioritaskan metode FEFO. baru kemudian dilakukan metode FIFO. sedangkan metode FEFO (First Expired First Out) dengan cara menempatkan obat- obatan yang mempunyai ED (Expired Date) lebih lama di letakkan di belakang obat-obatan yang mempunyai ED lebih pendek. penyusunan obat pada Gudang Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadiyah Unit I sudah berdasarkan abjad/alfabetis dari A-Z. 81 . Didapatkan hasil bahwa 100% penyimpanan dikategorikan tepat. Barang yang Expired Date paling dekat diletakkan paling depan walaupun barang tersebut datangnya belakangan. tetapi penyusunannya belum dilaksanakan berdasarkan kelas terapi/khasiat obat dikarenakan pola peresepan oleh dokter yang berubah-ubah. Metode FIFO (First In First Out) yaitu obat-obatan yang baru masuk diletakkan di belakang obat yang terdahulu. direkomendasikan penyimpanan berdasarkan kelas terapi yang dikombinasi dengan bentuk sediaan dan alfabetis. Ini menjadi hal penting bagi tenaga kefarmasian dan PSA untuk lebih berhati-hati dalam masalah penyimpanan obat untuk meminimalisir kesalahan penyerahan obat.

34%. dan sebagian lagi sudah berdasarkan kelas terapi tetapi penyusunannya belum berdasarkan abjad/alfabetis. Hal ini mungkin disebabkan karena faktor kebiasaan. dan FIFO (First In First Out) artinya obat yang datang pertama kali harus dikeluarkan terlebih dahulu dari obat yang datang kemudian. untuk parameter ke 3 hanya 13. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hasratna. Penyusunan obat pada apotek yang berada di Kecamatan Pekanbaru Kota dan Tenayan Raya Kota Pekanbaru sebagian sudah berdasarkan abjad/alfabetis tetapi penyusunannya belum berdasarkan kelas terapi.66% dan tidak tepat sebesar 28. e) Analisa penyimpanan obat secara keseluruhan Pada analisa penyimpanan obat secara keseluruhan didapatkan hasil yang sudah tepat sebesar 71. Hanya saja. Sehingga kesesuaian antara sistem penyimpanan obat di apotek-apotek Pekanbaru Kota dan Tenayan Raya belum sesuai dengan standar Permenkes no 35 tahun 2014. Ini menunjukkan bahwa hampir semua tenaga kefarmasian mengetahui tentang penyimpanan obat yang benar menurut Permenkes No 35 tahun 2014. sehingga tenaga kefarmasian merasa berat untuk merubahnya. 82 . 2016 dengan judul gambaran pengelolaan persediaan obat di instalasi farmasi Rumah Sakit umum daerah kabupaten Muna tahun 2016 didapatkan bahwa penyimpanan obat menggunakan FEFO (First Expired First Out) artinya obat yang lebih awal kadaluarsa harus dikeluarkan lebih dahulu dari obat yang kadaluarsa kemudian. dkk.33% yang tepat.

Salah satu diantaranya adalah dalam hal penyimpanan obat. f) Analisa kinerja tenaga kefarmasian dalam penyimpanan obat Berdasarkan hasil analisa secara deskriptif persentase. Apotek harus dikelola dengan sebaik-baiknya oleh apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. sehingga dapat tercapai tujuan untuk terciptanya derajat kesehatan yang optimal. sehingga obat tidak terjamin kemanan dan stabilitas sehingga bisa menyebabkan kerusakan pada obat tersebut dan juga mungkin dikarenakan tempat penyimpanan obat yang seharusnya sudah penuh sehingga obat diletakkan dikondisi yang berbeda. tetapi masih juga terdapat 1. tetapi masih terdapat 24.23% penyimpanan obat sudah dikatakan tepat. agar dapat memberikan pelayanan kesehatan semaksimal mungkin kepada masyarakat.91% penyimpanan obat yang masih belum tepat dalam penyimpanannya. Hal ini mungkin disebabkan karena tenaga kefarmasian yang bekerja kurang teliti dan kurangnya pengawasan yang ketat dari pihak apotek tentang hal ini.09% penyimpanan obat sudah dikatakan tepat. Pada parameter pertama terdapat 75.76% penyimpanan obat masih belum tepat dalam penyimpanannya. Pada parameter ke dua terdapat 98. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh ketidaktelitian tenaga kefarmasian dalam meletakkan obat pada kondisi yang seharusnya. didapatkan kinerja tenaga kefarmasian dalam penyimpanan obat dikategorikan baik 83 . Jika pengelolaan obat kurang efisien pada tahap penyimpanan akan berpengaruh terhadap peran apotek secara keseluruhan.

dan tidak puas. Analisa Korelasi Kepuasan Responden Terhadap Kinerja Dalam Penyimpanan Obat di Apotek Pada penelitian ini analisa bivariat bertujuan untuk melihat sejauh mana hubungan ataupun korelasi kepuasan kerja tenaga kefarmasian yang bekerja di apotek yang ada di Kecamatan Pekanbaru Kota dan Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru terhadap kinerja dalam penyimpanan obat di apotek dengan menggunakan uji korelasi Gamma dengan software SPSS versi 21. Kepuasan kerja ini dianalisa menggunakan skala Likert untuk menilai jawaban responden terhadap kepuasan kerja yang meliputi sangat puas. puas.1 Analisa Bivariat a. Ini menunjukkan bahwa hampir sebagian besar kinerja penyimpanan obat sudah dalam kategori baik.22% dan tidak baik sebesar 17.2. 4.00 for windows. Tingkat kepuasan responden ini kemudian dihubungkan dengan kinerja dalam 84 . Namun masih juga terdapat kinerja yang belum baik dalam penyimpanan obat. kurang puas. sebesar 82. ini kemungkinan disebabkan oleh kurangnya pengawasan dari pihak apotek dan tidak stand by nya apoteker diapotek sehingga ATK dan TTK nya bekerja hanya sesuai dengan keterangan yang sudah ada dan pengetahuan yang dimiliki.78%. Pada penelitian ini kepuasan kerja responden diukur menggunakan kuesioner yang dibuat oleh peneliti berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Gilmer (1996). cukup puas.

Penilaian terhadap kinerja tenaga kefarmasian dinilai berdasarkan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 35 Tahun 2014 tentang penyimpanan obat di apotek. Pada penelitian ini peneliti menggunakan nilai median dikarenakan data yang didapatkan tidak terdistribusi normal.488 (p>0.penyimpanan obat di apotek yang ada di Kecamatan Pekanbaru Kota dan Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru.05). Ini menunjukkan bahwa terdapat nilai korelasi yang sedang dengan arah positif dan tidak signifikan antara kepuasan kerja tenaga kefarmasian terhadap kinerja dalam penyimpanan obat di apotek. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar 0. Terkadang ada tenaga kefarmasian yang puas dengan pekerjaannya menjadi merasa tidak tertantang dalam menyelesaikan pekerjaannya terutama dalam penyimpanan obat di apotek sehingga tenaga kefarmasian kurang bersemangat dan tidak memperhatikan parameter-parameter yang seharusnya dilakukan di dalam penyimpanan obat.362 dan nilai p value = 0. Dan juga terdapat tenaga kefarmasian yang puas dengan pekerjaannya menjadi merasa tertantang untuk dapat memperbaiki kinerjanya terutama di dalam penyimpanan obat sehingga tenaga 85 . Dimana faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja itu sendiri sangat banyak dan juga tergantung dari persepsi individu. Hal ini mungkin disebabkan karena kepuasan kerja tidak selalu menjadi sumber penyebab meningkatnya kinerja dari tenaga kefarmasian.

Seperti yang kita ketahui bahwa salah satu pelayanan kefarmasian diantaranya adalah penyimpanan obat di apotek. Ini sejalan dengan penelitian oleh Cahyani. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Syaiin (2008) bahwa kepuasan promosi tidak mempunyai hubungan signifikan dengan kinerja. Tenaga kefarmasian yang memiliki kepuasan kerja yang baik diharapkan memiliki kinerja yang baik pula terutama terhadap pelayanan kefarmasian di apotek. dkk (2013) dengan judul pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja dokter di ruang rawat inap Rumah sakit Umum daerah Jayapura bahwa hasil dari uji statistik dengan metode Chi Square diperoleh nilai probabilitas atau p-value = 1.05 sehingga disimpulkan bahwa kebutuhan sosial tidak berpengaruh terhadap kinerja dokter di ruang rawat inap RSUD Jayapura. 86 .000> 0. Dimana penyimpanan obat merupakan hal penting bagi suatu apotek untuk menghindar dari kesalahan dalam pemberian obat terhadap pasien.kefarmasian menjadi lebih bersemangat untuk meningkatkan dan memenuhi aspek-aspek penyimpanan obat di apotek sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk bisa memenuhi tujuan dan target dari apotek dan tenaga kefarmasian itu sendiri. Oleh karena itu tenaga kefarnasian yang sudah memiliki kepuasan terhadap pekerjaannya di apotek juga akan berpengaruh terhadap kinerjanya dalam penyimpanan obat sehingga akan meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

362 dan nilai p value = 0.1 Kesimpulan Dari hasil analisa penelitian tentang kepuasan kerja tenaga kefarmasian terhadap kinerja dalam penyimpanan obat di apotek kecamatan Pekanbaru kota dan kecamatan Tenayan Raya didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar 0. Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk dapat meneliti faktor-faktor lain apa saja yang dapat mempengaruhi kinerja tenaga kefarmasian di apotek 2. peneliti menyarankan : 1. Diharapkan kepada tenaga kefarmasian untuk lebih memperhatikan penyimpanan obat di apotek berdasarkan bentuk sediaan dan kelas terapi serta alfabetis 87 .488 (p>0. Diharapkan pihak manajemen apotek rutin melakukan survei kepuasan kerja tenaga kefarmasian.05) yang menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang sedang dan tidak signifikan antara kepuasan kerja tenaga kefarmasian terhadap kinerja dalam penyimpanan di apotek. 5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. sehingga mampu mengidentifikasi penyebab- penyebab kepuasan dan ketidak puasan tenaga kefarmasian 3.2 Saran Dalam rangka meningkatkan kepuasan kerja tenaga kefarmasian terhadap kinerja penyimpanan obat di apotek.

2009. Buku Petunjuk Dan Pedoman Pengelolaan Gudang Penyimpanan : Direktorat Bina Kefarmasian Dan Alat. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. 2002. Departemen Republik Indonesia. Departemen Kesehatan RI. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas pelaksana farmasi RSUD Budi Asih Jakarta tahun 2012. Semarang Anonim. Analisis Pengaruh Kepuasan Gaji. 2003. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Kementerian Agama Republik Indonesia. Tentang Penyimpanan Obat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tentang Penyimpanan Obat. Depok Anonim. Jakarta Anonimᵃ. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Jakarta Anonim. J. 2012. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Universitas Diponegoro. Y. Edisi Kedua. DAFTAR PUSTAKA Aditama. Komitmen Organisasional Terhadap Turnover Intention (Studi Kasus Pada Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang). Jakarta 88 . Universitas Indonesia. 2004. Jakarta Anonim. 2012. 2010. 2003.35 Tahun 2013 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Manajemen Administrasi Rumah Sakit. 2006. T. Universitas Indonesia Press. Kementerian Kesehatan RI No 1332 Tahun 2002 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta Anonimᵃ. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta Auliani. 2014. Jakarta. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Tesis (tidak diterbitkan). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kepuasan Kerja. Badan Pengawasan Obat dan Makanan. 2004. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. R. Jakarta Anonim. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.922 Tahun 2014 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. S. Jakarta Anonim. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Anonimᵇ. Jakarta Andini. Skripsi Gelar Sarjana.

. Pasinringi. Knowledge. A.2 No. C. 2015. Pengaruh Kepemimpinan. dan Kevin. Universitas Hasanudin. R.15. Indonesia As’ad. 2011. Liberty.. Analisis Aplikasi Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Kota Yogyakarta. T. Fakultas Kesehatan Masyarakat. D.1. Schafermeyer. K. J. J. Yogyakarta Atmini. Drug Stability Principles and Practice. Skill and Resources for Pharmacy Informaties Education. Vol. S. Gandjar. Fogarty. dan Riana. Amerika Cahyani.An International Journal of Pharmaceutical Education. Kompensasi dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Hotel Cendana Resort&Spa Ubud. 2000. dan Purnomo. M. Christoper. Psikologi Industri. Badan Pusat Statistik Kota Pekanbaru. Marcel Dekker. 2014. F. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Petugas Pelaksana Farmasi RSUD Asih Jakarta Tahun 2012. Makasar Carstensen. Depok Boschmans. A. Afrika Brent. J. Kecamatan Tenayan Raya. No. I. 2012. I. K. Jakarta Anonim. Badan Pusat Statistik Kot Pekanbaru. Skripsi Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. Kecamatan Pekanbaru Kota.. Gianyar. I. W. Vol. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta Anonimᶜ.. S. G. American Journal of Pharmaceutical Education. S. A. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2013. FKM. I. dan Zulkifli. Bali. Universitas Indonesia. Yogyakarta Auliani. G. F. S. 2014. Vol. New York 89 . A. Pekanbaru Ariana. Vol. W. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.1 No. dan Mallison. T. 2011. T. 2013. Universitas Gadjah Mada.1. R. 2004. F.. Pekanbaru Anonim. A. Allen. Practice Analysis For Mid Level Pharmacy Worker in South Africa. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan. L. E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana. 2015. K. 2016. A. Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Dokter Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura.Anonimᵇ. Presiden RI. Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi.5..75.

Pembinaan untuk Peningkatan Kinerja Karyawan. Organisasi Perilaku : Struktur dan Proses. D. dan Aulia. 2001.. Gambaran Pengelolaan Persediaan Obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Tahun 2016. Ivanchevich. 1996. Aplikasi Analisis Multivariate dengan SPSS. Vol. No.1. Alih Bahasa Nunuk Ardiani. H. Universitas Andalas Padang. O. I. S. Manajemen Sumber Daya Manusia : Pengertian Dasar. E. Edisi 5. Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi.Djamaan. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. A. T. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja Apoteker Yang Bekerja Di Apotek Di Kota Padang. B.18. Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah. E. Skripsi. Bina Rupa Aksara.. H.2. Grasindo. 2013. Widjasena. 2014. Andi.. New Jersey Gumilar. 2000. 2001. dan Jayanti. A. Yogyakarta Greenberg. dan Nurzalmariah. Manajemen Sumber Daya Manusia.1. No. Jakarta Hariandja dan Marihot. C. Sulawesi Hurlock. R. Erlangga. J. Jakarta Hasibuan. D. Pengaruh Faktor-Faktor Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT. E. S. Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat. 2016. PT. McGraw Hill Book Company Inc. Jakarta. 2010. B. Analisa Komitmen Manajemen Rumah Sakit (RS) terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada RS Prima Medika Pemalang. A. Industrial Psychology.. L. Padang Foster. 2001. Toko Gunung Agung. A. F. BPFE Undip : Semarang. Dupai. Syahrul. L. Manajemen Sumber Daya Manusia. Prentice Hall. dan Masalah . V. 2003 Behavior in Organizations. Universitas Diponegoro. Jakarta Hasratna. dan Donely. Universitas Halu Oleo. M. Diponegoro 90 . USA Gomes. 1995. L. 2001. E-Jurnal Kesehatan Masyarakat. W. J. PPM. Pengertian.X. Gibson. M. Ghozali. Vol. B. Jakarta Gilmer. Jakarta Ivana. Jerald dan Baron. J. 2005.

Manajemen Sumber Daya Manusia. Metode Penelitian Sosial. O. S.. P. 2016. 2008. edisi-10. Cetakan Pertama. dan Huda. Edisi Revisi. W. Suplemen No. dan Organization. Tesis. PT. Vol:28. H. Faktor Pembentuk Kepuasan Kerja Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit. Jurnal Kedokteran Brawijaya. Universitas of Nebraska. Klar. Gadjah Mada University Press. Nawawi dan Hadari. Skripsi Fakultas Ekonomi. F. 2000. Adequacy of Sample Size in Health Studies. Jakarta Linarni. Pusat Penerbit Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung. Hosmer.Organisasi dan Motivasi. 2016. M. Mansur. Yogyakarta Lydianita. D. Jakarta Mustikasari. S. P. Bandung Moeheriono. N. Jakarta Mangkunegara. 1997. dan Hasanbasri. Gajah Mada University Press. J. Yogyakarta Malayu. IF.. PT Remaja Rosdakarya. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Manajemen Sumber Daya Manusia.Bumi Aksara. 2000. J. Lwanga. Manajemen Sumber Daya Manusia. Manajemen Sumber Daya untuk Bisnisyang Kompetitif. 2007. 2012.. Yogyakarta 91 . S. W. Jakarta Malayu. H. Andi Yogyakarta. Indeks. Gadjah Mada University Press. 2006. P. Cetakan Pertama. Dasar-dasar Manajemen Farmasi. Working Paper KMPK Universitas Gajah Mada. Universitas Negeri Yogyakarta Lameshow. Mutu Pelayanan Farmasi di Puskesmas Kota Padang. dan Jauhar. Indonesia. Bumi Aksara. K. Pengaruh Kompensasi dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Rumah Sakit Condong Catur Yogyakarta. H. 2011. 2007. S. 2014. Malang. Bandung Marwansyah dan Mukaram.1. R. J. Raja Grafindo Persada. Diterjemahkan oleh Dibyo Pramono dengan Judul Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan. 2006.Kurnia. 1990. Perilaku Organisasi. S.. 1983. Prestasi Pustaka Jakarta. Jakarta Nanditya. George Holmes Distinguished Professor of Management. PT. M. Pengukuran Kinerja Berbasis Kinerja. A. Yogyakarta Nawawi dan Hadari. Yogyakarta. Luthans.

S. Yogyakarta Sheina.. M. Jakarta 92 . 2005. 2003. Raja Grafindo Persada. Remaja Rosdakarya. Bumi Aksara. 2009. PT. T. 2013. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan. Edisi ke 12. 2012. Volume 73. V. Num. P. Alfabeta. P. Jakarta Sinambela. A. Jr dan John. Salemba Empat. Vol 1. Jakarta. 2006. Curriculum Reform in Finnish Pharmacy Education. H. R. A. Cetakan Pertama. dan Judge. dari Teori ke Praktik. Yogyakarta Simanjuntak. Bandung Rivai. Tina. K. Penyimpanan Obat di gudang Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadyah Yogykarta. Edisi Pertama. Issue 5. L. p.Nazir. Z. 8. dari Teori ke Praktik. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan.. Metode Penelitian. Prabu. Ghalia Indonesia. Jakarta Schermerhorn. Jakarta Nazer. Manajemen Sumber Daya Manusia. Amerika Nina. 1988. J. Jurnal Muhammadyah Yogyakarta. Manajemen Edisi Bahasa Indonesia. Universitas Ahmad Dahlan. American Journalof Pharmaceutical Education. Marja. A. 2008. V. H. K. P. Globalization Of Pharmacy Education. PT. 2009. Cetakan Ke-4. B.. E. Jakarta Robbins.151-158. 2009. dan Sagala. Manajemen Sumber Daya Manusia. M. Katja. Bandung Ridwan. Perilaku Organisasi . D. A. Rajawali Press. 2012. Jakarta Rivai. Jakarta Rivai. 2005. 2016. dan Jouni. Volume 76. Raja Grafindo Persada. Amerika Notoatmodjo. 2004. Andi Offset. American Journal of Pharmaceutical Education. Rineka Cipta. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan : Dari Teori ke Praktik. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI. Manajemen dan Evaluasi Kinerja. S. Edisi 2. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru Dan Karyawan dan Peneliti Pemula. V. Metodologi Penelitian Kesehatan.

I. 1958. C. Tangerang Selatan. M. Pustaka Sinar Harapan. IGK. 2008. J. dan Errest. dan Santanello. Amerika Tiffin. Seri Manajemen No 57. Jakarta Therese. S. Wijasa. E. Thesis Pascasarjana. Hubungan Motivasi Kerja denagn Kinerja Perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Omni Alam Sutera pada Tahun 2016. American Journal Of Pharmaceutical Education. Jakarta Syaiin. Jakarta 93 . Impact of Pharmacy Education Concentration on Student’s Teaching Knowledge and Attitudes. J. Universitas Sumatera Utara. Ltd. H. 2010. Industrial Psycology. Medan Syamsuni. Manajemen Sumber Daya Manusia. Farmasetik Dasar Dan Hitungan Farmasi. Syarif. Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Klinik Spesialis Bestari Medan Tahun 2007. Universitas Esa Unggul. Manajemen Pergudangan. 2009. Jurnal Kesehatan Masyarakat. P. Edisi Pertama. 2009. Morusan Co. Mc C. Fakultas Ilmu Kesehatan. Volume 74.. Japan Warman.Suryandika. No 2. 2016. Kencana. 2004. J. Banten Sutrisno.

Alur Kerja Penelitian 94 .Lampiran 1. Mengurus Persetujuan Menjadi Responden Terhadap Apoteker yang bekerja di Apotek di Kecamatan Pekanbaru Kota dan Kecamatan Tenayan Raya kota Pekanbaru Pengujian Validitas dan Reabilitas Kuesioner Pengisian Kuesioner Terhadap Responden di Apotek di Kecamatan Pekanbaru Kota dan Tenayan Raya kota Pekanbaru. Alur Kerja Penelitian Mengurus Rekomendasi Izin Penelitian di Bagian Administrasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau Mengurus Rekomendasi Izin Penelitian di Apotek di Kecamatan Pekanbaru Kota dan Kecamatan Tenayan Raya kota Pekanbaru. Pengumpulan Data Kuesioner Yang Telah diisi oleh Apoteker ke Lembar Pengumpul Data Analisa Data Analisa Univariat Analisa Bivariat Kesimpulan Gambar 2.

Lampiran 2. Atas perhatian dan kesediaan Bapak/Ibu sebagai responden saya ucapkan terima kasih. Saya yang bertanda tangan dibawah ini Nama : Mustika Khairani Alamat : Pekanbaru Dengan ini menyatakan bahwa saya mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau. Apabila Bapak/Ibu tidak bersedia menjadi responden. Apabila bapak/Ibu menyetujui dan bersedia menjadi responden. Penelitian ini tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bagi Bapak/Ibu responden. kerahasiaan semua informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Permohonan Permintaan Menjadi Responden PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada Yth: Bapak/Ibu responden penelitian Di Kota Pekanbaru Dengan Hormat. maka tidak ada paksaan atau ancaman apapun bagi Bapak/Ibu. maka dengan ini saya mohon kesediaannya untuk menandatangani lembar persetujuan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. akan mengadakan penelitian dengan judul “ANALISIS KORELASI KEPUASAN KERJA TENAGA KEFARMASIAN TERHADAP KINERJA DALAM PENYIMPANAN OBAT DI APOTEK KECAMATAN PEKANBARU KOTA DAN TENAYAN RAYA KOTA PEKANBARU”. Peneliti Mustika Khairani 95 .

..... Responden 96 .... Lembar Persetujuan Responden LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Alamat : Nama Apotek : Setelah membaca penjelasan yang diberikan oleh peneliti maka saya bersedia untuk berpartisipasi sebagai responden penelitian dengan judul “ANALISIS KORELASI KEPUASAN KERJA TENAGA KEFARMASIAN TERHADAP KINERJA DALAM PENYIMPANAN OBAT DI APOTEK KECAMATAN PEKANBARU KOTA DAN TENAYAN RAYA KOTA PEKANBARU”. Dengan ini saya menyatakan bersedia menjadi responden tanpa paksaan atau ancaman dari pihak manapun.. Pekanbaru.Lampiran 3.. Oleh karena itu saya akan memberikan jawaban yang sebenarnya. Saya mengerti penelitian ini tidak akan membawa akibat yang merugikan bagi saya........

IDENTITAS TENAGA KEFARMASIAN 1. Lembar Kuesioner LEMBAR KUESIONER ANALISA KORELASI KEPUASAN KERJA TENAGA KEFARMASIAN TERHADAP KINERJA DALAM PENYIMPANAN OBAT DI APOTEK KECAMATAN PEKANBARU KOTA DAN TENAYAN RAYA KOTA PEKANBARU MUSTIKA KHAIRANI NIM : 1001058 Program Studi S1 Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau Pekanbaru Petunjuk pengisian bagian A dan B : Berilah tanda (√) pada jawaban yang Anda maksud. Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan 2. Lama bekerja di Apotek : <1 tahun 1-5 tahun >5 97 .Lampiran 4. A. Rentang Usia : 18 – 40 tahun ≥ 60 tahun 41 – 60 tahun 3. Pendidikan Terakhir : SMK FARMASI S1 APOTEKER D3 FARMASI S2 APOTEKER S1 FARMASI 4.

TINGKAT KEPUASAN KERJA TENAGA KEFARMASIAN Tabel 9. Lanjutan B. Kuesioner Tingkat Kepuasan Kerja No Pernyataan SP P CP KP TP Kesempatan untuk maju Selalu tersedia kesempatan bagi saya untuk 1 mengikuti seminar PSA memberi kesempatan bagi tenaga 2 kefarmasian untuk mengikuti pelatihan Keamanan kerja 3 Saya bekerja dalam lingkungan yang aman 4 Selalu tersedia APAR diapotek PSA menjalankan apotek sesuai dengan 5 peraturan perundang-undangan Gaji Saya menerima gaji sesuai dengan beban dan 6 tanggung jawab saya Gaji yang saya terima sudah sesuai dengan 7 tingkat pendidikan saya 8 Gaji yang saya terima tepat waktu Perusahaan dan manajemen Hak dari setiap karyawan selalu terpenuhi 9 selama bekerja diapotek 10 Karyawan menerima hak tepat waktu Pengawasan Apotek memiliki aturan yang jelas sesuai 11 peraturan perundang-undangan PSA konsisten menjalankan aturan yang di 12 buat PSA melakukan evaluasi kinerja tiap akhir 13 tahun Faktor intrinsik dari pekerjaan Tugas yang diberikan sesuai dengan 14 kemampuan dan kompetensi saya Pekerjaan yang saya jalani sesuai dengan latar 15 belakang pendidikan saya Kondisi kerja Kondisi penerangan (lampu/cahaya) diruangan 16 tempat kerja saya sudah baik Kebersihan di apotek selalu terjaga dengan 17 baik Saya memiliki ruang kerja yang nyaman di 18 apotek 98 . Lampiran 4.

P = Puas 3.TP = Tidak Puas 99 .CP = Cukup Puas 4.KP = Kurang Puas 5.SP = Sangat Puas 2. Aspek sosial dalam pekerjaan PSA selalu memperlakukan tenaga 19 kefarmasian dengan baik PSA selalu berlaku adil terhadap semua tenaga 20 kefarmasian yang ada di apotek Hubungan antar Tenaga kefarmasian di apotek 21 terjalin dengan baik Komunikasi Komunikasi antar tenaga kefarmasian terjalin 22 dengan baik Komunikasi tenaga kefarmasian dengan PSA 23 terjalin dengan baik Fasilitas Saya diberikan diskon obat saat berbelanja di 24 apotek Saya diberikan fasilitas konsumsi saat bekerja 25 diapotek Setiap tenaga kefarmasian mendapatkan uang 26 transportasi setiap kedatangan ke apotek Keterangan : 1.

60 Tahun > 60 tahun Gambar 4.60 Tahun > 60 tahun 18 .1 0 0 18 .40 Tahun 41 . Hasil Analisa Univariat Jenis Kelamin 90 84.4 80 70 Persentase% 60 50 40 30 20 15.9 80 Persentase% 60 40 20 11.6 10 0 Laki – Laki Perempuan Laki – Laki Perempuan Gambar 3. Hasil Analisa Data Jenis Kelamin Responden Rentang Usia 100 88.Lampiran 5.40 Tahun 41 . Hasil Analisa Data Rentang Usia Responden 100 .

3 13. Hasil Analisa Data Pendidikan Terakhir Responden Lama Bekerja 60 53. (lanjutan) Pendidikan Terakhir 60 55.3 50 40 Persentase% 30 26.3 10 0 0 SMK Farmasi D3 Farmasi S1 Farmasi S1 Apoteker S2 Apoteker SMK Farmasi D3 Farmasi S1 Farmasi S1 Apoteker S2 Apoteker Gambar 5.6 50 40 Persentase% 30 20 17.Lampiran 5. Hasil Analisa Data Lama Bekerja Responden 101 .8 13.7 20 20 10 0 <1 Tahun 1-5 Tahun >5 Tahun <1 Tahun 1-5 Tahun >5 Tahun Gambar 6.

Lampiran 6.86 0.84 0.1 0 Kesempatan untuk maju Keamanan kerja Gaji Perusahaan dan manajemen Pengawasan Faktor intrinsik dari pekerjaan Kondisi kerja Aspek sosial dalam pekerjaan Komunikasi Fasilitas Gambar 7.6 0.8 0. Kepuasan Kerja Responden Faktor-faktor Kepuasan Kerja 1 0.89 0.75 0.84 0.7 0.74 0.84 0.4 0.9 0.2 0.5 0.86 0.81 0. Hasil Analisa Data Kepuasan Kerja Responden 102 .8 Persentase% 0.3 0.

67 80 75.91 0 0 Parameter Parameter Parameter Parameter Total 1 2 3 4 Tepat Tidak Tepat (%) Gambar 8.Lampiran 7.66 Persentase% 60 40 24.76 28.34 20 13.33 0 1. Hasil Analisa Data Kinerja Responden 103 .23 71.09 100 100 86. Kinerja Dalam Penyimpanan Obat Responden 120 Penyimpanan Obat 98.

Not assuming the null hypothesis. Approx. Errora Ordinal by Ordinal Gamma . Tb Approx.7000 a. Hasil Analisa Bivariat Tests of Normality Shapiro-Wilk Tedency Central Statistic df Sig. Mean Median Kinerja Penyimpanan obat .488 N of Valid Cases 45 a. Std.362 . Lilliefors Significance Correction Symmetric Measures Value Asymp.000 . Sig.7100 . Count Kinerja Total tidak baik Baik cukup puas 2 6 8 kepuasan puas 5 32 37 Total 7 38 45 104 .694 .837 45 .412 . Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.Lampiran 8. b.

Lampiran 9. Surat Izin Penelitian 105 .

106 .

955 VAR00010 107.766 .644 .Lampiran 10.524 .7000 114.2000 117.134 .4500 115.7000 116.3500 116.891 .3000 117.2000 117.695 .4000 114.590 .000 .956 VAR00009 107.789 .3000 119.924 .954 VAR00012 107.955 VAR00018 107.116 .500 .627 .250 .652 .682 .884 .253 .953 VAR00011 107.586 .652 .747 .884 .957 VAR00006 107.957 VAR00019 107.2000 117.956 VAR00004 107.695 .747 . Cronbach's Item Deleted Variance if Total Alpha if Item Item Deleted Correlation Deleted VAR00001 107.6000 112.2000 120.957 VAR00022 107.955 VAR00015 107.956 VAR00013 107.664 .581 .698 .2000 120.2000 117.955 VAR00014 107.957 Cronbach's N of Alpha Items .953 VAR00002 107. Uji Validitas Item-Total Statistics Scale Mean if Scale Corrected Item.579 .3500 117.792 .956 VAR00007 107.749 .613 .484 .957 VAR00024 107.0000 120.808 .957 VAR00025 107.767 .956 VAR00008 107.3500 117.905 .924 .4500 116.6000 112.957 VAR00017 107.695 .4500 116.955 VAR00003 107.463 .957 VAR00020 107.2000 118.698 .682 .617 .891 .955 VAR00026 107.484 .957 26 107 .537 .3000 117.537 .956 VAR00023 107.644 .956 VAR00005 107.2500 117.792 .747 .627 .955 VAR00021 107.6000 112.555 .569 .957 VAR00016 107.500 .3500 114.3500 120.