You are on page 1of 16

Tugas Kelompok : Keperawatan Gawat Darurat

KEGAWATDARURATAN TOKSIKOLOGI

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK I

Khoirul Anam (C051171706)


Sitti Zaenab (C051171722)
Delfina Rowati Onya (C051171725)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JALUR KERJASAMA


FAKULTAS KEPERWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
2018
KEGAWATDARURATAN TOKSIKOLOGI

A. Latar Belakang

Toksikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang mekanisme efek berbahaya (efek toksik)

berbagai bahan kimia terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Toksikologi merupakan studi

mengenai efek-efek yang tidak diinginkan dari zat-zat kimia terhadap organisme hidup. Toksikologi

juga membahas tentang penilaian secara kuantitatif tentang organ-organ tubuh yang sering terpajang

serta efek yang di timbulkannya.

Efek toksik atau efek yang tidak diinginkan dalam sistem biologis tidak akan dihasilkan oleh

bahan kimia kecuali bahan kimia tersebut atau produk biotransformasinya mencapai tempat yang

sesuai di dalam tubuh pada konsentrasi dan lama waktu yang cukup untuk menghasilkan manifestasi

toksik. Faktor utama yang mempengaruhi toksisitas yang berhubungan dengan situasi pemaparan

(pemajanan) terhadap bahan kimia tertentu adalah jalur masuk ke dalam tubuh, jangka waktu dan

frekuensi pemaparan. Apabila zat kimia dikatakan beracun (toksik), maka kebanyakan diartikan

sebagai zat yang berpotensial memberikan efek berbahaya terhadap mekanisme biologi tertentu pada

suatu organisme.

Racun dapat mengganggu fungsi tubuh atau bahkan menghentikan fungsi tubuh yang

berakibat terjadinya gangguan kesehatan dalam kondisi gawat darurat. Penatalaksanaan keracunan

membutuhkan terapi yang tepat sehingga dapat menyelamatkan nyawa pasien dan membuat

pengobatan menjadi efektif dan efisien. Pada buku pedoman penatalaksanaan keracunan yang disusun

BPOMRI tahun 2001, pada periode tersebut ditemukan 117 kasus keracunan dengan angka kematian

0 kasus. Penyebab tertinggi keracunan yakni gigitan ular (69,2%) selain itu ditemukan juga keracunan

pestisida, makanan, obat, alkohol, racun tanaman, dan shellfish. Pasien mayoritas adalah laki-

laki(70,1%), usia 28–45 tahun (30,5%).

Menurut laporan American Association of Poison Control Center, zat yang paling sering

menimbulkan racun pada manusia yaitu : analgetik, kosmetik, zat pembersih rumah tangga,

antipsikotik, mainan anak-anak dan obat-obat topikal. Pajanan terhadap toksik seringkali terjadi pada

saat kita bekerja, berekreasi, pada saat menjalani terapi, ataupun karena pengaruh lingkungan
sedangkan cara masuk racun ke tubuh manusia terjadi melalui saluran pernapasan atau inhalasi,

pencernaan, injeksi, atau kontak langsung dengan kulit dan selaput lendir. Dari sekian banyak kasus

keracunan yg terjadi, hanya 24% yang membutuhkan penanganan di rumah sakit dan 16% saja yang

harus dirawat secara intensif.

Pasien yang memiliki risiko paling besar mengalami komplikasi serius dan kematian serta

harus segera ditangani, apabila masuk kedalam kriteria berikut :

 Umur : semakin tua, semakin besar kemungkinan pasien mengalami kematian jika

keracunan.

 Farmasetikal : agen farmasi umumnya lebih beracun dari tanaman, bahan kimia rumah

tangga, dan narkoba.

 Polifarmasi : pasien yang mengkonsumsi beberapa obat memiliki risiko kematian yang

lebih tinggi.

 Keracunan disengaja : orang yang sengaja meracuni diri sendiri akan memilih zat yang

lebih beracun dibanding mereka yang mengalami keracunann secara tidak disengaja.

 Perubahan status mental atau gejala berat lainnya yang terlihat jelas, misalnya pasien

dengan kondisi yang buruk ketika tiba di IGD cenderung memiliki outcome yang jelek.

B. Tanda dan Gejala Toksisitas.

a) Tingkat kesadaran.

Tingkat kesadaran merupakan petunjuk penting untuk mengetahui beratnya keracunan yang

dialami oleh penderita. Derajat tingkat keracunan didalam toksikologi terbagi dalam beberapa

tingkat berdasarkan kesadaran pasien :

 Keracunan tingkat 1 : penderita mengantuk tetapi masih sadar dan mudah

berkomunikasi.

 Keracunan tingkat 2 : penderita dalam keadaan sopor (Stupor), tetapi dapat

dibangunkan dengan rangsangan minimal.

 Keracunan tingkat 3 : penderita dalam keadaan soporkoma dan hanya bereaksi

terhadap rangsangan nyeri.


 Keracunan tingkat 4 : ini merupakan tingkat yang lebih parah dan mengancam nyawa

dimana penderita dalam keadaan koma dan tidak ada reaksi sedikitpun terhadap

rangsangan.

b) Gejala respirasi.

Banyak kasus keracunan seringkali terjadi hambatan pada jalan nafas yang dapat

menyebabkan kematian, cara menolong penderita yaitu dengan memastikan jalan nafas tetap

terbuka dan bersihkan / keluarkan / bebaskan jalan nafas jika memang ada hambatan.

c) Tekanan darah dan jantung.

Syok terjadi karena depresi dan penurunan curah jantung, kadang terjadi henti jantung.

d) Sebagian penderita keracunan mengalami kejang.

Kejang merupakan pertanda terhadap adanya respon dari sistem saraf pusat atau medulla

spinalis. Selain beberapa gejala keracunan yang lain adalah retensio urin, diare, mual-mual

dan adanya kerusakan ginjal dan hati yang dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium.

Berdasarkan tahapan terjadinya toksisitas, ada 3 tahapan yaitu :

1. Tahap awal (0-24 jam setelah terekspos)

 Gejala mungkin ringan atau bahkan tidak ada.

 Irigasi gastrointestinal (mual, muntah, anoreksia)

 Dalam kasus keracunan masif yang jarang terjadi (kadar zat dalam darah 4 jam > 800

mg/L), asidosis metabolik dan koma dapat berkembang dalam 24 jam pertama.

2. Tahap dorman (24-48 jam setelah konsumsi)

 Merupakan tahap yang relatif bebas gejala toksisitas. Gangguan pencernaan cenderung

mereda, dan tidak ditemukan gangguan hati secara signifikan.

 Meskipun pasien asimtomatik, gagal hati mulai terjadi.

 Hasil laboratorium menunjukkan peningkatan transminase serum (AST, ALT) dan uji

peningkatan koagulasi (rasio normalisasi internasional, ptothrombin/waktu parsial

tromboplastin ).

 Nyeri abdomen mungkin terasa di kuadaran kanan atas.


3. Tahap hepatik (48-96 jam setelah konsumsi)

 Progresif ensefalopati hepatik mulai berkembang.

 Muntah.

 Jaundice.

 Nyeri abdomen kuadran kanan atas terasa signifikan.

 Gangguan perdarahan.

 Hipoglikemia.

 Peningkatan enzim hati sementara.

 Kerusakan ginjal.

C. Penanganan Kegawatdaruratan Keracunan

1. Pada pasien dewasa

Semua pasien yang terpajan dengan zat kimia / keracunan sebaiknya dirawat di rumah

sakit meskipun mereka terlihat sehat karena ada beberapa jenis zat yang bekerja lambat

sehingga lambat juga menimbulkan tanda dan gejala (misalnya asetosal, zat besi, parasetamol,

antidepresan trisiklik, kofenotrop).

Tindakan prehospital dan intra hospital pada pasien keracunan secara umum, dapat dilakukan

1) Fungsi pernapasan.

Pada pasien yang mengalami kesadaran menurun setelah terpajan zat toksik sering terjadi

gangguan pernapasan yang harus segera ditindaki. Bila tidak ada trauma, segera bebaskan

jalan napas dengan teknik chin lift atau jaw trust. Gunakan oropharingeal untuk

memberikan ventilasi yang adekuat. Tindakan intubasi dan ventilasi mekanik sebaiknya

dipertimbangkan pada pasien yang mengalami asidosis respiratorik. Pemberian

perangsang / stimulan pernapasan tidak dianjurkan karena akan menimbulkan resiko

aspirasi.

2) Tekanan darah.

Hipotensi sering terjadi pada keracunan yang berat yang disertai depresi sistem saraf

pusat. Tekanan darah sisitolik < 70 mmHg dapat menyebabkan kerusakan otak yang
permanen atau nekrosis tubulus ginjal. Hipotensi sebaiknya segera dikoreksi mula-mula

dengan cara merendahkan posisi kepala pasien dan berikan infus NaCl atau infus cairan

koloid. Kehilangan cairan tubuh tanpa hipotensi, umum terjadi pada pasieen yang koma

akibat keracunan asetosal yang disertai adanya muntah, berkeringat, dan hiperpneu.

3) Jantung.

Gangguan konduksi jantung dan aritmia dapat terjadi pada keracunan akut, terutama pada

keracunan antidepresan trisiklik, beberapa antipsikotik, antihistamin, dan koproksamol.

Jika interval QT memanjang, pemberian obat antiaritmia tidaklah tepat sehingga

sebaiknya dirujuk ke ahli jantung. Aritmia supraventrikel kadang mengancam jiwa dan

pengobatan sebaiknya ditunda hingga pasien tiba di rumah sakit.

4) Suhu tubuh.

 Hipotermi dapat terjadi pada semua pasien yang tidak sadarkan diri selama

beberapa jam, khusunya setelah menelan barbiturat atau fenotiazin. Cara terbaik

untuk mengatasi hipotermi adalah dengan membalut pasien dengan selimut untuk

mempertahankan panas tubuh.

 Hipertermi dapat terjadi pada pasien yang mengkonsumsi stimulan SSP, anak dan

lansia juga berisiko mengalami hipotermi bila mengkonsumsi obat-obatan yang

mengandung efek antimuskarinik. Hipertermi pertama-tama diatasi dengan

melepaskan pakaian pasien dan gunakan kipas angin secara tidak langsung,

kompres dengan air hangat untuk mempercepat evaporasi.

Hipertermi dan hipotermi merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan segera di

rumah sakit untuk penilaian kondisi dan pemberian terapi suportif.

5) Konvulsi.

Bila kejang berlangsung lama dan berulang, segera berikan lorazepam 4 mg atau

diazepam (sebaiknya dalam bentuk emulsi) hingga 10 mg injeksi intravena, pada vena

besar secara perlahan.


Prioritas umum untuk pasien keracunan yaitu Perhatikan jalan napas, pernapasan dan

sirkulasi (Airway, Breathing, and Circulation), keadekuatan jalan napas sangat penting pada

pasien dengan perubahan status mental.

 Berikan oksigen jika perlu.

 Berikan terapi intravena dan infus ringer laktat atau normal salin.

 Jika pasien diduga terekspos opioid berikan nalokson 0,4-2 mg dapat melalui intravena,

endotrakeal, intramuskular, subkutan, intraosseous, atau sublingual.

 Periksa kadar glukosa darah dan infus dextrose 50% pada 50 ml (25 g) intravena jika

diperlukan untuk mempertahankan normoglicemik.

 Berikan 50-100 mg tiamin secara intravena untuk pasien dewasa jika diduga keracunan

alkohol kronis.

 Pantau jantung secara kantinyu dan periksa EKG 12 lead sesuai dengan indikasi.

 Pantau output urin

 Cek gas darah arteri sesuai indikasi

 Monitor kadar elektrolit, tanda-tanda vital, dan status neurologis.

 Kaji riwayat keracunan :

- Bahan atau zat apa?

- Kapan terjadinya? Apakah akut atau kronik.

- Rute paparan

- Apakah saat dikaji ada tanda-tanda atau gejala keracunan.

- Banyaknya zat yang terpajan.

- Apakah keracunan disengaja atau tidak.

- Apakah pasien memiliki riwayat keracunan sebelumnya.

- Penanganan prehospital

- Berapa usia pasien.

- Kaji riwayat medis pasien apakah ada riwayat penyakit jiwa, penyakit hati, jantung,

dan ginjal.
- Apakah ada faktor risiko psikologis, sosial atau lingkungan yang terlibat.

 Berikan obat penawar / antidot yang sesuai

 Berikan pendidikan kesehatan kepada keluarga dan pasien tentang pencegahan keracunan

berulang.

2. Prinsip penatalaksanaan keracunan pada anak-anak .

1) Penatalaksanaan terhadap racun yang tertelan.

Dekontaminasi lambung (menghilangkan racun dari lambung) efektif bila dilakukan

sebelum masa pengosongan lambung terlewati (1-2 jam, termasuk penuh atau tidaknya

lambung). Dekontaminasi lambung tidak menjamin semua racun yang masuk bisa

dikeluarkan, oleh karena itu tindakan dekontaminasi lambung tidak rutin dilakukan pada

kasus keracunan. Kontraindikasi untuk dekontaminasi lambung adalah :

 Keracunan bahan korosif atau senyawa hidrokarbon (minyak tanah) karena

mempunyai risiko terjadi gejala keracunan yang lebih serius.

 Penurunan kesadaran (bila jalan napas tidak terlindungi).

a. Periksa anak apakah ada tanda kegawatan dan periksa gula darah (hipoglikemia).

b. Identifikasi bahan racun dan keluarkan zat tersebut segera mungkin. Ini akan sangat

efektif jika dilakukan segera setelah terjadi keracunan, kurang dari 1 jam sejak

tepajan.

Jika anak tertelan minyak tanah, premium, solar, pestisida pertanian berbahan pelarut

minyak tanah atau jika mulut dan tenggorokan mengalami luka bakar (misalnya

karena zat pemutih, pembersih toilet, atau asam kuat dari aki), jangan rangsang

muntah tetapi beri minum air.

c. Jangan gunakan garam sebagai emetik karena bisa berkibat fatal.

d. Jika anak tertelan racun lainya berikan arang aktif jika tersedia, jangan rangsang

muntah. Arang aktif diberikan peroral dengan atau tanpa nasogatrik tube.
Tabel dosis arang aktif

Anak umur < 1 tahun 1 gr/kg berat badan

1-12 tahun 25-50 gr

Remaja dan dewasa 25-100 gr

 Larutkan arang aktif dengan 8-10 kali air, misalnya 5 gr ke dalam 40 ml air.

 Jika memungkinkan berikan sekaligus, jika sulit (anak tidak kooperatif), dapat

diberikan secara bertahap.

 Efektifitas arang aktif bergantung pada isi lambung (lambung kosong lebih

efektif).

 Jika arang aktif tidak tersedia, rangsang muntah (hanya pada anak yang sadar)

yaitu dengan merangsang dinding belakang tenggorokan dengan

menggunakan spatula atau gagang sendok.

Bilas lambung

Dilakukan pada saat tiba di fasilitas kesehatan dengan petugas kesehatan yang

sudah terlatih yang mempunyai pengalaman melakukan prosedur bilas lambung dan

keracunan terjadi kurang dari 1 jam (waktu pengosongan lambung) dan mengancam

nyawa. Bilas lambung tidak boleh dilakukan pada keracunan bahan korosif atau

hidokarbon. Pastikan tersedia mesin pengisap untuk membersihkan muntahan di rongga

mulut. Tempatkan anak dengan posisi miring kekiri dengan kepala lebih rendah. Ukur

panjang NGT yang akan dimasukkan. Masukkan NGT ukuran 24-28 F melalui mulut ke

dalam lambung, pastikan pipa berada di dalam lambung. Lakukan bilasan dengan 10

ml/kg BB garam normal hangat. Jumlah cairan yang diberikan harus sama dengan yang

dikeluarkan, tindakan bilas lambung dilakukan sampai cairan bilasan yang keluar jernih.

Hal yang perlu diperhatikan setelah melakukan bilas lambung :

- Berikan antidot spesifik jika tersedia

- Berikan perawatan umum


- Observasi 4-24 jam bergantung pada jenis racun yang tertelan

- Pertahankan posisi recovery pada anak yang tidak sadar.

- Pertimbangkan Rujuk ke rumah sakit jika keracunan dengan kesadaran menurun,

mengalami luka bakar di mulut dan tenggorokan, mengalami sesak napas berat,

sianosis atau gagal jantung.

2) Penatalaksanaan keracunan melalui kontak kulit atau mata.

a. Kontaminasi kulit.

 Petugas kesehatan yang menolong harus melindungi diri terhadap

kontaminasi sekunder dengan menggunakan sarung tangan dan celemek.

 Lepaskan semua pakaian dan barang pribadi, cuci seluruh daerah yang

terkontaminasi dengan air hangat yang banyak. Gunakan sabun dan air untuk

bahan berminyak.

 Pakaian dan barang pribadi yang telah dilepas harus diamankan dalam

kantong plastik transparan yang dapat disegel, untuk dibersihkan lebih lanjut

atau dibuang.

b. Kontaminasi mata.

 Bilas mata selama 10-15 menit dengan air bersih yang mengalir atau garam

normal.

 Gunakan obat tetes mata anastetik untuk irigasi mata.

 Balikkan kelopak mata dan pastikan semua permukannya terbilas. Pada kasus

asam atau alkali irigasi mata hingga pH mata kembali normal. Periksa

kembali pH mata 15-20 menit setelah irigasi dihentikan.

 Jika memungkinkan mata harus diperiksa secara saksama dengan pengecatan

fluorescein untuk mencari tanda kerusakan kornea. Jika ada kerusakan

konjungtiva atau kornea, anak harus segera diperiksa oleh dokter mata.
3) Penatalaksanaan terhadap racun yang terhirup.

Keluarkan anak dari sumber pajanan, berikan oksigen jika perlu. Terhirupnya gas iritan

dapat menyebabkan pembengkakan dan sumbatan jalan napas bagian atas, bronkospasme

dan delayed pneumonitis. Jika perlu lakukan Intubasi endotrakeal, bronkodilator dan

ventilator.

4) Keracunan makanan.

Keracunan makanan adalah penyakit yang disebabkan oleh karena mengkonsumsi

makanan yang mengandung bahan berbahaya/toksik atau yang terkontaminasi oleh

bakteri, virus, parasir, jamur, toksin.

a. Botulisme

Botulinum merupakan racun terhadap saraf, diproduksi oleh bakteri Clostridium

botulinum. Bakteri anaerob ini sering tumbuh pada makanan atau bahan makanan yang

diawetkan dengan proses pengawetan yang tidak baik seperti : sosis, bakso, ikan kaleng,

daging kaleng, buah dan sayur kalengan, madu.

 Gejala akut dapat muncul 2 jam sampai 8 hari setdlah menelan makanan yang

terkontaminasi. Semakin pendek waktu antara menelan makanan yang

tekontaminasi dengan timbulnya gejala makin berat derajat keracunannya.

Gejala awal dapat berupa suara parau, mulut kering dan rasa tidak enak pada

epigastrium. Kadang timbul muntah, diplopia, disartria, kelumpuhan otot

skeletal dan yang paling berbahaya adalah kelumpuhan otot pernapasan.

Gejala pada bayi meliputi hipotoni, konstipasi, sukar minum atau makan,

kepala susah ditegakkan dan tidak ada refleks muntah.

 Penatalaksanaannya meliputi dekontaminasi dengan memuntahkan isi

lambung jika korban masih sadar, dapat juga dilakukan bilas lambung. Arang

aktif dapat diberikan dan juga antitoksin botulinum pada keracunan

simptomatik.
b. Bongkrek (tempe bongkrek, asam bongkrek)

Tempe bongkrek dibuat dari ampas kelapa. Tempe bongkrek yang beracun

mengandung racun asam bongkrek yang dihasilkan oleh pseudomonas cocovenenan yang

tumbuh pada tempe ampas kelapa yang gagal produksi.

 Gejala keracunan yang ditimbulkan bervariasi mulai dari yang sangat ringan

misalnya pusing, mual, dan nyeri perut sampai yang berat, misalnya gagal

sirkulasi dan respirasi, kejang dan kematian.

 Antidot spesifik keracunan bongkrek belum ada. Terapi nonspesifik ditujukan

untuk menyelamatkan nyawa, mencegah absorbsi racun lebih lanjut dan

mempercepat ekskresi. Atasi gangguan sirkulasi dan respirasi dengan

pemberian arang aktif.

c. Sianida

Sianida merupakan zat kimia yang sangat toksik, terdapat pada jenis umbi-

umbian.

 Gejalanya dapat berupa nyeri kepala, mual, mumtah, sianosis, dispnea,

delirium dan kebingungan. Kadang diikuti dengan pingsan, kejang, koma, dan

kolaps kardiovaskuler yang berlangsung cepat.

 Penatalaksanaan keadaan gawat darurat yaitu bebaskan jalan napas, beri

oksigen 100%. Berikan natrium-tiosulfat 25% intravena dengan kecepatan

2,5-5 ml/menit sampai keadaan membaik.

 Hindari rangsang muntah karena pasien dapat dengan cepat mengalami

kesadaran menurun.

3. Penatalaksanaan kegawatdaruratan akibat Gigitan ular.

Gigitan ular adalah suatu keadan yang disebabkan oleh gigitan ular berbisa.

Bisa ular adalah kumpulan dari protein yang mempunyai efek fisiologik yang luas atau

bervariasi. Yang mempengaruhi sistem multiorgan, terutama neurologik, kardiovaskuler,

dan sistem pernapasan (Suzanne Smaltzer.2001)


Gigitan ular merupakan suatu keadaan gawat darurat yang apabila tidak segera

ditangani dapat menyebabkan kematian. Korban gigitan ular adalah pasien yang digigit

ular atau diduga digigit ular (Sartono 1999).

Daya toksik bisa ular yang telah diketahui ada beberapa macam :

a) Hematoxic yaitu bisa ular yang bersifat racun terhadap darah, merusak dan

menghancurkan sel-sel darah merah, menyebabkan timbulnya perdarahan pada

selaput lendir pada mulut, hidung, dan tenggorokan.

b) Neurotoxic yaitu bisa ular yang merusak dan melumpuhkan jaringan-jaringan sel

saraf sekitar luka gigitan yang menyebabkan sel saraf tersebut mati. Penyebaran

racun selanjutnya melumpuhkan susunan saraf pusat dengan seperti saraf pernafasan

dan jantung. Penyebaran bisa ular keseluruh tubuh, ialah melalui pembuluh limfe.

c) Myotoksin yaitu bisa yang mengakibatkan rabdomiolisis. Myoglobulinuria yang

menyebabkan kerusakan ginjal dan hiperkalemia akibat kerusakan sel-sel otot.

d) Kardiotoksin, Merusak serat-serat otot jantung yang menimbulkan kerusakan otot

jantung.

e) Cytotoksin. Dengan melepaskan histamin dan zat vasoaktifamin lainnya berakibat

terganggunya kardiovaskuler.

f) Cytolitik. Zat ini aktif menyebabkan peradangan dan nekrose jaringan pada tempat

gigitan.

g) Enzim-enzim lain termasuk hyaluronidase sebagai zat aktif pada penyebaran bisa.

Penatalaksanaan kegawatdaruratan pada gigitan ular

Penatalaksanaan dibagi menjadi perawatan prehospital dan manajemen di rumah

sakit. Perawatan prehospital seperti kasus-kasus emergensi lainnya, tujuan utamanya

adalah untuk mempertahankan pasien sampai mereka tiba di IGD. Perawatan di

lapangan yang tepat harus sesuai dengan prinsip dasar emergency life support.
Tenangkan pasien dan atasi masalah ABC (Airway, Breathing, Circulation). (Brian

James. 2006)

Pertolongan Pertama / prehospital :

1. Cegah gigitan sekunder atau adanya korban kedua. Ular dapat terus mengigit

sampai bisa mereka habis.

2. Tenangkan korban, yakinkan mereka bahwa gigitan ular dapat ditangani secara

efektif di instalasi gawat darurat. Batasi aktivitas dan imobilisasi area yang

terkena (umumnya satu ekstrimitas), dan tetap posisikan daerah yang tergigit

lebih rendah dari jantung untuk mengurangi aliran bisa.

3. Buka semua perhiasan atau benda lain yang menjepit / ketat yang dapat

menghambat aliran darah jika daerah gigitan membengkak. Jika berada ditempat

yang jauh dari fasilitas kesehatan pasang bidai longgar untuk immobilisasi area

yang tergigit.

4. Monitor tanda-tanda vital korban

5. Jika daerah yang tergigit mulai membengkak dan berubah warna, ular yang

mengigit kemungkinan berbisa.

6. Segera dapatkan pertolongan medis. Transportasikan korban secara cepat dan

aman ke fasilitas medis darurat.

7. Jangan menghisap bisa dengan mulut dan memotong sisi gigitan. Memotong sisi

yang tergigit dapat merusak organ disekitarnya meningkatkan resiko infeksi.

Penanganan setelah sampai di IGD :

1. Evaluasi tanda-tanda syok (seperti takipneu, takikardi, kulit kering dan pucat,

perubahan status mental, hipotensi). Dahulukan keadaan yang mengancam

nyawa. Korban dengan kesulitan bernafas mungkin membutuhkan endotracheal

tube dan ventilasi mekanik untuk menolong korban bernafas. Korban dengan

syok membutuhkan cairan intravena dan mungkin obat-obatan lain untuk

mempertahankan aliran darah ke organ-organ vital. (Brian James. 2006)


2. Jika didapatkan gejala sistemik atau lokal yang hebat (pembengkakan pada lebih

dari setengah ekstremitas atau nekrosis berat) berikan anti bisa. Beri antivenin

pada korban gigitan ular koral sebagai standar perawatan jika korban datang

dalam 12 jam setelah gigitan, tanpa melihat adanya tanda-tanda lokal atau

sistemik. Neurotoksisitas dapat muncul tanpa tanda-tanda sebelumnya dan

berkembang menjadi gagal nafas.

3. Bersihkan luka dari pecahan taring ular atau kotoran lain. Beri suntikan tetanus

jika korban belum pernah mendapatkannya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

4. Siapkan epinefrin subkutan atau intramuskuler bila syok dan difenhidramin IM

untuk mengatasi reaksi alergi yang terjadi setelah pemberian antibisa.

5. Berikan antibisa polivalen. Dosis pada anak sama dengan dosis orang dewasa.

6. Jika gatal atau timbul urtikaria, gelisah, demam, batuk atau kesulitan bernapas,

hentikan pemberian antibisa dan berikan epinefrin 0,01 ml/kg BB 1/10.000

subkutan. Difenhidramin 1,25 mg/kg BB/kali pemberian intramuskuler, bisa

diberikan sampai 4 kali perhari (maksimal 50 mg/kali atau 300 mg/hari). Bila

keadaan pasien stabil mulai kembali berikan antibisa perlahan melalui infus.

7. Tambahan antibisa harus diberikan setelah 6 jam jika terjadi ganggguan

pembekuan darah berulang, atau setelah 1-2 jam jika pasien terus mengalami

perdarahan atau menunjukkan tanda yang memburuk dari efek neurotoksik atau

kardiovaskuler.
DAFTAR PUSTAKA

Emeregency Nurses Association. (2018). Keperawatan Gawat Darurat dan Bencana.

Singapore : ELSEVIER

Toksikologi dan cara penanganan penderita keracunan www.idmedis.com

Hospital care for children online. www.ichrc.org

Safitrih, L., Kusuma, A.M., Aji Wibowo, M.I.N,. (2014). ‘Angka Kejadian dan

Penatalaksanaan Keracunan di Instalasi Gawat Darurat RSUD P rof. Dr. Margono

Soekardjo Purwokerto.