You are on page 1of 18

Fraktur Tertutup Femur Dextra 1/3 Proximal

Bonita vania mayasari (102013248)
Cindy mailangkay (102014040)
Yogie hadinata (102015024)
Cindi erica (102015041)
Angelia winoto (102015110)
Chistianto B. Patandianan (102015127)
Switha martha sinaga (102015177)
Hansen wijaya (102015183)
Dina clansina laura warkawani (102015242)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Terusan Arjuna No. 6, Jakarta Barat.

Pendahuluan
Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Kebanyakan fraktur
disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik berupa
trauma langsung dan trauma tidak langsung. Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki
daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan
olahraga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor.
Sedangkan pada orang tua, wanita lebih sering mengalami fraktur daripada laki-laki yang
berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkaitdengan perubahan
hormon pada monopouse.1
Fraktur merupakan ancaman potensial atau aktual kepada integritas seseorang akan
mengalami gangguan fisiologis maupun psikologis yang dapat menimbulkan respon berupa
nyeri. Nyeri tersebut adalah keadaan subjektif dimana seseorang memperlihatkan ketidak
nyamanan secara verbal maupun non verbal. Respon seseorang terhadap nyeri dipengaruhi
oleh emosi, tingkat kesadaran, latar belakang budaya, pengalaman masa lalu tentang nyeri
dan pengertian nyeri. Nyeri mengganggu kemampuan seseorang untuk beristirahat,
konsentrasi, dan kegiatan yang biasa dilakukan.1,2

1

1. dan merupakan yang paling berat. Fraktur terbuka digradasi menjadi 3 yaitu : • Grade I dengan luka bersih kurang dari 1 cm panjangnya. pembalap mobil. pasien tidak dapat bangun untuk berdiri atau berjalan. 2 . gerakan punter mendadak. Meskipun tulang patah. ruptor tendo. Pada pemeriksaan fisik.Skenario Kasus Seorang wanita berusia 60 tahun dibawa ke UGD RS Ukrida dengan keluhan sangat nyeri pada panggul kanan setelah jatuh di kamar mandi 2 jam yang lalu. • Grade II dengan luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif. didapat tanda-tanda vital dalam batas normal. dan bahkan kontraksi otot ekstrem. perdarahan ke otot dan sendi. • Grade III yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif. gaya meremuk. • Fraktur tidak komplet adalah patah hanya terjadi pada sebagian garis tengah tulang. jaringan sekitarnya juga akan terpengaruh. dislokasi sendi. dan kerusakan pembuluh darah. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung. Definisi Fraktur Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. kerusakan saraf. ekstremitas bawah sebelah kanan tampak lebih memendek dan berada pada posisi eksternal rotasi. yang beresiko tinggi untuk terjadinya fraktur adalah orang yang lanjut usia. pekerjaan-pekerjaan yang beresiko tinggi (tukang besi. supir. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Setelah terjatuh.2 Jenis Fraktur3 • Fraktur komplet adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran (bergeser dari posisi normal). tampak edema pada panggul kanan. mengakibatkan edema jaringan lunak. • Fraktur terbuka (fraktur komplikata/kompleks) adalah fraktur dengan luka pada kulit atau membrana mukosa sampai ke patahan tulang. orang yang bekerja yang membutuhkan kesimbangan. masalah gerakan. Organ tubuh dapat mengalami cidera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau akibat fragmen tulang. Pasien tersebut terpeleset hingga terjatuh menyamping ke kanan dan pangkal paha kanannya membentur lantai.2 Fraktur dapat terjadi pada semua tingkat umur. sangat nyeri saat dipalpasi. orang dengan penyakit degeneratif atau neoplasma). tidak dapat digerakkan baik aktif maupun pasif. • Fraktur tertutup (fraktur simpel) adalah patah yang tidak menyebabkan robeknya kulit.

metastasis tulang. Mobilisasi yang lebih banyak dilakukan oleh laki–laki menjadi penyebab tingginya risiko fraktur.3 Tahun 2001. Selain itu. • Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah).1. • Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang.000 kasus cedera yang disebabkan olahraga papan selancar dan skuter. fraktur juga digolongkan menjadi 11 macam sesuai dengan pergeseran anatomis fragmen tulang (fraktur bergeser/tidak bergeser):1-3 • Greenstick: fraktur di mana salah satu sisi tulang padah sedangkan sisi lainnya membengkok. di Amerika Serikat terdapat lebih dari 135.1 Berdasarkan Tempat dan Waktu 3 . • Spiral: fraktur memuntir seputar batang tulang. • Impaksi: fraktur di mana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya. Dimana kasus cedera terbanyak 39% yang sebagian besar penderitanya laki–laki dengan umur di bawah 15 tahun. tumor). jumlah kasus fraktur yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas 4 kali lebih banyak terjadi pada laki–laki daripada perempuan. • Kompresi: fraktur di mana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang). perempuan lebih sering mengalami fraktur daripada perempuan yang berhubungan dengan meningkatnya insidens osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon pada menopause. pekerjaan atau luka yang disebabkan oleh kendaraan bermotor. • Avulsi: tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendon pada perlekatannya. Sedangkan pada orang tua.3 Di Indonesia. penyakit paget. • Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang. • Komunitif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen. Epidemiologi Distribusi Frekuensi Berdasarkan Orang Fraktur lebih sering terjadi pada laki–laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olah raga. • Oblik: fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil dibanding transversal). • Epifiseal: fraktur melalui epifisis.

Hasan Sadikin Bandung terdapat penderita fraktur akibat kecelakaan lalu lintas sebanyak 444 orang. 2 Auto Anamnesia Dicatat pengambilan anamnesis tanggal dari dan oleh siapa. mungkin saja lututnya atau bagian yang lainnya.”. Ditanyakan persoalan seperti mengapa datang.2 per 100.1 Di Indonesia jumlah kasus fraktur akibat kecelakaan lalu lintas meningkat seiring pesatnya peningkatan jumlah pemakai kendaraan bermotor. pria 4. Di negara maju. biarkan penderita bercerita tentang keluhan sejak awal dan apa yang dirasakan sebagai ketidakberesan.000 penduduk dan wanita 5.3 Anamnesis Anamnesis terdiri dari dua yang bisa dilakukan secara auto anamnesia dan allo anamnesia untuk mendapatkan data tentang pasien. dan kapan dikeluhkan. yang dimaksud kaki oleh orang awam adalah anggota gerak bawah dan karenanya tanyakan bagian mana yang dimaksud.1 Di negara-negara Afrika kasus fraktur lebih banyak terjadi pada wanita karena peristiwa terjatuh berhubungan dengan penyakit Osteoporosis. Angka yang lebih tinggi di Maroko pada tahun 2005 insidens fraktur pada pria 43. wanita 5.2 Sakit/Nyeri Sifat dari sakit/nyeri:2 4 . Berdasarkan laporan penelitian dari Depkes RI tahun 2000. di Rumah Sakit Dr.4 per 100. masalah patah tulang pangkal paha atau tulang panggul merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mendapat perhatian serius karena dampak yang ditimbulkan bisa mengakibatkan ketidakmampuan penderita dalam beraktivitas.7 per 100.000 penduduk.000 wanita mengalami keretakan tulang panggul dan dalam setahun satu diantaranya akan meninggal karena komplikasi. Di Kamerun pada tahun 2003.000 penduduk. Ada beberapa hal yang menyebabkan penderita datang untuk minta pertolongan seperti: sakit/nyeri. untuk apa. kelainan bentuk/pembengkokan. sakit di kaki …. bagian apa dari anggotanya/lokalisasi perlu dipertegas sebab ada pengertian yang berbeda “…. Menurut penelitian Institut Kedokteran Garvan tahun 2000 di Australia setiap tahun diperkirakan 20.000 penduduk. kekakuan/kelemahan.2 Kemudian tanyakan gejala suatu penyakit atau beberapa penyakit yang serupa sebagai pembanding.2 per 100. Untuk mendapatkan anamnesis demikian perlu pengetahuan tentang penyakit. perbandingan insidens fraktur pada kelompok umur 50–64 tahun yaitu.

atau mungkin pada saat ini karena kesibukan orang tua maka pembantu rumah tangga dapat memberikan keterangan yang lebih baik.2 Allo Anamnesia Pada dasarnya sama dengan auto anamnesia. atau disertai nyeri.2 Kelainan Bentuk • Angulasi/rotasi/discrepancy (pemendekan/selisih panjang). dan juga pada kecelakaan mungkin saksi dengan pengantar dapat memberikan keterangan yang lebih baik terutama bila yang diantar tidak sadarkan diri. • Apa ada penyebabnya. sehingga apa yang didapat pada anamnesis dapat dicocokkan pada pemeriksaan fisik kemudian. • Sejak kapan dan apa sudah mendapat pertolongan. • Apakah keluhan ini untuk pertama kali atau sering hilang timbul. misalnya pegal/seperti ditusuk-tusuk/rasa panas/ditarik-tarik. sehingga pergerakan terganggu. misalnya trauma.2 Kelemahan • Apakah yang dimaksud insability atau kekuatan otot menurun/melemah/kelumpuhan. Apakah hanya kkau.2 Pemeriksaan Fisik 5 . • Bagaimana sifatnya.• Lokasi setempat/meluas/menjalar. oleh karena itu perlu dicatat siapa yang memberikan allo anamnesia misalnya: allo anamesis mengenai bayi tentunya dari ibu lebih cocok dari pada ayah. terus- menerus atau hanya waktu bergerak/istirahat dan sebagainya. Dari hasil anamnesis baik secara aktif oleh penderita maupun pasif (ditanya oleh pemeriksa yang tentunya atas dasar pengetahuan mengenai gejala penyakit) dipikirkan kemungkinan yang diderita oleh pasien. bedanya yang menceritakan adalah orang lain. Kekakuan • Pada umumnya mengenai persendian. • Benjolan atau karena ada pembengkakan. Hal ini penting bila kita berhadapan dengan anak kecil/bayi atau orang tua yang sudah mulai pikun atau penderita yang tidak sadar/sakit jiwa.

2 Inspeksi Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:2 • Cicatrix (jaringan parut baik yang alamiah maupun yang buatan (bekas pembedahan). dan pergerakan terutama mengenai lingkup gerak (move). karena itu perlu selalu diperhatikan wajah si sakit atau menanyakan perasaan si sakit. misalnya rambut di atasnya dst. Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan infoemasi dua arah. Keadaan Lokal Harus dipertimbangkan keadaan proksimal serta bagian distal dari anggota terutama mengenai status neurovascular. • Benjol/pembengkakan/cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa. • Warna kemerahan/kebiruan (livide) atau hiperpigmentasi. dada. dan kesadaran. • Posisi serta bentuk sisi ekstremitas (deformitas). serta kelamin. Yang dicatat adalah:2 • Perubahan suhu terhadap sekitarnya serta kelembaban kulit. Palpasi Pada waktu mau meraba terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki agar dimulai dari posisi netral/posisi anatomi. yang dicatat adalah tanda-tanda vital. perut. • Café au lait spot (birth mark). palpasi (feel). Dibagi menjadi dua. • Kemudian ekstremitas atas dan bawah seperti punggung (tulang belakang). Pada pemeriksaan ini yang terpenting adalah seperti inspeksi (look). • Gaya jalan (gait. • Kemudian secara sistematik diperiksa dari kepala. baik si pemeriksa maupun si sakit. waktu masuk kamar periksa). leher. kelenjar getah bening. • Fistula. satu pemeriksaan umum untuk mendapatkan gambaran umum dan dua pemeriksaan setempat (status lokasi).2 Gambaran Umum Perlu menyebutkan:2 • Keadaan umum (KU): baik/buruk. 6 . Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan Total Care kare ada kecenderungan di mana spesialisasi hanya memperhatikan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam.

Selain pencatatan pemeriksaan penting untuk mengetahui gangguan gerak. Kekakuan sendi disebut ankylosis dan hal ini dapat disebabkan oleh faktor intra articuler atau extra articuler. • Trauma tidak langsung bilamana titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan. fixed deformity. 7 . • Ekstra artikuler: oleh karena otot atau kulit. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat gerakan dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dengan ukuran metrik. kapsul (simpai) sendi.• Apabila ada pembengkakan. Pergerakan yang perlu dilihat adalah gerakan aktif dan pasif. Dalam hal ini terdapat dua istilah yaitu contraction (apabila perubahan fisiologis). hal ini juga penting untuk melihat kemajuan/kemunduran pengobatan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu. • Intra artikuler: kelainan/kerusakan dari tulang rawan yang menyebabkan kerusakan tulang subchondral juga didapat oleh karena kelainan ligament.4 • Trauma langsung berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu. apakah terdapat fluktuasi atau hanya oedema. Pada anak periksalah bagian yang tidak sakit dulu. terutama daerah persendian. Pergerakan Setelah pemeriksaan palpasi diteruskan dengan menggerakkan anggota gerak dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. • Nyeri tekan (tenderness).2 Etiologi Trauma Langsung Atau Tidak Langsung3. selain untuk mendapatkan koperasi anak pada waktu pemeriksaan juga untuk mengetahui gerakan normal si penderita. discrepancy. contracture (apabila sudah ada perubahan anatomis). Jalan perlu dinilai untuk mengetahui apakah pincang disebabkan karena: insability. agar kita dapat berkomunikasi dengan sejawat lain dan evaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. catat letak kelainannya (1/3 proksimal/medial/distal). Apabila terdapat fraktur tentunya akan terdapat gerakan yang abnormal di daerah fraktur (kecuali pada incomplete fracture). Selain diperiksan pada duduk. krepitasi. Pencatatan ini penting untuk mengetahui apakah ada gangguan gerak. berbaring juga perlu dilihat waktu berdiri dan jalan. nyeri.

Gaya benturan akan diteruskan ke proksimal dan dapat mengakibatkan: fraktur distal radius. Sindrom kompartemen. spasme otot. perubahan warna pada kulit disekitar daerah fraktur. akibat perdarahan dan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak. paru. fraktur antebrachii. Selain syok bisa juga terjadi emboli lemak. krepitasi. Patogenesis1 Ketika terjadi trauma pada tulang dapat mengakibatkan patah tulang. deformitas. fraktur supracondylair humerus. osteoporosis. fraktur condylus lateralis. toraks. merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dari otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. penyakit metabolik atau penyakit-penyakit lain seperti lain seperti infeksi tulang dan tumor tulang. Pada saat terjadi fraktur. pembengkakan lokal. Komplikasi fraktur adalah syok hipovolemik. yang kemudian menyumbat pembuluh darah kecil yang masuk ke otak. infeksi. pemendekkan tulang. Misalnya seorang anak yang jatuh dan berusaha menahan dengan telapak tangan membentur lantai. adanya emboli lemak dari fraktur tulang panjang dan sindrom kompartemen sehingga terjadi penetrasi yang dapat menyebabkan cidera vaskuler yang menimbulkan pendarahan dan trombosis lemak. fraktur caput radius. Seseorang yang melompat dari ketinggian dan mendarat pada kakinya dapat menderita fraktur kompressi tulang belakang yang jaraknya amat berjauhan. dan vertebra. pelvis. kurangnya sensasi dan ekimosis. Pada patah tulang terbuka dapat mengakibatkan kerusakan arteri. hilangnya fungsi. Sedangkan pada patah tulang tertutup dapat mengakibatkan risiko infeksi. ginjal. globula lemak dapat masuk ke dalam pembuluh darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi stress klien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan terjadinya globula lemak dalam aliran darah yang akan bergabung dengan trombosit membentuk emboli. dapat terjadi pada fraktur ekstremitas. dan organ lain. Ini disebabkan karena penurunan 8 . di mana patah tulang dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu patah tulang terbuka dan patah tulang tertutup. fraktur clavicula. pendarahan (syok) dan nekrosis avaskuler. Trauma rotasi pada kaki dapat mengakibatkan fraktur spiral pada tibia. Menifestasi klinis fraktur adalah nyeri gerak dan nyeri tekan pada lokasi yang patah. Fraktur yang diakibatkan trauma yang minimal atau tanpa trauma adalah fraktur patologis yaitu fraktur dari tulang yang patologis akibat suatu proses misalnya pada osteogenesis imperfect.

dan komplikasi 9 . Kerusakan saraf dapat terjadi karena cedera saraf itu sendiri atau karena adanya penekanan oleh gips atau balutan. Trombo emboli dapat terjadi akibat posisi tubuh yang horisontal dalam waktu yang lama dapat menyebabkan peningkatan proses pembekuan darah sehingga terbentuk trombus. • Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan. bergeser tidak bergeser. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan ekstermitas normal. Diagnosis2 Harus disebut jenis tulang atau bagian tulang yang mempunyai nama sendiri. komplit atau tidak.ukuran kompartemen otot karena fasia yang membungkus otot terlalu ketat atau balutan yang terlalu ketat dan penigkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan. tengah atau distal. hilangnya fungsi. kiri atau kanan. bagian mana dari tulang 1/3 proksimal. Ekstermitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya otot. • Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. (uji krepitus dapat mengakibatnya kerusakan jaringan lunak yang lebih berat). pembengkakan locak. jumlah garis patah. deformitas. • Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. krepitus. bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti normalnya. bentuk garis patah. terbuka atau tertutup. Manifestasi Klinis5 Manifestasi klinis adalah nyeri. Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau haris setelah cidera. • Pada fraktur panjang terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan baah tempat fraktur. pemendekan ekstremitas. dan perubahan warna. Spasme otot ysng menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang. • Setelah terjadi fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2.5 sampai 5 cm (1 sampai2 inci). terba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.

juga dapat untuk mengidentifikasi kerusakan jaringnan lunak. Working Diagnose (WD) Fraktur tertutup femur dextra. malunion. disuse atrofi otot-otot. Pemeriksaan Penunjang3-5 • Pemeriksaan radiologi untuk menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma. • Arteriogram dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskular. Komplikasi2. tomogram. Diffrential Diagnose (DD) • Fraktur collum femoris. Dalam pembuatan foto harus mencangkup dua sendi (panggul dan lutut). gangguan pertumbuhan (fraktur epifisis). • Fraktur femur suprakondilar. • Sistemik: emboli lemak. nonunion/infected nonunion.5 • Komplikasi dini • Lokal • Vaskuler: compartement syndrome (Volkmann’s ischemia). osteoporosis post trauma. dan trauma vaskuler. • Fraktur subtrochanter femur. 10 . • Fraktur intertrochanter. (2) pemeriksaan umum. CT Scan/MRI untuk memperlihatkan tingkat keparahan fraktur. Cukup dengan 2 proyeksi AP dan LAT. Diagnosis fraktur ditegakkan berdasarkan: (1) anamnesis. • Komplikasi lanjut • Lokal: kekakuan sendi/kontraktur. • Neurologis: lesi medulla spinalis atau saraf perifer. • Fraktur corpus femoris. dan jenis fraktur. Misalnya: fraktur femoris dextra 1/3 proksimal garis patah oblique dislocation ad latus terbuka derajat satu neurovaskuler distal baik. (3) pemeriksaan status lokal.bila ada. (4) pemeriksaan radiologis. • Scan tulang.

• Kreatinin. trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.3. Golongan narkotik hendaknya dihindari karena dapat menyebabkan delirium. transfusi multipel atau cidera hati. Pasien dapat diberikan parasetamol 500 mg hingga dosis maksimal 3000 mg per hari.5-2. Setelah operasi antikoagulan dapat diberikan 2-4 minggu atau bila klien sudah dapat mobilisasi. Pada keadaan sangat nyeri (terutama bila terdapat osteoporosis).5 Terapi Farmakologis Terapi perlu diberikan apabila nyeri yang seringkali timbul akibat fraktur. Heparin diberikan dengan target partial thromboplastin time (aPTT) 1.5 kontrol. Langkah selanjutnya adalah dengan menggunakan obat antiinflamasi nonsteroid seperti ibuprofen 400 mg 3 kali sehari. Warfarin diberikan dengan target International Normalized Ratio (INR) 2-3. fraktur colles. Penatalaksanaan1.• Hitung darah lengkap. Sebelum operasi antikoagulan perlu dihentikan dahulu agar perdarahan luka operasi terkendali. Untuk mencegah tromboemboli. sraktur smith. Terapi Konservatif • Proteksi saja Misalnya mitella untuk fraktur collum chirurgicum humeri dengan kedudukan baik. Reposisi dapat dengan anastesi umum atau anastesi lokal dengan menyuntikkan obat anastesi dalam 11 . Peningkatan sel darah putih adalah proses stres normal setelah trauma. baik trombosis vena dalam maupun emboli paru. kalsitonin 50-10 IU dapat diberikan subkutan malam hari. Low Molecular Weight Heparin (LMWH) dapat diberikan tanpa pengontrolan APTT. Bila respons tidak adekuat dapat ditambahkan dengan kodein 10 mg. • Immobilisasi saja tanpa repot Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan fraktur dengan kedudukan baik.2. Risiko infeksi dapat diturunkan dengan pemberian antibiotik perioperatif. hematokrit (Ht) mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur arau organ jauh pada multipel trauma). • Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah. klien perlu mendapatkan antikoagulan selama masa perioperatif. • Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips Misalnya pada fraktur supra condylair.

Screw dengan bone cement atau Ilizarov yang lebih canggih. Cara ini sekarang terus dikembangkan menjadi close nailing pada fraktur femur dan tibia. Fragmen distal dikembalikan pada kedudukan semula terhadap fregmen proksimal dan dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam gips. Judet. Kebanyakan fraktur ini pada manula terjadi secara spontan atau disebabkan oleh trauma dengan energi rendah. Pada pasien muda. Terapi Operatif Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan radiologis • Reposisi tertutup-Fiksasi Eksterna Setelah reposisi baik berdasarkan kontrol radiologis intraoperatif maka dipasang alat fiksasi eksterna. Jenis Khusus Fraktur Femur6 • Fraktur Collum Femoris Fraktur collum femoris adalah fraktur yang terjadi di sebelah proksimal linea intertrochanterica pada daerah intrakapsular sendi panggul. • Traksi Traksi dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau dipasang gips setelah tidak sakit lagi. Fiksasi eksterna dapat model sederhana seperti Roger Anderson. hematoma fraktur. sedangkan perkiraan durasi rehabilitasi 15-30 minggu. Pada anak-anak dipakai traksi kulit (traksi Hamilton Russel/traksi Bryant). Tujuan orthopaedi untuk kesegarisan (alignment) dan stabilitas. immobilisasi dalam pronasi penuh dan fleksi pergelangan. Misalnya fraktur distal radius. Misalnya reposisi tertutup fraktur supra condylair humerus pada anak diikuti dengan pemasangan parallel pins. • Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi interna. Populasi ini biasanya menderita osteoporosis senilis (tipe 2) yang menyebabkan kelemahan baik pada tulang kortikal maupun trabekular collum femoris dan merupakan predisposisi terjadinya fraktur. yaitu pemasangan fiksasi interna intra meduller (pen) tanpa membuka frakturnya. 12 . Perkiraan waktu penyembuhan tulang pada fraktur ini 12-16 minggu. perlu energi yang tinggi untuk dapat menyebabkan fraktur collum femoris sehingga dislokasi fraktur dan kerusakan aliran darah biasanya akan lebih besar pada kasus seperti ini. Reposisi tertutup fraktur collum pada anak diikuti pinning dan immobilasi gips. Mengembalikan fragmen ke posisi anatomic yang tepat pada fraktur panggul yang tidak stabil.

Dan penggantian dengan endoprotesis unipolar (tipe Austin-Moore atau Thompson) atau bipolar yang diindikasikan pada fraktur yang tidak stabil dengan dislokasi jika reduksi yang memuaskan tidak tercapai dan pasien berusia lebih tua dari 65 tahun. • Fraktur intertrochanter Fraktur intertrochanter adalah fraktur yang terjadi di antara trochanter mayor dan minor sepanjang linea intertrochanterica. Memperbaiki kekuatan otot-otot yang terpengaruh oleh fraktur. harus difiksasi interna (in situ) dengan sekrup kanulasi sejajar multiple atau pin. sedangkan perkiraan durasi rehabilitasi 15-20 minggu. atau fraktur yang tereduksi adekuat pada pasien yang lebih muda dari 65 tahun. Mengganti caput femoris pada pasien manula dengan fraktur yang tidak stabil agar stabilitas segera tercapat. yang juga dikenal sebagai calcar femoralis. dan penggantian dengan prosthesis capot femoris. Kesegarisan yang memuaskan setelah reduksi fraktur yang tidak stabil harus mempunyai angulasi tidak lebih dari 15 derajat valgus dan 10 derajat anterior-posterior. serta tambahan sekrup antirotasi dapat digunakan untuk fraktur basis collum yang korteks lateralnya komunitif atau osteoporosis berat. degeneratif atau keganasan yang menyebabkan kerusakan sendi sebelumnya. Metode penanganan bisa dengan cara reduksi tertutup atau tebuka dan fiksasi interna. Biasanya terjadi pada seorang pasien osteoporosis senilis atau pascamenopause merupakan kejadian yang terbanyak pada fraktur ini. Indikasi lain meliputi kasus reumathoid. pada keadaan ini fraktur intertrochanter biasanya menyertai fraktur corpus (shaft) femoris. Mencapai fleksi panggul 90 derajat untuk posisi duduk yang baik. dan memperbaiki dinding penopang medial. Tujuan dari orthopaedi adalah mengembalikan sudut corpus-collum (normal 127 derajat). Tujuan rehabilitasi untuk kisaran gerak dan kekuatan otot. Trauma berenergi tinggi dapat menyebabkan fraktur tipe ini pada pasien muda. Sasaran secara fungsional menormalkan gaya berjalan pasien. Mengompresi fragmen fraktur dengan lag sekrup untuk mengembalikan kontak kortikal dan kanselosa. Penanganan secara reduksi tertutup diindikasikan pada fraktur impaksi. Memperbaiki dan mempertahankan kisaran gerak lutut dan panggul. 13 . di luar kapsul sendi. Perkiraan waktu penyembuhan tulang pada fraktur ini 12-15 minggu. nondislokasi. Sekrup kompresi dan pelat samping. Mempertahankan kesegarisan pada fraktur stabil impaksi atau tanpa dislokasi.

Pasien dipertahankan di dalam traksi sampai fraktur menyambung dan nyerinya berkurang. Fraktur dapat meluas ke proksimal sampai daerah intertrochanter. Metode penanganan bisa dengan paku dan pelat (sliding hip screw) dan traksi skeletal. Fraktur ini dapat disebabkan oleh trauma berenergi tinggi pada pasien muda atau perluasan fraktur intertrochanter kea rah distal pada pasien manula. Mengembalikan dan mempertahankan kekuatan otot yang menyilang sendi dan memengaruhi fungsi sendi panggul. Tujuan rehabilitasi adalah mengembalikan dan memperbaiki kisaran gerak panggul supaya pasien dapat duduk dengan baik (90 derajat fleksi) dan menaiki tangga. Pada fraktur reverse oblik dan sangan komunitif. Osteotomi dilakukan untuk mengikis fragmen distal sehingga fragmen proksimal dapat disambungkan dengan fragmen distal. Perkiraan waktu 14 . dapat ditangani menggunakan traksi Buck. Komplikasi tirah baring lama. traksi skeletal hanya dilakukan untuk pasien yang sakitnya sangat berat. dan ulkus akibat tekanan. banyak ahli bedah akan menggeser fragmen distal pada bagian proksimal kea rah medial. • Fraktur subtrochanter femur Fraktur subtrochanter merupakan fraktur yang terjadi antara trochanter minor dan di dekat sepertiga proksimal corpus femur. Penanganan dengan sliding hip screw diindikasikan fiksasi fraktur memungkingkan mobilisasi awal pada pasien sehingga menjadi penanganan pilihan. merupakan komplikasi lain yang dapat dijumpai. Penanganan dengan traksi skeletal diindikasikan pada pasien sakit stadium terminal dan nonambulasi yang tidak dapat menjalani reduksi terbuka dan fiksasi interna dengan sliding hip screw. seperti pembendungan vena dan thrombosis. dan nyeri punggung saat berdiri. Hal ini akan mempertahankan daerah kontak yang luas antara fragmen proksimal dan distal fraktur. serta membantu penyembuhan. dan deformitas varus merupakan konsekuensi yang lazim pada penanganan ini. rotasi eksterna. Penanganan ini akan mengembalikan aposisi fragmen fraktur dengan menciptakan penopang medial. Gerakan sliding sekrup di dalam pelat berbentuk tabung akan menimbulkan kompresi dinamik frektur saat menanggung beban. lalu dapat dilanjutkan dengan mobilisasi ke posisi duduk. Ekstensi penuh pada panggul diperlukan untuk menghindari deviasi gaya berjalan. Karena pemendekan. lordosis lumbal yang berlebihan. infeksi saluran kemih. Mempertahankan kisarah gerak penuh pada lutut dan pergelangan kaki.

Alat ini harus selalu dikunci pada bagian proksimal untuk mengontrol rotasi. Perkiraan waktu penyembuhan tulang 15 . hanya dapat digunakan bila trochanter minor tidak terlibat dalam pola fraktur. • Fraktur corpus femoris Fraktur corpus femoris adalh fraktur diafisis femur yang tidak melibatkan daerah artikular atau metafisis. angulasi. Juga berguna pada fraktur yang meluas hingga fossa piriformis. Mengembalikan kekuatan otot-otot. Alat ini mencegah kolaps interfragmental dan sangat berguna untuk memepertahankan panjang tungkai pada pasien muda yang mengalami fraktur komunitif. Tujuan orthopaedi untuk mengembalikan rotasi sehingga kaput dan kolum femur relatif anteversi 15-20 derajat terhadap korpus femur. Penanganan batang intramedular diindikasikan pada fraktur ini dengan penguncian. Paku intramedular standar. penyembuhan tulang pada fraktur ini 16 minggu. Trauma energi rendah dan gaya tidak langsung juga dapat menyebabkan fraktur pada manula yang tulangnya osteopenik atau melemah akibat tumor. Mengembalikan kontinuitas sisi penopang medial dan kemampuannya menanggung beban kompresi. karena sekup pengunci proksimal akan di pasang di daerah ini. Trauma energi seperti kecelakaan kendaraan bermotor adalah penyebab terbanyak fraktur femur. Sedangkan penanganan sekrup kompresi dan pelat samping diindikasikan dengan pelat kondiler dinamik 95 derajat dapat mempertahankan panjang fraktur dengan fiksasi di atas dan di bawahnya. Bila fraktur komunitif cukup berat sehingga memerlukan pemasangan alat ini. Cidera tulang patologis biasanya sebagai akibat gaya puntiran atau spiral dan jarang disertai cidera jaringan lunak. dan mempertahankan panjang. Alat ini memiliki sekrup pengunci proksimal yang melintang kolum femur dan dipasang pada kaput femur. makan perlu dipertimbangkan kondilar dinamis tidak umum digunakan. Alat ini memungkinkan mobilisasi awal pada pasien dan meminimalkan komplikasi yang diakibatkan tirah baring lama. Fraktur yang melibatkan trochanter minor harus ditangani dengan paku tipe rekonstruksi. Metode penanganan yang bisa dilakukan adalah dengan batang intramedular dan sekrup kompresi dan pelat samping. Mempertahankan kisaran gerak lutut dan pergelangan kaki. Tujuan rehabilitasi untuk memperbaiki dan mengembalikan kisaran gerak panggul. sedangkan perkiraan durasi rehabilitasi 20 minggu. Fraktur ini sering berhubungan dengan trauma jaringan linak yang berat dan pada saat yang bersamaan terjadi luka terbuka.

sedangkan perkiraan durasi rehabilitasi 15-20 minggu. Bila ada komunitif berat. Stabilitas paling baik dicapai dengan mengembalikan kongruensi tulang dan menggunakan piranti keras untuk memfiksasi fraktur secara rigid. Penanganan fiksasi paku intramedular memungkinkan mobilisasi maupun kisaran gerak lebih awal. Teknik fiksasi ini dilakukan dengan visualisasi langsung tempat fraktur dan reduksi anatomis harus tercapai. Pada pasien manula. Penguncian ini memberikan fiksasi statis dan mencegah pemendekan dan hilangnya kesegarisan rotasional. Memperbaiki kekuatan otot yang dipengaruhi fraktur. Mengembalikan kontak kortikal untuk stabilitas aksial. 12-16 minggu sampai fraktur mengalami penyatuan. Pada pasien muda fraktur ini biasanya disebabkan oleh trauma berenergi tinggi seperti tertabrak mobil. Sedangkan penanganan reduksi terbuka dan fiksasi pelat interna paling baik untuk fraktur dengan perluasan ke periartikuler atau intraartikuler yang tidak memungkinkan untuk dilakukan paku intramedular. Tujuan rehabilitasi untuk mengembalikan dan mempertahnkan kisaran gerak penuh pada panggul dan lutut. Kelengkungan anterior dan isthmus femur memungkinkan batang intramedular terpasang secara pas dalam kanalis medularis. Untuk fiksasi yang optimal. Fraktur femur suprakondilar melibatkan aspek distal atau metafisis femur. Fraktur ini biasanya disertai cidera penyerta lainnya. Daerah ini mencangkup 8-15 cm bagian distal femur. Fraktur ini sering melibatkan daerah sendi. Metode penanganan bisa dengan fiksasi paku intramedular dan reduksi terbuka dan fiksasi pelat interna. Penguncian di bagian distal dan proksimal fraktur diperlukan bila fraktur disertai fragmen butterfly tidak stabil atau komunitif berat. • Fraktur femur suprakondilar. pada fraktur ini 4-6 minggu sampai fraktur menjadi melekat dan memperlihatkan stabilitas awal. Perkiraan waktu penyembuhan tulang pada fraktur ini 12-16 minggu. pertimbangkan penggunaan graft tulang di bagian medial. Sedangkan perkiraan durasi rehabilitasi 15-30 minggu. Banyak system klasifikasi kompleks yang diajukan untuk fraktur ini dan semuanya mencoba untuk mendefinisikan jumlah kominutif dan derajat dislokasi fragmen fraktur. Tujuan orthopaedi untuk mengembalikan rotasi dan panjang. fraktur ini biasanya disebabkan oleh trauma berenergi rendah seperti jatuh dan tanpa disertai penyerta. pelat harys dipasang pada femur dengan delapan titik fiksasi kortikal dibawah dan di atas tempat fraktur. 16 . Tujuan orthopaedi untuk meminimalkan fleksi/ekstensi residual atau angulasi varus/valgus pada tempat fraktur.

pake Ender dan pin Rush. memberikan fiksasi yang kurang kaku dan hasil yang kurang optimal. Kesimpulan Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Metode gips atau traksi berkaitan dengan tingginya risiko malunion termasuk deformitas varus. 17 . supir. Tujuan rehabilitasi untuk memperbaiki dan mengembalikan kisaran gerak lutut. tapi masih digunakan. orang dengan penyakit degeneratif atau neoplasma). Fraktur dapat terjadi pada semua tingkat umur. Pada saat fiksasi inisial. panggul. masalah gerakan. baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. yang beresiko tinggi untuk terjadinya fraktur adalah orang yang lanjut usia. Alat fiksator yang umum digunakan meliputi pelat bilah kondilar 95 derajat dan sekrup kompresi dinamis 95 derajat. dan pergelangan kaki. gips atau traksi. graft tulang sering dilakukan untuk mengganti defisit tulang. Condylar buttress plate dan retrograde supracondylar intermedullary nail juga lazim digunakan. Metode dengan cara yang pertama merupakan metode terpilih untuk fraktur ini. Alat seperti suprakondilar Zickel. pekerjaan-pekerjaan yang beresiko tinggi (tukang besi. pembalap mobil. Penanganan ini diindikasikan pada fraktur yang sangat komunitif atau pasien yang berisiko tinggi ditangani dengan pembedahan. Metode penanganan yang bisa dilakukan dengan reduksi terbuka dan fiksasi interna. ulkus akibat tekananm infeksi saluran kemih dan gangguan fungsi paru. penanganan dengan traksi memerlukan periode tirah baring yang berkepanjangan sehingga meningkatkan risiko terjadinya thrombosis vena dalam. Selain itu. valgus dan rotasional. Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang. orang yang bekerja yang membutuhkan keseimbangan.

Pankovich AM & Elstrom JA. 2005. Jilid 1 Edisi 5. Edisi 2. 502-537. Kuncara HY.275-286. Cockshott WP.88-103. hal. 2. dan Fraktur. hal. Jakarta: EGC. New York: McGraw-Hill. Terapi & rehabilitasi fraktur. 2006. hal. Jakarta: EGC. Daftar Pustaka 1. Kumpulan kuliah ilmu bedah.184-202.85-119. 3. Samuel E. penerjemah. 2011. 1995. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Gangguan Keseimbangan. Jakarta: EGC. penerjemah. 3rded. Handbook of Fractures. 1995. 4. hal. 18 . 2009. Setiati S & Laksmi PW. Jakarta: Interna Publishing. Palmer PES. Hartono L. Petunjuk membaca foto untuk dokter umum. 5. hal. Staf pengajar bagian bedah FKUI.244-308. Jatuh. p. Buku Ajar Ilmu Bedah. Sjamsuhidayat R & Jong WD. Hoppenfeld S & Murthy VL. Jakarta: FKUI. 6. Hegedus V.