You are on page 1of 12

TUGAS MAKALAH

ENTERPRENEUR NURSING

BISNIS PLAN

Dosen pengampu: Aris Setiawan S.kep Ns

Disusun oleh :
NAMA : JUMALI
: MURDIONO
: ISMAIL YUNUS
KELAS : E/KP/II

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA

2016
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi ALLAH yang telah memberikan nikmat sehat yang tiada hentinya
sehingga kita mengetahui keperkasaan beliau yang selalu menjadikan hambanya bisa
melaksankan aktivitas yang tiada henti. Tidak lupa patut kita syukuri atas karunianya sehinga
kita bisa melaksanakan aktivitas yang disalah satunya mengerjakan tugas makalah ini.

Dengan ini kami ucapkan terimah kasih kepada ibu dosen yang telah memberikan
amanah kepada saya pribadi untuk mengerjakan tugas makalah enterprenuur nursing
mengenai bisnis plan. Semoga dengan adanya tugas ini saya bisa lebih mengetahui cara
berbisnisdengan baik dan benar.

Saya menyadari bahwa tugas ini sangat jauh dari sempurna, masih banyak kekurangan
dan kelemahan . setiap saran, kritik dan komentar yang bersifat membangun itulah yang kami
harapkan, selagi untuk membangun dan meningkatkan kualitas dengan menyempurnakannya
tugas ini.
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perekonomian di indonesia sejak dahulu hingga sekarang sulit sekali untuk di


stabilkan kinerja perekonomianya. Banyak sektor perdagangan, perindustrian dan manufaktur
menjadi modal utama untuk membangun perekonomian negara indonesia sejak dulu hingga
sekarang. Karena dari sektor itulah dapat menguntungkan bagi pendapatan devisa negara.
Dari beberapa sektor usaha seperti perdagangan, perindustrian dan manufaktur sangatlah
diminati oleh beberapa kalangan masyarakat untuk membuka usaha. Karena saat ini sedikit
sekali lapangan pekerjaan yang menjamin masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
dari dampak globalisasi dan perkembangan zaman yang telah maju dan modern. Sehingga
banyak usaha apa saja yang di buat oleh masyarakat untuk memberi keuntungan bagi
konsumen maupun sendiri. Sehingga banyak usaha kecil mikro dan menengah ( UMKM )
dan koperasi turut adil dalam meningkatkan perekonomian di indonesia.
Sehubungan dengan kesimpulan di atas, maka penulis menarik untuk memberikan data atau
gambaran mengenai kinerja usaha kecil melalui usaha perorangan yang bernamaJaya Mebel
yang bergerak dalam bidang pembuatan mebel melalui bahan kayu yang masih dalam proses
atau belum jadi. Dengan ini penulis sangat tertarik untuk mempersoalkan bagaimana kinerja
usaha kecil mikro dan menengah ( UMKM ) untuk dituangkan dalam laporan penulisan
dengan judul “Cara Usaha Kecil menengah (Usaha Mebel)”.

2.1 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada makalah ini adalah :
1. Bagaimana Maju Jaya Mebel dalam mengembangkan dan mengatasi kendala – kendala
yang dihadapi di tengah persaingan ekonomi?
2. Bagaiman peluang usaha mebel ditahun 2016 ini?
3.1 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui cara Maju Jaya Mebel mengembangkan dan mengatasi kendala-kendala
yang dihadapi di tengah persaingan ekonomi.
BAB II

2.1 Dasar Teori


Usaha Kecil didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh
perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan bertujuan untuk memproduksi barang
atau jasa untuk diperniagakan secara komersial dan mempunyai omzet penjualan sebesar 1
(satu) miliar rupiah atau kurang. Sementara Usaha Menengah didefinisikan sebagai kegiatan
ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan bertujuan
untuk memproduksi barang atau jasa untuk diperniagakan secara komersial dan mempunyai
omzet penjualan lebih dari 1 (satu) miliar.
Ciri-ciri perusahaan kecil dan menengah di Indonesia, secara umum yaitu manajemen berdiri
sendiri, pemilik adalah sekaligus pengelola dalam UKM, modal disediakan oleh seorang
pemilik atau sekelompok kecil pemilik modal, daearah operasinya umumnya lokal, walaupun
terdapat juga UKM yang memiliki orientasi luar negeri, berupa ekspor ke negara-negara
mitra perdagangan.
Kekuatan dan Kelemahan UKM

Kekuatan Kelemahan
Kebebasan untuk bertindak Relatif lemah dalam spesialisasi
Menyesuaikan kepada kebutuhan
setempat Modal dalam pengembangan terbatas
Peran serta dalam melakukan tindakan
/usaha Sulit mendapat karyawan yang cakap

UKM memiliki peranan penting bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi. UKM
dapat dikatakan merupakan salah satu solusi masyarakat untuk tetap bertahan dalam
menghadapi krisis yakni dengan melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil terutama yang
berkarakteristik informal. UKM berperan dalam ekonomi Indonesia, baik ditinjau dari segi
jumlah usaha (establishment) maupun dari segi penciptaan lapangan kerja. UKM termasuk
kelompok usaha yang penting dalam perekonomian Indonesia. Hal ini disebabkan usaha
kecil, menengah dan koperasi merupakan sektor usaha yang memiliki jumlah terbesar dengan
daya serap angkatan kerja yang signifikan. Oleh karena kesenjangan pendapatan yang cukup
besar masih terjadi antara pengusaha besar dengan usaha kecil, menengah dan koperasi,
pengembangan daya saing UKM secara langsung merupakan upaya dalam rangka
peningkatan kesejahteraan rakyat banyak, sekaligus mempersempit kesenjangan ekonomi.

2.2 Bentuk Unit Usaha


Pada makalah ini saya akan membahas tentang bisnis usaha kecil formal (usaha
kelompok) yang dijalankan kelompok, yang bergerak pada bidang pembuatan mebel,
khususnya dalam pembuatan kursi pijat refleksi. Usaha ini tidak berbadan hukum, jadi hanya
sekedar usaha kecil/menengah (industri rumahan). Jumlah pekerja dalam usaha ini ada 3
orang, dan mereka merupakan tenaga ahli di bidang mebel.
Meskipun jenis usaha ini tidak berbadan hukum, namun tetap ada yang disebut
sebagai pembantu perusahaan yang bertugas membantu memasarkan hasil produk usaha
tersebut. Adapun yang dimaksud dengan pembantu pengusaha adalah setiap orang yang
melakukan perbuatan membantu pengusaha dalam menjalankan perusahaan dengan
memperoleh upah

2.3 Keragaman Produk


Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa produk yang dihasilkan adalah
kursi pijat refleksi produk tersebut terbuat dari kayu jati. Usaha mebel ini
menggunakan sistem pesan terlebih dahulu dan membuat sampel untuk promosi. Dalam
proses produksi ada beberapa tahapan mulai dari pemilihan bahan, pengukuran, perakitan,
penyelesaian.
Bahan baku mebel adalah kayu jati dan kayu non jati, kayu non jati seperti misalnya
kayu johar, kayu aboria, kayu pinus dan lain-lain. Selain bahan baku kayu jati masih
diperlukan tambahan beberapa bahan pembantu yang sering digunakan untuk pembuatan
mebel antara lain sebagai berikut: polytur digunakan untuk mempercantik penampilan mebel,
paku, lem dan lain-lain. Memperoleh bahan baku dari distributor yang tidak tentu (tergantung
kebutuhan dan harga).
Alat produksi yang digunakan oleh para tukang mebel terdiri dari alat-alat yang masih
sederhana tetapi ada juga yang sudah modern. Alat-alat mebel tersebut antara lain: Gergaji,
Bur, Bubut, Sekel, Asah /Kikir, Bengso (alat pemecah kayu).

2.4 Asal Sumber Produk


Usaha mebel ini sudah lama direncanakan oleh kita. Kita juga sudah berencana untuk
bekerja sama dengan dinas perhutanan. Selain itu, kita juga memesan beberapa bahan baku
mentah berupa kayu-kayu jati dari para petani pohon jati, kemudian diolah menjadi peralatan
yang sudah kita rencanakan.
Agar usaha mebel ini tetap bertahan lama, kita lebih mengutamakan kualitas daripada
kuantitas, maka tidak heran jika produk-produk mebel yang kita hasilkan nanti sangat sedikit.
Hal ini kita lakukan untuk meningkatkan kualitas produk dengan memberikan desain mebel
yang lebih unik, dan bervariasi. Tidak hanya dalam peningkatan, tetapi kita juga
meningkatkan pelayanan terhadap para pelanggan atau pembeli dengan memberikan
garansi/jaminan produk jika ada produk barang yang rusak, tepat waktu dalam memproduksi
pesanan pelanggan. kita juga bersedia menukar produk yang rusak atau tidak sesuai dengan
pesanan pelanggan lalu menggantinya dengan produk yang lain.

2.5 Manajemen Keuangan


Untuk mengembangkan bisnis mebel ini agar lebih produktif, maka diperlukan
beberapa sistem manajemen yang perlu dilakukan. Sistem manajemen tersebut sangatlah
berguna bagi para pelaku usaha kecil, jadi diperlukan beberapa pemahaman dan diperhatikan
yang mendalam supaya dapat melaksanakan manajemen usaha kecil yang baik dan benar.
kita menggunakan sistem manajemen keuangan bagi hasil, yaitu dengan membagi hasil
secara bijak antara kita dengan para karyawan.
Para karyawan diberi upah per bulannya sekitar 800 ribu kemudian kita juga
memberikan bonus tambahan bagi para karyawan jika berhasil membuat suatu produk mebel
yang unik, yang tentunya memiliki nilai estetika dan bernilai ekonomi yang tinggi pula.
Memang bila dipikir upah yang diberikan terhadap para karyawan sangat kecil, namun karena
ini adalah usaha kecil yang tidak berbadan hukum atau informal, maka kita rasa upah tersebut
cukup bagi para karyawannya, terlebih lagi produk yang dihasilkan dari usaha mebel ini juga
bukan dalam skala besar.
Sebenarnya ada suatu manajemen yang sangat tepat dalam mengembangkan bisnis,
apalagi bisnis mebel seperti ini yaitu dengan manajemen strategis. Manajemen
strategis adalah suatu ilmu dalam penyusunan, penerapan, dan pengevaluasian keputusan-
keputusan lintas fungsional yang dapat memungkinkan suatu industri rumahan/usaha kecil
non formal dapat mencapai sasarannya. Berdasarkan definisi tersebut maka manajemen
strategis berfokus pada proses penetapan tujuan organisasi, pengembangan kebijakan dan
perencanaan untuk mencapai sasaran, serta mengalokasikan sumber daya untuk menerapkan
kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan organisasi. Manajemen strategis berkaitan
dengan bagaimana manajemen menganalisis sasaran strategis (visi, misi, tujuan) serta kondisi
internal dan eksternal yang dihadapi perusahaan. Selanjutnya, para pelaku usaha kecil non
formal harus menciptakan keputusan strategis. Keputusan ini harus mampu
menjawab tiga pertanyaan utama
a) Industri apa yang digeluti perusahaan usaha kecil tersebut;
b) Bagaimana perusahaan usaha kecil tersebut harus bersaing harus bersaing dengan usaha
besar lainnya;
c) Tindakan diambil untuk menjalankan keputusan tersebut. Tindakan yang perlu dilakukan
akan mendorong manajer untuk mengalokasikan sumber daya dan merancang organisasi
untuk mengubah rencana menjadi kenyataan.

Selain dengan manajemen strategis ternyata pemasaran juga sangat diperlukan dalam
mengembangkan bisnis mebel ini. kita melakukan pemasaran mebel dengan cara dipasarkan
sendiri ke masyarakat sekitar tempat usahanya, bisa juga dengan melalui door to
door (menawarkan barang mebelnya langsung pada para tetanga) atau dengan menjalin
kemitraan dengan para tengkulak melalui toko-toko atau show room yang menginformasikan
mebel-mebel yang sedang digemari konsumen disamping memberikan pinjaman modal
usaha. Hubungan pengusaha industri kecil mebel dengan pemilik show room dan pedagang
perantara melahirkan suatu model kemitraan dengan pola dagang. Sementara hubungan
dengan industri rumah tangga melahirkan model kemitraan pola produksi.

Adapun tujuan dari manajemen bisnis usaha kecil adalah untuk menciptakan
kekayaan bagi pemilik usaha dengan memberikan beberapa nilai yang konsumen butuhkan.
Proses manajemen bisnis melibatkan, beberapa faktor di bawah ini
a) Mengadakan penelitian terhadap pasar untuk meilhat peluang bisnis yang
menguntungkan, pasar yang dimaksud adalah dengan melihat kondisi masyarakat di
sekitar tempat usaha kita serta mengetahui kriteria seperti apa yang dibutuhkan
masyarakat pada masa sekarang;
b) Menyiapkan dan mengembangkan strategi untuk manajemen pemasaran,
manajemen operasi, manajemen keuangan dan manajemen sumber daya manusia,
dan
c) Strategi yang telah direncanakan dilakukan melalui perencanaan, pengorganisasian,
memotivasi dan kontrol kelangsungan hidup jangka panjang.
d) Bisnis usaha kecil tersebut harus dilakuakn dan dikelola secara bertanggung jawab, beretika,
dan tidak lupa juga dengan kesejahteraan para karyawannya.

2.5 Kendala
Usaha yang cukup klasik dalam dunia usaha kecil seperti yang kita rencanakan adalah
modal. Meskipun sudah ada program bantuan pemerintah yaitu KUR (Kredit Usaha Rakyat),
namun tidaklah mudah untuk dilakukan, terlebih lagi dengan persyaratannya yang rumit.
Selain modal sebagai kendala utama dalam pengembangan bisnis mebel ini, tetapi ada
kendala lainnya yaitu sebagai berikut:
a) Sangat susah memperoleh bahan baku: karena usaha mebel ini berbahan baku kayu jati,
maka sangatlah sulit mendapatkan kayu jati dengan kualitas yang bagus dan harga
terjangkau. Selain itu, dalam proses pemesanan produk mebel setengah jadi yang ia pesan
dari Jepara belum tentu sesuai dengan kriteria/belum tentu diminati oleh masyarakat di
sekitar tempat usahanya. Kemudian, dalam penggunaan bahan baku yang spesifik dan unik
untuk usaha mebel dan tidak selalu terdapat di wilayah sekitar.
b) Terbatasnya teknologi: kita sadar bahwa usaha ini harus memerlukan penerapan teknologi
lebih modern agar usahanya terus berkembang. Selama ini kita mendesain bentuk dan corak
produk mebel hanya menggambarnya di atas kertas, tentu saja motif desain yang
dihasilkannya pun akan kurang banyak bahkan bersifat monoton.
Minimnya pemanfaatan teknologi modern, seperti internet dalam desain, pemasaran,
dan promosi hasil produksi sangatlah menghambat kemajuan usaha mebelnya tersebut.
Keterbatasan pengguasaan teknologi inilah yang menjadi kendala atau faktor penghambat
kemajuan bisnis usaha kecil.
c) Sumber daya manusia yang dimiliki kurang berkualitas: Hal ini terjadi karena rata-rata para
karyawan hanya lulusan SMA, bahkan ada yang hanya lulusan SMP. Kurangnya tingkat
pendidikan ini dapat menjadi faktor penghambat dalam mengembangkan usaha mebel kita.
Lain halnya jika para karyawan kita lulusan sarjana desain grafis, tentunya mereka akan
mendesain corak, motif, dan bentuk produk mebelnya dengan menggunakan komputer dan
internet sebagai sumber inspirasinya. Keterampilan dalam mengukir mebel juga salah satu
faktor pendukung kemajuan usaha mebel tersebut, misalnya membuat ukiran yang indah pada
kursi ruang tamu.
2.6 Jumlah Modal
Modal yang dipersiapkan oleh kita untuk membuka usaha mebel ini selain uang
juga pengalaman jaringan tukang. Jaringan tukang yang dimaksut adalah mempunyai kenalan
di daerah Jepara. Kemudian, kita pada saat pertama kali membuka usaha mebel ini kita
memanggil seorang tukang yang berpengalaman langsung dari Jeparanya untuk mengajari
para karyawan yang lain dalam memahat, mengecat, membuat ukiran-ukiran indah pada
produk mebel yang akan dihasilkan.
Melalui cara ini karyawan kita menjadi lebih terampil dalam membuat suatu produk
mebel, misalnya kursi pijat refleksi berbahan baku jati dengan motif ukiran yang indah,. Jika
para karyawan sudah memiliki skill dalam mengolah kayu maka tidak akan menemui
kesulitan dikemudian hari. Modal untuk membuka usaha mebel ini kita mengeluarkan dana
sekitar 10 sampai 15 juta rupiah. Sebagian besar untuk membeli peralatan pertukangan.
Sedangkan, untuk membeli kayu, cat, pernis, dan ampelas membutuhkan dana sekitar Rp 16
juta per bulan, selebihnya adalah biaya operasional, seperti listrik, dan air.

2.7 Prospek Pengembangan


Usaha mebel ini akan terus kita kembangkan, bila perlu ke depannya bisa berbadan
hukum dan berubah menjadi usaha menengah ke atas. Prospek pengembangannya kita akan
menjalin kerja sama dengan toko mebel di sekitar tempat usaha kita. Tentunya harus melihat
terlebih dahulu bagaimana tingkat ekonomi masyarakat di daerah tersebut, jika menengah ke
atas maka kita akan berani menawarkan produk mebelnya dengan harga yang cukup tinggi,
namun jika sedang-sedang saja tingkat perekonomiannya maka kita akan menawarkan harga
produk mebelnya dengan harga agak sedikit miring . Bila perlu memberi gebrakan baru,
seperti menerima tukar tambah kursi ruang tamu, atau dengan membuka jasa servis barang-
barang mebel yang sudah rusak yang dimiliki oleh masyarakat di daerah tersebut.
2.8 Analisis Swot
kekuatan :
- memiliki aset tanah milik sendiri
- produk yang dihasilkan unik dan dapat disesuaikan dengan keinginan konsumen
- kualitas barang yang dihasilkan baik
- Tenaga ahli yang memadai
Kelemahan:
- terkadang barang pesanan jadi tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan sebelumnya
karena banyak faktor salah satunya faktor bahan baku
- lokasi usaha yang kurang strategis
- minimnya pemanfaatan tekhnologi internet dalam memasarkan barang
- keterbatasan modal
- hanya melayani pesanan barang setengah jadi

Peluang:
- sudah mempunyai banyak konsumen langganan
- sudah berlangganan dengan salah satu tempat penjualan bahan baku
- daerah jakarta adalah tempat destinasi properti di indonesia bahkan asia
- barang-barang mebel masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat
ancaman:
- Bahan baku berkualitas sangat sulit didapat sekalipun ada harganya cukup mahal
- terdapat banyak pesaing
- tidak adanya standart harga barang dipasaran usaha mebel sehingga sulit untuk
menentukan harga barang
- ketidakstabilan nilai tukar mata uang
- penggunaan teknologi sebagai alat bantu pengolahan barang sangatlah mahal sehingga
dapat mengurangi keuntungan
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan:
Berdasarkan hasil bisnis plan kita di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bila kita
mau berwirausaha maka harus bersungguh-sungguh dan jangan pernah ragu untuk
mencobanya. Meskipun usaha mebel milik kita ini bersifat non formal tetapi keuntungan
yang diperolehnya cukup besar, tentunya hal ini didukung oleh hasil produk-produk mebel
kita yang berkualitas tinggi.

3.2 Saran:
Jenis usaha mebel ini perlu terus dikembangkan, agar dapat lebih maju dan dapat
berbadan hukum supaya lebih mudah dalam melakukan peminjaman uang pada pihak bank
sebagai tambahan modal. Usaha ini juga bisa menjadi salah satu usaha yang meningkatkan
perekonomian di Indonesia melalui jalus bisnis usaha kecil.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1) Muhammad, Abdulkadir. 2003. Hukum Perusahaan Indonesia. Bandung : PT. Citra


Aditya Bakti.
2) id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_strategis (akses 4 Januari 2013 pukul: 20.24 WIB).
3) galeriukm.web.id/artikel-usaha/pengembangan-usaha-kecil (akses 4 Januari 2013 pukul:
20.30 WIB).
4) nyari-idebisnis.blogspot.com/.../tips-memasarkan-bisnis-mebel.html (akses 5 Januari 2013
pukul: 08.00 WIB).
5) http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/strategi-bisnis/19137-mengapa-kita-harus-
berwirausaha.html (akses 5 Januari 2013 pukul: 10.00 WIB).