You are on page 1of 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Farmakoterapi merupakan intervensi terapi yang akan paling banyak dilakukan dalam praktek
klinik, sehingga kemungkinan untuk menghadapi kasus efek samping obat bagi seorang praktisi
medik mungkin tidak dapat dihindari sepenuhnya. Seringkali, kejadian efek samping obat ini pada
seorang pasien tidak dengan mudah dikenali, kecuali kalau efek samping yang terjadi adalah bentuk
yang berat dan menyolok. Mahasiswa perlu mengenali bentuk-bentuk efek samping obat, faktor-
faktor penyebab atau yang mendorong terjadinya, upaya pencegahan dan penanganannya.
Setiap obat mempunyai kemungkinan untuk menyebabkan efek samping, oleh karena
seperti halnya efek farmakologik, efek samping obat juga merupakan hasil interaksi yang
kompleks antara molekul obat dengan tempat kerja spesifik dalam sistem biologik tubuh.
Kalau suatu efek farmakologik terjadi secara ekstrim, inipun akan menimbulkan pengaruh
buruk terhadap sistem biologik tubuh.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Efek Samping Obat
Menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO
1970) efek samping suatu obat adalah segala sesuatu khasiat yang tidak diinginkan untuk
tujuan terapi yang dimaksudkan pada dosis yang dianjurkan.
Pengertian efek samping adalah setiap efek yang tidak dikehendaki yang merugikan
atau membahayakan pasien (adverse reactions) dari suatu pengobatan. Efek samping tidak
mungkin dihindari/dihilangkan sama sekali, tetapi dapat ditekan atau dicegah seminimal
mungkin dengan menghindari faktor-faktor risiko yang sebagian besar sudah diketahui.

B. Pembagian Efek Samping
Efek samping obat dapat dikelompokkan/diklasifikasi dengan berbagai cara, misalnya
berdasarkan ada/tidaknya hubungan dengan dosis, berdasarkan bentuk-bentuk manifestasi
efek samping yang terjadi, dan sebagainya. Namun mungkin pembagian yang paling praktis
dan paling mudah diingat dalam melakukan pengobatan adalah sebagai berikut:
Efek samping yang dapat diperkirakan, terbagi atas:

Keadaan ini dapat terjadi karena dosis yang diberikan memang besar. penurunan fungsi hepar. 2. f.. gangguan faal jantung. antihipertensi dan hipoglikemika/antidiabetika. karena secara bersamaan juga minum aspirin.1. Selain itu riwayat pasien dalam pengobatan yang mengarah ke kejadian efek samping juga perlu diperhatikan. Efek samping jenis ini umumnya dijumpai pada pengobatan dengan depresansia susunan saraf pusat. menjadi relatif terlalu besar pada pasien-pasien tertentu. bayi dan usia lanjut). Hipoglikemia karena dosis antidiabetika terlalu tinggi. Depresi respirasi pada pasien-pasien bronkitis berat yang menerima pengobatan dengan morfin atau benzodiazepin. Aksi farmakologik yang berlebihan Terjadinya efek farmakologik yang berlebihan (disebut juga efek toksik) dapat disebabkan karena dosis relatif yang terlalu besar bagi pasien yang bersangkutan. obat-obat pemacu jantung. usia. genetik dsb. sehingga dosis yang diberikan dalam takaran lazim. Hipotensi yang terjadi pada stroke. Respons karena penghentian obat Gejala penghentian obat (=gejala putus obat. dan upaya pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan perhatian khusus terhadap kelompok-kelompok pasien dengan risiko tinggi tadi (penurunan fungsi ginjal. atau karena adanya perbedaan respons kinetik atau dinamik pada kelompok-kelompok tertentu. e. infark miokard atau kegagalan ginjal pada pasien yang menerima obat antihipertensi dalam dosis terlalu tinggi. b. sehingga efek obat menjadi lebih besar. Contoh yang banyak dijumpai misalnya: . misalnya pada pasien dengan gangguan faal ginjal. Bradikardia pada pasien-pasien yang menerima digoksin dalam dosis terlalu tinggi. Selain itu efek ini juga bisa terjadi karena interaksi farmakokinetik maupun farmakodinamik antar obat yang diberikan bersamaan. withdrawal syndrome) adalah munculnya kembali gejala penyakit semula atau reaksi pembalikan terhadap efek farmakologik obat. c. d. karena penghentian pengobatan. Beberapa contoh spesifik dari jenis efek samping ini misalnya: a. Palpitasi pada pasien asma karena dosis teofilin yang terlalu tinggi. perubahan sirkulasi darah. Semua pasien mempunyai risiko untuk mendapatkan efek samping karena dosis yang terlalu tinggi ini. Perdarahan yang terjadi pada pasien yang sedang menerima pengobatan dengan warfarin.

Gejala putus obat karena narkotika. Iritasi lambung yang menyebabkan keluhan pedih. untuk sebagian besar obat umumnya telah dapat diperkirakan berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan secara sistematik sebelum obat mulai digunakan untuk pasien. Data efek samping berbagai obat dapat ditemukan dalam buku-buku standard. sehingga umumnya pasien memerlukan dosis yang makin lama makin besar (sebagai contoh berkurangnya respons penderita epilepsi terhadap fenobarbital/fenitoin. takikardi. delirium dan konvulsi yang mungkin terjadi pada penghentian pengobatan dengan depresansia susunan saraf pusat seperti barbiturat. Reaksi putus obat dapat dikurangi dengan cara menghentikan pengobatan secara bertahap misalnya dengan penurunan dosis secara berangsur-angsur. Efek teratogenik obat-obat tertentu sehingga obat tersebut tidak boleh diberikan pada wanita hamil . teofilin. Krisis Addison akut yang muncul karena penghentian terapi kortikosteroid. Reaksi putus obat ini terjadi. b. Efek-efek ini umumnya dalam derajad ringan namun angka kejadiannya bisa cukup tinggi. atau dengan menggantikan dengan obat sejenis yang mempunyai aksi lebih panjang atau kurang poten. b. rasa bingung. Agitasi ekstrim. Efek samping yang tidak berupa efek farmakologik utama Efek-efek samping yang berbeda dari efek farmakologik utamanya. sehingga dosis perlu diperbesar agar serangan tetap terkontrol). dengan gejala putus obat yang lebih ringan. Sebagai contoh misalnya: a. Adaptasi ini menyebabkan toleransi terhadap efek farmakologik obat. Hipertensi berat dan gejala aktivitas simpatetik yang berlebihan karena penghentian terapi klonidin d. d. eritromisin. analgetika-antipiretika. 3. umumnya lengkap dengan perkiraan angka kejadiannya. rifampisin. c. Kenaikan enzim-enzim transferase hepar karena pemberian rifampisin. mual dan muntah pada obat-obat kortikosteroid oral. benzodiazepin dan alkohol. Sedangkan efek samping yang lebih jarang dapat diperoleh dari laporan-laporan setelah obat dipakai dalam populasi yang lebih luas . dan lain-lain. karena selama pengobatan telah berlangsung adaptasi pada tingkat reseptor. Rasa ngantuk (drowsiness) setelah pemakaian antihistaminika untuk anti mabok perjalanan (motion sickness). c.a.

anafilaksis. IgM atau IgA dalam sirkulasi dengan obat. kuinin dan kuinidin. dan terjadi akibat reaksi imunologik. 5-hidroksi triptamin. f. yaitu: a. Efek samping yang tidak dapat diperkirakan. yakni: a. membentuk kompleks yang akan menyebabkan lisis sel. digitoksin. Tipe III. dan lain-lain. Penghambatan agregasi trombosit oleh aspirin. Reaksi anafilaksis: yaitu terjadinya interaksi antara antibodi IgE pada sel mast dan leukosit basofil dengan obat atau metabolit. dan lain-lain Dikenal 4 macam mekanisme terjadinya alergi. dan lain-lain. Reaksi alergi Alergi obat atau reaksi hipersensitivitas merupakan efek samping yang sering terjadi. media kontras yang mengandung jodium . Reaksi imun-kompleks: yaitu interaksi antara antibodi IgG dengan . Keluhan/gejala yang terjadi dapat ditandai sebagai reaksi imunologik. Gejalanya sama sekali tidak sama dengan efek farmakologiknya b. b. rinitis. walaupun hanya dengan sejumlah sangat kecil obat d. serum sickness. rifampisin. asma bronkial. kinin. Reaksi dapat terjadi pada kontak ulangan. anestetika lokal. asma. Syok anafilaktik ini merupakan efek samping yang paling ditakuti. Contohnya adalah trombositopenia karena kuinidin/kinin. Reaksi alergi dapat dikenali berdasarkan sifat-sifat khasnya. misalnya rash (=ruam) di kulit. angio-edema. Seringkali terdapat tenggang waktu antara kontak pertama terhadap obat dengan timbulnya efek c. Tipe I. Tipe II. Reaksi ini tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Manifestasi efek samping bisa berupa urtikaria. angio-edema dan syok anafilaktik. dsb. Obat-obat yang sering menyebabkan adalah penisilin. Reaksi hilang bila obat dihentikan e.e. seringkali sama sekali tidak tergantung dosis. anemia hemolitik karena pemberian penisilin. sehingga memperpanjang waktu pendarahan. Ototoksisitas karena kinin/kinidin. streptomisin. Reaksi sitotoksik: yaitu interaksi antara antibodi IgG. c. sefalosporin. dan terjadi hanya pada sebagian kecil dari populasi yang menggunakan suatu obat. terbagi atas: 1. misalnya histamin. menyebabkan pelepasan mediator yang menyebabkan reaksi alergi. Reaksinya dapat bervariasi dari bentuk yang ringan seperti reaksi kulit eritema sampai yang paling berat berupa syok anafilaksi yang bisa fatal. urtikaria. dan rifampisin.

Contohnya adalah dermatitis kontak yang disebabkan salep anestetika lokal. dan ruam makulopapular. Penyakit jaringan ikat Merupakan gejala lupus eritematosus sistemik. Gangguan sistem darah Trombositopenia. yang dapat terjadi pada pemberian hidralazin. Pasien yang telah diketahui sensitif terhadap aspirin kemungkinan besar juga akan sensitif terhadap analgetika atau antiinflamasi lain. Manifestasinya berupa keluhan demam. c. Ruam kulit (skin rashes) Ruam dapat berupa eritema. fotosensitifitas. antigen dalam sirkulasi. urtikaria. antibiotik dan antifungi topikal. pembesaran limfonodi. d. namun dalam praktek klinik manifestasi efek samping karena alergi yang akan dihadapi oleh dokter umumnya akan meliputi: a. Gangguan pernafasan Asma akan merupakan kondisi yang sering dijumpai. Walaupun mekanisme efek samping dapat ditelusur dan dipelajari seperti diuraikan di atas. karena umumnya muncul setelah penyuntikan dengan serum asing (misalnya anti-tetanus serum). . salep antihistamin. Tipe IV. terutama karena aspirin. anemia hemolitika. purpura. neutropenia (atau agranulositosis). vaskulitis kutaneus. b. meskipun angka kejadiannya mungkin relatif jarang. eritroderma dan dermatitis eksfoliatif. Reaksi dengan media sel: yaitu sensitisasi limposit T oleh kompleks antigen- hapten-protein. dan lain-lain. terutama pada individu asetilator lambat. Reaksi ini dikenal dengan istilah "serum sickness". menyebabkan reaksi inflamasi. dan akan hilang dengan sendirinya setelah penghentian obat beberapa hari. yang kemudian baru menimbulkan reaksi setelah kontak dengan suatu antigen. d. Demam Umumnya demam dalam derajad yang tidak terlalu berat. dan anemia aplastika merupakan efek yang kemungkinan akan dijumpai. kemudian kompleks yang terbentuk melekat pada jaringan dan menyebabkan kerusakan endotelium kapiler. erupsi. kadang-kadang melibatkan sendi. artritis. e. prokainamid. urtikaria.

Reaksi karena faktor genetik Pada orang-orang tertentu dengan variasi atau kelainan genetik. 65% dari populasi adalah asetilator cepat. Contoh yang paling populer adalah perbedaan kemampuan metabolisme isoniazid. Reaksi idiosinkratik Istilah idiosinkratik digunakan untuk menunjukkan suatu kejadian efek samping yang tidak lazim. Efek obatnya sendiri dapat diperkirakan. populasi terbagi menjadi 2 kelompok. dan dapat dilakukan di Laboratorium Farmakologi Klinik. 3. Berdasarkan sifat genetik yang dimiliki. Pada kelompok-kelompok etnik/sub-etnik lain. tidak diharapkan atau aneh. yang tidak dapat diterangkan atau diperkirakan .2. Kemampuan metabolisme obat suatu individu juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Pemeriksaan untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam kelompok asetilator cepat atau lambat sampai saat ini belum dilakukan sebagai kebutuhan rutin dalam pelayanan kesehatan. Neuropati perifer karena isoniazid lebih banyak dijumpai pada asetilator lambat b. namun subjek yang mempunyai kelainan genetik seperti ini yang mungkin sulit dikenali tanpa pemeriksaan spesifik (yang juga tidak mungkin dilakukan pada pelayanan kesehatan rutin). b. Sebagai contoh misalnya: a. Efek samping umumnya lebih banyak dijumpai pada asetilator lambat daripada asetilator cepat. suatu obat mungkin dapat memberikan efek farmakologik yang berlebihan. Sebagai contoh misalnya: a. sehingga bila diberikan obat ini mungkin akan menderita paralisis dan apnea yang berkepanjangan. Di Indonesia. proporsi distribusi ini berbeda-beda. sedangkan 35% adalah asetilator lambat. Pasien yang menderita kekurangan pseudokolinesterase herediter tidak dapat memetabolisme suksinilkolin (suatu pelemas otot). sulfonamida dan kinidin. namun sebenarnya prosedur pemeriksaannya tidak sulit. Pasien yang mempunyai kekurangan enzim G6PD (glukosa-6-fosfat dehidrogenase) mempunyai potensi untuk menderita anemia hemolitika akut pada pengobatan dengan primakuin. Sindroma lupus karena hidralazin atau prokainamid lebih sering terjadi pada asetilator lambat. hidralazin dan prokainamid karena adanya peristiwa polimorfisme dalam proses asetilasi obat-obat tersebut. yakni individu-individu yang mampu mengasetilasi secara cepat (asetilator cepat) dan individu-individu yang mengasetilasi secara lambat (asetilator lambat).

sikap dan kebiasaan hidup. c. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah. b. Selain itu penguasaan terhadap efek samping yang . Preparat-preparat besi intramuskuler dapat menyebabkan sarkomata pada tempat penyuntikan. yakni umur. Faktor obat a. mengapa bisa terjadi. Intrinsik dari pasien. dari berbagai pustaka standard maupun dari pertemuan-pertemuan ilmiah. Faktor-faktor Pendorong Terjadinya Efek Samping Obat Setelah melihat uraian di atas. e. Kanker pelvis ginjal yang dapat diakibatkan pemakaian analgetika secara serampangan. misalnya pencemaran oleh antibiotika. kecenderungan untuk alergi. b. D. Cara penggunaan obat d. Ekstrinsik di luar pasien. Pemilihan obat c. Upaya Pencegahan dan Penanganan Efek Samping Obat Masing-masing obat mempunyai keunggulan dan kekurangan masing-masing. 2. baik dari segi manfaat maupun kemungkinan efek sampingnya. genetik. d. Untungnya reaksi idiosinkratik ini relatif sangat jarang terjadi. Obat-obat imunosupresi dapat memacu terjadinya tumor limfoid. jenis kelamin. yakni dokter (pemberi obat) dan lingkungan. Interaksi antar obat E. Sangat bermanfaat untuk selalu mengikuti evaluasi/penelaahan mengenai manfaat dan risiko obat. Kanker uterus yang dapat terjadi karena pemakaian estrogen jangka lama tanpa pemberian progestogen sama sekali. di mana efek-efek samping yang jarang namun fatal kemungkinan besar belum ditemukan. Faktor-faktor tersebut ternyata meliputi: 1. b. jangan terlalu terpaku pada obat baru. penyakit. Beberapa contoh misalnya: a. Kanker tiroid yang mungkin dapat timbul pada pasien-pasien yang pernah menjalani perawatan iodium-radioaktif sebelumnya. yaitu sifat dan potensi obat untuk menimbulkan efek samping. Intrinsik dari obat. Faktor bukan obat Faktor-faktor pendorong yang tidak berasal dari obat antara lain adalah: a. maka kemudian dapat diidentifikasi faktor-faktor apa saja yang dapat mendorong terjadinya efek samping obat.

Selalu harus ditelusur riwayat rinci mengenai pemakaian obat oleh pasien pada waktu-waktu sebelum pemeriksaan. dan segera hentikan obat bila dirasa tidak perlu lagi f. Berikan perhatian khusus terhadap dosis dan respons pengobatan pada: anak dan bayi. paling sering dijumpai atau paling dikenal dari suatu obat akan sangat bermanfaat dalam melakukan evaluasi pengobatan. selalu dianjurkan untuk melakukan hal-hal berikut: a. obat harus diganti dan obat semula sama sekali tidak boleh dipakai lagi. Bila efek samping dicurigai sebagai akibat efek farmakologi yang terlalu besar. dimulai dengan dosis kecil. Segera hentikan semua obat bila diketahui atau dicurigai terjadi efek samping. komplikasi. kondisi pasien memburuk. pedoman sederhana dapat direncanakan sendiri. dan pasien-pasien yang juga menderita gangguan ginjal. . maka pengobatan dimulai lagi secara satu-persatu. hepar dan jantung. Telaah bentuk dan kemungkinan mekanismenya. baik obat yang diperoleh melalui resep dokter maupun dari pengobatan sendiri b. misalnya untuk gangguan pendengaran e. Upaya penanganan klinik tergantung bentuk efek samping dan kondisi penderita. b. Perlu ditelaah terus apakah pengobatan harus diteruskan. Pada bentuk-bentuk efek samping tertentu diperlukan penanganan dan pengobatan yang spesifik. Bila efek samping dicurigai sebagai reaksi alergi atau idiosinkratik. Biasanya reaksi alergi/idiosinkratik akan lebih berat dan fatal pada kontak berikutnya terhadap obat penyebab. usia lanjut. dan belum pasti obat yang mana penyebabnya. gejala dini efek samping seringkali sulit dideteksi karena kurangnya kemampuan komunikasi. atau justru karena efek samping obat 2. dan bila tidak ada alternatif non-farmakoterapi c. Gunakan obat hanya bila ada indikasi jelas. selalu ditelaah lebih dahulu. misalnya seperti berikut ini: a. Bila dalam pengobatan ditemukan keluhan atau gejala penyakit baru. 1. Penanganan efek samping Dengan melihat jenis efek samping yang timbul serta kemungkinan mekanisme terjadinya. maka setelah gejala menghilang dan kondisi pasien pulih pengobatan dapat dimulai lagi secara hati-hati. Bila sebelumnya digunakan berbagai jenis obat. Upaya pencegahan Agar kejadian efek samping dapat ditekan serendah mungkin. apakah perubahan tersebut karena perjalanan penyakit. atau penyakitnya memberat. Pada bayi dan anak. Hindari pengobatan dengan berbagai jenis obat dan kombinasi sekaligus d.

akibat Thalidomide dan Accutane b. karena kemoterapi melawan kanker atau leukemia m. Disfungsi ereksi. Contoh lain misalnya pada keadaan alergi. Mengantuk dan meningkatnya nafsu makan akibat penggunaan antihistamin p. Tuli dan gagal ginjal. Kerusakan janin. akibat Aspirin c. Diare. diperlukan penghentian obat yang dicurigai. Depresi dan luka pada hati. akibat Propofol f. akibat antidepresan j. akibat obat penghambat COX-2 d. Misalnya untuk syok anafilaksi diperlukan pemberian adrenalin dan obat serta tindakan lain untuk mengatasi syok. Hal ini membuat FDA mencabut status ekstrak tanaman efedra (sumber efedrin) sebagai suplemen makanan n. suatu antidepresan . Berikut ini adalah contoh dari efek samping obat yang biasanya terjadi: a. Pendarahan usus. akibat penggunaan Orlistat i. yang disebabkan oleh obat-obatan psikiatrik neuroleptik h. Diabetes. Hipertensi. Kematian. dan lain- lain. Rambut rontok dan anemia. Stroke atau serangan jantung akibat penggunaan Sildenafil (Viagra) q. Bunuh diri akibat penggunaan Fluoxetine. Demam. Glaukoma. pemberian antihistamin atau kortikosteroid (bila diperlukan). akibat antibiotik Gentamisin e. akibat penggunaan Efedrin. akibat tetes mata kortikosteroid l. Kerusakan hati akibat Parasetamol o. akibat Interferon g. akibat vaksinasi k. Penyakit kardiovaskular.

Kesimpulan Efek samping adalah setiap efek yang tidak dikehendaki yang merugikan atau membahayakan pasien (adverse reactions) dari suatu pengobatan. . Kalau suatu efek farmakologik terjadi secara ekstrim. untuk mencegah efek samping dari obat yang berlebihan. tetapi dapat ditekan atau dicegah seminimal mungkin dengan menghindari faktor-faktor risiko yang sebagian besar sudah diketahui Setiap obat mempunyai kemungkinan untuk menyebabkan efek samping. hendaknya kita perhatikan kontra indikasi dari obat tersebut. ini pun akan menimbulkan pengaruh buruk terhadap sistem biologik tubuh. B. . BAB III PENUTUP A. oleh karena seperti halnya efek farmakologik. Efek samping tidak mungkin dihindari/dihilangkan sama sekali. efek samping obat juga merupakan hasil interaksi yang kompleks antara molekul obat dengan tempat kerja spesifik dalam sistem biologik tubuh. Saran Dalam pemakaian obat.