You are on page 1of 1

Konstitusi kita sudah mengatur bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di

dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Oleh
karena itu hutan sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan harus dijaga kelestariannya.
Tentu saja penguasaan hutan oleh negara bukan merupakan pemilikan, tetapi negara memberi
wewenang kepada pemerintah untuk mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan
hutan (Vide Pasal 33 UUD 1945).

Itu berarti bahwa pemerintah berwenang untuk menetapkan status wilayah tertentu sebagai
kawasan hutan atau menetapkan suatu kawasan hutan sebagai bukan kawasan hutan. Dalam rangka
memberikan kepastian hukum kepada masyarakat maka pemerintah wajib menyelenggarakan
pengukuhan kawasan hutan [Vide Pasal 4 ayat (1) huruf b dan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 41
Tahun 1999 tentang Kehutanan (UU Kehutanan)“].

Dengan adanya pengukuhan kawasan hutan oleh pemerintah, maka hutan tersebut hanya
dapat dimanfaatkan dengan memperhatikan sifat, karakteristik dan kerentanannya serta tidak
dibenarkan mengubah fungsi pokoknya. Penggunaan kawasan hutan yang bertentangan dengan
fungsi pokoknya hanya dapat dilakukan berdasarkan penetapan pemerintah yang didasarkan pada
hasil penelitian terpadu (Vide Pasal 19 UU Kehutanan ).

Mengacu kepada pasal 19 UU 41 Tahun 1999, dapat dipahami bahwa pemerintah merupakan
satu satunya stakeholder pada kawasan hutan termasuk hutan lindung. Pemerintah memiliki
wewenang terhadap penatapan dan pengalihan fungsi lahan. Namun, sejak berlakunya otonomi
daerah pada tahun 2001, terjadi tumpang tindih penetapan fungsi kawasan hutan oleh pemerintah
pusat dan daerah. Hal ini menyebabkan terjadinya beberapa kasus pemanfaatan barang tambang di
dalam kawasan hutan lindung.

Seperti yang terjadi di Manggarai Raya, Nusa Tenggara Timur. Penetapan kawasan hutan
Nggalak Rego sebagai kawasan hutan lindung ternyata ditentang oleh pemerintah daerah yang
memberikan izin kepada PT. Sumber Jaya Asia karena menurut pemerintah daerah kawasan hutan
tersebut merupakan kawasan hutan produksi.

Terdapat ketidaksinergisan pada pemerintah pusat dan daerah yang menyebabkan terjadinya
tumpang tindih kawasan. Akibatnya, pencabutan izin PT. SJA oleh pemerintah pusat pun mengundang
adanya tuntutan terhadap Bupati Manggarai Raya yang dimenangkan oleh pihak SJA berturut turut di
PTUN. Hal ini terjadi akibat status hutan Nggalak Rego pada status kuasa wilayah yang diberikan
kepada PT. SJA merupakan hutan produksi terbatas. Hal ini berbeda jauh dengan penetapan yang
dilakukan oleh pemerintah pusat yaitu sebagai kawasan hutan lindung.