You are on page 1of 6

Sifat Pembakaran Batubara Turki

Pada penelitian ini, DSC ( Differential Scanning Calorimetry ) digunakan untuk
menentukan sifat pembakaran dan analisa kinetik dari sampel batubara yang dibagi dalam
beberapa ukuran berbeda yaitu -30+18 mesh, -18+10 mesh, -10+0,5 mesh, dan -0,5 mesh.
Sampel batubara ini berasal dari Turki di daerah Soma, Tuncbilek, dan Afsin Elbistan. Karena
tiap ukuran memiliki karakteristik yang berbeda, maka pemisahan padatan pada tiap ukuran
ditentukan oleh derajat pencucian. Setelah itu sampel batubara disiapkan untuk percobaan DSC.

Percobaan ini dilakukan dengan mengaliri sampel dengan panas 10℃/menit dalam
kisaran suhu 20-600℃ dan dengan laju aliran udara sebesar 50 mL/menit. Lalu didapatkan
analisis proksimat dan analisis unsur pada masing-masing sampel yaitu sebagai berikut :

Tabel 1a. Analisa proksimat sampel batubara mentah

Tabel 1b. Analisa proksimat sampel batubara bersih

Analisa unsur pada sampel batubara bersih . Analisa unsur pada sampel batubara mentah Tabel 2b.Tabel 2a.

Kurva DSC pada batubara Soma bersih ( -30+18 mesh ) .Hasil dan pembahasan  Perilaku Pembakaran Grafik 1a. Kurva DSC pada batubara Soma kotor ( -30+18 mesh ) Grafik 1b.

Daerah yang kedua yaitu daerah eksotermis yang terjadi mulai pada suhu 150-200℃ dan terus berlanjut hingga pembakaran batubara selesai.5 mesh ) Pada keempat grafik di atas dapat dilihat bahwa pada sampel batubara Soma terdapat 2 daerah reaksi yaitu daerah endotermis dan daerah eksotermis. Kurva DSC pada batubara Soma bersih ( -0. Grafik 2a.5 mesh ) Grafik 2b. Kurva DSC pada batubara Soma kotor ( -0. Setelah itu batubara mengalami dekomposisi pada suhu . Daerah eksotermis yaitu dimana aliran panas nya kecil hingga suhu 150℃ dan pada daerah ini terjadi penguapan kelembaban batubara. serta adsorpsi dan desorpsi fisik pada permukaan partikel terus berlanjut.

Pada kurva DSC sampel batubara bersih menunjukkan nilai aliran panas yang lebih tinggi daripada sampel batubara kotor.650-800℃ dan reaksi berlangsung secara endotermis.  Analisa Kinetik Tabel 3a. Energi aktivasi pada sampel dengan metode Roger dan Morris . Hal ini disebabkan oleh berkurangnya kandungan mineral dan bertambahnya konsentrasi karbon pada sampel. Hal ini juga terjadi pada batubara Tuncbilek dan Afsin Elbistan tetapi terjadi pada rentang suhu yang berbeda.

Tabel 3b. Dapat disimpulkan bahwa pengubahan komposisi mineral setelah pencucian batubara akan memengaruhi energy aktivasi sampel batubara tersebut. . Energi aktivasi pada sampel bersih lebih rendah daripada sampel kotor. Energi aktivasi pada sampel dengan metode Arrhenius Pada table 4a dan 4b dapat dilihat nilai energy aktivasi pada setiap sampel dengan menggunakan metode Roger and Morris pada tabel 4a dan metode Arrhenius pada tabel 4b. Semakin rendah nya energi aktivasi menunjukkan semakin mudah nya batubara tersebut mengalami pembakaran.