You are on page 1of 10

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

FISIKA DASAR II

“TITIK PUSAT MASSA DARI SUATU BENDA HOMOGEN”

Tanggal Pengumpulan : 27 Juni 2016

Nama : Annisa Febriana

NIM : 11150163000073

Kelas : Pendidikan Fisika 2 B

LABORATORIUM FISIKA DASAR

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2016

Pusat massa. Menentukan titik pusat massa benda 2 dimensi.m3 dan seterusnya pada koordinat (x1 . Sejauh ini. walaupun dalam geraknya benda berotasi (berputar) atau bervibrasi (bergetar). tak peduli bagaimanapun besarnya sistem itu. Jika benda tadi dianggap terdiri dari massa kecil m1 .. pusat massa.m2 . Akan tetapi. pusat massa bergerak seakan-akan merupakan partikel-partikel tunggal – titik pusat massamengikuti lintasan parabolik sederhana (Paul A. ada satu titik pada benda yang bergerak serupa dengan gerak sebuah partikel bila dikenai gaya luar yang sama. 4. Tetapi. sehingga gerak dari satu partikel menggambarkan gerak keseluruhan benda. maka percepatan pusat massa (center of mass) dinyatakan oleh acm=F/m.y1 . Pusat massa sistem berperilaku seperti partikel tunggal yang dipengaruhi hanya oleh gaya eksternal. 2001 : 240). gerakan pasangan massa yang dihubungkan lewat pegas dan dilemparkan ke udara cukup rumit. Tipler. DASAR TEORI Pusat massa sebuah sistem bergerak seperti sebuah partikel bermassa 𝑀 = ∑ 𝑚 dibawah pengaruh gaya eksternal yang bekerja pada sistem. Kedua massa itu berguling dan berputar ketika bergerak dan berosilasi sepanjang garis yang menghubungkan keduanya. TITIK PUSAT MASSA DARI SUATU BENDA HOMOGEN A. 2. Memahami materi keseimbangan benda tegar pada perkuliahan fisika dasar II B. Menentukan garis berat pada segitiga.y2 . Teorema ini penting karena menunjukkan pada kita bagaimana menggambarkan gerakan satu titik. mempunyai massa tetapi tanpa ukuran. (x2 .z2 ) dan seterusnya. Dalam gerak translasi. Gerakan individual partikel-partikel sistem biasanya jauh lebih rumit. Sebagai contoh. titik tersebut disebut pusat massa (David Halliday. 3. 1998 : 217). Menentukan koordinat titik berat dari bentuk sembarang (tidak beraturan).z1 ). benda-benda diperlakukan seolah-olah seperti partikel. maka koordinata pusat massa akan diberikan oleh . tiap-tiap titik pada benda mengalami pergeseran yang sama dengan titik lainnya sepanjang waktu. Muatan benda adalah satu titik pda benda itu yang geraknya sama dengan gerak massa titik jika pada massa titik tadi bekerja gaya luar yang sama dengan gaya luar benda itu. untuk tiap sistem partikel. Berarti. TUJUAN PRAKTIKUM 1. bila gaya resultan yang bekerja pada sebuah benda (atau system dari benda-benda) dari massa m adalah F.

massa kecil (Frederick J. atau jenis gerak lainnya di sekitar PM. Tetapi pertama kita bayangkan sebuah sistem yang hanya terdiri dari dua partikel. 2008: 227). ditambah gerak rotasi. katakanlah m1 > m2 maka PM lebih dekat ke massa yang lebih besar (Giancoli. Titik ini disebut pusat massa (disingkat PM). Gerak umum benda yang diperluas (atau sistem benda) dapat dianggap sebagai jumlah gerak translasi dari PM. atau ada beberapa benda yang bergerak 1relatif satu dengan yang lainnya. Pengamatan-pengamatan pada gerak benda menunjukkan bahwa walaupun sebuah benda berotasi. Titik berat merupakan titik tempat bekerjanya resultan gaya berat pada sebuah partikel atau benda. Jika satu massa lebih besar dari yang lain.masing benda tersebut (Efrizon Umar. Pusat massa sistem ini didefinisikan ada posisi x PM yang dinyatakan dengan: 𝑚1 𝑥 1 + 𝑚2 𝑥 2 𝑚1 𝑥 1 + 𝑚2 𝑥 2 𝑥 𝑃𝑀 = = 𝑚1 + 𝑚2 𝑀 dimana M=m1 +m2 adalah massa total sistem. ALAT DAN BAHAN NO GAMBAR NAMA ALAT DAN BAHAN 1 Karton atau kardus . 1989 :68). getaran (vibrasi). Bueche. dengan massa m1 dan m2 . Pusat massa berada pada garis yang menghubungkan m1 dan m2 . Kita anggap benda yang diperluas terdiri dari banyak partikel kecil. ada satu titik yang bergerak dalam lintasan yang sama dengan yang dilewati partikel jika mendapat gaya yang sama. Titik berat dua dimensi dapat ditemukan dengan memperhatikan gaya berat dan kedudukan masing. 2001: 229-231). Kita pilih sistem kordinat sedemikian sehingga kedua partikel be nda berada pada sumbu x pada posisi x 1 dan x 2 . Letak titik berat tidak selalu berada pada benda tersebut dan distribusi massa suatu benda sangat menentukan letak titik beratnya. 𝑥 𝑖 𝑚𝑖 𝑦𝑖 𝑚𝑖 𝑧𝑖 𝑚𝑖 𝑥 𝑐𝑚 = ∑ 𝑦𝑐𝑚 = ∑ 𝑚 𝑧𝑐𝑚 = ∑ 𝑚 𝑚𝑖 𝑖 𝑖 Dengan lambang ∑ berarti penjumlahan semua massa. C.

LANGKAH PERCOBAAN No Gambar Langkah percobaan 1 Mempersiapkan kertas karton atau . 2 Benang 3 Jarum Pentul 4 Gunting/ Cutter 5 Pensil 6 Penggaris 7 Kertas Milimeter Blok 8 Neraca Ohauss D.

potong salah satu diagonal pada segitiga sehingga bentuk sembarang tersebut menjadi 2 bagian. baik simetris ataupun asimetris. 6 Setelah didapatkan titik berat dari bentuk sembarang tersebut. 4 Buatlah segitiga didalam bentuk sembarang tersebut. 5 Gantungkan tali yang terdapat beban dijarum pentul pada setiap sudut segitiga di dalam bentuk sembarang tersebut. kemudian membentuknya sesuai keinginan. 3 Gunting gambar pada karton untuk bentuk sembarang tersebut. 2 Gambar bentuk sembarang pada karton berukuran 15cm x 10cm. . kardus.

7 Pada setiap bagian. 8 Letakkan kedua bagian tersebut diatas millimeter block untuk menentukan titik koordinat x dan y. DATA PERCOBAAN Massa benda: Ulangan Massa M Massa m1 Massa m2 ke- (g) (g) (g) . 9 Ukur massa dari bentuk sembarang secara utuh (M) dan untuk kedua bagian dari bentuk sembarang (m1 dan m2 ) E. ulangi langkah percobaan nomer 5 yaitu menentukan titik beratnya.

1 15 7.5 + 7.7 𝑐𝑚 = = 7.5x11 7.5 + 7.5 7.2 7.5 + 7.5 𝑚 1 𝑦1 + 𝑚 2 𝑦2 𝑚 1 𝑦1 + 𝑚 2 𝑦2 𝑦 = 𝑦 = 𝑚 1 + 𝑚2 𝑚 1 + 𝑚2 7.56𝑥5.5 7.5x4.5x11 7.5𝑥5.5 7.2 + 7.5 + 7.2 𝑐𝑚 = = 5.2 = = 5.5x4.5 cm 5.5 + 7.2 + 7.7 𝑐𝑚 7.5 + 7.5 7.5x4.2 + 7.5 2 15 7.5 + 7.5 + 7.5 + 7.5 𝑚 1 𝑦1 + 𝑚 2 𝑦2 𝑚 1 𝑦1 + 𝑚 2 𝑦2 𝑦 = 𝑦 = 7.5 7.7 𝑐𝑚 7.2 = = 5.2 7.2 cm 4.5 3 15 7.5x11 = = 7.5 7.5 = 5.5𝑥5.2 𝑐𝑚 = 7.5 7.2 + 7.5x11 = = 7.2 cm F.5 + 7.7 𝑐𝑚 = = 7.5 Ulangan ke-2 Ulangan ke-5 𝑚1 𝑥1 + 𝑚2 𝑥2 𝑚 𝑥 𝑚 𝑥 𝑥 = 𝑚1+ 𝑚2 𝑥 = 1 1+ 2 2 𝑚1+ 𝑚2 7.2 cm 11 cm 5.7 cm 5.5𝑥5.5 4 15 7.5𝑥5.5+ 𝑚 2 𝑚 1 + 𝑚2 7.5𝑥5.5 7.5 + 7. PENGOLAHAN DATA Ulangan ke-1 Ulangan ke-4 𝑚 𝑥 𝑚 𝑥 𝑚 𝑥 𝑚 𝑥 𝑥 = 1 1+ 2 2 𝑥 = 1 1+ 2 2 𝑚1+ 𝑚2 𝑚1+ 𝑚2 7.5 + 7.2 𝑐𝑚 7.5𝑥5.2 𝑐𝑚 Ulangan ke-3 𝑚1 𝑥1 + 𝑚2 𝑥2 𝑥 = 𝑚1+ 𝑚2 .5x4.5𝑥5.5 7.5 Titik koordinat: x y x1 y1 x2 y2 7.5 5 15 7.

1 cm dan mengukur y didapatkan sebesar 4. x2 maupun y1.y2. lalu dipotong menjadi 2 dan didapatkan berat dari masing masing pola sebesar 7. Hal ini . Pada saat penimbangan dengan neraca didapatkan beratnya sebesar 15 g.5 + 7.z2 . atau jenis gerak lainnya di sekitar PM.y.5x4.5 + 7. walaupun masing masing potongan dalam bentuk yang berbeda beda.2 𝑐𝑚 7.. Maka dari itu dapat dikatakan suatu benda yang permukaannya rata dipotong menjadi dua melalui titik beratnya maka berat dari hasil pemotongan tersebut akan seimbang dan berlaku sebaliknya apabila dipotong tidak sesuai dengan titik beratnya . dengan menentukan panjang dari x1.5𝑥5. Lalu setelah menggunakan milimeterblok dapat terlihat jelas dimana titik z1.7 𝑐𝑚 7.5 + 7. ditambah gerak rotasi. Saat mengukur didapatkan x sebasar 7.z.7.5 cm tetapi setelah dibuktikan dengan rumus 𝑚 1 𝑦1 + 𝑚 2 𝑦2 𝑦 = 𝑚1+ 𝑚2 didapatkan y sebesar 5.2 = = 5. Maka dari itu titik Z nya telah ditemukan pada koordinat x y (7. PEMBAHASAN Benda yang permukaannya rata bila ditarik garis dari titik beratnya lalu dipotong maka akan menghasilkan potongan yang mempunyai berat yang sama.menyebabkan titik berat benda pada titik dimana dapat dikatakan titik seimbang suatu benda sehingga jika dipotong menjadi dua benda satu akan memiliki berat yang sama dengan potongan benda dua. getaran (vibrasi). x.5 g.5 G.2 cm.2 + 7. 5. Kita anggap benda yang diperluas terdiri dari banyak partikel kecil. Tetapi pertama kita bayangkan sebuah sistem yang hanya terdiri dari dua partikel.2). Gerak umum benda yang diperluas (atau sistem benda) dapat dianggap sebagai jumlah gerak translasi dari PM. dengan massa m 1 dan m 2.5 𝑚 1 𝑦1 + 𝑚 2 𝑦2 𝑦 = 𝑚 1 + 𝑚2 7. 7.5x11 = = 7.5𝑥5.

Sedangkan pada praktikum Titik Berat ini dibutuhkan 3 (tiga) garis untuk menentukan titik perpotongan pada benda. Halliday. Jakarta: Erlangga. Anggota Ikai. 2008. 2001. J. Pada saat membuat 3 (tiga) lubang pada benda. Grup Puspa Swara. KOMENTAR 1. 2. Jakarta: Erlangga. Persiapkan dan periksa (cek) terlebih dahulu semua peralatan dan bahan yang akan digunakan dalam kegiatan praktikum Titik Berat. KESIMPULAN Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1. Resnick. karena apabila dibuat lubang pada posisi tegak lurus atau segaris / lurusnya lubang yang sebelumnya telah dibuat maka 2 (dua) lubang tersebut hanya akan menghasilkan 1 (satu) garis lurus saja. Frederick J.H. Fisika Dasar. 2001. Douglas C. Suatu benda yang permukaannya rata dipotong menjadi dua melalui titik beratnya maka berat dari hasil pemotongan tersebut akan seimbang dan berlaku sebaliknya apabila dipotong tidak sesuai dengan titik beratnya I. Jakarta : Erlangga. Setiap benda luasan tersebut tidak akan atau tidak mungkin akan memiliki titik berat satu sama lain. DAFTAR PUSTAKA Bueche. Umar. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Paul. Jakarta: Media Pusindo. Teori dan Soal-soal Fisika Edisi Kedelapan. Fisika edisi kelima jilid 1. . sistematis (berurutan) dan benar. Tipler A. Giancoli. Efrizon. Lakukan semua langkah kerja dalam kegiatan praktikum Titik Berat secara tertib. 1998. 3. Jakarta : Erlangga. 2. jangan buat lubang pada posisi tegak lurus atau segaris / lurusnya lubang yang sebelumnya telah dibuat. Benda luasan apapun baik yang beraturan maupun tidak beraturan memiliki titik berat atau pusat massa. Dan akhirnya nanti hanya akan menghasilkan 2 garis saja untuk menentukan titik perpotongan. 1989. Buku Pintar Fisika.