You are on page 1of 2

PEMERINTAHAN KABUPATEN SERUYAN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH HANAU
Jl.Jend. Sudirman KM 142 Sampit Pangkalan Bun Telp. 0532 Pembuang Hulu 74271

PELAKSANAAN CHEST THERAPY
Halaman Tanggal Terbit Ditetapkan oleh
STANDAR
OPERASIONAL Direktur RSUD Hanau
PROSEDUR 2
Lembar

dr. Riza Syahputra
NIP.19770222 200604 1 012

Pengertian Prosedur untuk mengatur pelaksanaan chest therapy mulai dari persiapan
pasien, dan penjelasan tentang manfaat dan tujuan yang berkaitan dengan
chest therapy kepada pasien sampai selesai.

Tujuan 1. Mengatur dan mengetahui tahapan – tahapandalam proses chest therapy.
2. Memberikan pelayanan terbaik kepada pasien

Kebijakan 1. Keputusan Menteri Kesehatan No: 378/MenKes/SK/IV/2008 Tentang
Pedoman Pelayanan Rehabilitasi Medik di Rumah Sakit.
2. Keputusan Menteri Kesehatan No:778/MenKes/SK/VIII/2008 Tentang Pedoman
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
Prosedur A. Persiapan Pelaksanaan
1. Menjelaskan tujuan dan manfaat chest therapykepada pasien atau
keluarga. Tujuannya adalah untuk mengalirkan dahak ke salah satu
lapang paru sehingga memudahkan mengeluarkan dahak.
2. Posisikan pasien dalam posisi nyaman, rileks dan stabil.
B. Waktu Pelaksanaan
1. Chest therapy dilakukan setelah pasien mendapatkan terapi
nebulizer.
2. Chest therapy pasif dilakukan pada pasien bayi.

C. Tatacara Pelaksanaan
1. Pemberian Postural Drainage
a. Terapis memposisikan pasien secara (supine lying) kemudian
terapis melakukan clapping (tepukan) ke dada pasien. Untuk
pasien bayi (0-12 bulan) lakukan clapping dengan dua-tiga jari.
Anak usia 1-10 tahun lakukan clapping dengan lima jari. Untuk
pasien dewasa tidak diberikan clapping.
b. Terapis memposisikan pasien secara porne lying (tidur tengkurap)
lalu terapis melakukan clapping ke punggung pasien. Untuk
pasien 0-12 bulan lakukan clapping dengan dua atau tiga jari.
Anak usia 1-10 tahun lakukan clapping dengan lima jari. Untuk
pasien dewasa tidak dilakakukan clapping.
2. Pemberian Breathing exercise
a. Breathing exercisedilakukan untuk pasien anak usia 5-17 tahun
dan pasien dewasa. Terapis memberikan instruksi kepada pasien
untuk tarik nafas dalam secara perlahan kemudian hembuskan
nafas perlahan-lahan pula.
b. Saat tarik nafas lakukan melalui hidung dan hembuskan nafas
melalui mulut.
c. Selama latihan, terapis mendampingi pasien untuk memberikan
instruksi.
3. Pemberian Huffing
a. Huffingdilakukan untuk pasien anak usia 5-17 tahun dan pasien
dewasa. Terapis memberikan instruksi tarik nafas dalam dari
hidung lalu dibatukkan. Huffing dilakukan minimal tiga (3) kali.
b. Selama latihan, terapis mendampingi pasien untuk memberikan
instruksi.

D. Hal Yang Harus Diperhatikan
1. Terapis harus bisa mengetahui tanda – tanda kelelahan pasien.
2. Setelah latihan selesai, pasien dianjurkan untuk beristirahat sebentar
dan terapis memeriksa kembali tanda-tanda vital dan keadaan umum
pasien.

Poliklinik 2.Unit Terkait 1. Instalasi Radiologi 4. Instalasi Laboratorium . Instalasi Rawat Inap 3.