You are on page 1of 4

FORMAT PROSES KEPERAWATAN

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS FARMAKOLOGI

DOSEN PENGAMPU SUPADI, M. Kep. Sp.MB.

DISUSUN OLEH:
NAMA : BAMBANG AJI YUWONO
NIM : P1337420215033
KELAS : 1A

PRODI DIII KEPERAWATAN PURWOKERTO
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2016

dan uji fungsi hati secara periodik pada pasien dengan terapi pemolin. dan berat badan untuk perbandingan selama terapi.  Penatalaksanaan Gejala Putus Obat: . agresivitas.  Pada pasien diabetik. lidah menjulur secara intermiten dan hiperefleksia umum.  Kaji status mental . .  Penatalaksanaan Takar Lajak: . agitasi.  Perubahan Uji Lab: peningkatan AST (SGOT).  Kaji pola tidur dengan saksama. depresi mental. AMPHETAMIN PENGKAJIAN  Kajian dan catat data dasar suhu. iritabilitas. LDH dan alkali fosfatase serum. Beberapa dokter mungkin memeberi antidepresan untuk mengtasi perasaan depresi dan letargi. stimulasi. dapat terjadi insomnia. halusinasi. . Tempatkan pasien dalam ruangan tenang dengan stimulus rendah.  Kaji konsumsi alkohol dan obat pada saat ini dan masa lalu. pantau tanda vital .  Kaji tanggal menstruasi terakhir (kemungkinan kehamilan) dan penggunaan kontrasepsi. kegelisahan. tingkat aktivitas. takikardia. peningkatan salivasi. kaji HSD.  Kaji jumlah kafein yang bisa di konsumsi. pergerakan diskinetik. . urinalisis. adanya perubahan alam perasaan. pernafasan tidak teratur. perilaku psikotik.  Kaji apakah pasien sedang menyusui anak. tekanan darah.  Kaji kecepatan pertumbuhan anak yang menjalani terapi amphetamin dengan saksama.  Kaji apakah pasien mengopersikan kendaraan dan/atau mesin berbahaya lain. ALT (SGPT).  Kaji timbulnya reaksi merugikan atau efek samping obat. Penurunan kecepatan perkembangan mungkin terobservasi.  Kaji riwayat alergi. nadi. kaji gula darah bid atau tid. Observasi dengan cermat ( 15 menit).  Toksisitas dan Takar Lajak: kaji gejala takar lajak. sensitivitas terhadap obat ini. pernafasan. Lakukan kewaspadaan bunuh diri.  Kolaborasi dengan dokter.  Gejala Putus Obat: kaji gejala putus obat. seperti juga kemungkinan hiperaktivitas. Biarkan pasien tidur sebanyak yang diinginkan.  Kaji pengetahuan pasien/keluarga mengenai penyakit dan kebutuhan pengobatan. hiperaktivitas. Penyesuaian insulin mungkin perlu diilakukan berkaitan dengan perubahan pola makan. .

 Perubahan proses pikir berhubungan dengan efek merugikan permolin. RENCANA/IMPLEMENTASI  Pantau dan catat tanda vital selama terapi dengan intervalteratur (bid). . halusinasi. .  Pastikan tablet telah di telan dan tidak di sembunyikan dalam mulut untuk menghindari pengobatan atau di kumpulkan untuk di minum kemudian. gejala putus pemolin tiba-tiba. . Jaga stimulus tetap rendah dan lingkungan setenang mungkin untuk mencegah stimulus berlebihan. o Pantau tanda vital . “hari libur” obat harus di coba secara periodik di bawah pengarahan dokter untuk menentukan keefektifan obat dan kebutuhan kesinambungan.  Risiko tinggi kekerasan terhadap diri sendiri berhubungan dengan gagasan bunuh diri akibat penghentian amphetamin tiba-tiba. Pertahankan sirkulasi dan pertukaran udara adekuat. Hemodialisis mungkin bermanfaat: diuresis paksa dan dialisis peritoneal nampaknya tidak bermakna.  Kurang pengetahuan berhubungan dengan progam pengobatan.  Pada anak dengan gangguan perilaku. Jika perlu. DIAGNOSA KEPERAWATAN POTENSIAL  Risiko tinggi cedera berhubungan dengan stimulus berlebihan dan hiperktivitas. Lakukan lavase lambung. Lakukan tindakan pendinginan eksternal untuk mengatasi hiperpireksia. observasi secara sering kemungkinan terjadi tanda-tanda kekerasan terhadap diri. .  Pada pasien yang mengalami gejala putus obat setelah penggunaan pemolin jangka panjang.  Pastikan pasien terlindungi dari cedera. Pastiakan tablet kunyah telah dikunyah dan di telan seluruhnya. Pantau jantung. Haloperidol mungkin di gunakan untuk mengatasi agitasi. . yaitu anoreksia dan penurunan berat badan. lakukan kewaspadaan bunuh diri. dan eksitasi.  Gangguan pola tidur berhubungan dengan stimulus berlebihan akibat penggunaan amphetamin. . . Pertahankan jalan nafas adekuat.  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan efek samping amphetaminin. yaitu stimulasi berlebihan dan kesulitan berkosentrasi. takar lajak.

 Pasien diabetik harus memantau gulah darah bid atau tid atau sesuai intruksi dokter. atau ruam kulit. Waspada terhadap kemungkinan perubahan kebutuhan insulin akibat perubahan masukan makanan. berat badan dan aktivitas. masalah perilaku/hiperaktivitas pada anak-anak). PENDIDIKAN PASIEN/KELUARGA  Waspada saat mengemudi atau mengoperasikan kendaraan berbahaya. tablet dapat di haluskan dan di campur dengan makanan atau minuman. EVALUASI  Pasien menunjukkan penurunan/resolusi gejala setelah penggunaan amphetamin (ketidakmampuan mencegah jatuh tertidur. Dapat terjadi pusing sebagai efek samping.  Bawa selalu kartu atau identifikasi lain yang menjelaskan obat-obat yang digunakan.  Beri tahu dokter jika terjadi kegugupan . Tingkat kewaspadaan mungkin berkurang akibat hiperaktivitas dan stimulasi. diduga.  Berikan obat pada pagi hari untuk menghindari insomnia dan mencapai manfaat maksimal selama terjaga.  Waspada terhadap kemungkinan risiko penggunaan amphetamin selama kehamilan. insomnia.  Waspada terhadap efek samping potensial amphetamin.  Simpan obat pada suhu kamar terkendali antara 15˚-30˚c. muntah. Beri tahu dokter segera jika terjadi . palpitasi. Hal ini dapat mengakibatkan gejala putus obat yang serius.  Jangan mengehntikan penggunaan obat secara tiba-tiba.  Jika pasien mengalami kesulitan menelan . Rujuk pada materi yang dibuat oleh pemberi layanan kesehatan mengetahui pemberian mandiri yang aman. Banyak obat mengandung substansi yang mungkin berbahaya jika berinteraksi dengan amphetamin.  Jangan mengonsumsi obat lain. . Penggunaan yang aman pada kehamilan dan laktasi belum di buktikan. direncanakan kehamilan.  Pasien megungkapkan pemahaman efek samping dan program yang di perlukan dalam pemberian mandiri amphetamin dengan bijaksana. Lindungi obat dari panas dan kelembaban.  Hindari konsumsi produk berkafein dalam jumlah besar karena kafein dapat meningkatkan efek stimulasi amphetamin. Tidak diketahui apakah obat menembus barier plasenta.