You are on page 1of 38

1.

Konsep Pengambilan Keputusan (Decision Making)

1.1 Pengertian pengambilan keputusan

Keputusan merupakan hasil pemecahan dalam suatu masalah yang

harus dihadapi dengan tegas.Dalam kamus besar Ilmu pengetahuan

Pengambilan Keputusan (Decision Making) didefinisikan sebagai pemilihan

keputusan atau kebijakan yang didasarkan atas kriteria tertentu. Proses ini

meliputi dua alternatif atau lebih karena seandainya hanya terdapat satu

alternatif tidak akan ada satu keputusan yang akan diambil. Menurut Terry

(Syamsi, 1995) pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku

dari dua alternatif atau lebih, tindakan untuk memecahkan masalah yang

dihadapi melalui pemilihan satu diantara alternatif-alternatif yang

memungkinkan. Hal ini didukung oleh pernyataan Siagian (dalam Syamsi,

1995) bahwa pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis

terhadap suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang

matang dari alternatif yang dihadapi dan pengambilan tindakan yang menurut

perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.

1.2 Definisi pengambilan keputusan menurut ahli

Shull, Delbecq & Cummings (dalam Taylor, 1994) mendefinisikan

pengambilan keputusan sebagai suatu kesadaran dalam proses manusia,

menyangkut individu dan fenomena sosial, berdasarkan hal-hal yang fakta

dan aktual yang menghasilkan pilihan dari satu aktivitas perilaku yang berasal

dari satu atau lebih pilihan.


Definisi di atas senada dengan pernyataan Morgan (1986) bahwa

pengambilan keputusan merupakan salah satu jalan dari penyelesaian masalah

dimana kita dihadapkan dengan berbagai pilihan yang harus kita

pilih.Menurut Baron & Byrne (2005) pengambilan keputusan merupakan

tindakan menggabungkan dan mengintegrasikan informasi yang ada untuk

memilih satu dari beberapa kemungkinan tindakan.

Dari pengertian-pengertian tentang pengambilan keputusan di atas

dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah tindakan yang

diambil dengan sengaja, tidak secara kebetulan, dengan memilih berbagai

alternatif yang tersedia dengan penentuan yang matang dengan tujuan

menyelesaikan suatu permasalahan.

Beberapa definisi pengambilan keputusan yang dikemukakan para ahli

dijelaskan sebagai berikut:

1. Menurut J. Reason, pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu

hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada

pemilihan suatu jalur tindakan diantara beberapa alternative yang tersedia.

2. Menurut G.R. Terry dalam Winardi (2000) “Leadership is the relationship in

which one person, or the leader, influences others to work together willingly

on related tasks to attain that which the leader desires.” Dari definisi tersebut

dapat disimpulkan bahwa aktivitas memimpin pada hakikatnya meliputi suatu

hubungan, adanya satu orang yang mempengaruhi orang-orang lain agar

mereka mau bekerja ke arah pencapaian sasaran tertentu.


3. Menurut S.P. Siagian Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang

sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan

yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.

4. Menurut James A.F. Stoner Pengambilan keputusan adalah proses yang

digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.

Dari pengertian-pengertian pengambilan keputusan diatas, dapat disimpulkan

bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif

terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti

(digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah

5. Sedangkan Claude S Goerge, Jr mengatakan proses pengambilan keputusan

itu dikerjakan oleh kebanyakan manajer berupa suatu kesadaran, kegiatan

pemikiran, yang termasuk pertimbangan, penilaian, dan pemilihan diantara

sejumlah alternative.

6. Menurut Suharman pengambilan keputusan adalah proses memilih atau

menentukan berbagai kemungkinan diatara situasi-situasi yang tidak pasti.

Pembuatan keputusan terjadi didalam situasi-situasi yang meminta seseorang

harus membuat prediksi kedepan, memilih salah satu diantara dua pilihan atau

lebih, membuat estimasi (perkiraan) mengenai frekuensi perkiraan yang akan

terjadi. Salah satu fungsi berpikir adalah menentukan keputusan. Keputusan

yang diambil seseorang beraneka ragam, tapi tanda-tanda umumnya antara

lain: keputusan merupakan hasil berpikir, hasil usaha intelektual, keputusan

selalu melibatkan pilihan dari berbagai alternatif, keputusan selalu melibatkan

tindakan nyata, walaupun pelaksanaannya boleh ditangguhkan atau

dilupakan.
Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka dapat ditarik kesimpulan

bahwa, pengambilan keputusan (decision making) merupakan suatu proses

pemikiran dari pemilihan alternatif yang akan dihasilkan mengenai prediksi

kedepan. Pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan

alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk

ditindaklanjuti sebagai suatu cara pemecahan masalah.

Fungsi pengambilan keputusan individual atau kelompok baik secara

institusional ataupun organisasional, sifatnya futuristic. Tujuan pengambilan

keputusan tujuan yang bersifat tunggal (hanya satu masalah dan tidak terikat

masalah lain) Tujuan yang bersifat ganda (masalah daling berkaitan, dapat

bersifat kontradiktif ataupun tidak kontradiktif). Kegiatan-kegiatan yang

dilakukan dalam organisasi itu dimaksudkan untuk mencapai tujuan

organisasinya yang dimana diinginkan dalam kegiatan organisasinya itu dapat

berjalan lancar dan tujuan dapat dicapai dengan mudah dan efisien.Namun

kerap kali terjadi hambatan-hambatan dalam melaksanakan kegiatan.Ini

merupakan masalah yang harus dipecahkan oleh pimpinan

organisasi.Pengambilan keputusan dimaksudkan untuk memecahkan masalah

tersebut.

1.3 Teori Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan adalah suatu tindakan yang mengarah pada

tujuan tertentu yang dilakukan oleh seorang manajer atau beberapa manajer

berkenaan dengan suatu masalah. Tindakan para manajer dapat berupa

pengambilan keputusan yang biasanya bukan merupakan keputusan tunggal,


artinya kebijakan diambil dengan cara mengambil beberapa keputusan yang

saling terkait dengan masalah yang ada. Pengambilan keputusan dapat

diartikan sebagai pemilihan alternatif terbaik dari beberapa pilihan alternatif

yang tersedia. Ada beberapa teori yang paling sering digunakan dalam

mengambil kebijakan yaitu :

1. Teori Rasional Komprehensif

Barangkali toeri pengambilan keputusan yang biasa digunakan dan

diterima oleh banyak kalangan adalah teori rasional komprehensif yang

mempunyai beberapa unsur, yaitu:

a. Pembuatan keputusan dihadapkan pada suatu masalah tertentu yang

dapat dibedakan dari masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai

sebagai masalah-masalah yang dapat diperbandingkan satu sama lain

(dapat diurutkan menurut prioritas masalah)

b. Tujuan-tujuan, nilai-nilai atau sasaran yang menjadi pedoman pembuat

keputusan sangat jelas dan dapat diurutkan prioritasnya /

kepentingannya.

c. Bermacam-macam alternatif untuk memecahkan masalah diteliti

secara saksama.

d. Asas biaya manfaat atau sebab-akibat digunakan untuk

menentukan prioritas.

e. Setiap alternatif dan implikasi yang menyertainya dipakai untuk

membandingkan dengan alternatif lain.

f. Pembuat keputusan akan memilih alternatif terbaik untuk mencapai

tujuan, nilai, dan sasaran yang ditetapkan


Ada beberapa ahli antara lain Charles Lindblom , 1965 (Ahli

Ekonomi dan Matematika) yang menyatakan bahwa pengambilan

keputusan itu sebenarnya tidak berhadapan dengan masalah-masalah yang

konkrit akan tetapi mereka seringkali mengambil keputusan yang kurang

tepat terhadap akar permasalahan.

Teori rasional komprehensif ini menuntut hal-hal yang tidak rasional

dalam diri pengambil keputusan. Asumsinya adalah seorang pengambil

keputusan memiliki cukup informasi mengenahi berbagai alternatif

sehingga mampu meramalkan secara tepat akibat-akibat dari pilihan

alternatif yang ada, serta memperhitungkan asas biaya manfaatnya.dan

mempertimbangkan banyak masalah yang saling berkaitan

Pengambil keputusan sering kali memiliki konflik kepentingan

antara nilai-nilai sendiri dengan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat.

Karena teori ini mengasumsikan bahwa fakta-fakta dan nilai-nilai yang ada

dapat dibedakan dengan mudah, akan tetapi kenyataannya sulit

membedakan antara fakta dilapangan dengan nilai-nilai yang ada.

Ada beberapa masalah diberbagai negara berkembang seperti

Indonesia untuk menerapkan teori rasional komprehensif ini karena

beberapa alasan yaitu:

1) Informasi dan data statistik yang ada tidak lengkap sehingga tidak bisa

dipakai untuk dasar pengambilan keputusan. Kalau dipaksakan maka

akan terjadi sebuah keputusan yang kurang tepat.

2) Teori ini diambil/diteliti dengan latar belakang berbeda dengan nagara

berkembang ekologi budanyanya berbeda.


3) Birokrasi dinegara berkembang tidak bisa mendukung unsur-unsur

rasional dalam pengambilan keputusan, karena dalam birokrasi negara

berkembang kebanyakan korup sehingga menciptakan hal-hal yang

tidak rasional.

2. Teori Inkremental

Teori ini dalam mengambil keputusan dengan cara menghindari

banyak masalah yang harus dipertimbangkan dan merupakan model yang

sering ditempuh oleh pejabat-pejabat pemerintah dalam mengambail

keputusan. Teori ini memiliki pokok-pokok pikiran sebagai berikut:

a. Pemilihan tujuan atau sasaran dan analisis tindakan empiris yang

diperlukan untuk mencapainya merupakan hal yang saling terkait.

b. Pembuat keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa

alternatif yang langsung berhubungan dengan pokok masalah, dan

alternatif-alternatif ini hanya dipandang berbeda secara inkremental

atau marjinal

c. Setiap alternatif hanya sebagian kecil saja yang dievaluasi mengenahi

sebab dan akibatnya.

d. Masalah yang dihadapi oleh pembuat keputusan di redifinisikan secara

teratur dan memberikan kemungkinan untuk mempertimbangkan dan

menyesuaikan tujuan dan sarana sehingga dampak dari masalah lebih

dapat ditanggulangi.

e. Tidak ada keputusan atau cara pemecahan masalah yang tepat bagi

setiap masalah. Sehingga keputusan yang baik terletak pada berbagai

analisis yang mendasari kesepakatan guna mengambil keputusan.


f. Pembuatan keputusan inkremental ini sifatnya dalah memperbaiki atau

melengkapi keputusan yang telah dibuat sebelumnya guna

mendapatkan penyempurnaan.

Karena diambil berdasarkan berbagai analisis maka sangat tepat

diterapkan bagi negara-negara yang memiliki struktur mejemuk.Keputusan

dan kebijakan diambil dengan dasar saling percaya diantara berbagai pihak

sehingga secara politis lebih aman.Kondisi yang realistik diberbagi negara

bahwa dalam menagambil keputusan atau kebijakan para pengambil

keputusan dihadapkan pada situasi kurang baik seperti kurang cukup

waktu, kurang pengalaman, dan kurangnya sumber-sumber lain yang

dipakai untuk analsis secara komprehensif.

Teori ini dapat dikatakan sebagai model pengambilan keputusan

yang membuahkan hasil terbatas, praktis dan dapat diterima.

Ada beberapa kelemahan dalam teori inkremental ini, yakni;

1) Keputusan–keputusan yang diambil akan lebih mewakili atau

mencerminkan kepentingan dari kelompok yang kuat dan mapan

sehingga kepentingan kelompok lemah terabaikan.

2) Keputusan diambil lebih ditekankan kepada keputusan jangka

pendek dan tidak memperhatikan berbagai macam kebijakan lain

3) Dinegara berkembang teori ini tidak cocok karena perubahan yang

inkremental tidak tepat karena negara berkembang lebih

membutuhkan perubahan yang besar dan mendasar.


4) Menutut Yehezkel Dror (1968) gaya inkremental dalam membuat

keputusan cenderung menghasilkan kelambanan dan terpeliharanya

status quo

3. Teori Pengamatan Terpadu (Mixed Scaning Theory)

Beberapa kelemahan tersebut menjadi dasar konsep baru yaitu

seperti yang dikemukakan oleh ahli sosiologi organisasi Aitai Etzioni yaitu

pengamatan terpadu (Mixid Scaning) sebagai suatu pendektan untuk

mengambil keputusan baik yang bersifat fundamental maupun

inkremental.Keputusan-keputusan inkremental memberikan arahan dasar

dan melapangkan jalan bagi keputusan-keputusan fundamental sesudah

keputusan-keputusan itu tercapai.

Model pengamatan terpadu menurut Etzioni akan memungkinkan

para pembuat keputusan menggunakan teori rasional komprehensif dan

teori inkremental pada situasi yang berbeda-beda.

Model pengamatan terpadu ini pada hakikatnya merupakan

pendekatan kompromi yang menggabungkan pemanfaatan model rasional

komprehensif dan model inkremental dalam proses pengambilan

keputusan.
2. Siklus dan Proses Pengambilan Keputusan

Ilmuan historis menekankan dua model dasar pengambilan keputusan yaitu

Rational model dan Bounded Rationality model.

2.1 Rational model

They know their alternatives; they know their outcomes; they know their

decision criteria; and they have the ability to make the optimum choice and

then to implement it” Towel, 2010 (Lunenburg 2010)”

Rational model adalah administrator membuat keputusan dengan

kepastian bahwa mereka tahu alternatif yang digunakan, hasil yang dapat

dicapai, kriteria keputusan yang dapat diambil dan mempunyai kemampuan

untuk membuat pilihan secara optimal serta dapat menerapkannya.

Menurut Schoenfeld (2011), di dalam rasional model proses untuk

pengambilan keputusan itu dapat dipecah menjadi enam langkah yaitu

identifikasi masalah, alternatif pembangkit, mengevaluasi alternatif, memilih

alternative, menerapkan keputusan, mengevaluasi efektifitas keputusan.


Identifying the problem

Generating alternatives

Evaluating alternatives
Recycle

process

Choosing an alternative
as

necessary

Implementing the decision

Evaluating decision effectiveness

Gambar 1. The decision-making process

Setelah masalah diidentifikasi, alternatif solusi untuk masalah ini

dihasilkan. Setelah itu secara hati-hati dievaluasi, dan alternatif terbaik

dipilih untuk implementasi. Alternatif dilaksanakan kemudian dievaluasi dari

waktu ke waktu untuk menjamin efektivitas segera dan terus-nya. Jika terjadi

kesulitan pada setiap tahap dalam proses, daur ulang dapat dilakukan.

Kotler menjelaskan proses pengambilan keputusan sebagai berikut;

a. Identifikasi Masalah

Dalam hal ini diharapkan mampu mengidentifikasi masalah yang ada

didalam suatu keadaan.


b. Pengumpulan dan penganalisis data

Pengambilan keputusan diharapkan dapat mengumpulkan dan

menganalisis data yang dapat membantu memecahkan masalah yang ada

c. Pembuatan alternative-alternatif kebijakan

Setelah masalah dirinci dengan tepat dan tersusun baik, maka perlu

dipikirkan cara-cara pemecahannya

d. Pemilihan salah satu alternative terbaik

Pemilihan satu alternative yang dianggap paling tepat untuk

memecahkan masalah tertentu dilakukan atas dasar pertimbangan yang

matang atau rekomendasi. Dalam pemilihan satu alternative dibutuhkan

waktu yang lama karena hal ini menentukan alternative yang dipakai

akan berhasil atau sebaliknya.

e. Pelaksanaan keputusan

Dalam pelaksanaan keputusan berarti seorang pengambil keputusan

harus mampu menerima dampak yang positif dan negative. Ketika

menerima dampak yang negative, pemimpin juga harus mempunyai

aternatif yang lain.

f. Pemantauan dan pengevaluasikan hasil pelaksanaan

Setelah keputusan dijalankan seharusnya pemimpin dapat mengukur

dampak dari keputusan yang telah dibuat.

Jadi, proses pengambilan keputusan terstruktur atas identifikasi

masalah, pengumpulan dan penganalisis data, pembuatan alternative-

alternatif kebijakan, pemilihan salah satu alternative terbaik, pelaksanaan

keputusan, pemantauan dan pengevaluasian hasil pelaksanaan.


Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa pengambilan keputusan

adalah urutan logis dari suatu kegiatan. Artinya, sebelum alternatif

dihasilkan, masalah harus diidentifikasi dahulu, dan sebagainya. Selanjutnya,

pengambilan keputusan adalah kegiatan berulang dan saling berhubungan.

2.2 Bounded Rationality model

Bounded Rationality model, merupakan ciri pembuat keputusan yang

benar-benar rasional. Jika pembuat keputusan benar-benar rasional, dia akan

memiliki informasi yang sempurna: tahu semua alternatif, menentukan setiap

konsekuensi, dan membangun skala preferensi lengkap. Selain itu, langkah-

langkah dalam proses pengambilan keputusan akan konsisten memimpin ke

arah memilih alternatif yang memaksimalkan solusi untuk setiap masalah

keputusan.

Menurut Herbert Simon (1982, 1997, 2009) ia menciptakan istilah

bounded rationalityuntuk menggambarkan pengambil keputusan agar dapat

membuat keputusan terbaik tapi biasanya mengendap menjadi tidak

optimal.Berbeda dengan menyelesaikan rasionalitas dalam pengambilan

keputusan, bounded rationalitymenyiratkan berikut (Simon, 1982, 1997,

2009):

1. Keputusan akan selalu didasarkan pada lengkap atau tidaknya data dan,

untuk beberapa derajat merupakan pemahaman memadai tentang sifat

sebenarnya dari masalah yang sedang dihadapi.

2. Pengambil keputusan tidak akan pernah berhasil dalam menghasilkan

semua solusi alternatif yang mungkin untuk dipertimbangkan.


3. Alternatif selalu dievaluasi tidak lengkap karena tidak mungkin untuk

memprediksi secara akurat semua konsekuensi yang terkait dalam setiap

alternatif.

4. Keputusan akhir mengenai alternatif mana yang untuk memilih harus

didasarkan pada beberapa kriteria lain selain memaksimalkan atau

optimasi karena tidak mungkin untuk pernah menentukan alternatif yang

optimal.

Menurut Lunenburg (2010) ada beberapa pendekatan yang digunakan

untuk mengambil keputusan, yaitu :

1. Satisficing.

Salah satu versi rasionalitas yang terikat adalah prinsip satisficing.

Pendekatan ini dalam pengambilan keputusan dengan cara memilih

alternatif pertama yang memenuhi standar minimal penerimaan tanpa

mengeksplorasi semua kemungkinan. Ini adalah pendekatan yang biasa

diambil oleh pengambil keputusan (Nielsen, 2011). Simon (1997)

mengungkapkan cara ini: "Kebanyakan pengambilan keputusan manusia,

baik individu atau organisasi, berkaitan dengan penemuan dan pemilihan

alternatif yang memuaskan; hanya dalam kasus luar biasa itu berkaitan

dengan penemuan dan pemilihan alternatif yang optimal. "(hlm. 140-141)

2. Heuristik.

Ketika administrator membuat keputusan satisficing, mereka mungkin

menggunakan satu set heuristik untuk memandu keputusan mereka.

Sebuah heuristik adalah aturan praktis yang dapat membantu pembuat

keputusan menemukan solusi dalam situasi yang kompleks dan tidak pasti
(Moustakas, 1990). Dalam ilmu-ilmu sosial dan perilaku, ada banyak

heuristik terkenal digunakan untuk membuat berbagai macam keputusan.

Beberapa di antaranya berikut ini: "Pelanggan selalu benar." "Perlakukan

karyawan sebagai orang dewasa yang matang." Ini semua adalah aturan

yang membantu menyederhanakan situasi pengambilan keputusan yang

kompleks. Menerapkan heuristik sering membantu administrator membuat

satisficing yaitu keputusan yang mungkin. Tapi pendekatan heuristik,

seperti dengan penilaian dan intuisi, memiliki kecenderungan untuk

menyederhanakan masalah kompleks atau menimbulkan solusi dalam

pengambilan keputusan.

3. Primacy / efek kebaruan.

Satu solusi yang dapat mempengaruhi efektivitas perilaku pencarian

informasi administrator sekolah, adalah efek keutamaan / kebaruan. Dalam

proses pengambilan keputusan, lingkungan keputusan dicari untuk tujuan

berikut: menemukan masalah, mengidentifikasi alternatif keputusan,

menentukan konsekuensi, dan mengembangkan kriteria evaluasi.

Meskipun pengambil keputusan mungkin memiliki strategi yang berbeda

untuk tujuan yang berbeda, pengambil keputusan sering terlampau

dipengaruhi oleh informasi yang ditemukan pada awal proses pencarian

(efek primacy) atau terlambat dalam proses pencarian (efek kebaruan).

Dengan demikian, segala sesuatu yang lain dianggap sama, pentingnya

melekat pada informasi dapat dipengaruhi oleh urutan di urutan pencarian

(Brown & Moberg, 2004).

4. Memperkuat alternatif.
Cara lain di mana pencarian informasi solusi dan menghambat

optimasi keputusan adalah fenomena memperkuat alternatif (Bubnicki,

2003). Bahkan sebelum mengumpulkan informasi yang menjadi dasar

keputusan, administrator dapat memilih salah satu alternatif untuk semua

yang lain; pembuat keputusan, oleh karena itu, mencari informasi yang

merasionalisasi pilihan. Hanya informasi yang mendukung alternatif

pilihan pembuat keputusan dianggap sah dan dapat diterima.

5. Intuisi.

Aspek lain dari rasionalitas terikat, yang disebutkan sebelumnya

adalah intuisi. Intuisi merupakan ketakutan cepat dari situasi keputusan

berdasarkan pengalaman masa lalu dan penguatan terkait dengan

pengalaman-pengalaman ini, yang tanpa pikiran sadar (Myers, 2002).

Keputusan untuk mendisiplinkan anggota staf atau untuk membeli item

untuk persediaan mungkin cukup intuitif untuk administrator dan

didasarkan pada pengalaman bertahun-tahun.

6. Incrementalizing

Pendekatan lain untuk pengambilan keputusan, kadang-kadang disebut

sebagai keluar dari keterpurukan, melibatkan membuat perubahan kecil

(kenaikan) dalam situasi yang ada. Charles Lindblom (1993), penulis

membedakan antara pengambilan keputusan sepenuhnya rasional dan

incrementalizing, yang didasarkan pada perbandingan terbatas yang

berurutan. Di satu sisi, pendekatan rasional untuk pengambilan keputusan

melibatkan menentukan tujuan, mempertimbangkan semua solusi alternatif

yang mungkin, menjelajahi semua konsekuensi yang mungkin dari solusi


alternatif, dan akhirnya memilih solusi alternatif optimal yang akan

memaksimalkan pencapaian setuju-pada tujuan.

Incrementalizing, di sisi lain, tidak memerlukan kesepakatan tentang

tujuan, pencarian lengkap dari semua alternatif yang mungkin dan

konsekuensinya, atau pemilihan alternatif yang optimal. Sebaliknya,

Lindblom berpendapat bahwa tidak lebih dari langkah-langkah kecil atau

incremental, yaitu, "keluar dari keterpurukan", adalah semua yang

mungkin. Dengan kata lain, incrementalizing adalah proses perbandingan

terbatas yang berurutan dari program alternatif tindakan dengan satu sama

lain sampai pengambil keputusan tiba di alternatif di mana mereka setuju.

7. The garbage-can model.

Sebelumnya kita mencatat bahwa sementara administrator ingin

membuat keputusan yang optimal, realitas kehidupan organisasi -

termasuk politik, keterbatasan waktu, keuangan, dan ketidakmampuan

untuk memproses informasi - membatasi pengambilan keputusan rasional

murni. Menerapkan pengambilan keputusan rasional sangat menyusahkan

bagi organisasi. Sesuai dengan pandangan ini, David Cohen, James Maret,

dan Johan Olsen (1972) dikonsep proses pengambilan keputusan ini

sebagai The garbage-can model. Campuran dipandang sebagai

kumpulansolusi yang harus dicocokkan dengan masalah. Peserta juga

disetorkan ke tong sampah. Pencampuran masalah, hasil solusi, dan

peserta keputusan 'dalam pola interaksi yang mengarah ke keputusan yang

sering tidak mengikuti pengambilan keputusan rasional murni.


Fase-fase Proses Pengambilan Keputusan

Menurut Simon, proses pengambilan keputusan meliputi tiga fase

utama yaitu inteligensi, desain, dan kriteria. Proses pengambilan keputusan

dimulai dari fase inteligensi. Realitas diuji, dan masalah diidentifikasi dan

ditentukan.Kepemilikan masalah juga ditetapkan. Selanjutnya pada fase

desain akan dikonstruksi sebuah model yang merepresentasikan sistem. Hal

ini dilakukan dengan membuat asumsi-asumsi yang menyederhanakan

realitas dan menuliskan hubungan di antara semua variabel.Model ini

kemudian di validasi dan ditentukanlah kriteria dengan menggunakan prinsip

memilih untuk mengevaluasi alternatif tindakan yang telah diidentifikasi.

Proses pengembangan model sering mengidentifikasi solusi-solusi alternatif

dan demikian sebaliknya.

Selanjutnya adalah fase pilihan yang meliputi pilihan terhadap solusi

yang diusulkan untuk model (tidak memerlukan masalah yang disajikan).

Solusi ini diuji untuk menentukan viabilitasnya.Begitu solusi yang diusulkan

tampak masuk akal, maka kita siap untuk masuk kepada fase terakhir yakni

fase implementasi keputusan.Hasil implementasi yang berhasil adalah dapat

dipecahkannya masalah riil.Sedangkan kegagalan implementasi

mengharuskan kita kembali ke fase sabelumnya.

1. Fase Intelegensi. Inteligensi dalam pengambilan keputusan meliputi scanning

(Pemindaian) lingkungan,entah secara intermiten ataupun terus-menerus.

Inteligensi mencakup berbagai aktivitas yang menekankan identifikasi situasi

atau peluang-peluang masalah.


a. Identifikasi Masalah (Peluang)

Fase inteligensi dimulai dengan identifikasi terhadap tujuan dan sasaran

organisasional yang berkaitan dengan isu yang diperhatikan (misal

manajemen inventori, seleksi kerja, kurangnya atau tidak tepatnya kehadiran

Web), dan determinasi apakah tujuan tersebu telah terpenuhi.Masalah terjadi

karena ketidakpuasan terhadap status quo. Ketidakpuasan merupakan hasil

dari perbedaaan antara apa yang kita inginkan (harapkan) dan apa yang

terjadi. Pada fase pertama ini, seseorang berusaha menentukan apakah ada

suatu masalah, mengidentifikasi gejalagejalanya, menentukan keluasannya,

dan mendefinisikannya secara eksplisit.Eksistensi masalah dapat ditentukan

dengan memonitor dan menganalisis tingkat produktivitas organisasi.Ukuran

produktivitas dan konstruksi sebuah model didasarkan pada data

riil.Menentukan apakah masalah benar-benar ada, dimana masalah tersebut,

dan seberapa signifikan, dapat dilakukan setelah investigasi awal selesai

dilakukan.Poin kunci adalah apakah sistem informasi melaporkan masalah

atau hanya melaporkan gejala-gejala dari sebuah masalah.

b. Klasifikasi Masalah

Klasifikasi masalah adalah konseptualisasi terhadap suatu masalah

dalam rangka menempatkannya dalam suatu kategori yang dapat

didefinisikan, barangkali mengarah kepada suatu pendekatan solusi

standar.Pendekatan yang penting mengklasifikasikan masalah-masalah sesuai

tingkat strukturisasi pada masalah tersebut.

c. Kepemilikan Masalah
Menentukan kepemilikan masalah merupakan hal penting pada fase

inteligensi.Sebuah masalah ada di dalam sebuah organisasi hanya jika

seseorang atau beberapa kelompok mengambil tanggung jawab untuk

mengatasinya dan jika organisasi punya kemampuan untuk memecahkannya.

Ketika kepemilikan masalah tidak ditentukan,maka seseorang tidak

melakukan tugasnya atau masalah akan diidentifikasi sebagai masalah orang

lain. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk secara sukarela

“memilikinya” atau menugaskannya kepada orang lain. Fase inteligensi

berakir dengan pernyataan masalah secara formal

2. Fase Desain.

Fase desain meliputi penemuan atau mengembangkan dan

menganalisis tindakan yang mungkin untuk dilakukan.Hal ini meliputi

pemahaman terhadap masalah dan menguji solusi yang layak.

a. Memilih Sebuah Prinsip Pilihan

Prinsip pilihan adalah sebuah kriteria yang menggambarkan

akseptabilitas dari sebuah solusi (kemampuan untuk data diterima).Pada

sebuah model, prinsip tersebut adalah sebuah variabel hasil.Memilih sebuah

prinsip pilihan bukanlah bagian dari fase pilihan, namun melibatkan

bagaimana kita membangun sasaran pengambilan keputusan kita dan

bagaimana sasaran tersebut disatukan ke dalam suatu model.

b. Mengembangkan (Menghasilkan) Alternatif-alternatif

Bagan signifikan dari proses pembangunan model adalah menghasilkan

berbagai alternatif. Pencarian terhadap berbagai alternative biasanya terjadi

setelah kriteria untuk mengevaluasi alternatif dilakukan.Sekuensi ini dapat


mengurangi pencarian alternative dan usaha yang dikeluarkan untuk

mengevaluasinya, namun mengidentifikasi alternatif-alternatif potensial

kadang-kadang dapat membantu mengidentifikasi kriteria.

c. Mengukur Hasil Akhir Nilai dari sebuah alternatif dievaluasi dalam hal

pencapaian tujuan. Kadang-kadang suatu hasil dinyatakan secara langsung

dalam istilah tujuan. Sebagai contoh, laba adalah hasil akhir, maksimalisasi

laba adalah suatu tujuan, dan keduanya dinyatakan dalam terminologi dollar.

Hasil akhir seperti keputusan pelanggan dapat diukur dengan jumlah keluhan,

dengan tingkat loyalitas terhadap sebuah produk, atau dengan rating hasil

survei.

3. Fase Pilihan

Pilihan merupakan tindakan pengambilan keputusan yang kritis.Fase

pilihan adalah fase di mana dibuat suatu keputusan yang nyata dan diambil

suatu komitmen untuk mengikuti suatu tindakan tertentu.Batas antara fase

pilihan dan desain sering tidak jelas karena aktivitas tertentu dapat dilakukan

selama kedua fase tersebut dank arena orang dapat sering kembali dari

aktivitas pilihan ke aktivitas desain.Sebagai contoh, seseorang dapat

menghasilkan alternatif baru selagi mengevaluasi alternatif yang ada.Fase

pilihan meliputi pencarian, evaluasi, dan rekomendasi terhadap suatu solusi

yang tepat untuk model.Sebuah solusi untuk sebuah model adalah

sekumpulan nilai spesifik untuk variabel-variabel keputusan dalam suatu

alternatif yang telah dipilih. Memecahkan sebuah model tidak sama halnya

dengan memecahkan masalah yang direpresentasikan oleh model. Solusi

untuk model menghasilkan sebuah solusi yang direkomendasikan untuk


masalah.Masalah dianggap dipecahkan hanya jika solusi yang

direkomendasikan sukses diterapkan.Pemecahan sebuah model pengambilan

keputusan melibatkan pencarian terhadap suatu tindakan yang tepat.

Pendekatan pencarian melibatkan teknik analitik (memecahkan suatu

formula), algoritma (prosedur langkah-demi-langkah), heuristik (aturan

utama), dan blind search (menembak didalam gelap, idealnya dalam suatu

cara yang logis).

Masing-masing alternatif harus dievaluasi.Jika suatu alternatif

mempunyai berbagai tujuan, maka semua tujuan harus diuji dan seimbang

jika dihadapkan dengan yang lainnya.Analisis sensitivitas digunakan untuk

menentukan ketangguhan sembarang alternatif yang diberikan (sedikit

perubahan dalam perameter idelanya mendorong ke sedikit atau tidak ada

perubahan dalam alternatif yang dipilih).

4 Fase Implementasi

Pada hakikatnya implementasi suatu solusi yang diusulkan untuk suatu

masalah adalah inisiasi terhadap hal baru, atau pengenalan terhadap

perubahan. Definisi implementasi sedikit rumit karena implementasi

merupakan sebuah proses yang panjang dan melibatkan batasan-batasan yang

tidak jelas. Pendek kata, implementasi berarti membuat suatu solusi yang

direkomendasikan bisa bekerja, tidak memerlukan implementasi suatusistem

Kesimpulan

Pengambilan keputusan adalah salah satu kegiatan yang paling penting

di mana administrator manajemen terlibat sehari-hari. Keberhasilan


manajemen yang kritis terkait dengan keputusan yang efektif. Pengambilan

keputusan adalah proses yang melibatkan pilihan. Proses ini umumnya terdiri

dari beberapa langkah: masalah mengidentifikasi, menghasilkan alternatif,

mengevaluasi alternatif, memilih alternatif, melaksanakan keputusan, dan

mengevaluasi efektivitas keputusan.

Dua pendekatan utama untuk pengambilan keputusan telah

diidentifikasi. Model rasional ciri pengambil keputusan sebagai benar-benar

rasional - mencari melalui informasi yang sempurna untuk membuat

keputusan yang optimal. Ketidaksempurnaan yang melekat dari pengambil

keputusan dan sistem sosial dan organisasi di mana mereka tertanam

memaksakan pembatasan pada kemampuan para pengambil keputusan 'untuk

memproses informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang

kompleks (bounded rasionalitas) yang membatasi pengambil keputusan untuk

menemukan solusi yang kurang optimal.


3. Tingkat Keputusan Manajemen

Tingkat Keputusan Manajemen menurut Ansoff (2009) :

1. Manajemen strategis: keputusan jangka panjang yang dilakukan oleh top

management sepertii CEO, atau General Manager tentang seluruh strategi

organisasi, misalnya pengembangan garis besar sasaran organisasi,

kebijakan, dan tujuan-tujuan sebagai bagian dari proses perencanaan

strategis.

2. Manajemen taktis: keputusan jangka pendek oleh manajemen tingkat

menengah seperti Kepala Departemen, Manajer Cabang, untuk menetukan

kegiatan yang efisien dan efektif dengan strategi yang ada, misalnya merekrut

personel baru; mengalokasikan anggaran; memperkenalkan prosedur baru,


penentuan kebijakan, dan tujuan- tujuan bisnis bagi sub unitnya masing-

masing.

3. Manajemen operasional: terdiri dari para kepala bagian di tingkat

operasional atau pengawas terhadap tenaga operasional yang menyusun

perencanaan sehari-hari tentang operasional kegiatan, seperti jadwal produksi,

mengatur penggunaan sumberdaya, mengalokasikan personel untuk tugas –

tugas tertentu, pemesanan persediaan baru dan tingkat performansi

pekerjaan sesuai prosedur, biaya, dan jadwal yang telah ditetapkan.

Pengambilan keputusan strategis menentukan tujuan, sumber daya dan

kebijakan organisasi. Masalah utama pada tingkat pengambilan keputusan

memprediksi masa depan organisasi dan lingkungannya dan cocok dengan

karakteristik organisasi untuk lingkungan. Proses ini umumnya melibatkan

sekelompok kecil manajer tingkat tinggi yang menangani masalah non-rutin

yang kompleks.

Pengambilan keputusan untuk pengendalian manajemen prinsipnya

berhubungan dengan efisiensi dan efektifitas sumber daya yang digunakan

dan seberapa baik unit operasional yang dilakukan. Kontrol manajemen

membutuhkan interaksi dengan orang-orang yang melaksanakan tugas-tugas

organisasi.

Pengambilan keputusan untuk pengendalian operasional menentukan

bagaimana melaksanakan spesifikasi tugas yang ditetapkan oleh para

pembuat keputusan manajemen strategis dan menengah.

Jenis keputusan: Structured vs Unstructured


Dalam masing-masing tingkat pengambilan keputusan, Simon (1960)

mengklasifikasikan keputusan yang baik meliputi terprogram atau non-

program. Peneliti lain mengacu pada jenis keputusan sebagai keputusan

terstruktur atau tidak terstruktur.

Jenis-jenis Keputusan dan jenis sistem

Banyak masalah yang dihadapi oleh pekerja cukup terstruktur.Namun

demikian setiap tingkat organisasi mempunyai dua masalah baik terstruktur

maupun tidak terstruktur.Dalam kebanyakan kasus dalam sistem informasi

modern kita sering menangani kasus terstruktur, keputusan pengendalian

operasional dan manajemen.


4. Peran Manajer dalam Pengambilan Keputusan

Manajer adalah seorang yang memiliki tanggung jawab seluruh

bagian pada suatu perusahaan atau organisasi.Manajer memimpin beberapa

unit bidang fungsi pekerjaan yang mengepalai beberapa.Pada perusahaan

yang berskala kecil mungkin cukup diperlukan satu orang manajer umum,

sedangkan pada perusahaan atau organisasi yang berkaliber besar biasanya

memiliki beberapa orang manajer umum yang bertanggung-jawab pada area

tugas yang berbeda-beda.

Menurut Mintzberg para manajer itu memiliki sepuluh peran berbeda-

beda, dari kesepuluh peran tersebut dapat dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

informational (managing by information), interpersonal (managing through

people), and decisional (managing through action). Berikut keterangannya

dibawah ini :

1. Informational (managing by information) (Manajemen dengan informasi), ada

3 peran, yaitu :

a. Monitor (Pegawasan) , maksudnya adalah : Tugas meliputi operasi internal

menilai, keberhasilan departemen dan masalah dan peluang yang mungkin

timbul. Semua informasi yang diperoleh dalam kapasitas ini harus disimpan

dan dipelihara. Misalnya : Mencari dan memperoleh pekerjaan yang

berhubungan dengan informasi, membaca berita perdagangan, majalah,

laporan, menghadiri seminar dan pelatihan, serta menjaga kontak relasi.

b. Disseminator ( Penyebar Informasi ).


Menyoroti faktual atau nilai pandangan eksternal berbasis ke dalam

organisasi dan bawahan.Hal ini membutuhkan baik penyaringan dan

keterampilan delegasi.Misalnya : Berkomunikasi / menyebarkan informasi

kepada orang lain dalam organisasi, mengirim memo dan laporan;

menginformasikan staf dan bawahan dari keputusan

c. Spokesperson ( Juru Bicara )

Berfungsi dalam kapasitas PR dengan menginformasikan dan melobi

orang lain untuk menjaga stakeholder kunci diperbarui mengenai operasi

organisasi. Misalnya : Berkomunikasi / mengirimkan informasi ke luar

Menyampaikan memo, laporan dan bahan informasi; berpartisipasi dalam

konferensi / pertemuan dan laporan kemajuan.

2. Interpersonal (managing through people) ( manajemen melalui orang

lain),ada 3 peran, yaitu :

a. Figurehead ( Tokoh sebagai Simbol pemimpin perusahaan )

Adalah orang yang memiliki peranan penting dalam kantor, tetapi

secara de facto tidak sedikit kekuatan sebenarnya, paling sering dibatasi oleh

Konvensi, bukan hukum. Semua inspirasi, sosial, kewajiban hukum dan

seremonial.Dalam hal ini, manajer dipandang sebagai simbol status dan

otoritas suatu perusahaan. Misalnya: melaksanakan tugas-tugas sosial dan

hukum, bertindak sebagai pemimpin simbolis dengan menyapa pengunjung,

menandatangani dokumen hukum, menghadiri upacara pemotongan pita, tuan

rumah resepsi, dan lain-lain.

b. Leader ( Pemimpin )
Tugas adalah jantung dari hubungan mencakup penataan dan

memotivasi bawahan, mengawasi kemajuan mereka, mempromosikan dan

mendorong perkembangan mereka, dan menyeimbangkan efektivitas.

c. Liaison ( Penghubung atau Duta Perwakilan )

Membangun dan memelihara kontak dalam dan di luar organisasi

Bisnis korespondensi, partisipasi dalam pertemuan dengan perwakilan

dari divisi lain atau organisasi.

Menjelaskan kewajiban informasi dan komunikasi manajer.Satu harus

berjejaring dan terlibat dalam pertukaran informasi untuk mendapatkan akses

ke basis pengetahuan.

3. Decisional (managing through action) ( manajamen dengan tindakan

nyata),ada 4 peran, yaitu :

a. Entrepreneur ( Berjiwa Pengusaha )

Ide-ide baru dan memulai proyek perbaikan dengan menerapkan

inovasi dalam rencana untuk masa depan. Misalnya: mendorong para rekan

manajer untuk membuat proyek-proyek perbaikan dan bekerja untuk

mendelegasikan, memberdayakan dan mengawasi tim dalam proses

pembangunan.

b. Disturbance Handler ( Pemecahan Masalah )

Berkaitan dengan mengatasi situasi krisis, seperti sengketa atau masalah dan

mengambil tindakan korektif, menyelesaikan konflik antara bawahan, dengan

mencari jalan keluar alternative yang strategis,

c. Resource Allocation ( Alokasi sumber daya )


Memiliki kewenangan dalam mengendalikan penggunaan sumber

daya organisasi.

d. Negotiator ( Negosiasi )

Berpartisipasi dalam kegiatan negosiasi dengan organisasi lain dan

individu. Misalnya: membela kepentingan bisnis, berpartisipasi dalam dan

mengarahkan negosiasi dalam tim, departemen, dan organisasi.

5. Efektifitas Pengambilan Keputusan

5.1 Pengertian efektifitas


Effectiveness is the capability of producing a desired result. When

something is deemed effective, it means it has an intended or expected

outcome, or produces a deep, vivid impression

Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu effective yang berarti

berhasil atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik.Kamus ilmiah

populer mendefinisikan efektivitas sebagai ketepatan penggunaan, hasil guna

atau menunjang tujuan.Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai

tujuan atau sasaran yang telah ditentukan di dalam setiap organisasi, kegiatan

ataupun program.Disebut efektif apabila tercapai tujuan ataupun sasaran

seperti yang telah ditentukan.Hal ini sesuai dengan pendapat H. Emerson

yang dikutip Soewarno Handayaningrat S. (1994:16) yang menyatakan bahwa

“Efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah

ditentukan sebelumnya.” Sedangkan Georgopolous dan Tannembaum

(1985:50), mengemukakan: “Efektivitas ditinjau dari sudut pencapaian

tujuan, dimana keberhasilan suatu organisasi harus mempertimbangkan bukan

saja sasaran organisasi tetapi juga mekanisme mempertahankan diri dalam

mengejar sasaran. Dengan kata lain, penilaian efektivitas harus berkaitan

dengan mesalah sasaran maupun tujuan.” Selanjutnya Steers (1985:87)

mengemukakan bahwa: “Efektivitas adalah jangkauan usaha suatu program

sebagai suatu sistem dengan sumber daya dan sarana tertentu untuk

memenuhi tujuan dan sasarannya tanpa melumpuhkan cara dan sumber daya

itu serta tanpa memberi tekanan yang tidak wajar terhadap pelaksanaannya”.

Dari beberapa pendapat di atas mengenai efektivitas, dapat

disimpulkan bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan


seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) yang telah dicapai oleh

manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu.

Efektivitas pengambilan keputusan dalam manajemen diperlukan guna

mengambil dan menentukan suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.

Efektivitas erat kaitannya dengan ketepatan waktu pengambilan keputusan

yang berhubungan dengan informasi keuangan perusahaan.

5.2 Keputusan yang efektif ( Peter f Drucker )

Effective executives do not make a great many decisions. They

concentrate on what is important. They try to make the few important

decisions on the highest level of conceptual understanding. They try to find

the constants in a situation, to think through what is strategic and generic

rather than to “solve problems.” They are, therefore, not overly impressed by

speed in decision making; rather, they consider virtuosity in manipulating a

great many variables a symptom of sloppy thinking. They want to know what

the decision is all about and what the underlying realities are which it has to

satisfy. They want impact rather than technique. And they want to be sound

rather than clever.

Dari wacana diatas disimpulkan bahwa seorang Manajer yang efektif

tidak akan banyak membuat keputusan. Mereka berkonsentrasi pada apa yang

penting saja. Mereka membuat keputusan penting sesuai dengan pemahaman

konseptual mereka.Mereka mencoba untuk menemukan pemecahan masalah

yang strategis dalam "memecahkan masalah".Oleh karena itu, tidak terkesan

terburu-buru dalam pengambilan keputusan.


Organisasi terus-menerus membuat keputusan di setiap tingkat.

Pengambilan keputusan berkisar dari keputusan strategis melalui keputusan

manajerial dan keputusan operasional rutin.Pengambilan keputusan dalam

bisnis adalah tentang memilih pilihan atau kompromi dalam rangka mencapai

tujuan bisnis.Namun, pengambilan keputusan bukan hanya tentang memilih

pilihan yang tepat.

Pengambilan keputusan yang efektif didefinisikan sebagai proses melalui

alternative mana yang dipilih dan kemudian dikelola melalui implementasi

untuk mencapai tujuan organisasi. Keputusan Efektif adalah hasil dari suatu

proses yang sistematis, dengan unsur-unsur yang jelas, yang ditangani secara

berurutan.

Manajemen dapat terlibat untuk berkontribusi pada setiap tahap proses

pengambilan keputusan yang efektif. Mereka dapat terlibat dalam:

1. Menetapkan konteks dan framing isu yang akan dipertimbangkan

2. Kinerja dan manajemen risiko selama pelaksanaan

5.3 Efektivitas dan komponen pengambilan keputusan

1. Maier merumuskan apakan suatu keputusan itu efektif atau tidak dengan

mendasarkan diri pada penilaian penerimaan (acceptability) kemudian

dibandingkan dengan kualitas keputusan itu (quality). Secara matematis

dirumuskan sebagai berikut:

Dimana: De = Effective Decision (keputusan efektif)

Q = Quality (mutu, kualitas)


A = Acceptability (penerimaan)

Kualitas mempunyai ciri yang bersifat objektif yang sering diukur melalui

standar teknis.Penerimaan cenderung bersifat emosional dan subjektif.

Efektivitas Pengambilan Keputusan Keputusan yang efektif = kualitas x

penerimaan

De = Q x A

2. Tipe Pertama Keputusan yang efektif berdasarkan Q/A. Yang dimaksud

adalah keputusan yang memiliki kualitas tinggi, tapi memerlukan penerimaan

yang rendah. Artinya faktor penerimaan dalam keputusan ini kurang penting,

yang lebih dipentingkan adalah kualitas keputusan.

Contoh: suku bunga yang ditentukan oleh bank yang bersangkutan

disesuaikan dengan situasi ekonomi, meskipun banyak dari karyawan bank

tidak bereaksi karena memang tidak menyangkut kepentingannya. Maier

mengelompokkan keputusan dlm 3 tipe: De = Q / A

3. Tipe Kedua Keputusan yang mendasarkan diri pada A/Q atau rumusannya De

= A / Q. suatu keputusan yg memerlukan penerimaan yang tinggi, meskipun

segi kualitasnya kurang berperan. Keputusan semacam ini lebih banyak

menyangkut anggota organisasi yaitu menyangkut kepentingannya.

4. Tipe Ketiga Keputusan dimana A = Q. Keputusan semacam ini segi

penerimaan dan segi kualitasnya sama-sama berperan, sama-sama

pentingnya. Contoh: pengenalan prosedur kerja baru yang lebih efisien. Kerja

yang lebih efisien berarti kerja yang lebih berbobot. Tetapi penerimaan oleh

para anggotanya itu penting karena menyangkut kepentingan karyawan/


anggota organisasi tersebut, misalnya apakah cara baru itu merugikan anggota

atau tidak.

5. Martin Starr menyebutkan unsur-unsur atau komponen pembuatan keputusan

yg berlaku umum, sebagai berikut:

1) Tujuan harus ditegaskan dalam pengambilan keputusan. Tujuan pengambilan

keputusan itu apa?,Misal: membeli mobil baru dengan tujuan melancarkan

aktifitas pengangkutan.

2) Identifikasi Alternatif. Untuk mencapai tujuan, perlu dibuatkan beberapa

alternatif yang nantinya dipilih satu yang paling tepat Komponen

Pengambilan Keputusan

6. Faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya. Keberhasilan pemilihan

alternatif itu baru dapat diketahui setelah putusan dilaksanakan. Masa depan

tidak dapat diketahui dengan pasti, inilah yang dinamakan uncontrollable

events. Kemampuan pemimpin untuk memprediksi masa depan sangat

diperlukan. Misal: Jika membeli mobil baru, kedepannya harga bensin dan

perawatan naik atau tidak.

7. Dibutuhkan sarana untuk mengukur hasil yang dicapai. Masing-masing

alternatif perlu disertai akibat positif dan negatifnya. Diperlukan alat untuk

mengevaluasi dan mengukur hasil yang dicapai dari keputusan yang

diambilnya.
CONCLUSION

1. Decision-making (decision making) is a thought process of selection of

alternatives that will be generated on the next prediction. Decision making is

a process of selecting the best alternative of several alternatives

systematically to follow-up as a way of solving the problem. The activities

carried out within the organization intended to achieve organizational goals

that where desired in the activities of his organization can run smoothly and

goals can be accomplished easily and efficiently. But often happens obstacles

in carrying out the activities. This is a problem that must be solved by the

leadership of the organization. Decision-making is intended to solve the

problem.

2. The process of decision making generally consists of several steps:

identifying problems, generating alternatives, evaluating alternatives, an

alternative, the decision to implement, and evaluate the effectiveness of the

decision.Two main approaches to decision-making have been identified.

Rational modeland Bounded Rationality model.

3. Three levels of decision making:

a. Strategic Decisions — long term decisions about the overall direction or

strategy of an organisation, eg whether or not to embark on a new activity

b. Tactical Decisions — short term decisions about doing things efficiently

and effectively within the existing strategy, eg recruiting new personnel;

allocating budgets; introducing new procedures


c. Operational Decisions — day to day decisions about operational

activities, eg allocating personnel to particular tasks; ordering new

supplies.

4. Manager is a person who has responsibility for all parts of a company or

organization

According to Mintzberg the managers have ten different roles, from the tenth

such roles can be divided into three categories: informational (managing by

information), interpersonal (managing through people), and decisional

(managing through action).

5. Effective decision making is defined as the process through which alternative

is selected and then managed through implementation to achieve

organizational goals. Effective decision is the result of a systematic process,

with clear elements, andaddressed sequentially.


DAFTAR PUSTAKA