You are on page 1of 54

SATU

Pendahuluan

A. Pokok-pokok Pikiran dan Latar Belakang Masalah

Peradilan Islam di Indonesia yang selanjutnya disebut dengan
“Peradilan Agama” telah ada di berbagai tempat di Nusantara, jauh sejak
zaman penjajahan Belanda. Bahkan menurut pakar sejarah Peradilan,
Peradilan Agama sudah ada sejak abad ke-16. Dalam sejarah yang
dibukukan oleh Departemen Agama yang berjudul Seabad Peradilan
Agama di Indonesia, tanggal 19 Januari 1882 didteteapkan sebagai hari
Jadinya, yaitu berbarengan dengan diundangkannya ordonantie stbl. 1882-
152, tentang Peradilan Agama di pulau Jawa-Madura.

Selama itu hingga sekarang, Peradilan Agama berjalan, putusannya
ditaati dan dilaksanakan dengan sukarela, tetapi hingga diundangkannya
UU No.7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada tanggal 29 Desember
1989, Peradilan Agama belum pernah memiliki undang-undang tersendiri
tentang Susunan, Kekuasaan dan Acara, Melainkan terserak-serak dalam
berbagai peraturan perundang-undangan yang tidak merupakan kesatuan,
lagi tidak pula seragam.

Setelah lama Indonesia merdeka, bangsa Indonesia berangsur sadar
untuk membuang jauh politik colonial itu. Hal itu diperlihatkan oleh tonggak-
tonggak sejarah sendiri, yaitu sebagai berikut :

1. Pada tahun 1951, dengan UU Darurat No. 1 tahun 1951, LN 1951-9, yang
kemudian dikuatkan menjadi UU dengan UU No. 1 tahun 1961, LN 1961-3,
Peradilan Agama diakui eksistensi dan perannya;

2. Pada tahun 1957, dengan PP No. 45 tahun 1957, LN 1957-99, yang
merupakan pelaksanaan dari UU No. 1 tahun 1951, didirikan/dibentuk
Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah di luar Jawa-Madura;

3. Pada tahun 1964, dengan UU No. 19 tahun 1964, LN 1964-107, yang
kemudian digantikan dengan UU No. 14 tahun 1970, LN 1970-74, Peradilan
Agama diakui sebagai salah satu dari empat lingkungan Peradilan
Negara yang sah.

4. Pada tahun 1974 terbit UU No. 1 tahun 1974, LN 1974-1, yang dilaksanakan
dengan PP No. 9 tahun 1975, LN 1975-12, di mana segala jenis perkara di

Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Acara Peradilan Agama (Dr. H. Roihan A. Rasyid, S.H., M.A.) Page 1

bidang perkawinan bagi mereka yang beragama islam dopercayakan
kepada Peradilan Agama untuk menyelesaikannya.

5. Pada tahun 1977 terbit PP No. 28 tahun 1977, LN 1977-38 yang
memberikan kekuasaan kepada Peradilan Agama untuk menyelesaikan
perkara di bidang Perwakafan Tanah Milik.

Peradilan Agama kini telah mempunyai UU tersendiri, yaitu UU No. 7
Tahun 1989. Peradilan Agama akan lebih mantap dalam menjalankan
fungsinya, para pencari keadilan pun demikian, akan lebih mudah dan
konkret berurusan. Para ilmuan, cerdik cendikia, mahasiswa dan pelajar
mulai mengambil perhatian. Dalam kondisi inilah penulis ingin
menyumbangkan sebuah buku yang berjudul Hukum Acara Peradilan
Agama hingga proses mengenal dan berkembangnya Peradilan Agama
akan lebih melaju.

B. Metode Penelitian dan Analisis

1. Metode Penelitian

Penelitian dan pengumpulan data yang penulis lakukan dalam menyusun
buku ini adalah :

a. Library research (kepustakaan), yaitu dengan cara melalui buku-buku,
umum maupun agama, berbagai peraturan perundang-undangan,
surat-surat edaran dan petunjuk dari Mahkamah Agung maupun
Departemen Agama, yurisprudensi peradilan, prasaran, makalah dan
tulisan-tulisan lainnya yang relevan.

b. Experienced research atau empiris (pengalaman) yang mencakup
observasi, field dan lain-lain. Pengalaman itu penulis dapatkan karena
penulis sejak tahun 1963-1987 terus-menerus mengabdi pada instansi
Peradilan Agama. Sejak tahun1972-1985 penulis sebagai Ketua
Pengadilan Tinggi Agama Sumatra-Selatan, Lampung dan Bengkulu di
Palembang. Sejak tahun 1985-1987 sebagai Ketua Pengadilan Tinggi
Agama Sumatra Barat, Riau dan Jambi di Padang. Sejak tahun hingga
saat ini mengajar dalam mata kuliah Hukum Acara Peradilan Agama
pada Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri.

Melalui mengajar, penulis membimbing praktik Peradilan Agama bagi
mahasiswa ke Pengadilan-pengadilan Agama, membimbing dan
menguji tesis yang berkaitan dengan Peradilan Agama.

Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Acara Peradilan Agama (Dr. H. Roihan A. Rasyid, S.H., M.A.) Page 2

2. Metode Analisis

Dalam menganalisis data dan materi yang disajikan, dipergunakan
beberapa metode, yaitu sebagai berikut:

a. Deskriptif, pada umumnya dipergunakan dalam menguraikan sejarah,
mengutip atau menjelaskan bunyi peraturan perundang-undangan dan
dalam uraian umum;

b. Komperatif, pada umumnya dipergunakan dalam membanding antara
Peradilan Agma, Peradilan Islam dan Peradilan Umum, terutama
terhadap materi yang mungkin dapat menimbulkan kerancuan;

c. Deduktif dan induktif. Deduktif, tolak ukurnya adalah peraturan
perundang-undangan, syariat Islam dan filsafat hukum, sedangkan
Induktif adalah dalam menyusun logika untuk mengambil kesimpulan
umum;

d. Problem solving atau pemecahan masalah. Bila diketemukan suatu
masalah, penulis identifikasikan, analisis, kemudian penulis sajikan
alternative pemecahannya;

e. Historis kritis, yaitu dalam menguraikan sering pula penulis ketengahkan
sejarahnya, dikaji sebab-sebabnya, saling keterkaitannya.

C. Peradilan Agama dan Peradilan Islam

Pengertian Peradilan Agama dan Peradilan Islam

1. Peradilan Agama

Peradilan Agama adalah sebutan (titelateur) resmi bagi salah satu di
antara empat lingkungan Peradilan Negara atau Kekuasaan Kehakiman
yang sah di Indonesia. UU No. 14 tahun 1970, LN 1970-74 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, Pasal 10 ayat (1). Kata-kata
“Peradilan Negara” dan “kekuasaan Kehakiman” adalah semakna. Tiga
lingkungan Peradilan Negara lainnya adalah Peradilan Umum, Peradilan
Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara.

Peradilan Agama adalah salah satu di antara tiga Peradilan Khusus di
Indonesia. Dua Peradilan Khusus lainnya adalah Peradilan Militer dan
Peradilan Tata Usaha Negara. Dikatakan Peradilan Khusus karena Peradilan
Agama mengadili perkara-perkara tertentu atau mengenai golongan rakyat

Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Acara Peradilan Agama (Dr. H. Roihan A. Rasyid, S.H., M.A.) Page 3

tertentu. Dalam pasal 10 ayat (1) menjelaskan dalam hal ini, Peradilan
agama hanya berwenang di bidang perdata tertentu saja, tidak pidana dan
pula tidak hanya untuk orang-orang Islam di Indonesia, dalam perkara-
perkara perdata Islam tertentu, tidak mencakup seluruh perdata Islam.

2. Peradilan Islam

Kata “Peradilan Islam” yang tanpa dirangkaikan dengan kata-kata “di
Indonesia”, dimaksudkan adalah Peradilan Islam menurut konsepsi Islam
secara universal. Peradilan Islam itu meliputi segala jenis perkara menurut
ajaran islam secara universal. Oleh karena itu, di mana-mana asas
peradilannya mempunyai prinsip-prinsip kesamaan sebab hukum Islam itu
tetap satu dan berlaku atau dapat diberlakukan di mana pun, bukan hanya
untuk suatu bangsa atau untuk suatu Negara tertentu saja.

D. Hukum Acara Perdata Peradilan Umum dan Peradilan
Agama

Sebagaimana sudah disebutkan bahwa Peradilan Agama adalah
peradilan perdata sedangkan Peradilan Umum adalah juga peradilan
perdata di samping peradilan pidana. Dilihat dari segi asas-asas Hukum
Acara, tentulah ada prinsip-prinsip kesamaannya secara umum di samping
secara khusus tentu ada pula perbedaan antara Hukum Acara Perdata
Peradilan umum dan Hukum Acara Perdata Peradilan Agama.

1. Hukum Acara Perdata Peradilan Umum

Prof. R. Wirjono Prodjodikoro, S.H. merumuskan Hukum Acara Perdata
ialah:

Rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana orang
harus bertindak terhadap dan di muka pengadilan dan cara bagaimana
pengadilan itu harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan
berjalannya peraturan-peraturan hukum perdata.

Prof. Subekti, S.H. dan R. Tjitrosoedibio merumuskan Hukum Acara Perdata
ialah:

Keseluruhan daripada ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur
dengan cara bagaimana tertib hukum perdata dapat ditegakkan dalam
hal penegakan dikehendak, berhubung terjadinya suatu pelanggaran
dan bagaimana ia dapat di pelihara dalam hal suatu tindakan
pemeliharaan dikehendaki, berhubung terjadinya suatu peristiwa perdata.

Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Acara Peradilan Agama (Dr. H. Roihan A. Rasyid, S.H., M.A.) Page 4

2. Hukum Acara Peradilan Agama

Sebagaimana diketahui bahwa Peradilan Agama adalah Peradilan
Perdata dan Peradilan Islam di Indonesia, jadi ia harus mengindahkan
peraturan perundang-undangan Negara dan syariat Islam sekaligus. Oleh
karena itu, rumusan Hukum Acara Peradilan Agama diusulkan sebagai
berikut:

Segala peraturan baik yang bersumber dari peraturan perundang-
undangan Negara maupun dari syariat Islam yang mengatur bagaimana
cara orang bertindak ke muka Pengadilan Agama dan juga mengatur
bagaimana cara Pengadilan Agama tersebut menyelesaikan perkaranya,
untuk mewujudkan hukum material islam yang menjadi kekuasaan Peradilan
Agama.

E. Susunan Badan Peradilan di Indonesia

UUD 1945 menyebut “Badan Peradilan” dengan “Kekuasaan Kehakiman”
atau “Badan Kehakiman”, ketiganya sama maksudnya dan searti. Pasal 24
berbunyi:
Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain
-lain badan kehakiman menurut undang-undang.
Susunan dan kekuasaan badan-badan kehakiman itu diatur dengan
undang-undang.

Pasal 24 UUD 1945 dilaksanakan oleh UU No. 14 tahun 1970 dan UU No. 14
tahun 1970 menyebut “Kekuasaan Kehakiman” atau “Badan Kehakiman”
dengan “Badan Peradilan”. Pasal 10 ayat (1) UU No. 14 tahun 1970 berbunyi:

Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan:
a. Peradilan Umum;
b. Peradilan Agama;
c. Peradilan Militer;
d. Peradilan Tata Usaha Negara.

Menurut Pasal 10 ayat (2) dan 11 ayat (2) dari UU tersebut, Mahkamah
Agung adalah Peradilan Negara Tertinggi dan ia mempunyai organisasi,
administrasi dan keuangan tersendiri. Oleh karena masing-masing lingkungan
peradilan tersebut terdiri dari pengadilan tingkat pertama dan tingkat
banding, yang semuanya berpuncak ke Mahkamah Agung (di bidang teknis
fungsional yudikatif), artinya di bidang memeriksa dan mengadili perkara,
maka susunan badan-badan peradilan di Indonesia adalah sebagai berikut;

Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Acara Peradilan Agama (Dr. H. Roihan A. Rasyid, S.H., M.A.) Page 5

M. mengadili. 5 tahun 1986.H. Pengadilan TInggi Agama (PTA). tt MA. Peradilan Umum). artinya perkara di tingkat banding (dalam hal banding) akan diperiksa secara keseluruhan. LN 1985-73. Rasyid. tt. (UU No. Lingkungan Peradilan Umum adalah Pengadilan Negeri (PN). Lingkungan Peradilan Militer adalah Mahkamah Militer (Mahmil).A. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Pengadilan Tinggi (PT). Roihan A. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) dan Mahkamah Agung. S. 2 tahun 1986. PTA. dan Mahkamah Agung (MA). 2. Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara adalah Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Secara mudah dikatakan bahwa MA itu memeriksa mana yang benar antara pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding yang sudah memeriksa terdahulu terhadap suatu perkara yang dimintakan kasasi ke MA. Lingkungan Peradilan Agama adalah Pengadilan Agama (PA). Oleh karena itu. dan Mahkamah Militer Agung (Mahmilgung) yakni pada Mahkamah Agung. MA tidaklah memeriksa perkara secara keseluruhan lagi melainkan hanya terbatas dalam hal-hal tertentu saja. 4. PA. 1. Pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding disebut judex facti. 7 tahun 1989. memeriksa.) Page 6 . tt. dan Mahkamah Agung. 15 tahun 1985. (UU No. Peradilan Agama).. Diadakannya MA yang tunggal dan bukan lagi bersifat judex facti adalah untuk uniformitas hukum karena menjunjung prinsip Negara Kesatuan dalam satu Wawasan Nusantara dan satu Wawasan Hukum serta demi keadilan hukum. tt. Mahmilti dan PTTUN disebut Pengadilan tingkat banding karena ia menerima perkara banding yang berasal dari pengadilan tingkat pertama pada lingkungannya masing-masing. Pasal 30). (UU No. LN 1986-20. Mahmil dan PTUN disebut Pengadilan tingkat pertama karena ia adalah pengadilan sehari-hari yang pertama kali menerima. Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti). (UU No. Mahkamah Agung tidak lagi melakukan judex facti itu dan karenanya MA tidak bisa disebut sebagai pengadilan tingkat ketiga. Peradilan Tata Usaha Negara) PN. Acara Peradilan Agama (Dr. PT. LN 1989-49. dan menyelesaikan perkara pada lingkungannya masing-masing. 3. H. LN 1986-77. baik tentang fakta-fakta maupun tentang bukti-bukti dan lain sebagainya seperti pemeriksaan selengkapnya di muka pengadilan tingkat pertama dulunya.

) Page 7 . H.H. Mahmil : Makhamah Militer. Mahmilti : Mahkamah Militer Tinggi. PANGAB : Panglima Angkatan Bersenjata. PN : Pengadilan Negara. Roihan A. PT : Pengadilan Tinggi. administrative dan finansial. Acara Peradilan Agama (Dr. S.A. PTUN : Pengadilan Tasa Usaha Negara. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. PA : Pengadilan Agama. Hubungan ke Mahkamah Agung adalah di bidang teknis fungsional Yudikatif Hubungan ke Departemen adalah di bidang organisatoris. Hankam : Pertahanan dan keamanan. Titelatuer Badan Peradilan Agama Titelatuer atau sebutan resmi Badan-badan Peradilan Agama sejak berlakunya UU No. Rasyid. F.. M. 7 tahun 1989 telah menjadi seragam. PTTUN : Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara. Hukum Acara Peradilan Agama SKEMA SISTEM PERADILAN DI INDONESIA Mahkamah Depertemen Departemen Agung Departemen PANGAB Agama Kehakiman Hankam PTA PT PTTUN Mahmilti PA PN PTUN Mahmil Keterangan: PTA : Pengadilan Tinggi Agama.

M. 14 tahun 1970. Roihan A. terbitlah UU No. pasal 24 UUD 1945 tersebut dilaksanakan oleh UU No. maka mewujudkan UU tentang Susunan. B. Sumber Hukum Acara Peradilan Agama Peradilan Agama adalah Peradilan Negara yang sah. d. Rasyid. Dalam masa 19 tahun kemudian setelah tahun 1970. Kekuasaan serta Acara dari Badan-badan Peradilan tersebut dalam pasal 10 ayat (1) diatur dalam undang-undang tersendiri. Acara Peradilan Agama (Dr. DUA Sumber Hukum Acara Peradilan Agama A. c. 7 tahun 1989. yang diberi wewenang Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. disamping sebagai Peradilan khusus. Peradilan Militer. Pasal 12 yang berbunyi: Susunan. Peradilan Agama. Keharusan Adanya UU Tersendiri Tentang Acara UUD 1945 Pasal 24 berbunyi: Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undang-undang. Kekuasaan dan Acara Peradilan Agama.. Pasal 10 ayat (1) berbunyi: Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan: a. Kekuasaan serta Acara dan bagi tiap-tiap lingkungan peradilan tersebut di atas adalah merupakan sebagian dari bukti melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.A. Sekarang ini. yakni Peradilan Islam di Indonesia. di samping sebagai satu cirri dari cinta kepada Negara Hukum sebagai subsistem dari system Pemerintahan Negara Ri. S. Apabila Pasal 12 UU No. 14 tahun 1970 memerintahkan demikian. Peradilan Tata Usaha Negara.) Page 8 . Peradilan Umum. Susunan dan kekuasaan badan-badan kehakiman diatur dengan undang-undang. H. sedangkan UU tersebut merupakan pelaksanaan dari UUD 1945 Pasal 24. b.H. tentang Peradilan Agama dan UU ini membuat antara lain tentang Sususan.

sejak terbitnya UU No. tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. 1. M. 2 tahun 1986. 1 tahun 1974 dan PP No. yaitu: (1) Yang terdaopat dalam UU No. UU No. memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan perkara) dan fungsinya (menegakkan hukum dan keadilan) maka Peradilan Agama dahulunya. tentang Mahkamah Agung. 14 tahun 1970. Roihan A. Menurut pasal di atas. maksudnya untuk luar Jawa-Madura.) Page 9 . 4. 5. 3. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Pasal 54 dari UU tersebut berbunyi: Hukum Acarq yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku dalam lingkungan Peradilan Umum. 2. 14 tahun 1985. HIR (Het Herziene Inlandsche Reglement) atau disebut juga RIB (Reglemen Indonesia yang di Baharui). Peraturan perundang-undangan tentang Acara Perdata yang sama- sama berlaku bagi lingkungan Peradilan Umum dan Peradilan Agama. S. 1. oleh peraturan perundang-undangan. dan (2) yang berlaku di lingkungan Peradilan Umum. Peraturan perundang-undangan yang menjadi inti Hukum Acara Perdata Peradilan Umum. 7 tahun 1989. Rsv (Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering) yang zaman jajahan Belanda dahulu berlaku untuk Raad van Justitie. tentang Peradilan Umum.A. mempergunakan Acara yang terserak-serak dalam berbagai peraturan perundang-undangan. adalah sebagai berikut. UU No. 3. 9 tahun 1975. Rasyid. maka Hukum Acara Peradilan Agama menjadi konkret. BW (Burgerlijke Wetboek) atau disebut juga Kitab Undang-undang Hukum Perdata Eropa. UU No. 7 tahun1989.H. RBg (Rechts Reglement Buitengewesten) atau disebut juga Reglemen untuk Daerah Seberang. Hukum Acara Peradilan Agama sekarang bersumber (garis besar) kepada dua aturan. H. antara lain. Namun Kini. Untuk melaksanakan tugas pokoknya (menerima. yang mulai berlaku sejak tanggal diundangkan (29 Desember 1989). bahkan juga Acara dalam hukum tidak tertulis (maksudnya hukum formal Islam yang belum diwujudkan dalam bentuk peraturan perundang- undangan Negara Indonesia). untuk mewujudkan hukum material Islam dalam batas-batas kekuasaannya. UU No. 2. tentang Perkawinan dan Pelaksanaannya. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam undang-undang ini. Acara Peradilan Agama (Dr..

tampaklah kini bahwa ber-acara di muka peradilan agama tidaklah semudah seperti diperkirakan oleh sementara orang bahkan mungkin lebih sulit dari ber-acara di muka peradilan umum. Selain dari itu orang juga harus memahami bagaimana cara mewujudklan hukum material islam melalui hukum proses islam. (2) kapan saksi itu boleh diterima kalau lelaki semua dan empat orang puola bahkan harus beragama islam. Acara Peradilan Agama (Dr. dan lain sebagainya. 7 tahun 1989 sebagai ketentuan khusus. Rasyid. (4) kapan boleh kesaksian satu sakti ditambah sumpah penggugat. (3) dewasa. HIR/RBg Alat bukti saksi bagi peradilan umum. C. (2) petugas pengadilan itu sendiri seperti hakim dan panitera. (5) dua orang atau lebih satu orang tetapi ada alat bukti lain di sampingnya. (3) kapan saksi itu boleh digantikan dengan bersumpah lima kali. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk.A. termasuk pemegang kuasa. M. (2) tidak deauditu. Alat bukti saksi misalnya. ia tidak diatur dalam UU No. 7 tahun 1989 dan itu berarti harus berpedoman kepada alat bukti saksi yang diatur dalam hukum acara perdata peradilan umum. umumnya sudah dipandang memadai kalau saksi itu : (1) tidak dipaksa. Patut ditambahkan bahwa kata “ber-Acara” di sini maksudnya adalah menyangkut: (1) pihak-pihak yang berperkara. mereka-mereka ini tentunya harus benar-benar memiliki keterampilan khusus.H. Selanjutnya orang harus memahami dan mengerti pula terhadap aturan- aturan hukum acara perdata yang digunakan di muka peradilan umum sebagai ketentuan umumnya. Dalam hukum proses islam banyak lagi persoalannya. (6) kesaksian diberikan di bawah sumpah. misalnya : (1) apakah saksi mesti beragama islam atau tidak atau dalam keadaan bagaimana yang diperkenankan non islam. Roihan A. H. S. cq. pengacara. padahal mempelajari hukum acara peradilan umum saja sudah merupakan suatu hal yang tidak mudah. Lembaga Bantuan Hukum dan sebagainya.. Untuk ber-acara di muka peradilan agama orang harus memahami secara benar dan baik hukum acara yang termuat dalam UU No. Kesulitan Beracara di Muka Peradilan Agama Dari uraian tentang sumber hukum acara peradilan agama terdahulu.) Page 10 . (4) tidak ada hubungan keluarga atau semenda yang dekat atau hubungan atasan dan bawahan dalam kerja. advokat.

biasanya menyangkut dua hal. yaitu tentang “kekuasaan relative” dan “kuasaan absolute”. sama-sama lingkungan Peradilan Umum dan sama-sama pengadilan tingkat pertama. Pengadilan Negeri Magelang dan Pengadilan Negeri Purworejo satu jenis. sekaligus dibicarakan pula di dalamnya tentang tempat mengajukan gugatan/permohonan serta jenis perkara yang menjadi kekuasaan pengadilan. dalam perbedaannya dengan kekuasaan pengadilan yang sama jenis dan sama tingkatan lainnya. Roihan A. dalam hal ini meliputi satu kotamadya atau satu kabupaten. S. Rasyid. Pasal 4 ayat (1) UU No. contoh. 7 tahun 1989 berbunyi: Pengadilan Agama berkedudukan di kotamadya atau di ibu kota kabupaten. Acara Peradilan Agama (Dr. yang kadang-kadang diterjemahkan juga dengan “kewenangan”. Tiap-tiap Pengadilan Agama mempunyai wilayah hukum tertentu atau dikatakan mempunyai “yurisdiksi relatif” tertentu. dan daerah hukumnya meliputi wilayah kotamadya atau kabupaten Pada penjelasan Pasal 4 ayat (1) berbunyi: Pada dasarnya tempat kedudukan Pengadilan Agama ada di kotamadya atau di ibu kota kabupaten.H. yaitu sama-sama lingkungan Peradilan Agama dan satu tingkatan. atau dalam keadaan tertentu sebagai pengecualian. di kabupaten Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. tetapi tidak tertutup kemungkinan adanya pengecualian. yang daerah hukummnya meliputi wilayah kotamadya atau kabupaten. TIGA Kekuasaan Peradilan Agama Kata “kekuasaan” di sini sering disebut juga dengan “kompetensi”. yang berasal dari bahasa Belanda Competentie. H. A.) Page 11 . antara Pengadilan Agama Muara Enim dengan Pengadilan Agama Baturaja. misalnya antara Pengadilan Negeri Magelang dengan Pengadilan Negeri Purworejo. Pengadilan Agama Muara Enim dan Pengadilan Agama Baturaja satu jenis. Berbicara tentang kekuasaan peradilan dalam kaitannya dengan hukum acara perdata. sehingga ketiga kata tersebut dianggap semakna. sama-sama tingkat pertama. M. Kekuasaan Relatif Kekuasaan relatif diartikan sebagai kekuasaan pengadilan yang satu jenis dan satu tingkatan..A. mungkin lebih atau mungkin kurang.

Banding dari Peradilan Agama diajukan ke Pengadilan Tinggi Agama.H. S. M.) Page 12 . karena kondisi transportasi sulit. Susunan dan kekuasaan badan-badan kehakiman diatur dengan undang-undang. dalam perbedaannya dengan jenis perkara atau jenis pengadilan atau tingkatan pengadilan lainnya. Acara Peradilan Agama (Dr. Riau Kepulauan terdapat empat buah Pengadilan Agama. kukuasaan absolut tersebut sering disingkat dengan kata “kekuasaan” saja. (UU No. (UUD 1945 Pasal 24) Susunan kekuasaan serta Acara dari badan-badan peradilan tersebut dalam Pasal 10 ayat (1) diatur dalam undang-undang. Kekuasaan Absolut Kekuasaan absolute artinya kekuasaan pengadilan yang berhubungan dengan jenis perkara atau jenis pengadilan atau tingkatan pengadilan. Dala berbagai peraturan perundang-undangan. Rasyid. 14 tahun 1970. Terhadap kekuasaan absolut ini. tidak boleh diajukan ke Pengadilan Tinggi. misalnya: Pengadilan Agama berkuasa atas perkara perkawinan bagi mereka yang beragama Islam sedangkan bagi yang selain Islam menjadi kekuasaan Peradilan Umum. Roihan A.A. Jika pengadilan agama menerimanya juga maka pihak tergugat dapat mengajukan keberatan yang disebut “eksepsi absolut’ dan jenis eksepsi ini boleh diajukan kapan saja. tidak boleh langsung berperkara di Pengadilan Tinggi Agama atau Mahkamah Agung. Pengadilan Agama diharuskan untuk meneliti perkara yang diajukan kepadanya apakah termasuk kekuasaan absolutnya atau bukan. Pengadilan Agama dilarang menerimanya. H. malahan sampai di tingkat banding atau di tingkat kasasi. Pengadilan Agama lah yang berkuasa memeriksa dan mengadili perkara dalam tingkat pertama. misalnya: Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undang-undang. Jenis Perkara yang Menjadi Kekuasaan Peradilan Agama Kata “kekuasaan” di sini maksudnya kekuasaan absolut. C.. Jika jelas-jelas tidak termasuk kekuasaan absolutnya. B. Pasal 12) Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk.

H. dan menyelesaikan perkara-perara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang: a. Perkara Wakaf dan Shadaqah diatur dengan PP No.. b. dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut. (2) Bidang perkawinan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a. wasiat dan hibah. Kekuasaan absolut Peradilan Agama disebutkan dalam Pasal 49 dan 50 UU No. penentuan mengenai harta peninggalan. Roihan A. yang dilakukan berdasarkan hukum islam. a. S. (3) Bidang kewarisan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) huruf b. maka khusus mengenai objek yang menjadi sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan umum. M. 7 tahun 1989. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Penjelasan Pasal 50 Penyelesaian terhadap objek yang menjadi sengketa dimaksud tidak berarti menghentikan proses peradilan di Pengadilan Agama atas objek yang tidak menjadi sengketa itu. memutus. b. 28 tahun 1977. Wasiat dan Hibah diatur pada Pasal 49 ayat (1) UU No. penentuan bagian masing-masing ahli waris. H. Rasyid.A. Ganjalan Terhadap Kekuasaan Peradilan Agama Ada tiga hal yang perlu dikemukakan. Tiga hal tersebut sebagai berikut. Kewarisan. Acara Peradilan Agama (Dr. Perkara Perkawinan diatur dalam UU No.) Page 13 . yang kemungkinan akan menjadi ganjalan dalam pelaksanaan kekuasaan Peradilan Agama. 7 tahun 1989. Pasal 50 Dalam hal terjadi sengketa mengenai hak milik atau keperdataan lain dalam perkara-perkara sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 49. c. c. ialah hal-hal yang diatur dalam atau berdasarkan undang-undang mengenai perkawinan yang berlaku. 7 tahun 1989. D. Wakaf dan shadaqah. Penentuan Mengenai Harta Peninggalan disebut dalam Pasal 49 ayat (3) UU No. yang berbunyi: Pasal 49 (1) Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa. LN 1977-38. ialah penentuan siapa-siapa yang menjadi ahli waris. Perkawinan. Perkara Kewarisan. 1 tahun 1974.

maka khusus mengenai objek yang menjadi sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. maka pengadilan menunda terlebih dahulu perkara harta bersama tersebut sampai ada putusan pengadilan dalam lingkungan peradilan umum yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap tentang hal itu. Acara Peradilan Agama (Dr. penentuan bagian masing-masing ahli waris. S. 7 tahun 1989 Pasal 86 ayat (2) UU No. 7 tahun 1989. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. 1. Rasyid. Sehubungan dengan hal tersebut. Pasal 12 PP No. Pasal 12 berbunyi: Penyelesaian perselisihan sepanjang yang menyangkut persoalan perawakafan tanah. dan pelaksanaan pembagian harta peninggalan tersebut. mengatakan. 28 tahun 1977 Pasal 12 PP No..H. Pasal 50 UU No. Penjelasan pasal tersebut berbunyi: Penyelesaian terhadap objek yang menjadi sengketa dimaksud tidak berarti menghentikan proses peradilan di pengadilan agama atas objek yang tidak menjadi sengketa. 7 tahun 1989. 7 tahun 1989 berbunyi: Dalam hal terjadi sengketa mengenai hak milik atau keperdataan lain dalam perkara-perkara sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 49. bilamana pewarisan tersebut dilakukan berdasarkan hukum islam. 28 tahun 1977 adalah tentang Perwakafan tanah milik. Penjelasan Umum UU No. angka 2 Penjelasan Umum UU No. Roihan A. 4. 3.) Page 14 . 2.A. para pihak sebelum berperkara dapat mempertimbangkan untuk memilih hukum apa yang akan dipergunakan dalam pembagian warisan. disalurkan melalui pengadilan agama setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 86 ayat (2) UU No. Bidang kewarisan adalah mengenai penentuan siapa-siapa yang menjadi ahli waris. H. angka 2. M. 7 tahun 1989 Pasal 50 UU No. berbunyi: Jika ada tuntutan pihak ketiga. 7 tahun 1989. penentuan harta peninggalan.

mempergunakan hukum acara perdata peradilan umum. Rasyid. A. ternyata semua gugatan/permohonan perkara diajukan ke tempat Rasulullah Saw. 9 tahun 1975. Jadi. S.. 7 tahun 1989 sebagi aturan khusus (lex specialis) ditambah dengan Hukum Acara yang berlaku di lingkungan Peradilan Umum sebagi aturan umum (lex generalis) bagi hal-hal yang tidak ditemukan dalam UU No. asal mula tempat mengajukan gugatan/permohonan adalah ke pengadilan yang mewilayahi tempat tinggal pihak penggugat/pemohon. Berpegang kepada aturan tempat mengajukan gugatan/permohonan yang dimuat dalam UU No. Acara Peradilan Agama (Dr. Ataupun dari sejarah Peradilan Islam di masa Khalifah Empat/masa Sahabat. tempat duduk tergugat di muka siding selalu di sebelah kanan dari penggugat sedangkan penggugat di sebelah kirinya. H. 7 tahun 1989 hanya terbatas bagi perkara perkawinan cerai talak dan cerai karena gugatan. Atau kepada khalifah.H. EMPAT Tempat Mengajukan Gugatan/ Permohonan Peradilan Agama sebagaimana sudah dijelaskan terdahulu. adalah Peradilan Islam di Indonesia. 7 tahun 1989 Pasal 54 mengatakan bahwa hukum acara peradilan agama selain daripada yang dimuat dalam UU tersebut. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk.) Page 15 . B.. Hukum Acara yang dipergunakan adalah yang termuat dalam UU No. 1 tahun 1974 dan PP No. 7 tahun 1989. Pengaturan tempat mengajukan gugatan/pemohonan yang dimuat dalam UU No. Mungkin atas dasar menurut kode etik siding. M. Tempat Mengajukan Gugatan/Permohonan di Muka Pengadilan Agama Bagi Perkara Perkawinan UU No. Tempat Mengajukan Gugatan/Permohonan di Zaman Rasulullah dan Khalifah Empat Dari berbagai hadis dan sejarah Rasulullah Saw.A. diam atau ke tempat Qadi yang ditunjuk oleh beliau yang terdekat letaknya dengan kediaman penggugat/pemohon. walaupun pada ketika itu belum ada gedung pengadilan tersendiri. Roihan A.

atauke Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. 6. Acara Peradilan Agama (Dr. gugatan perceraian diajukan oleh penggugat ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tempay kediaman tergugat. Permohonan untuk beristeri lebih dari seorang diajukan oleh pemohon (suami yang bersangkutan) ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat kediaman suami (pemohon). Tempat mengajukan gugatan/permohonan dalam perkara perkawinan sebagai berikut. Pencegahan perkawinan terhadap rencana perkawinan karena tidak memenuhi syarat-syarat perkawinan atau karena alas an hukum lainnya. 8. S. diajukan oleh suami (pemohon) ke Peradilan Agama yang mewilayahi tempat kediaman isteri (termohon). H.) Page 16 . nafkah isteri dan harta bersama dapat diajukan bersama-sama dengan permohonan cerai talak ataupun sesudah ikrar talak diucapkan. Rasyid. dan atau bila penggugat bertempat kediaman di luar negeri. 1. (2) untuk perkara perkawinan selain (1) berpedoman kepada UU No. 9 tahun 1975. M. 2. nafkah anak.H. Bagi calon mempelai wanita yang mau kawin mendahului dari umu 16 tahun atau bagi calon mempelai pria yang mau kawin mendahului dari umur 19 tahun. Gugatan pembatalan perkawinan diajukan ke Pengadilan Agama yang mewilayahi di mana perkawinan itu dahulunya dilangsungkan. 7 tahun 1989. 4. diajukan ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat kediaman tersebut. Bila penggugat dengan sengaja meninggalkan tempat kediaman bersama tanpat izin tergugat (suami). Roihan A. maka untuk mendapatkan dispensasi kawin. ia mengajukan permohonan ke Pengadilan Agama yang ditunjuk oleh orang tua masing-masing. Calon mempelai yang ditolak untuk melangsungkan perkawinannya oleh PPN (Pegawai Pencatat Nikah) karena menurut PPN tidak boleh. 7. 5. 1 tahun1974 dan PP No. Pasal 66 ayat (5) menyebutkan bahwa permohonan soal penguasaan anak. Tegasnya: (1) Untuk perkara perkawinan tentang cerai talak dan cerai karena gugatan berpedoman kepada UU No. Permohonan suami untuk menceraikan isterinya dengan cerai talak. diajukan permohonannya ke Pengadilan Agama dalam daerah hukum dimana perkawinan akan di langsungkan.. Izin kawin sebagai pengganti izin orang tua/wali/keluarga bagi calon memperlai (lelaki atau perempuan) yang belum berusia 21 tahun dan tidak telah pernah kawin sebelumnya.A. Gugatan perceraian diajukan oleh si isteri (penggugat) atau kuasanya ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat kediaman isteri (penggugat). (3) untuk perkara selain (1) dan (2) berpedoman kepada Acara Perdata Peradilan Negeri. 3. sedangkan menurut calon boleh diajukan oleh si calon ke Pengadilan Agama yang mewilayahi PPN tersebut.

1. Kalau penggugat dan tergugat telah memilih tempat berperkara dengan akta secara tertulis.. atau ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat kediaman salah seorang dari suami isteri tersebut. diajukan ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat nyatanya tergugat berdiam (berada).) Page 17 . 6. 2. diajukan ke Pengadilan Agama yang telah dipilih itu.A. Dalam hal ini. Jika tergugat tidak dikenal atau tidak mempunyai tempat tinggal atau tempat tinggalnya tidak dikenal. Acara Peradilan Agama (Dr. Asas umumnya diajukan ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal tergugat. 4. 9 tahun 1975. tidak tinggal dalam suatu wilayah Pengadilan Agama. S. 1 tahun 1974 jo. Sebagian ditemui aturan tempat mengajukan gugatan/permohonan dalam perkara perkawinan. C. maka dilihatlah kepada pokok perkaranya. yaitu sebagai berikut. Pegadilan Agama yang mewilayahi suami-isteri yang bersangkutan. Jika gugatan mengenai benda tetap (onroerende goederen). di dalam UU No. diajukann ke Pengadilan Agama yang mewilayahi salah satu dari tempat tinggal tergugat menurut yag=ng dipilih oleh penggugat. Kalau tempat tinggal tergugat tidak diketahui. untuk mana berlakulah ketentuan seperti telah disebutkan di butir 2. 7.H. Gugatan gabungan (kumulasi objektif). PP No. M. 9. H. pokok perkaranya adalah gugatan cerai. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. di muka. Jika tergugat-tergugat satu sama lain sebagai perutang pertama dan penanggung. Rasyid. Tempat Mengajukan Gugatan/Permohonan Dalam Perkara Selain Perkara Perkawinan Tempat mengajukan gugatan/permohonan dalam perkara selain perkara selain perkara perkawinan sama dengan tempat mengajukan gugatan/permohonan menurut Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri. 5. diajukan ke Pengadilan Agama tempat tinggal si perutang pertama. diajukan ke Pengadilan Agama temoat tinggal penggugat atau salah satu dari penggugat. misalnya gugatan cerai yang disertai dengan gugatan mengenai akibat dari perceraian tersebut. 3. di ajukan ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat benda tetap itu. 7 tahun 1989 dan sebagian lagi ditemui dalam UU No. Roihan A. Jika tergugat lebih dari seorang.

itupun hal pribadinya. LIMA Gugatan dan Permohonan A. M. baik sebelum perkaranya terdaftar di pengadilan ataupun sesudahnya. Apakah seorang mau menggugat atau tidak. Pihak-pihak 1.H. sedangkan Hukum Acara Perdata adalah mengatur tentang cara mewujudkan/mempertahankan Hukum Perdata itu. Roihan A. pula bukan merupakan syarat untuk suatu gugatan/permohonan. sebagaimana juga di muka Pengadilan Negeri. Adapun penggugat/pemohon umpamanya memerlukan berkonsultasi dengan advokat atau badan penasihat perkawinan dan penyelesaian perceraian (BP4) dan lain sebagainya. Penggugat dan Tergugat Penggugat ialah orang yang menuntut hak perdatanya ke muka Pengadilan perdata. tidak bisa dipaksakan supaya ia menggugat. hal di samping mungkin akan memperlambat proses. S. sekalipun seseorang diperkosa haknya oleh oranglain. Rasyid. sekalipun ada haknya yang diperkosa oleh orang lain. sepenuhnya terserah kepada orang itu sendiri. B.) Page 18 .A. Sebaliknya. Acara Peradilan Agama (Dr. sekalipun tidak ada hak perdata nya yang diperkosa oleh seseorang tetapi ia secara mau coba- coba menggugat nekad. yang sama sekali tidak ada sangkut paunya dengan siapa pun. sebab yang demikian itu adalah hak Prive (Pribadi) nya sendiri. 2. tidak memerlukan surat pengantar/legalisasi seperti dari Lurah/Kepala Desa/BP4/Kantor urusan Agama Kecamatan/Kantor Camat dan lain sebagainya. Gugatan/Permohonan Sebagai Hak Prive Hukum Perdata sebagaimana dimaklumi adalah mengatur tentang hak dan kewajiban antara seseorang dengan pihak lain. juga tidak bisa dilarang. Itu berarti. Pemohon dan Termohon Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk.. bukan keharusan. H. Surat gugatan/permohonan di muka Pengadilan Agama. Penggugat ini disebut eiser (Belanda) atau al-mudda’y (arab). juga bertentangan dengan asas hak perdata sebagai hak prive. kalau ia diam saja tidak mau menggugat.

A. termohon tidak imperative hadir di depan sidang seperti halnya tergugat.  Pasal 38 PP No..) Page 19 . Kuasa Khusus dan Penasihat Hukum Tentang kuasa khusus dan penasihat hukum dimaksudkan dalam uraian di sini karena menyangkut langsung pihak-pihak yang berperkara. H. 7 tahun 1989 tentang pemohonan cerai talak. baginya sama sekali tidak ada lawan (tidak berperkara dengan orang lain). bukanlah sebagai pihak tetapi hanya perlu dihadirkan di depan siding untuk didengar keterangannya untuk kepentingan pemeriksaan. Seorang pihak boleh memberikan kuasa kepada beberapa orang pemegang kuasa. 9 tahun1975 tentang permohonan pembatalan perkawinan. Penggugat/pemohon dan tergugat/termohon sama-sama membubuhkan tanda tangannya di atas surat gugatan/surat permohonan dan surat jawaban gugatan/jawaban permohonan.H.  UU No. Diterakan dalam surat gugat/surat permohonan atau dalam jawaban gugatan/jawaban permohonan langsung. Termohon sebenarnya dalam arti “asli”. Di samping peradilan dalam arti sesungguhnya (jurisdictio contentiosa). M. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. karena termohon mempunyai hubungan hukum langsung dengan pemohon. artinya sekalipun termohon tidak hadir. 1 tahun 1974 dan PP No. yaitu. Jadi dalam arti asli. Orang yang memohon di situ disebut dengan istilah “pemohon” atau introductief request (Belanda). Pemberian kuasa khusus dapat di tempuh tiga cara. Itu berarti bahwa istilah penasihat hukum tidak akan diketemukan di muka Peradilan Agama yang perdata itu dan istilah kuasa khusus tidak akan diketemukan di muka pengadilan Pidana. Istilah kuasa khusus selalu dikaitkan dengan perkara pidana. a. Roihan A. bilamana permohonan cukup beralasan (terbukti) maka permohonannya akan dikabulkan dan kalau tidak terbukti ditolak. 3. Rasyid.  Pasal 65-72 UU No. atau al-mudda’y (Arab).  Pasal 40 PP No. 9 1975 tentang permohonan untuk beristeri lebih dari seorang. S. juga boleh beberapa orang pihak memberikan kuasa kepada seorang pemegang kuasa. ada kemungkinan seseorang memohon kepada pengadilan untuk minta ditetapkan atau mohon ditegaskan sesuatu hak bagi dirinya atau tentang sesuatu situasi hukum tertentu. 9 tahun 1975 menyebutkan “permohonan” oleh “pemohon”. Acara Peradilan Agama (Dr.

Dengan cara membuat surat kuasa khusus tersendiri. sehingga dalam keadaan seperti ini. M. Tetapi sebagaimana diketahui bahwa di muka pengadilan agama ada perkara yang sepertinya voluntaria tetapi kenyataannya adalah contentiosa. 2.” 3. lain dengan surat gugatan. kata gugatan/permohonan hanya dipakai dalam kaitan acara perdata.H. Roihan A. Rasyid. yaitu sebagai berikut. dilakukan di muka pejabat yang berwenang. Bentuk dan Isi Gugatan/Permohonan Gugatan/permohonan dalam bahasa hukum islam disebut ad da’wa. Surat gugatan Bentuk dan isi surat gugatan secara garis besarnya terdiri dari tiga komponen. namun bentuknya seperti bentuk gugatan. biasa disebut bagian “posita” (jamak) atau “positum” (tunggal). Kata da’wa ini rupanya dipergunakan pula sebagai tuntutan pidana. Identitas pihak-pihak b. Dengan dikemukakan langsung secara lisan oleh penggugat/pemohon.) Page 20 . C. H.. a. b. Dalam tata hukum Indonesia. Gugatan/Permohonan Lisan Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Acara Peradilan Agama (Dr. S. Isi tuntutan yang biasa disebut bagian “petita” (jamak) atau “petitum” (tunggal). lagi pula dibedakan maksud dan artinya. 1. kalimat “duduk perkaranya”. Dapat diketahui. Secara nyata perbedaan inti antara surat gugatan dan surat permohonan bahwa pada surat permohonan tidak dijumpai kalimat “berlawanan dengan”. c. di muka sidang. tergugat/termohon pemberi kuasa. Fakta-fakta atau hubungan hukum yang terjadi antara kedua belah pihak. da’wa perdata atau da’wa pidana tergantung dengan konteks kalimat.A. c. walaupun namanya permohonan. yang paling tepat adalah di muka kepaiteraan penadilan atau notaris. dan kalimat “permintaan membayar biaya perkara kepada pihak lawan. Surat permohonan Prinsip dalam surat permohonan adalah tidak mempunyai lawan.

) Page 21 . Gugatan atau permohonan pada prinsipnya harus dibuat tertulis oleh penggugat atau oleh pemohon atau oleh kuasa sahnya. Acara Peradilan Agama (Dr.A. jadi tergantung kepada macam atau sifat dari perkara itu an sich. atau dalam hal buta huruf. Contohnya sebagai berikut. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. S. Kalau diajujan secara lisan maka panitera atas nama Ketua Pengadilan agama membuat catatan yang diterangkan oleh penggugat atau pemohon kepadanya. M. ada syarat kelengkapan umum dan ada syarat kelengkapan khusus. sudah merupakan syarat untuk pemeriksaan bahkan mungkin untuk syarat pembuktian perkara. sebab syarat-syarat kelengkapan selainnya. catatan gugat atau catatan permohonan. 1. apabila tiga hal di aras sudah dipenuhi. Surat gugatan atau permohonan tertulis. c. Tapi kalau pemohon/penggugat tidak bisa menulis (maksudnya buta huruf) maka gugatan atau permohonan boleh diajukan secara lisan. Menurut prinsip hukum acara perdata. H. Syarat Kelengkapan Umum Syarat kelengkapan umum (minimal) untuk dapat diterima didaftarkannya suatu perkara di pengadilan ialah sebagai berikut. pengadilan secara formal tidak boleh menolak untuk menerima pendaftaran perkaranya. Roihan A. 2. Vorschot biaya perkara. yang disebut “catatan gugat atau catatan permohonan”. kecuali bagi yang miskin dapat membawa surat keterangan miskin dari lurah/kepada desa yang disahkan sekurang-kurangnya oleh camat. D. Surat keterangan kependudukan/tempat tinggal/domisili bagi penggugat atau pemohon. Kelengkapan Gugatan/Permohonan Sekalipun surat gugatan atau permohonan sudah dibuat tetapi untuk mendaftarkan di pengadilan agama tentunya harus diperlengkapi dengan syarat-syarat lainnya.H. b. Syarat Kelengkapan Khusus Syarat kelengkapan khusus ini tidaklah sama untuk semua kasus perkara. Rasyid. a.. Syarat kelengkapan gugatan atau permohonan.

Materai Surat Gugatan/Permohonan Menurut aturan lama sebagaimana disebutkan dalam: (1) Pasal 7 m dari ordonantie stbl. Acara Peradilan Agama (Dr. H. Mereka yang mau kawin lebih dari seorang (selain ABRI. 1937-116 dan 610. atau jika mau bercerai. Oleh mahkamah agung dengan surat edara No.. gutatan nafkah isteri dan sebagainya. Bagi anggota ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dan kepolisan yang mau kawin atau mau bercerai harus melampirkan izin komandan. 3.) Page 22 . Rasyid. yang menurut PP No. e. seperti daftar gajinya atau harta yang dijadikan usahanya dalam mencari nafkah atau penghasilan-penghasilan lainnya. 3. maka syarat tersebut di b.A. f. Seperti perkara gugatan nafkah iddah. Surat pernyataan dari suami bahwa ia sanggup berlaku adil terhadap isteri atau isteri-isterinya dan anak-anaknya. Khusus bagi pegawai negeri sipil yang mengajukan permohonan ke pengadilan untuk bercerai atau untuk kawin lebih dari seorang. Dan lain-lain sebagainya. yang di sebut model “Tra. 5 tahun 1984 tanggal 17 April 1984. Stbl. diberikan petunjuk bahwa kepada pemohon diberikan kesempatan untuk menyampaikan izin pejabat yang berwenang tersebut dalam waktu 6 (enam) bulan sejak perkara terdaftar di pengadilan. 1. Untuk keperluan tersebut di b. Mereka yang hendak bercerai harus melampirkan surat keterangan untuk bercerai dari kelurahan/kepala desa masing-masing. Kepolisian dan pegawai negeri sipil).H.” g. Gugatan waris harus disertakan surat keterangan kematian pewaris. Surat persetujuan tertulis dari isterinya yang telah ada 2. d. Surat keterangan tentang penghasilan suami. Roihan A. Materai dan Rangkap Surat Gugatan/Permohonan a. harus ditambah lagi dengan adanya izin dari pejabat yang berwena ng (atasannya). permohonan untuk menceraikan isteri dengan cerai talak. harus melampirkan. seperti perkara gugatan cerai. b. untuk bukti bahwa suami tersebut mampu beristeri lebih dari seorang. 1882-152 jis. 10 tahun 1983. M. kalau suami itu pegawai negeri sipil. Perkara-perkara perkawinan harus melampirkan kutipan akta nikah. di atas. S. a. Perkara-perkara yang berkenaan dengan akibat perceraian harus melampirkan kutipan akta cerai. c. gugatan tentang mut’ah (pemberian dari suami kepada bekas isteri yang diceraikan berhubung kehendak bercerai datangnya suami) dan lain sebagainya. (2) Pasal 19 dari Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. harus melampirkan izin dari pejabat yang berwenang (atasannya).

Roihan A. atau untuk keperluan peninjauan kembali (jika terjadi peninjauan kembali). wajib bayar per lembarnya sebesar harga materai per lembar surat aslinya. pada prinsipnya cukup satu rangkap saja. tersebut di (3) untuk daerah-daerah Indonesia lain-lainnya. atau untuk keperluan banding (kalau ada banding). H. Adapun untuk dilampirkan pada surat panggilan kepada tergugat atau termohon. M. surat permohonan tentang perselisihan kekuasaan mengadili serta keputusan-keputusannya. LN 1985-69. S. karenanya oleh pengadilan biasa dimintakan untuk beberapa rangkap. Sekarang.A. b. adalah tugas pengadilan yang bersangkutan untuk menyalinnya sesuai dengan kebutuhan. maka perlu di tempuh sebagai berikut: Photocopy sebanyak yang diperlukan. semua aturan materai seperti yang diatur dalam UU No. sudah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku oleh UU No. satu rangkap untuk dilampirkan pada surat panggilan kepada setiap tergugat. LN 1969-38. atau untuk keperluan kasasi (kalau ada kasasi). terakhir dengan UU No. tiga rangkap untuk cadangan kalau nantinya terjadi banding. Akan tetapi dalam praktik. salinan-salinan putusan/penetapan. Untuk menjamin sah bermaterai cukup dan swah legalisasi. menjadi berlaku untuk peradilan agama. Kagunaannya iaalah..H. Rangkap Surat Gugatan/Permohonan Surat gugatan atau permohonan. Rasyid. 1965.) Page 23 . lalu mintakan legalisasi di kepaniteraan pengadilan. 1937-638 dan 639. (3) Pasal 11 ayat (2) dari PP No. LN 1965-21 yang telah ditetapkan menjadi UU dengan UU No. misalnya 5 rangkap (kalau tergugatnya 1 orang). ordonantie tersebut di (1) yaitu untuk peradilan agama di pulau Jawa-Madura. 45 tahun 1957. 6 rangkap (kalau tergugatnya 2 orang) dan seterusnya. 13 tahun 1985. yang telah berkali-kali diubah. tentang bea materai. Untuk nachtsegelen ini. yang menggantikan Zegelverordening tahun 1921. semua surat-surat perkara yang semata-mata untuk pemeriksaan perkara di muka Peradilan Agama tingkat pertama maupun tingkat banding. 7 tahun 1969. 2 Prp. dibebaskan dari materai. 7 tahun 1989. surat-surat untuk menjalankan keputusan. Tetapi. hal serupa itu sering melambatkan proses. ordonantie stbl. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. bawa lampiran tersebut ke kantor pos untuk minta si “nachtsegelen” kan oleh kantor pos tiap-tiap lembarnya. tersebut di (2) yaitu untuk peradilan agama di sebagian daerah Kalimantan-Selatan dan Timur. Acara Peradilan Agama (Dr.

Mengajukan gugatan reconventie selambatnya bersama dengan jawaban pertama dari tergugat conventie. Di muka pengadilan tingkat pertama tidak mengajukan reconventie maka di tingkat banding dan kasasi tidak boleh mengajukan gugatan reconventie. Patut diingatkan bahwa gugat balik hanya berlaku dalam perkara yang terdiri dari dua pihak yang berlawanan.” Gugatan balik (reconventie) ini hanya ditemui dalam hukum acara perdatan peradilan umum yang dimuat dalam Pasal 132 a dan b dari HIR (HIR dibuat dengan stbl. 2. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. 1. Gugatan reconventie sama dengan gugatan conventie.A. Gugatan reconventie harus juga jenis perkara yang menjadi kekuasaan dari pengadilan dalam conventie. Acara Peradilan Agama (Dr. H. berdasarkan analogie (qiyas) kepada pasal 244-247 Reglement Rechtsvordering (Rsv). boleh lisan bagi buta huruf. S.. Roihan A.H. jadi dalam perkara permohonan (voluntaria) penuh. 1941-44). 3.) Page 24 . Rasyid. yaitu hukum acara perdata yang berlaku bagi golongan eropa di Indonesia tempo dulu. E. sehingga tergugat asal (dalam conventie) sekaligus beritindak menjadi penggugat dalam conventie dan dalam reconventie tersebut akan diperiksa dan diputus sekaligus dalam perkara itu juga. Akan tetapi. tidak berlaku reconventie. di lingkungan peradilan umum sudah mempergunakannya sejak tahun 1927. Syarat-syarat dibolehkannya gugatan reconventie adalah sebagai berikut. M. Tergugat dalam conventie (tergugat asal) adakalanya ia akan menggunakan sekaligus dalam kesempatan berperkara itu untuk menggugat kembali kepada penggugat asal (penggugat dalam conventie). mungkin hanya dengan “satu putusan” atau bisa juga dalam “dua putusan. Gugatan Kembali (Reconventie) Gugatan asal tersebut “gugatan dalam conventie”.

Biaya perkara menurut hokum Petita harus diatur urutannya sedemikian rupa karena pengadilan belum akan mengabulkan atau menolak gugatan penggugat sebelum dinyatakan dulu bahwa perkaranya secara formal diterima oleh pengadilan. daftarkanlah di kepaniteraan. Menyatakan sah menurut hukum bahwa ta’liq talaq telah terwujud (telah melanggar oleh tergugat) 4. Memutuskan cerai antara penggugat dan tergugat dengan talaq I bi al ‘iwad Rp 1. Acara Peradilan Agama (Dr. bawa saja semua syarat-syarat kelengkapan itu ke pengadilan agama. M. 5. penelitian sudah dilakukan dan sudah benar maka pengadilan dilarang untuk tidak menerima didaftarkannya perkara tersebut.) Page 25 . bagian posita dan tentang petitanya. atau dalam hal buta huruf. baik kekuasaan relatif maupun kekuasaan absolut. (2) Apakah perkara tersebut termasuk kekuasaan Pengadilan Agama.H. Berikut satu contoh dalam perkara pelanggaran ta’liq-talaq yang petitanya tidak benar: Penggugat mohon kepada Pengadilan Agama untuk: a) Mengabulkan sepenuhnya gugatan penggugat b) Menceraikan penggugat dari tergugat dengan talaq I bi al ‘iwad Rp 1.. Rasyid. Sewaktu kepaniteraan pengadilan agama menerima berkas. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk.A. benar tidak tukar balik mulai dari identitas pihak-pihak.000. surat gugatan atau permohonan itu akan diteliti dan penelitian itu menyangkut dua hal: (1) Apakah surat gugatan atau permohonan itu sudah jelas.(seribu rupiah) karena pelanggaran ta’liq talaq. H. Selanjutnya.(seribu rupiah) karena tergugat melanggar ta’liq talaq c) Mewajibkan kepada tergugat untuk membayar ongkos perkara. Roihan A.. bila syarat kelengkapan umum gugatan atau permohonan sudah dipenuhi. apakah posita sudah terarah sesuai dengan petita sebagainya.. ENAM Pendaftaran Perkara dan Persiapan Sidang A. Pendaftaran Perkara di Pengadilan Sesudah surat gugatan atau permohonan dibuat dan dilampiri dengan syarat-syarat kelengkapan umum atau mungkin sudah sekaligus dilampiri dengan syarat-syarat kelengkapan khusus. Mengabulkan seluruhnya gugatan penggugat 3.000. S. Menerima gugatan penggugat 2. Petita yang benar seharusnya berbunyi sebagai berikut: 1.

sebab panitera sidang hanyalah pembantu untuk kelancaran sidang. Yang mewakilinya di bidang itu disebut Wakil Ketua Pengadilan. Ketentuan dalam ayat (1) tidak menutup kemungkinan untuk usaha penyelesaian perkara perdata secara perdamaian. karena ia sudah merupakan syarat kelengkapan material. terutama bagi mereka yang baru berkenalan dengan pejabat pengadilan. S. dapat ditunjuk oleh ketua majelis.H. Penunjukan Majelis Hakim oleh Ketua Pengadilan Setelah perkara terdaftar di kepaniteraan Penanitera wajib secepatnya menyampaikan berkas perkara itu kepada ketua Pengadilan Agama.) Page 26 . melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya. mungkin pula sekaligus menunjuk panitera sidangnya. dengan surat penetapan. 2. sebagaimana telah di tunjuk dalam pasal 14 UU Nomorn14 Tahun 1970. rasanya baik juga dijelaskan sekaligus sebagai berikut. Rasyid. Penunjukan Majelis Hakim dan Penetapan Hari Sidang 1. jika dalam PMH belum ditunjuk. Untuk tidak membingungkan. Walaupun prinsipnya tidak perlu dengan Surat Penetapan. M. Roihan A. Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili sesuatu perkara yang diajukan dengan dialih bahwa hukum tidak kurang jelas. menurut majelis sebaiknya ada semacam surat tertulis yang dapat menjadi pegangan bagi panitera sidang tersebut. Penetapan PMH memakai nomor kode indeks surat keluar biasa dan isinya menunjuk siapa-siapa hakim yang akan menangani perkara yang dimaksudkan. Atas dasar itu ketua pengadilan Agama dapat menunjuk majelis hakim yang akan memeriksa dan mengadili masalah tersebut. a. Panitera sidang. Acara Peradilan Agama (Dr. yang kira-kira berbunyi “sudah di teliti dan syarat formal cukup”. itu boleh saja dan tidak mesti dengan surat penetapan. disertai “usul tindak” atau “saran tindak”. Ganti atau tukar Panitera Sidang karena suatu hal. yang berbunyi: 1. dapat saja disusulkan kemudian. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk.A. B. siapa hakim ketua dan anggota. H. Biasa disingkat “Ketua” dan “Wakil Ketua” saja. Adapaun syarat kelengkapan khusus. ketika mulai pemeriksaan perkara.. jadi boleh isidental. Ketua pengadilan adalah jabatan structural sebagai Pemimpin Pengadilan. disebut “penunjukan majelis hakim” (model PMH).

Ketua Majelis sidang adalah hakim yang memimpin sidang. Ketua majelis. e. ia dibantu oleh wakil panitera. kepadanya diserahkan berkas-berkas perkara yang bersangkutan dan selanjutnya ia harus membuat penetapan hari sidang (model PHS). b. panitera muda. Berdasarkan PHS. Kalau panitera sidang belum ditunjuk dalam penetapan sidang belum ditunjuk dalam penetapan PMH terdahulu. 7 tahun 1989. Penetapan hari sidang selain “sidang pertama” dapat ditentukan dan dicatat saja dalam Berita Acara Sidang (tidak perlu dengan PHS lagi).A. Nomor kode indeks penetapan adalah nomor agenda surat ke luar biasa. dan panitera pengganti. setelah ia menerima PMH dari ketua pengadilan agama. ia adalah Panitera kepala di pengadilan tersebut. c. Panitera adalah jabatan fungsionalnya dan panitera kepala adalah jabatan strukturalnya. Roihan A. Penetapan Hari Sidang oleh Ketua Majelis Ketua Majelis membuat surat penetapan Hari Sidang (model PHS) untuk menentukan hari sidang pertama akan dimulai. biasa disebut dengan singkat “Panitera” saja. tetapi bisa dan mungkin hakim biasa. Acara Peradilan Agama (Dr. ketua majelis sekaligus menunjuk pula panitera sidangnya. Menurut UU No. Panitera merangkap sekretaris pengadilan. 2. jam dan tempat yang ditunjuk dalam PHS. S. Rasyid. mereka disebut panitera sidang dan bertanggung jawab kepada ketua majelis tetapi di luar sidang bertanggung jawab menurut hierarkis struktur.H. Dalam sidang. M. kapan sidang pertama akan dilangsungkan. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk.) Page 27 . d. Sebagai panitera.. tetapi di dalam sidang mereka bertanggung jawab kepada ketua majelis dan ketua majelis bertanggung jawab kepada ketua pengadilan. juru Sita akan melakukan pemanggilan kepada pihak-pihak yang berperkara untuk menghadiri sidang sesuai dengan hari. Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan belum tentu selalu ikut sidang atau selalu dalam sidang bertindak sebagai Ketua Majelis sidang. Ketua dan Wakil ketua Pengadilan selalu (mesti) hakim dan hakim itu adalah jabatan fungsionalnya. Wakil ketua pengadilan. hakim dan panitera pengadilan bertanggung jawab langsung kepada ketua pengadilan. tanggal. H. Panitera pengadilan selalu tunggal. mungkin ia ketua atau wakil ketua pengadilan.

Panggilan tersebut dilakukan dengan patut dan sudah diterma oleh penggugat atau tergugat atau kuasanya selambat- lambatnya 3 hari sebelum sidang dibuka.A. diatur dalam UU No. Penetapan hari Sidang untuk sidang pertama sangat menentukan sekali. Kita ketahui bila tergugat sudah dipanggil dengan patut pada sidang pertama. Nah. 7 tahun 1989 dan PP No. panggilan disampaikan melalui lurah/ kepala Desa. karenanya ia harus dibuat tersendiri. tidak jelas atau tidak diketahui tempat kediamannya atau tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap. Rasyid. Pengumuman melalui surat kabar atau mass media tersebut dilakukan dua kali dengan tenggang waktu satu bulan antara panggilan pertama Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Pemanggilan Pihak-pihak Pemanggilan pihak-pihak untuk lingkungan Peradilan Agama sekarang ini. Panggilan kepada tergugat dilampiri dengan salinan gugatan. b. Penggugat atau tergugat dalam perkara gugatan cerai akan dipanggil untuk menghadiri sidang. landasan yuridis bolehnya “verstek” dan “digugurkan” dalam hal ini adalah PHS dari ketua majelis tadi. M. Acara Peradilan Agama (Dr. Jika penggugat sudah dipanggil dengan patut. 9 tahun 1975 a. c. Roihan A. Selain dari kedua jenis perkara tersebut tidak diatur. H. C. dan panggila kepada pengugat (isteri) dan tergugat (suami) dalam perkara gugat cerai. 1. Pemanggilan kepada pemohon (suami) dan termohon (isteri) dalam perkara termohonan cerai talak. ia atau kuasa sahnya tidak menghadap ..H. Panggilan disampikan kepada pribadi yang bersangkutan dan apabila tidak dijumpai.) Page 28 . panggilan dilakukan dengan menempelkannya pada Papan Pengumuman resmi Pengadilan Agama ditambah dengan mengumumkan melalui satu atau beberapa surat kabar atau mass media lain. sedangkan surat panggilan sekurang-kurangnya 3 hari sebelum sidang. Apabila tergugat dalam perkara gugat cerai. ia atau kuasa sahnya tidak datang menghadap pada sidang pertama maka perkaranya akan diputus dengan digugurkan. Menurut UU No. sudah diterima oleh pihak yang dipanggil. selambat-lambatnya hari ke-27 sejak perkara terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama. sebab siding pertama untuk perkara-perkara itu selambat-lambatnya 30 hari sejak perkara terdaftar. 7 tahun 1989 juncto PP No. sehingga masih dikaji tersendiri. 9 tahun 1975 tetapi hanya mengenai perkara permohonan cerai talak dan perkara gugatan cerai. perkara permohonan suami untuk beristeri lebih dari seorang. maka ia akan diputus verstek. S.

d. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk.A. Meja sidang ini menurut surat Keputusan Menteri Agama Nomor 2 tahun 1986. 2. Meja Sidang segi empat panjang. panjang meja diperkirakan minimal untuk kursi hakim ditambah dengan prinsip administrasi perkantoran modern. Panggilan kepada pihak yang meninggal dunia. S. Pengadilan Agama dapat memutus dengan verstek. dan panggilan kedua. Perkara digugurkan karena penggugat tidak hadir. Jika setelah itu tergugat atau kuasa sahnya tidak juga hadir. berukuran 150 cm lebar.H. d. D. c. 7 tahun 1989 seperti telah diuraikan terdahulu. tentang pembakuan perlengkapan kerja dilingkungan departemen Agama. Menurut HIR/RBg (Peradilan Umum) Bilamana diperhatikan dengan teliti pasal-pasal di dalam Het Herziene InlandscheReglement (HIR) dan pasal-pasal di dalam RBG (Rechts Reglement Buitengewesten). baik eksepsi relative maupun eksepsi absolut. dan panjang 175 cm. dilakukan melalui Perwakilan Republik Indonesia setempat.) Page 29 . dan antara pangilan kedua dan dengan sidang ditetapkanya sekurang-kurangnya tiga bulan. Rasyid. H. f. tentang pemanggilan pihak-pihak yang belum dicukupi oleh PP No. Acara Peradilan Agama (Dr. Menurut Direktorat pembinaan badan peradilan agama islam. Bolehnya memanggil yang kedua kalinya sebelum diputus dengan verstek atau digugurkan. Roihan A. b. 300 cm Panjang. Tergugat tidak hadir tetapo mempergunakan perlawanan (eksepsi). Tetapi secepat-cepatnya sidang pertama adalah enam bulan sejak perkara terdaftar. e. dalam buku pedoman kerja pengadilan agama islam disebutkan lebar 100 cm. 9 tahun 1975 dan UU No. Panggilan kepada pihak yang tidak dikenal tempat tinggalnya (selain perkara gugatan cerai). adalah tentang: a. Kewajiban mengundurkan sidang bila pada panggilan pertama sebagian tergugat hadir dan sebagian lagi tidak hadir. bertutup kain planel berwarna hijau lumut. M.. ia mempunyai aturan-aturan tertentu sebagai diuraikan dibawah ini. Tata Ruang dan Persiapan Sidang Sebagaimana diketahui bahwa sidang pengadilan berlainan dengan sidang-sidang biasa. Panggilan kepada tergugat dalam perkara gugatan cerai yang tergugatnya berada di Luar Negeri.

Menurut surat edaran mahkamah agung nomor 22 tahun 1969. Ketua ditengah-tengah. susunan majlis sidang perkara perdatamaupun pidana di muka pengadilan umum adalah: panitera sidang paling kiuri. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. di kiri kanannya adalah anggota. Panitera sidang paling kiri. sedangkan panitera adalah antara ketua dan anggota (di sebelah kiri ketua) agak mundur sederet ke belakang. Di lingkungan peradilan agama juga.A. yaitu seperti versi kedua yang di pakai oleh lingkungan peradilan agama kini. Pihak penggugat ditempatkan di sebelah kiri tergugat sedangkan tergugat di sebelah kanannya. 2. anggota yang lebih tua atau lebih muda di sini maksudnya adalah senioritas dalam jabatan hakim. paling kiri sendiri adalah panitera sidang. dapat menerapkan yang sama. LN 1981-76. selanjutnya ke kanan adalah ketua. Di dalam ruang sidang ada kursi/bangku secukupnya untuk pihak- pihak. Di sebelah kanan meja sidang dipasang bendera merah putih dan di sebelah kirinya dipasang lambing pengadilan Agama. anggota yang lebih tua dan anggota yang lebih muda. pemegang kuasa..) Page 30 . peradilan umum perdata juga sudah banyak yang menerapkan susunan majelis hakim menurut acara pidana tersebut. yaitu: ketua ditengah-tengah. memakai meja sendiri. sudah diatur tersendiri. Dalam ruang sidang tidaklah perlu dipasang gambar presiden karena pada saat persigangan hakin hanya tunduk pada Negara saja. Tertempel pada dinding belakang meja adalah lambing Negara garuda. Deretan kursi paling depan adalah untuk pihak yang jaraknya dari meja sidang diperkirakan secukupnya. Tentang hukum acara pidana. jika ruang sidangnya sudah memungkinkan. Rasyid. terus berurutan kekanan adalah ketua. saksi-saksi. kiri kanannya anggota. Susunan kursi hakim di muka sidang pengadilan agama nampaknya belum kontan. Berdasarkan aturan ini. bukan berdasarkan usia. M. pengunjung dan sebagainya. masih memakai dua macam cara: 1. surat edaran ini tidak berlaku lagi karena sidang perkara pidana.H. Roihan A. Untuk perkara pidana. sebagaimana diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 1981. S. (ini kode eti yang baik). Acara Peradilan Agama (Dr. H.

Sanggahan (eksepsi) relatif hanya boleh diajukan pada sidang pertama. Rasyid. Sidang pertama ialah sidang yang ditunjuk/ditetapkan menurut yang tertera dalam penetapan hari sidang (PHS) yang ditetapkan oleh ketua majelis. Jika penggugat atau pemohon sudah dipanggil dengan patut. mempersiapkan dan men-chek segala sesuatunya untuk sidang. B. Tugas ini bukan hanya untuk sidang pertama tetapi berlaku dalam segala persidangan. 1. Acara Peradilan Agama (Dr. Kalau diajukan sesudah itu. misalnya sebagai berikut. Setelah siap.. Oleh karena itu. Sidang Pertama dan Pengertiannya Sidang pertama bagi pengadilan mempunyai arti yang sangat penting dan menentukan dalam beberapa hal. H. supaya tidak salah. sidang pertama harus jelas.A. pada hari. S.H. tanggal dan jam sidang yang telah ditentukan. jika tergugat atau termohon (dalam perkara contentiosa) sudah dipanggil dengan patut. ia atau kuasa sahnya tidak datang menghadap pada sidang pertama. Tugas Panitera Sesaat Sebelum Sidang Panitera sidang. Jalannya Sidang Pertama 1. Gugat balik (reconventie) hanya boleh diajukan pada sidang pertama. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk.) Page 31 . atau dapat juga diartikan sidang yang akan dimulai pertama kali menurut surat panggilan yang disampaikan kepada penggugat/tergugat. ia atau kuasa sahnya tidak datang menghadap pada sidang pertama. ia akan diputus verstek. Selanjutnya majelis hakim memasuki ruang sidang melalui pintu yang khusus untuknya. 3. Begitu majelis hakim memasuki ruang sidang. misalnya dalam 4 hal disebutkan di atas tadi. Roihan A. M. ia akan diputus dengan digugurkan perkaranya. lalu panitera sidang siap menunggu diruang sidang pada tempat duduk yang disediakan baginya dan telah siap memakai baju panitera sidang. penitera mempersilahkan hadirin berdiri dan setelah hakim duduk. TUJUH Pemeriksaan di Muka sidang A. mempersilahkan kembali hadirin untuk duduk. 2. apa maksud atau artinya. dalam keadaan sudah berpakaian toga hakim. tidak akan diperhatikan lagi. panitera melapor kepada ketua majelis. 4.

2. asal tidak mengganggu atau membuat keonaran dalam sidang. H. pemeriksaan permohonan cerai talak dilakukan dalam sidang tertutup.) Page 32 . Ketentuan ini berlaku untuk semua putusan termasuk penetapan.. Ketua Majelis Membuka Sidang Ketua majelis membuka sidang dan sekaligus dinyatakan terbuka untuk umum dengan ketokan palu 1 atau 3 kali. Sidang tertutup dimungkinkan kalau ada ketentuan khusus atau ada alasan khusus yang diajukan oleh pihak atau pihak-pihak yang menurut majelis dikabulkan. kecuali ditentukan lain oleh undang-undang. dus selalu dilakukan dalam sidang tertutup untuk umum. Rasyid. Pasal 18 dari UU tersebut mengatakan bahwa semua putusan pengadilan sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum. sekalipun umpamanya sidang-sidang sebelumnya dilakukan dalam sidang tertutup. berlawanan dengan tergugat .A. Juga pihak- pihak. harkat dan martabat atau kesusilaan dan kehormatan pihak atau pihak-pihak. pemeriksaan perkara gugatan cerai selalu dilakukan dalam sidang tertutup untuk umum. dibuka dengan sama-sama membaca basmalah dan dinyatakan terbuka untuk umum. seperti karena perkaranyatersebut sangat berkaitan langsung dengan nama baik. sehingga mereka sesewaktu dapat menyimak sidang bagi kepentingan pembelaan perkaranya. misal “sidang pengadilan agama . Sidang terbuka untuk umum artinya siapa saja boleh mengikuti/mendengarkanjalannya sidang.. terbuka untuk umum.. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. bagi keperluan perkaranya. Tidak dipenuhinya ketentuan itu menyebabkan putusan batal demi hukum dan ketentuan ini berlaku untuk semua lingkungan peradilan di indonesia. boleh masuk ruang sidang.. M. jika dirasa perlu boleh merekam jalannya sidang dengan tape-recorder. Contoh sidang tertutup atas permintaan pihak atau pihak-pihak yang dikabulkan oleh majelis hakim. Khusus untuk peradilan agama sebagai peradilan islam. Contoh bolehnya sidang tertutup karena ada ketentuan khusus... Roihan A.H. sebaliknya dibuka dengan membaca basmalah. Acara Peradilan Agama (Dr. dalam perkara . S. Menurut UU No 14tahun 1985. LN 1985-73 tentangmahkamah agung.” UU Nomor 14 tahun 1970 pasal 17 (1) mengharuskan semua sidang pemeriksaan perkara dipengadilan.. tidak dipenuhinya kewajiban sidang terbuka untuk umum ini dapat digunakan sebagai salah satu alasan memohon kasasi.. Pasal 68 ayat (2) UU Nomor 7 tahun 1989 menyebut. sidang permusyawaratan majelis hakim bersifat rahasia.. Pasal 33 PP Nomor 9 tahun 1975 menyebut. antara penggugat . pasal 17 ayat (3) UU Nomor 14 tahun 1970 menyebut.

3. dimualai dari penggugat. Roihan A. apakah ada Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Rasyid. apakah tidak ada hubungan keluarga atau hubungan semenda dengan para hakim dan panitera yang sedang menyidangkan perkara. hakim menanyakan kepada para pihak.A. b. panitera sidang atau petugas lain yang ditunjuk.. saksi-saksi atau lain-lain yang bersifat kebijaksanaan umum dalam persidangan selalu oleh ketua majelis. namun menanyakan kembali di depan sidang ini adalah perlu (mutlak). Pertimbangan hakim majelis mengabulkan sidang tertutup harus dengan penetapan sela. sidang akan memperbincangkan sejenak. Ketua Majelis Menanyakan Identitas Pihak-pihak Pertanyaan pertama ketua majelis adalah mana penggugat dan mana tergugat. umur agama. hakim yang baik dan manusiawi. hendaklah selalu berusaha menggugah hati para pihak sehingga mereka tidak merasa gentar yang akhirnya terbukalah tabir persoalan yang sebenarnya. Acara Peradilan Agama (Dr. seterusnya tergugat. sebab penetapan sela di situ tidak mempengaruhi kepada putusan akhir (eind vonnis) Sidang tertutup untuk umum maksudnya ialah bahwa selain daripada yang berkepentingan langsung atau nyang diizinkan oleh majelis hakim. Setelah selesai masalah identitas. penggugat duduk disebelah kiri dari tergugat. sebab ketua majelislah yang bertanggung jawab akan arahanya pemeriksaan/sidang. Menanyakan identitas pihak-pihak di sini sangatlah formal. harus meninggalkan ruang sidang. tempat tinggal terakhir. Lalu dilanjutkan dengan menanyakan identitas pihak-pihak. Sebagaimana sudah disebutkan bahwa menurut etik sidang yang baik. termasuk mik dan speaker (pengeras suara) supaya disingkirkan. pekerjaan.) Page 33 . Perlu dikemukakan dua hal disini: a. apalagi sebagai hakim agama.H. tidak perlu dengan penetapan tersendiri. bin/binti. artinya sekalipun mungkin saja sudah tahu/kenal dengan membaca surat gugatan sebelumnya. Tentu saja diluar harus diawasi oleh petugas pengadilan agar tidak ada yang menguping. tetapi cukup dicantumkan dalam berita acara sidang saja. Kalau dijawab ada. Atas izin ini. S. menanyakan identitas pihak-pihak. H. Selanjutnya. ketua majelis mengizinkan pihak-pihak untuk memasuki ruang sidang. M. alias/julukan/gelar (kalau ada). Sesudah sidang dinyatakan terbuka untuk umum oleh ketua majelis. untuk mengatur tempat duduknya. ketua majelis akan mulai menanyakan identitas pihak-pihak. yang meliputi nama. memanggil pihak- pihak untuk masuk dan duduk pada kursi yang disediakan untuknya.

sebagaimana sudah dikemukakan. tentu saja sidang kali itu akan ditutup. majelis menganjurkan damai dan kalau tidak tercapai. sidang akan dilanjutkan. Akta perdamaian tidak berlaku banding sebab akta perdamaian bukan keputusan pengadilan. Selanjutnya hakim akan menganjurkan damai antar pihak yang berperkara. kewajiban hakim untuk mengundurkan diri sehubungan dengan adanya hubungan itu. Roihan A. sebaiknya dilakukan mendahului dari anjuran damai dan pembacaan surat gugatan selalu oleh penggugat atau oleh kuasa sahnya. ketua majelis melanjutkan dengan menanyakan kepada tergugat. 4. kecuali tentang hal-hal baru diluar itu. akan dilanjutkan di kali yang lain. Bila tidak terjadi perdamaian. kecil sekali kemungkinannya. Di tingkat banding dan di tingkat kasasi lain halnya. Selesai gugatan dibacakan. yang membacakan segala berkas yang perlu itu. sebab bagaimana hakim tahudan bisa menganjurkan damai jika hakim sendiribelum tahu duduk perkaranya. hal itu harus dicantumkan dalam Berita Acara Sidang. Terhadap perkara yang sudah terjadi perdamaian tidak boleh lagi diajukan perkara. tetapi anjuran damai pada permulaan sidang pertama adalah bersifat “mutlak/wajib” dilakukan dan dicantumkan dalam berita acara sidang. S. Begitu pula. Hal ini seperti kurang rasional. apakah ia akan menjawab lisan atau tertulis dan kalau akan menjawab tertulis apakah sudah siap atau memerlukan waktu berapa lama untuk itu. Pembacaan Surat Gugatan Pembacaan surat gugatan ini. karena ada keharusan yang menyatakan demikian. sebelum penggugat membacakan gugatannya.. Kalau terjadi perdamaian maka dibuatkanlah akta perdamaian dimuka pengadilan dan kekuatannya sama dengan putusan. Jawaban pertama. sidang dilanjutkandengan mendengarkan jawaban tersebut. apakah tidak mungkin penggugat mengubah gugatannya. Jika tergugat akan menjawab lisan atau akan menjawab tertulis tetapi sudah siap ditulisnya. sebab pihak tidak hadir lagi dimuka sidang. M.H. Rasyid.) Page 34 . Anjuran damai sebenarnyadapat dilakukan kapan saja sepanjang perkara belum diputus. kecuali kalau penggugat buta huruf atau menyerahkannya kepada panitera sidang. Bila keadaannya sepertiterakhir ini. adalah panitera langsung. Anjuran Damai Menurut HIR.A. H. walaupun mungkin menurut logika. Pernah juga terjadi perdamaian tetapi kebanyakan bukan terjadi dalam sidang pertama. baik lisan ataupun tertulis dari tergugat ini Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. 5. anjuran damai dari hakim sudah dilakukan (dalam sidang pertama) sebelum pembacaan surat gugatan. Acara Peradilan Agama (Dr.

) Page 35 . Itu berarti segala pemeriksaan dalam semua tahap. Penggugat Tidak Hadir (Perkaranya Digugurkan) Konsekuensinya adalah perkara yang diajukan akan digugurkan. Itulah sebabnya pihak-pihak pada prinsipnya harus semua hadir di muka sidang. replik- duplik. C. replik-duplik. 3. mungkin saja sidang pertama itu berlangsung sampai pada tahap pembuktian bahkan mungkin saja sampai pada tahap musyawarah majelis hakim. cukup banyak. kedudukan hakim adalah sebagai penengah di antara pihak yang berperkara.H. Kalau replik-duplik tersebut berlangsung lisan. di antaranya akan diterangkan di bawah ini satu persatu. tidak putar balik. Berdasarkan prinsip ini maka di dalam HIR misalnya. S. Penggugat yang tidak hadir ini disebut dalam kitab Fiqh dengan istilah “almudda’y al gaib” sedangkan putusan digugurkan disebut “al qada’u al masqut. Dikatakan aneh sebab putusan baru boleh diucapkan setidak-tidaknya sudah dalam keadaan terkonsep rapi (walaupun belum diketik) dan penulis merasa bahwa panitera Pengadilan Agama. Pihak-pihak Tidak Hadir di Muka Sidang Dalam perkara perdata. 1. sedangkan jawaban penggugat atas jawaban itu disebut “duplik” (cq. ia perlu memeriksa (mendengarkan) dengan teliti terhadap pihak-pihak yang berselisih itu. sudah ngawur alias tidak relevan. Roihan A. diperkenankan memanggil kedua kali (dalam sidang pertama).A. Rasyid. Begitulah seterusnya. waktu mengizinkan. H. Duplik 1). 2. disebut “replik” (cq. hakim tidak keberatan. Hal-hal yang Mungkin Terjadi dalam Sidang. sebelum ua memutus verstek atau digugurkan. Dalam kita fiqh islam memutus dengan verstek disebut “al qada’u ‘ala al ga’ib”. jadi replik-duplik belum akan berakhir sepanjang tergugat masih ada yang akan dikemukakannya. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. tetapi aneh sekali kalau langsung sampai tahap pengucapan keputusan. Perlu diingatkan bahwa hak bicara terakhir di depan sidang selalu pada tergugat.. juga hakim-hakimnya. kecuali kalau menurut majelis. bukanlah komputer atau robot. Replik 1). Tergugat Tidak Hadir (akan diputus verstek) Jika tergugat tidak hadir dengan sebab-sebab yang tidak dapat diketahui maka majelis hakim memutus perkara dan memberikan putusan verstek. M. Terutama dalam Sidang Pertama Sebagaimana sudah diterangkan bahwa hal-hal yang mungkin terjadi pada sidang pertama dan justru sangat berpengaruh. Acara Peradilan Agama (Dr. apalagi terbalik. selalu dimulai dari pihak penggugat dan diakhiri dari pihak tergugat. pihak mau.

Produk peradilan agama terhadap perkara itu sendiri. Itu sebagai konsekuensi bahwa termohon boleh turut ke dalam proses. H.) Page 36 . Jadi berjalanlah seperti biasa. sedangkan terhadap tergugat yang belum hadir diperintahkan untuk dipanggil lagi dengan surat panggilan. Acara Peradilan Agama (Dr. digugurkan. Suatu Permasalahan Sebagaimana sudah sering dikemukakan bahwa di lingkungan Peradilan Agama ada perkara permohonan yang melahirkan adanya pemohon dan termohon tetapi perkara terebut dianggap perkara peradilan yang sesungguhnya (jurisdiction contentiosa).di mana ia berhak banding dan atau seterusnya kasasi. Dalam kaitannya dengan soal verstek. Pemeriksaan terhadap perkara yang tergugatnya tidak hadir di sini berlangsung tanpa bantuan tergugat. Jenis eksepsi terkait dengan materi perkara disebut sebagai “verweer ten principale” (dalam bahasa belanda) atau bantahan pokok perkara yakni terdiri atas dua macam : a. kadangkala putusan kadangkala penerapan. hanya saja tanpa bantuan penggugat. S. 7. 4. Kalau pengguggat sudah pernah hadir di sidang pertama. Rasyid. Jika keadaan seperti itu terjadi pada tergugat atau termohon (dalam perkara contentiosa) maka perkaranya tidak bisa lagi diputus verstek.A.. Terhadap penggugat dan tergugat yang telah hadir diberitahukan langsung kapan sidang selanjutnya. Roihan A. eksepsi. melainkan dengan putusan biasa tetapi tanpa bantuan tergugat atau termohon. reconventie. sekalipin sidang- sidang selanjutnya atau bahkan pada waktu pengucapan keputusan tidak hadir maka perkaranya tidak bisa lagi digugurkan. Tergugat Sebagian Hadir dan Sebagian Tidak Hadir HIR Pasal 127 mengatur bahwa sidang wajib ditunda sampai kali yang lain. sekalipun produk pengadilan agama mungkin penetapan. maka pemohon di situ harus dianggap penggugat dan termohon harus dianggap tergugat. Penggugat/Tergugat Hanya Hadir di Sidang Pertama Pada sidang pertama tergugat mungkin hadir tetapi pada sidang sidang selanjutnya tidak pernah hadir lagi bahkan sampai sidang pengucapan keputusan juga tidak hadir. seperti dalam perkara gugatan cerai karena pelanggaran ta’liq talaq yang diajukan oleh pihak istri (penggugat) padahal suami (tergugat) Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. disebut pemeriksaan “contradictoir” atau “op tegenspraak”. M.H. 5. Exceptie (Eksepsi) Eksepsi adalah tangkisan dari tergugat. 6. Dilatoir eksepsi yaitu menyatakan bahwa gugatan penggugat belum dapat dikabulkan.

10. 8. H. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. padahal tergugat membeli barang tersebut dari pihak ketiga. terdahulu.sedangkan dalam lafadz ta’liq talaq akan jatuh talaq jika pihak suami tidak memberikan nafkah selama 3 bulan. Misalnya: tergugat digugat oleh penggugat. Apabila permohonan intervensi dikabulkan. Vrijwaring diajukan dengan sesuatu permohonan dalam proses pemeriksaan perkara oleh tergugat secara lisan atau tertulis. Vrijwaring Vrijwaring adalah penarikan pihak ketiga untuk bertanggung jawab (untuk membebaskan tergugat dari tanggung jawab kepada penggugat). b.) Page 37 . Rasyid. boleh saja dilakukan. baik penggugat sendirian atau bersama-sama. 9. sedangkan perkara tetap jalan Jika pencabutan terjadi bukan atas perdamaian antara penggugat dan tergugat melainkan atas kehendak penggugat sendiri maka perkara itu masih boleh diajukan ke pengadilan di kali yang lain (kalau ia mau) dengan prosedur perkara baru. Kalau dalam contoh a. b. Roihan A. Kalau penggugat terdiri dari beberapa orang. agar pihak ketiga tersebut bertanggung jawab atas cacat itu.H. asal dengan cara tertentu. S. Permohonan intervensi dikabulkan atau ditolak dengan putusan sela. Reconventie adalah salah-satu di antara hal-hal yang mungkin terjadi dalam jawaban pertama tergugat. ada yang mencabut dan ada yang tidak maka pencabutan hanya berlaku bagi yang mencabut saja. Intervensi Intervensi (tussenkomst) adalah ikut sertanya pihak ketiga untuk ikut dalam proses perkara itu atas alasan ada kepentingannya yang terganggu. Proses dengan Tiga Pihak (Intervensi dan Vrijwaring) a. si isteri (penggugat) Nusyuz (tidak taat kepada suami) menjadi penghalang hak nafkah isteri. M. maka tergugat menarik pihak ketiga ini.A. Acara Peradilan Agama (Dr. Peremtoir eksepsi bantahan yang menghalangi dikabulkannya gugatan. Intervensi diajukan oleh karena pihak ketiga merasa bahwa barang miliknya disengketakan/diperebutkan oleh penggugat dan tergugat. belum cukup 3 bulan tidak memberikan nafkah. Gugatan Kembali (Reconventie) Tentang hal ini lihatlah kembali Bab V E. maka ada dua perkara yang diperiksa bersama-sama yaitu gugatan asal dan gugatan intervensi. karena barang yang dibeli oleh penggugat mengandung cacat tersembunyi. di atas. Pencabutan Gugatan Pencabutan gugatan..

Tidak sah surat keterangan keahli-warisan yang dikeluarkan oleh lurah/kepala desa dengan alasan sebagai berikut. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Pihak Meninggal dunia Dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No. 12.) Page 38 . Acara Peradilan Agama (Dr. H. Oleh karena itu. Dengan dicabutnya permohonan banding dan atau kasasi maka perkara banding atau kasasi tersebut tidak boleh lagi dimohonkan kembali banding atau kasasi sekalipun tenggang waktu banding atau kasasi belum berakhir. b. b. cukuplah kita berpendapat bahwa perubahan. harus ada surat keterangan keahli-warisan dari kepala desa/lurah yang mewilayahi pihak yang meniggal dunia tersebut..H. termasuk penambahan atau pengurangan tidak diatur dalam HIR atau RBg.A.H. ada diberikan petunjuk bahwa perkara kasasi yang diajukan oleh ahli waris dalam hal pihak meninggal dunia. kalau pihak yang dalam proses berperkara itu beragama islam dan meninggal dunia. juga ditambah dengan persetujuan tergugat. menurut Prof. Roihan A. S. Perubahan atau penambahan gugatan yang sama sekali lain daripada yang semula. sepanjang bukan mengemukakan hal/tuntutan baru yang sama sekali lain daripada yang semula. M. M. c. Perubahan Gugatan Perubahan gugatan.A. tidak semuanya beragama islam. Menetapkan sah atau tidak sahnya ahli waris bagi mereka yang beragama islam hanya sah jika diberikan oleh Pengadilan Agama. pada prinsipnya diperkenankan. Majelis hakim dalam mempertimbangkan boleh atau tidaknya adalah melihat kasus demi kasus. termasuk penambahan dan pengurangan gugatan diperkenankan. 7 tahun 1989. lebih-lebih setelah berlakunya UU No. Roihan A. S. Dan menurutnya. (mantan ketua Mahkamah Agung). tidak diperkenankan. H. Perubahan atau penambahan gugatan. yang merupakan hal/tuntutan baru sama sekali. a. asal perubahan tersebut tidak merugikan kepentingan kedua belah pihak.. Rasyid. SEMA tersebut tidak berlaku bagi pihak yang beragama islam. Menurut Dr. Lurah/kepala desa. 11. Jika tergugat sudah menjawab. Subekti. perkaranya dapat dilanjutkan oleh ahli warisnya yang sah melalui penetapan pengadilan agama. 5 tahun 1968 tertanggal 11 November 1968. Arti kata lain dari Perubahan gugatan ialah : a. dengan syarat dengan persetujuan majelis hakim. S. yang tentunya tidak tahu siapa ahli waris dan bukan ahli waris menurut islam.H. Rasyid.

b. d. c.H. hakim perlu menanyakan kepada pihak lawannya.) Page 39 . Jika alat bukti saksi yang dikemukakan. Tahap-tahap Pemeriksaan Perkara Pada sidang pertama ini. Semua jawaban atau pertanyaan dari pihak ataupun dari hakim. M. Keaktifan mencari dan menghadirkan bukti di muka sidang adalah tugas pihak itu sendiri dan hakim hanya membantu kalau diminta tolong oleh pihak. reconventie. Setiap pihak mengajukan bukti. seperti eksepsi. Tahap Jawab-Berjawab (Replik-Duplik) Hal yang perlu diingat disini: a. Larangan Hakim Menyidangkan Perkara dan Hak Ingkar 4. S.. Begitu juga replik-duplik dari pihak. D. 1. yang bersifat umum atau policy arahnya sidang. Bilamana pihak-pihak dan hakim tahu dan mengerti jawaban atau pertanyaan mana yang terarah dan relevant dengan hukum. Pertanyaan hakim kepada pihak hendaklah terarah. Toga Hakim dan Baju Panitera E. ada hal-hal penting yang mungkin terjadi dan sangat berpengaruh terhadap proses perkara. intervensi dan sebagainya. Majelis Hakim 1. Tahap pembuktian Hal-hal yang perlu ditekankan disini adalah: a. b. Tergugat/termohon selalu mempunyai hak bicara terakhir. Pertanyaan dari hakim kepada pihak. Roihan A. singkat dan tepat. 2. selalu oleh hakim ketua majelis. Sidang Keliling dan Berkamar 5. tentunya proses perkara akan cepat. Semua alat bukti yang disodorkan oleh pihak.A. Susunan Tempat Duduk Hakim 6. c. hanya menanyakan yang relevant dengan hukum. seperti memanggil saksi. Pergantian Hakim Majelis 3. bahkan mungkin juga tergugat/termohon tidak hadir tanpa alasan. hakim juga harus member kesempatan kepada pihak lawannya kalau-kalau ada sesuatu yang ingin ditanyakan oleh pihak lawan tersebut kepada saksi. Acara Peradilan Agama (Dr. harus melalui dan izin dari ketua majelis. Hakim Majelis Sekurang-kurangnya Tiga Orang 2. harus disampaikan kepada ketua majelis lalu ketua majlis memperlihatkannya kepada para hakim dan pihak lawan dari yang mengajukan bukti. apakah ia keberatan/ tidak. H. Rasyid. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk.

pada umumnya konklusi tidak diperlukan bagi perkara- perkara yang simpel. M. baik tergugat ataupun penggugat. Musyawarah majelis hakim Menurut undang-undang. 4. sehingga hakim boleh meniadakannya. pihak-pihak boleh mengajukan konklusi ( kesimpulan-kesimpulan dari sidang- sidang menurut pihak yang bersangkutan ). Roihan A. Pengucapan keputusan Pengucapan keputusan hanya boleh dilakukan setelah keputusan selesai terkonsep rapi yang sudah ditanda tangani oleh hakim dan panitera sidang. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. S. kapan dan dimana saja. Selesai keputusan diucapkan. dan itulah nanti yang akan diajukannya sebagai konklusi terakhir. tertutup untuk umum. hakim ketua majelis akan menanyakan kepada pihak.. kehadirannya dalam musyawarah majelis hakim adalah atas izin majelis. H. baik dikala musyawarah maupun sesudahnya.) Page 40 . di samping mungkin ada diantara sidang-sidang yang hakim anggotanya berganti dan itulah perlunya konklusi. musyawarah majelis hakim dilakukan secara rahasia. Pihak yang sudah biasa berperkara. apakah mereka menerima keputusan ataukah tidak. Dikatakan rahasia artinya.H. Karena konklusi ini sifatnya membantu majelis. Acara Peradilan Agama (Dr. biasanya selalu membuat catatan-catatan penting setiap suatu sidang berakhir. Rasyid. bagi pihak yang tidak menerima dan pikir-pikir dahulu baginya masih terbuka. Bagi pihak yang hadir dan menyatakan menerima keputusan maka baginya tertutup upaya hukum banding. Tahap penyusunan konklusi Setelah tahap pembuktian berakhir. Kita ingat bahwa hakim juga manusia yang kemampuan ingatnya terbatas. Semua pihak maupun hadirin disuruh meninggalkan ruang sidang. Panitera sidang sendiri.A. 3. 5. hasil musyawarah majelis tersebut tidak boleh dibocorkan sampai ia diucapkan dalam keputusan yang terbuka untuk umum. sebelum musyawarah majelis hakim.

Dengan demikian beban pembuktian dibebankan kepada pihak yang berkepentingan. Asas Pembuktian Berdasarkan pasal 1865 BW.. Tujuan Pembuktian Tujuannya adalah untuk memperoleh kepastian bahwa suatu peristiwa/fakta/dalil-dalil yang diajukan itu benar-benar terjadi guna mendapatkan putusan hakim yang benar dan adil.H. Pengertian. Acara Peradilan Agama (Dr. 2. H. Pihak yang mengemukakan suatu peristiwa (keadaan) untuk menguatkan haknya atau membantah hak orang lain. 4. Pihak yang mengaku mempunyai hak. Asas dan Sistem Pembuktian 1. maka ia harus membuktikan adanya hak atau peristiwa itu. Hukum Pembuktian termasuk dari bagian Hukum Acara sedangkan Peradilan Agama mempergunakan Hukum Acara yang berlaku bagi Peradilan umum. Penilaian Pembuktian Yang berwenang menilai dan menyatakan terbukti tidaknya peristiwa ialah hakim yang memeriksa duduk perkaranya yaitu hakim tingkat pertama dan hakim banding. S.) Page 41 . DELAPAN PEMBUKTIAN Pembuktian di muka pengadilan adalah merupakan hal yang terpenting dalam hukum acara sebab pengadilan dalam menegakkan hukum dan keadilan tidak lain berdasarkan pembuktian. barang siapa yang mengaku mempunyai sesuatu hak harus membuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut. yaitu: a. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Pasala 163 HIR dan Pasal 283 RBg. b. Roihan A. A. Rasyid. 3. Pengertian Pembuktian Pembuktian adalah meyakinkan hakim tentang kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan di muka sidang berdasarkan alat-alat bukti yang sah dan menurut hukum pembuktian yang berlaku.A. M.

Alat bukti ini tidak dapat dilumpuhkan dengan bukti lain. Alat bukti persangkaan. dapat mengesampingkan dan dapat dilumpuhkan. telah cukup bagi hakim untuk memutus perkara berdasarkan alat bukti tersebut tanpa membutuhkan alat bukti yang lain. S.saksi ahli dan pengakuan di luar sidang. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Alat bukti sumpah Kekuatan Alat bukti: 1.H. Roihan A. 4. tetapi ia tidak memenuhi syarat formal sebagai alat bukti. sehingga dapat dibuktikan dengan bukti lawan. 5. Bukti sempurna. Bukti mengikat.A. 3. tidak terikat dan terserah keyakinan hakim untuk menilai. hakim bebas dan tidak terikat. misalnya akta di bawah tangan yang tanda tanan dan isinya diingkari oleh yang bersangkutan.) Page 42 . Hakim terikat dengan bukti tersebut. misalnya:saksi yang disumpah. H. sehingga tidak dapat memutus lain daripada yang telah terbukti dengan satu alat bukti tersebut. M. yaitu: 1. telah cukup bagi hakim untuk memutus perkara berdasarkan alat bukti itu dan tidak memerlukan adanya alat bukti lain. artinya hakim bebas menilai dengan pertimangan yang logis. Alat bukti saksi. Bukti ini harus ditambah alat bukti lain agar menjadi sempurna. 5. artinya meskipun alat bukti itu sah dan dapat dipercaya kebenarannya. artinya sesuatu yang nampaknya memberikan keterangan yang mendukung kebenaran suatu peristiwa.) 2. 4. (Contoh: sumpah decisoir. Terhadap alat bukti ini. Macam-macam Alat Bukti dan kekuatannya Dalam pembuktian dikenal bermacam-macam alat bukti. Bukti permulaan. Hakim terikat dengan alat bukti tersebut kecuali jika dapat dibuktikan sebaliknya. Bukti bukan bukti. Bukti bebas. Alat bukti pengakuan.. pengakuan. 3. artinya meskipun hanya ada satu alat bukti. tetapi belum memenuhi syarat formil sebagai alat bukti yang cukup. Acara Peradilan Agama (Dr. B. artinya meskipun hanya ada satu alat bukti. 2. Rasyid. Alat bukti tertulis atau surat.

Produk-produk hukum di lingkungan peradilan agama pada prinsipnya dengan produk-produk di lingkungan peradilan umum. Identitas pihak-pihak d. atau untuk berbuat sesuatu atau untuk melepaskan sesuatu. Duduk perkaranya (bagian posita) e. Putusan 1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang peradilan Agama menjelaskan bahwa pengadilan agama hanya mengenal dua macam produk hukum. artinya menghukum. Perintah dari Pengadilan ini. Tentang pertimbangan hukum dan dasar hukum f.H. Rasyid. yaitu produk Pengadilan Agama karena adanya dua pihak yang berlawanan dalam perkara. Sebelumnya ada produk ke (3) yaitu Surat Keterangan Tentang Terjadinya Talak (SKT3). yaitu: (1) Putusan dan (2) Penetapan. Bentuk dan Isi Putusan Bila diperhatikan secara keseluruhan suatu putusan. S. Pengertian Putusan Putusan disebut vonnis (Belanda) atau Al Qadha’ (Arab). Dasar hukum Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Putusan Peradilan Perdata (Peradilan Agama adalah peradilan perdata) selalu memuat perintah dari pengadilan kepada pihak yang kalah untuk melakukan sesuatu. dapat diperintahkan untuk dilaksanakan secara paksa disebut eksekusi.. Jadi diktum vonis selalu memiliki salah satu di antara dua sifat: (1) Condemnatoir. M. yang pada umumnya sesuai dengan pembagian menurut ketentuan perundang-undangan yang mengaturnya. Acara Peradilan Agama (Dr. bentuk dan isi putusan Pengadilan Agama secara singkat adalah sebagai berikut. Bagian kepala putusan b. a.A. maka ia harus mengadilinya atau membeikan putusan dan mengeluarkan produknya. Produk Pengadilan semacam ini dapat diistilahkan dengan “produk pengadilan yang sesungguhnya” atau jurisdictio cententiosa.) Page 43 . SEMBILAN Produk Pengadilan Agama Setelah Pengadilan Agama memeriksa perkara. yang kini tidak ada lagi. yaitu “penggugat” dan “tergugat”. 2. Nama Pengadilan Agama yang memutus dan jenis perkara c. atau menghukum sesuatu. jika tidak diturut dengan sukarela. Roihan A. artinya menciptakan. (2) Constitutoir. A. H.

M. diikuti garis miring dan tahun pendaftaran perkara. Identitas pihak ini meliputi. umur. Tentang pertimbangan hukum dan dasar hukum Di dalamnya dicantumkan alasan memutus (pertimbangan) yang biasanya dimulai dengan kata “menimbang”. a. d. sebagi penggugat atau tergugat. e. Penyebutan keduanya dipisahkan dengan tulisan pada alenia tersendiri yang berbunyi “berlawanan dengan “. dimulai dari identitas penggugat.H. jelas dan tepat serta kronologis. pekerjaan. Nama Pengadilan Agama yang memutus dan jenis perkara Sesudah yang tersebut di butir a. S. Di dalam bagian ini diutarakan “duduk perkaranya” tedahulu. Bagian kaki putusan i. g. jawaban tergugat. alias atau julukan. bin/binti siapa. keterangan saksi dan hasil dari berita acara sidang selengkapnya. yanag telah memeriksa dan mengadili dalam tingkat pertama. Acara Peradilan Agama (Dr. yaitu menurut nomor urut pendaftaran perkara.. H. maka dicantumkan pada baris selanjutnya nama Pengadilan Agama yang memutus sekaligus disertai menyebutkan jenis perkara. nama.” c. Tanda tangan hakim dan panitera serta perincian biaya. Roihan A. misalnya “Pengadilan Agama Karanganyar. agama. namun dikutip secara singkat. tempat tinggal terakhir. yaitu keteranganpihak-pihak berikut dalil-dalilnya. Rasyid. Diktum atau amar putusan h. Bagian kepala putusan Bagian ini memuat kata “PUTUSAN” atau kalau salinan. adalah “SALINAN PUTUSAN”. b. Baris selanjutnya adalah tulisan huruf besar semua berbunyi “BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM” untuk memenuhi perintah Pasal 57 ayat (2) UU Nomor 7 Tahun1989. perkara gugat cerai. Duduk perkaranya (bagian posita) Pada bagian ini dikutip dari gugatan penggugat.A. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk.) Page 44 . Baris di bawah dari kata itu adalahNomor Putusan. Identitas pihak-pihak Penyebutan identitas pihak. kemudian identitas tergugat. alat bukti dll.

H. Tanda tangan hakim dan panitera dan perincian biaya Pada asli Putusan. 3. h. pemberitahuan. Menurut pasal 90 ayat (1) UU Nomor 7 tahun 1989. S. tetapi sebelum sampai kepada putusan akhir kadang-kadang majelis harus mengambil putusan sela terlebih dahulu. Bagian kaki putusan Bagian kaki putusan yang dimaksudkan ialah dimulai dari kata-kata “demikianlah putusan pengadilan agama …. saksi ahli. bukan yang tercantum dalam diktum.) Page 45 . M. Rasyid. Diktum atau amar putusan Amar putusan didahului dengan kata “MENGADILI” kemudian diikuti petitum berdasarkan pertimbangan hukum. adalah tentang putusan akbir atau eind-vonnis. penerjemah.”. semua hakim dan panitera harus bertanda tangan tetapi pada Salinan Putusan.. Adapun yang dimaksud dengan perincian biaya disini adalah perincian biaya yang tercantum dibagian kiri bawah dari keputusan. hakim dan panitera hanya “ttd” (tertanda) atau “dto” (ditandatangani oleh). Roihan A. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. dan lain-lain atas perintah Pengadilan. Asli Putusan tetap disimpan pada Pengadilan Agama dan disatukan dalam berkas perkara yang sudah diminitur. Dasar memutus biasanya dimulai dengan kata “mengingat”. H. Di dalam bagian ini disebutkan dasar hukum putusan baik yang bersumber dari perundang-undangan negara maupun dasar hukum syara’. lalu dibawahnya dilegalisir. Putusan Sela Apa yang telah diuraikan di butir 2. g. rincian biaya tersebut meliputi:  Biaya kepaniteraan dan materai  Biaya untuk para saksi . Di muka. Di dalamnya diuraikan hal-hal yang dikabulkan dan hal-hal yang ditolak atau tidak diterima. f.A. Acara Peradilan Agama (Dr. dan pengambil sumpah  Biaya untuk pemeriksaan setempat dan tindakan-tindakan lain yang diperlukan  Biaya pemanggilan. Salinan Putusan akan diberikan kepada pihak-pihak atau akan dikirm ke tingkat banding (jika terjadi banding dan untuk laporan) atau akan dikrim ke Mahkamah Agung (jika terjadi kasasi atau peninjuan kembali). Yang tercantum dalam diktum adalah biaya total sedangkan yang disebut terdahulu itu adalah rinciannya.

S. H. karenanya penggugat boleh naik banding atas putusan tersebut. jika majelis hakim mengabul-kan eksepsi tergugat. Rasyid. b. Roihan A. Jika tergugat mengajukan eksepsi relative pada siding pertama maka hakim wajib memutusnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan pemeriksaan atas pokok perkara dan putusan di sini disebut putusan sela. seperti istri dalam gugatan cerai minta ditetapkan nafkah anak atau berpisah rumah dari suaminya selama perkara sedang berlangsung. c. Pihak mengajukan hak ingkarnya. f. Putusan sela ini adayang menyebutnya interlocutoir dan ada pula yang menyebutnya tussen vonnis.H. Akan tetapi. Adanya eksepsi dari tergugat. Perlunya putusan sela ini misalnya: a. d. hal mana berarti pemeriksaan terhadap pokok perkara akan stop (tidak jadi) berarti putusan sela di situ akan menjadi putusan akhir.” Jika perkara sedang berlangsung antara dua pihak.A. salah satu pihak meminta kepada hakim agar pihak ketiga diikutsertakan ke dalam proses maka hakim harus mengambil keputusan apakah permohonan itu dikabulkan atau tidak.) Page 46 . Jika seorang istri sedang menggugat suaminya untuk cerai misalnya tetapi selama sidang sedang berjalan istri memohon ke Pengadilan Agama agar diizinkan Suami_istri tidak tinggal serumah dengan pertimbangan kemungkinan bahaya yang akan ditimbulkan maka majelis hakim harus mengambil keputusan sela apakah permohonan tersebut dikabulkan atau ditolak. Adanya permohonan sita (beslag). Adanya permintaan dari pihak agar pihak ketiga diikutsertakan ke dalam proses yang sedang berjalan (vrijwaring) atau ada pihak ketiga yang mau campur ke dalam proses yang sedang berjalan (intervensi). Acara Peradilan Agama (Dr. M.. Adanya gugatan/permohonan provisional. Jika pihak mengajukan keberatan perkaranya diperiksa oleh hakim atau panitera yang sedang menyidangkan perkaranya karena hakim atau panitera ada di antaranya yang terhalang oleh peraturan perundang- undangan untuk menyidangkan perkara itu maka hakim harus mengambil putusan sela. karena ada hal-hal yang mengharuskan demikian. Dan lain-lain. Begitu juga kalau ada pihak ketiga yang mengajukan permohonan untuk turut ke dalam proses yang sedang berjalan (vrijwaring). Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Jika permohonan sita diajukan setelah siding berjalan maka hakim harus mengambil keputusan sela apakah permohonan sita tersebut dikabulkan atau ditolak. e.

A. S. Rasyid.. Kekuatan Putusan Putusan pengadilan mempunyai 3 kekuatan. itulah yang dikatakan mempunyai kekuatan eksekusi. Putusan yang sudah in kracht. yang memohon untuk ditetapkan tentang sesuatu. sedangkan ia tidak perkara dengan lawan. Ia merupakan bukti otentik terjadinya cerai. Suatu putusan dikatakan mempunyai kekuatan bukti misalnya putusan cerai. Karena penetapan itu muncul sebagai produk pengadilan atas permohonan pemohon yang tidak berlawanan maka diktum penetapan tidak akan pernah berbunyi menghukum melainkan hanya bersifat menyatakan (declaratoire) atau menciptakan (constitutoire). dan (3) kekuatan eksekusi (executoriale kracht).) Page 47 . kecuali permohonan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung tetapi hanya dengan alasan-alasan sangat tertentu sekali. M. kasasi tidak dipergunakan dan tenggang waktu untuk itu sudah habis. 4. tidak terhalang untuk dieksekusi. Putusan sela wajib diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum sebagaimana mengucapkan keputusan akhir sekalipun tidak mesti putusan sela dibuatkan tersendiri melainkan cukup dalam Berita Acara Sidang. Terhadap putusan sela tidak dapat dimohonkan banding kecuali bersama-sama dengan putusan akhir (pokok perkara). Dikatakan bukan peradilan yang sesungguhnya karena di sana hanya ada pemohon. Roihan A. Suatu putusan mempunyai kekuatan mengikat dan mempunyai kekuatan bukti ialah setelah putusan tersebut memperoleh kekuatan hokum yang tetap (in kracht). banding. yaitu: (1) kekuatan mengikat (bindende kracht). Suatu putusan dikatakan in kracht ialah apabila upaya hokum seperti verzet. yaitu produk pengadilan Agama dalam arti bukan peradilan yang sesungguhnya. atau telah mempergunakan upaya hukum tersebut dan sudah selesai. Penetapan 1. B. Pengertian Penetapan Penetapan disebut al-isbat (Arab) atau beschiking (Belanda).H. yang diistilahkan jurisdiction voluntaria. Acara Peradilan Agama (Dr. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. H. sekalipun ada dimohonkan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. (2) kekuatan bukti (bewijzende kracht). Upaya hukum terhadap putusan yang telah in kracht tidak ada lagi.

1. dan 3 diatas adalah penetapan dalam bentuk murni voluntaria. ada pemohon dan termohon.sedangkan pada putusan dibebankan kepada salah satu dari pihak yang kalah atau ditanggung bersama-sama oleh pihak penggugat dan tergugat tetapi dalam perkara perkawinan tetap selalu kepada penggugat atau pemohon. tetapi ternyata bukan penetapan dalam bentuk voluntaria murni. 2. f. tetapi dulu-dulunya mereka kawin belum begitu tertib pencatatan nikah sehingga tidak mempunyai akta nikah.melainkan langsung diuraikan apa permohonan pemohon. Tidak akan ditemui kata-kata “Tentang duduk perkaranya” seperti pada putusan. 2. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. b. dan 3 tidak berlaku melainkan diberlakukan teori umum yang tersebut di A. 1. tentu saja prinsip-prinsip perbedaan ini disesuaikan saja. Kekuatan Penetapan Putusan mempunyai 3 kekuatan dan berlaku untuk pihak-pihak maupun untuk dunia luar (pihak ketiga) tetapi penetapan hanya berlaku untuk pemohon sendiri. dan 4 sebelumnya. 2. Acara Peradilan Agama (Dr.. M. tapi termohon disitu bukanlah pihak. S. c. Suatu Catatan Apa yang terurai pada butir B. pemohon dan termohon harus dianggap sebagai penggugat dan tergugat. Amar penetapan paling-paling bersifat declaratoire atau constitutoire. teori umum penetapan terurai di B. Identitas pihak-pihak pada permohonan dan pada penetapan hanya memuat identitas pemohon. Kalau pada putusan didahului kata-kata “memutuskan” maka pada penetapan dengan kata “menetapkan”. untuk ahli warisnya dan untuk orang yang memperoleh hak daripadanya. g. 3.A. Dalam penetapan tidak mungkin ada reconventie atau interventie atau vrijwaring. Tidak akan ditemui kata-kata”berlawanan dengan” seperti pada putusan. Biaya perkara selalu dipikul oleh pemohon. 1. sehingga penetapan di situ harus dianggap putusan. 2.) Page 48 . Rasyid. Dalam hal ini. 4. d.H. Di lingkungan Peradilan Agama ada beberapa jenis perkara di bidang perkawinan yang produk Pengadilan Agama berupa Penetapan. Contoh penetapan seperti pengesahan nikah bagi keperluan pension Pegawai Negeri Sipil dari suami-isteri yang tidak ada sengketa antara keduanya. Roihan A. Ketika membuat penetapan. e. Kalaupun di situ dimuat identitas termohon. H. 3. Bentuk dan Isi Penetapan Bentuk dan isi penetapan hampir sama saja dengan bentuk dan isi putusan walaupun ada juga sedikit perbedaannya sebagai berikut: a.

. Acara Peradilan Agama (Dr. C.A. di samping produk Putusan dan Penetapan. M.) Page 49 . Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. H. sehingga SKT3 sudah bertukar dengan penetapan yang tidak berlaku banding seperti disebutkan pada Pasal 71 ayat (2) tersebut.H. Produk Khusus Sebelum berlakunya UU Nomor 7 tahun 1989. Roihan A. ada produk Pengadilan Agama yang disebut SKT3 (Surat Keterangan Tentang Terjadinya Talak) sebagai realisasi dari bunyi Pasal 17 PP Nomor 9 tahun 1975. Rasyid. Pasal ini telah dicabut/digantikan oleh Pasal 71 ayat (2) UU Nomor 7 tahun 1989. S.

. Sita Marital yaitu istri (yang tunduk kepada hukum perdata BW) boleh mengajukan permohonan ke Pengadilan agar selama dalam masa sengketa perceraian yang sekaligus harta bersama di muka Pengadilan. Melainkan hanya dijumpai di dalam BW (Buergerlijke Wetboek) dan Rsv (Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering) yang sekarang ini sering dipakai di lingkungan Peradilan Umum.A. karena menurut BW si istri tidak mungkin menjualkan sebab ia tidak mampu bertindak hukum kecuali atas bantuan suaminya.H. Namun biasanya sudah diajukan bersama-sama dengan gugatan. Rasyid. kalau gugatan penggugat ditolak. H. Pengukuhan dan Eksekusi A. Demikian juga sebaliknya.) Page 50 . tetapi boleh juga disimpan ditempat lain. 2. Roihan A. masih dapat diajukan. Barang yang disita boleh dititipkan kepada si tersita sendiri dengan konsekuensi ia harus memeliharanya. sehingga yang mungkin menjual/mentransfer hanyalah suami. Bila permohonan sita dikabulkan dan ternyata nanti pemohon tersebut menang dalam perkara maka sita tersebut akan dinyatakan sah dan berharga dalam dictum keputusan dan pada waktu eksekusi. agar si suami tidak memindahkan atau mentransfer harta kekayaan milik besama tersebut. bahkan dapat juga diajukan setelah perkara diputus sepanjang belum in kracht. Sita Marital Atau Matrimonial Sita Marital tidak terdapat di dalam HIR atau RBg. Ada macam-macam sita yang dikenal di lingkungan Peradilan Umum: 1. Sita Marital ini dimohonkan oleh istri. asal aman dan terpelihara dari kerusakan. Sita (Beslag) Permohonan sita dapat diajukan sebelum perkara diputus. Acara Peradilan Agama (Dr. tidak boleh rusak/hilang/dipindahtangankan. M. artinya sekalipun perkara itu banding dan/atau kasasi. S. SEPULUH Penyitaan. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. Sita Revindikasi (Revindicatoir Beslagh) Sita yang dilakukan oleh Pengadilan terhadap benda bergerak milik sendiri yang berada di tangan orang lain atau terhadap benda milik sendiri yang telah dijual tetapi belum dibayar harganya oleh pembeli/ Permohonan kepada Pengadilan untuk dilakukan Sita Revindicatoir tidak memerlukan kepada adanya dugaan beralasan terlebih dahulu bahwa si tersita akan menggelapkan atau akan melenyapkan barangb yang dimohonkan sita. misalnya di Pengadilan sendiri. sita tersebut akan berubah akan berubah menjadi sita eksekusi. dengan sendirinya harus dinyatakan di dalam dictum keputusan untuk diangkat (dicabut).

C. 3.. sehingga putusan itu hanya sia-sia. Putusan Hakim tersebut bersifat mengikat orang yang berperkara di hadapan Persidangan. Putusan itu mestilah mendapat pengakuan (fiat eksekusi) dari Peradilan Umum yang sudah memiliki Hukum Formil sejak lama. c. Juru Sita (Deurwaarder) Menurut Pasal 103. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. H. yang salinan resminya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. (2) Juru Sita berwenang melakukan tugasnya di daerah hukum Pengadilan yang bersangkutan. maka setiap Putusan yang diketuk palu oleh Hakim Peradilan Agama belum bisa dieksekusi dimata hukum. Jika permohonan sita dikabulkan maka perintah penyitaan tidak boleh oleh Hakim Ketua Majelis tetapi mesti oleh Ketua Pengadilan. juru sita berwenang melakukan tugasnya hanya di dalam daerah hukum Pengadilan Agama tempatnya diangkat. Sita Jaminan (Conservatoir Beslagh) Sita Jaminan atau Conservatoir Beslagh adalah sita yang dilakukan oleh Pengadilan atas permohonan dari pihak penggugat atas milik orang lain (yakni milik tergugat) agar hak penggugat terjamin akan dipenuhi oleh tergugat setelah penggugat diputus menang dalam perkaranya nanti.H. Oleh karena itu. Rasyid. Roihan A.) Page 51 . teguran-teguran. membuat berita acara penyitaan. Pengukuhan Putusan Peradilan Agama Salah satu tujuan pokok dari Peradilan Agama adalah dengan mewujudkan keadilan dengan melalui putusan Hakim. M. melakukan penyitaan atas perintah Ketua Pengadilan. Permohonan sita jaminan harus adanya dugaan beralasan bahwa pihak tergugat akan menggelapkan atau melepaskan barangnya sehingga nantinya tidak mampu membayar menurut yang diputuskan oleh Pengadilan. Putusan hakim disitu akan berupa putusan sela. B.A. d. harus dipertimbangkan dulu oleh hakim apakah dapat dikabulkan atau tidak. Sebelum dikeluarkannya Undang-Undang No 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama. dan pemberitahuan penetapan atau putusan Pengadilan menurut cara cara berdasarkan ketentuan undang-undang. dengan tugas-tugas: (1) Juru Sita bertugas : a. Acara Peradilan Agama (Dr. b. menyampaikan pengumuman-pengumuman. sebelum permohonan conservatoir beslagh dikabulkan. S. melaksanakan semua perintah yang diberikan oleh Ketua Sidang.

Sejak tahun 1882 sampai saat berlakunya Undang-Undang No. M. Roihan A. Peradilan Agama tidak dapat mengeksekusi Putusannya sendiri. dari PP No. (4). pengukuhan oleh Peradilan Umum terhadap putusan Peradilan Agama. Walaupun Undang-Undang No. stelah putusan tersebut memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Pasal 3 ayat (3). Kenyataan ini adalah akibat dari keberadaan Peradilan Agama yang belum memiliki Hukum Formil. 45 tahun 1957. (5). S. Kenyataan itu dipersedih lagi dengan adanya kewajiban bahwa semua perkara perkawinan yang tercantum dalam UU No 1 yahun 1974 dikukuhkan oleh Peradilan Umum. LN 1951-9. terus samapi kepada zaman awal Indonesia merdeka (tahun 1951 samapi 1957). (5) dari Ordonantie Stbl.) Page 52 . Sistem Fiat Eksekusi merupakan wujud kedudukan Peradilan Agama yang Inferieur dihadapan Peradilan Umum. Dan perlu diketahui di awal bahwa Pengukuhan Eksekusi Peradilan Agama oleh Peradilan Umum sudah dikubur dalam-dalam oleh Undang- Undang No. Menurut pasal itu.LN 1957-99.14 tahun 1970 telah memberi dasar-dasar perkembang Peradilan Agama.7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama (satu abad lewat tujuh tahun).A. tetapi tidak ada perubahan yurisdiksi atau kompetensi Peradilan Agama. Semenjak zaman pendudukan kolonial Belanda (tahun 1882). Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. 9 tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-Undang tersebut. H. maka Peradilan Agama harus minta tolong kepada Peradilan Umum dikenal dengan istilah “executoir- verklaaring”. 7 tahun 1989). Rasyid. dari Undang-Undang Darurat No. Pasal 4 ayat (3). Stbl. (4). 1937-116 dan 610.1 tahun 1974 tentang Perkawinan (sebelum Undang-Undang No. Peradilan Umum tidak berkewenangan melakukan pemeriksaan ulang terhadap Putusan Peradilan Agama. Pasal 2 a ayat (3). c. Pengukuhan tersebut hanya bersifat administrstif prosedural. Kemestian executoir verklaring itu terbukti dibunyikan dalam undang- undang berikut : a. Fiat Eksekusi adalah pemberian kuasa untuk pelaksanaan putusan executorial (bersifat dapat dilaksanakan). 1937-638 dan 639. berikutnya zaman Undang-Undang No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama. 1 tahun 1951. Acara Peradilan Agama (Dr. bila Peradilan Agama akan mengeksekusi sebuah Putusan Hakim. d. (5) dari Ordonantie Stbl.H. b. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Istilah pengukuhan baru muncul bersamaan dengan Undang-Undang No. (4). psal 63 ayat (2) dan Peraturan Pemerintah No. Pasal 5 ayat (3) sub c.. 1882-152 jis.

Rasyid. supaya dapat di eksekusi. artinya berwujud menghukum pihak untuk membayar sesuatu. Peraturan perundang-undangan lainnya tentang fiat eksekusi (tertera pada C. menurut Pasal 95.) Page 53 . artinya juga merupakan hasil dari jurisdiction contentiosa) harus benar dan terarah. M. a.A. Eksekusi Fiat eksekusi pengadilan negeri terhadap putusan peradilan agama yang dahulunya ditunjuk dalam UU Darurat No.7 tahun 1989. (5) Pelaksanaan di lapangan. H. S. d. Jadi eksekusi atas putusan yang diktumnya bersifat declaratoir dan atau constitutoir boleh dikatakan tidak mungkin. 7 tahun 1989. (2) Penelitian surat gugatan/permohonan sebelum terdaftar di kepaniteraan pengadilan agama. di muka) telah dicabut oleh UU No.’ (3) Ketelitian pemeriksaan hakim di muka sidang. 8 tahun 1981. LN 1981-76 tentang hukum acara pidana. sah ta’liq talaq yang telah diucapkan oleh suami dam sebagainya constitutoir artinya menciptakan atau menghapuskan seperti mengesahkan seorang anak. peradilan agama sudah dapat melaksanakan secara paksa (eksekusi) atas putusan dan penetapannya sendiri. 98 dan 103 UU No. Declaratoir artinya menyatakan seperti sah dan berharga sita jaminan. Selain itu.H. Roihan A. Timbulah sekarang bagaimana melakukan eksekusi putusan atau penetapan peradilan agama itu. 1 tahun 1951 dan UU ini telah dicabut oleh UU No. Untuk itu. Acara Peradilan Agama (Dr. Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. D. (6) Biaya eksekusi. (4) Benar dan jelas serta rinciannya dictum putusan/penetapan. Dictum putusan yang dapat dieksekusi hanyalah yang bersifat condemnatoir. Pasal 107 ayat (1). menyerahkan sesuatu atau melepaskan sesuatu dan sejenisnya. eksekusi putusan dan penetapan peradilan agama itu akan lancer tergantung dari kesalingterkaitannya antara. b. Jika ingin disimpulkan.. termasuk dapat melaksanakan segala macam bentuk sita (beslag) yang diperlukan. menyeraikan A dari B dan sebagainya. termasuk penetapan (yang mirip putusan. acuannya ialah aturan eksekusi yang dipergunakan di lingkungan peradilan umum. dictum putusan. (1) Kepandaian penggugat/pemohon dalam menyusun petita dalam gugatan/permohonan. Oleh karena itu.

yang diajukan ke Pengadilan Agama yang memutus itu juga. Banding. atau terhadap putusan mahkamah agung. D. atau terhadap putusan pengadilan tingkat banding (pengadilan tinggi agama) yang telah memperoleh kekuatan hukum yan tetap. H. SEBELAS Verzet.” Natasha Rastie Aulia – Tugas makalah Hk. ke pengadilan tingkat banding (Pengadilan Tinggi Agama) yang mewilayahi pengadilan tingkat pertama yang bersangkutan. Kasasi. Verzet Verzet artinya perlawanan terhadap putusan verstek yang telah dijatuhkan oleh pengadilan tingkat pertama (Pengadilan Agama).. Peninjauan Kembali Peninjauan kembali yang dimaksudkan adalah terhadap putusan/penetapan pengadilan tingkat pertama (pengadilan agama) yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Roihan A. Banding Banding yang disebut juga appel ialah permohonan pemeriksaan kembali terhadap putusan atau penetapan pengadilan tingkat pertama (Pengadilan Agama) karena merasa tidak puas atas putusan atau penetapan tersebut. dalam waktu tertentu. Rasyid. S. dalam tenggang waktu tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu.A. Kasasi Kasasi artinya memohon pembatalan terhafap putusan/penetapan pengadilan tingkat pertama (pengadilan agama) atau terhadap putusan pengadilan tingkat banding (pengadilan tinggi agama) ke Mahkamah Agung di Jakarta. melalui pengadilan tingkat pertama yang memutus tersebut. yang diajukan oleh tergugat yang diputus verstek tersebut. melalui pengadilan tingkat pertama (pengadilan agama) yang dahulunya memutus karena adanya alasan tertentu. dalam waktu tertentu dengan syarat-syarat tertentu. M. C.H. Acara Peradilan Agama (Dr.) Page 54 . dan Peninjauan Kembali A. karenanya sering disebut dipanjangkan menjadi “peninjauan kembali terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap. B.