You are on page 1of 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan yang baik tergantung sebagian pada lingkungan yang aman. Praktisi atau teknisi
yang memantau atau mencegah penularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja
kesehatan dari penyakit. Setiap tahun diperkirakan 2 juta pasien mengalami infeksi saat dirawat
di Rumah Sakit. Hal ini terjadi karena pasien yang dirawat di Rumah Sakit mempunyai daya
tahan tubuh yang melemah sehingga resistensi terhadap mikroorganisme penyebab penyakit
menjadi turun, adanya peningkatan paparan terhadap berbagai mikroorganisme dan
dilakukannya prosedur invasive terhadap pasien di Rumah Sakit. Mikroorganisme bisa eksis
di setiap tempat, dalam air, tanah, permukaan tubuh seperti kulit, saluran pencernaan dan area
terbuka lainnya. Infeksi yang di derita pasien karena dirawat di Rumah Sakit, dimana
sebelumnya pasien tidak mengalami infeksi tersebut dinamakan infeksi nosokomial. Menurut
Patricia C Paren, pasien dikatakan mengalami infeksi nosokomial jika pada saat masuk belum
mengalami infeksi kemudian setelah dirawat selama 48-72 jam klien menjadi terinfeksi.

Infeksi nosokomial bisa bersumber dari petugas kesehatan, pasien yang lain, alat dan bahan
yang digunakan untuk pengobatan maupun dari lingkungan Rumah Sakit. Faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya infeksi nosokomial antara lain: faktor internal (seperti usia,
penggunaan obat, penyakit penyerta, malnutrisi, kolonisasi flora normal tubuh, personal
hygiene yang rendah, perilaku personal dll) serta faktor eksternal (seperti banyaknya petugas
kesehatan yang kontak langsung dengan pasien, banyaknya prosedur invasif, lama tinggal di
RS, lingkungan yang terkontaminasi dll). Dengan cara mempraktikkan teknik pencegahan dan
pengendalian infeksi, perawat dapat menghindarkan penyebaran mikroorganisme terhadap
klien.
Infeksi adalah proses invasif oleh mikroorganisme dan berpoliferasi di dalam tubuh yang
menyebabkan sakit (Potter & Perry, 2005). Infeksi adalah invasi tubuh oleh mikroorganisme
dan berproliferasi dalam jaringan tubuh. (Kozier, et al, 1995). Dalam Kamus Keperawatan
disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan multiplikasi mikroorganisme dalam jaringan tubuh,
khususnya yang menimbulkan cedera seluler setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin,
replikasi intraseluler atau reaksi antigen-antibodi. Munculnya infeksi dipengaruhi oleh

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


1
beberapa faktor yang saling berkaitan dalam rantai infeksi. Adanya patogen tidak berarti bahwa
infeksi akan terjadi.

Mikroorganisme yang bisa menimbulkan penyakit disebut pathogen (agen infeksi),


sedangkan mikroorganisme yang tidak menimbulkan penyakit/kerusakan disebut asimtomatik.
Penyakit timbul jika pathogen berkembang biak dan menyebabkan perubahan pada jaringan
normal. Jika penyakit bisa ditularkan dari satu orang ke orang lain, penyakit ini merupakan
penyakit menular (contagius). Mikroorganisme mempunyai keragaman dalam
virulensi/keganasan dan juga beragam dalam menyebabkan beratnya suatu penyakit yang
disebabkan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu infeksi dan apa saja tanda-tandanya?
2. Bagaimana proses klinis infeksi?
3. Faktor apa saja yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi?
4. Bagaimana tahapan proses infeksi?
5. Apa itu infeksi nosokomial?
6. Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan masalah infeksi?
7. Bagaimana tindakan-tindakan pada pengendalian infeksi?

1.3 Tujuan
1. Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengajar konsep dasar
keperawatan 1
2. Untuk mengetahui tentang berbagai macam infeksi dan bagaimana proses klinis infeksi.
3. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pengendalian infeksi.
4. Untuk mengetahui tindakan-tindakan keperawatan pada pengendalian infeksi.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Infeksi

1.1 Definisi
Infeksi adalah suatu kondisi penyakit akibat masuknya kuman pathogen atau
mikroorganisme lain ke dalam tubuh atau ke tubuh seingga menimbulkan gejala tertentu.
Apabila pada suatu jaringan terdapat jelas akibat trauma, bakteri, panas, ataupun bahan, pada
jaringan tesebut akan terjadi perubahan sekunder yang disebut peradangan. Kondisi ini ditandai
dengan vasodilatasi, pembuluh darah local, peningkatan permeabilitas kapiler, pembekuan
cairan dalam ruang intertisisal, migrasi sejumlah besar granulosit dan monosit ke dalam
jaringan, dan pembengkakkan sel (Guyton, 1993).

1.2 Tanda-tanda Infeksi


Tanda-tanda infeksi secara klinis dapat dilihat pada respon klien, baik local maupun
sistemik. Tanda infeksi local meliputi:
a. Rubor atau kemerahan, biasanya merupkan tanda yang pertama terlihat pada daerah yang
mengalami infeksi.
b. Kalor atau panas, merupakan sifat dari reaksi infeksi yang hanya terjadi pada permukaan
tubuh.
c. Dolor atau rasa sakit/nyeri, ini terjadi akibat perubahan ph local atau konsentrasi local
ion-ion tetrtentu yang dapat merangsang ujung-ujung saraf.
d. Tumor atau bengkak, disebabkan oleh pengirima cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah
ke jaringan-jaringan interstisial.
e. Fungsio laesa atau perubahan fungsi/keterbatasan anggota gerak,

Sedangkan tanda infeksi sistemik meliputi demam, malaise, anoreksia, mula, muntah,
sakit kepala, dan diare (Price dan Wilson, 1994).

1.3 Proses Klinis Infeksi


Proses klinis terjadinya infeksi ditentukan oleh 6 link yang membentuk rantai infeksi. Link
tersebut meliputi agen infeksius (mikroorganisme), sumber infeksi (reservoir), pintu keluar,
metode penyebaran, pintu masuk, dan hospes yang rentan.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


3
a. Agen Infeksius (Mikroorganisme)
Pada dasranya, kemampuan mikroorganisme untuk menimbulkan proses infeksi
bergantung pada jumlah mikroorganisme yang masuk, virulensi dan potensi
mikroorganisme (pathogenisistas), kemampuan mikroorganisme memasuki tubuh,
kerentanan hospes, dan kemampuan mikroorganisme untuk hidup di dalam tubuh hospes.
Secara umum, mikroorganisme pada kulit dan membrane mukosa dapat dikelompokkan
kedalam dua golongan:
1.) Flora Residen (penetap). Terdiri atas mikroorganisme yang jenisnya relative stabil
dan biasa ditemukan pada area tertentu dalam tubuh. Bila terganggu,
mikroorganisme ini akan tumbuh kembali dengan segera. Flora ini berperan dalam
mempertahankan kesehatan dan fungsi normal bagian tubuh tertentu (mis., flora
normal saluran pencernaan berperan dalam sintesis vitamin K). Akan tetapi, bila
flora normal suatu daerah berpindah ke daerah lain, hal ini dapat mengakibatkan
infeksi (mis., E coli merupakan flora normal di dalam usus besar, namun dapat
menyebabkan infeksi apabila berpindah ke saluran perkemihan).

2.) Flora Transien (sementara). Terdiri atas mikroorganisme non pathogen atau
potensial pathogen yang mendiami kulit atau membrane mukosa selama beberapa
jam, hari, atau minggu. Keberadaan flora ini tidak begitu berarti apabila flora
penghuni normal tetap utuh. Akan tetapi, bila flora normal terganggu,
mikroorganisme sementara ini akan berkoloni dan menimbulkan penyakit.

 Cara Penularan Mikroorganisme


Proses penyebaran mikroorganisme ke dalamtubuh, baik pada manusia maupun hewan,
dapat melalui berbagai cara, di antaranya.
1.) Kontak Tubuh. Kuman masuk ke dalam tubuh melalui proses penyebaran secara
langsung maupun langsung. Penyebaran secara langsung melalui sentuhan dengan
kulit, sedangkan secara tidak langsung dapat melalui benda yang terkontiminasi kuman.

2.) Makanan dan Minuman. Terjadinya penyebaran dapat melalui makanan dan
minuman yang telah terkontaminasi, seperti pada penyakit tifus abdominalis, penyakit
infeksi cacing dan lain-lain.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


4
3.) Serangga. Contoh proses penyebaran kuman melalui serangga adalah penyebaran
penyakit malaria oleh plasmodium pada nyamuk aedes dan beberapa penyakit saluran
pencernaan yang dapat ditularkan melalui lalat.

4.) Udara. Proses penyebaran kuman melalui udara dapat dijumpai pada penyebaran
penyakit sistem pernapasan (penyebaran kuman tuberkulosis) atau sejenisnya.

b. Reservoir
Banyak hal yang bisa menjadi reservoir atau sumber mikroorganisme, diantaranya
adalah manusia, tanaman, hewan, lingkungan, dan mikroorganimse klien sendiri. Pada
tubuh manusia, mikroorganisme paling banyak ditemukan di kulit, saluran pernafasan,
mulut, alat kelamin atau vagina, kolon, dan uretra bagian bawah. Sedangkan di
lingkungan, mikroorganisme dapat berasal dari makanan, air, feses atau objek tertentu
(mis., botol suction).

c. Pintu Keluar (portal of exit)


Sebelum menyebabkan infeksi pada tubuh hospes, mikroorganisme terlebih dahulu
harus meninggalkan reservoir. Beberapa reservoir umum pada manusia berikut jalur
keluarnya terlihat pada table berikut:

Reservoir pada tubuh manusia, mikroorganisme infeksius, dan pintu keluar.


Area tubuh Organisme infeksius Jalur keluar

Virus parainfluenza Hidung atau mulut saat


Saluran pernafasan
Staphyloccus tuberculosis bersin, batuk, bernafas, atau
Mycobacterium tuberculosis bicara.
Enterokokus Escherichia coli Meatus uretra
Saluran perkemihan
Pseudomonas aeruginosa
Virus hepatitis A Mulut: saliva, muntahan,
Saluran pencernaan
Species salmonella anus, feces, ostomi
Neisseria Ghonorrhoeae
Saluran reproduksi
Treponema Pallidum Vagina: rabas vagina; Meatus
Virus herpes simpleks tipe 2 uretra: semen, urine
Virus hepatitis B (HVB)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


5
Virus hepatitis B Luka terbuka, area tusukan
Darah
Virus HIV jarus setiap kerusakan pada
Staphylococcus aureus permukaan kulit yang utuh
Staphylococcus epidermidis atau membrane mukosa
Staphylococcus aureus
Jaringan
Escherichia coli
Species proteus Drainase dari luka
Streptococcus beta-hemolitik
A atau B

d. Metode Penyebaran
Setelah meninggalkan reservoir, mikroorganisme memerlukan sarana untuk masuk
kedalam tubuh hospes melalui pintu masuk (portal of entry). Secara umum, ada 3
mekanisme penyebaran, yaitu:
1. Pemyebaran langsung. Perpindahan mikroorganisme secara langsung dan segera
dari satu individu ke individu lain melalui sentuhan, gigitan, ciuman, hubungan
seksual, atau bias pula melalui percikan ludah (droplet) pada jarak kurang dari 3 kaki
(mis., virus herpes zoster).

2. Penyebaran tak langsung. Perpindahan mikroorganisme dengan bantuan media


(vehicle-borne transmition) atau vector (vector/borne transmition).
a.) Pennyebaran melalui media. Media di sini adalah setiap substansi atau benda
yang dapat menjadi perantara masuknya mikroorganisme ke dalam hospes yang
rentan. Media tersebut dapat berupa mainan, pakaian kotor, peralatan masak
peralatan bedah, makanan, air, darah, dll. Selain itu, penyebaran juga bisa terjadi
dengan bantuan manusia, seperti tenaga perawat, dokter, ahli terapi, dll.
b.) Pentebaran melalui vector. Vector adalah hewan atau serangga yang bertindak
sebagai perantara penyebaran agen infeksi (mis., tikus, nyamuk). Penyebaran
mikroorganisme dapat berlangsung melalui salaiva atau materi feces.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


6
3. Transmisi Udara
Penyebaran mikroorganisme dapat berlangsung melalui droplet atau debu yang
kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui pintu masuk (portal of entry) yang
seesuai, biasanya saluran pernafasan.

e. Pintu masuk (portal of entry)


Infeksi dapat terjadi setelah mikroorganisme berhasil masuk ke dalam tubuh hospes.
Biasanya, mikroorganisme masuk ke dalam tubuh hospes melalui rute yang sama seperti
saat keluar dari reservoir (mis., melalui luka).

f. Hospes yang rentan


Setiap individu yang beresiko mengalami infeksi. Tingkat resistensi indiviud terhadap
kuman pathogen yang masuk dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu stress
yang berkepanjangan, statys nutrisi yang buruk, kelelahan, usia yang terlalu muda atua
sangat tua, penyakit kronis, pengobatan yang menekan produksi sel darah putih, dll.

1.4 Faktor yang Meningkatkan Kerentanan Terhadap Infeksi


Salah satu faktor yang paling mempengaruhi proses timbulnya infeksi adalah hospes yang
rentan. Kerentanan hospes sendiri dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


7
1. Usia. Bayi baru lahir dan lansia memiliki pertahanan tubuh rendah terhadap infeksi. Bayi
baru lahir memiliki system imun yang imatur dan hanya dilindungi oleh immunoglobulin
pasif (IgG) yang diperoleh dari ibu pada 2 sampai 3 bulan pertama kehidupannya.
Sedangkan lansia mengalami kelemahan system imun akibat proses penuaan.

2. Hereditas. Pada sebagian orang, faktor hereditas berpengaruh terhadap perkembangan


infeksi. Kelainan bawaan berupa rendahnya immunoglobulin serum menyebabkan
periode jfkskjseorang rentan terhadap jenis infeksi tertentu.

3. Status imunisasi. Lengkap tidaknya status imunisasi seseorang berpengaruh terhadap


perkembangan infeksi.

4. Terapi yang dijalani. Sejumlah terapi medis dapatmenyebabkan infeksi pada pasien.
Sebagai contoh, terapi radiasi atau kemoterapi tidak hanya bekerja menghancurkan sel
kanker, tetapi juga sel yang normal. Akibatnya individu semakin rentan terhadap infeksi.

5. Status nutrisi. Kekebalan tubuh terhdap infeksi bergantung pada status nutrisi yang baik.
Karena antibody merupakan protein, maka status nutrisi yang buruk dapat mengganggu
kemampuan tubuh menyintesis antibody.

6. Kelelahan. Kondisi lelah dapat menurunkan daya tanhan tubuh. Akibatnya, individu
akan semakin rentan terhadap infeksi.

7. Stress. Kondisi stress menyebabkan penignkatan kadar kortison dalam darah.


Peningkatan kortison dalam waktu lama dapat menyebabkan penurunan respon anti-
inflamasi, kelelahan, dan penurunan daya tahan tubuh.

1.5 Faktor Yang Memengaruhi Proses Infeksi


Faktor-faktor yang memengaruhi proses infeksi adalah:
1.) Sumber Penyakit. Sumber penyakit dapat memengaruhi apakah infeksi berjalan
dengan cepat atau lambat.
2.) Kuman Penyebab. Kuman penyebab dapat menentukan jumlah mikroorganisme,
kemanapun mikrooganisme masuk ke dalam tubuh, dan virulensinya.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


8
3.) Cara Membebaskan Sumber dari Kuman. Cara membebaskan kuman dapat
menentukan apakah proses infeksi cepat teratasi atau diperlambat, seperti tingkat
keasaman (pH), suhu, penyinaran (cahaya), dan lain-lain.
4.) Cara Penularan. Cara penularan seperti kontak langsung, melalui makanan atau udara,
dapat menyebabkan penyebaran kuman ke dalam tubuh.
5.) Cara Masuknya Kuman. Proses penyebaran kuman berbeda, tergantung dari sifatnya.
Kuman dapat masuk melalui saluran pernapasan, saluran pencernaan, kulit, dan lain-
lain.
6.) Daya Tahan Tubuh. Daya tahan tubuh yang baik dapat memperlambat proses
penyembuhan. Demikian pula sebaliknya, daya tubuh yang buruk dapat memperburuk
proses infeksi.

Selain faktor-faktor di atas, terdapat faktor lain seperti status gizi atau nutrisi, tingkat
stres pada tubuh, faktor usia, dan kebiasaan yang tidak sehat.

1.6 Tahapan Proses Infeksi


a. Periode Inkubasi
Periode sejak masuknya kuman ke dalam tubuh sampai dengan munculnya
gejala. Lamanya waktu yang dibutuhkan sampai gejala muncul bervariasi, bergantung
pada penyakitnya (Bustan, 1997).

b. Periode Prodromal
Periode sejak munculnya gejala umum sampai munculnya gejala spesifik. Pada
masa ini, individu sangat infeksius, yaitu mudah menularkan atau menyebarkan kuman
kepada orang lain.

c. Periode Sakit
Pada periode ini, gejala spesifik terus berkembang dan menimbulkan
manifestasi pada organ yang terinfeksi dan seluruh tubuh. Lamanya waktu yang
dibutuhkan sesuai dengan kondisi individu dan pathogenitas kuman.

d. Periode Konvalensi
Periode ini berlangsung sejak menurunnya gejala sampai individu kembali
sehat. Lamanya waktu yang dibutuhkan tergantung pada jenis penyakit dan kondisi
individu.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


9
B. Infeksi Nosokomial
infeksi yang terjadi di rumah sakit berasal dari fasilitas rumah sakit atau tenaga kesehatan
atau pasien lain. Infeksi ini dapat terjadi saat pasien dirawat di rumah sakit atau setelah pasien
pulang. Sumber-sumber infeksi antaralain:
a.) Klien. Menyebarkan kuman penyakit ke klien lain, tenaga kesehatan, petugas rumah
sakit, pengunjung, dan ke benda atau alat-alat rumah sakit.
b.) Petugas atau perawat. Dapat berkontaminasi kuman penyakit daro satu pasien dan
menyebarkannya ke pasien lain, tenaga kesehatan lain, pengunjung, dan alat-alat rumah
sakit.
c.) Pengunjung. Terkontaminasi kuman penyakit dari lingkungan luar atau dapat pula
bertindak sebagai pembawa (carrier). Pengunjung dapat menyebarkan kuman ke klien
dan lingkungan rumah sakit.
d.) Sumber lain. Dapat berupa lingkungan rumah sakit yang kurang bersih, peralatan rumah
sakit yang tidak bersih atau steril, peralatan/arang milik klien yang di bawa dari rumah,
dll. Kuman penyakit dapat menyebar ke klien, pengunjung, dan petugas kesehatan. Faktor
pendukung terjadinya infeksi nosocomial antaralain terapi medis, kurangnya kebiasaan
cuci tangan, dan rendahnya daya tahan tubuh.

2.1 Mekanisme Pertahanan Tubuh Terhadap Infeksi


Normalnya, individu memiliki mekanisme pertahanan yang akan melinungi tubuh dari
infeksi. Mekanisme pertahanan tubuh tersebut digolongkan menjadi pertahanan non spesifik
dan pertahanan spesifik.
a.) Non spesifik
Mekanisme pertahanan ini meliputi barrier anatomis dana fisiologis serta respon
inflamasi.
1.) Barrier anatomis dan fisiologis
Kulit dan membrane mukosa yang utuh merupakan garis pertahanan pertama
terhadap mikroorganisme. Bakteri residen yang terdapat pada kulit dapat mencegah
perkembangan baktri lainnya. Selain itu, sekresi normal yang bersifat asam pada
kulit dapat mencegah pertumbuhan bakteri. Normalnya, setiap orifisium pada tubuh
memiliki mekanisme pertahanan yang berbeda dalam menghadapi kuman penyakit.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


10
2.) Respon inflamasi
Suatu respon pertahanan yang sifatnya local dan non spesifik terhadap agen
infeksius atau agen penyebab cedera. Respon ini dicirikan dengan 5 tanda, yaitu
nyeri, bengkak, kemerahan, panas, dan kerusakan fungsi pada bagian tersebut. Agen
penyebab cedera sendiri dikategorikan menjadi agen fisik (panas, dingin, radiasi),
agen kimia (asam kuat, basa, racun), dan mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, dan
parasite). Secara umu, respon inflamasi terbagi atas 3 tahap, yaitu respon vaspular
dan seluler, produksi eksudat, dan fase perbaikan.

b.) Spesifik (imun)


Pertahanan tubuh yang spesifik terhadap kuman penyakit berlangsung melalui system
imun. Secara umum, respon imun terdiri atas 2 komponen, yakni system pertahanan
termediasi antibody (imunitas humoral) dan system pertahanan termediasi sel
(imunitasselular).
1.) Imunitas humoral
Terdapat di limfosit B dan di perantai oleh antibody yang di produksi oleh sel
B. respon pertahanan ini utamany melawan fase ekstra seluler dari infeksi bakteri
dan infeksi virus. Ada 2 jenis imunitas utam, yaitu imunitas akrtiv dan pasif. Pada
imunitas aktif hospes memproduksi antibody sebagai respon terhadap anti gen alami
(mis., mikroorganisme infeksius) atau antigen buatan (mis., vaksin). Sedangkan pada
imunitas pasif, hospes menerima antibody alami (mis., dari ibu) atau buatan (mis.,
dari injeksi serum imun) yang dihasilkan dari sumber lain.

2.) Imunitas selular


Berlangsung melalui system sel T. saat terpajan anti gen, jaringan limfoid
melepaskan sejumlah besar sel T teraktivasi ke dalam system limfe yang kemudian
akan di lepaskan ke sirkulasi umum. Ada 3 kelompok besar sel T, yaitu:
 Sel T Helper
 Sel T Sitotoksik
 Sel T Supresor

Jika imunitas termediasi- sel hilang, misalnya pada kasus infeksi HIV, individu
akan rentan terhadap sebagian besar infeksi virus, baktri, dan jamur.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


11
Jenis Imunitas

Jenis Sumber Antigen atau Durasi


Antibodi

1. Aktif Antibody di produksi oleh Jangka panjang


tubuh sebagai respon
terhadap antigen.

Antibodi dibentuk karena

a. Alami adanya infeksi aktif dalam Seumur hidup


tubuh.

Antigen (vaksin atau


b. Buatan toksoid) untuk Beberapa tahun; imunitas
diberikan
menstimulasi pembentukan harus diperkuat dengan
antibody. booster.

2. Pasif Antibody di produksi oleh Jangka pendek


sumber lain, hewan atau
manusia.

Antibody diberikan secara

a. Alami alami dari ibu ke bayi nya 6 bulan sampai 1 tahun


melalui plasenta atau di
dalam kolostrum.

b. Buatan Injeksi serum imun dari 2 sampai 3 minggu

hewan atau manusia lain.

2.2 Upaya Pencegahan Infeksi


Untuk mencegah penyebaran dan perluasan infeksi, penting sekali agar kita memutus mata
rantainya. Secara umum, upaya pencegahan infeksi dan pemeliharaan kesehatan dilakukan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


12
melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitative. Kegiatan promotif dapat
berupa penyuluhan kesehatan, perbaikan gizi, pemeliharaan kebersihan lingkungan, hygiene
personal, dan perhatian khusus terhadap penyakit (Notoatmojo, 2003). Salah satu upaya
terpenting dalam mencegah infeksi adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh melalui
kegiatan imunisasi secara umum, tanggung jawab perawat dalam pencegahan infeksi antara
lain:
 Mendidik individu agar terhindar dari infeksi dengan:
a.) Memperkuat daya tahan tubuh melalui upaya imunisasi, perbaikan nutrisi, istirahat
dan tidur yang seimbang, menghindari stress.
b.) Mendorong individu untuk melakukan hygiene personal dengan membiasakan diri
mencuci tangan dan mandi secara teratur.
 Membiasakan diri mencuci tangan. Mencuci tangan merupakan salah satu upaya paling
efektif dalam mengontrol infeksi. Tujuannya adalah untuk membunuh mikroorganisme
yang terdapat pada tangan yang mungkin dapat berpindah ke klien, pengunjung,
peralatan, dan tenaga kesehatan lain.
 Mencegah penyebaran kuman penyakit melalui tindakan desinfeksi dan sterilisasi
peralatan rumah sakit.

Waktu mencuci tangan bagi perawat:


 Sebelum dan sesudah kontak dengan klien
 Awal dan akhir dari perawatan persalinan bagi pasien di
ruang maternitas
 Sebelum menyediakan makanan dan menyuapi
 Setelah menyentuh alat yang terkontaminasi
 Sebelum menyiapkan obat
 Sebelum memegang alat steril

C. Sterilisasi Dan Desinfeksi

3.1 Sterilisasi
Sterilisasi merupakan upaya pembunuhan atau penghancur semua bentuk kehidupan
mikroba yang dilakukan di rumah sakit melalui proses fisik maupun kimiawi. Sterilisasi juga

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


13
dikatakan sebagai tindakan untuk membunuh kuman patogen atau apatogen beserta spora yang
terdapat pada alat perawatan atau kedokteran dengan cara merebus, stoom, menggunakan panas
tinggi, atau bahan kimia. Jenis sterilisasi antara lain. Sterilisasi cepat, sterilisasi panas-kering,
sterilisasi gas atau (formalin H2O2), dan radiasi ionisasi.
Hal-Hal yang perlu diperhatikan pada sterilisasi, di antaranya:
 Sterilisator ( alat untuk mensteril) harus siap pakai, bersih, dan masih berfungsi.
 Peralatan yang akan disterilisasi harus dibungkus dan diberi label yang jelas dengan
menyebutkan jenis peralatan, jumlah, dan tanggal pelaksanaan sterilisasi.
 Penataan alat harus berprinsip bahwa semua bagian dapat steril.
 Tidak boleh menambah peralatan dalam sterilisator sebelum waktu mensteril selesai
 Memindahkan alat steril ke dalam tempatnya dengan korentang steril
 Saat mendinginkan alat steril tidak boleh membuka pembungkusnya, bila terbuka harus
dilakukan sterilisasi ulang.

3.2 Desinfeksi
Desinfeksi adalah proses pembuangan semua mikroorganisme patogen pada objek yang
tidak hidup dengan pengecualian pada endospora bakteri. Desinfeksi juga dikatakan suatu
tindakan yang dilakukan untuk membunuh kuman patogen dan apatogen tetapi tidak dengan
membunuh spora yang terdapat pada alat prawatan ataupun kedoktran. Desinfeksi dilakukan
bahan dsinfektan melalui cara mencuci, mengoles, merendam, dan menjemur dengan tujuan
mencegah terjadinya infeksi dan mengondisikan alat dalam keadaan siap pakai.

Kemampuan desinfeksi ditentukan oleh waktu sebelum pembersihan objek, kandungan


zat organik, tipe dan tingkat kontaminasi mikroba, konsentrasi dan waktu pemaparan,
kealamian objek, suhu, dan derajat keasaman (pH).

3.3 Pencegahan Infeksi


Di masa lalu, fokus utama penanganan masalah infeksi dalam playanan kesehatan adalah
mencegah infeksi, meskipun infeksi serius pascabedah masih merupakan masalah di beberapa
negara, terutama dengan munculnya penyakit Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
dan Hepatitis B yang belum ditemukan obatnya. Saat ini, perhatian utama ditunjukan untuk
mengurangi risiko perpindahan penyakit, tidak hanya terhadap pasien, tetapi juga kepada
pemberian pelayanan kesehatan dan karyawan, termasuk perkarya, yaitu orang yang bertugas
membersihkan dan merawat ruang bedah.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


14
3.4 Tindakan Pencegahan Infeksi
Beberapa tindakan pencegahan infeksi yang dapat dilakukan adalah:
1.) Aseptik, yaitu tindakan yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan. Istilah ini dipakai
untuk menggambarkan semua usaha yang dilakukan untuk mencegah masuknya
mikroorganisme ke dalam tubuh yang kemungkinan besar akan mengakibatkan infeksi.
Tujuan akhirnya adalah mengurangi atau menghilangkan jumlah mikroorganisme, baik
pada prmukaan benda hidup maupun benda mati agar alat-alat kesehatan dapat dengan
aman digunakan.

2.) Antiseptik, yaitu upaya pencegahan infeksi dengan cara membunuh atau menghambat
pertumbuhan mikroorganisme pada kulit dan jaringan tubuh lainnya.

3.) Dekontaminasi, tindakan yang dilakukan agar benda mati dapat ditangani oleh petugas
kesehatan secara aman, terutama petugas pembersihan medis sebelum pencucian
dilakukan. Contohnya adalah meja pemeriksaan, alat-alat keshatan, dan sarung tangan
yang terkontaminasi oleh darah atau cairan tubuh disaat prosedur bedah/tindakan
dilakukan.

4.) Pencucian, yaitu tindakan menghilangkan semua darah, cairan tubuh, atau setiap benda
asing seperti debu dan kotoran.

5.) Sterilisasi, yaitu tindakan menghilangkan semua mikroorganisme ( bakteri, jamur,


parasit, dan virus) termasuk bakteri endospora dari benda mati.

6.) Desinfeksi, yaitu tindakan menghilangkan sebagian besar (tidak semua)


mikroorganisme penyebab penyakit dari benda mati. Desinfeksi tingkat tinggi
dilakukan dengan merebus atau menggunakan larutan kimia. Tindakan ini dapat
menghilangkan semua mikroorganisme, kecuali beberapa bakteri endospora.

3.5 Pedoman Pencegahan Infeksi


Cara efektif untuk mencegah penyebaran penyakit dari orang ke orang atau dari peralatan
ke orang dapat dilakukan dengan meletakan penghalang diantara mikroorganisme dan individu
(pasien atau petugas kesehatan). Penghalang ini dapat berupa fisik, mekanik, ataupun kimia,
meliputi:

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


15
1. Pencucian tangan.
2. Penggunaan sarung tangan (kedua tangan), baik pada saat melakukan tindakan, maupun
saat memegang benda yang terkontaminasi (alat kesehatan/alat tenun bekas pakai).
3. Penggunaan cairan antiseptik untuk membersihkan luka pada kulit.
4. Pemrosesan alat bekas pakai (dekontaminasi, cuci dan bilas, desinfeksi tingkat tinggi atau
sterilisasi).
5. Pembuangan sampah.

D. Konsep Dasar Keselamatan dan Keamanan


Konsep ini terkait dengan kemampuan seseorang dalam menghindari bahaya, yang
ditentukan oleh pengetahuan dan kesadaran serta motivasi orang tersebut untuk melakukan
itndakan pencegahan. Ada tiga faktor penting yang terkait dengan keselamatan dan keamanan,
yaitu tingkat pengetahuan dan kesadaran individu, kemampuan fisik dan mental dalam
mepraktikkan upaya pencegahan, serta lingkungan fisik yang membahayaka atau berpotensi
menimbulkan bahaya (Nency Roper, 2002). Pemenuhan kebutuhan keamanan dan keselamatan
bertujuan melindungi tubuh agar tebebas dari bahaya kecelakaan, baik paddda klien, petugas
kesehatan atau individu yang terlibat dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut (Taylor dkk,
1996).

4.1 Asuhan Keperawatan pada Masalah Keselamatan dan Keamanan Kerja


1.) Pengkajian Keperawatan
Merupakan tindakan mengkaji ada atau tindakannya faktor yang memengaruhi atau
menyebabkan infeksi, seperti penurunan daya tahan tubuh, status nutrisi, usia, stres, dan
lain-lain. Pengkajian selanjutnya adalah memeriksa ada atau tidaknya tanda klinik infeksi
(seperti pembengkakan, kemerahan, panas, nyeri pada daerah lokalisasi infeksi) dan tanda
sistemik (seperti demam, malaise, anoreksia, sakit kepala, muntah, atau diare).

2.) Diagnosis Keperawatan


Hal yang perlu diperhatikan adalah risiko terjadinya infeksi yang berhubungan dengan
proses penyebaran kuman.

3.) Perencanaan Keperawatan


Tujuan:
 Mencegah terjadinyafeksi atau penyebaran kuman.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


16
Rencana Tindakan:
 Melakukan tindakan untuk menghambat penyebaran kuman, seperti mencuci
tangan, memakai masker, memakai sarung tangan, sterilisasi, dan desinfeksi.

4.2 Pelaksanaan (Tindakan) Keperawatan


1.) Cara Mencuci Tangan
Mencuci kedua tangan merupakan prosedur awal yang dilakukan perawatan dalam
memberikan tindakan keperawatan yang bertujuan membersihkan tangan dari segala
kotoran, mencegah terjadinya infeksi silang melalui tangan, memersiapkan bedah atau
tindakan pembedahan.
a. Teknik Mencuci Biasa
Alat dan Bahan:
1. Air bersih
2. Handuk
3. Sabun
4. Sikat lunak

Prosedur Kerja:

1. Lepaskan segala benda yang melekat pada daerah tangan, seperti cincin atau
jam tangan.
2. Basahi jari tangan, lengan, hingga siku dengan air, kemudian sabuni dan sikat
bila perlu.
3. Bilas dengan air bersih yang mengalir dan keringkan dengan handuk atau lap
keringkan.

b. Teknik Mencuci dengan Disinfektan


Alat dan Bahan:
1. Air bersih
2. Larutan disinfektan lisol/savlon
3. Handuk/lap kering

Prosedur Kerja:

1. Lepaskan segala benda yang melekat pada daerah tangan, seperti cincin atau
jam tangan.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


17
2. Basahi jari tangan, lengan, hingga siku dengan air, kemudian gosokkan larutan
desinfektan (lisol atau savlon) dan sikat bila perlu.
3. Bilas dengan air bersih yang mengalir dan keringkan dengan handuk atau lap
kering.

c. Teknik Mencuci Steril


Alat dan Bahan:
1. Air mengalir
2. Sikat steril dalam tempat
3. Alkohol 70%
4. Sabun

Prosedur Kerja:

1. Lepaskan segala benda yang melekat pada daerah tangan, seperti cincin atau
jam tangan.
2. Bahasi jari tangan, lengan, hingga siku dengan air, kemudian tuang sabun (2-5
ml) ke tangan dan gosokkan tangan serta lengan sampai 5cm diatas siku,
kemudian sikat ujung jari, tangan,lengan ,dan kuku sebanyak kurang lebih 15
kali gosokan, sedangkan telapak tangan 10 kali gosokan hingga siku.
3. Bilas dengan air bersih yang mengalir.
4. Setelah selesai tangan tetap diarahkan keatas.
5. Gunakan sarung tangan steril.

2.) Cara Menggunakan Sarung Tangan


Sarung tangan digunakan dalam melakukan prosedur tindakan keperawatan dengan
tujuan mencegah terjadinya penularan kuman dan mengurangi risiko tertularnya penyakit.
Alat dan Bahan:
1. Sarung tangan
2. Bedak/talk

Prosedur Kerja:

1. Cuci tangan secara menyeluruh.


2. Bila sarung tangan belum dibedaki, ambil sebungkus bedak, dan tuangkan sedikit.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


18
3. Pegang tepi sarung tangan dan masukan jari-jari tangan, pastikan ibu jari dan jari-
jari lain tepat pada posisinya.
4. Ulangi pada tangan kiri.
5. Setelah terpasang, cakupkan kedua tangan.

3.) Cara Menggunakan Masker


Tindakan pengamanan dengan menutup hidung dan mulut menggunakan masker
bertujuan mencegah atau mengurangi transmisi droples mikroorganisme saat merawat
pasien.
Alat dan Bahan:
 Masker

Prosedur Kerja:

1. Tentukan tepi atas dan bawah bagian masker.


2. Pegang kedua tali masker.
3. Ikatan pertama, bagian atas berada pada kepala, sedangkan ikatan kedua berada pada
bagian belakang leher.

4.) Cara Memakai Skort isolasi


suatu tindakan menggunakan pakaian khusus dalam merawat pasien isolasi guna
menghindari penyebaran dan penularan penyakit.
Tujuan :
 Mencegah terjadinya kontaminasi dari perawat dan sebagai proteksi bagi perawat.
 Mencegah pindahnya mikroorganisme dari perawat (teknik pertahanan).
 Mencegah infeksi nosokomial pada pasien

Prosedur pelaksanaan:

NO TAHAP PELAKSANAAN TINDAKAN

1 Mencuci tangan
2 Mengambil skort

3 Pegang pada bagian bahu sebelah dalam kemudian kedua tangan di


masukan bersama-sama

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


19
4 dan tali diikatkan pada pinggang bagian belakang dengan
membentuk simpul sederhana agar mudah melepasnya
5 Jika sudah selesai melakukan tindakan keperawatan, skort dilepas
dan bagian luarnya di lipat kedalam (dibalik)_
6 Setelah itu lalu cuci tangan kembali agar terhindar dari kontaminasi
kotoran

5.) Cara Desinfeksi


a. Cara Desinfeksi dengan Mencuci
Prosedur Kerja:
1. Cucilah tangan dengan sabun sabun lalu bersihkan, kemudian siram atau
membasahi dengan alkohol 70%
2. Cucilah luka dengan H2O2, betadine, atau larutan lainnya.
3. Cucilah kulit/jaringan tubuh yang akan dioperasi dengan yodium tinktur 3%,
kemudian dengan alkohol.
4. Cucilah vulva dengan larutan sublimat atau larutan sejenisnya.

b. Cara Desinfeksi dengan Mengoleskan


Prosedur Kerja:
 Olehkan luka dengan merkurokrom atau bekas luka jahitan menggunakan
alkohol atau betadine.

c. Cara Desinfeksi dengan Merendam


Prosedur kerja:
1. Rendamlah tangan dengan larutan lisol 0,5%.
2. Rendamlah peralatan dengan larutan lisol 3-5% selama 2jam.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


20
3. Rendamlah alat tenun dengan lisol 3-5% kurang lebih 24jam.

d. Cara Desinfeksi dengan Menjemur


Prosedur Kerja:
 Jemurlah kasur, tempat tidur, urinal, pispot, dan lain-lain; masing-masing
permukaan selama 2 jam.

6.) Cara Membuat Larutan Desinfeksi


a. Sabun
Alat/Bahan:
1. Sabun padat/krim/cair
2. Gelas ukur
3. Timbangan
4. Sendok makan
5. Alat pengocok
6. Air panas/hangat dalam tempatnya
7. Baskom

Prosedur Kerja:

1. Masukan 4 gram sabun padat atau krim ke dalam 1 liter air panas/hangat
kemudian diaduk sampai larut.
2. Masukkan 3cc sabun cair kedalam 1 liter air panas/hangat kemudian diaduk
sampai larut.
Larutan ini dapat digunakan untuk mencuci tangan atau peralatan medis.

b. Lisol dan Kreolin


Alat/Bahan:
1. Larutan lisol/kreolin
2. Gelas ukuran
3. Baskom berisi air

Prosedur Kerja:

1. Masukkan larutan lisol/kreolin 0,5% sebanyak 5cc ke dalam 1 liter air.


Larutan ini dapat didapatkan untuk mencuci tangan.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


21
2. Masukkan larutan lisol/kreolin 2% sebanyak 20cc atau larutan lisol/kreolin
3% sebanyak 30cc kedalam 1liter air. Larutan ini dapat digunakan untuk
merendam peralatan medis.

c. Savlon
Alat/Bahan:
1. Savlon
2. Gelas ukuran
3. Baskom berisi air secukupnya

Prosedur Kerja:

1. Masukkan larutan savlon 0,5% sebanyak 5cc kedalam 1 liter air.


2. Masukkan larutan savlon 1% sebanyak 10cc ke dalam 1 liter air.

7.) Cara Sterilisasi


Beberapa alat yang perlu disterilisasi:
1. Peralatan logam (pinset, gunting, spekulum, dan lain-lain).
2. Peralatan kaca (semprit, tabung kimia, dan lain-lain).
3. Peralatan karet (kateter, sarung tangan, pipa lambung, drain, dan lain-lain).
4. Peralatan ebonit (kanule rektum, kanula trakea, dan lain-lain).
5. Peralatan email (bengkok, baskom, dan lain-lain).
6. Peralatan porselin (mangkok, cangkir, piring, dan lain-lain).
7. Peralatan plastik (selang infus, dan lain-lain).
8. Peralatan tenunan (kain kasa, tampon, doek baju, sprei, dan lain-lain).

Prosedur Kerja:

1. Bersihkan peralatan yang akan disterilisasi.


2. Peralatan yang dibungkus harus diberilabel (nama, jenis obat, dan tanggal serta
jam sterilisasi).

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


22
3. Masukkan kedalam sterilisator dan hidupkan sterilisator seusi dengan waktu yang
ditentukan.
4. Cara sterilisasi:
 Sterilisasi dengan merebus dalam air mendidih sampai 100 derajat celcius
(15-20 menit) untuk logam, kaca, dan karet.
 Sterilisasi dengan stoom menggunakan uap panas di dalam autoklaf dengan
waktu,suhu, tekanan tertentu untuk alat tenun.
 Sterilisasi dengan panas kering menggunakan oven panas tinggi (logam
tajam, dan lain-lain).
 Sterilisasi dengan bahan kimia menggunakan bahan kimia seperti alkohol,
subimat, uap formalin, sarung tangan, dan kateter.

4.3 Evaluasi Keperawatan


Evaluasi terhadap masalah risiko infeksi (penyebaran kuman) secara umum dilakukan
untuk menilai ada atau tidaknya tanda infeksi nosokomial seperti penyebaran kuman ke pasien
atau orang lain.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


23
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Proses keperawatan terhadap infeksi yaitu pengkajian keperawatan, diagnosis
keperawatan, perencanaan tindakan keperawatan, pelaksanaaan keperawatan dan evaluasi
keperawatan. Dalam pelaksanaan keperawatan terhadap infeksi seperti dengan mencuci
tangan, menggunakan sarung tangan, menggunakan masker, dan desinfeksi.

B. Saran
Setelah seorang perawat mendapatkan ilmu mengenai pengendalian infeksi ini,
Sebaiknya sebagai seorang perawat dapat mengetahui bagaimana cara mencegah infeksi
agar tidak terjadi penularan, dan perawat diharapkan juga dapat menanggulangi penyakit
infeksi tersebut dengan intensif.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI


24
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENGENDALIAN INFEKSI
25