You are on page 1of 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Rheumatoid Artritis (RA) adalah reaksi autoimun di jaringan sinovial yang
mengakibatkan proses fagositosis yang menyebabkan peradangan kronis pada sendi-sendi.
Penyebab rheumatoid artritis belum diketahuin namun autoimunitas berperan penting dalam
kronisitas dan proses penyakit tersebut. Sekitar 01% populasi dipengaruhi oleh rheumatoid
artritis, wanita lebih berpeluang terkena rheumatoid artritis dibandingkan pria. Rheumatoid
Artritis menyebabkan cacat fungsional.
Artritis Rheumatoid merupakan penyakit inflasi sistemik yang yang menyerang
persendian serta otot-otot, tendon, ligamen, dan pembuluh darah yang berada di sekitar sendi.
Menurut Arthritis Foundation (2015), sebanyak 22% atau lebih dari 50 juta orang dewasa di
Amerika Serikat berusia 18 tahun atau lebih didiagnosa arthritis. Dari data tersebut, sekitar 3%
atau 1,5 juta orang dewasa mengalami RA (Arthritis Foundation, 2015). RA terjadi pada 0,5-
1% populasi orang dewasa di negara maju (Choy, 2012). Prevalensi RA di Indonesia menurut
hasil penelitian yang dilakukan oleh Nainggolan (2010), jumlah penderita RA di Indonesia
tahun 2009 adalah 23,6% sampai 31,3%.
Oleh karena itu penulis membuat makalah mengenai Rheumatoid Artritis agar penyakit
tersebut dapat degan cepat dikenali dan diatasi.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas kami merumuskan masalah:
1. Apa itu rheumatoid artritis?
2. Bagaimana anatomi dan fisiologi rheumatoid artritis?
3. Apa penyebab dari rheumatoid aratritis?
4. Bagaimana patofisiologi dari rheumatoid artritis?
5. Apa tanda dan gejala dari rheumatoid artritis?
6. Apa penatalaksanaan medis yang dilakukan tenaga kesehatan pada pasien dengan
penyakit rheumatoid artritis?
7. Komplikasi apa yang terjadi pada rheumatoid artritis?

1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui definisi dari penyakit rheumatoid artritis.
2. Untuk mengetahui lokasi dan pengobatan rheumatoid artritis.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab rheumatoid artritis.
4. Untuk mengetahui jalannya penyakit rheumatoid artritis.
5. Untuk mengetahui ciri-ciri pasien dengan penyakit rheumatoid artritis.
6. Untuk mengetahui pemeriksaan serta penatalaksanaan yang dapat dilakukan tenaga
medis.
7. Untuk mengetahui dampak jangka panjang dari rheumatoid artritis.

Commented [ABA1]: Daftar Pustaka? Rhematouid Artritis juga merupakan kelainan multisistem yang etiologinya belum diketahui secara pasti dan dikarakteristikkan dengan destruksi sinovitis (Helmick. 2008). ankilosis. Kesimpulan kelompok 2. misalnya: . sendi tulang rawan.2. 2. dan sendi sinovial.1 Pengertian Rhematoid Artritis merupakan penyakit inflamasi sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya. 2. dan deformitas (Kushariyadi.1 Anatomi Terdapat tiga sendi utama dalam tubuh sendi manusia yaitu sendi yang fibrus.1 Sendi fibrus Sendi fibrus adalah sendi yang tidak dapat bergerak atau merekat ikat.2 Anatomi dan Fisiologi Sendi Gambar 2. BAB II LANDASAN TEORI 2.2 Sendi tulang rawan Sendi tulang rawan adalah sendi dengan gerakan sedikit dan permukaan persendiannya dipisahkan bahan-bahan dan hanya mungkin sedikit gerakan. dikarakteristikkan oleh kerusakan dan poliferasi membran sinovial yang menyebabkan kerusakan pada sendi. maka tidak terjadi gerakan akan tulang-tulangnya.2. Commented [ABA2]: Daftar Pustaka? Penyakit ini merupakan peradangan sistemik yang paling umum ditandai dengan keterlibatan sendi yang simetris (Dipiro. 2010). 2012). 2008) dan merupakan kelainan autoimun yang menyebabkan inflamasi sendi yang berlangsung kronik dan mengenai lebih dari lima sendi (poliartritis) (Pradana.

Rongga terbungkus sebuah kapsul jaringan fibrus yang biasanya diperkuat ligamen. 5. 3. Sendi dapat bergerak bebas. 2. Sendi datar atau sendi geser Dua permukaan datar tulang saling meluncur. sehingga pleksi dan ekstensi. sedangkan ujung-ujung tulang dipisahkan sebuah bantalan tuang rawan fibrotik. yaitu: 1.Sendi kondiloid Sendi ini mirip seperti sendi engsel. contohnya sedi panggul dan sedi badhu. Sendi ini mempunyai permukaan yang datar sehingga memungkinkan tulang saling bergeser satu sama lain. 2. seperti gerakan engsel. Semua mempunyai ciri yang sama. contohnya sendi karpus dan tarsus.2.Sendi engsel Sendi ini merupakan satu permukaan bundar diterima yang lain sedemikian rupa sehingga hanya mungkin gerakan dalam satu bidang. juga kesamping dan ketengah.  Sendi Temporet (Sementara) atau sendi tulang rawan primer dijumpai antara diafisis dan epifisis tulang-tulang pipa sebelum pertumbuhan penuhnya sempurna 2. yaitu ke belakang dan ke depan. seperti bola di salam lubang yang berbentuk cawan. tetapi dapat bisa bergerak dalam dua bidang lateral.Sendi berporos . Permukaan sendi dilumasi oleh cairan kental (cairan sinovial) dan dilapisi oleh lapisan tipis rawan hialin yang dipisahkan rongga sendi. Sendi sinovial dibagi menjadi enam jenis. sedikit sirkumduksi. 4. Terdapat bantalan lemak yang terletak diantara membran sinovial dan kapsula fibrosa. yang mengijinkan gerakan ke segala jurusan. Simfisis pubis yang menjadi sebuah bantalan tulang rawan yang mempersatukan kedua tulang pubis. 4. Sendi ini adalah persendian yang bergerak bebas dan terdapat banyak ragamnya.simpisis adalah istilah yang digunakan untuk melukiskan sebuah persendian yang hanya bergerak sedikit. seperti pada pergelangan tangan tetapi bukan rotasi (perputaran). 3. Contohnya sendi siku. Sendi putar Sendi putar sebagai tempat sebuah ujung bulat tepat masuk di dalam sebuah rongga cawan tulang lain. sehingga abduksi dan aduksi.3 Sendi Sinovial atau diartroses. Ciri-ciri sendi sinovial adalah : 1.

seperti gerakan pada kepala. merupakan sendi peluru karena kaput humeri merupakan sebuah bola yang melekat pada bagian dalam bidang skapula dengan kaput humeri. Humeroulnais. misalnya rotasi radius mengelilingi ulna. Aduksi dan abduksi memutari sumbu yang memanjang dalam arah anteroposterior (dari depan ke belakang). 6. Sendi pergelangan bahu  Art stermoklavikular : hubungan antara gelang bahu dan batang badan. 2. misalnya fleksi. Sendi ini merupakan hubungan antara ekstremitas akrominalis dan klavikula. sebelah atas berhubungan dengan klavikula dan sebelah bawah dengan sternum. contohnya sendi antara trapezium (multdangulum mayus) dan tulang metakarpal pertama ibu jari. yaitu gerakan yang mengitari tulang lain atau di dalam tulang lain. abduksi (menjauh ke arah medial badan). memungkinkan ibu jari berhadapan dengan jari-jari lainnya. 3. Kedua permukaan sendi mempunyai bidang pertemuan yang . atau penguluran). b. Terdapat persendian menurut tempatnya : 1. yang diterangkan sesuai dengan arah gerakan. Humeri. seperti pada sendi putar.  Art. Sendi antar trokhlea humeri dan insisura semilunaris ulnae. Akromioklavikular. Gerakan rotasi. aduksi (gerakan kea rah medial badan).  Art. Gerakan meluncur. yaitu: 1.Sendi pelana Sendi ini sama dengan sendi yang timbal-balik menirima. Gerakan yang terjadi pada sendi-sendi dapat dibagi dalam tiga kelompok utama. Sendi siku (artikulasio kubiti)  Art. Sendi anggota gerak atas a. Sendi ini sering disebut sendi putar yaitu yang hanya mungkin sebagai perputaran. yaitu tempat dua permukaan ceper bergerak saling bergeseran. ekstensi (pelurusan. seperti dalam gerakan antara tulang-tulang karpal dan tarsal. antara pars sternalis klavikula dan manubrium sterni rawan iga I. lenturan atau pelipatan. Gerakan bersudut (anguler). contoh lainnya yaitu gereakan radius sekitar ulna waktu berputar kedepan (pronasi) dan berputar kebelakang (supinasi) lengan bawah. tempat atlas yang berbentuk cincin berputar sekitar prosesus yang berbentuk paku dari aksis (servikal kedua atau epistrofeus). memberi banyak kebebasan bergerdak.

c. hubungan antara os metakarpal I dan os multangulum mayus (merupakan sendi pelana) sampai sendi sangat longgar sehingga pergerkan lebih luas. 3. Karpometakarpal. simfisis pubis. Humeroradialis sendi antara kapitulum humeri dengan fovea kapitulum radii. Art. artikulasi dua bagian tulang karpal satu sama lain. Art. Sendi ini merupakan hubungan yang berhubungan dengan gelang panggul dan rangka badan yang identik dengan artikulasi sternoklavikularis. Radiokarpal. Persendia antara tibia dan fibula: . Radioulnaris roksimal. terlebar pada sikap lengan yang sedikit diketulkan sehingga merupakan sikap terbaik bagi lengan untuk menerima tumpuan lengan. Karpometakarpae I. Lunatung dan triquitrum merupakan kepala sendi yang terletak di sebelah distal. Di dalamnya ada suatu kavum berupa kartilago (pseudokruris/fibrokartilago interpubis). 2. Hubungan antara kedua os pubis. Art. Sendi lengan bawah dan tangan  Art. b. Artikulasio genu menghubungkan permukaan ujung tulang distal os femur dan permukaan ujung proksimal tibia yaitu antara kondilus medialis dan lateralis ossis femur dan fascies artikularis superior ossis tibia. terdiri dari dua bagian yaitu: 1) Art. 2) Art.  Art. Persendian antara os sakrum dan os ileum melalui fascies artikularis ossis dan fascies artikularis ossis sakrum. koksae. Persendian tulang panggul a. Interkarpal. 4. artikulasi bagian distal tulang karpal. sakroiliaka.  Atr.  Art. merupakan enarthrosis sferoidea yang diperkuat oleh ligamentum hilleofemorale sehingga kaput femoris dapat keluar dari lekuknya dan berada dibawah os illleum. Persendian tungkai atas dan lutut. merupakan sendi elipsoid hubungan antara ujung distal radialis yang merupakan lekuk sendi dan os navikulare. persendian tungkai bawah.  Art. sendi antara ossa karpalia dan orsa metakarpalia II-V. Didepan sendi ini terdapat platela. Karpometakarpae II-V. Sendi antara sirkumferensia artikularis radii dan insisura radialis ulna. c. yang terdiri dari tiga kelompok yaitu : artikulasi bagian proksimal tulang karpal.

III dengan permukaan proksimal ossa metatarsalia I. terbentang melalui membran interrosa kruris yang terbentang dari proksimalis bawah kolum fibulae ke distal sampai batas 1/3 distal ostibia dan osfibula. tarsotransversa. Jelaskan Stadium RA 2.  Art.3 Patofisiologi . ikat sendi ligamentum tibiofibularis proksimal. Persendian kaki a. sindesmosis tibio fibularis: persendian antara fascies artikularis tibialis ossis fibulae dan insisura fibularis ossis tibialis. talo kalkanea (sendi loncat atas).  Art. talo tibia fibularis (pergelangan kaki).II. a. Art. Gerakannya dilakukan dorsal fleksio dan plantar fleksio (ekstensi). dan III. hubungan antara krista interosia fibula dan krista interosea tibia. Gerakan sendi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu gerakan pelantar fleksi dan adduksi serta gerakan dorsal fleksi kaki beserta adduksi. talo navikularis pedis dan Art. talo kalkneonavikularis (sendi loncat bagian bawah) antara fascies artikularis navikulare kalkanei media anterior dan fascies artikularis navikulare ossis talus dengan fascies tali media anterior ossis kalkaneus dan fascies artikularis talis ossis navikularis pedis. II.III permukaan sendi distal os koboideum dengan permukaan proksimal ossa metatarsalia I. artikulasio tibia fibula proksimal: sendi yang terdapat antara fascies artikularis fibularis ossis pada kondilus tibia. tarsometatarsea..II. antara fascies altikularis tali os tibia dan os fibula dengan trokhlea tali bagian medial dan lateral. b. b. c. merupakan linea amputasiones khorparti ada dua bagian yaitu Art. antara permukaan distal ossa kunaiformi I. 5.  Art.. talo tarsalia (sendi loncat) karena pada gerakan meloncat ada dua bagian. Berbentuk sendi engsel. antara pasies artikularis kalkanei posterior ossis talus dan fascies artikulralis tali posterior ossis kalkneus. Art. Para serabut membran unterosa kruris dari media atas ostibia ke latreral bawah menuju osfibula.  Art. Etiologi dulu. kalkanea kuboidea.

2012). Reaksi autoimun terjadi di dalam jaringan sinovial. 2009). proteinase dan faktor pertumbuhan. Sel T merupakan bagian dari sistem imunologi spesifik selular. Dan peran sel B dalam imunopatologis RA belum diketahui secara pasti (Surjana. Pembuluh darah pada sendi yang terlibat mengalami oklusi dan bekuan kecil atau sel-sel inflamasi. IgA. Pannus kemudian menginvasi dan merusak rawan sendi dan tulang.2 Patofisiologi RA merupakan penyakit autoimun sistemik yang menyerang sendi. Respon ini mengakibatkan destruksi sendi dan komplikasi sistemik (Surjana. interleukin. 2009). sedangkan sel B dan sitokin merupakan respon imunologi spesifik humoral. Terbentuknya pannus akibat terjadinya pertumbuhan yang irregular pada jaringan sinovial yang mengalami inflamasi. Peran Sel T pada rheumatoid arthritis diawali dengan interaksi antara reseptor sel T dengan share epitope dari major histocompability complex class II (MHCII-SE) dan peptide pada antigen-presenting cell (APC) pada sinovium atau sistemik. yang meliputi IgM. Sel T dan sel B merupakan respon imunologi spesifik. IgE.4 Etiologi . IgD (Baratwidjaja. Respon imunologi melibatkan peran sitokin. Limfosit menginfiltrasi daerah perivascular dan terjadi prooliferasi sel-sel endotel yang kemudian terjadinya neovaskularisasi. Commented [ABA3]: Tambahkan perjalanan penyakit sampai gejala yang dirasakan pasien 2. Gambar 2. IgG.

Biasanya persendian teraba hangat. dengan angka kepekaan dan ekspresi penyakit sebesar 60%. EBV. dan kaku pada pagi hari yang berlangsung selama 30 menit (Smeltzer & Bare. Faktor inik akan menggumpal menjadi kompleks dan menimbulkan inflamasi yang menyebabkan kerusakan kartilago serta memicu respon imun yang lain. Namun. dan mikroplasma. rubella. 2002). borellia burgdorferi. kaki. diperkirakan adanya kombinasi pengaruh genetik.. eritema. panas. 3. lingkungan.gejala ini akan berlangsung beberapa hari pada keadaan tertentu dan dapat diatasi dengan melakukan pengobatan (Tobon et al. bengkak. dan gangguan fungsi dari sendi yang mengalami RA. dan kaki. Usia dan jenis kelamin Rheumatoid artritis bisanya lebih banyak dialami oleh wanita dari pada laki-laki dengan ratio 2:1 hingga 3:1 Perbedaan ini diasumsikan karena pengaruh hormon. siku. Penyebab pasti rheumatoid artritis tidak diketahui. Pada daerah tersebut akan mengalami nyeri dan dan bengkak pada sendi dan akan terus menerus berlangsung sehingga mengalami masalah yang lebih berat. Faktor genetic Faktor genetik berperan terhadap kejadian RA. virus. Rasa nyeri yang dirasakan dapat berupa pembengkakan. faktor pencetus terbesar adalah infeksi bakteri. Contohnya adalah virus parvovirus. sendi siku. Penyerangan sendi biasanya akan dimulai dari persendian kecil di tangan. Pembentukkan antibodi IgM terhadap IgG tubuh sendiri (disebut juga faktor rheumatoid). tulang belakang serviks. Infeksi antigen Infeksi dapat memicu terjadinya RA pada host yang mudah terinfeksi secara genetik. pergelangan kaki. hormonal. 4. pergelangan kaki dan lutut. dan faktor sistem reproduksi. pinggul. Menurut Smith dan Haynes (2002). namun data ini masih dalam penelitian. Wanita memiliki hormon estrogen yang dapat memicu sistem imun dan biasanya paling banyak dialami oleh orang-orang yang berusia diatas 50 tahun. lutut. 2. beberapa penyebab yang menyebabkan rheumatoid artritis yaitu: 1. 2. Secara umum tanda dan gejala yang dialami oleh penderita rheumatroid artritis yaitu:  Keluhan cepat lelah  Rasa tidak enak badan . dan temporomandibular. pergelangan.5 Manifestasi Klinis Rhematoid Artritis pada umumnya menyerang bagian tangan. 2010). Secara progresif mengenai persendian. bahu.

Dalam menggunakan aspirin. Ketika penyakit ini terus berlanjut. dan pergelangan kaki akibat inflamasi sinovial. khususnya ketik bangun tidurpada pagi hari.  Anoreksia dan penurunan berat badan  Demam gejala rendah (subfebris) yang persisten  Limfadenopati  Gejala artikuler yang tidak jelas.6. Secara keseluruhan. sendi lutut. dan inflamasi serta destruktif sinovial.1 Farmakologi a. gejala ini terjadi karena pelepasan prostaglandin. Lapisan itu akan menyebabkan kosentrasi dalam darah lebih rendah. dan sering ditemukan pada jari-jari tangan di daerah persendian intersofalangeal proksimal.serta simetris. yang pada sisi luarnya dilapisi. Obat ini berbentuk salut interik. edema. tanda dan gejala meliputi:  Gejala sendi yang secara khas terbatas (lokal). tetapi tidak memberikan hasil yang baik terhadap kekakuan sendi pada pagi hari. Cara memberikan aspirin .  Penurunan fungsi sendi dan deformitas sendi ketika destruksi synovia berlanjut. Aspirin Aspirin merupakan obat yang sangat penting. metakarpofalangeal.6 Penatalaksanaan 2.  Jari tangan yang berbentuk kumparan (spindle) akibat edema yang nyata dan kongesti pada persendian.  Rasa hangat pada sendi akibat inflamasi. akibat destruktif sinovial yang progresif. bilateral. serta metatarsophalangeal yang kemungkinan meluas hingga mengenai pergelangan tangan. kita perlu mengetahui cara dan efek samping yang ditimbulkan. 2. sendi siku.  Nyeri dan rasa kaku pada sendi yang pertama-tama hanya terjadi ketika sendi tersebut digerakkan tetapi akhirnya juga terjadi pada saat istirahat .  Kekakuan sendi yang tekena setelah inaktivitas. untuk agar tidak hancur sebelum obat tersebut sampai ke usus halus (enteric coated aspirin). dosis yang diberikan dalam sehari tidak boleh lebih atau kurang dari 4-6 mg .

. bahkan ada yang sampai bunuh diri. Jika diminum pada malam hari. begitu juga pada malam hari. Sebab jika tidak rasa nyeri akan terulang kembali karena kosentrasi obat dalam darah sudah menurun. maka harus digerakkan upaya diagnostic. dianjurkan minum air putih dalam jumlah banyak. Karena prednison menekan rasa nyeri. Fenibultazon Memberikan fenibultazon dengan dosis rendah. d. Kortikosteroid Efek dari kortikosteroid ini membuat efek yang sangat menarik sebab penderita dapat bergerak kembali. kerusakan organ tubuh akan terus berlanjut. dosis yang digunakan harus terbagi-bagi. Kasus-kasus berat tersebut antara lain kerusakan progresif dari tulang rawan dengan nyeri dan deformitas. . dan komplikasi dari organ-organ yang terletak dalam rongga tubuh. efek pemberian fenibultazon ini baru mulai terlihat. b. mungkin pemakaian aspirin mengalamip kegagalan. Pemberian harus dilarutkan dalam air terlebih dahulu. yaitu 1 gram setiap 8 jam secara teruspmenerus selama 24 jam. Bahaya yang mungkin terjadi adalah: . jika tidak akan terjadi pendarahan lambung. dan peradangan. Menurunkan resistensi penderita terhadap bakteri. Akibatnya. Steroid Penggunaan steroid terkadang juga dapat dilakukan dengan cara disuntikkan ke dalam sendi.untuk mengatasi pelekatan aspirin pada esophagus ketika berbaring. Sakit sendi yang dialami penderita mungkin dikarenakan adanya arthritis pulurenta bakterealis. apabila pengonsumsian obat dihentikan. vaskulitas. . . yaitu seperti efek yang ditimbulkan obat malaria. 3 kali 100 mg setiap hari merupakan langkah kedua yang paling baik dalam mengobati penyakit artritis. Setelah mencapai 6 bulan. Untuk kasuspkasus yang berat. c. maka akan sangat sulit untuk mengenalinya. Akan tetapi. dalam hal ini. penderita akan memakai banyak sendi untuk bergerak. . Penderita akan mengalami demam. jika lebih akan . Penderita akan mengalami depresi. Apabila sendi sudah mengalami kemerahan dan peradangan. kemerahan. Tindakan ini harus dilakukan dengan tindakan asepsis yang benar dalam waktu satu tahun tidak boleh lebih dari 3-4 kali suntikan. Dlam memberikan obat.

e. Penderita harus selalu berbaring dan dilakukannya latihan yang seimbang agar sendi-sendinya menjadi membaik. dan relaxasi progressive. 2. berolahraga dan dengan penyinaran inframerah. kompres panas dan dingin serta massase untuk mengurangi rasa nyeri. keterbatasan gerak yang bermakna. . karna ditemukan 5% pada orang yang sehat. dpat digunakan pemeriksaan penunjang .7 Test diagnostik Dalam penegakkan diagnosis rheumatoid artritis. Sedangkan terapi komplementer berupa penggunaan obat- obatan herbal. Cairan sendi yang sehat biasanya sangat lekat dan akan jatuh dari pipet dengan benang cairan yang panjang.(Afriyanti. bila da nyeri berat dengan kerusakan sendi yang ekstensif. bila luas dapat dilakukan dengan arthrodesis dan artroplasti. Terapi modalitas berupa diet makanan (salah satunya dengan suplementasi minyak ikan dan cod). Metode pembedahan dapat dilakukan dengan metode sinevektomi bila destruktif sendi tidak luas. maka pemberian steroid merupakan kontraindikasi. Sinevektomi adalah operasi yang dilakukan untuk membuang lapisan sinovium kapsul pembungkus sendi yang meradang akibat penyakit rematik. Selain itu pembedahan dapat dilakukan pada keadaan kronis. maka sendi akan mengalami lesis pada tulang rawan. 2.2 Non-farmakologi Secara umum pengobatan yang dapat dilakukan pada fase akut (demam dan nyeri) adalah dengan beristirahat total. tidak spesifik untuk RA. Penisilamin dan Azausulfidine Kedua obat ini digunakan jika obat lain mengalami kegagalan karena obat ini sangat toksik. Pemeriksaan penunjang antara lain adalah : a. dan terjadinya rupture tendon. Jika cairan keruh dan terdapat bakteri disertai granulosit. 2009).6. Dalam melakukan pengobatan non-farmakologi dapat dilakukan dua terapi yaitu yaitu terapi modalitas dan terapi komplementer. Pemeriksaan faktor reumatouid Immunoglobulin G dan M reumathoid faktor (RF). Berbaring ketika RA sedang dalam aktif dan latihan ketika RA sedang tidak aktif nyerinya. acupressure. Langkah pertama yang dilakukan sebelum menyuntik adalah pengambilan cairan sendi. Dan 10-20% pada individu lebih dari 65 tahun.

. terjadi peningkatan protein. Penyakit lain yang bisa memiliki RF positif diantaranya : Sjogren syndrome. yaitu:  Fibrosis dan ankilosis Fibrosis adalah kondisi dimana pembentukan jaringan ikat fibrosa yang berlebihan pada suatu organ atau jaringan yang meradang. d. Penurunan C3 dan C4sangat rendah dibandingkn dengan konsentrasi protein total. SLE.  Rasa nyeri Nyeri berasal dari pelepasan prostaglandin akibat peningkatan metabolism tubuh akibat makrofag yang berpoliferasi. Pemeriksaan laju endap darah (LED) Danalisis cairan sinovial seringnya tubid. Cairan sinovial terdapat leokosit lebih dari 2000 setiap mikroliternya dengan jumlah PMN lebih dari 75%. b. sarkoidosis. glukosa meningkat ringan. penyakit hati kronik. Sel darah putih bervariasi 5-50.000 mikro liter. viskositasnya turun.  Kontraktur jaringan lunak Kontraktur jaringan lunak terjadi ketika terjadi penyebaran peradangan pada tendon atau fasia yang menyebabkan rasa nyeri pada sendi. ini menunjukkan karateristik suatu artritis inflamasi tetapi tidak spesifik untuk mendiagnosis RA. didominasi PMN. Pemeriksaan darah C-reactive protein (CRP) C-reactive protein (CRP). yaitu sejenis protein yang dihasilkan oleh organ hati ketika sedang terjadi peradangan. Lebih sering terdeteksi pada RA yang agresif dengan tendensi lebih tinggi terjadinya erosi tulang. dalam hal ini fibrosis terjadi akibat invasi antigen pada daerah sinovial yang diserang sehingga sendi akan mengalami ankilosis (kekakuan sendi) akibat dari fibrosis yang terjadi.8 Komplikasi Penyakit rheumatoid arthritis akan membuat komplikasi pada tubuh atau organ lain. 2. fibrosis paru internal. monocukleosis dan malaria. jika lebih dari nilai normal berarti terjadi peradangan di suatu tempat tetapi belum dapat menunjukkan lokasinya. CRP normal adalah kurang dari 10 m9/L. Pemeriksaan antibodi CCP (Cyclic citrullinated peptide) Mempunyai spesitifas diagnosis RA lebih tinggi daripada faktor reumathoid. c.

 Osteoporosis Pengeroposan tulang akibat peradangan yang ada yang membuat penyumbatan rongga sendi dan destrukif tulang dan unsur calcium yang dibutuhkan tulang tidak dapat terdistribusi dengan baik.  Destruksi veterbra servikalis Destruksi yang terjadi pada tulang leher terjadi.  Kompresi medulla spenalis Kompresi medulla spinalis akibat adanya destruktif pada tulang servikal akibat peradangan pada tulang leher. Deformitas sendi terjadi ketika jaringan ikat fibrosa meningkat yang membuat adanya penyumbatan pada rongga sendi yang menyebabkan atrofi tulang. kaki. tetapi akan menyerang kelenjar- kelenjar tubuh. seperti kelenjar air mata atau air liur.  Miositis Miositis adalah peradangan otot yang digunakan untuk menggerakan tubuh. Medulla spinalis akan tertekan dan akan menghambat sistem saraf bekerja dengan semestinya. terutama sendi diartrodial yang ada pada leher yang membuat destruksi dan erosi tulang yang berakibat pada kekakuan tulang. Sistem imun tidak hanya menyerang membrane sinovial pada sendi. Deformitas sendi Deformitas adalah kelainan dan trauma pada pada ekstremitas yang bermanisfestasi pada kelainan/abnormal bentuk.dll membengkak dan membentuk tulang yang abnormal. maka membuat otot tubuh pun merasa lemas dan nyeri. Ketika terjadi deformitas.  Sindrom Sjȍgren Penyakit ini dapat terjadi ketika peradangan sudah sangat meluas. Atrofi tulang dapat terlihat ketika bagian tangan. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN .

3. kepercayaan. Tanda : Malaise. Aktivitas dan tidur Gejala: Nyeri sendi karena gerakan. umur. identitas diri.1.1. .3 Riwayat psikososial Pasien dengan RA mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup tinggi apalagi pada pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi karena dia merasakan kelemahan pada dirinya dan merasakan adanya perubahan kegiatan sehari-harinya. kekakuan pada pagi hari yang biasanya terjadi secara bilateral dan simetris. Perasaan tidak nyaman dalam beberapa periode sebelum pasien merasakan adanya perubahan pada sendi. 3. nyeri tekan. ketergantungan pada diri orang lain.1.4 Pemeriksaan Fisik A. atrofi otot dan kulit. ancaman pada konsep diri. jenis kelamin. memburuk dengan stress pada sendi. D. dll. . B. E.1 Identitas pasien Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama. kelainan sendi.3. pekerjaan. citra tubuh. kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal). 3. mis:finansial. anoreksia Tanda:Penurunan berat badan. alamat rumah.1 Pengkajian Data pengkajian tergantung pada keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya. Integritas Ego Gejala :Faktor-faktor stress akut/kronis.1. C. mual. Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan atau pada tungkai. ketidakmampuan. kekeringan pada membrane mukosa. Perawat dapat merasakan pengkajian terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image dan harga diri klien. faktor-faktor hubungan. Kardiovaskuler Gejala: Fenomena Raynaud jari tangan dan kaki (pucat. bangsa. suku. Situasi ketidakmampuan. interminten. 3. keterbatasan rentang gerak. sianosis.2 Riwayat kesehatan . Hygine Gejala: Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi. Makanan/cairan Gejala: Ketidakmampuan mengonsumsi makanan/cairan secara adekuat.

kebutuhan manajemen nyeri dan 10). catat Membantu dalam menentukan lokasi dan instensitas (skala 0. Neurosensori Gejala : Kebas/kesemutan pada tangan dan kaki. Nyeri/kenyamanan Gejala: Rasa nyeri yang kuat pada pagi hari.2 Diagnosa Keperawatan 3. Interaksi sosial Gejala: kerusakan interaksi pada orang lain akibat perubahan peran yang terjadi pada individu. Intervensi dan Rasional No Intervensi Rasional 1 Selidiki keluhan nyeri. .1 Nyeri akut/ kronis a.2. G.  Mengikuti program farmakologis yang diresepkan. Dapat dihubungkan dengan  Agen pencedera  Distensi jaringan oleh akumulasi cairan/proses inflamasi  Destruksi sendi b. H. hilangnya sensasi pada jaringan. 3. Kriteria yang diharapkan  Menunjukkan nyeri hilang/terkontrol  Terlihat rileks. Dapat dibuktikan oleh:  Keluhan nyeri. kelelahan  Berfokus pada diri sendiri/penyempitan focus  Perilaku distraksi/respon autonomic  Perilaku yang bersifat hati-hati/melindungi c. Catat faktor-faktor yang keefektifan program.  Menggambungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam program kontrol nyeri. d. ketidaknyamanan. dapat tidur/beristirahat dan berpatisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan. mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non-verbal. F.

waktu bangun dan/ atau pada dan melepaskan kekakuan di pagi waktu tidur. terapeutik. Matras yang lembut/empuk. mengurangi atas dan bawah. Pantau suhu air kompres. mandi. 4 Dorong untuk sering mengubah Mencegah terjadinya kelelahan posisi. Sediakan waslap hari. bantu bergerak di tempat umum dan kekakuan sendi. sentuhan meningkatkan kemampuan koping. tidur. dan . 7 Dorong penggunaan teknik Meningkatkan relaksasi. bantal bantal kecil. visualisasi. hindari gerakan gerakan/ rasa sakit pada sendi. pengendalian napas. 3 Tempatkan/pantau posisi bantal Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi netral. tinggikan linen yang besar akan mencegah tempat tidur sesuai kebutuhan. hypnosis diri. menempatkan stress pada sendi yang sakit. misalnya rasa control dan mungkin relaksasi progresif. memberikan manajemen stress. menurunkan rasa sakit. 8 Libatkan dalam aktivitas hiburan Memfokuskan kembali perhatian. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi/nyeri. menyentak. 6 Berikan masase yang lembut Meningkatkan relaksasi/ mengurangi nyeri. sehari. yang sesuai untuk situasi individu memberikan stimulasi. dihilangkan dan luka dermal dapat sendi yang sakit beberapa kali disembuhkan.2 Berikan matras/ kasur keras. hangat atau mandi pancuran pada dan mobilitas. 5 Anjurkan pasien untuk mandi air Panas meningkatkan relaksasi otot. Sensivitas pada panas dapat hangat untuk mengompres sendi. pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat. sokong sendi yang sakit di Menstabilkan sendi.

3. 9 Beri obat sebelum Meningkatkan relaksasi. Deformitas skeletal .  Hasil yang diharapkan: . Evaluasi/lanjutkan pemantauan Tingkat aktivitas tergantung dari inflamasi pada sendi proses inflamsi. Penurunan kekuatan otot  Dapat dibuktikan oleh: ketidakmampuan pasien untuk bergerak.2 Mobilitas fisik  Dapat dihubungkan dengan: . tidak terganggu.2. meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat. . 2. demikian juga latihan fungsi sendi. Bantu dengan rentan gerak Mempertahankan/meningkatkan aktif/pasif. . 10 11 3. Meningkatkan kekuatan dan fungsi dari kompensasi bagian tubuh. kekuatan otot dan stamina umum. penurunan kekuatan otot. Nyeri .  Intervensi dan rasional No Intervensi Rasional 1. mengurangi aktivitas/latihan yang direncanakan sesuai petunjuk. Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya kontraktur. Intolerasi aktivitas . Pertahankan istirahat tirah Istirahat sistemik dianjurkan selama baring/duduk jika diperlukan eksaserbasi akut dan seluruh fase jadwal aktivitas untuk memberikan penyakit yang penting untuk periode istirahat yang terus mencegah kelelahan dan menerus dan tidur malam hari yang mempertahankan kekuatan.

Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakitnya.  Dibuktikan oleh: . dan mempertahankan mobilitas. 3. 4. Dorong pasien mempertahankan Memaksimalkan fungsi sendi dan postur tegak dan duduk tinggi. Gunakan bantal kecil/tipis di bawah Mencegah fleksi leher. kecelakaan/jatuh. .2. Fokus pada kekuatan masa lalu . . Bicara negative pada dirinya sendiri . Kolaborasi: berikan obat-obatan Mungkin di butuhkan untuk sesuai indikasi.3 Gangguan citra tubuh/ perubahan penampilan peran  Berhubungan dengan: . Pasien dapat menyusun rencana realistis untuk masa depan. Kehilangan pekerjaan dan perubahan peran.  Intervensi dan rasional No Intervensi Rasional 1 Dorong pengungkapan mengenai Pasien dapat masalah tentang proses penyakit.  Kriteria yang diharapkan: . berjalan. Ketidakseimbangan mobilitas. cth:steroid menekan sistem inflamasi akut. Perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum. Perubahan fungsi tubuh . 8. Berikan lingkungan yang aman. mengidentifikasi rasa takut harapan masa depan. 7. leher. Menghindari cidera akibat misalnya penggunaan kursi roda. Ubah posisi dengan sering Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatakan sirkulasi. 5. . yang ada pada dirinya. resistif dan isometric jika memungkinkan. 6.

daya tahan  Dibuktikan oleh: ketidakmampuan untuk mengatur kegiatan sehari-hari.dan mendorong berpartisipasi Dalam terapi. meningkatkan perasaan mengidentifikasi perilaku positif harga diri. . 8. 7. 5. dukungan dalam proses penyakit yang dia jalani. Diskusikan arti Mengidentifikasi proses kehilangan/perubahan pada penyakit dapat pasien. berat sampai pasien dapat mengembangkan kemampuan koping yang lebih efektif. penggunaan menyangkal menunjukkan emosional atau terlalu memperhatikan ataupun metode koping perubahan. Kolaborasi: berikan obat-obatan Diberikan ketika depresi sesuai indikasi. yang dapat membantu koping. Kolaborasi: Rujuk ke perawat Bila pasien membutuhkan spesialis psikiatri. mis. 3. 6. kemandirian. Penurunan kekuatan. Ikutsertakan pasien dalam Meningkatkan perasaan merencanakan perawatan dan harga diri. 2. Bantu pasien diri. Akui dan terima perilaku manarik Membantu pasien diri. mempengaruhi persepsi diri.4 Kurang perawatan diri  Berhubungan dengan: . maladaptive. 4. Berikan bantuan positif bila Memungkinkn pasien untuk perlu. 3.2. anti ansietas. Kerusakan musculoskeletal . mendorong membuat jadwal aktivitas. merasa senang terhadap dirinya sendiri. Susun batasan pada perilaku Mempertahankan control maladaptive.

2. latihan. . 3. Kolaborasi: Konsul dengan ahli Menentukan alat bantu yang terapi okupasi. Pertahankan mobilitas. Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan kemampuan individual. control Mendukung kemandirian terhadap nyeri dan program fisik/emosional. Kaji hambatan terhadap Menyiapkan untuk partisipasi dalam perawatan meningkatkan kemandirian yang diri. Kriteria yang diharapkan: . tepat untuk memenuhi kebutuhan individual. . akan meningkatkan harga diri. Mendemostrasikan perubahan gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri  Intervensi dan rasional No Intervensi Rasional 1.

nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. penyakit ini dapat mengakibatkan kecacatan sendi secara permanen. namun bila tidak diobati. BAB IV PENUTUP 4. dan kekakuan pada sendi terutama setelah bangun pada pagi hari. reumatoid artritis (RA) merupakan salah satu penyakit rematik yang termasuk jarang dijumpai. sehingga terjadi pembengkakan. lutut dan kaki) mengalami peradangan. bangkak. .1 Kesimpulan Artritis Rematoid (RA) adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan. Tanda dan gejala pada umumnya berupa nyeri pada persendian.

2016. Ilmu Penyakit Dalam. DAFTAR PUSTAKA Naga. Yogyakarta: DIVA Press.2014. Sholeh. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: CV Prima Grafika. . Pearce. Evelyn.