You are on page 1of 16

RANGKUMAN MATERI KULIAH

SAP 3
AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN

Nama Dosen Pengampu: Dr. I Nyoman Wijana Asmara Putra, S.E., M.Si.,Ak.
Oleh :

KELOMPOK 1
Nama Anggota Kelompok:
I Gusti Ayu Putri Suniantari (1607531040/ 09)
Ni Komang Ita Monika (1607531045/ 10)
Ni Wayan Pitriyani (1607531047/ 12)
Ni Nengah Witri Astiti (1607531049/ 13)
Putu Ayu Pramesti (1607531050/ 14)
Ni Kadek Indah Permata Sari (1607531053/ 15)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2017/2018

1
1. Definisi Likuidasi Dan Perbedaannya Dengan Disolusi
Likuidasi
Likuidasi adalah berhentinya kegiatan operasi perusahaan (pembubaran usaha)
secara keseluruhan dengan menjual sebagian atau seluruh aktiva perusahaan, membayar
semua utang pajak, kewajiban pada pihak ketiga dan sisanya dibagikan kepada para sekutu
sesuai dengan rasio laba / rugi. Berhentinya persekutuan sebagai bisnis mencakup
penghentian aktivitas bisnis persekutuan yang disebut entitas likuidasi persekutuan.
Likuidasi persekutuan mencakup konversi aktiva bukan kas menjadi kas, pengakuan
untung dan rugi selama masa likuidasi, pembayaran kewajiban, dan distribusi kas kepada
sekutu pada saat berakhirnya usaha. Laporan keuangan utama untuk likuidasi persekutuan
ialah laporan likuidasi persekutuan yang meringkas seluruh transaksi dan peristiwa
finansial selama masa likuidasi. Laporan ini juga digunakan sebagai dokumen resmi untuk
likuidasi yang dilakukan melalui pengadilan.
Likuidasi sederhana mengacu pada konversi seluruh aktiva menjadi kas sebelum
distribusi dilakukan kepada sekutu. Ketika persekutuan dilikuidasi dengan pendistribusian
bertahap kepada sekutu, kas didistribusikan kepada sekutu setelah kewajiban dibayar,
tetapi sebelum untung ataupun rugi likuidasi diakui. Untuk mencegah pembayaran yang
berlebihan kepada sekutu, jumlah kas yang didistribusikan dihitung dengan dua asumsi
yaitu seluruh sekutu secara pribadi tidak likui dan seluruh aktiva bukan kas rugi. Dengan
asumsi ini ada dua pendekatan utama untuk menghitung jumlah pembayaran aman kepada
sekutu pada tiap tahap distribusi. Pendekatan pertama ialah menyiapkan skedul
pembayaran aman untuk setiap tahap distribusi dan pendekatan kedua adalah menyiapkan
rencana distribusi kas yang digunakan selama proses likuidasi.
Disolusi
Masuknya sekutu baru atau pengunduran diri sekutu lama atau meninggalnya
sekutu lama akan mengakibatkan disolusi (pembubaran) persekutuan. Tetapi disolusi tidak
selalu terjadi dengan berhentinya operasi persekutuan atau berhentinya usaha dan
akuntansi persekutuan. Disolusi persekutuan menurut Undang-undang adalah
"peru¬bahan pada hubungan sekutu ketika ada sekutu yang tidak lagi terlibat dalam
menjalankan usaha yang berbeda dengan penyelesaian (winding up) usaha tersebut
(Bagian 29 Undang-undang).
Disolusi persekutuan adalah berubahnya para hubungan sekutu yang menyebabkan
berhentinya persekutuan sebagai entitas hukum. Pada disolusi, entitas persekutuan bisa
2
berjalan terus jika ada perjanjian baru. Ketika persekutuan secara hukum resmi didisolusi,
baik dengan masuknya sekutu baru atau dengan pengunduran diri atau meninggalnya
sekutu lama, suatu perjanjian persekutuan baru perlu dibuat untuk kelanjutan usaha
persekutuan
2. Proses Likuidasi
Proses pembubaran persekutuan meliputi tiga tahap yaitu :
a) Proses penghitungan laba-rugi sampai saat likuidasi. Proses ini dijalankan apabila
likuidasi yang dilaksanakan tidak bertepatan dengan awal atau akhir tahun,
sehingga perlu diketahui apakah mulai awal periode sampai pelaksanaan likuidasi
perusahaan mendapat laba atau mengalami kerugian. Laba atau rugi dibagikan
kepada para anggota sekutu sesuai dengan perbandingan pembagian laba rugi.
b) Proses realisasi, yaitu proses mengubah harta kekayaan non kas milik persekutuan
menjadi uang kas. Dalam proses ini apabila harga jual aktiva non kas tidak sama
dengan nilai bukunya maka akan timbul laba/rugi penjualan aktiva. Laba/rugi
tersebut dibagikan kepada para anggota sekutu sesuai dengan perbandingan laba
rugi.
c) Proses likuidasi, yaitu proses pembayaran kepada pihak-pihak yang berhak. Setelah
penjualan aktiva non-kas (realisasi) maka hasilnya akan menambah kas, kemudian
kas ini sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Perdata harus digunakan terlebih
dahulu untuk:
1) Melunasi hutang kepada pihak ketiga (bukan sekutu)
Hutang pihak ketiga harus diprioritaskan untuk dilunasi terutama hutang
pihak ketiga yang jumlahnya besar terlebih dahulu.
2) Melunasi hutang sekutu
Setelah semua utang kepada pihak ketiga dilunasi maka menyusul
pelunasan hutang sekutu yang biasanya bila hanya hutang pada seorang
sekutu maka dilakukan bersama-sama dengan pengembalian modal pada
likuidasi sederhana. Apabila hutang lebih dari satu sekutu maka dilakukan
pelunasan dengan prioritas sekutu yang modalnya lebih besar.
Apabila terbukti modalnya tidak cukup untuk melunasi hutang maka sekutu
yang bersangkutan harus membayar hutang dengan harta pribadi.
d) Membagi sisa kas yang masih ada kepada para sekutu. Sisa kas dibagikan setelah
hutang kepada pihak ketiga dan sekutu dilunasi.

3
Secara ringkas urutan (prosedur) dalam melikuidasi persekutuan adalah sebagai
berikut:
a) Rekening-rekening pembukuan dilakukan penyesuaian dan penutupan
kemudian laba/rugi selama periode tersebut dipindahkan ke rekening modal
masing-masing sekutu.
b) Aktiva dicaikan menjadi kas (bisa dijual atau dibeli sendiri oleh anggota
sekutu), jika terjadi selisih antara nilai buku dengan harga jualnya maka laba
rugi yang terjadi dibagikan kepada masing-masing sekutu sesuai dengan
perjanjian.
c) Jika ditemukan rekening modal salah satu sekutu bersaldo debet maka dapat
ditutup dengan salah saldo piutangnya, tetapi jika salado piutangnya tidak
punya maka sekutu tersebut harus menyetorkan modalnya kembali. Dan jika
ternyata juga tidak punya maka saldo debet harus ditanggung anggota sekutu
lainnya.
d) Jika uang kas telah tersedia dibagikan, maka terlebih dahulu dibayarkan
kepada kreditur luar, setelah itu baru digunakan untuk membayar saldo modal
masing-masing anggota sekutu.
Adapun penggolongan likuiditas, yaitu sebagai berikut:
1) Likuidasi sederhana / Likuidasi Tunggal ( Simple liquidation)
Terjadi apabila proses likuidasi relatif cepat. Likuidasi yg proses pembagian
kasnya hanya sekali saja, yaitu setelah semua aktiva non kas terealisasi menjadi
kas dan setelah utang kpd pikah ketiga lunas.Modal bersih sekutu adl modal
sekutu setelah diperhitungkan dgn utang piutang kpd persekutuan.
2) Likuidasi Berangsur / Likuidasi Bertahap (Installment Liquidation)
Terjadi apabila proses likuidasi relatuf lama. Likuidasi yg membagian kas nya
tidak menunggu sampai dgn realisasi aktiva non kas menjadi kas selesai.
Pembagian kas dilakukan secara berangsur sesuai dgn jumlah uang yg tersedia.
3. Pembayaran Aman Untuk Sekutu
Proses Likuidasi suatu bisnis memakan waktu yang panjang, dan mungkin kas akan
tersedia untuk didistribusikan kepada sekutu setelah kewajiban dibayar, tetapi sebelum
aktiva nonkas dikonversi menjadi kas. Apabila sekutu memutuskan untuk
mendistribusikan kas yang tersedia sebelum seluruh aktiva nonkas dijual maka timbul

4
pertanyaan berapa banyak kas yang bisa didistribusikan secara aman kepada masing-
masing sekutu. Ukuran Pembayaran yang aman didasarkan pada asumsi berikut:
a) Seluruh sekutu secara pribadi tidak liquid(sekutu tidak mampu membayar kepada
persekutuan)
b) Seluruh aktiva nonkas menunjukkan kemungkinan rugi(aktiva nonkas harus
dipertimbangkan rugi untuk tujuan menentukan pembayaran yang aman)
Skedul pembayaran aman digunakan hanya untuk menentukan jumlah yang
didistribusikan terlebih dahulu. Skedul pembayaran aman tidak mempengaruhi saldo
perkiraan atau laporan likuidasi persekutuan.

4. Likuidasi Bertahap
Likuidasi ini terjadi karena proses penjualan tidak sekaligus/bertahap, sehingga
pembayaran kepada anggota juga bertahap sesuai uang kas yang tersedia. Tentunya
pembayaran ke kreditur sudah dilakukan terlebih dahulu. Adapun Prinsip-prinsip Umum
dalam Likuidasi Bertahap :
a. Likuidasi persekutuan yang likuid dilakukan dengan mendistribusikan kas yang
tersedia dengan cara yang biasa sampai seluruh aktiva nonkas dikonversi menjadi
kas.
b. Kewajiban selain kepada sekutu harus dibayar sebelum pendistribusian apapun
kepada sekutu.
c. Saat kas tersedia untuk didistribusikan kepada sekutu, jumlah yang didistribusikan
kepada masing-masing sekutu bisa ditentukan dengan menyiapkan skedul
pembayaran yang aman untuk tiap distribusi yang dilakukan.
Ada dua metode untuk menentukan besarnya tiap pembayaran kembali hak penyertaan
anggota:
a. Pembayaran Kambali Hak Penyertaan Ditentukan Secara Periodik.
Disini harus dihindari terjadinya pembayaran dalam jumlah yang berlebihan
kepada anggota-anggota tertentu dengan mengorbankan hak-hak anggota lain.
Caranya dengan mengusahakan agar hak-hak penyertaan para anggota menunjukan
posisi sebanding dengan perbandingan laba(rugi) saat proses likuidasi berlangsung.
b. Penyusunan Rencana Prioritas Pembayaran Sebelum Proses Likuidasi
Berlangsung.
Tahap-tahapnya :

5
1) Menentukan jumlah kerugian maximum yang dapat ditanggung oleh
masing- masing anggota, dengan cara membagi total hak sekutu dengan
rasio R/L sekutu yang bersangkutan.
2) Menentukan hak prioritas pembayaran, yaitu sebesar persentase pembagian
R/L dikalikan dengan selisih lebih kemampuan menanggung kerugian.
3) Atas dasar point 2 diatas, bila tersedia kas setelah semua hutang kepada
kreditur telah lunas, maka kas akan dibagikan / didistribusikan kepada
anggota dengan menyusun skedul pembayaran kas (SPK).
5. Rencana Distribusi Kas
Skedul pembayaran aman merupakan metode efektif untuk menghitung jumlah
pembayaran aman kepada sekutu dan mencegah pembayaran yang berlebihan kepada
sekutu. Tetapi pendekatannya tidak efisien jika distribusi bertahap dilakukan berkali-kali
dan skedul pembayaran aman juga tidak cukup baik sebagai alat perencanaan. Kekurangan
dari pendekatan skedul pembayaran aman ini bisa diatasi dengan menggunakan rencana
distribusi kas pada awal proses likuidasi.
Pembentukan rencana distribusi kas (juga disebut sebagai rencana sebelum distribusi
kas) untuk likuidasi persekutuan berhubungan dengan urutan sekutu berdasarkan
kerentanannya terhadap kerugian, pengguna urutan yang paling mudah mengalami
kerugian untuk membuat skedul asumsi kerugian yang bias ditanggung, dan pembuatan
rencana distribusi kas dari skedul kerugian yang dapat ditanggung.
Tahap-tahap pembuatan rencana pendistribusian kas terdiri atas:
a. Penetapan derajat kerentanan partner
b. Penentuan besarnya kerugian yang dapat ditanggung
c. Pembuatan daftar pendistribusian kas

Firma ABC
Laporan Likuidasi
Periode 1 Januari s.d 31 Maret 1994 (dalam ribuan rupiah)
Utang
Aktiva Modal Modal Modal
Keterangan Kas Utang Kepada
Nonkas Ahmad Baiquni Chairul
Chairul
Saldo 1 Januari 30.000 420.000 170.000 25.000 60.000 90.000 105.000
1994
Transaksi (9.000) (4.500) (2.700) (1.800)
Januari

6
Penghapusan 12.000 (20.000) (4.000) (2.400) (1.600)
Goodwill
Penjualan (32.000)
(32.000)
Surat
Berharga Hak
Patent
Pembayaran
UtangDagang
Saldo Februari 10.000 391.000 138.000 25.000 51.500 84.900 101.600
Transaksi
Februari
145.000 (160.000) (7.500) (4.500) (3.000)
Penjualan
196.000 (130.000) 33.000 19.800 13.200
Piutang dan
(138.000) (138.000)
Persediaan
Penjualan (89.000) (53.400) (35.600)
(203.000) (25.000)
Tanah
Pembayaran
Sisa Utang
Pembagian
kepada
Anggota
Saldo 1 Maret 10.000 101.000 0 0 (12.000) 46.800 76.200
Penjualan 97.000 (101.000) (2.000) (1.200) (800)
Peralatan (107.000) (53.200) (32.100) (21.400)
Pembagian
Kas
0 0 0 0 (67.500) 13.500 54.000

a. Peringkat/Derajat Kerentanan Pemilik (Vulnerability Ranks)


Dalam menentukan derajat kerentanan, pertama-tama tentukan modal bersih
setelah ditutup utang piutang diantara mereka dengan perusahaan. Kemudian jumlah
tersebut dibagi dengan rasio kepentingan mereka dalam pembagian rugi laba (profit
sharing ratio), untuk menentukan sampai sejauh mana kerugian yang dapat mereka

7
tanggung tanpa mempunyai saldo modal debit. Makin besar kerugian yang dapat
mereka tanggung, berarti mereka makin baik. Sebaliknya semakin kecil tingkat
kerugian yang dapat mereka tanggung, berarti mereka semakin rentan (more
vulnerable).
Dari contoh terdahulu, saldo modal Ahmad, Baiquni, dan Chairul masing-
masing adalah Rp.60.000.000; Rp. 90.000.000; dan Rp. 130.000.000; dengan tingkat
kepentingan 50%; 30%; dan 20%. Daftar peringkat kerentanan pemilik dapat dibuat
sebagai berikut:

Firma ABC
Daftar Peringkat Kerentanan Pemilik
(dalam ribuan rupiah)
Saldo Modal Rasio Kepentingan Tingkat Kerugian yang Derajat
Pemilik Rugi Laba Dapat Ditanggung Kerentanan
Ahmad 60.000 50% 120.000 1
Baiquni 90.000 30% 300.000 2
Chairul 130.000 20% 650.000 3

Daftar peringkat di atas menyebutkan bahwa Ahmad paling rentan, karena


hanya dengan kerugian sebesar Rp.120.000.000 saldo modalnya menjadi nol, karena
kerugian yang ditanggungnya sebesar 50%, yaitu Rp. 120.000.000 x 50% = Rp.
60.000.000. Sebaliknya, modal Chairul mempunyai derajat kerentanan terkecil, karena
modalnya dapat menanggung kerugian sampai Rp. 650.000.000 tanpa mempunyai
saldo modal debit, karena dari jumlah tersebut yang ditanggungnya sebesar
Rp.650.000.000 x 20% = Rp. 130.000.000; sama dengan saldo modalnya.
b. Penentuan Besarnya Kerugian yang Dapat Ditanggung (Loss Absorption)
Setelah menentukan derajat kerentanan modal para sekutu, dapat dibuat sebuah
daftar yang diperlukan untuk menghitung saldo modal setelah dibebani dengan
kemungkinan rugi. Langkah pertamanya adalah menentukan saldo modal bersih
masing-masing anggota setelah diperhitungkan dengan utang-piutangnya terhadap
persekutuan. Kemudian saldo modal partner yang paling rentan ditutup dengan
perbandingan pembagian rugi laba. Setelah itu partner yang mempunyai tingkat
kerentanan paling kecil.

8
Sebagai ilustrasi, kita ambilkan contoh di atas untuk membuat table berikut.
Modal Ahmad sebesar Rp. 60.000.000 dialokasikan ke Modal Baiquni dan Modal
Chairul dengan perbandingan masing-masing 30/50 dan 20/50. Kemudian setelah
dijumlahkan, saldo Modal Baiquni dialokasikan ke Modal Chairul dengan
perbandingan 20/30. Setelah itu dapat dilihat bahwa Modal Chairul masih mempunyai
saldo sebesar Rp. 70.000.000.
Tabel Penyerapan atas Kemungkinan Rugi (dalam ribuan rupiah)
50% 30% 20%
Total
Ahmad Baiquni Chairul
Saldo Bersih 60.000 90.000 130.000 280.000
Alokasi Modal Ahmad (60.000) (36.000) (24.000) (120.000)
54.000 106.000 160.000
Alokasi Modal Baiquni (54.000) (36.000) (90.000)
70.000 70.000

c. Daftar Rencana Pendistribusian Kas


Setelah menyusun tabel penyerapan kemungkinan rugi, maka dapat dibuat
rencana pendistribusian kas (cash distribution plan). Dari tabel penyerapan
kemungkinan rugi, dapat dilihat bahwa Modal Chairul masih mempunyai saldo sebesar
Rp. 70.000.000 setelah seluruh alokasi modal partner lainnya. Ini berarti bahwa setelah
seluruh utang perusahaan kepada pihak ketiga (yang merupakan prioritas pertama)
dibayarkan, maka jika masih ada saldo kas sebesar Rp. 70.000.000 harus dibayarkan
pertama kali kepada Chairul.
Kemudian dapat dilihat bahwa setelah alokasi Modal Ahmad, modal Baiquni
dan Modal Chairul dikurangi dengan jumlah masing-masing Rp. 54.000.000 dan Rp.
36.000.000 (total Rp. 90.000.000). Ini berarti bahwa jika masih ada saldo kas sebesar
Rp. 90.000.000 harus dibagikan kepada Baiquni dan Chairul dengan perbandingan
30:20. Setelah itu jika masih ada sisa uang kas baru dibayarkan kepada ketiga partner
yaitu Ahmad, Baiquni dan Chairul dengan perbandingan 50:30:20.
Jadi rencana pendistribusian kas dapat kita susun sebagai berikut:
Firma ABC
Rencana Pendistribusian Kas (dalam ribuan rupiah)

9
Modal Bersih
Prioritas Jumlah Utang kepada Pihak Ketiga
Ahmad Baiquni Chairul
I 170.000
II 70.000 100%
100% 50% 60%
III 90.000 40%
30%
IV Selebihnya 20%

Dalam contoh sebelumnya, kas yang diterima oleh perusahaan secara bertahap
adalah sebesar Rp.12.000.000 pada bulan Januari, Rp. 341.000.000 pada bulan
Februari, dan Rp. 97.000.000 pada bulan Maret 1994. Saldo kas yang ada pada awal
proses likuidasi adalah Rp. 30.000.000 sedangkan cadangan yang disisakan selama
proses tersebut sebesar Rp. 10.000.000. Bila rencana pendistribusian kas di atas
diterapkan, maka dapat disusun daftar pendistribusian kas (cash distribution schedule)
selama berlangsungnya proses likuidasi. Daftar tersebut adalah sebagai berikut:
Firma ABC
Daftar Pendistribusian Kas (dalam ribuan rupiah)
Utang
Utang
Kas yang kepada Modal Modal Modal
kepada
Didistribusikan Pihak Ahmad Baiquni Chairul
Chairul
Ketiga
Januari
Pembayaran 32.000 32.000
Utang
Februari 138.000 138.000
Pembayaran
25.000 45.000
Utang 70.000
Pembayaran
54.000 36.000
kepada Chairul 90.000
Pembayaran
21.500 12.900 8.000
kepada 43.000
Baiquni dan
Chairul 53.500 32.100 21.400
107.000

10
Pembayaran Sisa
kepada
Anggota
Maret
Pembayaran Sisa
kepada
Anggota
480.000 170.000 25.000 75.000 99.000 111.000

Pada bulan Januari jumlah kas yang tersedia adalah saldo awal Rp. 30.000.000
dan hasil penjualan surat berharga dan hak patent sebesar Rp.12.000.000, akan
didistribusikan sebesar Rp.32.000.000 karena harus dicadangkan sebesar Rp.
10.000.000. Karena jumlah ini lebih kecil daripada jumlah kewajiban kepada pihak
ketiga sebesar Rp. 170.000.000, maka seluruhnya digunakan untuk membayar utang.
Pada bulan Februari jumlah kas yang tersedia adalah sebesar Rp. 351.000.000,
terdiri dari cadangan Rp. 10.000.000 dan dari penjualan piutang, persediaan serta tanah
sebesar Rp. 341.000.000. Kas yang akan didistribusikan sebesar Rp. 341.000.000 adalah
untuk menutup sisa utang kepada pihak ketiga sebesar Rp. 138.000.000; untuk partner
Cahirul sebesar Rp. 70.000.000 untuk partner Baiquni dan Chairul sebesar Rp.
90.000.000 dengan perbandingan 30:20; dan sisanya sebesar Rp. 43.000.000 dibayarkan
kepada seluruh anggota persekutuan dengan perbandingan 50:30:20.
Karena likuidasi berakhir pada bulan Maret 1994 dengan terjualnya peralatan
sebesar Rp.97.000.000 maka kas yang ada sebesar Rp. 107.000.000 dibagikan kepada
seluruhnya kepada para anggota dengan perbandingan 50:30:20.
6. Sekutu Dan Persekutuan Yang Tidak Likuid
Untuk sekutu yang tidak likuid aturan yang berlaku untuk mengklaim harta dari sekutu
yang:
a) Jumlah terutang kepada kreditur luar.
b) Jumlah terutang kepada kreditur persekutuan.
c) Jumlah terutang kepada sekutu dari kontribusi.
Urutan prioritas ini memberiksn implikasi yang penting untuk likuidasi persekutuan
yang tidak likuid (aktiva persekutuan lebih kecil dari kewajiban persekutuan), dan untuk
likuidasi persekutuan yang likuid (aktiva persekutuan lebih besar dari kewajiban

11
persekutuan), tetapi satu atau lebih sekutu individu tidak likuid (harta pribadi lebih kecil
dari kewajiban pribadi). Kreditur persekutuan pertama kali menuntut pembayaran dari
harta persekutuan, dan kreditur dari sekutu individu harus mencari pemulihan klaim dari
harta individu. Jadi, harta individu dan persekutuan dipisahkan dalam menyusun prioritas
klaim.

Persekutuan Likuid-Satu atau Lebih Sekutu tidak Likuid


Dalam likuidasi persekutuan, kreditur persekutuan mendapatkan penggantian atas
klaim mereka dari harta persekutuan. Persekutuan harus hati-hati untuk tidsak
mendistribusikan harta persekutuan kepada sekutu yang tidak likuid karena kreditur
pribadi mereka mengklaim aktiva persekutuan atas ketidaksanggupan sekutu membayar
hutangnya. Begitu pula jika sekutu tidak likuid memiliki saldo modal kredit dan sekutu
likuid memiliki saldo debit yang seimbang, maka kreditur pribadi sekutu yang tidak likuid
memiliki klaim atas pribadi sekutu likuid sejumlah saldo debitnya.
Meskipun persekutuan likuid, mungkin saja sekutu individu memiliki saldo debit
dalam perkiraan modalnya pada saat disolusi, atau mungkin juga akibat rugi dan biaya
yang terjadi selama proses likuidasi, saldo modalnya menjadi debit. Sekutu ini memiliki
kewajiban terhadap sekutu yang memiliki ekuitas dalam persekutuansejumlah saldo
debitnya. Tetapi bila sekutu yang mempunyai saldo modal debit secara pribadi juga tidak
likuid, seluruh jumlah dari aktiva pribadi sekutu itu diberikan kepada kreditur pribadinya
(urutan I), dan jumlah yang dimiliki sekutu dari kontribusinya (urutan III) tidak akan
dibagi dalam distribusi aktiva pribadi sekutu.
Sebagai ilustrasi Wina, Yoke, dan Zena adalah sekutu dengan pembagian laba
30%,30% dan 40%. Wina tidak likuid secara pribadi, dengan harta pribadi Rp 50.000.000
dan kewajiban pribadi Rp 100.000.000.
Kasus A Kasus B Kasus C
Kas 60.000.000dr - -
Modal Wina 18.000.000kr 18.000.000kr 21.000.000dr
Modal Yoke 18.000.000kr 27.000.000kr 9.000.000kr
Modal Zena 24.000.000kr 9.000.000kr 12.000.000kr

Kasus A, ekuitas persekutuan Wina 18.000.000 tidak boleh dibayar langsung


kepada wina karena kreditur pribadi mempunyai klaim atas kepemilikan dalam aktiva
persekutuan sebesar 18.000.000. sedangkan Kasus B, kreditur wina memiliki klaim atas

12
aktiva pribadi Yoke karena Yoke mempunyai hutang pribadi kepada wina sebesar
18.000.000. zena juga memiliki klaim atas yoke sebesar 9.000.000. dan pada Kasus C,
wina memiliki saldo pada perkiraan modalnya dan ia tidak likuid. Yoke dan Zena tidak
boleh mengambil aktiva pribadi wina. Mereka membagi rugi sebesar 21.000.000
berdasarkan rasio pembagian laba 3/7 dan 4/7.
Persekutuan Tidak Likuid
Ketika persekutuan tidak likuid, kas yang tersedia setelah seluruh aktiva non kas
dikonversi menjadi kas tidak akan cukup untuk membayar kreditur persekutuan. Kreditur
persekutuan akan mendapatkan penggantian sebagian dari aktiva persekutuan (urutan I)
dan mendesak sekutu untuk menggunakan harta pribadi untuk menutupi sisa klaim (urutan
II). Walaupun kreditur pribadi mempunyai klaim lebih dulu (urutan I) atas harta pribadi,
kreditur persekutuan dapat mencari penggantian atas klaim mereka dari aktiva pribadi
sekutu yang secara pribadi likuid. Sekutu yang membayar lebih dari bagian kewajibannya
dalam persekutuan tentu saja mempunyai klaim atas sekutu yang memiliki saldo modal
debit.

Sebagai ilustrasi: Rosi, Fani, dan Koni adalah sekutu yang membagi laba secara
merata dan persekutuan mereka sekarang dalam proses likuidasi. Setelah dikonversi
menjadi kas, akan digunakan untuk membayar kewajiban,dengan rincian:

Modal Fani (1/3) 30.000.000dr


Modal Rosi (1/3) 30.000.000dr
Modal Koni (1/3) 30.000.000dr
Kewajiban 90.000.000kr
Diketahui seluruh sekutu memiliki sumber daya pribadi paling sedikit 30.000.000,
tiap sekutu harus membayar 30.000.000 ke persekutuan. Tetapi jika kreditur menagih
90.000.000 dari Rosi, maka saldo persekutuan yang tersisa menjadi, Modal Rosi, Fani,
Koni masing – masing 60.000.000kr, 30.000.000dr,30.000.000dr. Apabila fani dan Koni
hanya dapat membayar masing-masing 30.000.000, maka desakan kreditur kepada rosi
tidak beralasan. Tetapi jika desakan terhadap rosi karena koni secara pribadi tidak likuid
dan aktiva bersih fani hanya 35.000.000, situasinya akan berubah. Dalam hal ini rosi dan
fani membagi kerugian Koni sebesar 30.000.000, dimana setelah itu rosi memiliki saldo
modal kredit 45.000.000 dan fani saldo debit 45.000.000. Jadi, karena aktiva pribadi fani
hanya 35.000.000, rosi menagih dari 35.000.000 dari fani dan sisa 10.000.000 dalam saldo
debit modal fani dihapuskan sebagai kerugian rosi.

13
1. Apa sebab sebab pembubaran persekutuan atau likuidasi perusahaan :
Jawab:
a. salah seorang sekutu menghendaki pembubaran
b. salah seorang sekutu meninggal dunia, dan ahli warisnya tidak
menyetujui untuk melanjutkan persekutuan
c. perselisihan intern diantara sekutu

2. Persekutuan Tuan Adhi, Beni, Natsir dan Rian (ABNR) dinyatakan akan dilikuidasi.
Pembagian laba (rugi) di dalam persekutuan diatur dengan perbandingan sebagai
berikut : 30%, 30%, 20%, 20%. Neraca 1 Mei 2016 yang disusun sesaat sebelum
likuidasi menunjukan saldo – saldo.
AKTIVA HUTANG DAN MODAL

Kas ………………...…Rp 10.000.000 Hutang Dagang....................Rp 75.000.000


Aktiva Lain-lain…...….Rp 180.000.000 Hutang Kepada Tuan Beni Rp 6.000.000
____________ Hutang Kepada Tuan Rian Rp 5.000.000
Modal Adhi……………......Rp 42.000.000
Modal Beni….…………......Rp 31.500.000
Modal Natsir………….........Rp 20.500.000
Modal Rian………….......…Rp 10.000.000

Total Aktiva……..…...Rp 190.000.000 Total Modal + Hutang..........Rp 190.000.000

Realisasi aktiva lain sebesar Rp 140.000.000 Kerugian dalam realisasi aktiva lain-lain
di bebankan kepada rekening modal masing – masing anggota dengan jumlah yang masih
cukup di tutup oleh saldo modal. jurnal yang diperlukan untuk mencatat penjualan aktiva lain-
lain dan pembebanan rugi penjualan kepada masing-masing anggota serta proses likuidasi?
Jawaban
Nilai buku aktiva lain-lain....................................................... Rp 180.000.000
Dijual (direalisasikan) menjadi kas......................................... Rp 140.000.000
Rugi dalam realisasi......................................... Rp 40.000.000
Kerugian tersebut dibagi diantara Adhi, Beni, Natsir dan Rian dengan perbandingan : 30%,
30%, 20% dan 20%, maka pembebanan kerugian:

14
A = 30% x Rp 40.000.000 = Rp 12.000.000
B = 30% x Rp 40.000.000 = Rp 12.000.000
N= 20% x Rp 40.000.000 = Rp 8.000.000
R = 20% x Rp 40.000.000 = Rp 8.000.000

Ikhtisar Laporan Likuidasi (dalam ribuan)

Kas Aktiva Hutang Hutang Hutang Modal dan Pembagian L


Lain - Dagang Kepada KepadaRian Modal Modal Moda
Lain Beni Adhi Beni 20%
30% 30%
Saldo sebelum 10.000 180.000 75.000 6.000 5.000 42.000 31.500 20.5
likuidasi
a) Hasil penjualan 140.000 - - - - -12.000 -12.000 -8.00
aktiva dan 180.000
pembagian laba
(rugi)
150.000 - 75.000 6.000 5.000 30.000 19.500 12.5
b) Pembayaran -75.000 - - - - - - -
kepada kreditor 75.000
c) Pembayaran 75.000 - - 6.000 5.000 30.000 19.500 12.5
kepada para anggota -75.000 - - -6.000 -5.000 -30.000 -19.500 -12.50
Saldo setelah 0 0 0 0 0 0 0 0
likuidasi

15
Adapun ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat penjualan aktiva lain-lain dan pembebanan
rugi penjualan kepada masing-masing anggota serta proses likuidasinya adalah sebagai berikut:
a) Kas .................................................... Rp 140.000.000
Modal Adhi........................................ Rp 12.000.000
Modal Beni......................................... Rp 12.000.000
Modal Natsir....................................... Rp 8.000.000
Modal Rian......................................... Rp 8.000.000
Aktiva lain – lain ............................................ Rp 180.000.000
b) Hutang Dagang.............................. Rp 75.000.000
Kas................................................................... Rp 75.000.000
c) Hutang kepada Beni........................... Rp 6.000.000
Hutang kepada Rian........................... Rp 5.000.000
Modal Adhi........................................ Rp 30.000.000
Modal Beni......................................... Rp 19.500.000
Modal Natsir....................................... Rp 12.500.000
Modal Rian ........................................ Rp 2.000.000

16