You are on page 1of 15

SISTEM HUKUM

Jadi pokok bahasan buku ini bukan “hukum” melainkan sistem hukum. Pada hakikatnya,
sebuah sistem adalah sebuah unit yang beroperasi dengan batas-batas tertentu. Sistem bisa bersifat
mekanis, organis, atau sosial. Tubuh manusia, sebuah mesin pinball,dan gereja Katolik Roma,
semuanya adalah sistem. David easton telah mendefinisikan sistem politik sebagai “Kumpulan
interaksi dengan mempertahankan batas-batas tertentu yang bersifat bawaan dan dikelilingi oleh
sistem-sistem sosial lainnya yang terus menerus menimpakan pengaruh padanya.” Definisi yang agak
mendalam ini berpijak pada konsep fundamental tertentu. Sistem politik adalah “sekumpulan
interaksi”- sebuah sistem sosial,dengan kata lain, bukan sebuah struktur atau mesin, melainkan
perilaku, dan perilaku yang saling berelasi dengan perilaku lainnya. Dan sistem memiliki batas-batas,
artinya, seorang pengamat yang teliti bisa melihat dari mana awal dan ujungnya. Ia bisa menandai
perbedaannya dari sistem-sistem lainnya. Kumpulan interaksi apa pun bisa disebut sebagai sistem,
jika seseorang pengamat bisa menjelaskannya, dengan menemukan batas-batas riilnya atau
mendefinisikan sebagiannya.

Namun apa yang menjadi batas-bata sistem hukum (legal system) ? Bisa kah kita embedakan
sistem hukum dari sistem-sistem sosial lainnya ? bisakah kita mengatakan, dengan kata lain, dari
mana awal dan akhirnya ? Istilah legal berarti terkait dengan hukum; karena itu, untuk
mendefinisikan suatu sistem hukum kita memerlukan semacam definisi-kerja mengenainya.

Para filosof hukum dan para ilmuan sosial sama-sama telah berupaya memberikan definisi
yang tak terhitung jumlahnya. Betapa pun juga, definisi mengenai hukum, betapa pun beragamnya,
bisa digolongkan ke dalam beberapa kelompok, mencerminkan perbedaan cara pandang terhadap
hukum dan perbedaan tujuan dalam penulisan tentangnya. Jenis yang pertama adalah instusional. Di
banyak masyarakat, ada orang-orang dan institusi yang menurut kelaziman merupakan bagian dari
sistem hukum. Kita bisa membentuk sebuah definisi di seputar para profesional dan institusi ini :
Walhasil sistem hukum di sini dibatasi oleh profesi yang relevan dari para pengacara, hakim,polisi,
legislator, administrator, notaris, dan yang lainnya.

Jika hukum adalah apa yang dikerjakan oleh para pengacara dan intitusi hukum, maka
sebuah masyarakat tanpa para pengacara atau para profesional lainnya dan tanpa institusi hukum
akan berarti sebuah masyarakat tanpa hukum. Tapi dalam kenyataannya banyak masyarakat
sederhana yang tidak memiliki pengacara atau institusi-institusi hukum spesial. Juga tidak ada
“hukum” dalam banyak subsistem dalam masyarakat-masyarakat yang kompleks-sekolah, pabrik,
atau klub-klub. Institusi- Institusi dan profesional juga sulit untuk kita bandingkan dengan Institusi
dan profesional serupa di kultur yang berbeda. Para pengacara melakukan hal-hal yang berbeda di
dalam masyarakat yang berbeda. “Pengadilan” ada di banyak masyarakat, namun apa yang
dimaksud dengan pengadilan ?

Problem lintas kultural ini terutama membingungkan dengan pengadilan? Hoebel, misalnya,
mendefinisikan “hukum” sedemikian rupa sehingga di dalamnya tercakup pula konsep tentang
pengadilan; walaupun demikian agar hukum bisa ditemukan dalam masyarakat yang sederhana, ia
melebarkan gagasan tentang pengadilan tersebut sampai nyaris tidak bisa dikenali lagi. Orang-orang
Eskimo, misalnya tidak memiliki “pengadilan” yang jelas. Kadang ada seorang pembunuh yang
berbahaya bagi keamnanan masyarakat. Untuk itu “seseorang yang memiliki semangat publik” bisa
memutuskan untuk bertindak. Ia mulai “ mewawancarai satu demi satu semua orang dewasa yang
ada di masyarakat. “ Jika orang-orang tersebut sepakat bajwa si pembunuh harus mati, maka “ orang
yang bersemangat publik” ini pun berangkat dan membunuh si pembunuh. “Tidak boleh ada balas

yakni.Institusi hukum.. menghindarkan kita dari definisi hukum yang selalu terkait denggan pemerintah atau negara. Sebuah norma sosial berlaku “legal”. namun. pemerintah-pemerintah. seperti dikatakan oleh Leopold Pospisil.Institusi yang “tidak berfungsi”. Institusi. menyamakan hukum dengan sekumpulan peraturan. Paul Bohannon juga berpendapat bahwa Institusi. Argumen yang muncul di antaranya adalah apakah “hukum” itu universal atau tidak. seperti yang telah kita sebutkan . semata-mata adalah sumber atau tolak ukur hukum. norma-norma dipandang legal jika hal itu mengandung ancaman sanksi. “hukum” adalah kumpulan norma-norma sakral dan tidak lebih dari itu.” Definis huku secara Institusional ini terutama nenabdang hakikat hukum dalam karakter publik-nya.. Bronislaw Malinowski mendapati ahwa hukum terdapat dalam pola-pola perilaku yang dijalankan dengan cara :timbal balik.” Definisi ini mendorong konsep mengenai pengadilan atau Institusi sampai ke batasnya. mendefinisikan hukum sebagai “prakiraan mengenai apa yang akan dilakukan sebenarnya oleh pengadilan. Untuk mendatangkan kepatuhan atau menindak pelanggaran yang akan dijalankan oleh staf yang secara khusu bertugas untuk tujuan itu.. untuk memilah masalahnya dan menanganinya “dala kerangka Institusi hukum. Filosof hukum John Austin mendefinisikan hukum sebagai titah pihak yang berkuasa.Institusi hukum “memiliki cara tertentu yang tertata” untuk “mengintervensi” Institusi. “jika pengabaian atau pelanggarab atasnya ditangani secara tertata.” Definisi-definisi tersebut mungkin. pemerintah. dan pengadilan- pengadilan tidak universal. Hukum terjalin menyatu dengan pemerintah. Hal ini juga merupakan elemen dalam definisi Hoebel. baik dalam bentuk ancaman atau dalam kenyataan.. yang diakui secara sosial untuk menjalankannya. Menurut Pospisil. Negara-negara.” Beberapa definisi menyatakan atau menyiratkan bahwa negara. Jr.. Esensi hukum adalah “Institusionalisasi ganda” ini. melalui penerapan kekuatan fisik oleh seseorang individu atau kelompok yang memiliki hak istimewa. Meskipun tanpa ada “negara”. Hukum adalah sekumpulan kewajiban mengikat yang telah ‘diluncurkan” dari Institusi- Institusi tempat mereka muncul dan “diluncurkan ulang” melalui Institusi. atau pengadilan. mereka menekankan landasan adat kebiasaan dalam hukum.yang secara eksternal dijamin melalui kemungkinan penggunaan paksaan (secara fisik atau psikologis).dendam dari keluarga si pembunuh. pola-pola perilaku aktual. dan nyaris bisa.Institusi hukum merupakan esensi hukum.yang meliputi segala tindakan oleh suatu lembaga politik yang mengurus batasan-batasan tatanan sosial atau pemeliharaannya. otoritas dan struktur otoritas ada dimana-mana. Donald Black baru-baru ini mendefinisikan hukum sebagai “kontrol sosial oleh pemerintah. Michael Barkun menemukan adanya hukum dalam norma-norma bersama suatu “masyarakat yang memiliki aturan tentang hak dan kewajuban.” karena “pengadilan masyarakat” telah berbicara. Oliver Wendell Holmes. Begitu juga definisi-definisi yang merumuskan .” Ada banyak perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan negara. dan menangani pelanggaran besar atau nyata atas aturan-aturan tersebut.. Sebuah Institusi adalah legal jika oorang-orang dalam sebuah masyarakat menggunakannya untuk “menyelesaikan sengketa. Max Weber dalam sebuah bagian tulisannya yang terkenal mendefiniskan hukum sebagai sebuah :tatanan. Tentu saja dalam sebuah sistem hukum yang sakral. menurut Hoebel. Cendikiawan lainnya memandang hukum sebagai peraturan-peraturan atau norma-norma yang tidak selalu berarti bersifat resmi.’ Eugen Ehrlich membuat istilah “hukum yang hidup” untuk menggambarkan pola-pola perilaku aktual dalam sebuah masyarakat. Dengan demikian kita bisa mendapati bahwa hukum itu universal pula..” Definisi-definisi lainnya.

hukum sesuai fungsi-fungsi yang diperankannya.” Legalitas lebih mirip dengan konsep konstitusional mengenai proses hukum yang benar. atau secara umum “mengintegrasikan” diri mereka. dan para psikiater. Bagaimanapun juga. sebuah buku mewarnai. yang akan kita singkirkan dari konsep sistem hukum? Orang tua yang menyelesaikan pertengkaran antara dua orang anak yang berebut sebungkus es krim. dan Institusi atau peran yang “sama” bisa memiliki fungsi yang amat berbeda dalam masayarakat yang berbeda. menyelesaikan sengketa.’ Yang menjadi minat khususnya adalah konsep mengenai proses yang ia sebut sebagai legalitas. belum lagi para kepala keluarga dan . guru. tentu saja. yang berarti cara-cara yang digunakan oleh klub atau sekolah itu dalam membuat peraturan dan menerapkannya.’ Philip Selznick sepakat dan mendefinisikan “pemberlakuan peraturan “ sebagai “rangkuman bagi suatu sistem atau tatanan yang mengandung mekanisme khusus untuk mengesahkan peraturan-peraturan itu dari masuknya bentuk-bentuk kontrol dan perintah yang lain. seperti Dewan Hubungan Kerja Nasional. maka kita bisa berbicara tentang sistem-sistem hukum “pribadi” atau “hukum” sebuah klub atau hukum sebuah sekolah. Kita juga bisa menamakan bahwa setiap aspek masyarakat dan setiap Institusi yang menjalankan kontrol sosial adalah aspek yang bersifat “legal”. melainkan karena jika pekerjaannya digolongkan sebagai “hukum”. legislator yang menyelesaikan konflik di antara para kelompok kepentingan. kita mungkin memerlukan pandangan yang amat luas mengenai hukum-jika. atau dari segi cara menggunakannya. organisasi atau sistem apa pun. misalnya. Institusi. umumnya kita ingin membatasi diri kita pada fenomena yang “legal” dengan cara yang lebih lazim. para kepala suku.bisa menjalankan fungsi “hukum”. Ratu Elizabeth I dan Ratu Elizabeth II sama-sama ratu Inggris dan sama-sama menjadi kepala negara simbolis. para pendeta. Untuk tujuan tertentu. adalah penyelesaian sengketa. dalam masyarakat lainnya. ini bisa digunakan untuk mengukur “pemberlakuan peraturan” di berbagai . sebagai contoh. para pengacara di kantor-kantor mereka. konselor pernikahan. Definisi-definisi fungsional berguna dalam perbandingan kultural-kultural hukum.Institusi yang namanya berbeda bisa menjalankan fungsi yang sama. Legalitas merupakan pokok bahasan spesial bagi pengkaji hukum yang serius. kalau memang ada. Lon Fuller berbicara tentang hukum sebagai “daya upaya untuk mrnundukkan perilaku manusia kepada pemberlakuan peraturann-peraturan. Ada jenis definisi terakhir yang memandang hukum bukan sebagai fungsi juga bukan sebagai institusi atau peraturan melainkan sebagai sejenis proses atau tatanan. Siapa dan apa di Amerika Serikat yang memegang fungsi “menyelesaikan sengketa ‘? Pengadilan. tetapi fungsi mereka amat berbeda sekali. legalitas “berkaitan terutama dengan bagaimana kebijakan dan peraturan tertentu dibuat dan diterapkan alih-alih dengan kandungan isinya. namun mirip dengan peraturan-peraturan negara dari segi fungsib atau objeknya . perantara. Yang manakah diantara mereka. Kelompok manapun. Jika kita seperti Talcott Parsons yang memandang hukum sebagai “kode normatif umum” untuk menjalankan fungsi-fungsi “integratif”. tetapi juga para polisi yang meredakan keributan di bar. Kita bahkan bisa berbicara tentang “hukum” sebuah pusat perbelanjaan (sebuah “komunitas pemilik lahan dan para pedagang yang menyewanya”) dan menjelaskan bagaimana hal itu beroperasi. Kelemahan dari definisi-definisi fungsional setara dengan kelebihannya : cakupannya terlalu luas. dan juga paara tetangga. atau sebuah bola tidak termasuk dari sistem hukum-bukan karena pekerjaannya nonlegal.negara atau bukan negara. Peraturan dan proses-proses dalam sebuah sekolah bisa jadi tidak memiliki karakter resmi (negara). maka sistem hukum akan tercabut dari batasan-batasannya yang berarti. Salah satu fungsi. lusinan lembaga pemerintah. minat utama kita adalah psikologi sosial dalam hal penyelesaian sengketa di manapun terjadi.

Dalam pendapat kami. dan sistem pengadilan kriminal. karena konsep hukum harus tersaji bagi studi mengenai kondisi apa pun di mana perilaku manusia tunduk kepada pembuatan peraturan yang eksplisit. para legislator sebagai pembuat hukum. melakukan hal itu akan “melucuti analisis sosiologis. Kita mungkin membayangkan definisi idealnya sebagai sebuah lingkaran besar. jelas bersifat normatif. Kami ingin menerapkan teknik. Yang tidak begitu universal namun masih cukup jelas. Jika yang dimaksud “ilmu pengetahuan” disini bahwa prinsip-prinsip hukum bisa diverifikasi secera eksperimental. kami tidak memberikan definisi riil mengenai “ sistem hukum. Jika kita meletakkan semua kotak itu sesuai bentuk dan ukuran yang tepat. dan pola sikap ilmu sosial terhadap proses hukum. misalnya. Di negara-negara ini. Definisi mengalir sesuai tujuan atau fungsi si pendefinisinya. Titik tekannya ada pada hukum bangsa-bangsa industrial dan urban. wujud itu memang tidak sempurna tetapi cukup mendekati lingkaran yang kita perlukan. tentang antropologi sosial . Mengenai apakah hal- hal yang dilakukan oleh orang tua untuk mengatur anak-anaknya adalah bagian dari “sistem hukum” tidak menjadi persoalan. “Cina” atau “teater”. jika kita meyakini adanya ilmu pengetahuan (sains) hukum. Sebagian di antaranya jelas bertumpang tindih. atau diedukasi satu dari yang lainnya seperti dalam geoetri atau biologi. subsistem-subsistemnya sebagai kotak-kotak dan persegi panjang kecil-kecil. Selznick tidak hendak “menyamakan antara hukum dan negara. atau ditemukan secara induktif.Institusi hukum berelasi dengan mayarakat. Untuk tujuan ini kita memerloukan sebuah definisi hukum yang mentah dan terpilah. Definisinya muncul dari perhatiannya terhadap keadilan dalam masyarakat modern. Namun “hukum”n bukan merupakan sains atau ilmu pengetahuan. Kami memandang “hukum” dan “sistem hukum” sebagai padan kata bagi istilah-istilah semacam “bisnis”. terdapat subsistem-subsistem sosial yang didefinisikan oleh publik sebagai bagian dari hukum. kita akan mendapatkan sesuatu yang kira-kira akan membentuk sebuah lingkaran. Kita berbicara tentang prikologi bisnis. “sistem hukum” tidak lain adalah kumpulan dari semua subsistem ini. kita bisa mengatakan bahwa sebagian besar pekerjaan lembaga pemerintah dan konseling privat para pengacara merupakan wilayah hukum juga. pada bagian-bagian tertentu kotak-kotak itu tidak mengisi penuh lingkarannya. Walau bagaimanapun. kebanyakan di antaranya sesuai kesepakatan umum merupakan bagian dari sistem hukum. Ringkasnya. Tentu saja tidak ada definisi mengenai hukuum yang “benar”. misalnya. sepanjang apa yang dikatakan di sini berlaku bagi dunianya yang kecil mutuatis mutandis.” Ada subsistem- subsistem. bisa jadi ada ilmu hukum tentang hukum tetapi bukan sains hukum.wilayah kehidupan-di pabrik. temuan. Pada bagian lainnya. dan bahwa semua itu terhubung dengan negara atau memiliki struktur otoritas yang bisa dianalogikan dengan perilaku negara. Mereka memiliki kesamaan dari segi bahwa semua itu adalah sistem. Tidak adanya definsi yang pasti bisa memunculkan maslah serius. Dalam buku ini kami ingin mencermati bagaimanan Institusi. Semua ini merupakan atau bisa jadi merupakan pokok bahasan ilmu pengetahuan. Hal tersebut mencakup pengadilan. Definisi Selznick. Secara geometris. bahwa ereka beroperasi dengan norma-norma atau peraturan. kotak-kotak itu sedikit keluar dari tepian lingkaran. Definisi yang menyamakan hukum dengan peraturan-peraturan memungkinkan dunia ilmu hukum untuk mengesampingkan persoalan-persoalan empiris dan menjustifikasi pemikiran hukum tradisional. Gagasan mengenai “sains hukum”telah dikemukakan dengan gigih terutama oleh para ahli hukum kontinental. yang berukuran masing-masingnya lebih kecil daripada lingkaran tersebut. kehendaknya untuk mengarahkan kembali dunia keilmuan hukum.

Berikutnya pengadilan. hal-hal ini terwujud surat gugatan. Ciri Tersebut Ama Dengan Yang Ada Pada Sistem Atau Proses Manapun. mereka menetapkan akses menuju hukum dan dengan . Proses ini dinamakan umpan balik. Lebih dari itu. Secara fisik. Dalam banyak sistem hukumm. ayau mencapai kesepakatan tertentu. Common law Inggris ( common law) terutama mengembangkan kebanyakan isinya dari peraturan-peraturan mengenai surat gugatan dan bentuk-bentuk tindakan. seperti mengajukan gugatan perkara jenis tertentu. Bagaimanapun juga hasilnya adalah berupa output. Pengadilan bisa jadi membuat keputusan tertentu untuk penggugat atau bagi terugat.namun semua itu tidak dengan sendirinya merupakan sains. pengadilan menghasilkan suatu output-suatu pustusan atau ketetapan. permohonan yang diajukan ke pengadilan. Yang terakhir. bertukar pikiran. bahkan bukan merupakan ilmu pengetahuan sama sekali. di sana ada input . para walikota. Ditinggalkan oleh istrinya. Dalam pengertian luas. membuat perintah-perintah. Sebuah organissi hak- hak sipil mengajukan gugatan hukum atas sebuah distrik sekolah wilayah selatan. input yang masuk ke dalam sistem hukum merupakan gelombang kejut berupa tuntutan. seseorang dicemarkan nama baiknya oleh tetangganya. Mereka mengatur peran aktor-aktor dalam proses tersebut. dan pihak-pihak yang terlibat mulai memproses bahan-bahan yang masuk. mereka harus melakukan langkah formal tertentu. Kita bisa membicarakan umpan balik secara lebih umum sebagai cara tertentu di mana produk atau output sebuah sistem berpulang dan mempengaruhi sistem itu sendiri. tetapi bukan merupakan ilmu pengetahuan sosial tersendiri. mereka mengerjakan bahan-bahan mentah itu dengan cara sistematis. tanpa semua ini tidak akan ada pengadilan dalam masyarakat kita. Pertama. Terkadang pengadilan juga mengeluarkan peraturan umum. memberkas kertas-kertas. Mereka mendistribusikan kekuasaan (jurisdiksi) di antara institusi-institusi hukum. Para hakim dan petugas melakukan sesuatu. para pihak yang berperkara tidak bisa mendekati pengadilan secara informal. Polisis menangkap seseorang. misalnya. atau pengajuan perkara. Pihak-pihak yang terlibat dan para pengacara juga memainkan peran mereka.Cina. yang memancar bersumber dari masyarakat. Efek-efek lainnya dirasakan oleh para legislator. Informasi mengenai efek ini akan mengalir kembali ke dalam sistem tersebut. terluka karena sebuah mobil yang ngebut. Ada ratusan peraturan hyang membahas tentang bentuk input ini. Berikutnya. bahan-bahan mentah yang masuk pada suatu sisi sistem tersebut. SISTEM HUKUM DAN KOMPONEN-KOMPONENNYA Ciri apa pun yang kita lekatkan pada sistem hukum. tidak akan mulai bekerja tanpa ada seseorang yang berusaha mengajukan gugatan dan petkara hukum. Mereka menciptakan atau memperkecil ketergantungan orang-orang awam terhadap para pengacara. polisi.begitu pokok bahasan ilmu pengetahuan sosial. seseorang pemilik lahan mengganggu seseorang penyewa. perkara hukum dimulai dengan lembaran-lembaran kertas. semua peraturan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hukum Barat modern. Lebih awal lagi sebelumnya ada tindakan konkret yang berlaku sebagai pemicu. atau manajemen teater. prosedur memainkan peran yang lebih kecil dalam hukum.. Sebuah pengadilan. meskipun sekedar berupa penolakan untuk menyidangkan kasusnya. namun peraturan-peraturan tetap memiliki arti penting yang pokok. petisi. dan ketua lembaga-lembaga. Mereka memikirkan. Orang-orang atau kelompok lain mengdengar kabar ini dan mengajukan gugatan hukum terhadap distrik ini atau yang lainnya atau mengenai persoalan tertentu yang terkait. Dalam pengadilan. stafnya. nisa menghasilkan efek besar atau kecil. input adalah lembaran-lembaran kertas dan kepingan perilaku yang menggerakkan proses hukum. Dalam pengertian yang lebih sempit. outputnya diabaikan atau tidak. Penuntut mememangkan kasus ini. dan menyelenggarakan persidangan. Dewasa ini.

Dalam sebuah pabrik pembuat mainan plastik. kaum realis dalam hal tertentu nyaris memiliki kelengahan seperti para pendahulu mereka karena mengabaikan sisi input hukum. diandaikan akan sampai pada jawaban yang benar.” kata Hakim Roberts dari Mahkamah Agung Amerika Serikat. Pertanyaan pokoknya tetap ada. yang dimuati kode untuk menangani jutaan problem yang diumpankan setiap hai ke dalam mesin. jurisdiksi. Pada abad kedua puluh. Betapa pun juga. sekali kita mengetahui mesin tersebut.demikian berfungsi untuk menjaga agar struktur kekuasaan dalam masyarakat tetap utuh atau memungkinkan perubahan hanya dengan cara-cara yang disepakati dan valid.” Bila undang-undang yang diusulkan Kongres hendak ditolak. Peraturan-peraturan organisasi. alternatif. Mereka memandang bahwa hakim bukanlah sebuah mesin namun mereka berasumsi bahwa ia mirip tuhan. Pesannya adalah bahwa kita tidak bisa memprediksi output secara utuh dari struktur dan peraturan paling tidak. kita akan bisa memprediksi dengan amat baik apa yang akan dihasilkan oleh mesin itu. gambaran ini pada umumnya dianggap bisa diwujudkan. Sejauh mana peranan kotak hitam yang ada ditengah? Bagaimana mesin itu bekerja. dan apa yang telah diajarkann atau disuruhkan pada mesin itu untuk dikerjakan. dan prosedur adalah bagian dari pengkodeannya. gambaran seperti ini sulit untuk diterapkan pada sistem hukum. Mereka adalah output dari sistem. Yang menjadi inti dari sistem adalah caranya mengubah input menjadi output. Struktur sistem hukum mirip dengan program komputer yang besar. Yang juga penting adalah peraturan hukum materiil. yang berlaku untuk membentuk sosok output yang akan datang. Seorang hakim yang menjalankan trik ini secara tulus. yang meletakkan kedua teks tersebut berdampingan. Pandangan ini menganggap peraturan-peraturan hukum sebagai buku petunjuk yang meliputi semua atau hampir semua situasi kehidupan untuk ditangani oleh hukum. walaupun demikian hal itu tidak pernah mati. bisa diprediksi. meletakkan pasal Konstitusi yang secara berdampingan di sebelah undang-undang yang hendak ditolak itu dan memutuskan bahwa yang tersebut kemudian tidak sejalan dengan yang pertama. tidak selalu bisa. dan apa yang dikerjakannya? Apakah mesin itu bekerja seperti selembar selaput di mana kekuatan-kekuatan melewatinya tanpa mengubah bentuknya ? Seberapa pentingkah artinya bila suatu masyarakat memiliki sistem hukum jenis X sementara yang lainnya . Ini merupakan teori hukum mekanis. bahan-bahan mentahnya. Maksud dasar dalam karya mereka adalah hendak mengedepankan fakta ini dan mendorong agar tuhan tersebut berprilaku dengan cara yang lebih berprinsip dan berkesadaran sosial. Pandangan ini khususnya terkait dengan pemikiran akhir abad kesembilan belas. Para ahli hukum merasa bahwa idealnyahukum bersifat pasti. dan irasionalitas. dan bahwa struktur sistem hukum secara keseluruhan bukan tuhan dan juga bukan mesin. Kita bisa berasumsi bahwa haki bukan tuhan dan bukan sebuah mesin. Salah satu pandangan yang lazim mengenai sistem hukum-dan khususnya pengadilan-diambil dari metafora mesin besar yang terprogram. Segala sesuatu yang lain dari itu akan dipandang tidak adil.” cabang yudisial dari pemerintah hanya punya satu tugas. keputusan-keputusan dan peraturan mengalir keluar pada sisi lainnya . Gambaran ini mengabaikan elemen pilihan peluang. dan bebas dari hal yang subjektif dengan kata lain amat terprogram. Lebih dari itu. apa itu sistem hukum? Apa perbedaan yang dihasilkan oleh struktur? Apa perbedaan yang dihasilkan oleh para profesional hukum? Peran independen apa yang dimainkan oleh sistem dalam mengarahkan kekuatan-kekuatan sosial dan mengubah masyarakat ? Kekuatan-kekuatan sosial berubah menjadi tuntutan yang mengalir masuk pada satu sisi sistem. Tentu saja. realisme hukum menjadi aliran yang dominan dalam yurisprudensi Amerika beserta aliran-aliran serupa di negara-negara lainnya.

bagaimana pengadilan yang lebih tinggi berada di atas pengadilan yang lebih rendah. tribunal alih-alih barrister dan solicitor? Semua pertanyaan ini tertuju pada variabel struktural. Para cendikiawan berbicara. dll. Hart berpendapat bahwa ciri khas suatu sistem hukum adalah kumpulan ganda dari peraturan-peraturan. ia adalah bentuk permanennya. sementara yang lainnya bekerja dengan cara-cara yang ganjil dan menyimpang dari ketentuan. Karena .L. Bagian mana yang tidak. Tanpa ada masalah dan kehendak untuk menyelesaikannya.A. Dalam dunia nyata peraturan tertentu diganakan untuk disalahgunakan.” Peraturan primer adalah norma-norma prilaku. mematikan di sana. Tanpa ada pihak-pihak yang berperkara. Gambar itu tidak menampilkan gerak dan kenyataan. Ketika seorang pengamat mencoba untuk menjelaskan sebuah sistem hukum secara menyilang. Yang memberi nyawa dan realitas pada sistem hukum adalah dunia sosial eksternal. Struktur sebuah sistem adalah kerangka badannya. Semua itu merupakan cara menjelaskan perilaku sistem hukum bila dilihat secara menyilang.. menghidupkan di sini. Persoalannya. kemungkinan ia akan berbicara tentang dua elemen ini. Ia bergantung secara mutlak pada input-input dari luar. menerima realitasnya begitu saja. tubuh institusional dari sistem tersebut. mereka seperti foto diam dari sebuah sistem hukum gambar tak bernyawa dan bias. yurisdiksi pengadilan. Tentu saja. H.sistem jenis Y? Perbedaan apa yang dihasilkan bila suatu sistem memiliki atau tidak memiliki juri? Bila para hakimnya dipilih atau diangkat? Bila ia menganut atau tidak menganut sistem federalis. memilih bagian mana dari “hukum” yang akan beroperasi. Dan orang-orang yang terkait dengan berbagai jenis pengadilan. Sistem hukum tidak terisolasi atau terasing. Namun herannya kebanyakan para ahki ini nampaknya rabun. dan melewati apa yang muncul . Substansi (peraturan –peraturan) adalah elemen lainnya. Para pihak yang berprakara akan berprilaku atas dasar substansi yang membuahkan perkiraan yang direspon mereka. berdebat dan meneliti peraturan dan struktur. membeku dan mandek di bawah pengaruh mantra keabadian yang ganjil. tidak akan ada pengadilan. perubahan-perubahan apa yang akan terjadi secara terbuka atau diam-diam. Mereka cenderung untuk mengabaikan perbedaan antara apa yang dijadikan pegangan tindakan institusi-institusi itu dan apa yang benar-benar mereka kerjakan. mengganti. Jelas bahwa struktural adalah salah satu dasar dan elemen nyata dari sistem hukum . Sementara substansi tersusun dari peraturan-peraturan dan ketentuan mengenai bagaimana institusi-institusi itu harus berprilaku. Struktur sebuah sistem yudisial terbayang ketika kita berbicara tentang jumlah para hakim. Kekuatan-kekuatan sosial terus mennerus menggerakkan hukum merusak di sini. peraturan sekunder adalah norma mengenai norma ini bagaimana memutuskan apakah semua itu valid. Dunia ilmu hukum tradisional jelas familiar dengan struktur dan dengan dua jenis substansi ini. pada struktur dan substansi tradisional semua itu bersifat statis. baik peraturan primer mauoun sekunder adalah sama-sama output dari sebuah sistem hukum. tulang-tulang keras yang kaku yang nenjaa agar proses mengalir dalam batas-batasnya. bukan sebuah mesin yang tengah bekerja. struktur tertentu tidak bekerja. dengan istilah yang sama atau berbeda. tidak akan ada orang yang berperkara. Suatu sistem hukum adalah kesatuan dari ‘peraturan –peraturan primer” dan “peraturan. setidaknya bagi seorang awam. memintas. memperbaharaui di sana. tetapi semua itu paling jauh hanya merupakan cetak biru atau rancangan.peraturan sekunder. bagaimana memberlakukannya. Struktur dan substansi adalah komponen-komponen rill dari sebuah sistem hukum. Semua elemen sosial ini mencairkan kebekuan gambar di atas dan menggerakkan sistem. Sistem hukum yang digambarkan semata-mata sebagai struktur dan substansi formal adalah seperti ruang pengadilan yang diam karena tersihir. sistem imbangan.

kapanpun.tidak ada istilah lain yang lebih tepat lagi. Semua itu memodifikasi tuntutan0tuntutan yang berlangsung dan pada dirinya merupakan endapan jangka oanjang dari tuntutan-tuntutan sosial lainnya. dan semacamnya. Gagasan dasarnya adalah bahwa nilai-nilai dan sikap-sikap ketika diterjemahkan menjadi tuntutan akan menghidupkan mesin sistem hukum itu menjadi bergerak atau sebaliknya akan menghentikannya di tengah perjalanan. Proposisi yang tidak begitu luas cakupannya ini . Dengan demikian perilaku hukum tidak bisa dipahami kecuali dalam konteksnya. opini. Secara garis besar istilah tersebut menggambarkan sikap-sikap mengenai hukum. yakni sikap mengenai apakah akan dipandang benar atau salah. Kultur hukum adalah elemen sikap dan nilai sosial. Kedua. namun begitu . efeknya pada anak-anak dan teman anak-anak. biaya pengadilan yang ahal atau kerumitan yurisdiksi yang amat sangat akan mengurangi kecendrungan perceraian. cara bertindak dan berpikir yang mngarahkan kekuatan-kekuatan sosial menuju atau menjauh dari hukum dengan cara-cara tertentu. Yang pertama. kurang lebih analog dangan kultur politik. ada keteraturan umum perilaku proposisi mengenai cara berprilaku manusia yang jika valis berlaku benar di manapun. memulai sebuah revolusi. religius. Berikutnya. Sebagai contoh. Apakah sebuah serikat pekerja akan melakukan mogok. Disini struktur dan substansi merupakan ciri-ciri kukuh yang terbentuk pelan-pelan oleh kekuatan-kekuatan sosial dalam jangka panjang. imbalan dan hukuman mempengaruhi perilaku dengan cara-cara umum yang melampaui kultur dan masa. sebagian orang juga bersikap masa bodoh terhadap hak-hak mereka atau takut menggunakannya. perasaan dan penilaian para manusianya. hal ini bergantung pada ketentuan hukum yang berlaku. dan untuk semua jenis perilau hukum. berunding secara kolektif. Beberapa peraturan mengenai perceraian. atau membentuk sebuah partai politik bergantung pada banyak faktor. termasuk diantaranya konteks kultural. Istilah “kekuatan-kekuatan sosial” itu sendiri merupakan sebuah abstraksi. karena prilaku mereka bergantung pada penilaian mereka mengenai pilihan mana yang dipandang berguana atau benar. misalnyya juga akan berfungsi mencegah perceraian. mengajukan gugatan hukum. Kultur hukum juga bisa mempengaruhi tingkat penggunaan pengadilan. kita bisa memakan sebagian dari kekuatan-kekuatanini sebagai kultur hukum . Perceraian adalah sebuah konsep hukum. kekuatan-kekuatan demikian tidak secara langsung menggerakkan sistem hukum. yang didefinisikan oleh Almond dan Verba sebagai “sistem politik sebagaimana yang terinternalisasi dalam alam pikiran. Tidak adanya pengadilan yang dekat. substansi dan kultur berinteraksi. semua ini kadang menjangkau dan kadang tidak menjangkau proses hukum bergantung pada kulturnya. Suatu sistem hukum dalam operasi aktualnya merupakan sebuah organisme kompleks di mana struktur. Nilai-nilai dalam kultur umum juga akan sangat mempengaruhi tingkat penggunaann apa yang akan dipikirkan atau dikatakan oleh para kerabat atau tetangga mengenai perceraian. ekonomi. Untuk menjelaskan latar belaknag dan efek dari setiap bagiannya diperlukan peranan dari banyak elemen sistem tersebut. penggunaan perceraian bergantung pada struktur pengadilan. Keengganan religius dan moral. Secara analitis. konteks terdiri atas banyak elemen yang menghasilkan berbagai jenis proposisi perilaku. ada proposisi yang lebih terkait dengan kultur atau kelompok kultur misalnya mengenai tuntutan yang akan diajukan oleh para pengusaha terhadap hukum. Dengan begitu kultur hukum mengacu pada bagian-bagian yang ada pada kultur umum adat kebiasaan. dan ada negara-negara yang tidak membolehkan perceraian. Nilai-nilai dan sikap-sikap yang dipegang oleh para pemimpin dan anggotanya adalah diantara faktor-faktor ini. yang membatasi sebab sebabnya. Nilai-nilai demikian secara keseluruhan dan dalam jangka panjang turut memberi bentuk dan ciri hukum0hukum perceraian itu sendiri. bargu8na atau sia-sia bila kita pergi ke pengadilan. Orang-orang dalam masyarakat memiliki kebutuhan dan membuat tuntutan-tuntutan. hal tersebut juga akan mempengaruhi keputusan untuk mengusahakan perceraian formal. Pertama.

setiap evelator yang diinspeksi adalah output atau respon. sistem hukum diandaikan untuk menjamin distribusi yang benar atau tepat ( atau barangkali yang paling nyamman ) di antara orang-orang dan kelompok. dan sistem hukum mendukung stratifikasi tersebut. Ada kepingan- kepingan yang berbeda dalam sebuah puzzle pengadilan. perintah. FUNGSI SISTEM HUKUM Output hukum adalah apa yang dihasilkan oleh sistem hukum sebagai respon atas tuntutan sosial. Tuntutan terhadap sistem hukum tidak muncul dari “masyarakat” melainkan dari orang-orang. Setiap surat yang ditujukan pada seorang anggota kongres. Selain itu. masyarakat . Fungsi lain yang tidak begitu bersifat globaln adalah penyelesaian sengketa. dinas pertamanan. istilah “masyarakat” merupakan suatu abstraksi yang adakalanya beresiko. Di tengah konsep keadilan terdapat gagasan mengenai bagaimanan mempertemukan orang dan hal apa yang pantas mereka dapatkan. Bagaimanapun juga. Aristoteles menarik garis perbedaan yang terkenal antara keadilan distributif dan keadilan komutatif. Output-output umum ini adalah fungsi-fungsi menyeluruh dari hukum. Juga ada jutaan respon. penangkapan. kelas-kelas. atau sebagian besar orang) sistem hukum secara keseluruhan mungkin kelihatan menghasilkan ketidakadilan. Setiap subsistem utama dalam masyarakat angkatan bersenjata. dan lembaga-lembaga pemerintah. Di sini kita menghadapi gagasan tersebut hanya sebagai fakta sosiologis sebagai mandat yang diberikan oleh publik yang relevan dengan sistem hukum. apa yang diharapkan oleh masyarakat dari sistem. “sistem hukum” juga sebuah abstraksi. Setiap keputusan. guru. Setiap hari ada jutaan tuntutan atas sistem hukum. Salah satu fungsi hukum yang pokok adalah menyesiakan mesin dan tempat yang bisa dituju oleh orang untuk menyelesaikan konflik mereka dan merampungkan sengketa mereka. dewan kota. Seorang peimili kapal yang tinggal di Yunani adalah seorang manusia. sekaligus seorang Yunani dan seorang pemilik kapal. setiap surat gugatan yang diajukan ke sebuah pengadilan. mereka merespon tuntutan0tuntutan yang berbeda. polisi. adalah apa yang umunya disebut sebagai keadilan. Bagi mereka yang merasa bahwa stratifikasi adalah “tidak adil”. Masyarakat terstratifikasi. dan merumuskann keadilan dengan cara-cara individual. setiap panggilan telepon kepada seorang polisi merupakan tuntutan terhadap sistem hukum. memiliki fungsi atau misinya. kita bisa membicarakan tentang output dan respon sebagai hal-hal yang amat umum. Tentu saja. bagi sebagian orang (atau banyak orang. para majikan dan lainnya. sistem hukum pasti terlihat sebagai induk dari ketidakadilan tersebut. yang tertanam dengan pemahaman akan kebenaran. tokoh agama. Fungsi tersebut juga dimiliki oleh para orang tua. Jadi. kelompok.bisa digunakan untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku hukum orang Amerika atai Perancis. legislator. Dalam gugatan hukum dan transaksi individu. Dengan kata lain. Tentu sajja. Seperti apa hal ini dan bagaimanan menjalankannya merupakan masalah yang telah digeluti oleh para filosof hukum selama berabad-abad. Pada taraf yang paling umum. ditinjau secara etis tidak lebih dan tidak kurang. Alokasi ini. sistem harus menerapkan peraturan yang benar atau tepat (atau barangkali yang paling nyaman). Konflik-konflik muncul dalam setiap masyarakat. Diperlukan berbagai jenis proposisi untuk mebahas tentang hukum masyarakat manapun. yang berprilaku sesuai dengannya. menjalankan fungsi-fungsi yang agak berbeda. dan strata tertentu. setiap rancangan undang-undang yang diloloskan. fungsi ini tidak dimonopoli oleh sistem hukum. Sistem hukum bukan satu-satunya dalam hal ini. sekolah-sekolah. antara prinsip di mana kekayaan dan kehormatan dialokasikan di antara warga dan yang berkenaan dengan individu dan gugatan hukum. Paling tidak dalam jangka pendek. sistem hukum memiliki fungsi untuk mendistribusikan dan menjaga alokasi nilai-nilai yang benar menurut masyarakat.

rekayasa sosial (social engineering). dan instruksi-instruksi bagi para pegawai negeri dan penduduk pada umumnya. Fungsi pokok lainnya dari sistem hukum kontrol sosial yang pada dasarnya berupa pemberlakuan peraturan mengenai perilaku yang benar. Contoh yang paling jelas adalah fungsi legislatif. dll. Dan memang. Besar negara. Pengadilan-pengadilan juga menciptakan peraturan khusunya dalam sistem sistem hukum umum. reformer. Mereka memberkas dan memelihara catatan-catatan. Misalnya. dan ada lusinan dewan. Dalam masyarakat-masyarakat Barat modern. mengesahkan surat wasiat. misalnya. sistem hukum bisa bertindak sebagai instrumen perubahan yang tertata. “ dewan pemantangan minuman keras” memiliki kekuasaan besar untuk membantu orang-orang yang tengah menghadapi problema kecanduan alkohol). memberi pelajaran. seperti yang akan di bahas nanti. Para polisi dan hakim mengetahui bahwa para pencuri harus ditangkap dan dikirimkan ke penjara. nilai pencegah inilah yang ada pada hukum. Fungsi lain dari hukum adalah menciptakan norma-norma itu sendiri. Pengadilan-pengadilan di seluruh dunia bertindak atau mencoba bertindak sebagai guru moral. Kita bisa menamakan hukum pidana sebagai kontrol sosial primer. atau meminta surat kematian. dalam masyarakat yang lenih kecil dan kuno justru hal inilah yang terjadi. Mereka bertindak sebagai gudang atau memori bagi ribuan demi ribuan transaksi yang dibutuhkan atau dikehendaki dalam dunia modern. Pencuri yang tertangkap dan diseret ke pengadilan tidak semata-mata dikontrol. tuntutan-tuntutan ini “membentuk” hukum namun institusi-institusi yang ada pada sistem hukum menuai tuntutan- tuntutan itu. Kontrol sosial sekunder menasehati. bahan-bahan mentah bagi kontrol sosial. bahkan mereka yang membaca tentang hukum di koran-koran atau mendengarnya di jalanan. Ini terjadi bila persoalan yang suatu ketika pernah dipertentangkan atau dipersoalkan telah menysut menjadi sekesar rutinitas belaka. perceraian yang disepakati kedua pihak. fungsi ini sedikit atau tidak ada dalam sistem-sistem kesukuan. mislanya. Banyak lembaga dan dewan yang berusaha. dan merehabilitasi khalayak luas. mereka memangkas transaksi-transaksi menjadi rutinitas yang efisien.tertentu memberikan bobot lebih terhadap fungsi ini daripada masyarakat lainnya. memperbaiki kelakuan para pelanggar dan mengangkat mereka yang terjauh. Fungsi ini terutama menjadi ciri khas sistem hukum modern dan sistem-sistem hukum kekaisaran kuno. (Di Norwegia. naum di sebagian besar negara. memperbaiki. “(Apakah pelajaran itu akan berhasil atau tidak. pengesahan surat wasiat. Narapidana di dalam penjara menjadi subjek langsung dari “pendidikan”. Dalam menjalankan hal ini. ia juga diberi pelajaran. menghalurkan dan mengubahnya menjadi peraturan. Sistem hukum juga berusaha memberi pelajaran. kebanyakan di antara mereka memiliki kekuasaan untuk mengarahkan dan mengontrol. atau semestinya berusaha. prinsip. lembaga. mereka menggunakan fungsi hukum yang ini. atau pembayaran denda pelanggaran lalu lintas. . tidak umum orang-orang pergi ke pengadilan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa kecil dengan tetangga mereka atau untuk meluruskan pertenngkaran dalam keluarga. Dengan kekuasaan membuat peraturan dalam pemerintah modern. Kita melihat fungsi ini pada pengadilan-pengadilan dalam masyarakat-masyarakat yang sederhana dan dinegara-negara sosialis. Ketika orang mendaftarkan akte. tetapi sistem hukum berpandangan lebih jauh dari itu saja. dan pelaku rehabilitasi. Institusi-institusi hukum juga menjalankan fungsi rutin atau fungsi pencatatan. Orang-orang yang lewat. Kekuatan-kekuatan sosial melontarkan tekanan-tekanan. merehabilitasi sama saja pentingnya. adalah persoalan lain)”. namun di negara-negara tertentu pengadilan atau institusi-institusi yang mirip dengan pengadilan memegang peranan ini. komisi. perubahan nama. yang menjalankan kontrol sekunder terutama adalah keluarga dan pengadilan anak-anak. Sebagian besar tugas ini dijalankan oleh birokrasi.

Hukum mengekspresikan dan mendefinisikan norma-norma masyarakat. Tentu saja ini hanya teori. Kai Erikson berpendapat bahwa “interaksi . namun hal itu baik untuk jiwa masyarakat. ketentuan hukum menetapkan tentang siapa yang memiliki. dan memberitahukan kepada orang-orang apa yang bisa dan tidak bisa mereka lakukan. dan sistem hukum untuk menjalankan fungsi-fungsi instrumental lain yang tidak terlalu mencolok. Hukuman bisa jadi tidak ada kaitannya sama sekali dengan hukum dan tatanan. Yang kami maksud dengan “bekerja” adalah. Kejahatan dan hukuman menandai batas-batas moral suatu masyarakat. Selain itu dimungkinkan bagi hukum. Ketika masyarakat menengarai adanya seorang pelanggar . Orang-orang dalam suatu masyarakat mengharapkan agar hukum memenuhi standar-standar etis mereka. Para sosiolog semenjak Emile Durkheim telah penasaran dengan fungsi simbolis pada norma-norma hukum pidana. Untuk tujuan kita. yang terjadi antara orang-orang yang melanggar di satu pihak dan lembaga- lembaga resmi masyarakat di pihak lain “menggambarkan” tugas paling efektif dalam melokalisir dan mempublikasikan batas-batas kelompok tersebut. Mereka yang bertindak melebihi batas.. Karena fungsi tersebut memiliki satu tujuan instrumental : mengubah perilaku. Kejahatan harus dihukum bukan hanya karena hal itu dari sananya berbahaya. HUKUM SEBAGAI SISTEM ALOKASI Dalam pengertian terluas. Keputusan-keputusan hukum pada hakikatnya bersifat ekonomis. Tujuannya bukan untuk menekan demi mewujudkan tatanan. hal tersebut lebih mengacu pada perkiraan dan penilaian. Sistem tersebut mengeluaran perintah-perintah. tetapi juga karena hal itu merusak solidaritas masyarakat- kejahatan merupakan serangan terhadap “kesadaran nurani orang banyak”. Hukuman merupakan cara untuk melepaskan dan memuaskan agresi secara terkontrol dan aman sebagai penyaluran insting gelap anusia. Ketentuan hukum mencerminkan keputusan-keputusan masa lalu mengenai alokasi semacam itu. Dikatakan bahwa masyarakat membutuhkan konsep tentang perilaku menyimpang atau melanggar. keadilan seperti apa yang hendak dihasilkan oleh sistem hukum? Konsep tersbut tentu saja tidak bisa didefinisikan dan selama ini menjadi subjek literatur filsafat yang luas. Gagasan lain lagi yang terkadang dikemukakan adalah bahwa hukum pidana menjalankan semacam fungsi katarsis. Fungsi-fungsi yang tersebut di atas terhitung sederhana dan nyata.” Dengan kata lain hukum mengumumkan seperti apa peraturan dan tolak ukurnya dan menegaskan bahwa masyarakat bisa dan akan menghukum para pelaku kejshatan. “masyarakat tersebut membuat statemen mengenai hakikat dan kedudukan batas- batasnya. Disis lain dikatakan orang bahwa “kontrol melalui hukuman” ini bisa benar-benar menyebabkan pelepasan agresi lebih dari yang dikehendaki. bagaimana hukum memperlakukan orang-orang dan bagaimana hukum mendistribusikan untung rugi. Mereka mengalokasikan barang-barang dan jasa yang terbatas jumlahnya. Konflik atau sengketa tertentu terjadi atau beresiko terjadi di antara . memelihara atau mendapatkan barang apa. Apa yang dikerjakannya dan seperti apa wujudnya akan mencerminkan distribusi kekuasaan dalam masyarakat siapa yang di puncak dan siapa yang di bawah. proses hukum. Ini tidak sama dengan mengajarkan dan mendakwahkan fungsi hukum. melainkan menekan demi menghias norma-norma kesadaran masyarakat.. menyebarkan manfaat. Dengan demikian nyaris tidak jadi masalah bila ada segelintir orang-orang tidak bersalah yang sampai menderita. hukum juga menghendaki agar struktur sosial tinggal stabil atau berubah hanya dengan cara-cara yang telah disepakati atau telah terpola. Mereka akan menilainya berdasar cara hukum itu bekerja. dalam sembarang keadaan. Sistem hukum dalam pengertian ini merupakan sistem penjatahan. Sepanjang publik melihatnya sebagai keadilan. meskipun hal itu barangkali adalah tujuan tertinggi.

memgapa? Peraturan-peraturan. Pihak manajemen bisa menetapkan harga tertentu dan menjualnya atas dasar siapa yang datang lebih awal dia yang dilayani. Tentu saja tiket pertunjukannya bisa dilelang meurut penawaran yang tertinggi. Ada pasar yang mematok harga dan menyalurkan barang dan jasa melalui kesepakatan- kesepakatan pribadi. Sistem hukum membayarkan tunjangan dan memasukkan orang ke dalam penjara. Hukum manjaga. sebagian orang pun akan “tidak mampu membayar”. Setiap fungsi hukum. Sistem hukum mengalokasikan secara langsung. mereka tinggal terlalu jauh dari loket tiket. mereka memiliki anak-anak yang hasrus dirawat. konsumen menginginkan harga rendah. kontrol sosial monopoli atas kekerasan. Tidak terkecuali. memeberikan imbalan dan hukuman. proses pengambilan itu Cuma dijalankan oleh mekanisme pasar berwujud daya upaya seperti di atas. namaun ada cara lain pembagian tiket itu yang tidak bergantung pada nilai uang. dijual dan juga pajak pewarisan. Di negara-negara berpasar bebas atau negara-negara dengan ekonomi campuran. semua itu tentu saja mengekalkan alokasi-alokasi yang lebih lama atau. Perhatikan bahwa. Sangat mungkin ini berupa semacam kompromi. begitu dibuat dan diberlakukan. atau pikiran mengenai begadang di malam hari ibarat harga yang mahal. menjadi pola acuan bagi pembuatan peraturan-peraturan dan keputusan lain. tetapi pasokan hakim terbatas tragisnya demikianlah yang terjadi di . Institusi properti pribadi bersandar pada pilar- pilar hukum. Sebagai contoh. Harga-harga dan pasar adalah salah satu cara mengalokasikan jasa dan barang. hukum menentukan kesepakatan prbadi seperti apa yang bisa berlaku dan mana yang tidak. Hukum membatalkan jenis-jenis kesepakatan tertentu. semacam hukum tenaga kerja dan hukum serikat dagang. Sebuah ekonomi pasar atau campuran mendesentralisasikan banyak keputusan ekonomi. seperti kami katakan. Jasa pengadilan sendiri bisa dijadikn sebagai contohnya. instrumen-instrumen perbankan. persis seperti di pasar “riil”. Seseorang tidak bisa secara legal menjual dirinya sebagai budak. pemeliharaan hukum dan tatanan. bersifat alokatif. institusi-institusi hukum mengontrol bank-bank. entah itu bersifat umum atau spesifik. dan membatasi area di mana pasar bebas beroperasi. dan kapan. uang dankredit. Para petani menginginkan harga-harga yang tinggi. siapakah yang memiliki hak untuk menggunakan paksaan. tetapi yang jelas hal tersebut berwujud alokasi. Seringkli ketika masyarakat mengambil barang-barang yang terbatas jumlahnya di pasar. Sebagian orang mungkin akan berdiri mengantri semalam suntuk kehujanan untuk memastikan mendapatkan tiket.orang-orang atau kelompok. atau membuat kesepakatan pemainan harga. Peraturan-peraturan hukum menyediakan tata cara pendaftaran tanah untuk dihibahkan. Seandainya ada seorang musisi opuler hendak tampil di kota pada suatu malam di sebuah aula dengan kapasitas tempat duduk 1000 orang. Hukum kontrak menyatakan sebagian dari peraturan-peraturan dasar tersebut. tetapi ada sepuluh kali lipat jumlah orang yang ingin datang. mereka bekerja pada malam hari. Hukum bahkan menyediakan dukungan yang lebih pokok bagi pasar. mengubahnya dengan cara- cara yang terpola. Orang mengekspresikan kekurangan-kekurangan yang tidak tentu sifatnya. Tindakan hukum (berupa peraturan atau keputusan) yang dihasilkan pun memilih di antara berbagai alteratif yang mungkin. Dua orang berebut satu bidang tanah. Ini adalah “pasar” untuk barang yang tidak memiliki harga tau barang dengan harga tetap dan pasokan terbatas. merumuskan. namun tangan gaib mengontrol di dalamnya akan lumpuh tanpa bantuan institusi-institusi hukum. namun sarannya bukan ini saja. Waktu si hakim adalah bebas bagi penggunaannya. membuat mereka mantap bahwa mereka tidak perlu menonton konser tersebut. serta pengoperasian pasar modal. mereka terlalu lemah dan sakit untuk bisa menunggu dalam cuaca dingin. Tetapi juga yang lebih jauh penting adalah cabang-cabang hukum yang lebih spesifik. Sistem hukum pidana melindungi kepemilikan dari penyalahgunaan dan pencurian. mereka tidak tahan berdiri mengantri.

pengadilan ditunda selama beberapa bulan atau tahun. kesabaran. Peraturan yang membentuk sistem penjatahan seperti ini. kebangsaan. yang terlempar dalam antrian untuk mendapatkan perumahan publik. Pihak-pihak yang berperkara pun harus “mengantri”. Kriteria yang dipilih adalah kebetulan atau peluang. Peraturan-peraturan pewarisan hak milik bersifat askriptif. Demikian pula berbagai peraturan (untunglah sekarang semakin sediit) yang menarik garis hukum berkenaan dengan ras. Uang tidak bisa digunakan untuk membeli jalan pintas yang valid ( kecuali bila pengadilannya korup). para veteran mendapatkan pensiun karena telah beridinas. jasa atau proses. kearifan. Ini terjadi bila pengadilan tidak bisa memutuskan orang mana yang pukulannya telah menyebabkan kematian. Hal ini didsaran atas karakteristik status keturunan. Banyak negara mengadakan lotere untuk menggalang dana. kebijakan. Lotere merupakan cara lain untuk menjalanakan hukum peluang atau kebetulan ini. Ada lebih banyak orang yang mencapai usia wajib militer dibandingkan dengan yang dibutuhkan oleh angkatan bersenjata. antriannya akan menyusut atau lenyap. Namun akan tidak adil bila lebih dari satu orang yang harus mati. kekuatan. karena tidak ada cara rasional untuk memutuskannya. Orang-orang dengan keluarga besar dan pendapatan kecil. Faktor peluang atau kebetulan adalah hakim yang jujur dan tidak bisa diprediksi. cara pengalokasian lainnya bisa disebut sebagai kepantasan (merit). pengadilan menggunakan dadu untuk memutuskan pihak mana yang bersalah atas kejahatan membunuh yang harus mati dan mana yang akan dihukum lebih ringan. agama. Beberapa kriteria bisa digunakan untuk merumuskan apa itu kepantasan-keindahan fisik. Investasi ekstra- uang. Keputusan apa pun yang sewenang-weang memiliki efek yang sama seperti lotere. waktu atau kerja keras tidak mendatangkan efek apa pun pada hasil yang akan diperoleh. Dalam sebuah pasar. Torstein Eckhoff menyebutkan bahwa di Swedia dan Firlandia. Untuk itu urutan hari-hari dalam setahun dibuat sebagai bahan lotere. agama. Satu contoh terbaru yang mencolok di Amerika Serikat adalah lotere wajib militer. Kriteria lainnya lagi bisa disebut sebagai bawaan atau askriptif. Bisa ditambahkan bahwa sistem antrian ini dengan sendirinya mudah memunculkan korupsi seperti halnya para fans yang kaya akan berusaha membeli tiket konser dari calo. secara eksplisit atau tidak. Cara seperti ini merupakan keputusan yang lazim dalam mensosialisasikan barang. “Cara penyelesaian masalah seperti ini berguna untuk membebaskan hakim dari keharusan untuk bertangggung jawab atas pilihan penting.kebanyakan kota-kota besar di Amerika Serikat. khususnya jika setiap pelanggaran dibatasi hanya satu tiket atau peluang tunggal. dalam sebuah atrian. ras. hanya orang-orang yang hari lahirnya memiliki angka lotere rendah yang menjalani wajib militer. Ketika keputusan dan . Lotere mensejajarkan semua individu sampai ke kesetaraan kesempatan yang mutlak. Kriteria lainnya lagi bisa digolongkan sebagai kebutuhan. pada abad kedepalan belas dan sembilan belas. Orang-orang dalam kehidupan sehari-hari seringkali mengundi dengan melempar mata uang atau dadu ketika mereka tidak bisa memutuskan sesuatu. Orang banyak menuntut harus ada yang dihukum mati untuk menebus kematian di korban. Jika pasokannya cukup banyak. Penggunaan legal lainnya dengan sistem lotere kurang lazim. Pekerjaan dinas sipil diberikan kepada mereka yang memiliki skor tertinggi dalam tes-tes standar. berusaha mengalihkan hak-hak dari orang-orang yang memiliki uang kepada orang-orang yang memiliki kesabaran atau waktu. seks. atau keahlian. uang yang bicara. dan kebangsaan di beberapa negara di penjuru dunia. Tentu saja ini bukan satu-satunya hal yang mungkin dilakukan. kesabaran dan waktu. dan pada saat yang sama menunjukkan tidak adanya sikap berpihak. Cara lain lagi untuk mengalokasikan nilai-nilai atau hak-hak atau menugaskan tanggung jawab adalah dengan menyerahkan keputusan kepada faktor peluang atau kebetulan (chance). Begitu juga sebagian peraturab kewarganegaraan.

akan cenderung memungkinkan dibuatnya keputusan dengan cara tertentu. membayar. Lotere. selama perang Vietnam. dan banyak keluhan mengenai hal- hal yang dipandang tidak adil. seorang bisa memutuskan untuk membayar harganya. Keputusan yang mengatur tentang keputusan lain tergolong di antara hal-hal terpenting yang dibuat oleh masyarakat. hukum forma bisa terlihat seperti roda nasib bagi orang kebanyakan. misalnya adalah peraturan-peraturan hukum pidana. Mereka tidak bisa memperkirakan apa yang akan muncul dari hukum dan dengan segala upaya mereka akan mengindari proses yang begitu mengejutkan dan tidak bisa diprediksi. Hak untuk memilih adalah contoh lainnya. Lotere wajib militer mungkin di pandang banyak orang sebagai hal yang jauh lebih adil daripada alternatif lainnya. potensi “kerusakan” nya luar biasa besar. ia membiarkan keputusan untuk menyepakati. Ketika hukum menerapkan atau melangsungkan sistem pasar atau antrian. banyak hal sipil dasar yang memiliki kualitas ini. memiliki nilai yang riil namun terbatas. Seorang “bebas” membuat dan melangggar kontrak. Tanpa keyakinan pada otoritas. orang-orang diperbolehkan untuk membayar menghindari wajib militer. Dalam teorinya. ia akan memandang lotere sebagai hal yang amat tidak adil. atau mengantri ke tangan probadi. Yang jelas mereka tidak mengizinkan individu untuk memilih hendak mengerjakannya atau tidak.peraturan dibuat misterius dan ketika prosesnya terlihat sewenang-wenang bagi publik awam. dalam praktiknya banyak barang yang tidak bisa dibagi dengan cara ini meski kita mengehendakinya. Selama perang Saudara Amerika. ada berbagai macam alternatif di tingkat lokal. Peraturan-peraturan. Bukan faktor prinsip atau akal pikiran. tetapi dalam pendapat kami garis batas antara keputusan buatan sejak awal dan keputusan “pribadi” itu tidaklah setajam seperti kelihatannya. Hal ini juga berlaku meskipun di bawah kekuasaan raja absolut atau dalam masyarakat yang terkendali secara total. membiarkan orang-orang memutuskan siapa yang akan mereka hadapi dan kapan hendak menggunakan proses hukum. setiap masyarakat tidak peduli sejauh mana bebasnya. Pembunuhan di larang dan dihukum berat. termasuk peraturan mengenai yurisdiksi. Lotere memberikan kesempatan yang sama tetapi dengan hasil yang berbeda. sistem hukum memungkinkan tersedianya sebagian lingkup tertentu bagi pilihan bebas. Sejauh mana kita hendak bertumpu pada pasar terus menjadi bahan perdebatan yang sengit. bahkan di negara-negara sosialis sekalipun. yang demikian. masing-masing cara alokasi memiliki kelebihan dan kekurangannya. yakni disajikan sebagai sebuah paksaan. ia akan menuntut haknya atas dasar kepantasan (merit) atau kebutuhan. semakin mungkin keputusan itu “dibuat sejak awal” . Cara lain lagi untuk melakukan alokasi adalah dengan membagi untung atau rugi secata sama rata-poll tax. akan membentuk sebuah kelompok keputusan secara kolektif dan berusaha untuk memberlakukan kehendak kolektid itu melalui kekuatan. Begitu pula halnya. seperti akan kita lihat. Di ujung lainnya ada peraturan alokatif yang tidak menyisakan apa pun bagi keputusan probadi. Semakin besar kecendrungannya. publik mungkin membayangkan bahwa yang memutuskan nasib mereka adalah faktor kebetulan atau peluang. Dalam setiap masyarakat. Jika seseorang yakin bahwa ia memiliki hak atas barang tertentu yang legal. misalnya. hak pilih dibagi rata di antara semua orang dewasa yang mampu. namun pintunya tetap dibiarkan terbuka. seperti telah dikatakan oleh Guido Calabresi. Sistem antrian memiliki plus dan minusnya. Bagaimanapun juga. Masing-masing keputusan demikian memiliki alasan. sebelum digunakan lotere. Dan . Hal itu memperlihatkan sebuah “keputusan kolektif di mana para pembuat keputusannya tidak memiliki alasan memadai mengapa aktivitas itu mesti dikerjakan oleh sebagian orang alih-alih oleh sebagian lainnya. Betapa pun.

Jalan yang sepi tidak memerlukan lampu lalu lintas dan polisi. Salah satu jenis peraturan yang istimewa ini bisa kita sebut sebagai peraturan konstitusional. yang menentukan cara-cara pembuatan keputusan-keputusan. Keyakinan abad kesembilan belas mengenai tangan gaib telah melemah secara dramatis. diantaranya. Masyarakat nampaknya amat bergantung satu sama lain dan tidak bisa menjalankan dirinya sendiri.memang “hukum” mengandung arti. inflasi pemerintahan dan inflasi peraturan nampaknya tak terhindarkan lagi sebagaimana halnya dengan inflasi harga. yang berarti bahwa kehidupan modern semakin kompleks. . otoritas. sebagai peraturan-peraturan dan keputusan- keputusan kolektif ini dan sarana untuk menjalankannya . teliti atau adil untuk bisa mengontrol perilaku massal manusia modern. kebiasaan. Dengan kata lain. atau oerintah tertentu. negara membuat keputusan ini melalui pemungutan suara. nilai- nilai yang tertanam dalam batin dan pasar bebas nampaknya tidak cukup efisien. yang diberlakukan atas orang-orang. tekanan kelompok-sebaya. seperti apa pun hasil akhirnya. entah ekonomi atau politik suatu negara bersifat sosialis. kapitalis. bahkan ketika peraturan-peraturan hukum mendukung pasar dan mengizinkan atau mendorong dibuatnya pilihan oleh ondividu. Pada masa kini. peraturan-pertauran itu sendiri merupakan keputusan-keputusan yang dibuat sejak awal. atau campuran. Namun demikian. Ini sudah menjadi hakikat dari sebuah peraturan. dalam pengertian semua itu menentukan alokasi menurut skema tertentu yang telah dibuat sejak awal. adalah kolektid. setiap ketentuan hukum. Alternatif-alternatis selain “hukum” adat istiadat. diperlukan banyak tetalaksana agar masyarakat bisa tetap mengapung.