You are on page 1of 7
Tinjauan pustaka Gangguan berbicara akibat stroke Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Alamat korespondensi : Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510, Indonesia Abstrak Otak merupakan bagian dari sistem saraf pusat. Otak terdiri atas dua bagian yaitu hemisfer kanan dan kiri. Hemisfer kanan dan kiri memiliki spesialisasinya masing masing. Spesialisasi hemisfer kiri merupakan analitik sekuensial dimana terjadinya proses berpikir,mengingat secara detil dan rinci. Sedangkan spesialisasi hemisfer kanan untuk persepsi spasial dan artistik. Kedua hemisfer ini saling melengkapi satu sama lain. Afasia merupakan gangguan dalam berbicara akibat adanya lesi di bagian hemisfer yang berfungsi untuk berbahasa . Afasia terdapat dua kelompok yaitu afasia lancar dan tidak lancar. Jenis afasia lancar yaituafasia sensorik, afasia konduksi, afasia amnesik, afasia trans kortikal sensorik. Jenis afasia tidak lancar yaituafasia motorik, afasia global, dan afasia transkortikal motorik. Kata kunci: Broca , sistem saraf pusat, afasia Abstract The brain is part of central nervous system. The brain consists of two parts of the right and left hemispheres. Right and left hemispheres heve their own specialist. Left hemisphere specilisasia is a squential analitic wherein the process of thinking, remembering , in detail and detail. While the right hemisphere specializes for spatial and artistic perception. These two hemisphere complement each other. Aphasia disorder in speech due to lesions in the hemispheres section for language functions. Aphasia there are two groups that is smooth adn not smooth. The type of current affasia of sensory aphasia, affasia conduction, amnesic aphasia, sensory transcortical aphasia. Types of inflammation that is not smooth ie motor aphasia, global aphasia, and motor transcortical affasia. Keywords: broca, central nervous system, aphasia Pendahuluan Dalam kehidupan ini, segala aktivitas manusia diatur oleh jaringan saraf yang berpusat pada otak. Otak adalah salah satu organ pada manusia yang sangat penting peranannya. Seluruh kegiatan manusia, baik secara kognitif maupun afektif dikendalikan oleh sistem saraf pusat yang ada di dalam otak. Otak manusia memiliki miliaran sel saraf yang tersimpan lebih rapat dibanding jaringan lain dalam tubuh. Hal ini menjadikan otak mampu merekam lebih dari 86 juta bit informasi atau sekitar 11 juta huruf setiap harinya.1 Otak mendapatkan penjagaan yang lebih ketat daripada organ-organ lain karena fungsinya yang sangat vital. Oleh karena itu juga, otak memiliki beberapa lapis pelindung, mulai dari tulang kranium, selaput otak dan cairan otak. Namun meskipun telah memiliki banyak pelindung, tidak mengurangi adanya resiko terjadinya trauma pada otak jika terkena benturan ataupun kecelakaan lain pada daerah di sekitar otak. Oleh karena itu, pada masa kini dalam beraktivitas selalu yang diutamakan adalah keamanan pada daerah kepala. Mekanisme bicara Otak mula-mula menyalurkan informasi penglihatan dari korteks penglihatan ke suatu daerah spesifik (girus angularis) korteks asosiasi pariental temporal oksipital, suatu bagian yang berkaitan dengan integerasi input-input sensorik seperti penglihatan,pendengaran,dan sentuhan. Dari korteks asosiasi ini, informasi dipindahkan ke daerah wernickle, tempat pemilihan dan perangkaian kata yang akan diucapkan dirumuskan. Perintah bahasa ini kemudian disalurkan dari daerah wernicke ke daerah broca, yang pada gilirannya menerjemahkan menerjemahkan pesan menjadi pola suara terprogram. Program suara ini disampaikan dari daerah broca ke daerah-daerah di korteks motorik primer untuk mengaktifkan otot-otot di wajah dan lidah yang akan menghasilkan kata-kata yang diinginkan.1 Jenis-jenis afasia Afasia merupakan kelainan yang muncul akibat kerusakan dari bagian otak yang mengurusi masalah berbahasa. Afasia umumnya terjadi akibat dari stroke atau cedera kepala. Dapat juga terjadi akibat tumor otak, demensia, dan infeksi. Kelainan ini menggangu ekspresi dan pemahaman dalam hal membaca dan menulis. Klasifikasi afasia dibagi menjadi dua yaitu afasia lancar dan tidak lancar. Afasia lancar meliputi afasia sensorik, afasia konduksi, afasia amnesik, afasia trans kortikal sensorik. Pada afasia tidak lancar pembicaran pasien terbatas serta sering disertai artikulasi yang buruk. Contoh afasia motorik, afasia global, dan afasia transkortikal motorik. Pada afasia sensorik pemahan bahasa pasien terganggu karena terjadi lesi di bagian posterior. Afasia konduksi terdapat gangguan berat pada repetisi/memahami bahasa terjadi akibat terputusnya hubungan area wernicke dan broca. Pada afasia anomik terjadi kesulitan dalam menemukan kata dan tidak mampu menamai benda yang dihadapkan padanya. Kejadian ini terjadi karena lesi di banyak bagian hemisfer. Afasia transkortikal ditandai dengan repetisi bahasa yang baik namun fungsi bahasa lainnya terganggu. Afasia motorik merupakan gangguan bicara yang terjadi akibat lesi di daerah broadmann 44 dan sekitarnya menyebabkan gangguan bicara. Afasia global merupakan jenis afasia paling berat. Keadaan ini ditandai dengan tidak adanya lagi bahasa spontan/ berkurang sekali . terjadi akibat lesi luas yang besar pada daerah bahasa. 2 Diagnosis afasia ialah berdasarkan tanda dan gejala klinis yang ditemukan pada pemeriksaan fisik dan kejiwaan. Sedangkan pemeriksaan tambahan lainnyadilakukan untuk mengetahui penyebab kerusakan otaknnya 3,4 1. Afasia Broca Disebabkan lesia di area broca. Pemahaman auditif dan membaca tidak terganggu, tetapi sulit mengungkapkan isi pikiran. Gambaran klinis afasia broca ialah bergaya afasia non-fluent. 2. Afasia Wernicke Disebabkan lesi di area wernicke. Pada kelainan ini pemahaman bisa terganggu . penderita tidakbisa memahami bahasa lisan dan tulisan sehingga ia juga tidak mampu menjawab dan tidak mengeti apa yang dia sendiri katakan. Afasia wernicke ialah bergaya afasia fluent 3. Afasia konduksi Disebabkan lesi di area fasciculus arcuatus yaitu penghubung antara area sensorik (wernicke) dan area motorik (broca). Lesi ini menyebabkan kemampuan berbahasa dan pemahaman yang baik tetapi didapati adanya gangguan repetisi atau pengulangan. 4. Afasia global Adalah bentuk afasia yang paling berat. Ini disebabkan lesi yang luas yang merusak sebagian besar atau semua area pada otak. Keadaan ini di tandai oleh tidak ada lagi atau berkurang sekali bahasa spontan dan menjadi beberapa patah kata yang di ucapkan secara berulang-ulang, misalnya “buah, baaah, baaah” atau “maaa, maaa, maaa”. Pemahaman bahasa hilang atau berkurang. Repetisi, membaca dan menulis jga terganggu berat. Struktur Mikroskopis Sistem Saraf Pusat Sistem saraf pusat terdiri dari 90% sel glia atau neuroglia. Jumlah neuron justru jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan sel glia. Meskipun berjumlah besar, sel glia hanya menempati sekitar separuh dari volume otak karena sel ini tidak membentuk cabang sebanyak yang dimiliki neuron.5 Neuron memiliki aneka macam bentuk, namun masing-masing mempunyai badan sel atau soma, terdiri atas inti dan sitoplasma sekitarnya yaitu perikorion. Badan biasanya memancarkan beberapa cabang disebut dendrit dan sebuah cabang panjang dan langsing, yaitu akson. Sebuah akson dapat sangat panjang, memancarkan cabang-cabang, atau kolateral akson, sepanjang jalannya, dan dekat ujungnya bercabang-cabang halus menjadi yang disebut cabang preterminal, atau terminal akson. Jarang sekali tidak ada akson, hanya dendrit, yang mengadakan hubungan rumit dengan neuron lain.5 Gambar 4. Histologi Neuron.5 Sel glia berfungsi sebagai jaringan ikat SSP sehingga membantu menunjang neuron baik secara fisik maupun metabolik. Sel-sel ini secara homeostasis mempertahankan komposisi lingkungan ekstrasel khusus yang mengelilingi neuron di dalam batas-batas sempit yang optimal bagi fungsi neuron. Selain itu, sel-sel ini secara aktif memodulasi fungsi sinaps dan dianggap saam pentingnnya seperti neuron dalam proses belajar dan mengingat. Ada empat tipe utama sel glia di SSP yaitu; atrosit, oligodendrosit, mikroglia, dan sel ependim.6 Gambar 5. Sel Glia Susunan Saraf Pusat7 Atrosit, diberi nama demikian karena berbentuk seperti bintang (astro artinya bintang, sit artinya sel), merupakan sel glia yang paling banyak. Sel ini memiliki sejumlah fungsi penting:6 1. Sebagai “lem” utama SSP, atrosit menyatukan neuron-neuron dalam hubungan yang benar. 2. Atrosit berfungsi sebagai percancah untuk menuntun neuron ke tujuan akhirnya selama perkembangan otak masa janin. 3. Sel-sel glia ini memicu pembentukan sawar darah otak. 4. Atrosit penting dalam perbaikan cedera otak dan dalam pembentukan jaringan parut saraf. 5. Menyerap dan menguraikan neurotransmitter yang dibebaskan menjadi bahan mentah untuk membentuk lebih banyak neurotransmitter oleh neuron. 6. Menyerap kelebihan K+ untuk membantu mempertahankan konsentrasi ion CES otak yang tepat dan eksitabilitas normal neuron. 7. Meningkatkan pembentukan sinaps dan memperkuat transmisi sinaps melalui dan memperkuat transmisi sinaps melalui sinyal kimiawi ke neuron. Oligodendrosit membentuk selubung mielin insulatif di sekitar akson SSP. Oligodendrosit memiliki beberapa juluran memanjang yang masing-masing membungkus (seperti dadar gulung) sepotong akson antarneuron untuk membentuk segmen mielin.6 Mikroglia adalah sel pertahanan imun SSP. Sel “pembersih” ini adalah “sepupu” monosit, sejenis sel darah putih yang meninggalkan darah dan membentuk lini pertama pertahanan di berbagai jaringan di seluruh tubuh. Mikroglia berasal dari jaringan sumsum tulang sama dengan yang menghasilkan monosit. Selama perkembangan masa mudigah, mikroglia bermigrasi ke SSP, tempat sel-sel ini berdiam diri sampai diaktifkan oleh infeksi atau cedera. Dalam keadaan istirahat, mikroglia adalah sel “berbulu” dengan banyak cabang panjang yang memancar keluar. Mikroglia dalam keadaan istirahat bukan sekedar sel pengawas, melainkan dapat mengeluarkan faktor-faktor pertumbuhan dalam konsentrasi yang rendah. Ketika terjadi masalah di SSP, mikroglia menarik cabang-cabangnya, membulat, dan menjadi sangat mobile, bergerak ke daerah yang bermasalah dan menyingkirkan semua benda asing atau sisa jaringan.6 Sel ependim melapisi bagian dalam rongga-rongga berisi cairan di SSP. Berfungsi ikut membentuk cairan serebrospinal, dan sebagai sel punca neuron dengan potensi membentuk neuron dan sel glia baru. Sel ependim ini memiliki silia yang ikut berperan mengalirkan cairan serebrospinal di seluruh ventrikel.6 Makroskopik pusat bahasa Area broca adalah bagian dari otak manusia yang terletak di gyrus frontalis superior pada lubus frontalis korteks otak besar. Area ini berperan pada proses bahasa, serta kemampuan dan pemahaman berbicara. Area broca terletak berdampingan dengan area wernicke. Keduanya ditemukan hanya pada salah satu belahan otak saja, umumnya pada bagian kiri, karena populasi manusia kebanyakan “dominan kiri”. Area boca terletak kira-kira pada area brodman 448 dan kadang kadang juga mencakup 45. Area broca dan wernicke dihubungkan dengan satu jalur saraf yangt di sebut fasciculus arcuata.9 ada dua bagian utama pada area broca, yang memiliko peran masing masing dalam pembentukan dan pemahaman bahasa 1. Pars triangularis (anterior) Diperkirakan difungsikan menginterpretasikan berbagai macam rangsang dan pengolahan konduksi verbal 2. Pars opercularis (posterior) Diperkirakan untuk menyokong manajemen suatu jenis rangsang saja dan mengkoordinasikan organ wicara dan area motorik dalam berbahasa. Kesimpulan Ganguan berbicara di sebabkan adanya lesi pada area Broca, dimana daerah broca tidak bisa menyampaikan Program suara ke daerah-daerah korteks motorik primer untuk mengaktifkan otot-otot di wajah dan lidah untuk menghasilkan kata-kata yang diinginkan. Daftar pustaka 1. Yesdelita N. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Diterjemahkan dari sherwood L. Human physicology: from cells to systems. 6 ed. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC; 2011: h.163. 2. Satyanegara I.Ilmu bedah syaraf. Ed 4. Jakarta: Gramedia; 2010. h.145-6. (afasia) 3. Krishner HS, Jacobs DH. eMedicine Neurology Specialties: Aphasia. 2009. Avaibeable at: http://emedicine. Medscape.com/article/1135944-print 4. Wikipedia the free Encyclopedia: aphasia.2010 Avaiable at: http//en.wikipedia.org/wiki/Aphasia 5. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2012. h. 145-66. 6. Fawcett DW. Buku ajar histologi. Edisi ke-12. Jakarta: EGC; 2002. h. 277-8. 7. Sherwood L. Human physiology: from cells to systems. Edisi ke-7. Belmont: Brooks/Cole; 2010. h.140-7. 8. Mohr JP in studies in Neurolinguistic (eds. Witaker H & Witaker NA) 201-235 (Academic, New York, 1976) 9. Petrides M, Cadoret G, Mackey S (2005). “Orofacial somatomotor Responses In the macaque monkey homolugue of broca’s area”. Nature 435: 1235-38.