You are on page 1of 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sifat Kelistrikan Batuan

a. Konduksi secara elektronik.

Konduksi ini terjadi jika batuan atau mineral mempunyai banyak
elektron bebas sehingga arus listrik di alirkan dalam batuan atau mineral oleh
elektron-elektron bebas tersebut. Aliran listrik ini juga di pengaruhi oleh sifat
atau karakteristik masing-masing batuan yang di lewatinya.Salah satu sifat
atau karakteristik batuan tersebut adalah resistivitas (tahanan jenis) yang
menunjukkan kemampuan bahan tersebut untuk menghantarkan arus listrik.
Semakin besar nilai resistivitas suatu bahan maka semakin sulit bahan tersebut
menghantarkan arus listrik, begitu pula sebaliknya. Resistivitas memiliki
pengertian yang berbeda dengan resistansi (hambatan), dimana resistansi tidak
hanya bergantung pada bahan tetapi juga bergantung pada faktor geometri
atau bentuk bahan tersebut, sedangkan resistivitas tidak bergantung pada
faktor geometri. Jika di tinjau suatu silinder dengan panjang L, luas
penampang A, dan resistansi R, maka dapat di rumuskan:

L

𝐿
R=ρ
𝐴

Dimana : R = Resistansi ρ = Resistivitas L = Panjang A = Luas Di mana secara fisis rumus tersebut dapat di artikan jika panjang silinder konduktor (L) dinaikkan. Di mana ρ adalah resistivitas (tahanan jenis) dalam Ωm. resistivitas R dirumuskan : 𝑉 𝑅= 𝐼 Sehingga didapatkan nilai resistivitas (ρ) 𝐿𝑉 ρ= 𝐴𝐼 Namun banyak orang lebih sering menggunakan sifat konduktivitas (σ) batuan yang merupakan kebalikan dari resistivitas (ρ) dengan satuan mhos/m. dan apabila diameter silinder konduktor diturunkan yang berarti luas penampang (A) berkurang maka resistansi juga meningkat. . 1 𝐼𝐿 𝐼 𝐿 𝐽 σ= = = ( )( ) = ( ) ρ 𝑉𝐴 𝐴 𝑉 𝐸 Di mana J adalah rapat arus (ampere/m 2 ) dan E adalah medan listrik (volt/m). maka resistansi akan meningkat. Sedangkan menurut hukum Ohm.

φ adalah porositas. Elektron dalam batuan berpindah dan berkumpul terpisah dalam inti karena adanya pengaruh medan listrik di luar. Menurut rumus Archie: ρ e = ∂ ϕ-m S-n ρw di mana ρe adalah resistivitas batuan. dan n adalah konstanta. m disebut juga faktor sementasi. m. . sehingga terjadi poliarisasi.b. schlumberger menyarankan n = 2. Akibatnya batuan-batuan tersebut menjadi konduktor elektrolitik. Konduksi ini terjadi jika batuan atau mineral bersifat dielektrik terhadap aliran arus listrik. Konduktivitas dan resistivitas batuan porus bergantung pada volume dan susunan pori-porinya. terutama air. artinya batuan atau mineral tersebut mempunyai elektron bebas sedikit. Peristiwa ini tergantung pada konduksi dielektrik batuan yang bersangkutan. di mana konduksi arus listrik dibawa oleh ion-ion elektrolitik dalam air. contoh : mika. c. S adalah fraksi pori-pori yang berisi air. Untuk nilai n yang sama. bahkan tidak sama sekali. dan sebaliknya resistivitas akan semakin besar jika kandungan air dalam batuan berkurang. Sedangkan a. Konduksi secara dielektrik. Konduktivitas akan semakin besar jika kandungan air dalam batuan bertambah banyak. Sebagian besar batuan merupakan konduktor yang buruk dan memiliki resistivitas yang sangat tinggi. dan ρw adalah resistivitas air. Namun pada kenyataannya batuan biasanya bersifat porus dan memiliki pori-pori yang terisi oleh fluida. Konduksi secara elektrolitik.

Dari pengukuran dapat diperoleh nilai resistivitas semua dengan melakukan perhitungan menggunakan persamaan: ∆𝑉 ρα = k 𝑙 . pengukuran untuk memperoleh informasi mengenai variasi resistivitas secara 2-D atau 3-D b. resistivity-mapping dg variasi spasi elektroda cukup banyak (n >>) c.: a. sehingga resistivitas bawah permukaan dapat diketahui. Arus yang dialirkan didalam tanah dapat berupa arus searah (DC) atau arus bolak-balik (AC) berfrekuensi rendah. konsepnya antara lain. efek polarisasi dan menghindarkan pengaruh kapasitansi tanah yaitu kecenderungan tanah untuk menyimpan muatan maka biasanya digunakan arus bolak balik yang berfrekuensi rendah. Untuk menghindari potensial spontan.2. salah satu dari dua buah elektroda yang berbeda muatan digunakan untuk mengalirkan arus ke dalam tanah. Pengukuran menggunakan konfigurasi elektroda Wenner dilakukan dengan memindahkan masing-masing elektroda sesuai dengan aturan konfigurasi yang digunakan. Konfigurasi wenner Jenis konfigurasi Wenner termasuk resistivitas sounding. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan keempat elektroda yang disusun sebaris. Resistivitas batuan adalah fungsi dari konfigurasi elektroda dan parameter-parameter listrik batuan. Prinsip kerja metode ini adalah dengan menginjeksikan arus ke bawah permukaan bumi sehingga diperoleh beda potensial. yang kemudian akan didapat informasi mengenai tahanan jenis batuan. aspek akuisisi data otomatis + pemodelan data (inversi). a.2 Konfigurasi Geoolistrik Metode resistivitas pada dasarnya adalah pengukuran harga resistifitas (tahanan jenis) batuan.dan dua elektroda lainnya digunakan untuk mengukur tegangan yang ditimbulkan oleh aliran arus tadi.

batulempung. dimana k adalah faktor geometri. kedua elektroda arus diletakkan di luar elektroda potensial. terdapat granit lapuk yang menjadi batuan dasar. Berdasarkan peta geologi regional lembar palu (Sukamto. Sifat fisik litologi batuan yang ada di lokasi penelitian bersifat plastis dan urai sehingga diduga memiliki gaya kohesif yang lemah yang dapat meloloskan air. Granit tersebut sudah hamper menyerupai pasir atau batuan urai. dkk. Pada umumnya profil batuan bawah permukaan ialah pasir kasar berupa hasil pelapukan granit. pasir kasar. dan lempung. (Gokdi. untuk konfigurasi Wenner dihitung dengan persamaan: k = 2πα k sedangkan untuk faktor geometri konfigurasi Schlumberger dihitung dengan persamaan: [ 𝐿2 − 𝑙 2 ] k=π 2𝑙 Pada konfigurasi elektroda Wenner.. dan batugamping. sehingga kapan saja terjadi hujan dengan intensitas tinggi. serta satuan aluvium yang berupa endapan pantai seperti material kerikil.3 Referensi Bidang Gelincir di Daerah Penelitian Kondisi geologi daerah penelitian serta karakteristik gradien lereng memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kejadian longsor. Jarak antar elektroda mempunyai jarak yang sama panjang sebesar a. sehingga membuat batuan di sekitarnya atau beban di atas batuan lapuk mudah lepas sehingga terjadi pergerakan tanah. Dari hasi pengamatan geologi permukaan di lokasi penelitian. 2012). maka air akan terakumulasi disuatu lapisan bawah permukaan dan dapat sekaligus membawa tanah bergerak mengikuti kemiringan lereng. konglomerat. 2. 1973) lokasi penelitian berada pada satuan batuan molasa celebes sarasin dan sarasin (1901) dengan litologi yang umumnya dijumpai di lokasi ialah batupasir. kemudian lapisan di bawahnya tetap terdapat sisipan- .

Sehingga dapat diduga longsoran yang terjadi di lokasi penelitian dipicu oleh komposisi material yang bersifat urai dan lepas. . kemudian membuat kohesifitas tanah berkurang sehingga air tersebut dapat menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir. Tipe longsoran yang ada di lokasi penelitian ialah longsoran aliran (translasi). Kehadiran lempung diduga merupakan hasil asosiasi air meteorik membuat lapisan material urai menjadi lebih halus sehingga terbentuk lempung. bahan rombakan. dan granit segar. kerikil. terutama ketika suplai curah hujan yang tinggi.sisipan konglomerat. Berdasarkan pengamatan geologi dan pemodelan data ReMi untuk ketiga lintasan pasir kasar hasil pelapukan granit lapuk. atau material campuran tersebut bergerak ke bawah tanpa ada rekayasa (konstruksi sipil) gayapenahan yang berfungsi. dan bertindak sebagai batuan lapuk serta berselingan dengan granit. tanah. Pada dasarnya batuan lapuk struktur bawah permukaan dapat diketahui dari nilai kecepatan gelombang geser yang tinggi yaitu memiliki kerapatan ikatan butiran yang kuat . Ketika air metoerik yang mengalami infiltrasi terakumulasi di lapisan material urai tersebut. Kemudian pendugaan mengenai litologi batuan lapuk yaitu letak dari bidang gelincir di lokasi penelitian ialah granit kemudian sisipan lempung yang menutupi batugamping. Dari hasil pengamatan lapangan lapisan lempung tersebut merupakan penutup batugamping yang berdekatan dengan tepi pantai tepatnya di sekitar Lintasan 1. Perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan. lempung. sehingga membuat lokasi tersebut rentan serta langganan terjadinya longsor. sisipan lempung dan sisipan konglomerat merupakan bahan material yang mendominasi daerah lokasi penelitian yang hanya di sekitar dekat permukaan. maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti kemiringan lereng yang cukup curam dan ditambah oleh faktor gravitasi.

Jika suatu daerah termasuk kategori rawan longsor. tanah lereng terbuka yang dimanfaatkan sebagai permukiman. tanah urugan dan bekas danau atau rawa merupakan daerah-daerah yang rentan terhadap kedua peristiwa alam tersebut. pergeseran tanah ini dapat terjadi karena longsor. Juga diperburuk dengan jenis tanaman di permukaan lereng yang kebanyakan berakar serabut dan hanya bisa mengikat tanah tidak terlalu dalam sehingga tidak mampu menahan gerakan tanah. tanah pertanian. Zona labil merupakan suatu wilayah yang menunjukkan daerah itu mempunyai kondisi tanah yang terus bergeser. jaringan jalan. Dengan demikian. Daerah dengan ciri seperti itu merupakan daerah rawan longsor. ladang. air hujan leluasa menggerus tanah dan masuk ke dalam tanah. curah hujan tinggi. kejadian longsor sering diawali dengan kejadian hujan lebat terus menerus selama lima jam atau lebih atau hujan tidak lebat tetapi terus-menerus . memutuskan hubungan permukiman. dan lainlain (Suseno 2007: 16). Faktor pemicu utama kelongsoran tanah adalah air hujan. Longsoran umumnya terjadi jika tanah sudah tidak mampu menahan berat lapisan tanah di atasnya karena ada penambahan beban pada permukaan lereng dan berkurangnya daya ikat antarbutiran tanah akibat tidak ada pohon keras (berakar tunggang). jaringan jalan raya dan kereta api. hilangnya tanah pertanian. peretakan tanah atau bisa juga daerah itu dilalui patahan bumi. sistem irigasi. sawah atau kolam (Suseno 2007:16). Akibat dari dua peristiwa alam tersebut dapat merusakan atau menghancurkan bangunan. Geseran tanah yang sering terjadi adalah tanah longsor yang merupakan proses perpindahan massa tanah secara alami dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Kawasan permukiman (built-up areas). terdapat lapisan tebal (lebih dari 2 meter) menumpang di atas tanah/batuan yang lebih keras. bendungan dan jembatan. meretakan bendungan. Daerah yang rentan terhadap geseran tanah adalah daerah dekat atau sepanjang patahan. Tanah longsor banyak terjadi di perbukitan dengan ciri-ciri: kecuraman lereng lebih dari 30 derajat. bekas pantai/zona pantai. Daerahdaerah lingkungan endapan sungai. dan sistem alur sungai.

Longsoran translasi Longsoran translasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir. yakni : 1. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Pergerakan lempeng tektonik menciptakan kondisi terjepit atau terkunci dimana terjadi penimbunan energi dengan suatu jangka waktu tertentu yang untuk selanjutnya dilepaskan dalam bentuk gelombang gempa. tanah retak di atas lereng yang selalu bertambah lebar dari waktu ke waktu. goncangan dari gempa bumi ini dapat menggeser posisi tanah baik ke arah lateral ataupun horizontal dan dapat pula pada arah vertikal sehingga terjadi amblesan di sekitar patahan itu (Suseno 2007: 18). . energi gelombang gempa bumi akan dikonsentrasikan dan difokuskan jika gelombang gempa bumi melintas di jaur patahan. hal ini dipengaruhi oleh gerakan lempeng-lempeng bumi secara konvergen atau saling bertumbukan. maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng. atau material campuran tersebut. Selain merupakan daerah rawan longsor kawasan zona labil biasanya merupakan daerah yang di lalui oleh patahan bumi. Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan. Pergerakan kulit bumi yang berupa lempeng-lempeng tektonik itu muncul dalam wujud gelombang yang disebut gempa. Ada 6 jenis tanah longsor (ESDM 2007). tanah. pepohonan di lereng terlihat miring ke arah lembah. banyak terdapat rembesan air pada tebing atau kaki tebing. terutama pada batas antara tanah dan batuan di bawahnya. bergerak ke bawah atau keluar lereng. daerah ini sangat labil karena kondisi tanah yang ada di sana terus bergerak. bahan rombakan.hingga beberapa hari.

Longsoran rotasi Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.10 Longsoran translasi 2. Gambar 2.12 Pergerakan blok . Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu. Gambar 2. Pergerakan blok Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata.11 Longsoran rotasi 3. Gambar 2.

Runtuhan batu Runtuhan batu terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Gambar 2. Gambar 2. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bias menyebabkan tiang-tiang telepon. Rayapan tanah Rayapan tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. dan jenis materialnya. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga menggantung terutama di daerah pantai. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di . Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus.14 Rayapan tanah 6.4. Aliran bahan rombakan Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. pohon. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah. volume dan tekanan air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng.13 Runtuhan batu 5. atau rumah miring ke bawah. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya.

Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng. lereng terjal. Tanah longsor semacam ini biasanya terjadi bilamana terdapat lapisan agak keras yang sejajar dengan permukaan lereng. jenis penggunaan lahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Bentuk bidang gelincir ini sering mendekati busur lingkaran. adanya bidang diskontinuitas dan penggundulan hutan (RAD PRB prov. tanah yang kurang padat dan tebal. jateng 2008). beban serta berat jenis tanah batuan. batuan yang tidak kompak.Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. sekitar gunung api. erosi. beban tambahan. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan. bekas longsoran lama. . dalam hal ini tanah longsor disebut translational slide. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak. penyusutan permukaan danau/waduk. air. Gambar 2. Ada juga tanah longsor yang terjadi pada bidang gelincir yang hampir lurus dan sejajar dengan muka tanah. getaran. Bidang ini disebut bidang gelincir (slip surface) atau bidang geser (shear surface). Biasanya tanah yang longsor bergerak pada suatu bidang tertentu. material timbunan pada tebing.15 Aliran bahan rombakan Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia. dalam hal ini tanah longsor tersebut disebut rotational slide yang bersifat berputar. Sedangkan faktorfaktor penyebab tanah longsor adalah hujan.

Proses gerak tanah meliputi (Ristianto 2007: 21) : 1. atau meluncur (sliding). 2.Struktur geologi yang mempengaruhi gerak tanah adalah seperti komposisi lapisan. kegagalan lereng secara mendadak yang mengakibatkan berpindahnya massa batuan yang relatif koheren dengan slumping. Biasanya terjadi pada tebing-tebing yang terjal. stratigrafi dan strukutur geologi. Slum adalah keruntuhan lereng dimana batuan atau regolith bergerak turun dan maju disertai gerak rotasional yang bergerak berlawanan dengan arah massa yang bergerak. Gambar 2. Kegagalan lereng Gaya gravitasi yang selalu menarik kebawah membuat lereng bukit dan gawir pegunungan rawan untuk runtuh. kandungan air di dalam batuan. dan formasi susunan batuannya. Adanya pengaruh dari beberapa faktor lain seperti curah hujan. litologi. beban batuan. vegetasi.16 Tanah longsor rotational slide dan translational slide Faktor-faktor geologi yang mempengaruhi terjadinya gerakan tanah adalah morfologi. gempa bumi dan lain sebagainya (Ristianto 2007: 21). . jatuh (falling). Falls dan Slides Gerak pecahan batuan besar atau kecil yang terlepas dari batuan dasar dan jatuh bebas dinamakan rock fall.

83% dari seluruh gerakan. rock fall. Bidang luncurnya dapat berupa bidang rekahan. dengan memperhatikan kecepatan dan konsentrasi sedimen yang mengalir. Berdasarkan pada klasifikasi Vernes dan Eckel dalam Ristianto (2007: 24) maka gerakan tanah terdapat tujuh jenis gerakan. terjadi bila terjadi pengangkatan. sedangkan gerakan terbanyak adalah jenis debris slide. Tipe gerak tanah ini terjadi di daerah dengan curah hujan tinggi seperti di Indonesia. . udara. Biasanya materialnya jenuh air yang sering terjadi adalah mud flow. kekar atau bidang pelapisan yang sejajar dengan lereng. yaitu soil fall.aliran (flow) campuran sedimen. Patahan Patahan yaitu gerakan pada lapisan bumi yang sangat besar dan berlangsung yang dalam waktu yang sangat cepat. earth flow. sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi retak atau patah. aliran debris dengan banyak air dan partikel utamanya adalah partikel halus. Pada umumnya gerakan tanah terjadi pada daerah sekitar kontak ketidakselarasan antara satuan batu lempung dengan sisipan-sisipan batu pasir. Aliran (flow) Aliran terjadi apabila material bergerak turun lereng sebagai cairan kental dengan cepat.Bagian muka bumi yang mengalami patahan seperti graben dan horst. Jika material yang bergerak masih agak koheren dan bergerak di atas permukaan suatu bidang disebut rock slides. Kebanyakan gerak sesar menghancurkan batuan yang bergesekan menjadi berbagai ukuran tidak beraturan. Ada beberapa jejak yang ditimbulkan oleh gesekan pada batuan diantaranya adalah gores garis atau slickensides. sandrun.Graben adalah tanah turun. debris avalance dan bloock glide. terjadi bila blok batuan mengalami penurunan. air. permukaannya menjadi halus dan licin disertai goresan-goresan pada bidang sesar. 4. 3. merupakan 51. debris slide. membentuk breksi sesar atau fault breccia (Ristianto 2007: 24). Horst adalah tanah naik.dimana material yang lepas tidak dapat tetap di tempatnya. gesekan antara batuan yang keras.