You are on page 1of 7

SURVEI HIDROGRAFI

KELAS B

STANDAR PENENTUAN POSISI SURVEI HIROGRAFI
MENURUT IHO DAN SNI

Oleh :

Kartika Tamara Maharani

0331154000095

TEKNIK GEOMATIKA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL LINGKUNGAN DAN KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2018

dan Orders 1 and 2 di kedalaman air lebih dari 200 m. area berlabuh.Orde Khusus Survei hidrografi Orde Khusus mendekati standar teknik dan penggunaannya dimaksudkan agar dibatasi pada area kritis tertentu dengan izin minimum dan dimana karakteristik dasar berpotensi berbahaya bagi kapal. Untuk Order Khusus dan Order 1 survei badan yang bertanggung jawab atas kualitas survei dapat menentukan batas kedalaman di luar mana penyelidikan rinci tentang dasar laut tidak diperlukan untuk keselamatan tujuan navigasi. Pencarian dasar penuh mungkin diperlukan di area yang dipilih dimana karakteristik dasar dan risiko penghalang mungkin berbahaya bagi kapal. Penggunaan sonar pindai samping bersamaan dengan echosounder multibeam mungkin diperlukan di daerah di mana rintangan tipis dan berbahaya dapat ditemui. Semua sumber kesalahan harus diminimalkan. Ini adalah kriteria untuk berbagai penggunaan maritim dimana survei hidrografi tingkat tinggi tidak dapat dibenarkan. Orde 1 Orde 1 survei hidrografi ditujukan untuk pelabuhan. Orde 2 Orde 2 survei hidrografi ditujukan untuk area dengan kedalaman kurang dari 200 m yang tidak tercakup dalam Special Order and Order 1 dan dimana deskripsi umum batimetri cukup untuk memastikan tidak ada penghalang pada dasar laut yang akan membahayakan jenis kapal yang diharapkan transit atau tempat kerja. dan wilayah pesisir dengan kepadatan lalu lintas komersial tinggi dimana izin di bawah lokasi kurang penting dan sifat geofisika dasar laut kurang berbahaya bagi kapal (misalnya lumpur lunak atau dasar pasir). . Daerah ini harus secara eksplisit ditunjuk oleh instansi yang bertanggung jawab atas kualitas survei. jalur yang direkomendasikan. Orde 3 Orde 3 survei hidrografi ditujukan untuk semua area yang tidak tercakup dalam Special Order. dan kanal penting terkait. array multi-transduser atau echosounder multibeam resolusi tinggi untuk mendapatkan penelusuran bawah 100%. pencarian dasar penuh diperlukan di area yang dipilih dimana karakteristik bawah dan risiko penghalang berpotensi berbahaya bagi kapal. Untuk area yang dicari. Side scan sonar tidak boleh digunakan untuk penentuan kedalaman tetapi untuk menentukan area yang memerlukan penyelidikan lebih rinci dan akurat. harus dipastikan bahwa fitur kubik lebih besar dari 2 m sampai 40 m kedalaman air atau lebih besar dari 10% kedalaman di area yang lebih dalam dari 40 m dapat dilihat oleh peralatan yang terdengar. Contohnya adalah pelabuhan. Order 1 survei harus dibatasi pada daerah dengan kedalaman air kurang dari 100 m. Harus dipastikan bahwa fitur kubik yang lebih besar dari 1m dapat dilihat oleh peralatan yang terdengar. Pesanan khusus memerlukan penggunaan garis jarak dekat bersamaan dengan sonar pemindaian sisi. jalur navigasi darat. saluran pendekatan pelabuhan. Meskipun persyaratan untuk pencarian dasar laut kurang ketat daripada untuk Special Order.

0075 b = 0. Kelas No Deskripsi Orde khusus Orde 1 Orde 2 Orde 3 1 2m 5 m + 5% dari 20 m + 5% 150 m + 5% kedalam an dari dari Akurasi horizontall ratarata kedalaman kedalaman rata. Klasifikasi daerah survei hidrografi No kelas Contoh daerah survei • Pelabuhan tempat sandar dan alur kritis (yang berhubungan 1 Orde khusus dengannya) dimana kedalaman air di bawah lunas minimum • Pelabuhan.013 b = 0.25 m a = 0.5 m a = 1. 2. 2 Orde 1 • Lintasan/haluan yang dianjurkan • Daerah-daerah pantai dengan kedalaman hingga 100 meter • Area yang tidak disebut pada orde khusus dan orde satu 3 Orde 2 • Area dengan kedalaman hingga 200 meter 4 Orde 3 • Daerah lepas pantai yang tidak disebut dalam orde khusus.rata rata-rata 2 Alat bandu navigasi tetap 2m 2m 5m 5m dan kenampakan yang berhubungan dengan navigasi 3 Garis pantai 10 m 20 m 20 m 20 m 4 Alat bantu navigasi 10 m 10 m 20 m 20 m terapung 5 Kenampakan topografi 10 m 10 m 20 m 20 m 6 a = 0.023 b = 0. a dan b adalah variabel yang digunakan untuk menghitung ketelitian kedalaman. Alat pemeruman dikalibrasi sebelum digunakan .0 m Akurasi kedalaman b = 0. orde satu dan orde dua Ketelitian pengukuran parameter survei hidrografi.023 CATATAN: 1. • Alur pendekat pelabuhan.0 m a = 1.

Suatu teknik kalibrasi standar harus dilakukan sebelum dan sesudah pengumpulan data. 19-6724-2002). maka harus ada pengukuran redundan garis posisi. Sangat dianjurkan bahwa bilamana posisi–posisi tersebut ditentukan secara teristris. c. kesalahannya harus tidak lebih besar dari 10 cm pada tingkat kepercayaan 95%. Lokasi titik kontrol horisontal dinyatakan oleh suatu pilar titik kontrol yang dilengkapi dengan deskripsinya. Nilai datum ditetapkan dari nilai hitungan Lowest Low Water (LLW) pada stasiunstasiun pasut tersebut. Kontrol Horisontal Agar sistem koordinat hasil pengukuran atau penentuan posisi terikat dalam sistem koordinat nasional. Penentuan datum vertical Mengacu pada muka surutan yang ditentukan melalui pengamatan pasut pada stasiun permanen atau temporal yang dilakukan minimal selama 29 hari. bagi orde khusus dan orde satu disarankan digunakan suatu monitoring yang terintegrasi. terikat pada kerangka kontrol horisontal yang telah dibuat. maka harus dipenuhi kriteria berikut : • Jumlah minimal satelit aktif/terpantau adalah lima • PDOP tidak melebihi enam untuk perekaman dan sounding. Penentuan Posisi Menurut SNI a. A. Sistem satelit harus mampu melakukan tracking terhadap paling sedikit lima satelit secara serentak.Batas toleransi kesalahan antara kedalaman titik fix perum pada lajur utama dan lajur silang dihitung dengan persamaan sebagai berikut: dimana: a = kesalahan independen (jumlah kesalahan yang bersifat tetap) b = faktor kesalahan kedalaman dependen (jumlah kesalahan yang bersifat tidak tetap) d = kedalaman terukur (b x d) = kesalahan kedalaman yang dependen (jumlah semua kesalahan kedalaman yang dependen) Datum horisontal harus menggunakan Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN-95). Pembuatan titik kontrol di darat harus mengikuti spesifikasi titik kontrol horisontal yang telah ditetapkan (SNI No. Global Positioning System (GPS) merupakan salah satu sistem penentuan posisi yang banyak digunakan dalam survei hidrografi. . Titik–titik kontrol utama di darat harus ditetapkan dengan metode survei darat dengan ketelitian relatif 1 : 100. bila metode penentuan posisi dengan satelit digunakan untuk menetapkan titik–titik tersebut. Titik Perum Posisi titik fix perum jika diperlukan. Untuk penentuan posisi yang memerlukan ketelitian tinggi menggunakan metode RTK-DGPS. maka harus dibuat titik-titik kontrol horisontal dan diikatkan pada sistem kerangka horisontal nasional. Ketelitian posisi tetap perum pada survei dengan menggunakan singlebeam echosounder adalah ketelitian posisi tranduser. jika lebih hendaknya survei ditunda hingga dipenuhi syarat tersebut. b.000 bagian.

Jarak antar lajur silang adalah 10 kali lebar lajur utama dan membentuk sudut antara 60O sampai 90O terhadap lajur utama. Lajur silang tambahan bisa ditambahkan pada daerah yang direkomendasikan atau terdapat keragu-raguan. • Untuk keperluan analisa dan peramalan lama pengamatan tidak boleh kurang • dari 29 hari dengan interval pengamatan maksimal 30 menit. bagan ikan . e. • Pengamatan mencakup area survei batimetri dan jumlah stasiun pasang surut harus mempertimbangkan karakteristik pasang surut asurvei. dsb. d. garis pantai dan fitur topografis penting (seperti gosong. Lajur perum utama sedapat mungkin harus tegak lurus garis pantai dengan interval maksimal satu cm pada sekala survei. muka surutan) serta menentukan koreksi hasil pemeruman. jika perubahan ketinggian air berjalan dengan cepat dan amplitudo airnya besar. kondisi alam dasar laut dan persyaratan dari pengguna harus diperhitungkan. Integritas signal GPS harus selalu dipantau. Ketelitian posisi perum adalah ketelitian letak posisi perum pada dasar laut dalam sistim referensi geodesi dengan pengecualian bagi survei orde dua dan orde tiga yang menggunakan Singlebeam Echosounder. Jarak yang memadai antara lajur perum dari berbagai orde survei sudah diisyaratkan pada SP-44. dengan maksud untuk menjamin kecukupan penelitian. Pemeruman menggunakan Singlebeam Echosounder Dalam merencanakan kerapatan pemeruman. sarana navigasi apung. pengamatan dilakukan selama pemeruman berlangsung. Interval pembacaan juga dapat ditingkatkan tiap 15 menit pada saat menuju pasang tertinggi atau surut terendah. Pengamatan Pasang Surut Pengamatan pasang surut pada kegiatan survei hidrografi bertujuan untuk menentukan bidang acuan kedalaman (muka air laut rerata. • Untuk keperluan reduksi data pemeruman. . Lajur silang diperlukan untuk memastikan ketelitian posisi pemeruman dan reduksi pasut. • Dilakukan kalibrasi terhadap peralatan penentuan posisi yang digunakan serta dilakukan pengecekan paling sedikit seminggu sekali selama survei. interval pengamatan dapat ditingkatkan. • Sudut minimal untuk elevation mask 10 derajat dari horison.) harus diikatkan dalam kerangka kontrol horisontal yang telah dibuat (datum DGN- 95). Posisi alat bantu navigasi tetap. Jika terdapat perbedaan yang melebihi toleransi yang ditetapkan (sesuai dengan ordenya) harus dilakukan uji lanjutan dalam suatu analisis secara sistematik terhadap sumber–sumber kesalahan penyebabnya. • Pengecekan dilakukan dengan kondisi alat tetap pada posisinya. Dengan ketentuan sebagai berikut : • Dilaksanakan dengan menggunakan palem atau tide gauge yang lain. Berdasarkan prosedur tersebut harus ditentukan apakah perlu dilakukan suatu penelitian dasar laut ataukah dengan memperapat atau memperlebar lajur perum.

Di kedalaman lebih dari 200 meter. metode fotogrametri survei. Teknologi side scan sonar sekarang ini telah mencapai tingkat deteksi dan pendefinisian rintangan bawah air yang tinggi. . b. dari titik-titik kontrol primer. • Konstanta pasut dihitung dengan menggunakan metode admiralty atau perataan kuadrat terkecil (least square adjustment) . melalui triangulasi. • Untuk keperluan koreksi kedalaman dibuat co-tidal charts daerah survei. • Satuan pengukuran dalam cm. primer atau tatanan rendah. • Bidang acuan tinggi muka laut harus diikatkan pada benchmark terdekat dengan leveling orde dua. sampai saat ini penggunaannya terbatas pada kecepatan rendah (max 5 – 6 knot) agar dapat dioperasikan. Pemeruman Laut Dalam menggunakan Singlebeam echosounder Dilakukan pada kedalaman lebih dari 200 m. metode klasik survei (pengamatan astronomi dan pengukuran sudut dan jarak). Hal ini didapatkan dengan menggunakan komponen impulsif dari sinyal (kode C/A atau kode P jika tersedia) atau untuk menganalisa 2 fase pengangkut gelombang L1 dan L2. Prinsip Penentuan Posisi a. Banyak instansi hidrografi di dunia mewajibkan penggunaan scan sonar pada area. g. Penentuan Posisi Menurut IHO Penentuan horisontal mereka dapat diperoleh dengan: a. digunakan pada survei pelabuhan dan alur pelayaran untuk meyakinkan pendeteksian rintangan antara dua lajur perum. Setelah itu. c. f. kontrol dapat diperpanjang sesuai kebutuhan untuk survei tertentu kebutuhan dengan pengukuran lebih lanjut sudut dan jarak. dengan total kesalahan pengukuran tidak melebihi lima cm untuk orde khusus dan tidak melebihi 10 cm untuk orde yang lain pada tingkat kepercayaan 95%. trilateration dan operasi melintasi. edisi terbaru. B. Penggunaan Side Scan Sonar Penggunaan Side scan sonar diperlukan didaerah-daerah dimana bendabenda kecil dan rintangan bahaya mungkin ditemukan. Penentuan posisi secara absolut Tujuan dari metode penentuan posisi ini yaitu untuk menentukan koordinat posisi pada sistem referensi global WGS84. echo- sounder harus diatur pada standard kecepatan suara yaitu 1500 meter/ detik dan pemeruman yang diperoleh perlu dikoreksi menggunakan tabel koreksi NP 139 (Nautical Publication no. metode campuran survei.area tersebut dengan overlap 100 % atau lebih. 139). Dua metode pertama mencapai jaringan kontrol dasar.

dipancarkan atau disimpan oleh receiver yang dipasang pada titik dari koordinat absolut yang diketahui. koordinat absolut dari posisi kedua dapat diperoleh. 2010. Badan Informasi Geospasial Badan Standar Nasional. Jika koordinat absolut dari salah satu dari dua titik diketahui. Survei hidrografi menggunakan singlebeam echosounder. b. . Penentuan posisi secara RTK dilakukan berdasarkan penggunaan setidaknya dua penerima sinyal GPS. dengan kemampuan RTK memiliki 4 mode mendasar penentuan posisi: REFERENSI Oktaviani. Penentuan posisi secara diferensial Penentuan posisi secara diferensial sama seperti penentuan posisi secara absolut tetapi memiliki koreksi pada pseudo-range pada real time atau pada waktu delay. Penentuan posisi secara relative Tujuan dari penentuan posisi secara relatif yaitu untuk menentukan vektor garis pangkal atau komponen vektor yang mana mengikat 2 posisi pada dua receiver berlokasi sementara. N. penambahan komponen vektor garis pangkal. c. dkk 2014. Pusat Pemetaan Kelautan dan Lingkungan Pantai. UJI KETELITIAN DATA KEDALAMAN PERAIRAN MENGGUNAKAN STANDAR IHO SP-44 DAN UJI STATISTIK (Studi Kasus: Daerah Pantai Barat Aceh). satu sebagai stasiun referensi dan satu sebagai rover.