You are on page 1of 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Agar tujuan dalam proses belajar mengajar dapat tercapai secara efektif dan efisien,
keampuan seorang pendidik dalam menguasai materi saja tidaklah mencukupi. Disamping
penguasaan materi, seorang pendidik juga harus memiliki kemampuan untuk mengelolah proses
belajar mengajar dengan baik, yaitu melalui berbagai teknik atau metode penyampaian materi
yang tepat dalam proses belajar mengajar sesuai dengan materi yang diajarkan dan kemampuan
anak didik yang menerima materi.
Sebagaimana kita tahu, bahwa metode mengajar merupakan sasaran interaksi antara guru
dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, yang perlu diperhatikan
adalah ketepatan sebuah metode mengajar yang dipilih dengan tujuan, jenis dan sifat materi
pelajaran, serta kemampuan guru dalam memahami dan melaksanakan metode tersebut. Guru
hendaknya cermat dalam memilih dan menggunakan metode mengajar terutama yang banyak
melibatkan siswa secara aktif. Belajar mengajar merupakan kegiatan yang komplek. Oleh
karenanya, maka hampir tidak mungkin untuk menunjukkan dan menyimpulkan bahwa suatu
metode belajar mengajar tertentu lebih unggul dari pada metode belajar mengajar yang lain
dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian metode ceramah?
2. Apa kelebihan dan kekurangan metode ceramah?
3. Bagaimana pelaksanaan metode ceramah?
4. Apa pengertian metode diskusi?
5. Bagaimana pelaksanaan metode diskusi?
6. Apa keunggulan da kelemahan dari metode diskusi?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Metode Ceramah (Lecture)

Metode ceramah merupakan suatu cara penyajian bahan atau penyampaian bahan
pelajaran secara lisan dari guru. Dalam bentuk penyampainnya metode ceramah sangat
sederhana dari mulai pemberian informasi,klarifikasi,ilustrasi dan menyimpulkan.
Ceramah yang baik adalah ceramah bervariasi artinya ceramah yang dilengkapi dengan
penggunaan alat dan media serta adanya tambahan dialog interaktif atau diskusi sehingga
proses pembelajaran tidak menjenuhkan.

Dalam pemberian ceramah hendaknya substansi atau materi tersusun secara


sistematis,dari yang sederhana,mudah konkret menuju pada yang lebih kompleks,sular dan
abstrak.

2.1.1 Karakteristik Metode Ceramah

Metode ceramah digunakan apabila proses pembelajaran yang dilakukan lebih


bersifat pemberian informasi berupa fakta atau konsep-konsep sederhana. Proses
pembelajaran dalam metode ceramah dilakukan secara klasikal (guru lebih banyak
menyajikan materi) dengan jumlah siswa yang relative banyak. Biasanya penggunaan
metode ceramah lebih bersifat monoton artinya guru lebih banyak berbicara. Oleh karena
itu, perlu ada variasi-variasi terutama gaya dan seni guru dalam berbicara, seperti
intonasi,improvasi,semangat,dan isi pesan yang disampaikan harus benar-benar diminati
oleh siswa. Di samping itu,variasi dapat dilakukan dengan cara meningkatkan interaksi
antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa.

Dalam hal ini guru harus dapat memvariasikan dengan Tanya jawab atau dengan
dialog sehingga siswa tidak merasa jenuh dengan hanya mendengarkan saja. Demikian
pula dalam prosesnya perlu adanya dukungan kondisi yang efektif dari guru seperti
suasana emosional yang dapat membangkitkan motivasi dan perhatian dari siswa selama
mendengarkan ceramah guru.
2.1.2 Prosedur metode ceramah

a. Langkah persiapan

Persiapan yang dimaksud adalah guru menjelaskan kepada siswa tentang tujuan
pelajaran dan pokok-pokok masalah yang akan dibahas dalam pelajaran tersebut.

b. Tahap penyajian

Tahap penyajian adalah tahap penyampaian materi pembelajaran dengan cara


bertutur.. pada tahap ini guru menyajikan materi atau bahan yang berkenaan dengan
pokok-pokok masalah. Penjelasan guru tentang materi pelajaran harus dapat disimak
oleh seluruh siswa dalam kelas. Selama menjelaskan guru hendaknya tidak terus
menerus berbicara tetapi selang beberapa menit selalu memberi kesempatan pada
siswa untuk bertanya atau guru sendiri mengajukan pertanyaan kepada siswa,

Dalam proses penyajian materi sebaiknya guru menggunakan bahasa yang


komunikatif dan mudah dicerna oleh siswa . oleh sebab itu, sebaiknya guru tidak
menggunakan istilah-istilah yang kurang populer. Selain itu disaat guru menyajikan
materi pembelajaran sebaiknya disajikan secara sistematis, tidak meloncat-loncat
agar mudah ditangkap oleh siswa. Setelah guru merasa yakin bahwa siswa
memahami materi yang dijelaskan, guru melanjutkan kembali ke materi berikutnya.

c. Guru sebaiknya melakukan asosiasi dan memberikan ilustrasi untuk


meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahan pelajaran dengan cara
menghubungkan atau mengaitkan materi yang sedang dipelajari dengan situasi nyata
atau dnegan bahan pelajaran yang lain atau dengan bahan pelajaran yang
menggambarkan sebab akibat. Melalui pemberian asosiasi dan ilustri ini diharapkan
pemahaman siswa terhadap materi pelajaran akan semakin meningkat.

d. Pada akhir pembelajaran dengan metode ceramah,guru dapat meminta siswa


untuk mengaplikasikan bahan pelajaran yang telah dipelajari dengan cara tertulis atau
lisan salah satu contohnya ialah siswa diminta mengerjakan soal-soal atau menjawab
pertanyaan. Selain itu,guru juga dapat meminta siswa untuk menyimpulkan bahan
pelajaran yang telah dipelajari.
2.1.3 Prasyarat untuk Mengoptimalkan Pembelajaran Ceramah

Untuk menunjang efektivitas penggunaan metode ceramah perlu dipersiapkan


kemampuan guru maupun kondisi siswa yang optimal. Di bawah ini dijelaskan tentang
kemampuan guru dan kondisi siswa guna mendukung efektivitas metode ceramah dalam
pembelajaran.

Ada beberapa kemampuan yang harus diperhatikan oleh guru untuk mendukung
keberhasilan metode ceramah dalam pembelajaran, yaitu :

a. Menguasai teknik-teknik ceramah yang memungkinkan dapat membangkitkan minat


dan motivasi siswa
b. Mampu memberikan ilustrasi yang sesuai dengan bahan pelajaran
c. Menguasai materi pelajaran
d. Menjelaskan pokok-pokok bahan pelajaran yang sistematik
e. Menguasai aktivitas seluruh siswa dalam kelas

Sedangkan yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode ceramah berkaitan


dengan kondisi siswa adalah :

a. Siswa mampu mendengarkan dan mencatat bahan pelajaran yang dijelaskan guru
b. Kemampuan awal yang dimiliki siswa berhubungan dengan materi yang akan
dipelajari
c. Memiliki suasana emosional yang mendukung untuk memperhatikan dan memiliki
motivasi mengikuti pelajaran

2.1.4 Keunggulan Metode Ceramah

Penggunaan metode ceramah dapat menjadi baik dalam pembelajaran, diantaranya :

a. Metode ini dianggap ekonomis waktu dan biaya karena waktu dan materi pelajaran
dapat diatur oleh guru secara langsung, materi dan waktu pelajaran sangat ditentukan
oleh sistem nilai yang dimiliki oleh guru yang bersangkutan
b. Target jumlah siswa akan lebih banyak, apalagi jika menggunakan alat sound system
c. Bahan pelajaran sudah dipilih/dipersiapkan sehingga memudahkan untuk
mengklasifikasi dan mengkaji aspek-aspek bahan pelajaran
d. Apabila bahan pelajaran belum dikuasai oleh sebagian siswa maka guru akan merasa
mudah untuk menugaskan dan memberikan rambu-rambu pada siswa yang
bersangkutan

2.1.5 Kelemahan

Setiap metode mengajar memiliki keterbatasan dalam penerapan proses


pembelajaran. Keterbatasan ini merupakan alternatif yang harus diantisipasi oleh guru
sehingga dalam pelaksanaannya dapat mengurangi kelemahan tersebut. Beberapa
kelemahan yang mungkin terjadi dalam metode ceramah adalah :

a. Sulit bagi yang kurang memiliki kemampuan menyimak dan mencatat yang baik
b. Kemungkinan menimbulkan verbalisme
c. Sangat kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk berpartisipasi secara total
(hanya proses mental, tetapi sulit dikontrol)
d. Peran guru lebih banyak sebagai sumber pelajaran
e. Materi pelajaran lebih cenderung pada aspek ingatan
f. Proses pembelajaran ada dalam otoritas guru

2.2 Metode Diskusi

2.2.1 Pengertian dan Karakteristik Metode Diskusi

Diskusi adalah suatu proses penglibatan dua atau lebih individu yang berinteraksi
secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah
ditentukan melalui cara tukar menukar informasi (information sharing), mempertahankan
pendapat (self-maintenance), atau pemecahan masalah (problem-solving). Dalam
pembelajaran, diskusi dijadikan suatu metode. Metode diskusi adalah suatu cara penyajian
bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa (kelompok-
kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat,
membuat kesimpulan atau menyususn berbagai alternatif pemecahan masalah (Mainuddin,
dkk., 1980).
Metode ini sering digunakan dalam pembelajaran kelompok atau kerja kelompok
yang di dalamnya melibatkan beberapa orang siswa untuk menyelesaikan pekerjaan atau
tugas atau permasalahan. Ia juga merupakan salah satu metode yang menggunakan
pendekatan CBSA (cara belajar siswa aktif) atau keterampilan proses. Metode mengajar
diskusi merupakan cara mengajar yang dalam pembahasan dan penyajiannya disediakan
suatu topik permasalahan atau persoalan yang harus diselesaikan berdasarkan pendapat dan
keputusan bersama. Topik permasalahan ini merupakan bahan pelajaran yang akan
menstimulus siswa untuk memecahkannya. Untuk memecahkan masalah tersebut,
dibentuklah kelompok-kelompok siswa yang dikategorikan menjadi tiga: kelompok kecil
berisi 3-7 peserta, kelompok sedang berisi 8-12 peserta dan kelompok besar yang berisi 13-
40 peserta. Selain itu, kegiatan diskusi ini dapat pula dilaksanakan bersama dalam 1
kelompok besar atau diskusi kelas. Namun, diskusi kelompok kecil lebih efektif
dibandingkan diskusi kelompok besar dan kelas.
Kelancaran diskusi sangat ditentukan oleh moderator yaitu orang yang mengatur
jalannya pembicaraan. Hal ini dikarenakan keaktifan siswa dalam memberi pendapat atau
pengarahan pembicaraan secara tepat menuju kesimpulan adalah peran dari seorang
moderator sebagai pemandu kegiatan. Peran guru dalam kegiatan ini adalah sebagai
pembimbing, fasilitator, dan motivator agar interaksi dan aktivitas siswa dalam diskusi ini
menjadi efektif. Dalam menjalankan diskusi, guru haruslah sering memantau,
memperhatikan dan membimbing siswa serta memotivasi siswa agar mereka semangat
dalam berdiskusi. Diskusi ini akan membantu siswa untuk berpikir secara sistematik
dengan menggunakan logika berpikir ilmiah. Di samping itu, mereka juga akan terlatih
untuk bekerja sama dan memiliki kemampuan berbahasa secara lisan maupun tulisan.

2.2.2 Tujuan Penggunaan Metode Diskusi


Menurut Engkoswara (1984), dalam “Dasar-dasar Metodologi Pengajaran”, tujuan
guru menggunakan metode diskusi antara lain:
a. Mendorong anak untuk berani mengeluarkan pendapat tentang suatu persoalan secara
bebas.
b. Anak supaya berpikir sendiri, tidak hanya menerima pelajaran dari guru.
c. Memupuk jiwa-jiwa toleran, memberi kesempatan dan menghargai pendapat orang
lain.
d. Melatih anak-anak untuk menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya.

2.2.3 Prinsip Penggunaan Metode Diskusi


Dalam melaksanakan pembelajaran dengan metode diskusi, ada beberapa prinsip
yang harus dipegang, diantaranya:
a. Mengikutsertakan seluruh anak dalam diskusi.
Pembicaraan dalam diskusi jangan sampai hanya didominasi oleh satu orang atau
beberapa orang saja sedangkan anak-anak lainnya hanya sebagai penonton dan pendengar.
Sebagai guru, hendaknya selalu memperhatikan seluruh siswa. Siswa yang diam belum
tentu tidak tahu apa yang harus dikemukakan melainkan ia kurang berani untuk
mengemukakannya dan pendapatnya belum tentu buruk, bisa saja lebih baik daripada
siswa yang aktif berbicara. Menghadapai situasi ini, guru hendaknya menyuruh anak yang
cenderung pendiam atau pasif dalam diskusi untuk mengemukakan pendapatnya.
b. Diskusi yang baik tidak asal berbicara secara ramai-ramai, namun perlu digilir.
Pertanyaan yang dilontarkan kepada siswa atau dari siswa yang perlu dijawab,
janganlah dilemparkan ke seluruh siswa dan dijawab secara serentak. Namun, perlu
dilakukan penunjukan anak-anak secara bergilir agar anak-anak yang lainnya
mamperhatikan anak yang sedang berpendapat. Dengan demikian, diskusi akan berjalan
tertib dan siswa akan memiliki sikap menghormati pendapat orang lain.
c. Pertanyaan atau persoalan hendaknya sesuai dengan tingkat perkembangan dan
pengalaman anak.
Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak merasa bingung dan sulit menangkap inti dari
persoalan yang ditanyakan. Sebaik mungkin, guru harus memberikan pertanyaan yang
sekiranya sudah pernah didengar siswa atau dapat pula dikaitkan dnegan pengalaman
siswa.
d. Guru sebagai pemimpin yang memberikan kepercayaan kepada anak-anak untuk turut
serta dalam diskusi, serta mendorong dan merangsang siswa untuk mengemukakan
pendapatnya.
e. Hendaknya mengajarkan pada siswa untuk tetap berlaku sopan dan hormat ketika
ingin menanggapi pendapat teman-temannya terutama jika terdapat perbedaan
pendapat.

2.2.4 Prosedur Metode Diskusi


Metode diskusi ini dilaksanakan untuk membina siswa agar belajar secara sistematis
berdasarkan prosedur yang harus ditempuh. Dalam pelaksanaannya, metode ini perlu
ditunjang oleh metode lain seperti ceramah dan tanya jawab. Berikut contoh prosedur
metode diskusi dalam pembelajaran kelompok.
Pada kegiatan pendahuluan, guru dapat menyampaikan tujuan yang diharapkan untuk
dapat dicapai maupun alasan kenapa masalah tersebut perlu untuk didiskusikan dan
dibahas. Selin itu, perlu disampaikan topik pembelajaran yang nantinya akan dibahas
dalam kegiatan kelompok. Langkah berikutnya guru mengelompokkan siswa sesuai
kriteria yang telah ditentukan dan memberikan penjelasan pada siswa tentang tahapan
belajar. Setelah semua siswa memahami tugas dan kegiatan yang harus dilakukan dalam
kelompok, selanjutnya siswa melakukan diskusi sebagai kegiatan inti pembelajaran dengan
langkah-langkah sebagai berikut.
1. Merumuskan masalah berdasarkan topik pembahasan dan tujuan pembelajaran.
Perumusan masalah ini dilakukan oleh siswa dibawah bimbingan guru.
2. Mengidentifikasikan masalah atau sub-sub masalah berdasarkan permasalahan yang
telah dirumuskan.
3. Menganalisis masalah berdasarkan sub-sub masalah. Dalam tahap ini siswa
dikondisikan secara individu dalam kelompok untuk menjawab pertanyaan atau
persoalan-persoalan sampai didapatkan kesepakatan untuk menjawab masalah
kelompok.
4. Menuliskan dan menyusun laporan oleh masing-masing kelompok.
5. Mempresentasikan hasil diskusi kelompok kecil pada seluruh kelompok dilanjutkan
diskusi kelas yang langsung dibimbing guru. Ketika siswa mempresentasikan hasil
diskusinya, anggota dari kelompok lain dapat menanggapi, sedangkan guru
memberikan ulasan atau penjelasan terhadap presentasi dari tiap kelompok. Dalam
tahapan ini sekaligus melaksanakan penguatan pemahaman konsep dan prinsip yang
diperoleh dari diskusi.
6. Pada akhir kegiatan, siswa di bawah bimbingan guru menyimpulkan hasil diskusi
berdasarkan rumusan masalah dan siswa mencatat hasil diskusi tersebut. Kemudian
guru meminta siswa untuk mengumpulkan laporan atau hasil diskusi mereka.
Selama kegiatan berlangsung, guru hendaknya memonitor jalannya kegiatan di
masing-masing kelompok dan memberikan bimbingan atau bantuan apabila kelompok
mengalami hambatan atau kesulitan dalam mengerjakan tugas kelompok. Di samping itu,
guru juga perlu memberikan motivasi dan perhatian supaya pembelajaran tersebut
terlaksana secara optimal. Dengan perhatian dan bimbingan guru, siswa akan dapat
melakukan kegiatan kelompok secara efektif dan efisien.
Kelancaran diskusi ditentukan oleh pemimpin kegiatan diskusi dalam pembelajaran
tersebut. Menurut Mainuddin, dkk. (1980), guru dapat berperan sebagai pemimpin diskusi
dengan langkah-langkah berikut.
a. Mengatur tempat duduk siswa menjadi suatu lingkaran, dengan tujuan agar tidak ada
yang terhalang pandangannya saat melihat guru memimpin diskusi.
b. Menyampaikan topik permasalahan yang menurutnya akan menarik minat siswa.
c. Menjelaskan tujuan diskusi yang akan dilasksanakan.
d. Memberikan pengantar singkat mengenai topik yang akan didiskusikan.
e. Melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menggiring siswa untuk berpikir kritis, dan
membiarkan siswa untuk menjawab sesuai pikiran mereka dan menanggapi pendapat
teman-temannya.
f. Hindari campur tangan yang berlebihan dalam proses diskusi. Guru hanya muncul
saat pembicaraan para siswa keluar dari topik permasalahan atau munculnya informasi
salah yang akan diterima oleh kelompok.
g. Menyimpulkan gagasan-gagasan dalam diskusi sekaligus merangkum semua yang
telah dikemukakan bersama dengan siswa.
Namun, hal-hal tersebut sulit dilakukan jika kelas yang diajar guru adalah kelas besar.
Dalam keadaan tersebut, beberapa siswa harus dilatih untuk menjadi pemimpin diskusi
untuk tiap-tiap kelompoknya atau seperti yang telah dibahas sebelumnya. Siswa dibagi
menjadi beberapa kelompok dengan ditunjuk satu pemimpin diskusi di dalamnya.
Pemimpin diskusi hendaknya dipasrahkan kepada siswa yang:
a. Lebih memahami/menguasai masalah yang akan didiskusikan.
b. “Berwibawa” dan disenangi teman-temannya.
c. Berbahasa baik dan lancar bicaranya.
d. Dapat bertindak tegas, adil dan demokratis.
Dalam pembagian keompok ini, tugas guru adalah sebagai pengawas yang mengamati
perkembangan dalam diskusi kelompok tersebut dan nantinya memberikan balikan
(feedback) yang diperlukan.

2.2.5 Prasyarat untuk Mengoptimalkan Pembelajaran Diskusi

Untuk menunjang efektivitas penggunaan metode diskusi perlu dipersiapkan


kemampuan guru maupun kondisi siswa yang optimal.

Kemampuan guru yang perlu disiapkan dalam melaksanakan pemelajaran diskusi,


adalah:

1. Mampu merumuskan permasalahan sesuai dengan kurikulum yang berlaku


2. Mampu membimbing siswa untuk merumuskan dan mengidentifikasi permasalahan
serta menarik kesimpulan
3. Mampu mengelompokkan siswa sesuai dengan kebutuhan permasalahan dan
pengembangan kemampuan siswa
4. Mampu mengelola pembelajaran melalui diskusi
5. Menguasai permasalahan yang didiskusikan

Kondisi dan kemampuan siswa yang harus diperhatikan untuk menunjang


pelaksanaan diskusi di antaranya adalah:

1. Memiliki motivasi, perhatian dan minat dalam diskusi


2. Mampu melaksanakan diskusi
3. Mampu menerapkan belajar secara bersama
4. Mampu mengeluarkan isi pikiran atau pendapat/ide
5. Mampu memahami dan menghargai pendapat orang lain

2.2.6 Hambatan-hambatan didalam diskusi

Dalam usaha mencapai tujuan belajar dengan metode diskusi mempunyai bermacam-
macam faktor penghambat baik dari siswa maupun materi (bahan) yang didiskusikan.

Faktor-faktor penghambat dari siswa sangatlah jelas persoalannya. Siswa sebagai


pelajar mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Guru bertugas untuk membimbing
mereka dengan berbagai macam cara. Akan tetapi, hendaknya guru mampu membatasi diri
dari kebiasaan mencampuri proses pemikiran atau percakapan para siswa. Guru hendaknya
tidak tergesa-gesa memberikan jawaban atau pemecahan masalah sebelum siswa mencoba
mencari dan menemukan sendiri.

Kecuali siswa itu sendiri yang peru mendapat perhatian guru adalah materi (bahan)
yang akan didiskusikan dan tugas apa yang harus dilakukan oleh tiap kelompok dan atau
anggota kelompok. Dalam hubungan ini maka informasi tentang materi dan tugas yang
harus dilaksanakan siswa harus jelas.

Hambatan lain dalam diskusi biasanya ialah bahwa setiap orang menginginkan
segera dicapainya persetujuan atau kesimpulan. Sikap seperti ini dapat mematikan jalan
menuju terjasinya perubahan sikap pada siswa oleh mereka sendiri. Perubahan sikap yang
dimaksud adalah agar setia siswa mau mendengarkan pendapat orang lain, sensitif dan
kritis terhadap pendapat yang berbeda, maupun menanggapi pendapat orang lain dalam
konteks yang samadan sebagainya. Dalam hubungan ini, sama sekali tidak bijaksana
apabila guru selalu mengkritik pendapat siswa, apalagi memberikan kritik secara personal
perhadap siswa.

2.2.7 Keunggulan dari Metode Diskusi

Adapun beberapa keunggulan dari metode diskusi, yaitu:

1. Melibatkan semua siswa secara langsung dalam proses belajar


2. Setiap siswa dapat menguji tingkat pengetahuan dan penguasaan bahan
pelajarannya masing-masing
3. Metode ini dapat memfasilitasi siswa agar mampu:

1) Bertukar pikiran
2) Menghayati permasalahan
3) Merangsang siswa untuk berpendapat
4) Mengembangka rasa tanggung jawab
5) Membina kemampuan berbicara
6) Belajar memahami pendapat atau pikiran orang lain
7) Memberikan kesempatan belajar

4. Memperoleh kepercayaan akan kemampuan diri sendiri


5. Metode diskusi dapat menunjang usaha-usaha pengembangan sikap sosial dan
sikap demokrasi para siswa.
2.2.8 Kelemahan dari Metode Diskusi

Adapun beberapa kelemahan dari metode ini, yaitu:

1. Relative memerlukan waktu yang cukup lama


2. Apabia siswa tidak memahami konsep dasar permasalahan maka diskusi tidak
akan efektif
3. Materi pembelajaran dapat menjadi lebih luas
4. Hanya siswa tertentu yang aktif dalam pembelajaran dengan kata lain jalannya
diskusi dapat dikuasai (didominir) oleh beberapa siswa yang menonjol.
DAFTAR PUSTAKA

Anitah, S. dkk. .......... Strategi Pembelajaran.


Engkoswara. 1984. Dasar-dasar Metodologi Pengajaran. Jakarta: Bina Aksara.
Mainuddin, Y., Hadisusanto, D. & Moedjiono. 1980. Metode Diskusi. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.