You are on page 1of 7

UJI BEBERAPA KONSENTRASI EKSTRAK DAUN

BINTARO (Cerbera manghas L.) SEBAGAI PESTISIDA NABATI
UNTUK MENGENDALIKAN HAMA ULAT JENGKAL (Plusia sp.)
PADA TREMBESI (Samanea saman (Jacq.)Merr.)

TEST OF SOME CONCENTRATION Cerbera manghas
LEAF EXTRACT AS A BOTANICAL PESTICIDE FOR
CONTROLLING Plusia sp. OF THE
Samanea saman

Juliati1, M. Mardhiansyah2, Tuti Arlita2
Department of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Riau
Address Bina Widya, Pekanbaru, Riau
(juliaty07@yahoo.com)

ABSTRACT

Samanea saman tree species that have great ability to absorb carbon dioxide from the air.
Samanea saman growth not be separated from the problem of pests and diseases. Pests that
attack Samanea saman and often result in losses that Plusia sp. Indonesia has a very diverse
flora, contains quite a lot of kinds of plants which are sources of pesticides that can be used
for pest control. The use of Cerbera manghas leaf extract as a botanical pesticide for
controlling Plusia sp. of the Samanea saman is an alternative that can be used as an
environmentally friendly pesticide. This research aimed to know the effect of Cerbera
manghas leaf extract in controlling Plusia sp. and determine the exact concentration of the
level of Plusia sp. mortality of the Samanea saman. This research uses a Completely
Randomized Design Method, which consists of 5 treatments and 4 replicates with
concentration levels of botanical pesticide. B0 = concentration Cerbera manghas leaf extract
0 g/l of water; B1 = 5 g/l of water; B2 = 10 g/l of water; B3 = 15 g/l of wate; B4 = 20 g/l of
water. The results showed that the application of Cerbera manghas leaf extract at the
concentration of 20 g/l of water is the best concentration in controlling Plusia sp. with results
initial time of death fastest is 3.00 hours, the fastest time of turning off 50% (LT50) is 11.25
hours (11 hours 15 minutes) and total mortality amounted to 92.50%.

Keywords: Samanea saman, Plusia sp., Cerbera manghas leaf, botanical pesticide

PENDAHULUAN
Di Indonesia trembesi banyak Hama yang biasa menyerang trembesi dan
digunakan sebagai pohon peneduh karena kerap menimbulkan kerugian yaitu hama
trembesi merupakan jenis pohon yang ulat jengkal. Ulat jengkal merupakan salah
memiliki kemampuan sangat besar untuk satu hama yang berpotensi sebagai hama
menyerap karbondioksida dari udara. perusak daun.
Menurut Dahlan (2007) dalam Hanafi Menurut Golani dkk (2007),
(2011) trembesi mampu menyerap kerusakan yang ditimbulkan oleh ulat
28.488,39 kg CO2/pohon setiap tahunnya, biasanya menyerang daun dan
sehingga baik digunakan sebagai tanaman menyebabkan kerusakan yang berbeda
penghijauan kota dan tanaman pelindung. jenis dan levelnya, sebagian aktif pada
Pertumbuhan trembesi tidak lepas malam hari, sebagian besar ulat bersifat
dari permasalahan hama dan penyakit. polifagus dan umumnya bersifat sporadis
1
Mahasiswa Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Riau
2
Staf Pengajar Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Riau
Jom Faperta UR Vol 3 No 1 Februari 2016.

sp. 2003). antioksidatif dan antitumor. Perbanyakan ulat jengkal dan sasaran. instar 3. kamera dan alat-alat tulis. Dilaporkan bahwa lebih dari 1500 menggunakan Rancangan Acak Lengkap jenis tumbuhan dapat berpengaruh buruk (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan terhadap serangga (Kardinan dan dengan 4 ulangan sehingga terdapat 20 Ruhnayat. saringan 18 Indonesia memiliki flora yang mesh. Oleh karena aplikasi ekstrak daun bintaro dilakukan di itu. Annonaceae. Fakultas Pertanian. Universitas Riau 2 Staf Pengajar Jurusan Kehutanan. B0 = Konsentrasi ekstrak daun bintaro 0 Didasari banyaknya jenis g/ liter air tumbuhan yang memiliki potensi sebagai B1 = Konsentrasi ekstrak daun bintaro 5 sumber pestisida. timbangan analitik. Fakultas Pertanian. perlakuan dengan komposisi larutan namun hal ini tidak menutup kemungkinan pestisida nabati pada beberapa tingkat untuk ditemukannya famili tumbuhan yang konsentrasi yaitu: baru (Prijono dan Hasan. Penggunaan pestisida kimia yang tidak bijaksana akan mengakibatkan dampak METODE PENELITIAN negatif seperti timbulnya strain hama yang Penelitian ini telah dilaksanakan resisten. kertas sangat beragam. gelas beker. tanaman bintaro dapat g/ liter air digunakan sebagai alternatif sumber B2 = Konsentrasi ekstrak daun bintaro 10 pestisida nabati karena bintaro merupakan g/ liter air tanaman beracun.) Merr. Alat-alat yang digunakan pestisida nabati. dalam pengendalian organisme Laboratorium Hama Tumbuhan Fakultas pengganggu tanaman perlu alternatif Pertanian Universitas Riau.) pada trembesi (Samanea saman kimia sebagai alternatif untuk (Jacq. Setiap unit percobaan dianggap sumber potensial pestisida nabati terdiri dari 10 ekor hama ulat jengkal adalah Meliaceae. masalah residu dan pencemaran pembuatan ekstrak daun bintaro serta lingkungan (Untung.). 1993). pengendalian yang ramah lingkungan dan Bahan yang digunakan dalam dapat disiapkan secara sederhana yang penelitian ini adalah daun bintaro sebagai persiapannya dapat dilakukan dengan sumber ekstrak. daun mudah di kalangan masyarakat dengan trembesi sebagai pakan. toples plastik. Universitas Riau Jom Faperta UR Vol 3 No 1 Februari 2016. mengendalikan hama pada tanaman.) pada trembesi (Samanea saman Perkembangan ilmu teknologi dalam (Jacq. batang banyak jenis tumbuh-tumbuhan yang pengaduk kaca.) Merr.) dalam 1 Mahasiswa Jurusan Kehutanan. antara lain. g/ liter air insektisida. . B4 = Konsentrasi ekstrak daun bintaro 20 Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk g/ liter air mengetahui pengaruh ekstrak daun bintaro (Cerbera manghas L. tisu merupakan sumber bahan pestisida yang gulung. Termohygrometer. yaitu: blender.) dan untuk mengetahui upaya pengendalian hama pengganggu konsentrasi yang tepat terhadap tingkat tanaman sangat pesat sehingga sebagian mortalitas hama ulat jengkal pada (Plusia besar masyarakat menggunakan pestisida sp. Piperaceae dan Rutaceae. Famili tumbuhan yang unit percobaan. detergen dan memanfaatkan bahan alam sebagai aquades steril.dan musiman dan sebagian lain menyerang mengendalikan hama ulat jengkal (Plusia dalam jangka waktu yang lama. mengandung cukup label. terbunuhnya pada Bulan Oktober sampai November musuh alami dan organisme bukan 2015. Menurut Yan dkk (2011) B3 = Konsentrasi ekstrak daun bintaro 15 bintaro berpotensi sebagai antifungi. dapat dimanfaatkan untuk pengendalian Penelitian ini dilakukan dengan hama. 1995). resurgensi hama. Penelitian ini digunakan 5 Asteraceae. ulat jengkal instar 3. pinset.

Waktu rata. Rata-rata awal kematian Plusia menyebabkan kematian.00 jam. Senyawa bioaktif yang terkandung peningkatan kecepatan waktu dalam dalam daun bintaro tersebut masuk ke mematikan hama ulat jengkal. Fakultas Pertanian. gerak. menyebabkan pengaruh pada metabolisme tubuh larva dan pada akhirnya Tabel 1. Universitas Riau 2 Staf Pengajar Jurusan Kehutanan. ke saluran pencernaan bersama makanan. . sidik ragam. dimana senyawa tersebut dapat B4 (20 g/1 air) 3.00 jam dan 5. Hal ini menunjukkan bahwa HASIL DAN PEMBAHASAN semakin banyak ekstrak daun bintaro yang menempel pada tubuh ulat jengkal maupun A.00 a menghambat pertumbuhan dan B3 (15 g/1 air) 3. Banyaknya menggunakan sidik ragam menunjukkan senyawa yang bersifat toksik tersebut akan bahwa perlakuan berbagai konsentrasi mempengaruhi perilaku ulat dan dapat ekstrak daun bintaro memberikan menurunkan aktivitas makan sehingga pengaruh nyata terhadap awal kematian terjadi kematian pada ulat jengkal. Hal ini terjadi DNMRT pada taraf 5% karena senyawa-senyawa tersebut dapat Konsentrasi ekstrak daun bintaro bersifat sebagai racun kontak dan racun yang lebih tinggi menunjukkan perut. Fakultas Pertanian. dalam tubuh ulat jengkal sebagai racun rata awal kematian ulat jengkal pada Tabel perut karena pada metode pengujian. terjadi Parameter pengamatan dalam penelitian ini perubahan morfologi.00 a kematian. ulat jengkal pada setiap perlakuan. lethal time (LT50).50 b Senyawa bioaktif yang terdapat B0 (0 g/1 air) 72. Data yang diperoleh dari penelitian 15 g/1 air dan 10 g/1 air yaitu masing- dianalisis secara statistik menggunakan masing 3. dari hijau menjadi coklat kehitaman dan akhirnya mati. B1 (5 g/1 air) 18. Warna tubuh ulat jengkal berubah mortalitas total. Hasil Semakin banyak menyerap senyawa- uji lanjut DNMRT pada taraf 5% dapat senyawa yang bersifat toksik dapat dilihat pada Tabel 1. setelah pemberian beberapa diperkuat oleh Fadillah (2012) menyatakan konsentrasi ekstrak daun bintaro bahwa senyawa-senyawa yang bersifat (jam) Perlakuan Rata-rata waktu awal toksik berpengaruh terhadap kelangsungan kematian (jam) hidup ulat. Data yang diperoleh Hasil penelitian memperlihatkan kemudian dilakukan uji lanjut dengan gejala awal kematian ulat jengkal ditandai menggunakan Duncan New Multiple oleh perubahan tingkah laku yaitu ulat Range Test (DNMRT) pada taraf 5%. Pendapat ini sp. mortalitas harian.00 a perkembangan serta dapat mengakibatkan B2 (10 g/1 air) 5. daun 1 menunjukkan bahwa perlakuan trembesi dicelupkan pada larutan ekstrak konsentrasi ekstrak daun bintaro 20 g/1 air daun bintaro sehingga senyawa aktif yang memberikan rata-rata waktu tercepat terkandung dalam larutan ekstrak masuk terhadap awal kematian yaitu 3. maka semakin banyak Hasil pengamatan awal kematian senyawa-senyawa aktif yang bersifat serangga uji setelah dianalisis dengan toksik pada tubuh ulat jengkal. Perubahan yang antara lain: Waktu awal kematian serangga terjadi adalah warna tubuh dan aktifitas uji. Universitas Riau Jom Faperta UR Vol 3 No 1 Februari 2016. suhu dan kelembaban. Waktu Awal Kematian Serangga Uji pada daun trembesi. Perlakuan ini berbeda tidak nyata dengan perlakuan konsentrasi ekstrak daun bintaro 1 Mahasiswa Jurusan Kehutanan.00 jam. jengkal kurang aktif bergerak.00 c dalam ekstrak daun bintaro akan Angka-angka pada lajur yang diikuti oleh huruf mempengaruhi aktivitas makan dan kecil yang tidak sama berbeda nyata menurut uji mortalias ulat jengkal.

dengan maka perkembangan serangga uji akan perlakuan beberapa konsentrasi semakin terhambat.25 a penghambat perkembangan serangga dan B3 (15 g/1 air) 16. Fakultas Pertanian. Hal ini diduga semakin taraf 5% dapat dilihat pada Tabel 3. ekstrak daun bintaro (jam) Senyawa bioaktif yang terdapat di Perlakuan Rata-rata lethal time dalam ekstrak daun bintaro mengandung (LT50) senyawa-senyawa yang memberikan efek B4 (20 g/1 air) 11. konsentrasi berbanding lurus dengan perkembangan. Fakultas Pertanian. 2009).00 c senyawa golongan fenolik memiliki rasa Angka-angka pada lajur yang diikuti oleh huruf yang pahit sehingga dapat menyebabkan kecil yang tidak sama berbeda nyata menurut uji mekanisme penghambatan makan pada DNMRT pada taraf 5% serangga (Yunita dkk. Mortalitas Total mematikan hama ulat jengkal.B. Tanin menyebabkan gangguan percernaan Tabel 2 menunjukkan bahwa makanan pada serangga. .25-72 jam.00 jam) dan 20 g/l air ulat jengkal. 1 Mahasiswa Jurusan Kehutanan.00 pengaruh nyata terhadap mortalitas total jam). banyak senyawa aktif dalam tubuh larva ulat jengkal dan terakumulasi dalam tubuh larva ulat jengkal akan mempercepat kematian 50% larva ulat jengkal. perlakuan konsentrasi ekstrak daun bintaro Semakin tinggi konsentrasi yang diberikan memberikan pengaruh nyata terhadap akan menyebabkan semakin banyak waktu yang dibutuhkan ekstrak daun senyawa yang bersifat toksik yang dapat bintaro untuk mematikan 50% ulat jengkal. hal ini pemberian perlakuan konsentrasi ekstrak dikarenakan tanin akan mengikat protein daun bintaro yang berbeda memberikan dalam sistem pencernaan yang diperlukan perbedaan yang nyata terhadap waktu yang serangga untuk pertumbuhan sehingga dibutuhkan untuk mematikan 50% proses penyerapan dalam sistem serangga uji. setelah diberi perlakuan. Universitas Riau Jom Faperta UR Vol 3 No 1 Februari 2016. LT50 larva ulat jengkal terjadi 56. Konsentrasi ekstrak daun pencernaan menjadi terganggu.25 dianalisis menggunakan sidik ragam jam (56 jam 15 menit) setalah aplikasi dan menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi berbeda nyata dengan perlakuan ekstrak ekstrak daun bintaro memberikan daun bintaro konsentrasi 10 g/l air (23. Universitas Riau 2 Staf Pengajar Jurusan Kehutanan.00 a berfungsi sebagai penolak makan. salah B1 (5 g/1 air) 56. masuk sebagai racun perut dan racun Hasil uji lanjut DNMRT pada taraf 5% kontak. Rata-rata LT50 Plusia sp. Data di atas Perhitungan mortalitas total menunjukkan bahwa aplikasi beberapa merupakan pengamatan yang dilakukan konsentrasi ekstrak daun bintaro telah dengan menghitung jumlah total populasi menyebabkan nilai LT50 pada larva ulat ulat jengkal yang mati diakhir pengamatan jengkal dengan kisaran 11. 15 g/l air (16.00 a B2 (10 g/1 air) 23.25 b satunya yaitu tanin. Hasil uji lanjut DNMRT pada (11 jam 15 menit). Hasil pengamatan Perlakuan ekstrak daun bintaro 5 mortalitas total ulat jengkal setelah g/l air. Menurut Sa’diyah dkk (2013) dapat dilihat pada Tabel 2. semakin tinggi konsentrasi Tabel 2. Lethal Time (LT50) Cepatnya waktu untuk mematikan Hasil pengamatan Lethal Time 50% serangga uji pada perlakuan (LT50) setelah dianalisis menggunakan konsentrasi yang diberikan disebabkan sidik ragam menunjukkan bahwa oleh pemberian konsentrasi yang tinggi. Tanin merupakan B0 (0 g/1 air) 72. bintaro yang lebih tinggi menunjukkan peningkatan kecepatan waktu dalam C.

50% dan berbeda tidak nyata dengan lokasi penelitian juga berpengaruh perlakuan konsentrasi ekstrak daun bintaro terhadap besarnya mortalitas larva ulat 10 g/l air. dengan pemberian beberapa sesuai dengan pernyataan Dadang dan konsentrasi ekstrak daun bintaro Prijono (2008) yang menyatakan bahwa (%) ekstrak pestisida nabati dikatakan efektif Perlakuan Mortalitas total (%) apabila perlakuan dengan ekstrak tersebut B4 (20 g/1 air) 92. sebaliknya suhu bintaro yang diberikan maka persentase yang rendah akan menghambat mortalitas total ulat jengkal mengalami perkembangan larva ulat. . Suhu Tabel 3 menunjukkan bahwa yang tinggi akan mendukung semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun perkembangan larva ulat. kelembaban melainkan disebabkan oleh Ekstrak daun bintaro efektif dalam bahan aktif yang terdapat pada ekstrak mengendalikan hama ulat jengkal. B2 (10 g/1 air) 67. Pendapat ini sp. daun bintaro 0 g/l air tidak terjadi Jika dikaitkan dengan hasil penelitian kematian serangga uji sampai akhir menunjukkan bahwa suhu pada lokasi pengamatan. Fakultas Pertanian. Peningkatan konsentrasi ekstrak jengkal. Universitas Riau 2 Staf Pengajar Jurusan Kehutanan.00 c Tumbuhan menunjukkan suhu rata-rata Angka-angka pada lajur yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama berbeda nyata setelah 28.50% dan berbeda nyata jengkal tidak dipengaruhi oleh suhu dan dengan perlakuan lainnya. pada akan mempercepat terjadinya interaksi peningkatan konsentrasi ekstrak daun senyawa bioaktif dengan bagian sasaran bintaro 20 g/l air terjadi peningkatan atau mempercepat terbentuknya senyawa mortalitas total serangga uji yang cukup metabolit yang lebih beracun. disebabkan pada pemberian perlakuan konsentrasi ekstrak daun bintaro 20 g/l air mampu mematikan serangga uji ulat 1 Mahasiswa Jurusan Kehutanan.Tabel 3. peningkatan sangat tinggi yakni sebesar Rata-rata suhu dan kelembaban di 52.50 a Data hasil pengukuran suhu dan B1 (5 g/1 air) 52.50%.460C dan kelembaban rata-rata 73. Hal ini daun bintaro yang bersifat toksik. Fakultas Pertanian.25% ditransformasi Arc Sin menurut uji DNMRT (Lampiran 3). Hal ini dikarenakan suhu yang daun bintaro menjadi 10 g/l air dapat rendah tidak mempengaruhi peningkatan meningkatkan kematian serangga uji ulat terbentuknya senyawa bioaktif yang jengkal sebesar 15% dan berbeda tidak bersifat racun. Namun.50 a dapat mengakibatkan tingkat kematian B3 (15 g/1 air) 82. Rata-rata mortalitas total Plusia jengkal mencapai 92.50 a lebih besar dari 80%. Menurut peningkatan. Hal ini sependapat dengan nyata dengan perlakuan konsentrasi Dadang dan Prijono (2008) dalam ekstrak daun bintaro 15 g/l air.50 b kelembaban di Laboratorium Hama B0 (0 g/1 air) 0. Suhu dan kelembaban pada taraf 5% merupakan faktor penting yang mempengaruhi aktifitas serangga. Pemberian perlakuan penelitian termasuk suhu yang rendah konsentrasi ekstrak daun bintaro 5 g/l air sehingga menyebabkan perkembangan mortalitas serangga uji mengalami larva ulat juga terhambat. Sedangkan Darmayanti (2014) yang menyatakam pada peningkatan konsentrasi ekstrak daun bahwa daya racun senyawa bioaktif pada bintaro 15 g/l air persentase mortalitas umumnya meningkat dengan semakin total mengalami peningkatan yang sama tingginya suhu karena peningkatan suhu yaitu sebesar 15%. Universitas Riau Jom Faperta UR Vol 3 No 1 Februari 2016. Dapat tajam yakni mampu mematikan serangga disimpulkan bahwa kematian larva ulat uji sebesar 92. Data di atas menunjukkan Kartasapoetra (2006) dalam Darmayanti bahwa pada perlakuan konsentrasi ekstrak (2014) suhu yang tinggi yaitu diatas 300C.

Universitas Riau 2 Staf Pengajar Jurusan Kehutanan. Wijayawati L. bintaro memiliki potensi untuk Jurusan Biologi Institut Teknologi mengendalikan hama ulat jengkal pada Sepuluh November. Insektisida Rangka Pemanfaatan Pestisida Nabati Prinsip. D dan Hasan E. Fakultas Pertanian. Purwani KI. Pemanfaatan Nabati. Pengaruh Ekstrak Daun Bogor. Journal of Guangxi Ekstrak Daun Tembelekan Academy of Science 2011-. Universitas Riau. Jakarta. Prijono. 2008. waktu tercepat mematikan 50% (LT50) Hanafi. Tugas Akhir. Tao dan T. Fakultas Pertanian. A. Pengaruh Cerbera. (Lepidoptera:Noctuidae) Pada Erlangga. Bintaro (Cerbera odollam) terhadap Perkembangan Ulat Darmayanti. Pestisida Alami (Nabati).) untuk 2: 2337-3520.KESIMPULAN DAN SARAN (Lantana cemara) terhadap Pertumbuhan dan Mortalitas Kesimpulan Ulat Grayak (Spodoptera litura 1. Diakses pada tanggal 25 Maret sebagai pestisida nabati pada konsentrasi 2015. Gafur A. 2011. Chemical and Bioactivity of Mangrove Plant in the Genus Fadillah. Trembesi (Samanea ulat jengkal yaitu 11. I. Pekanbaru. Ping. 1995. Proseding Seminar Hasil Penelitian Dalam Dadang dan D. Pengaruh optimal. Tanaman Kedelai. 1 Mahasiswa Jurusan Kehutanan. 2012. Fakultas Pertanian Yan.) Untung. Selain Kardinan. Surabaya. Acacia Pest and dalam mengendalikan ulat jengkal Diseases. Tjahjono B. Konsentrasi ekstrak daun bintaro 20 g/l Golani G. Tarigan air merupakan konsentrasi yang terbaik M. 2 No. Pertanian Institut Pertanian Bogor.50%. 2007..D. Ekstrak Nimba Terhadap Perkembangan dan Mortalitas DAFTAR PUSTAKA Croccidolonia binotalis. Bogor 1-2 Desember 1993. 2011.00 jam. . dengan hasil waktu awal kematian Second Edition. trembesi. read/full/agriwacana/budidaya/201 Saran 1/01/03/trembesisamaneasaman.25 jam dan saman). Jurusan Agroteknologi. NA. 2003. dan Pengembangan. Diagnose and Control. Research & Development. F. W.agrilands.net/ mortalitas total sebesar 92. Hutan (Piper aduncum L. 2014. 20 g/l air direkomendasikan dalam mengendalikan hama ulat jengkal. Jakarta. pengaplikasian ekstrak daun bintaro di lapangan agar tercapai pengendalian yang Prijono. X. 2.N. Jurnal Konsentrasi Ekstrak Daun Sirih Sains dan Seni Pomits. itu perlu adanya penelitian lebih lanjut Mimba Budidaya dan tentang identifikasi jenis ulat jengkal yang Pemanfaatannya. cara serta frekuensi Swadaya. http://www. Mengendalikan Hama Ulat Grayak (Spodoptera Litura F.) pada Kedelai. A dan Ruhnayat. Universitas Riau Jom Faperta UR Vol 3 No 1 Februari 2016.ht Pemanfaatan ekstrak daun bintaro ml. M. 1993. APRIL Forestry serangga uji tercepat yaitu 3. Pestisida nabati dari ekstrak daun F. Penebar menyerang trembesi. Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Sa’diyah. Rakhmah A.Vol. 2013. Uji Beberapa Grayak (Spodoptera litura).

H.S. Universitas Riau 2 Staf Pengajar Jurusan Kehutanan. Fakultas Pertanian. Suprapti. . Fakultas Pertanian. 1 Mahasiswa Jurusan Kehutanan. Hidayat.A. Universitas Riau Jom Faperta UR Vol 3 No 1 Februari 2016..E. Hioma Vol 11 No 1: 11-17. J. Ekstrak Daun Teklan (Eupatorium riparium) terhadap mortalitas dan Perkembangan Aedes aegyptii. J. N. 2009.Yunita.