You are on page 1of 21

REFERAT

LEPRA MULTIBASILER

Disusun oleh:

Debby Sherly Amanda

1610221109

Pembimbing:

dr. Hiendarto, SpKK

KEPANITERAAN KLINIK KULIT-KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AMBARAWA
PERIODE 5 FEBUARI-10 MARET 2018

LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT

LEPRA MULTIBASILER
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
di Departemen Kulit-Kelamin
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawaa

Disusun Oleh:
Debby Sherly Amanda
1610221109

Telah Disetujui Oleh Pembimbing

Dr. Hiendarto, Sp.KK

2

Ambarawa. Hiendarto. KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus mengenai gangguan penyesuaian. pembaca. maupun bagi semua pihak-pihak yang berkepentingan. SpKK atas bimbingan selama ini dan juga tidak lupa kepada teman-teman seperjuangan di kepanitriaan klinik bagian kulit-kelamin Semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat baik bagi penulis sendiri. Febuari 2018 Penulis 3 . Naskah ujian ini untuk memenuhi salah satu syarat ujian Kepanitriaan Klinik Bagian Kulit Kelamin Penyusunan naskah ujian ini terselesaikan atas bantuan dari banyak pihak yang turut membantu terselesaikannya naskah ujian ini. dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Untuk itu.

.............. 2 KATA PENGANTAR .................................................. 20 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................................................................................... 4 BAB I ......... 3 DAFTAR ISI ................................................................................................................... DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................................................. 6 BAB III ........................................................................... 21 4 ............................................................................................................ 5 BAB II ...........................

Hal ini sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai di bidang kesehatan. dan adanya penyertaan penyakit lain yang dapat menekan sistem imun. dimana beberapa daerah di Indonesia prevalens rate masih tinggi dan permasalahan yang ditimbulkan sangat komplek. Kusta merupakan penyakit menahun yang menyerang syaraf tepi. Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai. kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. tetapi derajat infektivitasnya rendah. air yang tidak bersih. asupan gizi yang buruk. pendidikan. BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang masih merupakan masalah nasional kesehatan masyarakat. kulit dan organ tubuh manusia yang dalam jangka panjang mengakibatkan sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Masalah yang dimaksud bukan saja dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial ekonomi. budaya. Pada umumnya penyakit kusta terdapat di negara yang sedang berkembang. 5 . dan sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah. Meskipun infeksius. keamanan dan ketahanan sosial. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita.

mata. dari seluruh penderita baru didunia. Penyakit kusta tersebar di seluruh dunia terutama di daerah tropis dan subtropis. saluran napas bagian atas. selanjutnya dapat menyerang kulit. Dapat menyerang semua umur. Pada tahun 2006 jumlah penderita kusta baru di Indonesia sebanyak 6 .000 penduduk pada tahun 2000. Pada kebanyakan orang yang terinfeksi dapat asimtomatik. Lepra) Penyakit kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae (M. Epidemiologi Sampai saat ini epidemiologi penyakit kusta belum sepenuhnya diketahui secara pasti. dan Brazil. leprae) yang pertama menyerang saraf tepi. Meskipun pada pertengahan tahun 2000 Indonesia secara nasional sudah mencapai eliminasi kusta namun pada tahun tahun 2002 sampai dengan tahun 2006 terjadi peningkatan penderita kusta baru. namun sebagian kecil memperlihatkan gejala dan mempunyai kecenderungan untuk menjadi cacat. Di Indonesia penderita kusta terdapat hampir pada seluruh propinsi dengan pola penyebaran yang tidak merata. mukosa mulut. Pada tahun 2006 WHO mencatat masih ada 15 negara yang melaporkan 1000 atau lebih penderita baru selama tahun 2006. sistem retikuloendotelial. tulang dan testis kecuali susunan saraf pusat. Indonesia menempati urutan prevalensi ketiga setelah India. khususnya pada tangan dan kaki. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Penyakit Kusta (Morbus Hansen. Lima belas negara ini mempunyai kontribusi 94%. frekwensi tertinggi pada kelompok umur antara 30-50 tahun dan lebih sering mengenai laki-laki daripada wanita. otot. diantara 122 negara yang endemik pada tahun 1985 dijumpai 107 negara telah mencapai target eliminasi kusta dibawah 1 per 10. Menurut WHO (2002).

Etiologi Kuman penyebab penyakit kusta adalah M.000 penduduk. yang diproduksi dan secara struktur khas bentuk M. Secara skematik struktur M. Kapsul Di sekeliling organisme terdapat suatu zona transparan elektron dari bahan berbusa atau vesikular. yang terdiri dari tiga molekul gula hasil metilasi yang dihubungkan melalui molekul fenol pada lemak (phthiocerol). yaitu: a. Kuman ini juga dapat menyebabkan infeksi sistemik pada binatang armadilo. leprae terdiri dari : A. Trisakarida memberikan sifat kimia yang unik dan sifat antigenik yang spesifik terhadap M. hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat dikultur dalam media buatan. Propinsi terbanyak melaporkan penderita kusta baru adalah Maluku. berbentuk batang dengan ukuran 1-8 mikron dan lebar 0. dan suatu phenolic glycolipid. Papua.371 kasus baru kusta di Indonesia dengan angka prevalensi 8.000 penduduk.22 per 100. tercatat 17. Dinding dalam terdiri dari peptidoglycan: karbohidrat yang 7 . biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu.921 orang. mirip dengan yang ditemukan pada Mycobacteria lainnya. Kuman ini bersifat tahan asam. yang dianggap memegang peranan protektif pasif. phthioceroldimycoserosate. leprae B. tercatat 19. b. Lapisan luar bersifat transparan elektron dan mengandung lipopolisakarida yang terdiri dari rantai cabang arabinogalactan yang diesterifikasi dengan rantai panjang asam mikolat . Dinding sel Dinding sel terdiri dari dua lapis. leprae yang ditemukan oleh GH Armauer Hansen.17.2 Pada tahun 2010.000 penduduk sedangkan pada tahun 2011.0.03 per 100. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan dengan prevalensi lebih besar dari 20 per 100. seorang sarjana dari Norwegia pada tahun 1873.2 . Zona transparan ini terdiri dari dua lipid. leprae .012 kasus baru kusta di Indonesia dengan angka prevalensi 7.5 mikron.

leprae walaupun peptida ini terlalu sedikit untuk digunakan sebagai antigen diagnostik. dan melekat padanya. Membran terdiri dari lipid dan protein. C. yaitu: A. B. Diagnosis Untuk menetapkan diagnosis penyakit kusta perlu dicari tanda-tanda utama atau tanda kardinal. Gangguan fungsi sensoris: mati rasa. 8 . Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf. tuberculosis dan M. adalah suatu membran yang khusus untuk transport molekul-molekul kedalam dan keluar organisme. Gangguan fungsi saraf tepi ini biasanya akibat dari peradangan kronis pada saraf tepi (neuritis perifer). material genetik asam deoksiribonukleat (DNA). leprae. dan ribosom yang merupakan protein yang penting dalam translasi dan multiplikasi. Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa. Sitoplasma Bagian dalam sel mengandung granul-granul penyimpanan. Membran Tepat di bawah dinding sel. Analisis DNA berguna dalam mengkonfirmasi identitas sebagai M. Protein sebagian besar berupa enzim dan secara teori merupakan target yang baik untuk kemoterapi. Kelainan kulit/lesi yang dapat berbentuk bercak keputihan (hypopigmentasi) atau kemerahan (erithematous) yang mati rasa (anaesthesia). Adapun gangguan-gangguan fungsi saraf tepi berupa: a. scrofulaceum. terkait erat dengan M. leprae dari mycobacteria yang diisolasi dari armadillo liar. dan menunjukkan bahwa M. leprae yang sudah terganggu dan dianalisa secara luas. walaupun berbeda secara genetik. dihubungkan melalui peptida-peptida yang memiliki rangkaian asam- amino yang mungkin spesifik untuk M. Protein ini juga dapat membentuk ‘antigen protein permukaan’ yang diekstraksi dari dinding sel M. D.

Identifikasi pasien yang kemungkinan besar akan menderita cacat. Tuberculoid (T). Klasifikasi Setelah seseorang didiagnosis menderita kusta. klasifikasi India dan klasifikasi menurut WHO.leprae di sisi yang lainnya. c. jumlah saraf yang terganggu). A. maka untuk tahap selanjutnya harus ditetapkan tipe atau klasifikasinya. seperti menemukan pasien-pasien yang menularkan dan memiliki nilai epidemiologi yang tinggi sebagai target utama pengobatan. pemeriksaan histopatologi dan pemeriksaan imunologi. sesuai rekomendasi dari International Leprosy Association di Madrid tahun 1953. Klasifikasi Internasional: klasifikasi Madrid (1953) Pada klasifikasi ini penyakit kusta dibagi atas Indeterminate (I). B. pemeriksaan bakteriologis. Klasifikasi ini merupakan klasifikasi paling sederhana berdasarkan manifestasi klinis. Terdapat banyak jenis klasifikasi penyakit kusta diantaranya adalah klasifikasi Madrid. b. hasil pemeriksaan bakteriologi. Kekebalan seluler (cell mediated imunity = CMI) seseorang yang akan menentukan apakah dia akan menderita kusta apabila individu tersebut mendapat infeksi M. Penyakit kusta dapat diklasifikasikan berdasarkan manifestasi klinis (jumlah lesi.leprae dan tipe kusta yang akan dideritanya 9 . C. prognosis dan komplikasi. dan pemeriksaan histopatologi. Perencanaan operasional. leprae pada pemeriksaan bakteriologis. Gangguan fungsi motoris: kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise). Klasifikasi bertujuan untuk: A. klasifikasi Ridley-Jopling. B. Ditemukannya M. Lepromatous (L). Borderline-Dimorphous (B). C. Menentukan rejimen pengobatan. Klasifikasi Ridley-Jopling (1966) Pada klasifikasi ini penyakit kusta adalah suatu spektrum klinis mulai dari daya kekebalan tubuhnya rendah pada suatu sisi sampai mereka yang memiliki kekebalan yang tinggi terhadap M. Gangguan fungsi otonom: kulit kering.

tipe Borderline Lepromatous (BL). Pedoman utama dalam menentukan klasifikasi / tipe penyakit kusta menurut WHO (1982)* Tanda utama Pausibasiler (PB) Multibasiler (MB) Bercak kusta. Sistem klasifikasi ini banyak digunakan pada penelitian penyakit kusta. Tanda lain yang dapat dipertimbangkan dalam penentuan klasifikasi menurut WHO (1982) pada penderita kusta* 10 . Dasar dari klasifikasi ini berdasarkan manifestasi klinis dan hasil pemeriksaan bakteriologi. Dalam klasifikasi ini seluruh penderita kusta hanya dibagi menjadi 2 tipe yaitu tipe Pausibasiler (PB) dan tipe Multibasiler (MB). dan tipe Tuberculoid (T). Tabel 1. tipe Borderline Tuberculoid (BT). Klasfikasi menurut WHO Pada tahun 1982. tipe Mid-Borderline (BB). pada spektrum penyakit kusta. WHO mengembangkan klasifikasi untuk memudahkan pengobatan di lapangan. Sampai saat ini Departemen Kesehatan Indonesia menerapkan klasifikasi menurut WHO sebagai pedoman pengobatan penderita kusta. C. Pemeriksaan bakteriologi. karena bisa menjelaskan hubungan antara interaksi kuman dengan respon imunologi seseorang. Tidak dijumpai Dijumpai basil basil tahan asam tahan asam (BTA negatif) (BTA positif) *dikutip dari kepustakaan no.2 sesuai aslinya Tabel 2. terutama respon imun seluler spesifik. Jumlah 1 sampai Jumlah lebih dari dengan 5 5 Penebalan saraf tepi yang Hanya satu saraf Lebih dari satu disertai dengan gangguan saraf fungsi (gangguan fungsi bisa berupa kurang/mati rasa atau kelemahan otot yang dipersarafi oleh saraf yang bersangkutan. Kelima tipe kusta menurut Ridley-Jopling adalah tipe Lepromatous (LL).

nodus punched out Jumlah Tidak terhitung. Bakteriologik. Kelainan kulit dan hasil Pausibasiler Multibasiler (MB) pemeriksaan (PB) 1. Kehilangan rasa Selalu ada dan Biasanya tidak jelas. Ukuran Kecil dan besar Kecil-kecil b. Kulit Tidak ada Ada. berkilat Kasar d. Batas Tegas Kurang tegas e. Ciri-ciri Central healing . Kehilangan Selalu ada dan Biasanya tidak jelas. Infiltrat a.2 sesuai aslinya Gambaran Klinis. Sulit di hitung. pada bercak tegas jika ada. terjadi pada yang sudah lanjut f. Bercak (makula) mati rasa a. Konsistensi Kering dan Halus. papul shaped (kubah) . plakat . papul . kemampuan jelas jika ada.Hidung pelana .Ginekomasti . Deformitas Terjadi dini Biasanya asimetris *dikutip dari kepustakaan no. terjadi pada berkeringat. tidak ada kulit masih ada kulit kulit sehat jelas 11 . kadang-kadang tidak ada b. yang sudah lanjut rambut rontok pada bercak 2.Punched out lession .Madarosis .Suara sengau d. Distribusi Unilateral atau Bilateral simetris bilateral Asimetris c. Dapat di hitung. Nodulus Tidak ada Kadang-kadang ada e. Plakat . Membran mukosa Tidak pernah Ada. dome difus . kadang-kadang Ada tidak ada c. dan Imunologik Kusta Multibasilar sifat Lepromatosa Borderline Mid Borderline (LL) Lepromatosa (BB) (BL) LESI Bentuk Makula . infiltrat Makula .

garis muka menjadi kasar dan cekung membentuk facies leonina yang dapat disertai madarosis. dagu. cuping telinga • Di badan mengenai bagian belakang . agak berkilat batas Tidak jelas Agak jelas Agak jelas anestesia Tidak ada sampai Tak jelas Lebih jelas tidak jelas BTA Lesi kulit Banyak (ada Banyak Agak banyak globus) Sekret hidung Banyak (ada Biasanya negatif negatif globus) Tes lepromin negatif Negatif Biasanya negatif Gambaran Klinis dan Histopatologi LL Kusta Lepromatosa Polar • Jumlah lesi sangat banyak. lebih eritem. cuping telinga menebal. simetrik. sehat sehat ada Distribusi simetris Hampir simetris Asimetris permukaan Halus berkilat Halus berkilat Agak kasar. permukaan halus. mengkilat. berbatas tidak tegas • Tidak ditemukan gangguan anestesi dan anhidrosis pada stadium dini • Distribusi lesi khas yakni di wajah mengenai dahi. pelipis. • Lebih lanjut dapat terjadi deformitas pada hidung • Dapat dijumpai pembesaran kelenjar limfe. lengan. orkitis yang dapat menjadi atropi testis • Kerusakan saraf dermis dapat menyebabkan gejala stocking dan glove anasthesia 12 . iritis dan keratitis. punggung tangan dan permukaan ekstensor tungkai bawah • Pada stadium lanjut tampak penebalan kulit yang progresif.

sedangkan lesi lama menjadi plak dan nodul • Pada stadium lanjut serabut2 saraf perifer mengalami degenerasi hialin atau fibrosis yang menyebabkan anestesi dan pengecilan otot pada tangan dan kaki. • Pada fase lanjut terjadi madrosis (alis rontok). leprae pada bentuk klinis LL bersifat ganas dan infeksius • Daya tahan tubuh hospes rendah. • Bakteri M. Tidak ada perubahan pada produksi kelenjar keringat. karena terjadi gangguan imunitas seluler • Tes lepromin negatif dan prognosis penyakit jelek • Pada pemeriksaan bakteriologis selalu positif dan basil ditemukan dalam bentuk globi • Gejala penyakit : Lesi menyebar simetris. mengkilap berwarna keabu-abuan. hanya sedikit perubahan sensasi. facies leolina dan muka berbenjol-benjol 13 .• Apabila penyakit menjadi progresif makula dan papula baru muncul.

14 .

kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh badan • Makula lebih jelas dan lebih bervariasi bentuknya • Papula dan nodus lebih tegas dgn distribusi lesi yang hampir simetrik dan beberapa nodus tampak melekuk pada bagian tengah • Tanda2 kerusakan saraf berupa hilangnya sensasi . lepra) ditemukan pada massa yang jarang terjadi di dermis. original magnification ×100 BL Borderline Lepromatosa • Lesi berupa makula dan nodul papula yang cenderung asimetris. Epidermal atrophy with a Grenz zone. • Kelainan saraf timbul pada stadium lanjut • Tidak terdapat gambaran seperti terjadi pada tipe lepromatous. awalnya hanya dalam jumlah sedikit. gugurnya rambut lebih cepat dibanding tipe lepromatous 15 . yaitu tidak disertai madrosis. Hematoxylin-eosin. ulserasi maupun facies leonina • Secara klasik lesi dimulai dengan makula . dengan sedikit / tidak ada limfosit. Macrophages and foamy areas around blood vessels can be seen. keratitis. berkurangnya keringat. makrofag dapat menggembung saat dengan kelompok besar basil lepra (globi). hipopigmentasi. mungkin memiliki nodul subkutan (eritema nodosum leprorum) Lepromatous leprosy. makrofag (sel Virchow. Bakteri hadir dalam jumlah besar pada saraf kutaneous dan endotelium dan media pada pembuluh kecil dan besar. bisa menyerang otot pilorum arrectores.

• Penebalan saraf dapat teraba pada tempat predileksi di kulit 16 .

terdapat satelit yang mengelilingi lesi dan distribusinya asimetris • Bagian tepi dari lesi tidak dapat dibedakan dengan jelas terhadap daerah sekitarnya.disertai adanya adenopathi regional • Merupakan tipe paling tidak stabil • Jarang dijumpai • Lesi sangat bervariasi. baik ukuran bentuk maupun distribusinya • dapat berupa makula infiltrat 17 . lebih banyak limfosit dan hubungan yang lebih dekat dengan saraf BB Mid Borderline • Pada pemeriksaan bakteriologis ditemukan beberapa basil • Tes lepromin memberikan hasil negatif • Lesi kulit berbentuk tidak teratur.Gambaran Histopatologi : fibrosis perineural dengan pola kulit lamelar atau bawang. lebih banyak granulomatosa.

Penghancuran folikel rambut (pada BB) 18 . leprae dalam dermis berada dalam histiosit. mereka juga dapat ditemukan dalam sel-sel endotel dan otot arrector pili. Dermal bisa meradang dan dihancurkan. dan penghancuran kelenjar keringat dan kelenjar sebasea dapat mengakibatkan kekeringan pada kulit yang terkena.Histopatologi sebagian besar M.

19 . Sebaliknya. itu terdiri dari agregat teratur dari histiosit berbusa. terlihat di sini sekitarnya saraf (kanan atas) M.Respon inflamasi granulomatosa menjadi kurang terorganisir di seluruh spektrum sampai. di ekstrim LL. leprae menunjukan lesi yang langka pada saraf pada TT dan BT. basil yang melimpah dan mudah dikenali pada lesi BL dan LL.

Dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien kusta yang perlu dilakukan adalah melakukan pengkajian. e. BAB III KESIMPULAN a. Untuk pencegahan penyakit kusta terbagi dalam 3 tahapan yaitu : pencegahan secara primer. pemeriksaan fisik. menentukan diagnosa keperawatan. ras. namun jika respon imunitas dari tubuh orang tersebut rendah maka kusta akan lebih mengarah pada lepromatosa. 20 . Micobakterium leprae merupakan basil tahan asam (BTA) bersifat obligat intraseluller. sekunder dan tersier.yaitu : -kusta bentuk kering (tipe tuberkuloid) -kusta bentuk basah (tipe lepromatosa) c. b. g. sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat. Selain itu ada faktor-faktor lain yang berperan dalam penularan ini diantaranya: usia. hati. menyerang saraf perifer. jika orang tersebut memiliki respon imunitas yang tinggi maka kusta akan lebih mengarah pada tuberkuloid. Micobakterium leprae masuk kedalam tubuh manusia. h. Kusta dibagi dalam 2 bentuk. jenis kelamin. Kusta adalah penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman micobakterium leprae. kulit dan organ lain seperti mukosa saluran napas bagian atas. kemudian memberikan tindakan perawatan yang komprehensif. kesadaran sosial dan lingkungan. Manifestasi klinik dari penderita kusta adalah adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas. f. d. Penularan penyakit kusta sampai saat ini hanya diketahui melalui pintu keluar kuman kusta yaitu: melalui sekret hidung dan kontak langsung dengan kulit penderita.

Madarosis. Pannika VK.wikipedia. M.net/AniketPatel5/leprosy- 30666916 Eichelmann.slideshare. Menaldi SL. Leprosy Classification in Leprosy.html 21 . Et al. Smith DS. Available at http://www. Hamzah M. Kosasih A.com/topic/skinnontumorleprosy. Availableat:http://emedicine.thefreedictionary. Noordern SK. Available at: http://www. Mandal BK. Jakarta: Erlangga. Leprosy. Edward MJ. p. Diagnosis. 130-2. Scollard DM. London: Saunders. Jakarta: Balai penerbit FKUI.2010. DAFTAR PUSTAKA World Health Organization. 1996. Leprosy. S.medscape. Leprosy.com/madarosis.com/article/220455 overview#a0104. Manson’s tropical diseases. In : Cook GC. Available at: http://medicaldictionary. 6th ed.internationaltextbookofleprosy. K.pathologyoutlines.1016-43 Medical Dictionary. Availale at : https://www.org/wiki/leprosy. Wisnu IM. 20th ed.who.int/mediacentre/factsheets/fs101/en/ . Aisah S. Leprosy.p. 2006. An Update: Definition.org/chapter/pathology Choudhary. Available at: http://en. In : Djuanda A.editors.org/en/leprosy-an-update-definition- pathogenesis/articulo/S1578219013001431/ Hamodat. Classification. Kusta. and Treatment. Sjamsoe ES. Available at: http://www.actasdermo. p. Ilmu penyakit kulit dan Kelaim. Penyakit Infeksi. Skin-Nontumor / clinical dermatology infectious disorders leprosy http://www.79-80. Pathogenesis.