You are on page 1of 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Asuhan keperawatan gawat darurat adalah rangkaian kegiatan praktek keperawatan
gawat darurat yang diberikan kepada klien oleh perawat yang berkompeten di ruang gawat
darurat. Asuhan keperawatan yang diberikan meliputi biologis, psikologis, dan sosial klien
baik aktual yang timbul secara bertahap maupun mendadak (Dep.Kes RI, 2005).
Pengkajian pada kasus gawat darurat dibedakan menjadi dua, yaitu : pengkajian primer
dan pengkajian sekunder. Pertolongan kepada pasien gawat darurat dilakukan dengan terlebih
dahulu melakukan survei primer untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang mengancam
hidup pasien, barulah selanjutnya dilakukan survei sekunder. Tahapan pengkajian primer
meliputi : A: Airway, mengecek jalan nafas dengan tujuan menjaga jalan nafas disertai
control servikal; B: Breathing, mengecek pernafasan dengan tujuan mengelola pernafasan
agar oksigenasi adekuat; C: Circulation, mengecek sistem sirkulasi disertai kontrol
perdarahan; D: Disability, mengecek status neurologis; E: Exposure, enviromental control,
buka baju penderita tapi cegah hipotermia (Holder, 2002).
Pengkajian yang dilakukan secara terfokus dan berkesinambungan akan menghasilkan
data yang dibutuhkan untuk merawat pasien sebaik mungkin. Dalam melakukan pengkajian
dibutuhkan kemampuan kognitif, psikomotor, interpersonal, etik dan kemampuan
menyelesaikan maslah dengan baik dan benar. Perawat harus memastikan bahwa data yang
dihasilkan tersebut harus dicatat, dapat dijangkau, dan dikomunikasikan dengan petugas
kesehatan yang lain. Pengkajian yang tepat pada pasien akan memberikan dampak kepuasan
pada pasien yang dilayani (Kartikawati, 2012).
Oleh karena itu diperlukan perawat yang mempunyai kemampuan atau ketrampilan yang
bagus dalam mengaplikasikan asuhan keperawatan gawat darurat untuk mengatasi berbagai
permasalahan kesehatan baik aktual atau potensial mengancam kehidupan tanpa atau
terjadinya secara mendadak atau tidak di perkirakan tanpa atau disertai kondisi lingkungan
yang tidak dapat dikendalikan. Keberhasilan pertolongan terhadap penderita gawat darurat
sangat tergantung dari kecepatan dan ketepatan dalam melakukan pengkajian awal yang akan
menentukan keberhasilan Asuhan Keperawatan pada system kegawatdaruratan pada pasien
dewasa. Dengan Pengkajian yang baik akan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
Aspek – aspek yang dapat dilihat dari mutu pelayanan keperawatan yang dapat dilihat adalah

1

kepedulian, lingkungan fisik, cepat tanggap, kemudahan bertransaksi, kemudahan
memperoleh informasi, kemudahan mengakses, prosedur dan harga (Joewono, 2003).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Menjelaskan latar belakang perlunya pendidikan kegawatdaruratan ?
2. Menjelaskan tujuan perlunya pendidikan pembelajaran kegawatdaruratan ?
3. Menjelaskan konsep kegawatdaruratan ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Mampu memahami tentang konsep latar belakang pendidikan kegawatdaruratan
2. Mengetahui dan memahami tujuan pentingnya pendidikan kegawatdaruratan
3. Memahami konsep kegawatdaruratan.

2

kemudahan mengakses. serta memerlukan pemikiran kritis tingkat tinggi. Serta diperlukan perawat yang mempunyai kemampuan atau ketrampilan yang bagus dalam mengaplikasikan asuhan keperawatan gawat darurat untuk mengatasi berbagai permasalahan kesehatan baik aktual atau potensial mengancam kehidupan tanpa atau terjadinya secara mendadak atau tidak di perkirakan tanpa atau disertai kondisi lingkungan yang tidak dapat dikendalikan. Perawat gawat darurat harus mengkaji pasien mereka dengan cepat dan merencanakan intervensi sambil berkolaborasi dengan dokter gawat darurat. lingkungan fisik. Aspek – aspek yang dapat dilihat dari mutu pelayanan keperawatan yang dapat dilihat adalah kepedulian. kedaruratan yaitu apapun yang di alami pasien atau keluarga harus di pertimbangkan sebagai kedaruratan. 3 . mengevaluasi efektivitas pengobatan. dan menekankan perlunya perawat mencatat kontribusi profesional mereka. kemudahan memperoleh informasi. Hal tersebut merupakan tantangan besar bagi perawat. Dan harus mengimplementasi kan rencana pengobatan. hidup dan mati seseorang ditentukan dalam hitungan menit. Sifat gawat darurat kasus memfokuskan kontribusi keperawatan pada hasil yang dicapai pasien. Pengertian KGD Menurut Keparawatan gawat darurat adalah pelayanan profesioanal keperawatan yang di berikan pada pasien dengan kebutuhan urgen dan kritis. Yang kemudian filosopi tentang keperawatan gawat darurat menjadi luas. dan merevisi perencanaan dalam parameter waktu yang sangat sempit. 2003). Di lingkungan gawat darurat. prosedur dan harga (Joewono. yang juga harus membuat catatan perawatan yang akurat melalui pendokumentasian. Keberhasilan pertolongan terhadap penderita gawat darurat sangat tergantung dari kecepatan dan ketepatan dalam melakukan pengkajian awal yang akan menentukan keberhasilan Asuhan Keperawatan pada system kegawatdaruratan pada pasien dewasa. kemudahan bertransaksi. BAB II PEMBAHASAN KONSEP KEGAWATDARURATAN I A. cepat tanggap. Namun UGD dan klinik kedaruratan sering di gunakan untuk masalah yang tidak urgen. Keperawatan kritis dan kegawatdaruratan bersifat cepat dan perlu tindakan yang tepat. Dengan Pengkajian yang baik akan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.

C. Meningkatkan profesionalisme tenaga keperawatan Tujuan kegawatdaruratan adalah: 1. T : total recall (ingatan total) 2. 2. gawat darurat melalui sistem rujukan untuk yang memperoleh penanganan lebih memadai. K : knowing how you think (mengetahui bagaimana anda berpikir) E. Mencegah kematian dan cacat (to save life and limb) pada periderita gawat darurat.B. 2006). fleksibelitas. Menginformasikan kepada masyarakat tentang pelayanan keperawatan gawat darurat yang diberikan dan tanggungjawab secara professional 3. 2. dapat dijadikan sebagai aspek legalitas dan kompetensi dalam melaksanakan pelayanan keperawatan gawat darurat yang tujuannya antara lain: 1. Barbara K. intuisi. rasa ingin tahu. Menanggulangi korban bencana. Memotivasi pengembangan profesi 6.Merujuk penderita . Memelihara kualitas/mutu pelayanan keperawatan yang diberikan 4. Model Berpikir Kritis Dalam Keperawatan Terdapat 5 model berpikir yaitu : (Rubenfeld. 2006) 1. D. Berpikir Kritis Dalam Keperawatan Berpikir kritis dalam keperawatan menurut studi riset tahun 1997&1998 adalah komponen esensial dalam tanggung gugat profesional dan asuhan keperawatan yang bermutu seperti : kreatifitas. H : habits (kebiasaan) 3. pikiran terbuka (Rubenfeld. Memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan keperawatan gawat darurat yang diberikan. Tujuan KGD Bagi profesi keperawatan pelatihan kegawatdaruratan. Perspektif Keperawatan Kritis dan Kegawatdaruratan Keperawatan kritis dan kegawatdaruratan adalah pelayanan profesioanal keperawatan yang diberikan pada pasien dengan kebutuhan urgen dan kritis atau 4 . I : inquiry (penyelidikan) 4. 2. Menjamin adanya perlindungan hokum bagi perawat 5.hingga dapat hidup dan berfungs kembali dalarn masyarakat sebagaimana mestinya. N : new ideas and creativity (ide baru dan kreatifitas) 5. Barbara K.

nadi tidak teraba. jelaskan apa yang terjadi. keracunan). sebab medik atau perjalanan penyakit di mulai dari tempat ditemukannya korban tersebut sampai pengobatan definitif dilakukan di tempat rujukan. maka perawat yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat dapat bertindak langsung sesuai dengan prosedur tetap rumah sakit yang berlaku. Namun UGD dan klinik kedaruratan sering digunakan untuk masalah yang tidak urgen. Yang kemudian filosopi tentang keperawatan gawat darurat menjadi luas. Prinsip Gawat Darurat 1. 5. Pertahankan korban pada posisi datar atau sesuai (kecuali jika ada ortopnea). Melakukan pengkajian sistematik sebelum melakukan tindakan secara menyeluruh. F. 5 . memindahkan jika hanya ada kondisi yang membahayakan. rangkaian kegiatan praktek keperawatan kegawatdaruratan yang diberikan oleh perawat yang kompeten untuk memberikan asuhan keperawatan di ruang gawat darurat. Dalam beberapa jenis keadaan kegawatdaruratan yang telah disepakati pimpinan masing-masing rumah sakit dan tentunya dengan menggunakan Protap yang telah tersedia. Jika korban sadar. Jangan diberi minum jika ada trauma abdomen atau perkiraan kemungkinan tindakan anastesi umum dalam waktu dekat. kedaruratan yaitu apapun yang di alami pasien atau keluarga harus di pertimbangkan sebagai kedaruratan. Melakukan pengkajian yang cepat dan cermat terhadap masalah yang mengancam jiwa (henti napas. Peran ini sangat dekat kaitannya dengan upaya penyelamatan jiwa pasien secara langsung. Bersikap tenang tapi cekatan dan berpikir sebelum bertindak (jangan panik). Jangan dipindahkan (ditransportasi) sebelum pertolongan pertama selesai dilakukan dan terdapat alat transportasi yang memadai. lindungi korban dari kedinginan. Keperawatan kritis dan kegawatdaruratan meliputi pertolongan pertama. Hindari mengangkat/memindahkan yang tidak perlu. 6. penanganan transportasi yang diberikan kepada orang yang mengalami kondisi darurat akibat rudapaksa. 3. perdarahan hebat. Sadar peran perawat dalam menghadapi korban dan wali ataupun saksi. 8. berikan bantuan untuk menenangkan dan yakinkan akan ditolong. 2. 4. 7.

otak tidak berfungsi untuk sementara (reversibel). cedera tulang belakang. henti jantung. 2. 4. stadium terminal penyakit seperti kanker yang menyebar ke otak setelah 1/2-1 jam RJP gagal dipastikan fungsi otak berjalan. 3. yang meski dilakukan oleh seorang perawat adalah melihat kondisi si klien B maka lebih diutamakan dibandingkan dengan klien A karena pada klien B kondisi gawat daruratnya disebabkan oleh adanya penyakit epilepsi. Mati biologis: kematian tetap karena otak kerkurangan oksigen. kemudian mati biologis. trauma atau kompikasi lain. Mati klinis: henti nafas. in hospital. Dengan klien B epilepsi mengalami fase kejang tonik dan klonik pada saat serangan epilepsi dirumahnya. serta terbatasnya pergerakan klien dan punggung habis jatuh dari tangga. Ruang Lingkup Keperawatan Kritis dan Kegawatdaruratan 1. 8. post hospital. Resusitasi jantung paru (RJP) tidak dilakukan bila: kematian wajar. Terapi kegawatan intensive: tindakan terbaik untuk klien sakit kritis karena tidak segera di intervensi menimbulkan kerusakan organ yang akhirnya meninggal. ICU (Intensive Care Unit) ICU adalah ruangan perawatan intensif dengan peralatan-peralatan khusus untuk menanggulangi pasien gawat karena penyakit. dan lain – lain. Bidang cakupan keperawatan gawat darurat: pre hospital. 7. Sedangkan untuk klien A dalam kondisi gawat darurat juga akan tetapi ia masuk kedalam unit atau bagian gawat darurat (UGD) bukan berarti tidak diperdulikan. Dua kasus diatas memiliki sebuah perbedaan yang jelas dengan melihat kasus tersebut. Mati klinis 4-6 menit. mati biologis merupakan proses nekrotisasi semua jaringan yang mulai dari neuron otak yang nekrosis setelah satu jam tanpa sirkulasi oleh jantung. paru. H. klien mengeluh nyeri. 6 . 6. sirkulasi terganggu. Pertolongan diberikan karena keadaan yang mengancam kehidupan.G. Misalnya terdapat sebuah kasus dalam sistem persyarafan dengan klien A cedera medula spinalis. Resusitasi pemulihan bentuk kesadaran seseorang yang tampak mati akibat berhentinya fungsi jantung dan paru yang berorientasi pada otak. Fatwa IDI mati: jika fungsi pernafasan seperti jantung berhenti secara pasti (irreversibel atau terbukti kematian batang otak). hati. Falsafah Keperawatan Kritis dan Kegawatdaruratan 1. 5.

Seperti pada kasus diatas pada klien A. Sasaran Pelayanan Gawat Darurat Ketepatan resusitasi efektif dan stabilisasi klien gawat dan yang mengalami perlukaan. Kondisi yang dapat memperburuk jika pengobatan ditangguhkan 6. Histeris 3. K. Cemas 2. Nyeri dada terutama pada pasien berusia > 35 tahun 3. menyerang 8. disritmia. hipo/hipertermia. ICU) 4. I. Hilang penglihatans ecara tiba-tiba 7. Mudah marah L. Nyeri yang hebat 4. Perilaku membahayakan. Waktu yang terbatas 2. Informasi yang terbatas 5. Kondisi klien yang memerlukan bantuan segera 3. 2. UGD (Unit Gawat Darurat) UGD merupakan unit atau bagian yang memberikan pelayanan gawat darurat kepada masyarakat yang menderita penyakit akut atau mengalami kecelakaan. ia mengalami suatu kecelakaan yang mengakibatkan cedera tulang belakang dengan demikian yang meski dibawa ke UGD adalah yang klien A yang mengalami kecelakaan tersebut. Pengkajian terhadap prioritas pelayanan Perubahan tanda vital yang signifikan (hipo/hipertensi. Aspek Psikologis Pada Situasi Gawat Darurat 1. Kondisi psikologis yang terganggu/perkosaan 7 . Kebutuhan pelayanan yang definitif di unit lain (OK. Perubahan/gangguan tingkat kesdaran (LOC) 2. Proses Keperawatan Gawat Darurat 1. distres pernafasan). Peran dan sumber daya J. Perdarahan yang tidak dapat dikendalikan dengan penekanan langsung 5. 1.

Sistem pelayanan bersifat darurat sehingga perawat dan tenaga medis lainnya harus memiliki kemampuan. Sistem Pelayanan Gawat Darurat Pelayanan gawat darurat tidak hanya memberikan pelayanan untuk mengatasi kondisi kedaruratan yang di alami pasien tetapi juga memberikan asukan keperawatan untuk mengatasi kecemasan pasien dan keluarga. pengalaman bekerja minimal 6 bulan di bagian UGD. 3. Sistem Triage dipengaruhi oleh:  Jumlah tenaga profesional dan pola ketenagaan  Jumlah kunjungan pasien dan pola kunjungan  Denah bangunan fisik unit gawat darurat  Terdapatnya klinik rawat jalan dan pelayanan medis b). Pasien-pasien yang terancam hidupnya harus di beri prioritas utama. ENPC Lulus Trauma Nurse Core Currikulum (TNCC) 8 . Triage dalam keperawatan gawat derurat di gunakan untuk mengklasifikasian keperahan penyakit atau cidera dan menetapkan prioritas kebutuhan penggunaan petugas perawatan kesehatan yang efisien dan sumber-sumbernya. keterampilan. a).Triase di lakukan oleh perawat yang profesional (RN) yang sudah terlatih dalam prinsip triase. Triage Tujuan triage adalah untuk menetapkan tingkat atau derajat kegawatan yang memerlukan pertolongan kedaruratan Dengan triage tenaga kesehatan akan mampu : 1. tehnik serta ilmu pengetahuan yang tinggi dalam memberikan pertolongan kedaruratan kepeda pesien. ACLS. 2. Menetapkan area yang paling tepat untuk dapat melaksanakan pengobatan lanjutan.Triage Dalam Keperawatan Gawat Darurat Yaitu skenario pertolongan yang akan di berikan sesudah fase keadaan pasien. c). Memfasilitasi alur pasien melalui unit gawat darurat dalam proses penanggulangan/pengobatan gawat darurat.M. PALS. Standart waktu yang di perlukan untuk melakukan triase adalah 2-5 menit untuk orang dewasa dan 7 menit untuk pasien anak-anak. dan memiliki kualisifikasi: Menunjukkan kompetensi kegawat daruratan Sertifikasi ATLS. Menginisiasi atau melakukan intervensi yang cepat dan tepat kepada pasien.

dll 9 .Pengetahuan tentang kebijakan intradepartemen Keterampilan pengkajian yang tepat.

Identitas Penanggung Jawab Nama : Ny. ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT DENGAN PASIEN STROKE HEMORAGIK I. Keluhan Utama 10 . RM : 346043 Diagnosa Medis : Stroke Hemoragik 2. I Umur : 46 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Pendidikan : SD Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Alamat : Berkoh RT 5/4 Purwokerto Selatan Hubungan Dengan Pasien : Anak B. Riwayat Kesehatan 1. PENGKAJIAN Tanggal : 11 juli 2017 Jam : 12. Identitas Pasien Nama : Ny.N.10 WIB Tempat : A. Identitas 1. G Umur : 68 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Pendidikan : SD Pekerjaan : Tani Alamat : Berkoh RT 5/4 Purwokerto Selatan No.

Teraba hembusan napas 7. 2. Pemasangan NGT dan DC pada pasien. pasien tidak dapat berkomunikasi. kelemahan anggota gerak sebelah kiri sejak 2 hari yang lalu. injeksi ceftriaxone 1 gr/24 jam. injeksi citicolin 500 mg/12 jam. injeksi furosemid 40 mg/12 jam. Keluarga pasien mengatakan anggota gerak sebelah kiri pasien mengalami kelemahan. 5. Circulasi : TD: 230/110 mmHg 11 . Pemeriksaan GDS dengan hasil : 152 mg/dl dan pemeriksaan EKG dengan hasil: Sinus Takikardi. mengalami penurunan kesadaran. pasien kesulitan saat bernapas 8. 1. Riwayat Penyakit Dahulu Keluarga mengatakan pasien memiliki riwayat penyakit Hipertensi sejak ±10 tahun. irama napas tidak teratur 9. infus RL 20 tpm. Breathing: terlihat pengembangan dada 6.10 WIB dengan keluhan 4 hari sebelum masuk Rumah Sakit pasien jatuh terpeleset di kamar mandi. Lidah tidak jatuh ke belakang 3. napas cepat dan pendek 11. Pengkajian Primer 1. 3. C. Asma dan Hipertensi. pasien kesulitan bernapas 4. Riwayat penyakit Keluarga Keluarga pasien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit keturunan seperti DM. Riwayat Kesehatan Pasien datang di IGD RS Margono Soekardjo pada tanggal 11 Juli 2017 pada pukul 12. 4. Keluhan Tambahan Keluarga pasien mengatakan pasien tidak dapat berkomunikasi. RR: 28x/menit. terlihat adanya penggunaan otot bantu rongga dada dalam pernapasan 10. Airway : terdapat secret 2. Terapi O2 nasal 4 lpm. suara nafas ronkhi 5.

Kesadaran : sopor b.00 WIB sebelum dibawa ke rumah sakit 5. N = 92x/menit 13. minuman dan debu. Pastilness : Keluarga pasien mengatakan pasien belum pernah dirawat di RS dengan penyakit yang sama sebelumnya. makanan. Disability : kesadaran pasien sopor dengan GCS (E2. 4. Alergi : pasien tidak memiliki alergi terhadap obat. Medikasi : pasien saat ini dalam pengobatan penyakit stroke dan mengkonsumsi obat-obatan untuk stroke. terdengar suara jantung S1 dan S2 reguler 14. 2. Keadaan Umum : lemah a. Pengkajian Sekunder 1. PEMERIKSAAN FISIK 1. terakhir pasien mengkonsumsi nasi dengan sayur dan lauk pauk. 2. keadaan umum lemah 19. D. 12. cappilary refille kembali <3 detik 16. 3. Vital sign : TD:230/110 mmHg d. Environment : selama dirumah pasien tidak dapat melakukan pekerjaan yang berat dikarenakan kondisi pasien yang lemah. akral hangat 17. pasien mengalami penurunan kesadaran 20. pasien memiliki riwayat sakit hipertensi ±10 tahun.M4) 18. saat dirumah bicara pasien pelo 21. RR : 28x/menit 12 . Exposure :rambut dan kulit kepala tampak bersih tidak terdapat hematoma 22. Lastmeal :keluarga mengatakan pasien makan terakhir pada pukul 09. N : 92x/menit e. tidak ada bunyi jantung tambahan 15. 6.V2. GCS : E2V2M4 c. tidak terdapat luka pada tubuh pasien.

keadaan umum pasien lemah. f. DS :. injeksi ceftriaxone 1 gr/24 jam e. infus RL 20 tpm c. hambatan DO : pasien tampak lemah. Pemasangan NGT dan DC pada pasien g. 13 . GCS: E2V2M4. mobilitas pasien tergantung total. perdarahan intra ketidakefektifan DO : TTV : TD:230/110 mmHg.4 ° C E. N: 92 cerebral. injeksi citicolin 500 mg/12 jam d. GCS:E2V2M4. RR: 28 x/menit. C. IX. terjadi kelemahan pada ekstremitas kiri atas dan bawah. Pemeriksaan GDS dengan hasil : 152 mg/dl dan pemeriksaan EKG dengan hasil: Sinus Takikardi. X. Terapi yang Diberikan a. kesadaran sopor. dan XII. perfusi jaringan x/menit. terdapat gangguan pada nervus VII. II. injeksi furosemid 40 mg/12 jam f. S: 36. mobilitas fisik. ANALISA DATA Data Fokus Etiologi Problem DS : . kelemahan otot. S : 36. Terapi O2 nasal 4 lpm b. tangan dan kaki kiri tidak dapat digerakkan. Pasien mengalami penurunan kesadaran.4 ° cerebral.

Kolaborasi dengan x/menit) dokter pemberian . .d menit. Anjurkan pasien beds batas normal rest total (TD:Sistole<130. Komunikasi jelas obat . yang nyaman dan S:36. Hambatan mobilitas fisik b. INTERVENSI KEPERAWATAN NO DIAGNOSA TUJUAN DAN INTERVENSI KEPERAWAT KRITERIA (NIC) AN HASIL(NOC) Tujuan: .5-37.III. Pasien tidak gelisah merespon stimulus . Tanda-tanda vital dalam . GCS normal E4V5M6 . perfusi jaringan otak lebih tinggi 30 perdarahan intra dapat tercapai secara derajat serebral optimal dengan: . Kaji keadaan umum Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan dan tanda-tanda vital perfusi jaringan keperawatan selama 1 x 15 . Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral b. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. .d perdarahan intra serebral 2.d kelemahan otot IV. Catat perubahan Kriteria Hasil: pasien dalam .5. Ciptakan lingkungan Diastol<85 mmHg. RR:18-24 batasi pengunjung x/menit. Berikan posisi kepala serebral b.N:60-100. Kesadaran composmentis - 14 .

Tidak terjadi atropi otot melakukan ROM . Kaji kemampuan mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan pasien terhadap b. Sendi tidak kaku aktif pada ekstremitas yang tidak sakit dan ROM pasif pada ekstremitas yang sakit .dengan tiap 2 jam Kriteria Hasil: . Ubah posisi pasien dapat meningkat. IMPLEMENTASI DIAGNOSA TANGGAL DAN IMPLEMENTASI PARAF KEPERAWATAN JAM 28 September Mengkaji keadaan Ketidakefektifan 2017 umum perfusi jaringan Pukul 12. Ajarkan pasien . Hambatan Tujuan: .d kelemahan keperawatan selama 1 x 15 pergerakan otot menit. Pasang side riil dikanan kiri tempat tidur pasien V.d perdarahan intra 28 September Mengukur tanda- serebral 2017 tanda vital Pukul 12.15 28 September Memasang IV line 2017 dan pengambilan 15 . mobilitas pasien .05 serebral b.

Pukul 12.50 terhadap pergerakan otot 28 September Memasang side riil 21017 di kanan dan kiri Pukul 12.40 sampel darah 28 September Memberikan injeksi 2017 citicolin 500 mg Pukul 12.55 tempat tidur pasien 28 September Mengkaji ulang 2017 mobilitas pasien Pukul 13.45 Cefriaxone 1 gr Furosemid 40 mg Memasang DC pada pasien 28 September Mengkaji Hambatan mobilitas 2017 kemampuan pasien fisik b.d kelemahan Pukul 12.00 16 .

ceftriaxone 1 gr.ceftriaxone 1 gr. furosemide 40 mg masuk lewat IV Assisment: Masalah keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan serebral belum teratasi Planning: Lanjutan intervensi. side rill terpasangdi kanan dan kiri tempat tidur pasien 17 .4 . Kesadaran pasien spoor . E2V2M4 .d Obyektif: perdarahan intra serebral .VI. EVALUASI TGL DIAGNOSA EVALUASI /JAM KEPERAWATAN Subjektif:- Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral b.d kelemahan otot Obyektif: Pasien tampak masih lemah. Pasien post injeks citiclin 500 mg. TTV: TD: 200/110 mmHg N: 88 x/menit RR: 24 x/menit S: 36. Kolaborasi dengan dokter pemberian obat citicolin 500 mg. Pantau keadaan umum dan TTV . . mobilitas pasien tergantung total. furosemide 40 mg Subyektif: - Hambatan mobilitas fisik b.

Assisment: Masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik belum teratasi Planning: lanjutan intervensi . Ajarkan ROM pada ekstremitas gerak pasien . Bnatu ADL pasien . Kaji kemampuan pasien terhadap pergerakan dan lakukan tirah baring . Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan ADL pasien 18 .

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT Nama Mahasiswa : Vita Siska Khasanah Semester/Tingkat : 3/2A Tempat Praktek : RS Margono Soekarjo Purwokerto Tanggal Pengkajian : 28 September 2017 DATA KLIEN A. DATA UMUM 1. pola nafas. Banyumas 4. Alamat : Ajibarang RT 01 RW 03 Kec. Nomor Rekam Medis : 346043 7. Ajibarang.Kab. Umur : 68 Tahun 3. terlihat adanya penggunaan otot bantu rongga dada dalam pernapasan b. Palpasi (total fremitus. Inspeksi (bentuk dada/simetris. dll) Bentuk dada simetris. Bangsal : Mawar B. Agama : Islam 5.teraba hembusan napas. Airway (jalan nafas) terdapat secret. Nama inisial klien : Ny. lidah tidak jatuh ke belakang.O. pasien kesulitan bernapas. bantuan nafas. Tanggal masuk RS/RB : 28 September 2017 6. 19 .pasien kesulitan saat bernafas. G 2. PENGKAJIAN PRIMER 1. Breathing a. dll) bentuk simetris. suara nafas ronkhi 2.

Gangguan sensorik : bicara pelo. Capilarry refill : Kembali kurangdari 3 detik c. Pupil : c. Auskultasi (suara nafas) irama napas tidak teratur. makanan. Exposure : rambut dan kulit kepala tampak bersih. 20 .tidak dapat berkomunikasi 5.tidak terdapat hematoma. C. Circulation a. 3. Perkusi (pembesaran paru. Akral : Hangat 4.kekakuan pada satu ekstremitas atau separuh tubuh. napas cepat dan pendek 3. d.40C 4) Respirasi : 28x/menit b. GCS kesadaran pasien sopor dengan GCS (E2. 2. Gangguan motorik : kelemahan atau kelumpuhan separo anggota gerak. dll) suara nafas ronkhi d.M4) b. c. tidak terdapat luka pada tubuh pasien. Alergi pasien tidak memiliki alergi terhadap obat. minuman dan debu. PENGKAJIAN SEKUNDER 1. Pastilness Keluarga pasien mengatakan pasien belum pernah dirawat di RS dengan penyakit yang sama sebelumnya. pasien memiliki riwayat sakit hipertensi ±10 tahun.V2. Vital sign: 1) Tekanan darah : 230/110 mmHg 2) Nadi : 92x/menit 3) Suhu : 36. Medikasi pasien saat ini dalam pengobatan penyakit stroke dan mengkonsumsi obat-obatan untuk stroke. Disability a.

liki riwayat sakit hipertensi ±10 tahun. injeksi ceftriaxone 1 gr/24 jam. injeksi citicolin 500 mg/12 jam. injeksi furosemid 40 mg/12 jam. Pemeriksaan GDS dengan hasil : 152 mg/dl dan pemeriksaan EKG dengan hasil: Sinus Takikardi. D. Pemasangan NGT dan DC pada pasien.00 WIB sebelum dibawa ke rumah sakit. E. PROGRAM TERAPI Terapi O2 nasal 4 lpm. 5. infus RL 20 tpm. 4. Lastmeal keluarga mengatakan pasien makan terakhir pada pukul 09. terakhir pasien mengkonsumsi nasi dengan sayur dan lauk pauk. Environment : selama dirumah pasien tidak dapat melakukan pekerjaan yang berat dikarenakan kondisi pasien yang lemah. ANALISA DATA No Data Fokus Etiologi Problem 21 .

4 ° C. DS : . 2. tangan dan kaki kiri tidak dapat digerakkan. terjadi kelemahan pada ekstremitas kiri atas dan bawah. GCS: E2V2M4. DS : . kelemahan otot. DS : . dan XII. hambatan mobilitas fisik DO: pasien tampak lemah. tangan dan kaki kiri tidak dapat 22 . terdapat gangguan pada nervus VII. S: 36. IX. RR: 28 x/menit. X. jaringan cerebral.1. GCS: E2V2M4. hambatan mobilitas fisik DO: pasien tampak lemah. 2. Pasien mengalami penurunan kesadaran. kelemahan otot. TTV : TD:230/110 mmHg. kesadaran sopor. keadaan umum pasien lemah. mobilitas pasien tergantung total. N: 92 x/menit. perdarahan intra ketidakefektifan perfusi DO: cerebral. GCS: E2V2M4.

kaji keadaan umum jaringan cerebral Setelah dilakukan dan TTV berhubungan dengan tindakan keperawatan b.37. INTERVENSI KEPERAWATAN No Diagnosa NOC NIC 1. Ketidakefektifan perfusi Tujuan: a. berikan posisi kepala perdarahan intra selama 1x15 lebih tinggi 30º. catat perubahan kode: ) otak dapat pasien dalam tercapai secara optimal. 23 . GCS normal E4V5M6. TTV rest total dalam batas normal e. digerakkan. merespon stimulus Kriteria Hasil: pasien d. DIAGNOSA KEPERAWATAN Dari uraian analisa diatas dapat disimpulkan diagnosa keperawatan yang muncul pada asuhan keperawatan Ny. perfusi jaringan c. G. G dengan stroke hemoragik antara lain : 1. N: 60-100 dokter pemberian x/menit). cerebral (Domain: Kelas: menit. komunikasi obat jelas. anjurkan pasien bed tidak gelisah. kesadaran composmentis. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan otot. S: batasi pengunjung 36. F. yang nyaman dengan Diastol < 85 mmHg. RR: 18. mobilitas pasien tergantung total. Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan perdarahan intra cerebral. kolaborasi dengan 24 x/menit.5 . 2.f.5 ˚C. ciptakan lingkungan ((TD: sistole < 130.

Memasang IV line dan pengambilan sampel berhubungan darah dengan perdarahan d. Mengukur TTV cerebral c. Ubah posisi pasien mobilitas pasien dapat tiap 2 jam meningkat. (Domain: 4 tindakan keperawatan pergerakan Kelas: 2 Kode: 00085) selama 1x15 menit. ekstremitas yang tidak sakit dan ROM pasif pada ekstremitas yang sakit d. b. Pasang side riil di kanan kiri tempat tidur pasien H. Kaji kemampuan berhubungan dengan Setelah dilakukan pasien terhadap kelemahan otot. Ajarkan pasien Kriteria Hasil: melakukan ROM tidak terjadi atropi otot. c. 2. Hambatan mobilitas fisik Tujuan: a.50 Hambatan mobilitas a. Mengkaji kemampuan pasien terhadap 24 .05 perfusi jaringan b. Mengkaji keadaan umum 12. dan (Domain: Kelas: memasang DC pada pasien kode:) 12. intra cerebral ceftriaxone 1 gr. aktif pada sendi tidak kaku. IMPLEMENTASI Tanggal/ Diagnosa Implementasi Jam Keperawatan Pukul Ketidakefektifan a. furosemid 40 mg. Memberikan injeksi citicolin 500 mg.

2. dengan kelemahan b. A : Masalah keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral belum teratasi.furosemid 40 mg. (Domain: pasien tergantung total.ceftriaxone 1 gr. P : Lanjutkan intervensi : pantau keadaan umum dan TTV. Hambatan mobilitas fisik S : - berhubungan dengan O : Pasien tampak masih lemah. ceftriaxone 1 gr.4 ° C. Kesadaran pasien cerebral (Domain: Kelas: sopor. perdarahan intra Suhu: 36. mobilitas kelemahan otot. A : Masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik belum teratasi. furosemid 40 mg masuk lewat IV. E2V2M4. EVALUASI No Diagnosa Evaluasi 1. P : Lanjutkan intervensi: kaji kemampuan pasien terhadap pergerakan dan lakukan 25 . RR: 24x/menit. Pasien post injeksi kode: ) citicolin 500 mg. Mengkaji ulang mobilitas pasien 00085) I. (Domain: 4 tempat tidur pasien. kolaborasi dengan dokter pemberian obat citicolin 500 mg. Kelas: 2 Kode: c. Memasang side riil di kanan dan kiri otot. side riil terpasang 4 Kelas: 2 Kode: 00085) di kanan dan kiri tempat tidur pasien. Ketidakefektifan perfusi S: - jaringan cerebral O : TTV : TD:200/110 berhubungan dengan mmHg. N: 88 x/menit. fisik berhubungan pergerakan.

bantu 26 .tirah baring. ajarkan ROM pada ekstremitas gerak pasien.

agar penulis dapat belajar lagi dalam penulisan makalah yang lebih baik. SARAN Sebagai seorang calon perawat yang nantinya akan bekerja di suatu institusi Rumah Sakit tentunya kita dapat mengetahui mengenai perspektif keperawatan kritis dan kegawatdaruratan. kedaruratan yaitu apapun yang di alami pasien atau keluarga harus di pertimbangkan sebagai kedaruratan. karena manusia tidak ada yang sempurna. 27 . BAB III PENUTUP A. dan ruang lingkup kritis dan kegawadaruratan. Keperawatan kritis dan kegawatdaruratan meliputi pertolongan pertama.KESIMPULAN Keperawatan kritis dan kegawatdaruratan adalah pelayanan profesioanal keperawatan yang diberikan pada pasien dengan kebutuhan urgen dan kritis atau rangkaian kegiatan praktek keperawatan kegawatdaruratan yang diberikan oleh perawat yang kompeten untuk memberikan asuhan keperawatan di ruang gawat darurat. penulis ucakan terimakasih. B. Atas kritik dan saran dari pembaca. Yang kemudian filosopi tentang keperawatan gawat darurat menjadi luas. penanganan transportasi yang diberikan kepada orang yang mengalami kondisi darurat akibat rudapaksa. Namun UGD dan klinik kedaruratan sering digunakan untuk masalah yang tidak urgen. sebab medik atau perjalanan penyakit di mulai dari tempat ditemukannya korban tersebut sampai pengobatan definitif dilakukan di tempat rujukan. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.

2012. Jakarta: EGC. 2006.blogspot.html Mufattichah. Berfikir Kritis dalam Keperawatan.(4th ed). Rubenfeld.Jakarta: EGC.G Dengan Stroke HemoragikDi Instalasi Gawat Darurat RSUD Sragen.U.id/2015/09/konsep-kegawatdaruratan-i.Asuhan Keparawatan Gawat Darurat Pada Paien Ny. Posted by nur oktif setianingsih http://materikeilmuankeperawatan. Barbara K. DAFTAR PUSTAKA Hudak.co. P. 28 . Keperawatan Kritis.1996.(2th ed). Gallo.