You are on page 1of 19

Konflik Agraria: Sengketa Lahan PTPN VII Cinta Manis dengan

Masyarakat di Kabupaten Ogan Ilir
Sumatera Selatan
(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Agraria)

Disusun Oleh:
Kelompok 13A
Albertus Indra B C 21110113130083
Archita Permata Santynawan 21110115120015
Benita Roseana 21110115120019
M. Khoirul Baihaqi 21110115130051

PROGRAM STUDI TEKNIK GEODESI
FAKULTAS TEKNIK - UNIVERSITAS DIPONEGORO
Jl. Prof. Sudarto SH, Tembalang Semarang Telp.(024) 76480785, 76480788
e-mail : jurusan@geodesi.ft.undip.ac.id
2016

M.Si. ST. Sawitri Subiyanto M. taufik. selaku dosen pengampu mata kuliah Sistem Basis Data. 28 Oktober 2016 Penulis ii . Seluruh pihak yang telah membantu kami dalam menyusun Makalah Hukum Agraria. Penulis sadar bahwa makalah yang penulis susun ini masih sangat jauh dari sempurna oleh karena itu penulis mengharapkan masukan dan kritikan yang bersifat membangun untuk sebagai acuan agar menjadi lebih baik lagi. 2.Eng.. Fauzi Janu Amarrohman. Terima kasih.. Hukum Agraria KATA PENGANTAR Pertama-tama kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat. Ir. 3. Semarang. Tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada: 1. hidayah serta inayah-Nya kami dapat menyelesaikan Makalah Hukum Agraria ini tanpa menemui hambatan yang berarti. selaku Ketua Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.

......................... I-2 BAB II PEMBAHASAN ............................................. 2 Saran ........................................................................... II-3 2............ I-1 1......................................... 1 Pengertian Hukum Agraria .................ii DAFTAR ISI...................................................................... 1 Kesimpulan ........................... 4 Proses awal terjadinya konflik Perkebunan (Agraria) . 1 Latar Belakang ....... 2 Pengertian Konflik Agraria ............................................................................iv iii .................................................... II-9 BAB III PENUTUP ........................ 3 Tujuan ....................................................................... I-1 1...................................................................................... III-13 DAFTAR PUSTAKA.. 5 Sebab-sebab terjadinya konflik Perkebunan (Agraria) ............................................................... II-1 2.................................................................................................................................. II-7 2............. III-12 3....................................................................... III-12 3.................................. 3 Sejarah Berdirinya PT Perkebunan Nusantara VII Unit Cinta Manis .............. 6 Solusi penyelesaian Konflik antara PTPN VII dengan Masyarakat Ogan Ilir .................................................... I-2 1......... II-1 2...........................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... II-1 2......... Hukum Agraria DAFTAR ISI KATA PENGANTAR..........II-2 2.................. 2 Rumusan Masalah .............................................

Catatan ini. yakni penggusuran dan perampasan dengan mengatasnamakan pembangunan. Dan komunitas petani merupakan salah satu objek yang acap akrab dengan persoalan yang muncul di seputar pertanahan. Hal ini ditandai dengan berubahnya fungsi tanah yang semula berfungsi sosial menjadi lebih bersifat ekonomi. Modernisasi dan pembangunan telah menyebabkan munculnya berbagai persoalan. untuk lebih mempermudah proses penguasaan atas tanah salah satunya adalah melalui proses kerjasama dengan penguasa setempat dengan cara-cara penekanan dan pemaksaan. I-1 . Selain itu. Hukum Agraria BAB I PENDAHULUAN 1. Terlebih-lebih ketika kedua momentum kemudian signifikan dalam menarik minat para investor ke negeri ini. paling tidak terbentang semenjak abad 19. Wujud modernisasi tampil dalam bentuknya yang paling vulgar. Kedatangan para ekspansionis secara tidak langsung telah merubah struktur dan tata tertib kepemilikan tanah di masyarakat. Catatan sejarah ini kemudian diteruskan oleh rezim penguasa yang berhasil memimpin negeri ini bersama-sama dengan dukungan dari kekuatan internasional lainnya. khususnya dalam permasalahan tanah. Catatan kemudian juga dilengkapi oleh berbagai kisah tragedi berkenaan dengan upaya mempertahankan hak atas tanah oleh masyarakat. 1 Latar Belakang Masalah pertanahan (perkebunan) di Indonesia telah menjadi catatan sejarah yang cukup panjang. Berlangsungnya proses modernisasi serta ramainya kegiatan pembangunan yang diselenggarakan oleh negara secara perlahan dan pasti mulai mengancam eksistensi tanah sebagai objek landrefrom yang ini secara nyata didukung oleh kepentingan kapitalis internasional. Dengan motto atas nama pembangunan semuanya harus tunduk dan patuh mendukung sepenuhnya kerja pembangunan yang dilakukan. Perubahan fungsi ini semata-mata didasari oleh kenyataan di mana para ekspansionis telah melakukan upaya paksa maupun dengan jalan kekerasan untuk menguasai lahan yang ada. yakni ketika mulai ramainya pejelajah dan penjajah dating ke negeri ini.

Untuk Mengetahui Solusi penyelesaian Konflik antara PTPN VII dengan Masyarakat Ogan Ilir. Untuk mengetahui pengertian Hukum Agraria. khususnya di Sulawesi Selatan. 5 tahun 1960 semasa rezim Soekarno dianggap cukup populis. terus menggelinding dan semakin hari semakin membesar . I-2 . 3 Tujuan Adapun tujuan makalah ini adalah: 1. Alhasil. 1. Inilah fakta yang berlangsung selama kurang lebih 40 tahun lamanya. 5. 2. Untuk Mengetahui Proses awal terjadinya konflik. kompleksitas persoalan yang muncul di seputar masalah pertanahan laiknya efek bola salju. namun tampaknya ternyata hanya sebatas di atas kertas. Hukum Agraria Lahirnya undang-undang No. Pangkal masalahnya terletak pada tidak adanya kemauan politik yang kuat dari negara untuk menerapkannya. Terlalu sulit untuk mengimplementasikan peraturan ini di tengah-tengah mayarakat. Kenyataan ini bertambah runyam dengan lahirnya berbagai kebijakan dan peraturan yang tumpang tindih dan merugikan petani. Efek inilah yang akhirnya berubah menjadi lingkaraan setan persoalan yang pada akhirnya harus dihadapi oleh negara. 2 Perumusan Masalah Adapun perumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimana bentuk Konflik Agraria pada studi: Sengketa Lahan PTPN VII Cinta Manis dengan Masyarakat di Kabupaten Ogan Ilir. Untuk Mengetahui Sebab-sebab terjadinya konflik 6. 4. Untuk Mengetahui Sejarah Berdirinya PTPN VII Cunta Manis. Sumatera Selatan? 1. 3. Tulisan ini dengan dilatarbelakangi oleh dinamika dan konstalasi sosial politik yang terjadi di negeri ini mencoba menganalisis lebih jauh akar permasalahan yang menjadi penyebab munculnya konflik pertanahan. Untuk mengetahui Konflik Agraria.

Artinya karakteristik. Hukum Agraria BAB II PEMBAHASAN 2. di sisi lain menentukan bentuk dan metode implementasi pembaruan sendiri. bahkan meliputi juga ruang angkasa. pola penyelesaian dan konsekuensi yang ditimbulkan oleh konflik-konflik agraria di satu sisi dapat membawa dijalankannya pembaruan agraria (menjadi alasan obyektif dan rasional). Christodoulou (1990) mengatakan. Konflik agraria mencerminkan keadaan tidak terpenuhinya rasa keadilan bagi kelompok masyarakat yang mengandalkan hidupnya dari tanah dan kekayaan alam lain. bekerjanya pembaruan agraria tergantung watak konflik yang mendorong dijalankannya pembaruan. air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. perluasan. dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya. seperti kaum tani. Bagi mereka. 2. Pengertian agraria dalam arti sempit (UUPA) yaitu bumi meliputi permukaan bumi (yang disebut tanah). Yaitu ruang diatas bumi dan air yang mengandung: tenaga dan unsur-unsur yang dapat digunakan untuk usaha- usaha memelihara dan memperkembangkan kesuburan bumi. jumlah. dan de-eskalasi. nelayan. Dalam batas-batas seperti yang ditentukan dalam pasal 48. penguasaan atas II-1 . air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dan hal-hal lainnya yang bersangkutan dengan itu. air. 1 Pengertian Hukum Agraria Definisi hukum agraria (Prof. Budi Harsono) yaitu “Hukum agraria adalah keseluruhan kaidah-kaidah hukum tertulis / tidak tertulis mengenai bumi. 2 Pengertian Konflik Agraria Konflik agraria adalah salah satu tema sentral wacana pembaruan agraria. termasuk air laut. dan masyarakat adat. tubuh bumi di bawahnya serta yang berada di bawah air (pasal 1 ayat 4 jo pasal 4 ayat 1). Pengertian agraria dalam arti luas (UUPA) meliputi bumi. Dengan demikian pengertian “tanah” meliputi permukaan bumi yang ada di daratan dan permukaan bumi yang berada di bawah air. dan dalam batas-batas tertentu ruang angkasa. eskalasi.

Awalnya lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan tersebut mencapai 21. Lahan yang disediakan oleh pemerintah provinsi seluas 21. Rayon I dan II terletak di Desa Burai dan sekitarnya (60 Km dari pabrik) dengan topografi rata sampai landai. 379/I/1981 tanggal 16 November 1981. syarat keberlanjutan hidup itu porak-poranda. Rayon VI berada di Desa Rengas dan sekitarnya (25 Km dari Pabrik) bertopografi landai sampai berbukit kecil. Namun. Penyediaan lahan dilakukan melalui SK Gubernur KDH tingkat I Sumatera Selatan No. Komitmen politik untuk menyelesaikan segala konflik menjadi prasyarat yang tidak bisa ditawar. Ketetapan MPR ini dapat menjadi kerangka pokok upaya menyelesaikan aneka konflik agraria yang diwariskan rezim masa lalu yang telah dan masih berlangsung hingga kini. 076/Mentan/I/1981 tanggal 2 Februari 1981. Pendirian perkebunan tebu dan pabrik gula tersebut. merupakan bagian dari proyek industrialisasi pada masa orde baru. sebenarnya kita sudah punya Ketetapan MPR RI No IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber daya Alam. 2. Hukum Agraria tanah adalah syarat keselamatan dan keberlanjutan hidup. tentang izin prinsip pendirian perkebunan tebu dan pabrik di Sumatera Selatan. IV dan V berada di wilayah Desa Ketiau. gara-gara konflik agraria. II-2 . Rayon III. dibagi menjadi enam satuan hamparan atau rayon. Dalam kerangka politik hukum.358 Ha.358 Ha. Seri Bandung. Seri Kembang dan sekitarnya. ketika ideologi pembangunan (developmentalisme) bertengger kokoh dengan dukungan hampir semua elemen negara. 3 Sejarah Berdirinya PT Perkebunan Nusantara VII Unit Cinta Manis Pendirian Perkebunan Tebu dan Pabrik Gula Cinta Manis oleh PTP XXI- XXII (VII) berdasarkan SK Mentan No. merupakan upaya pemerintah memenuhi Swasembada gula dalam negeri pada waktu itu.

Konflik ini terus berlangsung. permasalahan lahan unit usaha Senabing seluas 1. Mana Hak Atas Tanah PTPN VII Unit Cinta Manis? Muara sengketa tersebut yaitu permasalahan tanah. Hukum Agraria 2. menjadi bagian dari sejarah panjang perseteruan klasik antara rezim pengusaha dengan rakyat dalam mempertahankan kepentingan masing-masing pihak. bahkan WALHI merilis data konflik agraria yang terjadi di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 8. 4 Proses awal terjadinya konflik Perkebunan (Agraria) Maraknya konflik agraria antara masyarakat dengan perusahaan. Blambangan Umpu seluas 987. Muara Sengketa. yaitu kepentingan ekonomi pengusaha versus hak-hak rakyat. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan diatur bahwa penyelenggaraan usaha perkebunan. dan unit usaha Cinta Manis seluas 40. Klaim rakyat atas tanah yang digunakan oleh PTPN VII merupakan tanah rakyat haruslah dibuktikan oleh kedua belah pihak. Walau sebagian sengketa tersebut telah diselesaikan secara proses peradilan sampai ke Mahkamah Agung maupun penyelesaian nonlitigasi melalui mediasi. \PTPN VII tidak hanya berkonflik dengan GPPB. permasalahan lahan di Desa Bandar Agung dan Haduyang Ratu Unit Usaha Bunga Mayang. II-3 . Dalam Pasal 9 UU No. PTPN harus membuktikan bahwa penggunakan lahan tersebut untuk perkebunan didasari oleh hak atas tanah yang sah dan diakui secara hukum.307 kasus sebagai akibat perseteruan antara perusahaan dengan rakyat. tetapi juga berseng keta lahan afdeling Kalianda Usaha Bergen seluas 820 ha. kepada pelaku usaha sesuai dengan kepentingannya dapat diberikan hak atas tanah yang diperlukan untuk usaha perkebunan berupa hak milik.883 ha.54 ha. Isu utama konflik tersebut yaitu tuntutan masyarakat agar PTPN VII mengembalikan lahan mereka yang diserobot PTPN VII unit Cinta Manis sejak tahun 1982. Salah satu konflik agraria yang sekarang terjadi di Sumatera Selatan (Sumsel) yaitu konflik antara PTPN VII Unit Cinta Manis dengan 20 desa masyarakat sekitar yang terkoordinasi dalam Gabungan Petani Penesak Bersatu (GPPB) di Kabupaten Ogan Ilir.725 ha dengan Jakfar bin Putihamid.

Perusahaan melakukan kemitraan yang saling menguntungkan. Kedua. Tanah yang seharusnya memiliki peran ekonomi bagi kehiudpan mereka. saling menghargai. saling bertanggungjawab. Bila terbukti maka telah terjadi perampasan atas tanah rakyat oleh PTPN VII. Pasal 74 mengatur mengenai kewajiban tanggung jawab sosial dan lingkungan bagi perusahaan di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam. saling memperkuat dan saling ketergantungan dengan II-4 . namun tidak hanya okupasi ibarat gunung es okupasi juga menimbulkan dampak hilangnya manfaat atas tanah yang seharusnya diperoleh rakyat atas tanah tersebut. hilang karena okupasi sehingga menimbulkan kemiskinan struktural karena rakyat kehilangan lahan garapan mereka sejak 30 tahun silam. hanya 6500 hektar yang ada HGU. Bila benar data dari BPN Pusat melalui hasil audiensi antara WALHI. Perusahaan yang tidak melaksanakan kewajiban dikenai sanksi. Keramahan tersebut antara lain: pertama. sisanya 13. kemitraan perusahaan dengan masyarakat sekitar perkebunan sebagaimana diperintahkan oleh UU No. 18 Tahun 2004. dari luas 20 ribu hektar lahan yang dikuasai PTPN VII. Andai saja PTPN VII Unit Cinta Manis ramah kepada masyarakat sekitar kegiatan usahanya. hak guna bangunan. maka eksistensi perusahaan tidak akan menjadi bom waktu yang terus terpelihara sampai saat ini.500 hektar tanpa HGU. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. dan GPPB dengan BPN Pusat pada Selasa 3 Juli 2012. namun sebaliknya bila perusahaan tidak mampu memberikan bukti sah secara hukum atas penggunakan lahan tersebut maka perusahaan telah melakukan okupasi yaitu pendudukan secara tidak sah atas tanah rakyat. kewajiban coporate social responsibility yang seharusnya dilaksanakan doleh PTPN VII sebagaimana diperintahkan oleh UU No. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA). Sederhana saja melihat kasus sengketa PTPN VII Unit Cinta Manis tersebut. bila perusahaan mampu menunjukan hak atas tanahnya maka perusahaan tersebut sah melakukan kegiatan usahanya. sehingga wajib bagi perusahaan untuk mengembalikan tanah tersebut kepada rakyat. dan/atau hak pakai sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hukum Agraria hak guna usaha.

kerja sama produksi. Hukum Agraria masyarakat sekitar perkebunan dengan pola kerja sama penyediaan sarana produksi.000 hektar memilki Hak Guna Usaha (HGU) berlokasi di daerah Burai kecamatan Rantau Alai. Adapun masalah yang terjadi dengan perlakuan yang sama oleh anggota Brigade Mobil (Brimob) yaitu pada tanggal 4 Desember 2009 dimana ada ketidakpuasan masyarakat atas kompensasi yang mereka terima yaitu dimana terjadi pembongkaran pondok-pondok petani yang berakhir dengan peristiwa penembakan terhadap warga Desa Rengas. intimidasi dan sikap refresif aparat keamanan. sedangkan sisanya seluas 13. Terjadinya konflik agraria ini bukanlah pertama kali terjadi tetapi sudah cukup lama di Ogan Ilir. Dan pada akhirnya terjadi lagi yang mana tidak bisa dihindarkan lagi yaitu pada jumat (27/07/2012) petang. karena tidak mampu untuk melakukan perlawan. Adapun upaya dialog dan mediasi yang telah ditempuh warga. Kabupaten Ogan Ilir sumatera selatan (sumsel). Proses ganti rugi pada masa orde baru ini diakui warga kerap diwarnai tekanan. Perampasan ini membuat para petani di 20 desa dari 6 kecamatan di Ogan Ilir dengan pasrah dan terpaksa menyerahkan lahan mereka. Dimana konflik perkebunan ini terjadi di desa Limbang Jaya.500 hektar tidak diketahui digunakan atau diperuntukan untuk apa. Pada akhirnya kebun karet dan kebun nanas masyarakat setempat digusur oleh PTPN VII tanpa ganti rugi yang layak. kepemilikan saham. Kabupaten Ogan Ilir oleh anggota Brimob.500 hektar saja dari luasan penguasaan PTPN VII yang tercatat sebagai aset negara dan dibayarkan keuntungannya kepada negara. Konflik ini terjadi berawal dari Aparat kepolisian. Kecamatan Tanjung batu. dimulainya pembangunan PTPN VII Unit Cinta Manis. pengelolaan dan pemasaran. Sumatera Selatan yaitu pada tahun 1982. Dari luas lahan 20. kerja sama operasional. Dengan demikian maka. II-5 . transportasi. Dimana aparat kepolisian ini sedang menjalankan tugas pengamanan di lokasi sengketa lahan dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Unit Usaha Cinta Manis. hanya 6. dan jasa pendukung lainnya. namun pihak PTPN VII selalu mengulur waktu dan tidak pernah memberi kepastian yang tegas.000 ha yang diusahakan PTPN VII Cinta Manis hanya 6. Perkebunan Nusantara (PTPN) VII ini telah merampas tanah rakyat. Dimana PT.

Berdasarkan hasil investigasi tim advokasi. Kamis (26. Namun melihat banyak warga mendatangi mereka. jumlah korban dalam kondisi kritis akibat tembakan petugas sebanyak lima orang. karena mendengar keramaian petugas. (27. II-6 . pasukan Brimob bersenjata lengkap itu mendadak langsung mengeluarkan tembakan ke arah warga. Karena tembakan secara membabi-buta yang dilakukan oleh aparat Brimob tersebut. Bentrok antara Brimob dengan warga pun tak dapat dihindari. satu orang ibu. di antaranya Desa Betung. kemudian menangkap sedikitnya dua orang petani dari Desa Sri Tanjung. Warga yang melihat ratusan anggota Brimob memasuki desa mereka. Pada siang menjelang Shalat Jumat.12) dilakukan pula penangkapan tiga orang warga yang dituduh melakukan pencurian pupuk milik PTPN VII. Jesica cucu dari anggota DPRD Ogan Ilir.12) ratusan aparat Brimob kembali mendatangi dan melakukan "sweeping" di tiga desa. Saat ini ratusan personel Brimob dengan senjata lengkap masih berada di lokasi Desa Tanjung Pinang. dan Desa Sri Kembang. seorang anak berumur 13 tahun yang masih bersekolah kelas 1 SMP. ratusan Brimob bersenjata lengkap mengendarai sedikitnya 23 mobil truk kembali mendatangi Desa Limbang Jaya.07.00 WIB.07. Desa Sri Tanjung. Angga bin Darmawan tewas tertembak di kepalanya. seorang remaja berumur 16 tahun. Hukum Agraria Pasukan Brimob Polda melakukan penggeledahan terhadap rumah-rumah penduduk di Desa Sri Bandung. Pukul 16. Satu orang lagi bernama Rusman bin Alimin dalam kondisi kritis. dua orang perempuan. dan korban Angga dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Palembang. Semua korban saat ini sedang berada di Puskesmas Tanjung Batu. Angga tertembak saat keluar dari tempat permainan play station. akhirnya secara beramai-ramai mendatangi personel kepolisian tersebut dengan maksud menanyakan kepentingan memasuki desa mereka.

tanah telantar. Meningkatnya pengetahuan rakyat dan dengan pikiran yang sederhana pula rakyat cepat terpancing melakukan tindakan yang dikategorikan melanggar hukum misalnya ada bagian tertentu dari areal yang sengaja tidak ditanami untuk menjaga kelestarian lingkungan dan sumber air. dan reclaiming sebagai tanah adat. Hukum Agraria 2. Sebab menurut UUPA setiap orang atau badan hukum yang mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian pada asasnya diwajibkan mengerjakan atau mengusahakannya sendiri secara aktif dan mencegah cara-cara pemerasan. yaitu semata-mata mementingkan pengusaha dengan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. pemilik kebun sudah dianggap menelantarkan tanah dan hal ini menjadi alasan untuk menduduki kebun secara paksa. 5 Sebab-sebab terjadinya konflik Perkebunan (Agraria) Salah satu penyebab konflik agraria adalah masalah kesenjangan sosial. diperlukan upaya preventif dan penyelesaian sengketa. Kesenjangan sosial demikian meningkatkan kecemburuan sosial yang melahirkan pikiran sederhana bahwa keberadaan kebun kurang bermanfaat bagi rakyat di sekitarnya. sehingga perlu mendapat perhatian semua pihak agar tidak kembali II-7 . hal ini juga tercermin masih adanya indikasi besarnya gaji antara pimpinan kebun dengan buruh seperti langit dan bumi. tetapi kurang memerhatikan masyarakat sekelilingnya. seorang anak petani meninggal dunia. Sengketa agraria antara petani Kabupaten Ogan Ilir. serta sejumlah petani dan aktivis ditangkap polisi. Karena itu. "Sengketa agraria antara petani dengan PTPN VII yang memanas pada Juli 2012 dengan menimbulkan sejumlah korban luka tembak. Sumatera Selatan dengan PT Perkebunan Nusantara VII yang terjadi sejak tahun 1980-an hingga kini belum berakhir. Di antaranya terhadap tanah Hak Guna Usaha yang masih dikelola dengan baik perlu dijaga kelestariannya. Pengambil-alihan dan pengelolaan kebun sering kali diikuti pula dengan segala budaya kebun yang dibangun oleh pemilik kebun lama. hingga kini belum berakhir. Konflik juga bisa disebabkan oleh kebijakan negara masa lalu. Misalnya pada zaman Hindia Belanda tidak melindungi eksistensi hukum adat seperti hak ulayat sehingga timbul sengketa batas antara wilayah hukum adat dan wilayah konsesi perkebunan. Konflik agraria juga terjadi akibat lemahnya penegakan hukum.

serta menimbulkan korban jiwa seperti di Ogan Ilir pada Juli 2012. ujarnya. katanya. Membiarkan permasalahan agraria berarti memelihara konflik yang sewaktu-waktu dapat memicu timbulnya keributan antara pihak yang bersengketa. karena dapat merugikan petani yang kehilangan lahan karena dikuasai PTPN untuk perkebunan tebu dan pabrik gula Cinta Manis. Walhi Sumsel yang selama ini aktif mendampingi petani Kabupaten Ogan Ilir akan terus membantu memperjuangkan hak mereka sehingga bisa memperoleh kembali lahan untuk sumber penghidupan keluarganya. permasalahan agraria di Ogan Ilir dan beberapa daerah Sumsel lainnya. dengan melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Gubernur Sumsel di Palembang. Lebih lanjut dia menjelaskan. jika tidak segera diselesaikan berpotensi menimbulkan keributan yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. bukan hanya untuk sekelompok pemilik modal seperti yang terjadi selama ini. sengketa agraria tersebut seharusnya tidak dibiarkan berlarut- larut." ujarnya. permasalahan agraria di wilayah provinsi yang memiliki 15 kabupaten dan kota ini cenderung mengalami peningkatan. "Sekarang sekitar 30 kasus sengketa agraria yang memerlukan perhatian dan penanganan dengan baik." kata Direktur Eksekutif Walhi Sumsel. II-8 . Hukum Agraria bergejolak dan menimbulkan korban yang lebih banyak. Melihat kondisi lambannya penyelesaian masalah tersebut. Menurut dia. kata Hadi. Dia menjelaskan. Walhi Sumsel mendesak pemerintah daerah dan pihak berwenang segera mencarikan solusinya. Awal Maret 2014 masyarakat Kabupaten Ogan Ilir kembali mempermasalahkan lahan mereka yang dikuasai pihak PTPN VII. aksi tersebut akan terus dilakukan petani hingga lahan mereka dikembalikan pihak perusahaan perkebunan milik negara itu. seharusnya tidak dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan yang serius oleh pihak pemerintah daerah dan instansi terkait. sehingga tidak ada lagi pertikaian dan korban serta lahan yang bersengketa dapat dikelola secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat. Melihat banyaknya koflik agraria yang belum diselesaikan dengan baik. Semua pihak harus mendorong adanya solusi setiap permasalahan agraria di Sumsel. berdasarkan data yang dihimpun aktivis Walhi dan pejuang hak asasi manusia lainnya. Hadi Jatmiko di Palembang.

BPN No 34 tahun 2007 tentang petunjuk teknis penangan dan penyelesaian masalah pertanahan. dan pedoman penyelesain konflik agraria melalui SK. Berbagai peraturan telah dikeluarkan BPN untuk mendukung penyelesaian konflik agraria. 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan. ataupun Pengadilan Agraria. Harus ada alokasi yang jelas bagi tanah petanian dan tanaman pangan milik rakyat. Namun perlu dipertanyakan sejauh mana kemampuan BPN menjadi mediator tanpa ada keberpihakan. Pemerintah memilih strategi memperkuat peran dan posisi Badan Pertanahan Nasional (BPN) dengan membentuk kedeputian yang secara khusus untuk mengkaji dan menyelesaikan sengketa dan konflik pertanahan melalui Perpres No 10/2006 tentang BPN dan meluncurkan Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN) yang berniat meredistribusi tanah. 6 Solusi penyelesaian Konflik antara PTPN VII dengan Masyarakat Ogan Ilir Dalam kasus konflik argaria ini belum ada cara penyelesaiannya. Idealnya lembaga mediator terdiri dari unsur pemerintah. Dalam rangka penyelesaian konflik agraria di butuhkan Badan Otoritas Sengketa Agraria. Strategi penyelesaian konflik perkebunan tidak hanya sebatas persoalan tanah siapa diambil siapa. BPN menjadi satu-satunya lembaga terdepan untuk menyelesaikan sengketa agraria dengan mengedepan proses-proses mediasi. memiliki konsep pembagunan petani dan pertanian. Baru-baru ini pemerintah juga akan membentuk Satgas penyelesaian konflik agraria. Sampai saat ini program setengah hati pemerintah ini belum terealisasikan dengan baik. Investasi perkebunan tidak boleh mengalihfungsikan dan di atas tanah cadangan bagi pertanian rakyat. yang memiliki kewenangan tidak hanya sekedar penyelesaian sengketa/konflik agraria tapi juga memiliki kewenangan melaksanakan reforma agraria. Yang tentu diharapkan mampu menyelesaikan konflik agraria. seperti SK. Hukum Agraria 2. organisasi petani dan lembaga lainnya. Harus mencakup segala aspek II-9 .BPN No. pendistribusian tanah kepada petani tak bertanah dan rakyat miskin lainnya melalui program pembaruan agraria sejati. Penataan kembali struktur agraria yang timpang. Sudah banyak usulan berbagai pihak tentang perlunya pembentukan lembaga khusus seperti Komisi Nasional untuk Penyelesaian Konflik Agraria (KNuPKA).

(15/1). II-10 . Dan sebaiknya PTPN harus memiliki legalitas hukum yang sah. Sedangkan HGU sendiri merupakan alat pemerintah untuk memperolah penghasilan negara. Tim Terpadu ini diharapkan mampu menyelesaikan konflik yang sudah bergulir bertahun-tahun "Tim ini akan melibatkan unsur unsur terkait termasuk masyarakat. penangannya harus mempertimbangkan faktor-faktor tersebut. Pimpinan PTPN VII harus bertanggung jawab atas gugurnya korban jiwa akibat kerakusan PTPN VII. Keselamatan HGU bukan semata-mata menjadi beban aparat keamanan. bertugas untuk menginventaris masalah tersebut. dan politik mewarnai substansi sengketa. Sebaiknya apabila ada HGU yang bermasalah hendaknya diselesaikan lewat jalur hukum yang berlaku. dilanjutkan mediasi dan koordinasi dengan pihak badan pertanahan serta monitoring dan evaluasi yang hasilnya akan dilaporkan ke Gubernur. Ia melanjutkan. Pemprov Sumsel menjadi fasilitator dalam proses penyelesaian kasus sengketa tersebut. Sebagai state own company seharusnya PTPN VII bekerja untuk mensejahterakan warga bukan menyengsarakan dan menindas warga. faktor sejarah. keadaan sosial ekonomi."katanya di Graha Bina Praja (Auditorium) Pemprov. Konflik agraria adalah konflik struktural yang timbul karena kebijakan yang salah arah dari pemerintah. Menurut Plt Sekda Sumsel Mukti Sulaiman. Hukum Agraria terutama rasa keadilan dan kesenjangan sosial yang terjadi. Oleh sebab itu. sehingga bisa meminimalisir konflik di masa datang. Butuh kemauan politik pemerintah untuk menyelesaikannya. tim terpadu ini nantinya. Sesuai dengan tuntutan masyarakat untuk melibatkan masyarakat dalam pembentukan. Ia mengingatkan apapun yang dilakukan oleh pemilik Hak Guna Usaha (HGU) hendaknya tetap peka terhadap keadaan lingkungan masyarakat sekitarnya. tetapi juga sangat ditentukan apakah kemakmuran yang diperoleh pengusaha ikut dinikmati juga masyarakat secara luas. ditinjau dari sudut terjadinya sengketa. mungkin pemerintah perlu berkaca pada perjanjian pancang merah tahun 1930 di Pasaman yang dibuat atas kemauan politik penguasa waktu itu. sehingga tidak punya HGU. Pemerintah Provinsi (Pemprop) Sumsel dan Tim Terpadu yang terdiri dari 3 Stakeholder membahas tindak lanjut penyelesaian Kasus Konflik Agraria Petani Ogan Ilir dengan PTPN VII Unit Usaha Cinta Manis.

59 Thn 1978 tentang Study Kelayakan Pembangunan Pabrik Gula oleh Victories Mill Company dari Filipina. Brigjend Pol Carlo B Tewu berharap masalah ini bisa diselesaikan dengan baik. Mabes Polri yang diwakili Brigjend Pol Drs. Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPN-RI). Tanam Tumbuh dan Bangunan Rakyat terhadap lokasi yang akan dibebaskan oleh PTP XXI-XXII (Persero) berada di Marga Tanjung Batu. sesuai dengan Kepres No. Surat Menteri Pertanian RI Nomor : 076/Mentan/I/1981 tanggal 2 Februari 1981 perihal Izin Prinsip PT Cinta Manis di Daerah Kabupaten OKI dan Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah Sumatera Selatan. Muara Kuang. Dalam rapat ini dijelaskan dasar hukum pemilikan lahan . "Diharapkan masyarakat melapor jika ada haknya yang dikuasai. Kmenterian Politik Hukum dan HAM (Kemenpolhukam). Dari tuntutan warga untuk melakukan Inventarisasi Tanah."tegas Sekda. Rapat yang dipimpin Plt. Kasus sengketa lahan ini menindaklanjuti unjuk rasa yang dilakukan oleh warga masyarakat di sekitar PTPN VII Unit Usaha Cinta Manis terkait sengketa lahan. Perwakilan Mabes Polri. Juga merujuk Surat Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sumsel Nomor : 379/Kpts/I/1981 tanggal 16 Nopember 1981 perihal Pencadangan Tanah Negara untuk Proyek Pabrik Gula di Kecamatan-kecamatan Tanjung Raja." kata Carlo. Carlo B Tewu. Marga Lubuk Keliat dan Marga Rambang IV Suku Kecamatan Tanjung Batu dan Muara Kuang. Inderalaya dan Tanjung Batu Kabupaten Dati II Ogan Komering Ilir. II-11 . Sekda Sumsel ini dihadiri perwakilan PTPN VII Cinta Manis. Maka kebenaran akan mendekat dan masalah ini akan menjadi terang benderang dan jika ada yang menukangi pun akan terlihat. Seperti rilis yang diterima redaksi. Hukum Agraria "Pertemuan ini mencari solusi dengan diskusi antara pihak terkait. Marga Meranjat. Ia meminta kejujuran dan laporan masyarakat jika memang ada haknya dikuasai PTPN VII. dan kepada PTPN VII juga jika merasa sudah melaksanakan pembayarannya dan masih ada yang meminta tagihan atau mengaku-mengaku tanahnya belum diselesaikan maka melaporlah juga. Kita harap pihak yang bersengketa dapat jujur.

Upaya aksi tersebut tidak ditanggapi pihak pemerintah dengan berakhir buntu. konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. ribuan warga dari 15 desa di Kabupaten Ogan Ilir turun ke jalan menuju Kantor DPRD Sumatera Selatan. Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya. Di awal Juni lalu. Secara sosiologis. Hukum Agraria BAB III PENUTUP 3. Dalam situasi ini. Warga menuntut pengembalian lahan mereka yang dirampas PTPN VII seluas 13 ribu hektar dari 20 ribu hektar yang digunakan PTPN VII. Artinya dapat dilihat bahwa Negara selalu menggunakan III-12 . Sejarah konflik agraria di daerah tersebut bahkan cukup panjang. 1 Kesimpulan Konflik berasal dari kata kerja latin configere yang berarti saling memukul. intimidasi. Lalu sebulan kemudian warga menggelar aksi kembali. PTPN VII menggunakan alat Negara yakni aparat Brimob untuk menjaga kepentingan para pemilik modal dari tuntutan rakyat. Bentrok antara warga dan Brimob yang terjadi di Ogan Ilir. Ini diwarnai pula dengan tekanan. Sumatera Selatan. 27 Juli 2012. tahun dimulainya pembangunan PTPN VII Unit Cinta Manis. bentrok semacam itu bukan pertama kali terjadi di Ogan Ilir. dimulai pada 1982 . secara tak langsung dipicu oleh ketegangan antara warga dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Unit Cinta Manis yang mengelola perkebunan tebu di wilayah tersebut. Kebun karet dan kebun nanas masyarakat digusur oleh PTPN VII tanpa ganti rugi yang layak. kali ini dengan sasaran aksi menuju PTPN VII. dan sikap represif aparat keamanan. konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. pembangunan Unit Cinta Manis membuat para petani di 20 desa dari 6 kecamatan di Ogan Ilir terpaksa menyerahkan lahan mereka untuk dijadikan perkebunan tebu.

rakyat tak bertanah di pedesaan dan wilayah-wilayah pedalaman. untuk berunding agar diperoleh persetujuan bersama danmusyawarah pembahasan suatu masalah secara bersama-sama agar tercapai pendapat bulat dan dianggap paling baik. Didalam kasus konflik perkebunan di Ogan ilir sumatera selatan selain menggunakan cara-cara diatas. III-13 . mengambil pihak ketiga atas persetujuan kedua belah pihak yang bertikai. tanpa paksaan. 3. serta dipertanggung jawabkan. Hukum Agraria pendekatan keamanan dalam menyelesaikan setiap persoalan rakyat termasuk sengketa lahan. paling benar. saling mengurangi tuntutan dan saling menghargai pendirian masing-masing. mempertemukan pihak yang bertikai dengan melalui lembaga formal. Pemerintah dan aparatnya seharusnya menjadi kekuatan utama masyarakat untuk memperoleh perlindungan dan dukungan dalam mewujudkan keadilan sosial bagi petani miskin. 2 Saran Di dalam penyelesaian konflik kita harus saling kompromi dimana pihak yang terlibat konflik saling mengalah atau saling memeberi dan menerima kebijakan.

Yogyakarta: Media Abadi http://www..blogspot.html http://zonaalfian.co. Hukum Tanah Nasional Dalam Persepektif Islam.com/2013/03/konflik-agraria. Mohamad Hatta.com/news/55188/Konflik_Agraria_Akibat_Kesenjangan_ Sosial/1/Nasional/Hukum http://nasional. (2005) . SH.jurnas. Hukum Agraria DAFTAR PUSTAKA H.viva.html iv . Mkn.id/news/read/339738-awal-mula-sengketa- lahan-ptpn-di-ogan-ilir.news.