You are on page 1of 19

PJBL FP TOPIK 4

“AVIAN INFLUENZA”
Disusun sebagai tugas blok Respirasi

DISUSUN OLEH :

BEKTI MEGAPURI S 135070207131004
EKA LOLITA ALVIANA 135070207131005
ANDRIYANTO 135070207131006
ANA ZERLINA F. 135070207131007
FIDYA LESTARI PUTRI ABUBAKAR 135070207131008
ASIH HUTAMI RUDY ARSINTA 135070207131009
ALIF FANHARNITA BRILIANA 135070207131010
PIPING EKA DEBRIANDA 135070207131011
ILA NURUL LUTFIANI 135070207131012
ANGGUN HIDAYATUR RAHMI 135070207131014

KELOMPOK 4/12 K3LN 2013
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

MNg selaku dosen penanggung jawab Nursing Care Respirasi 3. S. S. Orang tua kami yang telah membantu baik moril maupun materi 4. Ns. baik dari segi penyusunan. Malang. Laporan ini disusun sebagai salah satu tugas blok mata kuliah Respirasi. Ika Setyo Rini.Kep.Kep. M. ataupun penulisannya. 16 Maret 2016 Penyusun . khususnya dari dosen mata kuliah blok Respirasi guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang akan datang. Septi Dewi Rahmawati. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Yth : 1. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. atas limpahan rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan makalah PJBL FP TOPIK 4 tentang “AVIAN INFLUENZA”.Kep selaku dosen penanggung jawab Fundamental Pathophysiology Respirasi 2. Ns. Rekan-rekan satu kelompok yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna. KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. bahasan.

virus flu burung kembali menyebabkan wabah pandemic dengan merubah dirinya menjadi h3n2. 1. Mutan virus yang dikenal dengan ‘’hongkong flu’’ ini telah menyebabkan 700.2 TUJUAN PENULISAN Untuk memberikan pemahaman dan gambaran tentang Avian Influenza A (H5N1) dan bagaimana cara menangani virus tersebut agar masyarakat dapat terhindar dari serangan virus tersebut.000 jiwa meninggal.000 orang. yang telah membunuh lebih dari 40.000 orang meninggal dunia (Radji M. Tahun 1957 kembali dunia dilanda wabah global yang disebabkan oleh kerabat dekat virus yang bermutasi menjadi h2n2 atau dikenal dengan “asian flu’’ yang telah merenggut 100. BAB I PENDAHULUAN 1..1 LATAR BELAKANG Avian influenza A (H5N1) yang menyebabkan gejala klinis yang berat bahkan kematian pada manusia telah menjadi pusat perhatian badan-badan kesehatan dunia karena dapat berkembang dari masa ke masa dan menjadi wabah yang mematikan. Diawali pada tahun 1918 dunia dikejutkan oleh wabah pandemic yang disebabkan virus influenza. dimana subtype yang mewabah saat itu adalah virus h1n1 yang dikenal dengan “Spanish flu”. 2006). . Pada tahun 1968. Hal tersebut telah menjadi catatan bahwa jika kita mempelajari seluk beluk Avian Influenza A (H5N1) maka virus tersebut akan menyebar dan tak terkendali yang menyebabkan ancaman bagi kelangsungan hidup manusia.

Penularan virus (h5n1) umumnya terjadi melalui udara yang mengandung bahan infektif dalam bentuk titik ludah (droplet) pada saat penderita bersin atau batuk.burung. Virus Avian Influenza ini dibungkus oleh glikoprotein dan dilapisi oleh lemak ganda (bilayer lipid). Korea. Sedangkan NP (nukleoprotein) dan M (matriks) digunakan untuk membedakan antara virus Influenza A dengan B atau C (Rahardjo. Jepang. DEFINISI Penyakit Flu Burung atau Avian Influenza adalah penyakit menular yang disebabkan virus influenza yang ditularkan oleh unggas. 2004). sakit tenggorok dan batuk non produktif. Laos.Virus influenza terdiri dari tiga tipe. 2004). Indonesia.B dan C. sakit kepala. Sumber penyebaran atau penularan virus influenza A (h5n1) terhadap manusia adalah unggas . Selain kontak langsung dan hubungan yang dekat dengan unggas yang sakit. . Kuda dan babi merupakan sumber infeksi virus avian influenza karena hewan tersebut merupakan hospes reservoir. Thailand. Sebagian besar kasus infeksi flu burung pada manusia disebabkan penularan virus dari unggas ke manusia. tinja unggas yang sakit. Protein HA (hemaglutinin) merupakan bagian terbesar dari spike yaitu 80% dan NA (neuroaminidase) sebesar 20%. Kamboja kecuali Pakistan (H7N7) (Rahardjo. influenza merupakan suatu penyakit infeksi akut saluran pernapasan terutama ditandai oleh demam. 2006). dan sering disertai pilek. yaitu: A. menggigil. ETIOLOGI Avian influenza merupakan infeksi akibat virus influenza tipe A. Glikoprotein HA (hemaglutinin) dan NA (neuroaminidase) merupakan protein permukaan yang sangat berperan dalam penempelan dan pelepasan virus dari sel inang. Influenza A (H5N1) adalah penyebab wabah flu burung pada hewan di Hong Kong. BAB II ISI A.misalnya ayam. sakit otot. B. Meskipun virus h5n1 biasanya tidak menginfeksi manusia. Penularan virus h5n1 dari manusia sangatlah jarang terjadi. Secara umum. Vietnam.dan itik.Virus influenza tipe A merupakan golongan orthomyxoviridae. tapi pada tahun 2003 hampir 400 orang bersal dari 12 negara dilaporkan terserang virus ini. Cina. Virus influenza tipe B dan C dapat menyebabkan gejala penyakit yang ringan pada manusia dan biasanya tidak fatal. Lama sakit berlangsung antara 2-7 hari dan biasanya sembuh sendiri ( Nelwan.

radang tenggorokan. Kasus observasi. 2005): . Kasus tersangka. Karena virus ini sangat jarang menginfeksi manusia. meskipun demikian mengingat bahwa virus influenza mempunyai kemampuan untuk selalu berubah sifatnya. KLASIFIKASI. maka satu ketika ditularkan dari manusia ke manusia. Derajat IV: Pasien dengan Pneumonia Berat dan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) atau dengan Multiple Organ Failure (MOF). sesak nafas yang pemeriksaan laboratoriumnya masih berlangsung. FAKTOR RESIKO  Pekerja pertenakan / pemprosesan unggas ( termasuk dokter hewan dll )  Pekerja lab yg memproses sampel  pasien/ hewan terjangkit  Pengunjung peternakan/ pemprosesan unggas dalam 1 minggu terakhir  Kontak dgn penderita flu burung  di rumah memelihara unggas. pada umumnya manusia memiliki imunitas tehadap infeksi virus h5n1. C. Derajat I: Penderita tanpa Pneumonia . Derajat II: Penderita dengan Pneumonia Derajat Sedang dan tanpa Gagal Nafas . 2. Penderita Konfirm H5N1 dapat dibagi dalam 4 kategori sesuai beratnya penyakit (MOPH Thailand. Panduan klasifikasi avian influenza menurut Departemen Kesehatan RI mengacu pada WHO adalah: 1. yaitu: kasus observasi sebagai berikut . Derajat III: Penderita dengan Pneumonia Berat dan dengan Gagal Nafas . yaitu: pasien dengan demam > 380C dan salah satu gejala berikut: batuk.dan kontak dengan ayam mati mempunyai hubungan yang bermakna dengan terjadinya infeksi Avian influenza A (H5N1) D.

Pada tahun 1918 dunia dikejutkan oleh wabah pandemi yang disebabkan virus influenza yang telah membunuh lebih dari 40.000 orang meninggal. 4.  Kontak 1 minggu sebelum timbul gejala dengan unggas yang mati karena sakit. Kasus kemungkinan (probable case) adalah kasus tersangka dan hasil laboratorium tertentu positif untuk virus influenza A (H5) seperti tes antibody spesifik pada specimen 1 serum. EPIDEMIOLOGI Avian influenza pertama kali dilaporkan pada tahun 1878 sebagai wabah yang menjangkiti ayam dan burung di Italia lebih dari 100 tahun yang lalu dan menyebar di seluruh dunia serta dapat mengakibatkan penyakit dengan gejala yang ringan sampai mengakibatkan kematian.000 orang.  Bekerja di laboratorium 1 minggu sebelum timbul gejala yang memproses sampel dari orang atau binatang yang disangka terinfeksi Highly Pathogenic Avian Influenza. Pada tahun 1968 virus influenza kembali . E.  Hasil tes laboratorium positif untuk virus influenza A tanpa mengetahui subtipenya. dimana subtipe yang mewabah saat itu adalah virus H1N1 yang dikenal dengan “Spanish Flu”. Kasus terbukti (confirmed case) adalah kasus tersangka yang menunjukkan salah satu positif dari berikut ini:  Hasil biakan virus positif influenza A (H5N1)  Hasil dengan pemeriksaan PCR positif untuk influenza H5  Peningkatan titer antibody spesifik H5 sebesar > 4x  Hasil dengan IFA positif untuk antigen H5.  Kontak satu minggu sebelum timbul gejala dengan pasien flu burung yang confirmed. Tahun 1957 kembali dunia dilanda wabah global yang disebabkan oleh kerabat dekat virus yang bermutasi menjadi H2N2 atau yang dikenal dengan “Asian Flu” yang telah mengakibatkan 100. 3.

Sumatra. Kamboja dan Pakistan. Isu penyakit AI mulai merebak di Indonesia untuk pertama kalinya pada ayam yaitu pada bulan Agustus tahun 2003 yang hampir bersamaan dengan beberapa negara di kawasan Asia meliputi Thailand. Cina. Tahun 2003 sebanyak 83 orang terinfeksi dengan subtipe virus lainnya yaitu H7N7 dan H9N2. Vietnam. Pulau-pulau di Indonesia yang endemis AI diantaranya Jawa. Sejak tahun 2003 telah terjadi penyebaran yang semakin luas dari HPAI-H5N1 ke beberapa negara lain dengan angka kematian yang cukup tinggi.77%) dan yang paling tinggi jumlah kematiannya adalah propinsi Jawa Barat 1. kasus AI telah ditemukan di 31 provinsi dari 33 provinsi dan 293 dari 473 kabupaten/kota di Indonesia. Penyakit ini mempengaruhi semua sektor unggas dari industri produksi unggas sampai ke sektor unggas backyard. Mutan virus yang dikenal dengan “Hongkong Flu” ini telah menyebabkan 700. Saat ini dunia kembali dikagetkan dengan merebaknya avian influenza H5N1 yang pertama kali menyerang dan menewaskan 6 orang penduduk Hongkong pada tahun 1997 dari 18 orang yang terinfeksi. AI tidak hanya menginfeksi ayam tetapi juga . Indonesia merupakan negara yang paling banyak jumlah kematian pada manusia akibat H5N1 yaitu berjumlah 150 orang dari 180 orang yang terinfeksi. Sejak tahun 2003 sampai pertengahan April tahun 2010. Kalimantan Barat dan Jawa Barat. Telah terjadi kecenderungan yang meningkat baik angka kesakitan ataupun angka kematian manusia yang terinfeksi virus H5N1.842. kemudian disusul oleh negara Vietnam dengan 59 orang meninggal dari 119 yang terinfeksi. Pada bulan Januari 2004 terjadi kasus kematian ternak ayam yang luar biasa terutama di Bali.275 ekor (4. Jumlah unggas yang mati akibat wabah penyakit AI di 10 propinsi di Indonesia sangat besar yaitu 3. Bali. Hampir seluruh kejadian wabah AI di negara-negara tersebut disebabkan oleh virus AI subtipe H5N1 kecuali di Pakistan yang disebabkan oleh subtipe H7N3.000 orang meninggal dunia. Sulawesi dan Kalimantan. Thailand dan Kanada.427 ekor. Jawa Tengah. Departemen Pertanian RI secara resmi menginformasikan adanya penyakit AI pada bulan Januari 2004.541. Korea Selatan. Tahun 2004 subtipe H5N1 dan H7N2 telah menginfeksi puluhan penduduk Vietnam. Laos. Sampai tanggal 15 November 2011 total jumlah kematian pada manusia akibat avian influenza A (H5N1) yaitu 335 orang dari 570 orang yang terinfeksi.menyebabkan wabah pandemi dengan bermutasi menjadi H3N2. Jepang. Jawa Timur.

F. Perkiraan tersebut berdasarkan model standar Computable General Equilibrium (CGE). beberapa spesies burung lainnya seperti itik. PATOFISIOLOGI . berkurangnya permintaan terhadap produk unggas. burung puyuh dansongbirds. biaya yang dikeluarkan peternak dan pemerintah dalam penanganan flu burung serta menurunnya kunjungan wisata. Kerugian ini dihitung dari banyaknya ayam yang dimusnahkan. berkurangnya konsumsi telur dan ayam di restoran.3 triliun. bebek. Komnas FBPI telah memperkirakan besarnya kerugian di Indonesia akibat wabah AI dari 2004 – 2008 yaitu sebesar Rp 4.

.

yaitu paru-paru. . yaitu 3 hari dengan rentan 2-4 hari. TANDA DAN GEJALA Masa inkubasi avian influenza sangat pendek. mata saluran pencernaan. sakit kepala. dan system saraf pusat.G. Virus avian influenza dapat menyerang berbagai organ pada manusia. batuk sakit tenggorokan dan nyeri otot. malaise. Manifestasi klinis avian flu terdiri dari:  Gejala penyakit seperti influenza tipikal. yaitu demam.

nyeri otot 5. mengeluarkan ingus. Dispnue timbul pada hari ke-5 awal setelah penyakit.Satu tetesan sekresi dari burung yang terinfeksi mengandung virus yang dapat membunuh 1 juta burung.  Infeksi mata (konjungtivitis)  Pneumonia  Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)  Gangguan pada saluran pencernaan. Lemas mendadak 7. Sakit kepala 6.Virus ini kemudian menempel di berbagai media seperti sarana . Distress pernapasan dan takipnue sering dijumpai. Timbulnya radang paru-paru (pneumonia) yang bila tidak mendapatkan penanganan tepat dapat menyebabkan kematian Gejala pada unggas Penyakit flu burung di tularkan baik ke sesama unggas maupun spesies lainnya dan manusia melalui kotoran burung. Hamper pada semua pasien menunjukkan gejala klinis pneumonia. Batuk. Gejala umum yang dapat terjadi pada manusia : • Demam tinggi • Keluhan pernafasan • Gangguan pada sistem pencernaan (jarang terlihat) • Sakit pada dada • Susah bernafas sakit kepala • Otot terasa ngilu Masa inkubasi virus adalah 1-7 hari dimana setelah itu muncul gejala-gejala seseorang terkena flu burung adalah dengan menunjukkan ciri-ciri berikut : 1. yaitu diare  Kejang dan koma Manifestasi klinis saluran nafas bagian awal penyakit. Produksi sputum bervariasi dan kadang-kadang disertai darah. Timbulnya demam tinggi (> 38 derajat Celcius) 3. Sakit tenggorokan yang tiba-tiba 4. Menderita ISPA 2.

bersin dan ngorok. 4. Gangguan syaraf yang di tandai unggas membentur-benturkan kepala serta gangguan keseimbangan. 9. 2. tidak khas untuk kasus flu burung tetapi untuk membantu mengarahkan diagnosis flu burung dan . Gejala klinis yang dapat di temukan pada unggas yang terinfeksi flu burung adalah sebagai berikut: 1. Kaki berwarna kemerah-merahan seperti di keroki dan jika di buka terdapat pendarahan. Kerontokan bulu.peralatan kandang yang tercemar. 3. 10. Mengeluarkan leleran dari mata secara berlebihan.bersin dan ngorok  Unggas merasa haus luar biasa  Nafas cepat dan sulit.batuk. Mengalami gangguan pernapasan seperti batuk. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK  Pemeriksaan Hematologi Rutin Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang rutin dilakukan. H. Pembengkakan di daerah kepala dan muka.seperti berdiri dan berjalan sempoyongan.bengkak disertai perdarahan yang kental diujung-ujungnya  Pembengkaaan pada muka dan kepala  Diare. Tingkat kematian tinggi.pekerja di peternakan dan burung-burung liar.sering terjadi kematian secara mendadak. 8. Peradangan pada sinus atau lubang hidung. Ciri unggas yang terinfeksi avian influenza :  Unggas lemah  Nafsu makan berkurang  Jenger dan pial berwarna merah kehitaman sampai biru . Jengger kebiruan. 7. Terjadinya gangguan produksi telur dan cangkak telur lembek.transportasi ternak. 5. 6.

SGPT. Untuk kasus flu burung. Titer Hemaglutinasi (titer HI) e. Uji Serologi yang digunakan untuk kasus flu burung dapat menggunakan beberapa macam metode yaitu: a.  Pemeriksaan Kimia klinik Pemeriksaan kimia klinik juga tidak khas. hitung jenis leukosit. Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah whole blood tanpa penambahan antikoagulansia yang kemudian diproses menjadi serum. hanya membantu mengarahkan diagnosis flu burung dan menentukan berat ringannya derajat penyakit. Tetapi penurunan ini dapat pula kita temukan pada infeksi virus lainnya. kreatinin. kreatinin-kinase. Bahan pemeriksaan untuk uji serologi ini dilakukan pada 2 macam bahan . jumlah trombosit. dan penurunan albumin. Western Blot Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah whole blood tanpa penambahan antikoagulansia yang kemudian diproses menjadi serum. ureum. Mikronetralisasi Antibodi d. Pada kasus flu burung dapat ditemukan peningkatan SGOT/SGPT. umumnya dapat ditemukan penurunan jumlah leukosit (leukopenia). penurunan jumlah trombosit (trombositopenia). Yang termasuk dalam pemeriksaan kimia klinik adalah SGOT. dan penurunan hitung jenis limfosit (limfopenia). Albumin. Pemeriksaan Rapid metode kromatografi (membedakan influenza tipe A dengan tipe B b. Kelainan hasil laboratorium sesuai dengan perjalanan penyakit dan komplikasi yang ditemukan. Netralisasi Antibodi c. kreatinin-kinase.  Uji Serologi Virus Influenza A subtipe H5N1 Uji Serologi ini merupakan uji deteksi antibodi pasien terhadap virus Influenza A subtipe H5N1. Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah whole blood yang telah diberi penambahan antikoagulansia EDTA. kreatinin. menentukan berat ringannya derajat penyakit. jumlah leukosit. Yang termasuk dalam pemeriksaan hematologi rutin adalah pemeriksaan hemoglobin. ureum.

Uji Reverse Trancription Polymerase Chain Reaction Bahan pemeriksaan yang dapat digunakan untuk ke-2 pemeriksaan terakhir adalah : . Oseltamivir (tami-flu) Dosis: 2 x 75 mg selama 1 minggu. Isolasi virus H5N1 g. Antiviral sebaiknya diberikan pada awal infeksi yakni 48 jam pertama. Adapun pilihan obat: 1. Bilasan bronkoalveolar i. Bahan pemeriksaan dari saluran pernafasan bagian atas  Usap Nasofaring Bilasan Nasofaring (terutama pada anak umur 2 thn atau kurang)  Usap Orofaring Bahan pemeriksaan dari saluran nafas bagian bawah h. Cairan Pleura k. yaitu bahan pemeriksaan masa akut dan masa penyembuhan/konvalesen. Bahan pemeriksaan darah. . pengobatan antibiotic. Zanamivir (relenza) . Penghambat M2:  Amantadine (symadine)  Rimantidine (flu-madine) Dosis: 2x/hari selama 100 mg atau 5 mg/kgBB 3-5 hari. pemeriksaan. anti inflamasi. dan imunomodulator. 2. peningkatan daya tahan tubuh. 2007) . pada masa akut dan masa penyembuhan I. perawatan respirasi. Penghambat neuramidase (WHO. Aspirasi transtrakheal j. PENATALAKSANAAN Prinsip penatalaksanaan avian influenza adalah istirahat. pengobatan antiviral. f.

Medikamentosa yang digunakan sebagai terapiavian influenza adalah obat yang selama ini bermanfaat dan telah dibuktikan berhasilmengatasi virus influenza lainnya dan diekstrapolasikan untuk avian influenza. kecuali terhadap obat penghambat neuroamidase. Implementasi dini dalam mengontrol infeksi untuk meminimalisasi penyebaran nosokomial. diberikan dua kali sehari selama 5 hari. Identifikasi dini dan pemantauan terhadap resiko infeksi untuk mempermudah intervensi dini dengan terapi antiviral untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas serta membatasi penyebaran penyakit. zanamivir. Obat-obatan anti viral tersebut adalah: oseltamivir. diberikan sekali sehari selama 7 hari. Tetapi dilaporkan bahwa resistensi cepat terjadi pada obat tersebut. simptomatik dan antibiotic jika ada indikasi. Oseltamivir harus diberikan 48 jam setelah awitan gejala. oseltamivir dapat diberikan pada anak dengan usia 1 tahun ke atas dan tidak direkomendasikan untuk anak yang berumur kurang dari 1 tahun. Dosis untuk terapi oseltamivir adalah: 2mg/kgBB/kali. antibiotic spectrum luas dan steroid jika perlu seperti pada kasus pneumonia berat.  Pada kasus probable flu burung diberikan Oseltamivir 2 x 75 mg selama 5 hari. amantadin dan rimantadin. 2. Alternatif dosis lain yang dapat juga digunakan menurut WHO adalah:  Anak dengan BB ≤15 kg : 2x30mg/hari  Anak dengan BB 15-23 kg : 2x45mg/hari  Anak dengan BB 23-40 kg : 2x60mg/hari  Anak dengan BB >40kg : 2x75mg/hari . Respiratory care di ICU sesuai indikasi Sebagai profilaksis. digunakan oseltamivir dengan dosis 75 mg sekali sehari selama lebih dari 7 hari (hingga 6 minggu). yaitu: oseltamivir dan zanamivir Saat ini antiviral yang direkomendasikan penggunaannya pada avian influenza adalah oseltamivir. ARDS. Penatalaksanaan secara tepat untuk mencegah semakin beratnya penyakit dan mencegah kematian. Sedangkan untuk profilaksis diberikan pada anak dengan usia 12 tahun ke atas. Tiga prinsip penatalaksanaan pasien dengan avian influenza adalah: 1. Departemen Kesehatan RI dalam pedomannya memberikan petunjuk sebagai berikut:  Pada kasus suspek flu burung diberikan Oseltamivir 2 x 75 mg 5 hari. Menurut American Academy of Pediatrics. bagi mereka yang beresiko tinggi.

Selain kewaspadaan standar (cuci tangan. Walaupun oseltamivir dan zanamivir dinyatakan berkhasiat untuk mengobati avian influenza tetapi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan efektifitasnya. Adapun pencegahannya baik pada hewan ataupun pada manusia. 5. penggunaan bahan dekontaminan/desinfektan) perlu dilakukan pula kewaspadaan berdasar transmisi sesuai cara penularan (kontak. Pada tahun 2005 de Jong MD dkk. Membersihkan kotoran unggas setiap hari. (contoh : masker dan pakaian kerja). sarung tangan. Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinsfeksi fluburung. Menggunakan alat pelindung diri. 4. Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja 2. PENCEGAHAN Pengendalian adalah aspek yang sangat penting dalam pencegahan transmisi walaupun belum ada bukti sahih adanya penularan dari manusia ke manusia yang berkelanjutan. Resistensi pada oseltamivir lebih sering terjadi pada anak di bandingkan orang dewasa.  Pada Unggas  Pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung  Vaksinasi pada unggas yang sehat  Pada Manusia  Kelompok berisiko tinggi ( pekerja peternakan dan pedagang) 1. pasien dengan infeksi avian influenza juga di beri terapi berupa anti biotik. Penanganan limbah juga bagian yang sangat penting untuk pencegahan penularan.Selain pemberian terapi anti viral. Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja. Pencegahan transmisi dilakukan dengan melakukan perawatan isolasi dan perawatan pengendalian infeksi secara ketat menggunakan alat perlindungan personal dan metode kewaspadaan isolasi yang baik.  Masyarakat umum .Oseltamivir tersedia dengan merek dagang Tamiflu. J. 3. tetapi resistensi telah di deteksi pada 18% anak yang mendapat terapi oseltamivir. droplet & airborne). melaporkan 2 kasus resistensi terhadap oseltamivir meskipun resistensi pada oseltamivir jarang terjadi .

Penyakit flu . Pneumonia . Mengolah unggas dengan cara yang benar. Memasak daging ayam sampai dengan suhu ± 800C selama 1 menit dan pada telur.1 KESIMPULAN Penyakit flu burung atau flu unggas (Bird Flu. Avian influenza) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas. BAB III PENUTUP 3. respiratory distress syndrome . KOMPLIKASI kematian umumnya disebabkan komplikasi dengan penyakit lain seperti: . Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya) . yaitu: . K. kegagalan berbagai fungsi organ. 2. Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi & istirahat cukup. 1.

3. DAFTAR PUSTAKA Brunner dan Suddarth. Flu Burung berbahaya karena dapat menyebabkan manusia sakit dan meninggal. . Jakarta : EGC.baik gejala pada unggas maupun pada manusia. 2001. 1.sebaiknya pembaca harus mengetahui gejala-gejala dari avian influenza. Flu Burung merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat membunuh seluruh ternak unggas di areal usaha peternakan.2 SARAN Saran yang dapat kami sampaikan kepada pembaca. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. ini penting kerena gejala avian influeza sangat mirip dengan influenza biasa. dan apabila menemukan gejala-gejala seperti yang dimaksud sebaiknya melaporkan kepada petugas kesehatan.burung yang disebabkan oleh virus avian infuenza jenis H5N1. Flu Burung merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menyebar dengan cepat ke area peternakan lain dan di seluruh Indonesia.

2003-2011. Pencegahan dan Penyebaran pada Manusia. Cumulative Number of Confirmed Human Cases for Avian Influenza A(H5N1) Reported to WHO.int/csr/disease/avian_influenza/country/cases_table_2006_07_04/en/inde x. 2006. http://repository. Depkes RI.usu. Pedoman Penatalaksanaan Flu Burung di Sarana Pelayanan Kesehatan. Radji M. Jakarta: Depkes RI. Cumulative Number of Confirmed Human Cases of Avian Influenza A/(H5N1) Reported to WHO.html . 2011. WHO.pdf WHO.who. WHO. Diunduh dari:URL: http://www. 2006.id/bitstream/123456789/25850/4/Chapter%20II.ac. Majalah Ilmu Kefarmasian3(2): 55-65. Avian Influenza A (H5N1): Patogen. Pengertian dan Epidemiologi influenza.Bab II.