You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Terdapat tumbuhan berbiji dan tumbuhan yang tidak berbiji di dunia ini. Beberapa
tumbuhan berbiji merupakan kelompok tumbuhan dengan biji berkulit keras. Tumbuhan berbiji
keras merupakan tumbuhan yang meghasilkan biji dengan karpel atau kulit dengan lapisan
yang keras dan mengalami masa dormansi. Masa dormansi pada biji tumbuhan berbeda-beda.
Dormansi sebagai suatu keadaan pertumbuhan dan metabolisme yang terpendam, dapat
disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak baik atau oleh factor dari dalam tumbuahn itu
sendiri. Dormansi biji adalah kemampuan atau suatu bentuk mekanisme biji untuk
mempertahankan diri dari lingkungan yang mengancam atau yang menguntungkan, baik pada
suhu yang rendah ataupun sebaliknya. Dormansi pada biji atau buah misalnya, pada biji salak,
jarak, saga, kelengkeng dan lainnya. Dormansi merupakan kondisi fisik dan fisiologis pada biji
yang mencegah perkecambahan pada waktu yang tidak tepat atau tidak sesuai. Dormansi pada
biji atau buah (misalnya buah batu, buah keras dan buah pada umumnya) disebabkan oleh
adanya kulit keras yang tidak permeable untuk air dan udara, serta memberikan hambatan
mekanik untuk petumbuhan embrio.
Dormansi dapat terjadi selama proses pengelolaan, sehingga benih tidak dapat
berkecambah walaupun dalam lingkungan yang baik untuk perkecambahan. Beberapa
perlakuan dapat diberikan pada benih, sehingga tingkat dormansinya dapat diturunkan dan
presentase kecambahnya tetap tinggi. Perlakuan tersebut dapat ditujukan pada kulit benih,
embrio maupun endosperm benih dengan maksud untuk menghilangkan faktor penghambat
perkecambahan dan mengaktifkan kembali sel-sel benih yang dorman (Naning.dkk, 2015).
Dormansi benih dapat dibedakan atas beberapa tipe dan kadang-kadang satu jenis benih
memiliki lebih dari satu tipe dormansi. Willan (1985) dalam (Naning.dkk, 2015) membedakan
dormansi ke dalam dormansi embrio, dormansi kulit benih dan dormansi kombinasi keduanya.
Dormansi dapat dipatahkan dengan perlakuan pendahuluan untuk mengaktifkan kembali benih
yang dorman. Ada berbagai cara perlakuan pendahuluan yang dapat diklasifikasikan yaitu
pengurangan ketebalan kulit atau skarifikasi, perendaman dalam air, perlakuan dengan zat
kimia, penyimpanan benih dalam kondisi lembab dengan suhu dingin dan hangat atau disebut
stratifikasi dan berbagai perlakuan lain. Untuk membantu mematahkan dormansi ini dapat

2 Rumusan Masalah Bagaimana pengaruh berbagai macam perlakuan terhadap pemecahan dormansi biji kelengkeng? 1. misanya digosok atau diamplas atau diberikan perlakuan secara kimiawi dengan memberikan zat-zat kimia untuk mematahkan dormansi pada biji tersebut. . 1. Berdasarkan uraian di atas.diberikan perlakuan-perlakuan khusus terhadap kulit biji.3 Tujuan Mengetahui pengaruh berbagai macam perlakuan terhadap pemecahan dormansi biji berkulit (kelengkeng). maka dilakukan percobaan untuk mengerahui pengaruh berbagai macam perlakuan terhadap pemecahan dormansi biji kulit keras pada biji kelengkeng dengan mengampelas. merendam air dan perendaman biji pada H2SO4.

1) Benih ortodok. Benih ini biasanya dapat disimpan pada waktu yang lama. merupakan benih yang viabilitasnya mudah menurun apabila diturunkan kadar airnya antara 12--31 %. 3) Benih intermediet. benih rekalsitran. BAB II KAJIAN PUSTAKA 1. yaitu benih ortodok.Tekanan seleksi selama ribuan tahun pembudidayaan sebenarnya menghilangkan dormansi pada tanaman budidaya. . suhu dan cahaya yang sesuai. seperti kelembaban yang cukup. terdapat 3 macam tipe benih. karena akan menyebabkan hilangnya daya kecambah. dan benih intermediet. merupakan benih yang dapat dikeringkan sampai kadar air rendah 5-- 10 % dan dapat disimpan pada suhu serta kelembaban penyimpanan yang rendah tanpa menyebabkan penurunan viabilitas. Kebanyakan biji tanaman budidaya cepat berkecambah setelah pemasakan dan pengeringan. Benih ini tidak dapat disimpan lama pada suhu dan kelembaban rendah. 2) Benih rekalsitran. Dormansi Biji Dormansi benih dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan benih hidup untuk berkecambah pada suatu kisaran keadaan yang luas yang dianggap menguntungkan untuk benih tersebut. 2002). Benih juga memiliki pengertian sebagai biji tanaman yang dipergunakan oleh manusia dengan tujuan penanaman atau budidaya (Sutopo. Dormansi dapat disebabkan karena tidak mampunya benih secara total untuk berkecambah atau hanya karena bertambahnya kebutuhan yang khusus untuk perkecambahnnya. Benih Benih adalah simbol dari suatu permulaan kehidupan di alam semesta dan yang paling penting adalah kegunaannya sebagai penyambung kehidupan tanaman. sehingga benih semacam ini harus segera disemaikan. 2. Dormansi benih menunjukkan suatu keadaan benih-benih sehat (viable) gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang secara normal baik untuk perkecambahan. Berkaitan dengan sifat daya simpannya. merupakan kombinasi karakter antara benih ortodok dan benih rekalsitran.

Tekanan seleksi alam selama evolusi telah menghasilkan tanaman dengan biji dorman dan/atau kuncup dorman sebagai adaptasi terhadap periode saat lingkungan tidak menguntungkan seperti yang dijumpai pada daerah beriklim sedang. 2) Dormansi mekanis Dormansi mekanis dapat terlihat ketika pertumbuhan embrio secara fisik dihalangi struktur kulit benih yang keras. Fenomena ini sering disebut sebagai benih keras. Gula. meskipun istilah ini sering digunakan untuk benih legum yang kedap air. Dormansi cahaya umumnya dijumpai pada pohon-pohon pioner.atau pengawetan dengan pengeringan. Imbibisi dapat terjadi tetapi radicle tidak dapat membelah atau menembus kulitnya. coumarin dan zat-zat lain dalam buah berdaging mencegah perkecambahan karena tekanan osmose yang menghalangi penyerapan. 6) Dormansi suhu . dengan memperhatikan kondisi morfologis embrio yang belum matang. Pada dasarnya hampir semua benih yang mempunyai dormansi mekanis mengalami keterbatasan dalam penyerapan air. 5) Dormansi cahaya Sebagian besar benih dengan dormansi cahaya hanya berkecambah pada kondisi terang. Tanaman budidaya yang lama belum dibudidayakan seringkali menunjukkan dormansi sampai tingkat tertentu dan memerlukan kondisi khusus atau waktu penyimpanan yang lebih panjang sebelum berkecambah. misalnya dengan menghalangi proses metabolisme yang diperlukan untuk perkecambahan. Dormansi diklasifikasikan dalam berbagai cara dan tidak ada sistem yang berlaku secara universal. Sehingga benih tersebut disebut dengan peka cahaya. Secara umum tipe-tipe dormansi dapat dikelompokan menjadi: 1) Embrio yang belum berkembang Benih dengan pertumbuhan embrio yang belum berkembang pada saat penyebaran tidak akan dapat berkecambah pada kondisi perkecambahan normal dan karenanya tergolong kategori dorman. Zat-zat penghambat yang paling sering dijumpai ditemukan dalam daging buah. 3) Dormansi fisik Dormansi fisik disebabkan oleh kulit buah yang keras dan impermeable atau penutup buah yang menghalangi imbibisi dan pertukaran gas. 4) Zat-zat penghambat Beberapa jenis benih mengandung zat-zat penghambat dalam buah atau benih yang mencegah perkecambahan. Fenomena ini seringkali dimasukkan ke dalam kategori dormansi fisiologis.

pelarut lemak lainnya. 7) Dormansi gabungan Apabila dua atau lebih tipe dormansi ada dalam jenis yang sama. Disatu sisi. biji terpajan pada suhu yang berubah-ubah. kikir atau kertas amplas. d) Tumbuhnya fungi di kulit biji. kulit biji yang keras menghalangi penyerapan oksigen dan air. Kegagalan untuk mengatasi masalah dormansi akan berakibat pada kegagalan perkecambahan pada benih. bertujuan untuk menghilangkan bahan berlilin yang menghalangi masuknya air. Kulit biji yang keras itu biasanya terdapat pada anggota family Fabaceae (Leguminosae) pengecualian untuk buncis dan kapri. Dormansi benih dapat menguntungkan atau merugikan dalam penanganan benih. sumpal strofiolar yang terdapat pada biji dapat lepas jika diberi panas. nitrat dan nitrit sebagai pemacu perkecambahan terutama biji spesies rerumputan. Di alam goresan tersebut mungkin terjadi akibat kerja mikroba. b) Tiourea. . dormansi harus dipatahkan baik melalui metode beruntun yang bekerja pada tipe dormansi yang berbeda. apabila dormansi sangat kompleks dan benih membutuhkan perlakuan awal yang khusus. atau melalui metode dengan pengaruh ganda. Dormansi dapat dipatahkan dengan beberapa cara diantaranya yakni: Pematahan dormansi Secara mekanik a) Dengan goncangan. merekahkan kulit itu sehingga perkecambahan dapat berlangsung. suhu berperan dalam perkembangan atau pelepasan dari dormansi. biasanya menggunakan pisau. Keuntungannya adalah bahwa dormansi mencegah benih dari perkecambahan selama penyimpanan dan prosedur penanganan lain. b) Diberi perlakuan panas. Istilah dormansi suhu digunakan secara luas mencakup semua tipe dormansi. atau terbawa air melintasi pasir atau cadas. Dormansi suhu rendah ditemui pada kebanyakan jenis beriklim sedang. atau asam pekat. Benih dengan dormansi suhu seringkali memerlukan suhu yang berbeda dari yang diperlukan untuk proses perkecambahan. Secara kimia a) Merendam dengan alcohol. c) Skarifikasi atau penggoresan. ketika biji melewati alat pencernaan pada burung atau hewan lain.

 Sintesis zat perangsang. sedangkan sitokinin akan meningkat dan kemudian menurun kembali apabila giberelin meningkat. ABA yang mula-mula sangat tinggi akan menurun dengan cepat. Pada saat perkecambahan. yaitu saat mendapatkan air yang cukup untuk tumbuh (Sasmitamihardja. Banyak pohon memerlukan antara .  Hilangnya inhibitor (waktu yang diperlukan sampai inhibitor hilang). b) Cahaya. Selain beberapa faktor yang telah disebutkan banyak biji yang memerlukan pendinginan agar lepas dari dormansi yang diatur segera setelah masak. Perlakuan pendinginan sebelum perkecambahan yang diperlukan oleh biji-bijian untuk mnghilangkan dormansinya disebut stratifikasi. Mekanisme utama yang menyebabkan suatu biji dormansi atau terjadinya dormansi yang berkepanjangan. semua hormon turun pada kadar yang rendah. embrio beberapa spesies tumbuh sangat cepat. selama pendinginan awal. Bila biji yang perkecambahannya terpacu oleh cahaya terkena cahaya maka akan berkecambah dan mampu berfotosintesis. 1996). Selama stratifikasi. Bagi biji yang perkecambahannya terhambat oleh cahaya. penyebab terhambatnya perkecambahan adalah : Faktor Lingkungan  Kebutuhan akan cahaya  Suhu  Kurangnya air Faktor Internal  Kulit biji (dapat mencegah masuknya gas)  Kulit biji (dapat berfungsi sebagai efek mekanik)  Embrio yang masih muda (immature)  Rendahnya kadar etilen  Adanya zat penghambat (inhibitor)  Tidak adanya zat perangsang tumbuh Faktor Waktu  Setelah pematangan (waktu yang diperlukan oleh biji untuk mulai berkecambah setelah pematangan buah).Secara fisika a) Pendinginan awal (Prechilling). beberapa perubahan terjadi terhadap hormon-hormon. perkecambahannya itu tak akan terjadi sampai biji tertutup seluruhnya oleh sampah. jumlah klorofil yang terdapat pada embrio saat biji masak sangat penting untuk menentukan apakah biji spesies tertentu akan bersifat fotodorman (membutuhkan cahaya untuk perkecambahannya) atau tidak.

3. waktu. dan energi tersebut berasal dari perombakan bahan- bahan organik. Perlakuan pendinginan juga bukan merupakan satu-satunya yang dapat menghilangkan dormansi. waktu yang digunakan hilangnya penghambat yang menghambat perkecambahan 3.250-1000 jam pendinginan sebelum dormansi dapat dihilangkan. 1996). Proses dormansi dapat dipatahkan dengan beberapa proses diantaranya proses pendinginan. Apabila kondisi yang diperlukan untuk mematahkan dormansi berjalan dengan baik. yaitu faktor internal dan faktor eksternal. rendahnya kadar etilen 4. hilangnya inhibitor. maka embrio akan mensintesis giberelin dan sitokinin yang diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan sehingga pertumbuhan dapat dimulai. perkecambahan akan terjadi jika ada zat merangsang perkecambahan. asam dan basa (secara kimiawi) ataupun dengan cara biologi dengan menggunakan bantuan mikroba (Dardjat. 1996). Kejutan dengan suhu tinggi. Banyak spesies “hari panjang” memerluakan suhu hangat untuk mengembalikan pertumbuhannya. perombakan lemak adalah enzim lipase dan pati memerlukan enzim amilase. Dalam pertumbuhannya memerlukan energi. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan biji ada dua. dapat pula menghilangkan dormansi secara lebih dini (Dardjat. tidak adanya zat yang merangsang pertumbuhan Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi perkecambahan yaitu : 1. waktu yang diperlukan oleh biji untuk memulai perkecambahan setelah pematangan buah 2. zat pengatur tumbuh. Enzim tersebut akan merombak cadangan makanan sehingga . adanya zat penghambat 5. Perkecambahan Biji Pertumbuhan tanaman yang berasal dari biji diawali dari proses perkecambahan. sintesis zat perangsang. pemanasan. kejutan atau goresan pada biji (proses fisika). Adapun factor internal yang mempengaruhi perkecambahan biji yaitu : 1. embrio yang masih muda (immature) 3. kulit biji mencegah masuknya gas 2. Enzim yang digunakan untuk merombak protein adalah enzim protease. Enzim-enzim tersebut secara bersamaan dihasilkan tumbuhan selama proses perkecambahan. Selanjutnya bersamaan dengan prose imbibisi yang terjadi maka proses respirasi akan berlangsung dan metabolism akan berjalan sehingga enzim-enzim akan aktif.

2. perkembangan buah. daun. Secara umum. meristem apical. 1. Fase yang terjadi dalam dormansi biji ada 4 fase yang harus dilalui.terbentuk ATP dan unsur-unsur yang diperlukan untuk membentuk sel-sel baru yang akan berdiferensiasi sehingga tebentuk radikula dan plumula yang berkembang menjadi biji yang berkecambah. tunas ujung. kulit biji yang tebal (tahan terhadap gerakan mekanis). Hormon-hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan diantaranya : 1) Auksin (mempengaruhi pertambahan panjang batang. .2 Hipotesis Ha : Ada pengaruh berbagai macam perlakuan terhadap pemecahan dormansi biji berkulit keras (kelengkeng). Perkecambahan (germination). dominasi apical. ditandai dengan penurunan jumlah hormone (hormone level) 2. batang dan bunga. mendorong atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan akr. diferensiasi dan percabangan akar. mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan akar) 4) Asam abisat / ABA (menghambat pertumbuhan. memberikan penggaruh yang berlawanan dengan auksin. Fase bertahannya embrio untuk berkecambah karena factor lingkungan yang tidak menguntungkan 4. pertumbuhan. Fase induksi. embrio belum matang secara fisiologis (physiological immature embriyo). merangsang penutupan stomata pada waktu kekurangan air dan mempertahankan dormansi). pemanjangan batang dan pertumbuhan daun. mendorong pembelahan sel dan pertumbuhan secara umum. mendorong perkecambahan dan menunda penuaan) 3) Giberelin (mendorong perkembangan biji. Fase tertundanya metabolisme (a period of partial metabolic arrest) 3. fototropisme dan geotropism) 2) Sitokinin (mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi akar. perkembangan kuncup. ditandai dengan meningkatnya hormone dan aktifitas enzim. 5) Etilen (mendorong pematangan. kulit biji impermeable (impermeable seed coat) dan adanya zat penghambat (inhibitor). factor-faktor yang mempengaruhi yang menyebabkan dormansi biji antara lain : tidak sempurnanya embriyo (rudimentary embriyo). yaitu . daun muda dan embrio dalam biji). mendorong pembungaan da perkembangan buah.

.Ho : Tidak ada pengaruh berbagai macam perlakuan terhadap pemecahan dormansi biji berkulit keras (kelengkeng).

Variabel kontrol adalah variabel yang yang kita tentukan untuk pemberian perlakuan atau dalam percobaan. Variabel kontrol percobaan ini adalah jenis biji. mengamplas biji (bukan bagian lembaga atau kotiledonnya). perendaman H2SO4 dan perendaman air) terhadap biji kelengkeng dalam kegiatan ini terdapat tiga perlakuan yang diberikan sebelum tahap penanaman. . Biji yang telah diberi perlakuan. 3. penyiraman dilakukan dengan selang waktu dan volume yang sama pada semua sampel percobaan.3 Variabel Variabel Manipulasi : (pengampelasan. Dalam setiap perlakuan digunakan biji kelengkeng sebanyak 10 butir.2 Waktu dan Tempat Pelaksaan kegiatan praktikum “ Pemecahan Dormansi “ pada Desember 2016 bertempat di Laboratorium Fissiologi. akan diletakkan (ditanam) dalam pot masing-masing sesuai dengan perlakunnya. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental karena menggunakan beberapa variabel yaitu. Jenis biji yang digunakan dalam percobaan “Dormansi biji” adalah biji kelengkeng karena memiliki karpel yang tebal dan merupakan salah satu biji berkulit keras. Wadah dan penyiraman dalam percobaan ini menggunakan wadah yang sama berupat pot. wadah penanaman. wadah penanaman. dan mencuci biji dalam air. variabel kontrol. Gedung C. penyiraman. Variabel Kontrol : jenis biji.10 Jurusan Biologi Unesa. Variabel Terikat : lama pemecahan dormansi biji. 3. penyiraman. variabel manipulasi dan variabel respon.4 Definisi Operasional Variabel Variabel manipulasi adalah perlakuan kepada variabel kontrol untuk mencari akibat dari perlakuan atau variabel respon. Variabel manipulasi pada percobaan ini adalah (pengampelasan. BAB III METODE PENELITIAN 3. perendaman H2SO4 dan perendaman air) terhadap biji kelengkeng. yakni perendaman biji dalam larutan asam sulfat selama 5 menit.

3. asam sulfat pekat (H2SO4). lama pemecahan dormansi biji pada setiap perlakuan dibandingkan diamati lama perkecambahannya serta menghitung jumlah biji kelengkeng yang berhasil berkecambah. Di tanam dalam Di tanam dalam Di tanam media tanah dan media tanah dan dalam media pasir. dengan pasir.5 Alat dan Bahan Pada percobaan “ Pemecahan Dormansi” ini memerlukan alat dan bahan yakni. dengan air pekat selama 5 kemudian menit. kemudian mencucinya mencucinya dengan air dengan air. pot atau media sejumlah 3 pot penanaman. Percobaan ini memiliki variabel kontrol yaitu lama pemecahan dormansi biji. gelas kimia. dengan tanah dan pasir. biji berkulit keras (kelengkeng). perbandingan 1:1 perbandingan 1:1 dengan perbandingan 1:1 .6 Rancangan Percobaan Rancangan Percobaan 30 biji kelengkeng ( tiap pot sejumlah 10 biji) 10 biji direndam 10 biji 10 biji dicuci dalam asam sulfat diamplas. Variabel terikat dalah hasil yang timbul setelah perlakuan. 3. air. kertas amplas.

Melakukan penyiraman apabila media mengalami kekeringa. 4. diamplas untuk menghilangkan lembaganya kemudian mencucnya dengan air c. 2. 10 biji direndam dalam asam sulfat pekat selama 5 menit. Menyiapkan alat dan bahan. 7. Menyamakan kondisi penenman biji pada semua perlakuan. Mengamati perkecambahan biji pada semua perlakuan selama 14 hari. 10 biji yang lain dicuci dengan air 3. Membuat tabel pengamatankecepatan perkecambahan.7 Langkah Kerja 1. Menenam ketiga kelompok tersebut pada pot yang bermedia tanam tanah dan pasir dengan perandingan 1:1. 10 biji yang lain. Mengamati perkecambahan selama 14 hari 3. kemusian mencucinya dengan air b. 5. Meneydiakan 30 biji berkulit keras dan membaginya menjadi tiga kelompok: a. . 6.

. . . dapat diketahui bahwa biji yang dapat berkecambah paling banyak adalah amplas sejumlah 5 biji. . . Jumlah biji yang berkecambah pada berbagai perlakuan selama 14 hari Jumlah biji yang berkecambah dengan berbagai perlakuan selama 14 hari 6 5 jumlah biji berkecambah 4 3 2 1 0 Asam Sulfat Amplas Air Biji kelengkeng Analisis Berdasarkan data tabel “Pengamatan dormansi berkulit keras (kelengkeng)”. . 1 3 . . Air . . 1 2 2 . . . . 3 Diagram 1. . Pengamatan dormansi berkulit keras (kelengkeng). . . 4 2. Perkecambahan Hari ke- No Perlakuan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Total 1 Asam Sulfat . . . . . . . . 2 1 . . . . Pada data yang disajikan tidak . BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 5 3. . .1 Hasil dan Analisis Tabel 1. Amplas . . Asam sulfat sejumlah 4 biji dan perendaman air sejumlah 3 biji. . .

suhu dan cahaya yang sesuai (Naning dan Darmawati. Tiap substansi yang menghambat salah satu proses akan berakibat pada terhambatnya seluruh rangkaian proses perkecambahan. Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen benih yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tanaman baru (Ashari. Berdasarkan diagram diatas dapat diketahui bahwa jumlah biji terbanyak berkecambah pada pemecahan dormansi secara fisika (diampelas) sejumlah 5 biji berkecambah. Diketahui juga bahwa perlakuan-perlakuan terhadap biji berkulit keras sangat berpengaruh terhadap pemecahan dormansi dan perkecambahan. Berdasarkan data percobaan juga diketahui pemecahan dormansi secara fisika (diampelas) lebih cepat dalam memecahkan dormansi dibandingkan pemecahan dormansi secara kimia (direndam asam sulfat) dan perendaman air.2 Pembahasan Berdasarkan percobaan dan analisis diatas diketahui bahwa berbagai perlakuan terhadap biji berkulit keras (kelengkeng) berpengaruh terhadap pemecahan dormansi biji. Pemecahan dormasi dapat terlihat pada data berupa banyaknya biji yang dapat berkecambah dengan pengamatan selama 14 hari. Zat penghambat dapat berada dalam embrio. 2011). yang masing-masing harus berlangsung tanpa gangguan. selisih biji berkecambah pada perlakuan pengampelasan dengan perendaman asam sulfat sejumlah 2 biji.semua biji dapat berkecambah serta memiliki waktu perkecambahan pada hari ke. . Dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih sehat (viable) gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang secara normal baik untuk berkecambah. seperti kelembaban yang cukup.yang berbeda. 2006) dalam (Aprilia dkk. biji mengalami fase berupa suatu proses perkecambahan. 2015). sehingga benih tidak dapat berkecambah walaupun dalam lingkungan yang baik untuk perkecambahan. Perkecambahan biji merupakan kulminasi dari serangkaian kompleks proses-proses metabolik. Dormansi biji berupa keadaan biji untuk menunda perkecambahan untuk beberapa waktu dan saat kondisi lingkungan memungkinkan guna terjadinya perkecambahan. 4. kemudian pemecahan dormansi secara kimia dengan perendaman Asam sulfat sejumlah 4 biji dan perendaman air sebagai kontrol sejumlah 3 biji berkecambah. kulit biji maupun daging buah. Dormansi dapat terjadi selama proses pengelolaan. Sebelum menjadi tumbuhan baru. endosperm.

Air dan gas akan lebih cepat masuk ke dalam benih karena kulitbenih yang permeabel. Kulit benih yang permeable memungkinkan air dan gas dapat masuk ke dalam benih sehingga proses imbibisi dapat terjadi. Skarifikasi (pelukaan kulit benih) adalah cara untuk memberikan kondisi benih yang impermeabel menjadi permeabel melalui penusukan. Penghambat dari perkecambahan itu sendiri salah satunya tebalnya kulit biji dan kerasnya kulit biji. Bila endosperma telah terbuka. kertas. amplas. Perkecambahan merupakan suatu proses awal aktifnya suati embrio yang menyebabkan pecahnya kulit biji dan menghasilkan tanaman baru yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisinya sendiri.pengikiran. jarum. Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perlakuan awal pada benih yang ditujukan untuk mematahkan dormansi dan mempercepat terjadinya perkecambahan benih yang seragam. hari ke 7 sejumlah 1 biji berkecambah dan hari ke 8 sejumlah 3 biji berkecambah. dan penggoresan dengan bantuan pisau. Air yang masuk ke dalam benih menyebabkan prosesmetabolisme dalam benih berjalan lebih cepat akibatnya perkecambahan yangdihasilkan akan semakin baik. namun pengamplasan tidak boleh mengenai mikrofil sebagai jalan masuk radikula dalam melakukan perkecambahan. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diketahui biji kelengkeng mengalami pemecahan dormansi terbesar adalah dengan pengampelasan. pembakaran. Sedangkan biji berkecambah paling lambat dan sedikit berkecambah diantara semuanya adalah biji dengan perlakuan perendaman air dengan data yakni. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji.6 sejumlah 1 biji. pemotong kuku. perlakuan pengampelasan biji yang berkecambah sejumlah 5 biji. Pengamplasan dilakukan hingga permukaan kulit biji asam yang keras terkikis dan endosperma biji terlihat. hari ke 7 sejumlah 2 biji dan hari ke 8 sejumlah 2 biji berkecambah. Hal tersebut dapat dibuktikan berdasarkan data yang telah disajikan yakni. Biji kelengkeng berkecambah paling efektif dan banyak biji berkecambah paling banyak yakni dengan perlakuan fisika (pengampelasan). Benih yang diskarifikasi akan menghasilkan proses imbibisi yang semakin baik. sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi biji. Biji berkecambah tercepat urutan kedua adalah perlakuan perendaman Asam sulfat (H2SO4) yakni. dan alat lainnya. maka biji akan mengalami imbibisi (peristiwa masuknya air ke dalam biji) dan oksigen akan masuk sehingga biji menjadi aktif melakukan metabolisme untuk menghasilkan energi (ATP) yang digunakan untuk mengaktifkan enzim . perendaman Asam sulfat sejumlah 4 biji berkecambah dan perendaman air sejumlah 3 biji berkecambah. Biji berkecambah paling cepat pada perlakuan biji yang diampelas yakni. hari ke. pemecahan. hari ke 9 sejumlah 2 biji berkecambah dan hari ke 10 sejumlah 1 biji berkecambah.

Yuniarti (2015) menyatakan bahwa perendaman benih di dalam zat kimia harus selalu diikuti dengan pencucian benih dengan menggunakan air mengalir selama 5-10 menit. Menurut Sutopo (2004) mengatakan bahwa beberapa jenis benih terkadang diberi perlakuan perendaman dalam air dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh benih. Pengangkutan air dan oksigen tersebut dapat menyebabkan biji menjadi aktif dan metabolisme berjalan. Dengan demikian kulit benih yang menghalangi penyerapan air menjadi lisis dan melemah. Inhibisi air masuk enzim terangsang dan dapat memicu perkecambahan. . Dengan pencucian ini selain sisa- sisa zat kimia yang digunakan. hal tersebut dikarenakan kulit biji yang keras saat direndam air dapat masuk ke dalam biji. Hal tersebut berperan dalam menghilangkan sisia-sisa penghambat perkecambahan yang ada pada biji. Selain itu juga digunakan untuk pencucian benih sehingga benih terbebas dari patogen yang menghambat perkecambahan benih. biji dicuci dengan air. Berdasarkan analisis diatas dapat diketahui bahwa perlakuan pada biji kelengkeng cara fisika (diampelas) memiliki kecepatan dan jumlah biji berkecambah lebih banyak dibandingkan dengan cara kimia (direndam pada larutan H2SO4) dan perendaman air. Proses respirasi tersebut menghasilkan ATP yang digunakan untuk mengaktifkan enzim-enzim seperti selulase dan pektinase sehingga perkecambahan akan berlangsung dan dormansi berakhir. hal ini dikarenakan pada saat percobaan kami menggunakan biji kelengkeng yang dimungkinkan memiliki umur biji yang berbeda dan faktor internal yang menghambat. Setelah perendaman. direndam dengan H2SO4 dan direndam air tidak 100% tumbuh semuanya. Pada perlakuan perendaman biji kelengkeng kedalam Asam sulfat (H2SO4) menunjukkan jumlah biji berkecambah sejumlah 4 biji. Namun perendaman air tidak seefektif dan secepat perlakuan lainnya dikarena biji memiliki kulit atau karpel yang tetap keras dan tidak berubah. Biji yang diberi perlakuan berupa perendaman dalam air dapat berkecambah.selulose dan pektinase untuk memecah selulosa dan protein sehingga pematahan dapat berlangsung dan biji dapat berkecambah. Masih lebih sedikit dengan selisih 1 biji dibandingkan dengan pengampelasan. Perendaman tersebut berfungsi untuk melisis permukaan kulit biji yang keras agar dapat permeabel terhadap air dan oksigen. zat penghambat pertumbuhan yang mungkin ada akan ikut terbuang. Tetapi hasil dari biji yang diamplas. Karena biji kelengkeng tidak sekeras biji salak sehingga dimungkinkan air masih dapat masuk. misalnya respirasi.

BAB V PENUTUP 5. . sabar dan teliti. 5.  Perlakuan tercepat dan terbanyak biji yang berkecambah adalah perlakuan fisika (mengampelas) dibandingkan kedua perlakuan direndam dalam asam sulfat (H2SO4) dan yang hanya dibilas dengan air. pengampelasan dilakukan pada biji hingga endosperma biji terlihat tanpa mengenai mikrofil biji. yakni sejumlah 5 biji berkecambah selama 14 hari.2 Saran Dalam melakukan perlakuan terhadap biji berkulit keras atau berkarpel keras dilakukan secara hati-hati. Terutama dalam melakukan pengampelasan.1 Simpulan  Terdapat pengaruh berbagai macam perlakuan terhadap kecepatan dan perkecambahan biji berkulit keras (kelengkeng).

id/files/2012/04/JURNAL- APRILIA-ARTHA-ATIKA-SARI. Dkk.ub. Sastamidharja. Dardjat dan Arbayah Siregar. Hlm 1433-1437. Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. 2015.staff.ac. L. Bandung : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sari Aprilia.Atika. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. F. No 6. 2011. . CV Rajawali. Plant Physiology. California. Yuniarti. 1992. Fisiologi Tumbuhan. Pengaruh Kedalaman Tanam Benih Terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Bibit Durian (Durio zibethinus). 2004. 1996. Jakarta. ” Teknik pematahan dormansi untuk mempercepat perkecambahan benih kourbaril (Hymenaea courbaril)” dalam PROS SEM NAS MASY BIODIV INDO. DAFTAR PUSTAKA Salisbury. Dharmawati. C. & Ross. Sasmitamihardja. Sutopo. Naning dan D. Fisiologi Tumbuhan. Dardjat. Artikel Ilmiah (Online).pdf). L. W. Vol 1. 1996. B. Diunduh (http://pustakapertanianub. 2002. Wadsworth Publishing co. Teknologi Benih. Sutopo. A . Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.