You are on page 1of 6

Apa yang menyebabkan air ketuban yang pecahitukental

,
berbaudanberwarnakehijauandanbagaimanmekanismenya?
Air ketuban yang pecah itu kental berbau dan berwarna kehijauan disebabkan karena
ketuban yang pecah lama lebih dari 18 jam atau sudah 4 hari yang lalu sebelum
melahirkan. Ketuban yang pecah lama memungkinkan kolonisasi bakteri yang
didapat dari vagina dan sekitarnya dapat naik ke uterus sehingga dapat menginfeksi
korion, amnion, dan cairan ketuban.

Apapenanganan yang harusdiberikansaatketubanpecahdini?
Penatalaksanaan KPD memerlukan pertimbangan usia kehamilan, adanya infeksi pada
komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan. Penanganan ketuban pecah dini
menurut Sarwono (2010), meliputi :

a. Konservatif

1) Pengelolaan konserpatif dilakukan bila tidak ada penyulit (baik pada ibu maupun
pada janin) dan harus di rawat dirumah sakit.
2) Berikan antibiotika (ampicilin 4 x 500 mg atau eritromicin bila tidak tahan ampicilin)
dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari.

3) Jika umur kehamilan <32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar, atau
sampai air ketuban tidak keluar lagi.
4) Jika usia kehamilan 32-27 minggu, belum in partu, tidak ada infeksi, tes buss negativ
beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin, terminasi
pada kehamilan 37 minggu.

5) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan tokolitik
(salbutamol), deksametason, dan induksi sesudah 24 jam.

6) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan induksi.
7) Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intra uterin).

8) Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memicu kematangan paru
janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu.

Mempertahankan kehamilan sampai cukup bulan khususnya maturitas paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru yang sehat. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari. induksi persalinan. partus pervaginam Penatalaksanaan KPD menurut Manuaba (2009) tentang penatalaksanaan KPD adalah : a. deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali. 3) Bila skor pelvik < 5. yaitu korioamnionitis yang menjadi pemicu sepsis. . Terjadi infeksi dalam rahim. Pemeriksaan yang penting dilakukan adalah USG untuk mengukur distansia biparietal dan perlu melakukan aspirasi air ketuban untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru. induksi dengan oksitosin. Pada umur kehamilan 24-32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin cukup. Aktif 1) Kehamilan >37 minggu. b. Menghadapi KPD. Dan persalinan diakhiri. perlu dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan. dan persalinan prematuritas c. akhiri persalinan dengan seksio sesarea 4) Bila skor pelvik > 5. 2) Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi. sehingga kematangan paru janin dapat terjamin. Jika tidak berhasil. d. bila gagal seksio sesarea. dengan kemungkinan janin tidak dapat diselamatkan e. b. f. Dapat pula diberikan misoprostol 50 mg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali. Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid. lakukan pematangan servik. maningitis janin. kemudian induksi. diperlukan penjelasan terhadap ibu dan keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu dan mungkin harus mengorbankan janinnya.

Waktu terminasi pada kehamilan aterm dapat dianjurkan selang waktu 6-24 jam bila tidak terjadi his spontan Bagaimanainterpretasidaripemeriksaanfisik? Pada Kasus Keadaan Normal Interpretasi Berat Badan 3000 gr 2500 – 4000 gr Normal Panjang Badan 50 cm 48 – 52 cm Normal Lingkar Kepala 34 cm 33 – 35 cm Normal Tonus Hipoaktif Aktif Hipotoni RR 82 x/menit 40-60 x/menit Takipnea Retraksi Dada Abnormal Merintih Menangis Abnormal Suara Nafas Normal Normal Saturasi 75% > 88% Rendah Refleks Hisap Lemah Baik Abnormal HR 164 x/menit 120-170 x/menit Normal Bising Usus Normal Normal Mekoneum pada Abnormal tali pusat dan kulit Mekanisme Abnormal : 1. 2. sehingga bayi terlihat hipoaktif. Hipotoni Kebutuhan oksigen tidak terpenuhi akan menyebabkan kekurangan energi pada bayi. 3. g. Retraksi dinding dada dapat disebabkan oleh berkurangnya kadar oksigen sehingga bayi menggunakan otot-otot bantu nafas. Terdapat retraksi dinding dada. Tekipnea Bayi yang lahir mengalami bronkopneumonia sehingga bayi akan mengalami gangguan pernapasan yang bermanifestasi dalam bentuk takipnea (RR >60x/menit). dinding dada lebih besar untuk mencukupi kebutuhan oksigen. Normalnya pada bayi baru lahir tidak terlihat tarikan pada dinding dada. .

Merintih RDS pada bayi karena bronkopneumonia  bayi sulit bernapas  plica vokalis ditutup  udara tidak keluar  merintih. 5. Apabila mekonium dikeluarkan dalam waktu empat jam sebelum persalinan. kulit neonatus akan berwarna mekonium. Patofisiologi/Patogenesis . 6. Refleks hisap lemah Kebutuhan oksigen tidak terpenuhi akan menyebabkan kekurangan energi pada bayi. Mekonium pada tali pusat dan kulit Pengeluaran mekonium ke dalam air ketuban pada umumnya merupakan akibat dari keadaan hipoksia intrauterin dan atau gawat janin.4. Saturasi rendah Kekurangan oksigen yang mampu dibawa oleh darah ke seluruh tubuh akan menghasilkan nilai saturasi yang rendah. 7. sehingga terjadi hambatan refleks.

Komplikasi sepsis neonatorum .. dan osteomielitis adalah komplikasi yang jarang dari penyebaran infeksi hematologi (Bradley et.al. Komplikasi Komplikasi bronkopneumonia Komplikasi biasanya sebagai hasil langsung dari penyebaran bakteri dalam rongga thorax (seperti efusi pleura. empiema dan perikarditis) atau penyebaran bakteremia dan hematologi. artritis supuratif. Meningitis. 2011).

asidosis metabolik. koagulopati. hipoglikemia. perdarahan intrakranial dan pada sekitar 60 % keadaan syok septik akan menimbulkan komplikasi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS).Komplikasi sepsis neonatorum antara lain ialah meningitis. neonatus dengan meningitis dapat menyebabkan terjadinya hidrosefalus dan/atau leukomalasia periventrikular. seperti ketulian dan/atau toksisitas pada ginjal. disfungsi miokard. komplikasi akibat gejala sisa atau sekuele berupa defisit neurologis mulai dari gangguan perkembangan sampai dengan retardasi mental dan komplikasi kematian . gagal ginjal. Selain itu ada komplikasi yang berhubungan dengan penggunaan aminoglikosida.