You are on page 1of 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keperawatan merupakan suatu profesi yang memberikan pelayanan kesehatan
langsung baik kepada individu, keluarga dan masyarakat. Sebagai salah satu tenaga
profesi praktek keperawatan menggunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang
dapat dipertanggung jawabkan.
Dalam melakukan praktek keperawatan, perawat secara langsung berhubungan dan
berinteraksi kepada penerima jasa pelayanan, dan pada saat interaksi inilah sering timbul
beberapa hal yang tidak diinginkan baik disengaja maupun tidak disengaja. Kondisi
demikian inilah sering menimbulkan konflik baik pada diri pelaku dan penerima praktek
keperawatan.Oleh karena itu profesi keperawatan harus mempunyai standar profesi dan
aturan lainnya yang didasari oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya, guna memberi
perlindungan kepada masyarakat. Perat perawat pun diuji ketika berhadapan dengan
masalah dilema etik, untuk memutuskan mana yang benar dan salah.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana Teori Dasar Pembuatan Keputusan Etis?
1.2.2 Bagaimana Kerangka Pembuatan Keputusan?
1.2.3 Apa saja Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Etis Dalam Praktik Keperawatan?
1.2.4 Apa Konsep Moral Dalam Praktik Keperawatan?
1.2.5 Bagaimana Penyelesaian Dilema Etik?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk memenuhi tugas Etika dan Hukum Kesehatan
1.3.2 Untuk mengetahui tentang teori dasar pembuatan keputusan etis
1.3.3 Untuk mengetahui Kerangka Pembuatan Keputusan
1.3.4 Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan
Keputusan Etis Dalam Praktik Keperawatan?
1.3.5 Untuk mengetahui Konsep Moral Dalam Praktik Keperawatan?
1.3.6 Untuk mengetahui Penyelesaian Dilema Etik?

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Teori Dasar Pembuatan Keputusan Etis

Teori dasar atau prinsip etika merupakan penuntun untuk membuat keputusan etis
praktek profesional (Fry, 1991).Teori etik digunakan dalam pembuatan keputusan
bila terjadi konflik antara prinsip dan aturan. Ahli filsafat moral mengembangkan
beberapa teorietik. Teori tersebut diklasifikasikan menjadi teori teleology dan
teorideontologi (formalisme)

2.1.1 Teleologi

Teleologi (berasal dari bahasa Yunani,dari Telos,berarti akhir). Istilah teologi dan
utilitarianisme sering digunakan saling bergantian. Teleologi merupakan suatu
doktrin yang menjelaskan fenomena berdasarkan akibat yang dihasilkan atau
konsekuensi yang dapat terjadi.Pendekatan ini sering disebut dengan ungkapan
The End Justifies The Means atau makna dari suatu tindakan ditentukan oleh hasil
akhir yang terjadi.Teori ini menekankan pada pencapaian hasil akhir yang
terjadi.Pencapaian hasil dengan kebaikan maksimal dan ketidak baikan sekecil
mungkin bagi manusia (Kelly,1987). Teleologi dibedakan menjadi:

a) Rule utilitarianisme
Rule utilitarianisme berprinsip bahwa manfaat atau nilai dari suatu tindakan
bergantung pada sejauh mana tindakan tersebut memberikan kebaikan atau
kebahagiaan pada manusia.
b) Act utilitarianisme
Actutilitarianisme bersifat lebih terbatas,tidak melibatkan aturan-atur
umum,tapi berupaya menjelaskan pada suatu situasi tertentu dengan
pertimbangan tertentu terhadap tindakan apa yang dapat memberikan kebaikan
sebanyak-banyaknya atau ketidakbaikan sekecil-kecilnya pada individu,
contohnya bayi yang lahir cacat lebih baik diijinkan meninggal daripada
nantinya menjadi beban masyarakat.

2
2.1.2 Teori Deontologi (Formalisme)
Deontologi berasal dari bahasaYunani, deondeon yang berarti tugas, berprinsip
pada aksi atau tindakan. Menurut Kant,benar atau salah bukan ditentukan oleh hasil
akhir atau konsekuensi dari suatu tindakan,melainkan oleh nilai moralnya.
Perhatian difokuskan pada tindakan melakukan tanggung jawab moral yang dapat
menjadi penentu apakah suatu tindakan tersebut secara moral benar atau salah.
Kant berpendapat bahwa prinsip moral atau yang terkait dengan tugas harus
bersifat universal,tidak kondisional dan imperative.

Contohnya

Seorang perawat yang yakin bahwa klien harus diberi tahu tentang yang
sebenarnya terjadi walaupun hal itu sangat menyakitkan. Contoh lain seorang
perawat yang menolak membantu pelaksanaan abortus karena keyakinan agama
yang melarang tindakan membunuh. Secara luas teori ini dikembangkan menjadi
lima prinsip penting yaitu kemurahan hati, keadilan,otonomi, kejujuran
danketaatan(Fry,1991)

a) Kemurahan hati
Inti dari prinsip kemurahan hati (beneficence) adalah tanggung jawab
untuk melakukan kebaikan yang menguntungkan klien dan menghindari
perbuatan yang merugikan atau membahayakan klien.Prinsip ini seringkali
sulit diterapkan dalam praktik keperawatan.Perawat diwajibkan untuk
melaksanakan tindakan yang bermanfaat bagi klien,tetapi dengan
meningkatnya teknologi dalam sistem asuhan kesehatan,dapat juga merupakan
resiko dari suatu tindakan yang membahayakan.
Contohnya:
Seorang pasien mempunyai kepercayaan bahwa pemberian tranfusi darah
bertentangan dengan keyakinannya.Sebelum mengalami perdarahan yang
hebat akibat penyakit hati yang kronis.Sebelum kondisi klien bertambah
berat,klien sudah memberikan pernyataan tertulis kepada dokter bahwa ia tidak
mau dilakukan tranfusi darah.Pada suatu saat,kondisi pasien bertambah buruk
maka terjadi perdarahan hebat dan dokter menginstruksikan untuk

3
memberikan transfusi darah. Dalam hal ini,akhirnya tranfusi darah tidak
diberikan karena prinsip beneficence, walaupun pada saat bersamaan terjadi
penyalah gunaan prinsip maleficence.
Dengan majunya ilmu dan teknologi, konflik yang terjadi semakin tinggi.
Untuk itu perlu diterapkan system klarifikasi nila-nilai,yaitu suatu proses
ketika individu memperoleh jawaban terhadap situasi melalui proses
pengembangan nilai individu. Menurut Mergan (1989),proses penilaian
mencakup tujuh proses yang ditempatkan ke dalam tiga kelompok,:
1) Menghargai
a. Menjunjung dan menghargai keyakinan dan perilaku seseorang.
b. Menegaskan didepan umum jika diperlukan.
2) Memilih
a. Memilih dari berbagai alternatif.
b. Memilih setelah mempertimbangkan konsekuensinya.
c. Memilih secara bebas.
3) Bertindak
a. Bertindak sesuai dengan pola,konsisten,dan repetisi(mengulang
yang telah disepakati).

Dengan menggunakan ketujuh langkah tersebut kedalam klasifikasi nilai-


nilai,perawat dapat menjelaskan nilai-nilai mereka sendiri dan dapat
mempertinggi pertumbuhan pribadinya. Langkah diatas dapat di terapkan
pada situasi-situasi klien, misalnya perawat dapat membantu klien
mengidentifikasi bidang konflik, memilih dan menentukan berbagai
alternatif,menetapkan tujuan dan melakukan tindakan.

b) Keadilan
Prinsip dari keadilan (Justice) menurut Beauchamp dan Chlidress adalah
mereka yang sederajat harus diperlakukan sederajat,sedangkan yang tidak
sederajat diperlakukan secara tidak sederajat,sesuai dengan kebutuhan
mereka. Ini berarti bahwa kebutuhan kesehatan mereka yang sederajat harus
menerima sumber pelayanan kesehatan dalam jumlah sebanding. Ketika
seseorang mempunyai kebutuhan kesehatan yang besar maka menurut
prinsip ini ia harus mendapatkan sumber kesehatan yang besar pula. Prinsip
4
ini memungkinkan dicapainya keadilan dalam pembagian sumber asuhan
kesehatan kepada klien secara adil sesuai kebutuhan.
Contoh:
Seorang perawat sedang bertugas sendirian disuatu unit Rumah Sakit,
kemudian ada seorang pasien baru masuk bersamaan dengan pasien yang
memerlukan bantuan perawat tersebut. Agar perawat tidak menghindar dari
satu pasien-pasien lainnya maka perawat seharusnya dapat
mempertimbangkan faktor-faktor dalam situasi tersebut, kemudian bertindak
berdasarkan pada prinsip keadilan.
c) Otonomi
Prinsip otonomi menyatakan bahwa setiap individu mempunyai
kebebasan untuk mentukan tindakan atau keputusan berdasarkan rencana yang
mereka pilih (Fry,1987).Masalah yang muncul dari penerapan prinsip ini
karena adanya variasi kemampuan otonomi klien yangdipengaruhi banyak hal
seperti: Tingkat kesadaran,Usia,Penyakit ,Lingkungan rumah sakit, Ekonomi,
dan tersedianya informasi.
d) Kejujuran
Prinsip kejujuran(veracity) menurut Veatch dan Fry (1987)
didefinisikan sebagai menyatakan hal yang sebenarnya dan tidak bohong.
Kejujuran harus dimiliki perawat saat berhubungan dengan klien merupakan
dasar Kejujuran merupakan dasar terbinanya hubungan saling percaya antara
perawat dan klien.
e) Ketaatan
Prinsip ketaatan (fidelity) didefinisikan oleh Fry sebagai tanggung
jawab untuk tetap setia pada suatu kesepakatan.Tanggung jawab dl kontek
hubungan perawat klien meliputi tangung jawab menjaga janji,
mempertahankan konfidensi,dan memberikan perhatian atau kepedulian.Peduli
kepada klien merupakan salah satu aspek dari prinsip keataatan.
Peduli kepada klien merupakan komponen paling penting dari praktik
keperawatan,terutama pada klien dalam keadaan terminal (Fry,1991). Rasa
kepedulian perawat diwujudkan dalam memberi perawatan dengan pendekatan
individual,bersikap baik kepada klien,memberikan kenyamanan,dan
menunjukkan kemampuan professional.
5
Dalam hubungan antara manusia,individu cenderunga tetap menepati
janji dan tidak melanggar kecuali,ada alasan demi kebaikan. Kesetiaan
perawat terhadap janji-janji tersebut mungkin tidakmengurangi penyakit atau
mencegah kematian,tetapi akan mempengaruhi kehidupan klien serta kualitas
hidupnya.

2.2 Kerangka Pembuatan Keputusan

Dalam membuat keputusan etis, ada beberapa unsur yang mempengaruhi yaitu nilai dan
kepercayaan pribadi,kode etik keperawatan,konsep moral perawat dan prinsip etis, dan
model kerangka keputusan etis.

Pengenalan Dilema Etika Keperawatan

Mengumpulkan Data Aktual yang Relavan

Menganalisis dan Mencari Kejelasan Individu yang Terlibat

Menkonsep dan Mengevaluasi Argumentasi untuk Setiap Isu dan


Membuat Alternatif

Mengambil Tindakan

Mengadakan Evaluasi

Gambar kerangka pembuatan keputusam

6
Berikut ini beberapa contoh model pengambilan keputusan etis keperawatan yang
dikembangkan olehThompson dan Jameton. Metode Jameton dapat digunakan untuk
menyelesaikan masalah etika keperawatan yang berkaitan dengan asuhan keperawatan
klien. Kerangka Jameton,sepertiyang ditulis oleh Fry (1991) adalah:

a) Model I terdiri dari enam tahap.


b) Model II terdiri dari tujuh tahap.
c) Model III yang merupakan keputusan bioetis.

Model I
Tahap Keterangan
1 Identfifikasi Masalah, Klasifikasi masalah dilihat dari konflik Hati nurani.
Perawat juga harus mengkaji keterlibatannya pada masalah etika yang
timbul dan mengkaji parameter waktu untuk pembuatan keputusan.Tahap
ini akan memberikan jawaban pada perawat terhadap pernyataan“hal
apakah yang membuat tindakan benar adalah benar”
2 Perawat harus mengumpulkan data tambahan.Informasi yang
dikumpulkan dalam tahap ini meliputi orang yang dekat dengan klien,
yang terlibat dalam membuat keputusan bagi klien,harapan atau
keinginan klien dan orang yang terlibat dalam pembuatan
keputusan.Perawat kemudian membuat laporan tertulis kisah dan konflik
yang terjadi.
3 Perawat harus mengidentifikasi semua pilihan atau Alternatif secara
terbuka kepada pembuat keputusan. Semua tindakan yang memungkinkan
harus terjadi, termasuk hasilyang mungkin diperoleh beserta
dampaknya.Tahap ini memberikan jawaban atas pertanyaan“Jenis
tindakan apa yang benar?”
4 Perawat harus memikirkan masalah etis secara berkesinambungan.Perawat
mempertimbangkan nilai dasar manusia yang penting bagi individu, nilai
dasar yang menjadi pusat masalah dan prinsip etis yang dapat dikaitkan
dengan masalah.Tahap ini menjawab pertanyaan,“Bagaimana aturan
tertentu diterapkan pada situasi tertentu?”
5 Pembuat keputusan harus membuat keputusan. Pembuatan keputusan
memilih tindakan yang menurut keputusan mereka paling tepat.Tahapini
menjawab pertanyaan etika,“apa yang harus dilakukan pada situasi
tertentu?”
6 Tahap akhir adalah melakukan tindakan juga mengkaji Keputusan dan
hasil.

7
Model II

Tahap Keterangan
1 Mengenali dengan tajam masalah yang terjadi,apa intinya,apa
sumbernya,mengenali hakikat masalah.
2 Mengumpulkan data atau informasi yang berdasarkan fakta,meliputi
sumber data yang termasuk variabel masalah yang telah dianalisa
secara teliti.
3 Menganalisis data yang telah diperoleh dan menganalisis kejelasan
bagaimana orang yang terlibat, bagaimana kedalaman dan intensitas
keterlibatannya, relevansi keterlibatannya dengan masalah etika.

4 Berdasarkan analisis yang telah dibuat, mencari kejelasan konsep


etika yang relevan untuk penyelesaian masalah dengan
mengemukakan konsep filsafat yang mendasari etika maupun konsep
sosial budaya yang menentukan ukuran yang diterima.

5 Berdasarkan analisis yang telah dibuat, mencari kejelasan konsep


etika yang relevan untuk penyelesaian masalah dengan
mengemukakan konsep filsafat yang mendasari etika maupun konsep
sosial budaya yang menentukan ukuran yang diterima.

6 Mengambil tindakan,setelah semua alternatif diuji terhadap nilaiyang


ada didalam masyarakat dan ternyata dapat diterima masyarakat maka
pilihan tersebut dikatakan sah (valid) secara etis. Tindakan yang
dilakukanmenggunakan proses yang sistematis.

7 Langkah terakhir adalah mengevaluasi,apakah tindakan yang


dilakukan mencapai hasil yang diinginkan, mencapai tujuan
penyelesaian masalah.Bila belum berhasil harus mengkaji lagi hal-hal
apayang menyebabkan kegagalan dan menjadi umpan balik untuk
melaksanakan pemecahan/penyelesaian masalah secara ulang.

8
Model III

Tahap Keterangan
1. Tinjau ulang situasiyg dihadapiuntuk menentukan
2. Kumpulkan informasi tambahan untuk memperjelas situasi
3. Kumpulkan informasi tambahan untuk memperjelas situasi
4. Ketahui
masalah atau bedakan posisi
kesehatan, pribadi dan
keputusanyg posisi moralkomponen etis
dibutuhkan,
5. Identifikasi posisi moral dan keunikan individu yang berlainan.
individu /keunikan
6. Identifikasi konflik-konflik nilai bila ada.
7. Gali siapa yang harus membuat keputusan.
profesional.
8. Identifikasi rentang tindakan dan hasil yang diharapkan
9. Tentukan tindakan dan laksanakan
10. Evaluasi hasil dari keputusan/tindakan

Penyelesaian masalah etika keperawatan menjadi tanggung jawab perawat. Berarti


perawat melaksanakan norma yang diwajibkan dalam asuhan keperawatan, sedangkan
tanggung gugat adalah mempertanggung jawabkan kepada diri sendiri, kepada klien
atau masyarakat,kepada profesi atas segala tindakan yang diambil dalam
melaksanakan proses keperawatan dengan menggunakan dasar etika dan standar
keperawatan.

Kerangka pemecahan dilemma etik banyak diutarakan oleh para ahli dan pada
dasarnya menggunakan kerangka proses keperawatan atau Pemecahan masalah secara
ilmiah, antara lain:

1) Model Pemecahan masalah ( Megan,1989 )


Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilemma etik.
a) Mengkaji situasi.
b) Mendiagnosa masalah etik moral.
c) Membuat tujuan dan rencana pemecahan.
d) Melaksanakan rencana.
e) Mengevaluasi hasil.

9
2) Kerangka pemecahan dilemma etik (kozier&erb,1989)
a) Mengembangkan data dasar.
Untuk melakukan ini perawat memerlukan pengumpulan informasi sebanyak
mungkin meliputi:
 Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana
keterlibatannya.
 Apa tindakan yang diusulkan.
 Apa maksud dari tindakan yang diusulkan.
 Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang
diusulkan.
b) Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut.
c) Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan
dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut.
d) Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil
keputusan yang tepat.
e) Mengidentifikasi kewajiban perawat.
f) Membuat keputusan.
3) Model Murphy dan Murphy
a) Mengidentifikasi masalah kesehatan.
b) Mengidentifikasi masalah etik.
c) Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan.
d) Mengidentifikasi peran perawat.
e) Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanakan.
f) Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif
keputusan.
g) Memberikeputusan.
h) Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai dengan
falsafah umum untuk perawatan klien.
i) Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan
menggunakan informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan
berikutnya.

10
4) Model Curtin
a) Mengumpulkan berbagai latar belakang informasi yang menyebabkan
masalah.
b) Identifikasi bagian-bagian etik dari masalah pengambilan keputusan.
c) Identifikasi orang-orangyang terlibat dalam pengambilan keputusan.
d) Identifikasi semua kemungkinan pilihan dan hasil dari pilihan itu.
e) Aplikasi teori,prinsip dan peran etik yang relevan.
f) Memecahkan dilemma.
g) Melaksanakan keputusan.
5) ModelLevine –Ariffdan Gron
a) Mendefinisikan dilemma.
b) Identifikasi faktor-faktor pemberi pelayanan.
c) Identifikasi faktor-faktor bukan pemberi pelayanan.
- Pasien dan keluarga.
- Faktor-faktor eksternal.
d) Pikirkan faktor-faktor tersebut satu persatu.
e) Identifikasi item-item kebutuhan sesuai klasifikasi
f) Identifikasi pengambil keputusan.
g) Kaji ulang pokok-pokok dari prinsip-prinsip etik
h) Tentukan alternatif-alternatif.
i) Menindak lanjuti.
6) Langkah-langkahmenurut Purtilo danCassel (1981)
Purtilo dan cassel menyarankan empat langkah dalam membuat keputusan etik
a) Mengumpulkan data yang relevan.
b) Mengidentifikasi dilemma
c) Memutuskan apa yang harus dilakukan.
d) Melengkapi tindakan.
7) Langkah-langkah menurut Thompson &Thompson ( 1981) mengusulkan 10 langkah
model keputusan bioetis.
a) Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan,keputusan yang
diperlukan, komponenetis dan petunjuk individual.

11
b) Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi
c) Mengidentifikasi Issue etik
d) Menentukan posisi moral pribadi dan professional.
e) Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.
f) Mengidentifikasi konflik nilai yang ada.

2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Etis


Dalam Praktik Keperawatan
a) Faktor agama dan adat-isitiadat
Agama serta latar belakang adat istiadat merupakan factor utama dalam
membuat keputusan etis. Setiap perawat disarankan memahami nilai yang
diyakini maupun kaidah agama yang dianutnya. Sebagai negara berketuhanan,
segala kebikjakan atau aturan yang dibuat diupayakan tidak bertentangan dengan
aspek agama yang ada di Indonesia. Faktor adat istiadat yang dimiliki perawat
atau pasien sangat berpengaruh terhadap pembuatan keputusan etis tetapi kaitan
adat istiadat dan implikasi dalam keperawatan sampai saat ini belum tergali
jelas di Indonesia.
b) Faktor social
Berbagai factor social berpengaruh terhadap pembuatan keputusan etis.
Faktor ini meliputi perilaku social dan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi,
hukum dan peraturan perundang-undangan (Ellis, Hartley, 1980).
c) Faktor ilmu pengetahuan dan teknologi
Kemajuan di bidang kesehatan telah mampu meningkatkan kualitas hidup serta
memperpanjang usia manusia dengan ditemukannya berbagai mesin mekanik
kesehatan, cara prosedur baru, dan bahan atau obat baru. Misalnya, klien
dengan gangguan ginjal yang dapat diperpanjang usianya berkat adanya mesin
hemodialisis. Wanita yang mengalami kesulitan hamil dapat dibantu dengan
berbagai inseminasi.
d) Faktor legislasi dan keputusan yuridis
Perubahan social dan legislasi secara konstan saling berkaitan. Setiap
perubahan social atau legislasi menyebabkan timbulnya suatu tindakan yang
merupakan reaksi perubahan tersebut. Legislasi merupakan jaminan tindakan

12
menurut hukum, sehingga oprang yang bertindak tidak sesuai hokum dapat
menimbulkan suatu konflik (Ellis, Hartley, 1990).
e) Faktor dana/keuangan
Dana atau keuangan untuk membiayai pengobatan dan perawatan dapat
menimbulkan konflik. Walaupun pemerintah telah mengalokasikan dana yang
besar untuk pembangunan kesehatan, dana ini belum seluruhnya dapat
mengatasi berbagai masalah kesehatan sehingga partisipasi swasta dan
masyarakat banyak digalakkan. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang setiap hari
menghadapi klien, sering menerima keluhan klien mengenai pendanaan. Dalam
daftar kategori diagnosis keperawatan tidak ada pernyataan yang menyatakan
ketidakcukupan dana, tetapi hal ini dapat menjadi etiologi bagi berbagai diagnosis
keperawatan, anatara lain ansietas dan ketidakpatuhan
f) Faktor pekerjaan/posisi klien maupun perawat
Dalam pembuatan suatu keputusan, perawat perlu mempertimbangkan posisi
pekerjaannya. Sebagian besar perawat bukan merupakan tenaga yang praktek
sendiri, tetapi bekerja di rumah sakit, dokter praktek swasta, atau institusi
kesehatan lainnya. Tidak semua keputusan pribadi perawat dapat dilaksanakan,
namun harus disesuaikan dengan keputusan atau aturan tempat ia bekerja. Perawat
yang mengutamakan kepentingan pribadi sering mendapat sorotan sebagai
perawat pembangkang. Sebagai konsekuensinya, ia dapat mendapat sanksi
administrasi atau mungkin kehilangan pekerjaan.
2.4 Konsep Moral Dalam Praktik Keperawatan
Beberapa dasar penting dalam praktik keperawatan antara lain:
a) Advokasi
Istilah advokasi sering di gunakan dalam konteks hukum yang berkaitan
dengan upaya melindungi hak manusia bagi mereka yang tidak mampu
membela diri. Arti advokasi menurut ANA (1985) adalah melindungi klienatau
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan praktik tidak syah yang
tidak kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapapun.
Fry (1987) mendefinisikan advokasi sebagai dukungan aktif terhadap setiap
hal yang memiliki penyebab atau dampak penting. Gadow (1983) advokasi
merupakan dasar falsafah dan ideal keperawatan yang melibatkan bantuan perawat
secara aktif kepada individu secara bebas menentukan nasibnya sendiri. Pada
13
dasarnya, peran perawat sebagai advokat klien adalah memberi informasi dan
memberi bantuan kepada klien atas keputusan apapun yang di buat klien, memberi
informasi berarti menyediakan penjelasan atau informasi sesuai yang di butuhkan
klien, memberi bantuan mengandung dua peran yaitu peran aksi dan non aksi.
b) Responsibilitas dan Akuntabilitas
Responsibilitas (tanggung jawab) adalah eksekusi terhadap tugas-tugas
yang berhubungan dengan peran tertentu dari perawat. Perawat yang selalu
bertanggung jawab dalam melakukan tindakannya akan mendapatkan kepercayaan
dari klien atau dari profesi lainnya. Perawat yang bertanggung jawab akan
tetap kompeten dalam pengetahuan dan ketrampilannya serta selalu menunjukkan
keinginan untuk bekerja berdasarkan kode etik profesinya.
Akuntabilitas (tanggung gugat) mengandung arti mempertanggung
jawabkan suatu tindakan yang dilakukan, dan dapat menerima konsekuensi dari
tindakan tersebut (Kozier, Erb, 1991). Fry (1990) menyatakan bahwa akuntabilitas
mengandung dua komponen utama yaitu tanggung jawab dan tanggung gugat.
Perawat bertanggung bjawab terhadap dirinya sendiri, klien profesi, sesame
karyawan, dan masyarakat.
c) Loyalitas
Loyalitas merupakan suatu konsep yang meliputi simpati, peduli,
dan hubungan timbale balik terhadap pihak secara professional berhubungan
dengan perawat. Hubungan professional di pertahankan dengan cara menyusun
tujuan bersama, menepati janji, menetukan masalah dan prioritas, serta
mengupayakan pencapaian kepuasan bersama( Jameton, 1984, Fry , 1991).
Untuk mencapai kualitas asuhan keperawatan yang tinggi dan hubungan dengan
berbagai pihak yang harmonis, Loyalitas harus di pertahankan oleh setiap perawat
baik loyalitas kepada klien, teman sejawat, rumah sakit maupun profesi. Untuk
mewujudkan ini, AR. Tabbner (1981: lihat Cresia,1991) mengajikan berbagai
argumentasi:
1) Masalah klien tidak boleh di diskusikan oleh klien lain dan perawat
harus bijaksana bila informasi dari klien harus didiskusikan secara
professional.
2) Perawat harus menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat
3) Perawat harus menghargai dan member bantuan kepada teman sejawat
14
4) Pandangan masyarakat terhadap profesi keperawatan di tentukan oleh
kelakuan anggota profesi (perawat). Perawat harus menunjukkan loyalitasnya
terhadap profesi dengan berperilaku secara tepat pada saat betugas.

Contoh Pengambilan Keputusan : Eutanasia

Kata eutanasia berasal dari bahasa Yunani yaitu "eu" (= baik) and
"thanatos" (maut, kematian) yang apabila digabungkan berarti "kematian
yang baik". Hippokrates pertama kali menggunakan istilah "eutanasia" ini pada
"sumpah Hippokrates" yang ditulis pada masa 400-300 SM. Sumpah tersebut
berbunyi: "Saya tidak akan menyarankan dan atau memberikan obat yang
mematikan kepada siapapun meskipun telah dimintakan untuk itu". Dalam
sejarah hukum Inggris yaitu common law sejak tahun 1300 hingga saat "bunuh
diri" ataupun "membantu pelaksanaan bunuh diri" tidak diperbolehkan Ditinjau
dari sudut maknanya maka eutanasia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu
eutanasia pasif, eutanasia agresif dan eutanasia non
agresif Eutanasia agresif : atau suatu tindakan eutanasia aktif yaitu suatu tindakan
secara sengaja yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lain untuk
mempersingkat atau mengakhiri hidup si pasien. Misalnya dengan memberikan
obat-obatan yang mematikan seperti misalnya pemberian tablet sianida atau
menyuntikkan zat-zat yang mematikan ke dalam tubuh pasien.

Eutanasia non agresif : atau kadang juga disebut autoeuthanasia (eutanasia


otomatis)yang termasuk kategori eutanasia negatif yaitu dimana seorang pasien
menolak secara tegas dan dengan sadar untuk menerima perawatan medis
dan sipasien mengetahui bahwa penolakannya tersebut akan memperpendek atau
mengakhiri hidupnya. Dengan penolakan tersebut ia membuat sebuah "codicil"
(pernyataan tertulis tangan). Autoeutanasia pada dasarnya adalah suatu praktek
eutanasia pasif atas permintaan.

Eutanasia pasif : juga bisa dikategorikan sebagai tindakan eutanasia negatif


dimana tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk
mengakhiri kehidupan si sakit. Tindakan pada eutanasia pasif ini adalah dengan
secara sengaja tidak (lagi) memberikan bantuan medis yang dapat
memperpanjang hidup pasien. Misalnya tidak memberikan bantuan oksigen bagi
15
pasien yang mengalami kesulitan dalam pernapasan atau tidak memberikan
antibiotika kepada penderita pneumonia berat ataupun meniadakan tindakan
operasi yang seharusnya dilakukan guna memperpanjang hidup pasien, ataupun
dengan cara pemberian obat penghilang rasa sakit seperti morfin walaupun
disadari bahwa pemberian morfin ini juga dapat berakibat ganda yaitu
mengakibatkan kematian. Eutanasia pasif ini seringkali secara terselubung
dilakukan oleh kebanyakan rumah sakit.

Penyalahgunaan eutanasia pasif bisa dilakukan oleh tenaga medis, maupun


pihak keluarga yang menghendaki kematian seseorang atau keputusasaan
keluargan karena ketidak sanggupan menanggung beban biaya pengobatan. Ini
biasanya terjadi pada keluarga pasien yang tidak mungkin untuk membayar
biaya pengobatannya, dan pihak rumah sakit akan meminta untuk dibuat
"pernyataan pulang paksa". Bila meninggal pun pasien diharapkan mati secara
alamiah. Ini sebagai upaya defensif medis.

Ditinjau dari sudut pemberian izin maka eutanasia dapat digolongkan


menjadi tiga yaitu :

a) Eutanasia diluar kemauan pasien: yaitu suatu tindakan eutanasia yang


bertentangan dengan keinginan si pasien untuk tetap hidup. Tindakan
eutanasia semacam ini dapat disamakan dengan pembunuhan.
b) Eutanasia secara tidak sukarela: Eutanasia semacam ini adalah yang
seringkali menjadi bahan perdebatan dan dianggap sebagai suatu tindakan
yang keliru oleh siapapun juga.Hal ini terjadi apabila seseorang yang tidak
berkompeten atau tidak berhak untuk mengambil suatu keputusan misalnya
statusnya hanyalah seorang wali dari si pasien (seperti pada kasus Terri
Schiavo). Kasus ini menjadi sangat kontroversial sebab beberapa orang
wali mengaku memiliki hak untuk mengambil keputusan bagi si pasien.
c) Eutanasia secara sukarela : dilakukan atas persetujuan si pasien sendiri,
namun hal ini juga masih merupakan hal kontroversial.

16
Beberapa tujuan pokok dari dilakukannya eutanasia antara lain yaitu :

a) Pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing).


b) Eutanasia hewan.
c) Eutanasia berdasarkan bantuan dokter, ini adalah bentuk
lain daripada eutanasia agresif secara sukarela.

Eutanasia di berbagai Negara

1) Amerika
Eutanasia agresif dinyatakan ilegal dibanyak negara bagian di Amerika.
Saat ini satu-satunya negara bagian di Amerika yang hukumnya secara
eksplisit mengizinkan pasien terminal (pasien yang tidak mungkin lagi
disembuhkan) mengakhiri hidupnya adalah negara bagian Oregon, yang pada
tahun 1997 melegalisasikan kemungkinan dilakukannya eutanasia dengan
memberlakukan UU tentang kematian yang pantas (Oregon Death with
Dignity Act)[8]. Tetapi undang-undang ini hanya menyangkut bunuh diri
berbantuan, bukan euthanasia. Syarat-syarat yang diwajibkan cukup ketat,
dimana pasien terminal berusia 18 tahun ke atas boleh minta bantuan untuk
bunuh diri, jika mereka diperkirakan akan meninggal dalam enam bulan dan
keinginan ini harus diajukan sampai tiga kali pasien, dimana dua kali secara
lisan (dengan tenggang waktu 15 hari di antaranya) dan sekali secara tertulis
(dihadiri dua saksi dimana salah satu saksi tidak boleh memiliki
hubungan keluarga dengan pasien). Dokter kedua harus
mengkonfirmasikan diagnosis penyakit dan prognosis serta memastikan
bahwa pasien dalam mengambil keputusan itu tidak berada dalam keadaan
gangguan mental.Hukum juga mengatur secara tegas bahwa keputusan pasien
untuk mengakhiri hidupnya tersebut tidak boleh berpengaruh terhadap
asuransi yang dimilikinya baik asuransi kesehatan, jiwa maupun kecelakaan
ataupun juga simpanan hari tuanya.
Belum jelas apakah undang-undang Oregon ini bisa dipertahankan di masa
depan, sebab dalam Senat AS pun ada usaha untuk meniadakan UU negara
bagian ini. Mungkin saja nanti nasibnya sama dengan UU Northern Territory
di Australia. Bulan Februari lalu sebuah studi terbit tentang pelaksanaan UU

17
Oregon selama tahun 1999. Sebuah lembaga jajak pendapat terkenal yaitu
Poling Gallup (Gallup Poll) menunjukkan bahwa 60% orang Amerika
mendukung dilakukannya euthanasia.
2) Belanda
Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-undang yang
mengizinkan eutanasia, undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak
tanggal 1 April 2002 , yang menjadikan Belanda menjadi negara pertama di
dunia yang melegalisasi praktik eutanasia. Pasien-pasien yang mengalami
sakit menahun dan tak tersembuhkan, diberi hak untuk mengakhiri
penderitaannya. Tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam Kitab Hukum Pidana
Belanda secara formal euthanasia dan bunuh diri berbantuan masih
dipertahankan sebagai perbuatan kriminal. Sebuah karangan berjudul "The
Slippery Slope of Dutch Euthanasia" dalam majalah Human Life
International Special Report Nomor 67, November 1998, halaman 3
melaporkan bahwa sejak tahun 1994 setiap dokter di Belanda dimungkinkan
melakukan eutanasia dan tidak akan dituntut di pengadilan asalkan mengikuti
beberapa prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur tersebut adalah
mengadakan konsultasi dengan rekan sejawat (tidak harus seorang
spesialis) dan membuat laporan dengan menjawab sekitar 50 pertanyaan.
Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur kewajiban
para dokter untuk melapor semua kasus eutanasia dan bunuh diri berbantuan.
Instansi kehakiman selalu akan menilai betul tidaknya prosedurnya. Pada
tahun 2002, sebuah konvensi yang berusia 20 tahun telah dikodifikasi oleh
undang-undang belanda, dimana seorang dokter yang melakukan eutanasia
pada suatu kasus tertentu tidak akan dihukum.
3) Belgia
Parlemen Belgia telah melegalisasi tindakan eutanasia pada akhir
September 2002. Para pendukung eutanasia menyatakan bahwa ribuan
tindakan eutanasia setiap tahunnya telah dilakukan sejak dilegalisasikannya
tindakan eutanasia dinegara ini, namun mereka juga mengkritik sulitnya
prosedur pelaksanaan eutanasia ini sehingga timbul suatu kesan adaya upaya
untuk menciptakan "birokrasi kematian". Belgia kini menjadi negara ketiga
yang melegalisasi eutanasia ( setelah Belanda dan negara bagian Oregon
18
di Amerika). Senator Philippe Mahoux, dari partai sosialis yang merupakan
salah satu penyusun rancangan undang-undang tersebut menyatakan bahwa
seorang pasien yang menderita secara jasmani dan psikologis adalah
merupakan orang yang memiliki hak penuh untuk memutuskan kelangsungan
hidupnya dan penentuan saat-saat akhir hidupnya.
4) Inggris
Pada tanggal 5 November 2006, Kolese Kebidanan dan Kandungan Britania
Raya (Britain's Royal College of Obstetricians and Gynaecologists)
mengajukan sebuah proposal kepada Dewan Bioetik Nuffield (Nuffield
Council on Bioethics) agar dipertimbangkannya izin untuk melakukan
eutanasia terhadap bayi-bayi yang lahir cacat (disabled newborns). Proposal
tersebut bukanlah ditujukan untuk melegalisasi eutanasia di Inggris
melainkan semata guna memohon dipertimbangkannya secara saksama dari
sisi faktor "kemungkinan hidup si bayi" sebagai suatu legitimasi praktek
kedokteran.
Namun hingga saat ini eutanasia masih merupakan suatu tindakan melawan
hukum di kerajaan Inggris demikian juga di Eropa (selain daripada Belanda).
Demikian pula kebijakan resmi dari Asosiasi Kedokteran Inggris (British
Medical Association-BMA) yang secara tegas menentang eutanasia dalam
bentuk apapun juga.
5) Indonesia
Berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia adalah sesuatu
perbuatan yang melawan hukum, hal ini dapat dilihat pada peraturan
perundang-undangan yang ada yaitu pada Pasal 344 Kitab Undang- undang
Hukum Pidana yang menyatakan bahwa ”Barang siapa menghilangkan nyawa
orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata
dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun”. Juga
demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345, dan
359 KUHP yang juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam
perbuatan eutanasia. Dengan demikian, secara formal hukum yang berlaku di
negara kita memang tidak mengizinkan tindakan eutanasia oleh
siapa pun. Ketua umum pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Farid
Anfasal Moeloek dalam suatu pernyataannya yang dimuat oleh majalah
19
Tempo Selasa 5 Oktober 2004 menyatakan bahwa : Eutanasia atau
"pembunuhan tanpa penderitaan" hingga saat ini belum dapat diterima dalam
nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. "Euthanasia
hingga saat ini tidak sesuai dengan etika yang dianut oleh bangsa dan
melanggar hukum positif yang masih berlaku yakni
KUHP Eutanasia menuruit pandangan agama.
a. Agama Islam
Seperti dalam agama-agama Ibrahim lainnya (Yahudi dan Kristen),
Islam mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut
merupakan anugerah Allah kepada manusia. Hanya Allah yang dapat
menentukan kapan seseorang lahir dan kapan ia mati (QS 22: 66; 2: 243).
Oleh karena itu, bunuh diri diharamkan dalam hukum Islam meskipun
tidak ada teks dalam Al Quran maupun Hadis yang secara eksplisit
melarang bunuh diri. Kendati demikian, ada sebuah ayat yang
menyiratkan hal tersebut, "Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah,
dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan
berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
berbuat baik."(QS 2: 195), dan dalam ayat lain disebutkan, "Janganlah
engkau membunuh dirimu sendiri," (QS 4: 29), yang makna langsungnya
adalah "Janganlah kamu saling berbunuhan."Dengan demikian, seorang
Muslim (dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien)
disetarakan dengan membunuh dirinya sendiri.[25] Eutanasia dalam
ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al- maut (eutanasia), yaitu
suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa
merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan
penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif. Pada
konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981,
dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan
dilakukannya eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan
(mercy killing) dalam alasan apapun juga Ketua Komisi Fatwa MUI
mengeluarkan fatwa yang haram tindakan Euthanasia (tindakan
mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat). "Euthanasia itu
kan pembunuhan," kata KH Ma`ruf Amin Ketua Komisi Fatwa Majelis
20
Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin mengatakan MUI telah
lama mengeluarkan fatwa yang mengharamkan dilakukannya tindakan
Euthanasia (tindakan mematikan orang untuk meringankan penderitaan
sekarat). "Euthanasia, menurut fatwa kita tidak diperkenankan, karena
itu kan melakukan pembunuhan," kata KH Ma`ruf Amin di Jakarta,
Jumat (22/10).
Euthanasia dalam keadaan aktif maupun dalam keadaan pasif,
menurut fatwa MUI, tidak diperkenankan karena berarti melakukan
pembunuhan atau menghilangkan nyawa orang lain. Lebih lanjut, KH
Ma'ruf Amin mengatakan, euthanasia boleh dilakukan dalam kondisi pasif
yang sangat khusus.
Kondisi pasif tersebut, dimana seseorang yang tergantung oleh alat
penunjang kehidupan tetapi ternyata alat tersebut lebih dibutuhkan oleh
orang lain atau pasien lain yang memiliki tingkat peluang hidupnya lebih
besar, dan pasien tersebut keberadaannya sangat dibutuhkan oleh
masyarakat. Sedangkan, kondisi aktif adalah kondisi orang yang tidak
akan mati bila hanya dicabut alat medis perawatan, tetapi memang harus
dimatikan.
Mengenai dalil atau dasar fatwa MUI tentang pelarangan
"euthanasia", dia menjelaskan dalilnya secara umum yaitu tindakan
membunuh orang dan karena faktor keputusasaan yang tidak
diperbolehkan dalam Islam. Dia mengungkapkan, dasar pelarangan
euthanasia memang tidak terdapat secara spesifik dalam Al Quran
maupun Sunnah Nabi. "Hak untuk mematikan seseorang ada pada Allah
SWT," ujarnya menambahkan. Ketua komisi fatwa MUI itu
mengatakan, MUI akan menjelaskan dan mengeluarkan fatwa
pelarangan euthanasia tersebut, apabila Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
atau institusi lainnya menanyakan kepada MUI. Dia menjelaskan, kasus
permohonan euthanasia memang belum pernah terjadi di Indonesia, tetapi
MUI telah menetapkan fatwa pelarangan tersebut setelah melakukan
diskusi dan pembahasan tentang permasalahan euthanasia yang terjadi di
luar negeri.

21
b. Agama Kristen
Gereja Protestan terdiri dari berbagai denominasi yang mana
memiliki pendekatan yang berbeda-beda dalam pandangannya terhadap
eutanasia dan orang yang membantu pelaksanaan eutanasia. Beberapa
pandangan dari berbagai denominasi tersebut misalnya:
Gereja Methodis (United Methodist church) dalam buku ajarannya
menyatakan bahwa : " penggunaan teknologi kedokteran untuk
memperpanjang kehidupan pasien terminal membutuhkan suatu keputusan
yang dapat dipertanggung jawabkan tentang hingga kapankah peralatan
penyokong kehidupan tersebut benar-benar dapat mendukung kesempatan
hidup pasien, dan kapankah batas akhir kesempatan hidup tersebut".
Gereja Lutheran di Amerika menggolongkan nutrisi buatan dan
hidrasi sebagai suatu perawatan medis yang bukan merupakan suatu
perawatan fundamental. Dalam kasus dimana perawatan medis tersebut
menjadi sia-sia dan memberatkan, maka secara tanggung jawab moral
dapat dihentikan atau dibatalkan dan membiarkan kematian terjadi.
Seorang kristiani percaya bahwa mereka berada dalam suatu posisi
yang unik untuk melepaskan pemberian kehidupan dari Tuhan karena
mereka percaya bahwa kematian tubuh adalah merupakan suatu awal
perjalanan menuju ke kehidupan yang lebih baik. Lebih jauh lagi,
pemimpin gereja Katolik dan Protestan mengakui bahwa apabila tindakan
mengakhiri kehidupan ini dilegalisasi maka berarti suatu pemaaf untuk
perbuatan dosa, juga dimasa depan merupakan suatu racun bagi dunia
perawatan kesehatan, memusnahkan harapan mereka atas
pengobatan. Sejak awalnya, cara pandang yang dilakukan kaum kristiani
dalam menanggapi masalah "bunuh diri" dan "pembunuhan berdasarkan
belas kasihan (mercy killing) adalah dari sudut "kekudusan kehidupan"
sebagai suatu pemberian Tuhan. Mengakhiri hidup dengan alasan apapun
juga adalah bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian tersebut.

22
2.5 Penyelesaian Dilema Etik
Kerangka pemecahan dilema etik, menurut kozier and Erb (1989)
1) Mengembangkan Data Dasar
a) Orang-orang yang terlibat dalam dilema etik tersebut : klien, suami,
anak, perawat, rohaniawan.
b) Tindakan yang diusulkan.
Sebagai klien dia mempunyai otonomi untuk membiarkan penyakitnya
menggerogoti tubuhnya walaupun sebenarnya bukan hal itu yang di
inginkannya. Dalam hal ini, perawat mempunyai peran dalam pemberi
asuhan keperawatan, peran advocad (pendidik) serta sebagai konselor yaitu
membela dan melindungi ibu tersebut untuk hidup dan menyelamatkan
jiwanya dari ancaman kematian.
c) Maksud dari tindakan
Dengan memberikan pendidikan, konselor, advokasi di harapkan klien mau
menjalani operasi serta dapat membuat keputusan yang tepat terhadap masalah
yang saat ini dihadapi.
d) Konsekuensi tindakan yang diusulkan
Operasi dilaksanakan
- Biaya
Biaya yang dibutuhkan klien cukup besar untuk dilaksanakannya
operasi.
- Psikososial
Pasien merasa bersyukur diberi umur yang panjang (bila operasi itu
lancar dan baik) namun klien juga dihadapkan pada kecemasan akan
kelanjutan hidupnya bila ternyata operasi itu gagal serta biaya-biaya yang
akan di keluarkan.
- Fisik
Klien mempunyai bentuk tubuh yang normal tidak terdapat pembesaran
dalam tubuhnya (perut) dan bila dibiarkan begitu saja cepat atau lambat
akan terjadilah kematian.

23
Bila operasi tidak dilaksanakan

- Biaya
Tidak mengeluarkan biaya apa-apa
- Psikososial
Klien dihadapkan pada suatu ancaman kematian terjadi kecemasan dan
rasa sedih dalam hatinya.
- Fisik
Timbulnya pembesaran di daerah abdomen
2) Identifikasi Konflik Akibat Situasi Tersebut
a) Untuk memutuskan apakah operasi dilakukan pada wanita tersebut, perawat
dihadapkan pada konflik tidak menghormati otonomi klien
b) Apabila tindakan operasi tidak di lakukan perawat dihadapkan pada konflik:
- Tidak melaksanakan sumpah profesi
- Tidak melaksanakan kode etik profesi dan prinsip-prinsip moral :
advokasi,benefesience, justice, avoiding, killing.
- Tidak melaksanakan perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan.
- Perasaan bersalah (quilty) akibat tidak melaksanakan tindakan operasi
yang memungkinkan timbulnya kematian

3) Tindakan Alternatif Terhadap Tindakan Yang Diusulkan

a) Mengusulkan dalam tim yang terlibat dalam masalah klien untuk dilakukannya
operasi, konsekuensi :Usul diterima atau ditolak aleh tim dan pihak yang terlibat
dalam penanganan klien.

- Mungkin klien secara psikologis akan menjadi lebih siap untuk


menghadapi tantangan akan kehidupan ini.

- Resiko pengeluaran biaya yang tak terduga/ tidak dapat diprediksi.

b) Mengangkat dilema etik ini kepada komisi etik keperawatan yang lebih tinggi
untuk mempertimbangkan apakah operasi ini dilakukan atau tidak konsekuensi:

- Mungkin memperoleh tanggapan yang memuaskan.

- Mungkin memperoleh tanggapan yang kurang memuaskan.


24
- Tidak tertutup kemungkinan untuk tidak di tanggapi sama sekali.

c) Meminta izin kepada pimpinan lembaga pelayanan kesehatan (klinik kesehatan)


untuk menyampaikan informasi mengenai kondisi klien yang sebenarnya.
Konsekuensi :

- Koordinator lembaga pelayanan menyetujui atau menolak.

- Klien meperoleh informasi dan dapat memahami kondisinya, serta dapat


mengambil sikap untuk memutuskan tindakan yang terbaik untuk dirinya.

- Kondisi psikologis klien lebih baik atau bertambah buruk karena responnya
terhadap informasi yang diperoleh.

4) Menetapkan Siapa Pembuat Keputusan

Pada kasus wanita tersebut merupakan masalah yang komplek dan rumit, membuat
keputusan dilakukan operasi atau tidak dapat diputuskan oleh pihak tertentu saja
tetapi harus diputuskan secara bersama-sama.

a) Pengambilan keputusan harus melibatkan tim yang terkait dan klien


b) Keputusan dibuat untuk :
- Pihak yang terkait dengan wanita tersebut untuk melakukan operasi atau
tidak.
- Klien, keputusan yang dibuat dapat memperoleh kepastian apakah
dilakukan operasi atau tidak.
c) kriteria penetapan siapa pembuat keputusan
- Tim
Kumpulan dari beberapa pihak yang berkepentingan dan yang paling
memahami kondisi fisik dan psikologis klien. Masalah yang dihadapi
Sangay komplek dan rumit yang tidak hanya memerlukan pertimbangan
ilmiah, tetapi juga pertimbangan etik sehingga pembuat keputusan
akan lebih bijaksana dilakukan oleh tim.
- Klien
Klien ádalah orang yang paling berkepentingan dalam pengambilan
keputusan yang dibuat oleh klien bisa berubah secara tiba-tiba yang akan
mempengaruhi keputusan tim.
25
- Keluarga
Keterlibatan keluarga dalam upaya penyelesaian masalah cukup menentukan
mengingat secara ekonomis klien masih Belem mendapatkan biaya
diperoleh darimana sehingga keluarga mempunyai peranan yang cukup
menemtukan masalah
d) Prinsip moral yang ditekankan berdasarkan prioritas dalam kasus ini :
- Otonomi
- Benefesiensi
- Justice
- avoiding killing
5) Mengidentifikasi Kewajiban Perawat
a. Menghindari klien dari ancaman kematian
b. Menghargai otonomi klien dan berusaha menyeimbangkan dengan
tanggung jawab pemberi pelayanan kesehatan
c. Menghindarkan klien dari tindakan yang tidak menguntungkan
bagi dirinya.
d. Melaksanakan prinsip-prinsip kode etik keperawatan
e. Membantu sistem pendukung yang terlibat
6) Membuat keputusan
Keputusan yang dapat diambil sesuai dengan hak otonomi klien dan dari
pertimbangan tim kesehatan, sebagai seorang perawat, keputusan yang
terbaik adalah dilakukan operasi berhasil atau tidak itu adalah kehendak yang
maha kuasa sebagai manusia setidaknya kita telah berusaha.

26
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Permasalahan etik dapat terjadi dalam dunia kesehatan yang melibatkan antara klien
dan perawat. Permasalahan bisa menyangkut penentuan antara mempertahankan hidup
dengan kebebasan dalam menentukan kematian. Dalam membuat keputusan terhadap
masalah etik, perawat dituntut dapat mengambil keputusan yang menguntungkan pasien
dan diri perawat dan tidak bertentang dengan nilai-nilai yang ada. Pengambilan
keputusan yang tepat diharapkan tidak ada pihak yang dirugikan sehingga semua merasa
nyaman dan mutu asuhan keperawatan dapat dipertahankan.

3.2 Saran

Dalam setiap pengambilan keputusan berdasarkan masalah etik yang muncul


hendaknya tenaga kesehatan khusunya bagi profesi perawat melakukan beberapa tahapan
atau pertimbangan yang lebih rinci sehingga dalam hal ini orientasi dalam asuhan
keperawatan yang diberikan tetap memenuhi standart asuhan keperawatan yang
berkualitas

27
28
29
30