You are on page 1of 1

Insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal kesulitan untuk memulai atau

mempertahankan tidur atau tidur non-restoratif yang berlangsung setidaknya satu bulan dan
menyebabkan gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi individu. Insomnia bukan suatu
penyakit, tetapi merupakan suatu gejala yang memiliki berbagai penyebab, seperti kelainan
emosional, kelainan fisik dan pemakaian obat-obatan. Insomnia dapat mempengaruhi tidak
hanya tingkat energi dan suasana hati tetapi juga kesehatan, kinerja dan kualitas hidup.

Insomnia dapat disebabkan oleh berbagai macam penyebab, antara lain stress, kecemasan,
depresi, obat – obatan, kafein, nikotin, alkohol, kondisi medis, perubahan lingkungan atau jadwal
kerja dan belajar. Faktor yang mendukung terjadinya insomnia adalah usia diatas 60 tahun, jenis
kelamin lebih banyak ditemukan pada wanita, kondisi fisik, gangguan depresi dan ansietas.

Menurut DSM-IV, gangguan tidur diklasifikasikan menjadi gangguan tidur primer yang terdiri
dari disomnia dan parasomnia. Disomnia terdiri dari insomnia primer, hipersomnia primer,
narkolepsi, gangguan tidur berhubungan dengan pernafasan, gangguan tidur irama sirkadian,
disomnia yang tidak ditentukan. Sedangkan Parasomnia terdiri dari gangguan mimpi buruk,
gangguan teror tidr, gangguan tidur berjalan, dan parasomnia yang tidak ditentukan.

Di dalam tubuh, tidur diatur oleh hipothalamus, terutama nucleus suprachiasmatik yang
merangsang kelenjar pineal mengeluarkan hormon melatonin untuk mengatur irama sirkadian
tidur. Irama sirkadian berhubungan dengan jam tidur biologis pada manusia. Kadar melatonin
akan meningkat pada saat keadaan gelap dan ketika kita terbangun di pagi hari di ruang yang
cukup terang, kadar melatonin kita akan turun. Hipotalamus adalah pusat kontrol kunci untuk
tidur dan bangun melewati saklar tidur dan bangun. Dua neurotransmiter utama mengatur sakelar
tidur / bangun adalah histamin dari TMN dan GABA dari VLPO. Bila TMN aktif dan histamin
dilepaskan di korteks dan VLPO, promotor bangun menyala dan promotor tidur dihambat.
Ketika VLPO aktif dan GABA dilepaskan di TMN, promotor tidur menyala dan promotor
bangun. Gangguan tidur pada insomnia dapat disebabkan karena jumlah neurotransmitter gaba
yang menurun. GABA yang menurun dapat mengakibatkan peningkatan glutamat ke cortex
sehingga menyebabkan tidak dapat tidur.

Pendekatan terapi pada penderita insomnia ini bisa dengan farmakologi atau non-farmakologi,
berdasarkan berat dan perjalanan gejala insomnia itu sendiri, diantaranya : Benzodiazepine, Non-
benzodiazepine dan Miscellaneous sleep promoting agent