You are on page 1of 2

Semenjak Mas Agus pergi meninggalkan rumah, hari-hari Ibu selalu tampak murung

,
wajahnya tak secerah dulu. Ia selalu duduk di teras rumah dengan selembar foto Mas Agus di
tangannya, sesekali ia pandang lekat-lekat wajah laki-laki berkepala plontos berhidung
mancung itu. Lalu menatap kosong ke ujung jalan depan rumah.Tak ada yang tahu ke mana
Mas Agus pergi.
Semenjak pertengkaran hebat dengan Ibu malam itu, Mas Agus pergi terburu-terburu dengan
sepeda motornya tanpa membawa sepasang pakaian pun. Seperti yang kulihat Mas Agus
hanya membawa pakaian yang dipakainya saja,kaos dalaman yang lusuh,jaket kulit usang
dan celana jeans belel. Ketika Mas Agus pergi Ibu hanya terduduk membisu di tepi ranjang
dalam kamarnya,lemari pakaiannya berantakan. Ia sama sekali tak mencegah kepergian Mas
Agus. Mungkin ibu berpikir, Mas Agus pasti akan kembali setelah emosinya mereda.
Buktinya setiap kali Mas Agus dan Ibu bertengkar, esok harinya Mas Agus pasti sudah ada di
kamarnya.
Aku menatap Ibu dari celah daun pintu kamarnya yang sedikit terbuka penuh iba dan tanda
tanya. Malam itu merupakan pertengkaran paling hebat yang pernah kusaksikan,perabotan
antik kesayangan Ibu yang terpajang di ruang tengahpatah-retak, semuanya menjadi beling
dan berserakan di mana-mana, sebuah bingkai foto keluarga yang terpajang manis di atas
buffet pun ikut menjadi beling. Memang, belakangan Mas Agus tampak aneh dengan
perubahannya yang sangat drastis. Biasanya Mas Agus hanya bertengkar sebentar dengan Ibu
ketika ia bertanya mengenai kuliahnya, sebab Ibu sering dapat laporan dari teman-teman Mas
Agus, kalau Mas Agus sering tidak masuk kuliah, tentu Ibu sangat khuwatir, lalu sambil
mendengus kesal Mas Agus pergi dengan Motornya, dan malamnya ia sudah kembali. tapi
tidak dengan malam itu.
Di sela-sela pertengkaran hebat malam itu, sempat kutangkap di telingaku dengan emosi yang
meluap-luap Ibu menyumpah serapah Mas Agus dengan kata-kata kotor.
“Dasar anak durhaka, kalau saja aku tahu kelakuanmu seperti binatang, sudah kuberi racun
sejak kecil” Mas Agus tak menjawab satu katapun, hanya suara pecahan perabotan sesekali
terdengar dari ruang tengah sebelum Mas Agus pergi.
Setelah suasana rumah senyap, kudekati ibu lalu kupeluk erat tubuh ringkihnya, sempat
kulihat ia menyeka air mata yang membanjiri pipinya berkali-kali dengan tangan gemetar.
“Apa yang terjadi, bue?”lirihku, ibu hanya menggeleng, bisa kupastikan ibu tak akan
sembarang bercerita kepadaku, bukan hanya pertengkaran malam itu saja. Semua masalah
yang hadir di rumah ini, ia tutupi dariku, ia lebih memilih menyimpan sendiri semua
masalanya.

Namun kuakui kasih sayangnya tak bisa di bagi. “semua perhiasan dan uang simpanan ibu sudah habis di ambil anak durhaka itu” ujar ibu. . hingga ibu menceritakansemuanya. Ibu masih tak menjawab. Dulu-dulu tak pernah kulihat ibu sebenci itu pada Mas Agus. Kulihat matanya menyirat kebencian yang mendalam kepada mas Agus. lalu malam itu entah keberanian dari mana kudapat.“Ada apa bue? Apa yang terjadi? Cerita padaku?” Kutanya sekali lagi untuk mengusir rasa penasaran yang mendera ulu hatiku. Aku tak menyerah. pilu. Ia menggeleng dengan tatapan seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan ia masih baik-baik saja. Ia sangat menyanyangi mas Agus melebihi kasih sayangnya padaku.