You are on page 1of 5

Danau-danau di Indonesia terbentuk secara alamiah dan buatan akibat aktivitas

manusia. Menurut Naryanto, dkk. (2009), genesa atau asal kejadian danau atau
reservoir di Indonesiadapat dikelompokkan ke dalam 14 tipologi yaitu tektonik,
tekto-vulkanik, vulkanik, kawah, kaldera, patahan lingkar kaldera, paparan banjir,
oxbow, ongsoran, pelarutan, mprain/gletser, embung buatan, dan sisa galian
kolong.Danau dicirikan dengan arus yang sangat lambat (0.001-0.01 m/detik) atau
tidak ada arus sama sekali. Oleh karena itu waktu tinggal (residence time) air dapat
berlangsung lama. Arus air di danau dapat bergerak ke berbagai arah. Perairan danau
biasanya memiliki stratifikasi kualitas air secara vertikal.
Stratifikasi ini tergantung pada kedalaman dan musim. (Effendi, 2003)Menurut Cole
(1988), zonasi (perwilayahan) perairan tergenang (danau) dibagi menjadi dua, yaitu
zonasi benthos dan zonase kolom air. Zonasi benthos juga disebut zonasi dasar,
terdiri atas supra-litoral, litoral, sub-litoral, dan profundal. Zonasikolom air atau open
water zone terdisi atas zonasi limnetik, tropogenetik, kompensasi, dan tropolitik.

a. Supralitoral adalah wilayah di pinggir danau yang masih terkena pengaruh danau,
biasanya berupa daratan yang kadangkala terkena air jika volume air danau
meningkat.

b. Litoral adalah wilayah pinggir danau yang dangkal, dengan batuan dasar berukuran
relatif besar dan cahaya matahari mencapai dasar perairan. Wilayah ini banyak
ditumbuhi tumbuhan akuatik yang mengakar di dasar perairan dan memiliki
keanekaragaman benthos yang cukup tinggi. Wilayah litoral merupakanwilayah yang
mendapat pengaruh pertama kali, jika terjadi erosi pada daratan di sekitarnya.
c. Sub-litoral adalah wilayah di bawah wilayah litoral, dengan batuan dasar berukuran
lebih kecil dan cahaya matahari sudah berkurang. Wilayah ini masih mendapat cukup
oksigen, namun keanekaragaman benthos sudah berkurang.
Benthos (misalnya moluska) yang telah mati, semula adalah penghuni wilayah
litoralbiasanya akan terbenam di wilayah sub-litoral.
d. Profundal adalah wilayah paling dalam dengan suhu yang rendah dan cahaya
matahari sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Jumlah oksigen terlarut sangat
sedikit atau terbentuk suasana anoksik (tak ada oksigen). Meskipun mengandung
banyak gas metana dan karbondioksida, namun kadar ion hidrogen dalam wilayah ini
juga tinggi sehingga pH air rendah karena keberadaan asam karbonat. Sedimen dasar
berukuran sangat kecil (halus).
e. Zona limnetik (pelagik) adalah wilayah perairan yang sudah tidak banyak
mendapat pengaruh dari tepi dan dasar perairan. Zona limnetik dibagi menjadi
zonatropogenik dan tropolitik.

f. Zona tropogenik adalah kolom air dari permukaan yang memiliki aktivitas
fotosintesis intensif hingga kedalaman di mana aktivitas fotosintesis sangat sedikit.
Pada zona ini, kadar oksigen terlarut cukup tinggi. Zona tropogenikbiasanya terletak
pada mintakat epilimnion.

Zona tropolitik adalah wilayah yang berada di bawah tropogenik. Pada zona ini,
aktivitas respirasi dan dekomposisi dominan, sedangkan aktivitas fotosintesis sudah
tidak ada. Zona ini memiliki kadar oksigen terlarut sangat rendah atau bahkan tidak
ada sama sekali, namun kadar karbondioksida tinggi. Zona tropolitik seringkali sama
dengan lapisan/zona/mintakat hipolimnion.

h. Zona kompensasi adalah zona antara tropogenik dan tropolitik, dicirikan oleh
aktivitas fotosintesis yang sama dengan respirasi.

Berdasarkan intensitas cahaya yang masuk ke perairan, stratifikasi vertikal kolom


airpada perairan lentik dikelompokkan menjadi tiga:

a. Lapisan (zona) eufotik yaitu lapisan yang masih mendapat cukup cahaya matahari.
b. Lapisan kompensasi yaitu lapisan dengan intensitas cahaya sebesar 1% dari lapisan
permukaan.
c. Lapisan profundal yaitu lapisan di bawah lapisan kompensasi, dengan intensitas
cahaya sangat kecil atau bahkan tidak ada cahaya (afotik).

Berdasarkan perbedaan panas pada setiap kedalaman (dalam bentuk perbedaan suhu),
stratifikasi vertikal kolom air (thermal stratification) pada perairan dibagi menjadi
tiga:

a. Epilimnion, yaitu lapisan bagian atas perairan. Lapisan ini merupakan bagian yang
hangat dengan suhu relatif konstan atau perubahan suhu secara vertikal sangat kecil.
Seluruh massa air pada mintakat ini tercampur baik karena adanya angin dan
gelombang.

b. Termoklin atau metalimnion, yaitu lapisan di bawah epilimnion. Pada lapisan ini,
perubahan suhu dan panas secara vertikal relatif besar; setiap penambahan kedalaman
1m terjadi penurunan suhu air sekurang-kurangnya 1o C.
c. Hipolimnion yaitu lapisan di bawah metalimnion. Lapisan ini merupakan lapisan
yang lebih dingin, ditandai oleh perbedaan suhu secara vertikal yang relatif kecil.
Massa air pada lapisan ini bersifat stagnan, tidak mengalami percampuran, dan
memiliki densitas yang lebih besar. Di wilayah tropis,perbedaan suhu air permukaan
dengan suhu air bagian dasar hanya sekitar 2oC-3oC.

Lapisan-lapisan yang terbentuk pada stratifikasi vertikal kolom air berdasarkan


intensitas cahaya kadang-kadang berada pada posisi yang sama dengan lapisanlapisan
yang terbentuk pada stratifikasi vertikal berdasarkanperbedaan panas. Lapisan eufotik
biasanya juga merupakan lapisan epilimnion merupakan lapisan yang paling
produktif. Lapisan ini mendapat pasokan cahaya matahari yang cukup sehingga
proses fotosintesis berlangsung secara optimum.

Keberadaan oksigen, baik yang dihasilkan oleh proses fotosintesis maupun difusi dari
udara, juga mencukupi. (Effendi, 2003)Tiupan angin dan perubahan musim yang
mengakibatkan perubahan intensitas cahaya matahari dan perubahan suhu dapat
mengubah atau menghancurkan stratifikasi vertikal kolom air. Fenomena perubahan
stratifikasi vertikal ini dapat diamati dengan jelas pada perairan tergenang yang
terdapat di wilayah ugahari (temperate) yang memiliki empat musim. (Effendi,
2003)Stratifikasi vertikal kolom air dapat berlangsung beberapa bulan secara
permanen, tanpa ada percampuran massa air. Berdasarkan percampuran massa air,
danaudibedakan menjadi dua yaitu amiktik dan miktik. Pada danau amiktik, massa air
tidak mengalami percampuran sama sekali, baik percampuran secara vertikal maupun
spasial, sedangkan pada danau miktik, massa air mengalami percampuran secara
vertikal dan spasial. (Effendi, 2003)Pada thermal stratification terjadi percampuran
massa air secara menyeluruh (holomictik), yakni percampuran yang terjadi pada
seluruh massa air, dari permukaan hingga dasar. Perubahan stratifikasi pada thermal
stratification lebih banyak disebabkan oleh perubahan suhu, yang selanjutnya
menyebabkan perubahan panas dan berat jenis. (Effendi, 2003)Berdasarkan tingkat
kesuburannya (trophic status), danau dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Oligotrofik (miskin unsur hara dan produktivitas rendah), yaitu perairan dengan
produktivitas primer dan biomassa rendah. Perairan ini memiliki kadar unsur hara
nitrogen dan fosfor rendah, namun cenderung jenuh dengan oksigen.
b. Mesotrofik (unsur hara dan produktivitas sedang), yaitu perairan dengan
produktivitas primer dan biomassa sedang. Perairan ini merupakan peralihan antara
oligotrofik dan eutrofik

c. Eutrofik (kaya unsur hara dan produktivitas tinggi), yaitu perairan dengan kadar
unsur hara dan tingkat produktivitas primer tinggi. Perairan ini memiliki tingkat
kecerahan yang rendah dan kadar oksigen pada lapisan hipolimnion dapat lebih kecil
dari 1mg/liter.
d. Hiper-eutrofik, yaitu perairan dengan kadar unsur hara dan produktivitas primer
sangat tinggi. Pada perairan ini, kondisi anoksik (tidak terdapat oksigen) terjadi pada
lapisan hipolimnion.
e. Distrofik, yaitu jenis perairan yang banyak mengandung bahan organik misalnya
asam humus dan fulvic. (Effendi, 2003)Pada dasarnya danau memiliki dua fungsi
utama yaitu sebagai fungsi ekologi dan fungsi sosial-ekonomi-budaya. Fungsi ekologi
danau adalah sebagai pengatur tata air, pengendali banjir, habitat hidupan liar atau
spesies yangdilindungi atau endemik, serta penambat sedimen, unsur hara, dan bahan
pencemar. Fungsi sosial-ekonomi-budaya danau adalah memenuhi kebutuhan hidup
manusia, antara lain untuk air minum dan kebutuhan sehari-hari, sarana transportasi,
keperluan pertanian, tempat sumber protein, industri, pembangkit tenaga listrik,
estetika, olahraga, rekreasi, industri pariwisata, heritage, religi, dan tradisi. Selain itu,
danau juga berfungsi untuk mengatur sistem hidrologi; yaitu dengan
menyeimbangkan aliran air antara hulu dan hilir sungai, serta memasok air ke
kantung-kantung air lain seperti akuifer (airtanah), sungai, dan persawahan.