You are on page 1of 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keperawatan adalah profesi yang mengabdi kepada manusia dan


kemanusiaan. Dalam arti lain profesi keperawatan bersifat humanistis, dan lebih
mendahulukan kepentingan orang lain dibanding dengan kepentingan pribadi.
Perawat memiliki peran sebagai pemberi asuhan keperawatan, advokat bagi
pasien, pendidik, konselor, koordinator, kolabolator, konsultan dan juga peneliti
(Masruroh H, 2014). Seorang perawat profesional adalah seseorang yang
memiliki kemampuan intelektual, teknikal, interpersonal dan memahami etika
profesi. Etika profesi digunakan sebagai acuan dalam melaksanankan praktik
keperawatan. Tentang bagaimana suatu hal dikatakan benar dan dikatakan salah.
Perawat sering kali dihadapkan pada suatu kondisi dilema etik yang menempatkan
perawat untuk berfikir apa yang harus dilakukan, apa yang seharusnya dilakukan,
apakah tindakannya benar atau tidak dan menuntut perawat untuk mengambil
suatu keputusan yang tepat (Dermawan, 2013).
Etik sendiri berarti kebiasaan atau budaya. Etika berasal dari bahasa
Yunani “ethos” yang artinya adat istiadat, kebiasaan. Etika diartikan sebagai
kebiasaan yang baik atau tata cara hidup yang baik. Etik mengacu pada metode
yang membatu orang dalam memahami moralitas perilaku manusia. Etik juga
merupakan cara pandang terhadap perilaku manusia, standar perilaku dan
keyakinan. Perawat dianggap bertanggung jawab terhadap perilaku etik mereka.
Sehingga perawat perlu memahami nilai mereka sendiri berkaitan dengan
tanggung jawab dan tanggung gugat dalam suatu keputusan etik yang diambil.
Praktik keperawatan diatur oleh kode etik keperawatan yang merupakan standart
atau prinsip etik yang mencerminkan penilaian moral terhadap tindakan
keperawatan yang dilakukan. Kode etik ditujukan untuk menginformasikan
kepada masyarakat mengenai standart profesi dan membatu masyarakat
memahami perilaku profesional, memberi komitmen, memberi garis besar
pertimbangan etik, memberi pedoman perilaku profesional dan sebagai panduan
profesi dalam pengaturan diri. Dengan demikian perawat diharapkan terhindar

1
dari masalah etik yang sering terjadi dalam pelaksanaan praktik keperawatan.
(Blais, 2007; Masruroh H, 2014)
Dilema etik adalah kondisi yang mengharuskan perawat untuk
melakukan analisa, menepis, melakukan sintesa dan menentukan keputusan
terbaik bagi pasien. Dilema etik menempatkan perawat pada kondisi dimana dia
harus menimbang, memilah dan menapis pilihan keputusan yang menjadi sulit
diputuskan jika kedua piihan tidak ada yang benar benar baik ataupun keduanya
sama sama baik berdasarkan prinsip etis. Prinsip prinsip etis yang menjadi bahan
pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan etis diantaranya adalah
otonomi, nonmaleficience, beneficience, justice, fidelity dan veracity. Keputusan
etis akan menjadi sulit diambil ketika terdapat pertentangan antara prinsip prinsip
etis tersebut (Fjetland, 2009; Masruroh H, 2014) Beberapa hal yang dapt
menimbulkan masalah peran yang ambigu menimbulkan dilema etik. Dilema etik
dapat terjadi setiap saat ketika perawat harus memutuskan suatu tindakan antara
nilai nilai dan aturan yang dianut.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana Teori Dasar Pembuatan Keputusan Etis?
1.2.2 Bagaimana Kerangka Pembuatan Keputusan?
1.2.3 Apa saja Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Etis dalam Praktik Keperawatan?
1.2.4 Apa Konsep Moral dalam Praktik Keperawatan?
1.2.5 Bagaimana Penyelesaian Dilema Etik?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui tentang teori dasar pembuatan keputusan etis
1.3.2 Untuk mengetahui Kerangka Pembuatan Keputusan
1.3.3 Untuk mengetahui Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan
Keputusan Etis Dalam Praktik Keperawatan?
1.3.4 Untuk mengetahui Konsep Moral Dalam Praktik Keperawatan?
1.3.5 Untuk mengetahui Penyelesaian Dilema Etik?

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori Dasar Pembuatan Keputusan Etis

Teori dasar atau prinsip etika merupakan penuntun untuk membuat


keputusan etis praktek profesional (Fry,1991). Teori etik digunakan dalam
pembuatan keputusan bila terjadi konflik antara prinsip dan aturan. Ahli filsafat
moral mengembangkan beberapa teorietik. Teori tersebut diklasifikasikan menjadi
teori teleology dan teori deontologi (formalisme)

2.1.1 Teleologi

Teleologi (berasal dari bahasa Yunani, dari Telos, berarti akhir).


Istilah teologi dan utilitarianisme sering digunakan saling bergantian.
Teleologi merupakan suatu doktrin yang menjelaskan fenomena
berdasarkan akibat yang dihasilkan atau konsekuensi yang dapat
terjadi.Pendekatan ini sering disebut dengan ungkapan The End
Justifies The Means atau makna dari suatu tindakan ditentukan oleh
hasil akhir yang terjadi.Teori ini menekankan pada pencapaian hasil
akhir yang terjadi.Pencapaian hasil dengan kebaikan maksimal dan
ketidak baikan sekecil mungkin bagi manusia (Kelly,1987). Teleologi
dibedakan menjadi:

a) Rule utilitarianisme
Rule utilitarianisme berprinsip bahwa manfaat atau nilai dari suatu
tindakan bergantung pada sejauh mana tindakan tersebut
memberikan kebaikan atau kebahagiaan pada manusia.
b) Act utilitarianisme
Actutilitarianisme bersifat lebih terbatas,tidak melibatkan aturan-
atur umum,tapi berupaya menjelaskan pada suatu situasi tertentu
dengan pertimbangan tertentu terhadap tindakan apa yang dapat
memberikan kebaikan sebanyak-banyaknya atau ketidakbaikan
sekecil-kecilnya pada individu, contohnya bayi yang lahir cacat

3
lebih baik diijinkan meninggal daripada nantinya menjadi beban
masyarakat.
2.1.2 Teori Deontologi (Formalisme)
Deontologi berasal dari bahasa Yunani, deondeon yang berarti
tugas, berprinsip pada aksi atau tindakan. Menurut Kant, benar atau
salah bukan ditentukan oleh hasil akhir atau konsekuensi dari suatu
tindakan,melainkan oleh nilai moralnya. Perhatian difokuskan pada
tindakan melakukan tanggung jawab moral yang dapat menjadi penentu
apakah suatu tindakan tersebut secara moral benar atau salah. Kant
berpendapat bahwa prinsip moral atau yang terkait dengan tugas harus
bersifat universal,tidak kondisional dan imperative.

Contohnya

Seorang perawat yang yakin bahwa klien harus diberi tahu tentang yang
sebenarnya terjadi walaupun hal itu sangat menyakitkan. Contoh lain
seorang perawat yang menolak membantu pelaksanaan abortus karena
keyakinan agama yang melarang tindakan membunuh. Secara luas teori
ini dikembangkan menjadi lima prinsip penting yaitu kemurahan hati,
keadilan,otonomi, kejujuran danketaatan(Fry,1991)

a) Kemurahan hati
Inti dari prinsip kemurahan hati (beneficence) adalah
tanggung jawab untuk melakukan kebaikan yang menguntungkan
klien dan menghindari perbuatan yang merugikan atau
membahayakan klien.Prinsip ini seringkali sulit diterapkan dalam
praktik keperawatan.Perawat diwajibkan untuk melaksanakan
tindakan yang bermanfaat bagi klien,tetapi dengan meningkatnya
teknologi dalam sistem asuhan kesehatan,dapat juga merupakan
resiko dari suatu tindakan yang membahayakan.
Contohnya:
Seorang pasien mempunyai kepercayaan bahwa pemberian tranfusi
darah bertentangan dengan keyakinannya.Sebelum mengalami
perdarahan yang hebat akibat penyakit hati yang kronis.Sebelum

4
kondisi klien bertambah berat,klien sudah memberikan pernyataan
tertulis kepada dokter bahwa ia tidak mau dilakukan tranfusi
darah.Pada suatu saat,kondisi pasien bertambah buruk maka terjadi
perdarahan hebat dan dokter menginstruksikan untuk memberikan
transfusi darah. Dalam hal ini,akhirnya tranfusi darah tidak
diberikan karena prinsip beneficence, walaupun pada saat
bersamaan terjadi penyalah gunaan prinsip maleficence.
Dengan majunya ilmu dan teknologi, konflik yang terjadi
semakin tinggi. Untuk itu perlu diterapkan system klarifikasi nila-
nilai, yaitu suatu proses ketika individu memperoleh jawaban
terhadap situasi melalui proses pengembangan nilai individu.
Menurut Mergan (1989), proses penilaian mencakup tujuh proses
yang ditempatkan ke dalam tiga kelompok,:
1) Menghargai
a. Menjunjung dan menghargai keyakinan dan perilaku
seseorang.
b. Menegaskan didepan umum jika diperlukan.
2) Memilih
a. Memilih dari berbagai alternatif.
b. Memilih setelah mempertimbangkan konsekuensinya.
c. Memilih secara bebas.
3) Bertindak
a. Bertindak sesuai dengan pola, konsisten, dan repetisi
(mengulang yang telah disepakati).

Dengan menggunakan ketujuh langkah tersebut kedalam


klasifikasi nilai-nilai, perawat dapat menjelaskan nilai-nilai mereka
sendiri dan dapat mempertinggi pertumbuhan pribadinya. Langkah
diatas dapat di terapkan pada situasi-situasi klien, misalnya perawat
dapat membantu klien mengidentifikasi bidang konflik, memilih
dan menentukan berbagai alternatif,menetapkan tujuan dan
melakukan tindakan.

5
b) Keadilan
Prinsip dari keadilan (Justice) menurut Beauchamp dan
Chlidress adalah mereka yang sederajat harus diperlakukan
sederajat,sedangkan yang tidak sederajat diperlakukan secara tidak
sederajat,sesuai dengan kebutuhan mereka. Ini berarti bahwa
kebutuhan kesehatan mereka yang sederajat harus menerima sumber
pelayanan kesehatan dalam jumlah sebanding. Ketika seseorang
mempunyai kebutuhan kesehatan yang besar maka menurut prinsip
ini ia harus mendapatkan sumber kesehatan yang besar pula. Prinsip
ini memungkinkan dicapainya keadilan dalam pembagian sumber
asuhan kesehatan kepada klien secara adil sesuai kebutuhan.
Contoh:
Seorang perawat sedang bertugas sendirian disuatu unit Rumah
Sakit, kemudian ada seorang pasien baru masuk bersamaan dengan
pasien yang memerlukan bantuan perawat tersebut. Agar perawat
tidak menghindar dari satu pasien-pasien lainnya maka perawat
seharusnya dapat mempertimbangkan faktor-faktor dalam situasi
tersebut, kemudian bertindak berdasarkan pada prinsip keadilan.
c) Otonomi
Prinsip otonomi menyatakan bahwa setiap individu
mempunyai kebebasan untuk mentukan tindakan atau keputusan
berdasarkan rencana yang mereka pilih (Fry,1987). Masalah yang
muncul dari penerapan prinsip ini karena adanya variasi
kemampuan otonomi klien yangdipengaruhi banyak hal seperti:
Tingkat kesadaran, Usia, Penyakit, Lingkungan rumah sakit,
Ekonomi, dan tersedianya informasi.
d) Kejujuran
Prinsip kejujuran (veracity) menurut Veatch dan Fry (1987)
didefinisikan sebagai menyatakan hal yang sebenarnya dan tidak
bohong. Kejujuran harus dimiliki perawat saat berhubungan dengan
klien merupakan dasar Kejujuran merupakan dasar terbinanya
hubungan saling percaya antara perawat dan klien.

6
e) Ketaatan
Prinsip ketaatan (fidelity) didefinisikan oleh Fry sebagai
tanggung jawab untuk tetap setia pada suatu kesepakatan.Tanggung
jawab dl kontek hubungan perawat klien meliputi tangung jawab
menjaga janji, mempertahankan konfidensi, dan memberikan
perhatian atau kepedulian. Peduli kepada klien merupakan salah
satu aspek dari prinsip keataatan.
Peduli kepada klien merupakan komponen paling penting
dari praktik keperawatan, terutama pada klien dalam keadaan
terminal (Fry,1991). Rasa kepedulian perawat diwujudkan dalam
memberi perawatan dengan pendekatan individual, bersikap baik
kepada klien, memberikan kenyamanan, dan menunjukkan
kemampuan professional.
Dalam hubungan antara manusia, individu cenderung tetap
menepati janji dan tidak melanggar kecuali, ada alasan demi
kebaikan. Kesetiaan perawat terhadap janji-janji tersebut mungkin
tidak mengurangi penyakit atau mencegah kematian, tetapi akan
mempengaruhi kehidupan klien serta kualitas hidupnya.

2.2 Kerangka Pembuatan Keputusan

Dalam membuat keputusan etis, ada beberapa unsur yang mempengaruhi


yaitu nilai dan kepercayaan pribadi, kode etik keperawatan, konsep moral perawat
dan prinsip etis, dan model kerangka keputusan etis.

7
Pengenalan Dilema Etika Keperawatan

Mengumpulkan Data Aktual yang Relavan

Menganalisis dan Mencari Kejelasan Individu yang Terlibat

Menkonsep dan Mengevaluasi Argumentasi untuk Setiap Isu dan


Membuat Alternatif

Mengambil Tindakan

Mengadakan Evaluasi

Gambar kerangka pembuatan keputusam

Berikut ini beberapa contoh model pengambilan keputusan etis keperawatan


yang dikembangkan oleh Thompson dan Jameton. Metode Jameton dapat
digunakan untuk menyelesaikan masalah etika keperawatan yang berkaitan
dengan asuhan keperawatan klien. Kerangka Jameton, seperti yang ditulis
oleh Fry (1991) adalah:

a) Model I terdiri dari enam tahap.


b) Model II terdiri dari tujuh tahap.
c) Model III yang merupakan keputusan bioetis.

8
Model I
Tahap Keterangan
1 Identfifikasi Masalah, Klasifikasi masalah dilihat dari konflik Hati
nurani. Perawat juga harus mengkaji keterlibatannya pada masalah
etika yang timbul dan mengkaji parameter waktu untuk pembuatan
keputusan.Tahap ini akan memberikan jawaban pada perawat
terhadap pernyataan“hal apakah yang membuat tindakan benar
adalah benar”
2 Perawat harus mengumpulkan data tambahan.Informasi yang
dikumpulkan dalam tahap ini meliputi orang yang dekat dengan
klien, yang terlibat dalam membuat keputusan bagi klien,harapan
atau keinginan klien dan orang yang terlibat dalam pembuatan
keputusan.Perawat kemudian membuat laporan tertulis kisah dan
konflik yang terjadi.
3 Perawat harus mengidentifikasi semua pilihan atau Alternatif secara
terbuka kepada pembuat keputusan. Semua tindakan yang
memungkinkan harus terjadi, termasuk hasilyang mungkin
diperoleh beserta dampaknya.Tahap ini memberikan jawaban atas
pertanyaan“Jenis tindakan apa yang benar?”
4 Perawat harus memikirkan masalah etis secara
berkesinambungan.Perawat mempertimbangkan nilai dasar
manusia yang penting bagi individu, nilai dasar yang menjadi
pusat masalah dan prinsip etis yang dapat dikaitkan dengan
masalah.Tahap ini menjawab pertanyaan,“Bagaimana aturan
tertentu diterapkan pada situasi tertentu?”
5 Pembuat keputusan harus membuat keputusan. Pembuatan
keputusan memilih tindakan yang menurut keputusan mereka
paling tepat.Tahapini menjawab pertanyaan etika,“apa yang harus
dilakukan pada situasi tertentu?”
6 Tahap akhir adalah melakukan tindakan juga mengkaji Keputusan
dan hasil.

9
Model II

Tahap Keterangan
1 Mengenali dengan tajam masalah yang terjadi,apa intinya,apa
sumbernya,mengenali hakikat masalah.
2 Mengumpulkan data atau informasi yang berdasarkan fakta,meliputi
sumber data yang termasuk variabel masalah yang telah dianalisa
secara teliti.
3 Menganalisis data yang telah diperoleh dan menganalisis kejelasan
bagaimana orang yang terlibat, bagaimana kedalaman dan intensitas
keterlibatannya, relevansi keterlibatannya dengan masalah etika.
4 Berdasarkan analisis yang telah dibuat, mencari kejelasan konsep
etika yang relevan untuk penyelesaian masalah dengan
mengemukakan konsep filsafat yang mendasari etika maupun konsep
sosial budaya yang menentukan ukuran yang diterima.

5 Berdasarkan analisis yang telah dibuat, mencari kejelasan konsep


etika yang relevan untuk penyelesaian masalah dengan
mengemukakan konsep filsafat yang mendasari etika maupun konsep
sosial budaya yang menentukan ukuran yang diterima.

6 Mengambil tindakan,setelah semua alternatif diuji terhadap nilaiyang


ada didalam masyarakat dan ternyata dapat diterima masyarakat maka
pilihan tersebut dikatakan sah (valid) secara etis. Tindakan yang
dilakukanmenggunakan proses yang sistematis.
7 Langkah terakhir adalah mengevaluasi,apakah tindakan yang
dilakukan mencapai hasil yang diinginkan, mencapai tujuan
penyelesaian masalah.Bila belum berhasil harus mengkaji lagi hal-hal
apayang menyebabkan kegagalan dan menjadi umpan balik untuk
melaksanakan pemecahan/penyelesaian masalah secara ulang.

10
Model III

Tahap Keterangan
1. Tinjau ulang situasiyg dihadapiuntuk menentukan
2. Kumpulkan informasi tambahan untuk memperjelas situasi
3. Kumpulkan informasi tambahan untuk memperjelas situasi
4. Ketahui
masalah atau bedakankeputusanyg
kesehatan, posisi pribadidibutuhkan,
dan posisi moral
komponen etis individu
5. Identifikasi
/keunikan posisi moral dan keunikan individu yang berlainan.
6. Identifikasi konflik-konflik nilai bila ada.
7. Gali siapa yang harus membuat keputusan.
profesional.
8. Identifikasi rentang tindakan dan hasil yang diharapkan
9. Tentukan tindakan dan laksanakan
10. Evaluasi hasil dari keputusan/tindakan

Penyelesaian masalah etika keperawatan menjadi tanggung jawab


perawat. Berarti perawat melaksanakan norma yang diwajibkan dalam asuhan
keperawatan, sedangkan tanggung gugat adalah mempertanggung jawabkan
kepada diri sendiri, kepada klien atau masyarakat,kepada profesi atas segala
tindakan yang diambil dalam melaksanakan proses keperawatan dengan
menggunakan dasar etika dan standar keperawatan.

Kerangka pemecahan dilemma etik banyak diutarakan oleh para ahli dan
pada dasarnya menggunakan kerangka proses keperawatan atau Pemecahan
masalah secara ilmiah, antara lain:

1) Model Pemecahan masalah ( Megan,1989 )


Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilemma
etik.
a) Mengkaji situasi.
b) Mendiagnosa masalah etik moral.
c) Membuat tujuan dan rencana pemecahan.
d) Melaksanakan rencana.
e) Mengevaluasi hasil.

11
2) Kerangka pemecahan dilemma etik (kozier&erb,1989)
a) Mengembangkan data dasar.
Untuk melakukan ini perawat memerlukan pengumpulan informasi
sebanyak mungkin meliputi:
 Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana
keterlibatannya.
 Apa tindakan yang diusulkan.
 Apa maksud dari tindakan yang diusulkan.
 Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari
tindakan yang diusulkan.
b) Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut.
c) Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang
direncanakan dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi
tindakan tersebut.
d) Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa
pengambil keputusan yang tepat.
e) Mengidentifikasi kewajiban perawat.
f) Membuat keputusan.
3) Model Murphy dan Murphy
a) Mengidentifikasi masalah kesehatan.
b) Mengidentifikasi masalah etik.
c) Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan.
d) Mengidentifikasi peran perawat.
e) Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin
dilaksanakan.
f) Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap
alternatif keputusan.
g) Memberikeputusan.
h) Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai
dengan falsafah umum untuk perawatan klien.

12
i) Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak
dan menggunakan informasi tersebut untuk membantu membuat
keputusan berikutnya.
4) Model Curtin
a) Mengumpulkan berbagai latar belakang informasi yang
menyebabkan masalah.
b) Identifikasi bagian-bagian etik dari masalah pengambilan keputusan.
c) Identifikasi orang-orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan.
d) Identifikasi semua kemungkinan pilihan dan hasil dari pilihan itu.
e) Aplikasi teori, prinsip dan peran etik yang relevan.
f) Memecahkan dilemma.
g) Melaksanakan keputusan.
5) Model Levine –Ariffdan Gron
a) Mendefinisikan dilemma.
b) Identifikasi faktor-faktor pemberi pelayanan.
c) Identifikasi faktor-faktor bukan pemberi pelayanan.
- Pasien dan keluarga.
- Faktor-faktor eksternal.
d) Pikirkan faktor-faktor tersebut satu persatu.
e) Identifikasi item-item kebutuhan sesuai klasifikasi
f) Identifikasi pengambil keputusan.
g) Kaji ulang pokok-pokok dari prinsip-prinsip etik
h) Tentukan alternatif-alternatif.
i) Menindak lanjuti.
6) Langkah-langkah menurut Purtilo dan Cassel (1981)
Purtilo dan cassel menyarankan empat langkah dalam membuat keputusan
etik
a) Mengumpulkan data yang relevan.
b) Mengidentifikasi dilemma
c) Memutuskan apa yang harus dilakukan.
d) Melengkapi tindakan.

13
7) Langkah-langkah menurut Thompson & Thompson ( 1981) mengusulkan
10 langkah model keputusan bioetis.
a) Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan
yang diperlukan, komponenetis dan petunjuk individual.
b) Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi
c) Mengidentifikasi Issue etik
d) Menentukan posisi moral pribadi dan professional.
e) Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.
f) Mengidentifikasi konflik nilai yang ada.

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Etis


Dalam Praktik Keperawatan
a) Faktor agama dan adat-isitiadat
Agama serta latar belakang adat istiadat merupakan factor utama
dalam membuat keputusan etis. Setiap perawat disarankan memahami
nilai yang diyakini maupun kaidah agama yang dianutnya. Sebagai
negara berketuhanan, segala kebijakan atau aturan yang dibuat
diupayakan tidak bertentangan dengan aspek agama yang ada di
Indonesia. Faktor adat istiadat yang dimiliki perawat atau pasien sangat
berpengaruh terhadap pembuatan keputusan etis tetapi kaitan adat
istiadat dan implikasi dalam keperawatan sampai saat ini belum
tergali jelas di Indonesia.
b) Faktor social
Berbagai factor social berpengaruh terhadap pembuatan keputusan etis.
Faktor ini meliputi perilaku social dan budaya, ilmu pengetahuan dan
teknologi, hukum dan peraturan perundang-undangan (Ellis, Hartley,
1980).
c) Faktor ilmu pengetahuan dan teknologi
Kemajuan di bidang kesehatan telah mampu meningkatkan kualitas
hidup serta memperpanjang usia manusia dengan ditemukannya
berbagai mesin mekanik kesehatan, cara prosedur baru, dan bahan
atau obat baru. Misalnya, klien dengan gangguan ginjal yang dapat

14
diperpanjang usianya berkat adanya mesin hemodialisis. Wanita yang
mengalami kesulitan hamil dapat dibantu dengan berbagai
inseminasi.
d) Faktor legislasi dan keputusan yuridis
Perubahan social dan legislasi secara konstan saling berkaitan.
Setiap perubahan social atau legislasi menyebabkan timbulnya suatu
tindakan yang merupakan reaksi perubahan tersebut. Legislasi
merupakan jaminan tindakan menurut hukum, sehingga oprang yang
bertindak tidak sesuai hokum dapat menimbulkan suatu konflik (Ellis,
Hartley, 1990).
e) Faktor dana/keuangan
Dana atau keuangan untuk membiayai pengobatan dan perawatan dapat
menimbulkan konflik. Walaupun pemerintah telah mengalokasikan
dana yang besar untuk pembangunan kesehatan, dana ini belum
seluruhnya dapat mengatasi berbagai masalah kesehatan sehingga
partisipasi swasta dan masyarakat banyak digalakkan. Perawat sebagai
tenaga kesehatan yang setiap hari menghadapi klien, sering menerima
keluhan klien mengenai pendanaan. Dalam daftar kategori diagnosis
keperawatan tidak ada pernyataan yang menyatakan ketidakcukupan
dana, tetapi hal ini dapat menjadi etiologi bagi berbagai diagnosis
keperawatan, anatara lain ansietas dan ketidakpatuhan.
f) Faktor pekerjaan/posisi klien maupun perawat
Dalam pembuatan suatu keputusan, perawat perlu mempertimbangkan
posisi pekerjaannya. Sebagian besar perawat bukan merupakan tenaga
yang praktek sendiri, tetapi bekerja di rumah sakit, dokter praktek
swasta, atau institusi kesehatan lainnya. Tidak semua keputusan pribadi
perawat dapat dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan
keputusan atau aturan tempat ia bekerja. Perawat yang mengutamakan
kepentingan pribadi sering mendapat sorotan sebagai perawat
pembangkang. Sebagai konsekuensinya, ia dapat mendapat sanksi
administrasi atau mungkin kehilangan pekerjaan.

15
2.4 Konsep Moral dalam Praktik Keperawatan

Beberapa dasar penting dalam praktik keperawatan antara lain:


a) Advokasi
Istilah advokasi sering di gunakan dalam konteks hukum yang
berkaitan dengan upaya melindungi hak manusia bagi mereka yang
tidak mampu membela diri. Arti advokasi menurut ANA (1985) adalah
melindungi klienatau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan
keselamatan praktik tidak syah yang tidak kompeten dan melanggar etika
yang dilakukan oleh siapapun.
Fry (1987) mendefinisikan advokasi sebagai dukungan aktif
terhadap setiap hal yang memiliki penyebab atau dampak penting. Gadow
(1983) advokasi merupakan dasar falsafah dan ideal keperawatan yang
melibatkan bantuan perawat secara aktif kepada individu secara bebas
menentukan nasibnya sendiri. Pada dasarnya, peran perawat sebagai
advokat klien adalah memberi informasi dan memberi bantuan kepada
klien atas keputusan apapun yang di buat klien, memberi informasi berarti
menyediakan penjelasan atau informasi sesuai yang di butuhkan klien,
memberi bantuan mengandung dua peran yaitu peran aksi dan non aksi.
b) Responsibilitas dan Akuntabilitas
Responsibilitas (tanggung jawab) adalah eksekusi terhadap tugas-
tugas yang berhubungan dengan peran tertentu dari perawat. Perawat yang
selalu bertanggung jawab dalam melakukan tindakannya akan
mendapatkan kepercayaan dari klien atau dari profesi lainnya. Perawat
yang bertanggung jawab akan tetap kompeten dalam pengetahuan dan
ketrampilannya serta selalu menunjukkan keinginan untuk bekerja
berdasarkan kode etik profesinya.
Akuntabilitas (tanggung gugat) mengandung arti mempertanggung
jawabkan suatu tindakan yang dilakukan, dan dapat menerima
konsekuensi dari tindakan tersebut (Kozier, Erb, 1991). Fry (1990)
menyatakan bahwa akuntabilitas mengandung dua komponen utama yaitu
tanggung jawab dan tanggung gugat. Perawat bertanggung bjawab
terhadap dirinya sendiri, klien profesi, sesame karyawan, dan masyarakat.

16
c) Loyalitas
Loyalitas merupakan suatu konsep yang meliputi simpati,
peduli, dan hubungan timbale balik terhadap pihak secara professional
berhubungan dengan perawat. Hubungan professional di pertahankan
dengan cara menyusun tujuan bersama, menepati janji, menetukan
masalah dan prioritas, serta mengupayakan pencapaian kepuasan bersama
(Jameton, 1984, Fry, 1991). Untuk mencapai kualitas asuhan keperawatan
yang tinggi dan hubungan dengan berbagai pihak yang harmonis,
Loyalitas harus di pertahankan oleh setiap perawat baik loyalitas kepada
klien, teman sejawat, rumah sakit maupun profesi. Untuk mewujudkan ini,
AR. Tabbner (1981: lihat Cresia,1991) mengajikan berbagai argumentasi:
1) Masalah klien tidak boleh di diskusikan oleh klien lain dan
perawat harus bijaksana bila informasi dari klien harus didiskusikan
secara professional.
2) Perawat harus menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat
3) Perawat harus menghargai dan member bantuan kepada teman
sejawat
4) Pandangan masyarakat terhadap profesi keperawatan di tentukan
oleh kelakuan anggota profesi (perawat). Perawat harus menunjukkan
loyalitasnya terhadap profesi dengan berperilaku secara tepat pada
saat betugas.

Contoh Pengambilan Keputusan : Eutanasia

Kata eutanasia berasal dari bahasa Yunani yaitu "eu" (= baik)


and "thanatos" (maut, kematian) yang apabila digabungkan berarti
"kematian yang baik". Hippokrates pertama kali menggunakan istilah
"eutanasia" ini pada "sumpah Hippokrates" yang ditulis pada masa 400-
300 SM. Sumpah tersebut berbunyi: "Saya tidak akan menyarankan dan
atau memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun telah
dimintakan untuk itu". Dalam sejarah hukum Inggris yaitu common law
sejak tahun 1300 hingga saat "bunuh diri" ataupun "membantu
pelaksanaan bunuh diri" tidak diperbolehkan Ditinjau dari sudut

17
maknanya maka eutanasia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu eutanasia
pasif, eutanasia agresif dan eutanasia non agresif Eutanasia agresif : atau
suatu tindakan eutanasia aktif yaitu suatu tindakan secara sengaja yang
dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lain untuk mempersingkat
atau mengakhiri hidup si pasien. Misalnya dengan memberikan obat-
obatan yang mematikan seperti misalnya pemberian tablet sianida atau
menyuntikkan zat-zat yang mematikan ke dalam tubuh pasien.

Eutanasia non agresif : atau kadang juga disebut autoeuthanasia


(eutanasia otomatis)yang termasuk kategori eutanasia negatif yaitu
dimana seorang pasien menolak secara tegas dan dengan sadar untuk
menerima perawatan medis dan sipasien mengetahui bahwa
penolakannya tersebut akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya.
Dengan penolakan tersebut ia membuat sebuah "codicil" (pernyataan
tertulis tangan). Autoeutanasia pada dasarnya adalah suatu praktek
eutanasia pasif atas permintaan.

Eutanasia pasif : juga bisa dikategorikan sebagai tindakan eutanasia


negatif dimana tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif
untuk mengakhiri kehidupan si sakit. Tindakan pada eutanasia pasif ini
adalah dengan secara sengaja tidak (lagi) memberikan bantuan medis
yang dapat memperpanjang hidup pasien. Misalnya tidak memberikan
bantuan oksigen bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam pernapasan
atau tidak memberikan antibiotika kepada penderita pneumonia berat
ataupun meniadakan tindakan operasi yang seharusnya dilakukan guna
memperpanjang hidup pasien, ataupun dengan cara pemberian obat
penghilang rasa sakit seperti morfin walaupun disadari bahwa pemberian
morfin ini juga dapat berakibat ganda yaitu mengakibatkan kematian.
Eutanasia pasif ini seringkali secara terselubung dilakukan oleh
kebanyakan rumah sakit.

Penyalahgunaan eutanasia pasif bisa dilakukan oleh tenaga medis,


maupun pihak keluarga yang menghendaki kematian seseorang atau
keputusasaan keluargan karena ketidak sanggupan menanggung beban

18
biaya pengobatan. Ini biasanya terjadi pada keluarga pasien yang tidak
mungkin untuk membayar biaya pengobatannya, dan pihak rumah sakit
akan meminta untuk dibuat "pernyataan pulang paksa". Bila meninggal
pun pasien diharapkan mati secara alamiah. Ini sebagai upaya defensif
medis.

Ditinjau dari sudut pemberian izin maka eutanasia dapat


digolongkan menjadi tiga yaitu :

a) Eutanasia diluar kemauan pasien: yaitu suatu tindakan eutanasia


yang bertentangan dengan keinginan si pasien untuk tetap hidup.
Tindakan eutanasia semacam ini dapat disamakan dengan
pembunuhan.
b) Eutanasia secara tidak sukarela: Eutanasia semacam ini adalah yang
seringkali menjadi bahan perdebatan dan dianggap sebagai suatu
tindakan yang keliru oleh siapapun juga.Hal ini terjadi apabila
seseorang yang tidak berkompeten atau tidak berhak untuk
mengambil suatu keputusan misalnya statusnya hanyalah seorang
wali dari si pasien (seperti pada kasus Terri Schiavo). Kasus ini
menjadi sangat kontroversial sebab beberapa orang wali mengaku
memiliki hak untuk mengambil keputusan bagi si pasien.
c) Eutanasia secara sukarela : dilakukan atas persetujuan si pasien
sendiri, namun hal ini juga masih merupakan hal kontroversial.

Beberapa tujuan pokok dari dilakukannya eutanasia antara lain yaitu :

a) Pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing).


b) Eutanasia hewan.
c) Eutanasia berdasarkan bantuan dokter, ini adalah bentuk lain
daripada eutanasia agresif secara sukarela.

19
Eutanasia di berbagai Negara

1) Amerika
Eutanasia agresif dinyatakan ilegal dibanyak negara bagian di
Amerika. Saat ini satu-satunya negara bagian di Amerika yang
hukumnya secara eksplisit mengizinkan pasien terminal (pasien yang
tidak mungkin lagi disembuhkan) mengakhiri hidupnya adalah negara
bagian Oregon, yang pada tahun 1997 melegalisasikan kemungkinan
dilakukannya eutanasia dengan memberlakukan UU tentang
kematian yang pantas (Oregon Death with Dignity Act)[8]. Tetapi
undang-undang ini hanya menyangkut bunuh diri berbantuan, bukan
euthanasia. Syarat-syarat yang diwajibkan cukup ketat, dimana pasien
terminal berusia 18 tahun ke atas boleh minta bantuan untuk bunuh
diri, jika mereka diperkirakan akan meninggal dalam enam bulan
dan keinginan ini harus diajukan sampai tiga kali pasien, dimana dua
kali secara lisan (dengan tenggang waktu 15 hari di antaranya) dan
sekali secara tertulis (dihadiri dua saksi dimana salah satu saksi
tidak boleh memiliki hubungan keluarga dengan pasien). Dokter
kedua harus mengkonfirmasikan diagnosis penyakit dan prognosis
serta memastikan bahwa pasien dalam mengambil keputusan itu tidak
berada dalam keadaan gangguan mental.Hukum juga mengatur secara
tegas bahwa keputusan pasien untuk mengakhiri hidupnya tersebut
tidak boleh berpengaruh terhadap asuransi yang dimilikinya baik
asuransi kesehatan, jiwa maupun kecelakaan ataupun juga simpanan
hari tuanya.
Belum jelas apakah undang-undang Oregon ini bisa
dipertahankan di masa depan, sebab dalam Senat AS pun ada usaha
untuk meniadakan UU negara bagian ini. Mungkin saja nanti
nasibnya sama dengan UU Northern Territory di Australia. Bulan
Februari lalu sebuah studi terbit tentang pelaksanaan UU Oregon
selama tahun 1999. Sebuah lembaga jajak pendapat terkenal yaitu
Poling Gallup (Gallup Poll) menunjukkan bahwa 60% orang Amerika
mendukung dilakukannya euthanasia.

20
2) Belanda
Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-
undang yang mengizinkan eutanasia, undang-undang ini dinyatakan
efektif berlaku sejak tanggal 1 April 2002 , yang menjadikan Belanda
menjadi negara pertama di dunia yang melegalisasi praktik eutanasia.
Pasien-pasien yang mengalami sakit menahun dan tak tersembuhkan,
diberi hak untuk mengakhiri penderitaannya. Tetapi perlu ditekankan,
bahwa dalam Kitab Hukum Pidana Belanda secara formal euthanasia
dan bunuh diri berbantuan masih dipertahankan sebagai perbuatan
kriminal. Sebuah karangan berjudul "The Slippery Slope of Dutch
Euthanasia" dalam majalah Human Life International Special Report
Nomor 67, November 1998, halaman 3 melaporkan bahwa sejak
tahun 1994 setiap dokter di Belanda dimungkinkan melakukan
eutanasia dan tidak akan dituntut di pengadilan asalkan mengikuti
beberapa prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur tersebut adalah
mengadakan konsultasi dengan rekan sejawat (tidak harus
seorang spesialis) dan membuat laporan dengan menjawab sekitar
50 pertanyaan. Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum
mengatur kewajiban para dokter untuk melapor semua kasus
eutanasia dan bunuh diri berbantuan. Instansi kehakiman selalu
akan menilai betul tidaknya prosedurnya. Pada tahun 2002, sebuah
konvensi yang berusia 20 tahun telah dikodifikasi oleh undang-
undang belanda, dimana seorang dokter yang melakukan eutanasia
pada suatu kasus tertentu tidak akan dihukum.
3) Belgia
Parlemen Belgia telah melegalisasi tindakan eutanasia pada akhir
September 2002. Para pendukung eutanasia menyatakan bahwa
ribuan tindakan eutanasia setiap tahunnya telah dilakukan sejak
dilegalisasikannya tindakan eutanasia dinegara ini, namun mereka
juga mengkritik sulitnya prosedur pelaksanaan eutanasia ini sehingga
timbul suatu kesan adaya upaya untuk menciptakan "birokrasi
kematian". Belgia kini menjadi negara ketiga yang melegalisasi

21
eutanasia (setelah Belanda dan negara bagian Oregon di Amerika).
Senator Philippe Mahoux, dari partai sosialis yang merupakan salah
satu penyusun rancangan undang-undang tersebut menyatakan bahwa
seorang pasien yang menderita secara jasmani dan psikologis adalah
merupakan orang yang memiliki hak penuh untuk memutuskan
kelangsungan hidupnya dan penentuan saat-saat akhir hidupnya.
4) Inggris
Pada tanggal 5 November 2006, Kolese Kebidanan dan Kandungan
Britania Raya (Britain's Royal College of Obstetricians and
Gynaecologists) mengajukan sebuah proposal kepada Dewan Bioetik
Nuffield (Nuffield Council on Bioethics) agar dipertimbangkannya
izin untuk melakukan eutanasia terhadap bayi-bayi yang lahir cacat
(disabled newborns). Proposal tersebut bukanlah ditujukan untuk
melegalisasi eutanasia di Inggris melainkan semata guna memohon
dipertimbangkannya secara saksama dari sisi faktor "kemungkinan
hidup si bayi" sebagai suatu legitimasi praktek kedokteran.
Namun hingga saat ini eutanasia masih merupakan suatu tindakan
melawan hukum di kerajaan Inggris demikian juga di Eropa (selain
daripada Belanda). Demikian pula kebijakan resmi dari Asosiasi
Kedokteran Inggris (British Medical Association-BMA) yang secara
tegas menentang eutanasia dalam bentuk apapun juga.
5) Indonesia
Berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia adalah
sesuatu perbuatan yang melawan hukum, hal ini dapat dilihat
pada peraturan perundang-undangan yang ada yaitu pada Pasal 344
Kitab Undang- undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa
”Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan
orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-
sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun”. Juga
demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345,
dan 359 KUHP yang juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur
delik dalam perbuatan eutanasia. Dengan demikian, secara formal

22
hukum yang berlaku di negara kita memang tidak mengizinkan
tindakan eutanasia oleh siapa pun. Ketua umum pengurus besar
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Farid Anfasal Moeloek dalam suatu
pernyataannya yang dimuat oleh majalah Tempo Selasa 5 Oktober
2004 menyatakan bahwa: Eutanasia atau "pembunuhan tanpa
penderitaan" hingga saat ini belum dapat diterima dalam nilai dan
norma yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. "Euthanasia
hingga saat ini tidak sesuai dengan etika yang dianut oleh bangsa dan
melanggar hukum positif yang masih berlaku yakni KUHP Eutanasia
menuruit pandangan agama.
a. Agama Islam
Seperti dalam agama-agama Ibrahim lainnya (Yahudi dan
Kristen), Islam mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati,
namun hak tersebut merupakan anugerah Allah kepada manusia.
Hanya Allah yang dapat menentukan kapan seseorang lahir dan
kapan ia mati (QS 22: 66; 2: 243). Oleh karena itu, bunuh diri
diharamkan dalam hukum Islam meskipun tidak ada teks dalam
Al Quran maupun Hadis yang secara eksplisit melarang bunuh
diri. Kendati demikian, ada sebuah ayat yang menyiratkan hal
tersebut, "Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berbuat baik."(QS 2: 195), dan
dalam ayat lain disebutkan, "Janganlah engkau membunuh dirimu
sendiri," (QS 4: 29), yang makna langsungnya adalah "Janganlah
kamu saling berbunuhan."Dengan demikian, seorang Muslim
(dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien)
disetarakan dengan membunuh dirinya sendiri.[25] Eutanasia
dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al- maut
(eutanasia), yaitu suatu tindakan memudahkan kematian
seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih
sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik

23
dengan cara positif maupun negatif. Pada konferensi pertama
tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981, dinyatakan
bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya
eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy
killing) dalam alasan apapun juga Ketua Komisi Fatwa MUI
mengeluarkan fatwa yang haram tindakan Euthanasia (tindakan
mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat).
"Euthanasia itu kan pembunuhan," kata KH Ma`ruf Amin Ketua
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf
Amin mengatakan MUI telah lama mengeluarkan fatwa yang
mengharamkan dilakukannya tindakan Euthanasia (tindakan
mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat).
"Euthanasia, menurut fatwa kita tidak diperkenankan, karena itu
kan melakukan pembunuhan," kata KH Ma`ruf Amin di Jakarta,
Jumat (22/10).
Euthanasia dalam keadaan aktif maupun dalam keadaan
pasif, menurut fatwa MUI, tidak diperkenankan karena berarti
melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa orang lain.
Lebih lanjut, KH Ma'ruf Amin mengatakan, euthanasia boleh
dilakukan dalam kondisi pasif yang sangat khusus.
Kondisi pasif tersebut, dimana seseorang yang tergantung
oleh alat penunjang kehidupan tetapi ternyata alat tersebut lebih
dibutuhkan oleh orang lain atau pasien lain yang memiliki tingkat
peluang hidupnya lebih besar, dan pasien tersebut
keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Sedangkan,
kondisi aktif adalah kondisi orang yang tidak akan mati bila
hanya dicabut alat medis perawatan, tetapi memang harus
dimatikan.
Mengenai dalil atau dasar fatwa MUI tentang pelarangan
"euthanasia", dia menjelaskan dalilnya secara umum yaitu
tindakan membunuh orang dan karena faktor keputusasaan
yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Dia mengungkapkan,

24
dasar pelarangan euthanasia memang tidak terdapat secara
spesifik dalam Al Quran maupun Sunnah Nabi. "Hak untuk
mematikan seseorang ada pada Allah SWT," ujarnya
menambahkan. Ketua komisi fatwa MUI itu mengatakan,
MUI akan menjelaskan dan mengeluarkan fatwa pelarangan
euthanasia tersebut, apabila Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atau
institusi lainnya menanyakan kepada MUI. Dia menjelaskan,
kasus permohonan euthanasia memang belum pernah terjadi di
Indonesia, tetapi MUI telah menetapkan fatwa pelarangan
tersebut setelah melakukan diskusi dan pembahasan tentang
permasalahan euthanasia yang terjadi di luar negeri.

b. Agama Kristen
Gereja Protestan terdiri dari berbagai denominasi yang
mana memiliki pendekatan yang berbeda-beda dalam
pandangannya terhadap eutanasia dan orang yang membantu
pelaksanaan eutanasia. Beberapa pandangan dari berbagai
denominasi tersebut misalnya:
Gereja Methodis (United Methodist church) dalam buku
ajarannya menyatakan bahwa: "penggunaan teknologi kedokteran
untuk memperpanjang kehidupan pasien terminal membutuhkan
suatu keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan tentang
hingga kapankah peralatan penyokong kehidupan tersebut benar-
benar dapat mendukung kesempatan hidup pasien, dan kapankah
batas akhir kesempatan hidup tersebut".
Gereja Lutheran di Amerika menggolongkan nutrisi buatan
dan hidrasi sebagai suatu perawatan medis yang bukan
merupakan suatu perawatan fundamental. Dalam kasus dimana
perawatan medis tersebut menjadi sia-sia dan memberatkan,
maka secara tanggung jawab moral dapat dihentikan atau
dibatalkan dan membiarkan kematian terjadi.

25
Seorang kristiani percaya bahwa mereka berada dalam suatu
posisi yang unik untuk melepaskan pemberian kehidupan dari
Tuhan karena mereka percaya bahwa kematian tubuh adalah
merupakan suatu awal perjalanan menuju ke kehidupan yang
lebih baik. Lebih jauh lagi, pemimpin gereja Katolik dan
Protestan mengakui bahwa apabila tindakan mengakhiri
kehidupan ini dilegalisasi maka berarti suatu pemaaf untuk
perbuatan dosa, juga dimasa depan merupakan suatu racun bagi
dunia perawatan kesehatan, memusnahkan harapan mereka atas
pengobatan. Sejak awalnya, cara pandang yang dilakukan kaum
kristiani dalam menanggapi masalah "bunuh diri" dan
"pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) adalah
dari sudut "kekudusan kehidupan" sebagai suatu pemberian
Tuhan. Mengakhiri hidup dengan alasan apapun juga adalah
bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian tersebut.

2.5 Penyelesaian Dilema Etik


Kerangka pemecahan dilema etik, menurut kozier and Erb (1989)
1) Mengembangkan Data Dasar
a) Orang-orang yang terlibat dalam dilema etik tersebut : klien,
suami, anak, perawat, rohaniawan.
b) Tindakan yang diusulkan.
Sebagai klien dia mempunyai otonomi untuk membiarkan
penyakitnya menggerogoti tubuhnya walaupun sebenarnya bukan hal
itu yang di inginkannya. Dalam hal ini, perawat mempunyai peran
dalam pemberi asuhan keperawatan, peran advocad (pendidik) serta
sebagai konselor yaitu membela dan melindungi ibu tersebut untuk
hidup dan menyelamatkan jiwanya dari ancaman kematian.
c) Maksud dari tindakan
Dengan memberikan pendidikan, konselor, advokasi di harapkan
klien mau menjalani operasi serta dapat membuat keputusan yang
tepat terhadap masalah yang saat ini dihadapi.

26
d) Konsekuensi tindakan yang diusulkan
Operasi dilaksanakan
- Biaya
Biaya yang dibutuhkan klien cukup besar untuk dilaksanakannya
operasi.
- Psikososial
Pasien merasa bersyukur diberi umur yang panjang (bila
operasi itu lancar dan baik) namun klien juga dihadapkan pada
kecemasan akan kelanjutan hidupnya bila ternyata operasi itu
gagal serta biaya-biaya yang akan di keluarkan.
- Fisik
Klien mempunyai bentuk tubuh yang normal tidak terdapat
pembesaran dalam tubuhnya (perut) dan bila dibiarkan begitu
saja cepat atau lambat akan terjadilah kematian.

Bila operasi tidak dilaksanakan

- Biaya
Tidak mengeluarkan biaya apa-apa
- Psikososial
Klien dihadapkan pada suatu ancaman kematian terjadi
kecemasan dan rasa sedih dalam hatinya.
- Fisik
Timbulnya pembesaran di daerah abdomen
2) Identifikasi Konflik Akibat Situasi Tersebut
a) Untuk memutuskan apakah operasi dilakukan pada wanita tersebut,
perawat dihadapkan pada konflik tidak menghormati otonomi klien
b) Apabila tindakan operasi tidak di lakukan perawat dihadapkan pada
konflik:
- Tidak melaksanakan sumpah profesi
- Tidak melaksanakan kode etik profesi dan prinsip-prinsip
moral : advokasi,benefesience, justice, avoiding, killing.

27
- Tidak melaksanakan perannya sebagai pemberi asuhan
keperawatan.
- Perasaan bersalah (quilty) akibat tidak melaksanakan tindakan
operasi yang memungkinkan timbulnya kematian

3) Tindakan Alternatif Terhadap Tindakan yang Diusulkan

a) Mengusulkan dalam tim yang terlibat dalam masalah klien untuk


dilakukannya operasi, konsekuensi :Usul diterima atau ditolak aleh tim
dan pihak yang terlibat dalam penanganan klien.

- Mungkin klien secara psikologis akan menjadi lebih siap untuk


menghadapi tantangan akan kehidupan ini.

- Resiko pengeluaran biaya yang tak terduga/ tidak dapat diprediksi.

b) Mengangkat dilema etik ini kepada komisi etik keperawatan yang lebih
tinggi untuk mempertimbangkan apakah operasi ini dilakukan atau
tidak konsekuensi:

- Mungkin memperoleh tanggapan yang memuaskan.

- Mungkin memperoleh tanggapan yang kurang memuaskan.

- Tidak tertutup kemungkinan untuk tidak di tanggapi sama sekali.

c) Meminta izin kepada pimpinan lembaga pelayanan kesehatan (klinik


kesehatan) untuk menyampaikan informasi mengenai kondisi klien yang
sebenarnya. Konsekuensi :

- Koordinator lembaga pelayanan menyetujui atau menolak.

- Klien meperoleh informasi dan dapat memahami kondisinya, serta


dapat mengambil sikap untuk memutuskan tindakan yang terbaik
untuk dirinya.

- Kondisi psikologis klien lebih baik atau bertambah buruk karena


responnya terhadap informasi yang diperoleh.

28
4) Menetapkan Siapa Pembuat Keputusan

Pada kasus wanita tersebut merupakan masalah yang komplek dan rumit,
membuat keputusan dilakukan operasi atau tidak dapat diputuskan
oleh pihak tertentu saja tetapi harus diputuskan secara bersama-sama.

a) Pengambilan keputusan harus melibatkan tim yang terkait dan klien


b) Keputusan dibuat untuk :
- Pihak yang terkait dengan wanita tersebut untuk melakukan
operasi atau tidak.
- Klien, keputusan yang dibuat dapat memperoleh kepastian
apakah dilakukan operasi atau tidak.
c) Kriteria penetapan siapa pembuat keputusan
- Tim
Kumpulan dari beberapa pihak yang berkepentingan dan yang
paling memahami kondisi fisik dan psikologis klien. Masalah
yang dihadapi Sangay komplek dan rumit yang tidak hanya
memerlukan pertimbangan ilmiah, tetapi juga pertimbangan
etik sehingga pembuat keputusan akan lebih bijaksana dilakukan
oleh tim.
- Klien
Klien ádalah orang yang paling berkepentingan dalam
pengambilan keputusan yang dibuat oleh klien bisa berubah
secara tiba-tiba yang akan mempengaruhi keputusan tim.
- Keluarga
Keterlibatan keluarga dalam upaya penyelesaian masalah cukup
menentukan mengingat secara ekonomis klien masih Belem
mendapatkan biaya diperoleh darimana sehingga keluarga
mempunyai peranan yang cukup menemtukan masalah
d) Prinsip moral yang ditekankan berdasarkan prioritas dalam kasus ini :
- Otonomi
- Benefesiensi

29
- Justice
- avoiding killing
5) Mengidentifikasi Kewajiban Perawat
a. Menghindari klien dari ancaman kematian
b. Menghargai otonomi klien dan berusaha
menyeimbangkan dengan tanggung jawab pemberi pelayanan
kesehatan
c. Menghindarkan klien dari tindakan yang tidak
menguntungkan bagi dirinya.
d. Melaksanakan prinsip-prinsip kode etik keperawatan
e. Membantu sistem pendukung yang terlibat
6) Membuat keputusan
Keputusan yang dapat diambil sesuai dengan hak otonomi klien
dan dari pertimbangan tim kesehatan, sebagai seorang perawat,
keputusan yang terbaik adalah dilakukan operasi berhasil atau tidak
itu adalah kehendak yang maha kuasa sebagai manusia setidaknya
kita telah berusaha.

30
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dilema etik sering terjadi dalam praktik keperawatan, dan akan menjadi
pelik ketika dalam upaya pengambilan keputusan terdapat prinsip prinsip etik
yang bertentangan. Sebagai tenaga profesional terkadang perawat berada pada
posisi yang sulit untuk memutuskan dikarenakan alternatif pilihan keputusan yang
sama sama memiliki nilai positif dan negatif. Terkadang, pada saat berhadapan
dengan kondisi dilema etis dan dituntut untuk mengambil keputusan membawa
dampak emosional bagi perawat itu sendiri. Oleh karena itu keputusan etis tidak
dapat diputuskan secara pribadi oleh perawat.
Dalam setiap putusan tindakan keperawatan perawat harus melibatkan
pasien atau keluarga. Putusan yang diambil harus melalui proses analisa dan
berdasarkan prinsip etik yang berlaku. Keputusan etik yang diambil adalah
bersifat situasional, dalam arti hal ini berkenaan dengan tujuan dan kondisi dari
kasus itu sendiri. Dalam suatu keputusan etis suatu keputusan diambil berdasarkan
kebutuhan pasien dan tidak merugikan pasien. Keputusan etis dibuat berdasarkan
kesepakatan antara pasien dan perawat. Oleh karena itu sebagai perawat harus
mampu meyakinkan pasien bahwa keputusan etis yang diambil adalah
berdasarkan analisa dan pertimbangan yang matang. Kesepakatan persetujuan
keputusan tindakan tersebut dapat berupa informed consent, baik informed
consent yang tertulis maupun yang tidak tertulis sehingga terdapat bukti yang kuat
bahwa keputusan etik tersebut diambil berdasarkan kesepakatan bersama.

3.2 Saran

Dalam setiap pengambilan keputusan etis peran perawat adalah sebagai


konselor dan advokator. Artinya perawat harus memberikan informasi tentang
kondisi dan situasi yang terjadi, dan melibatkan pasien dan keluarga dalam proses
pengambilan keputusan. Sebagai advokat, berarti perawat melindungi hak pasien
untuk mendapatkan perawatan yang menguntungkan dan tidak merugikan
pasiennya.

31