You are on page 1of 4

MAOP menatap seorang wanita dari balik bayang rumah tua.

Wanita itu terlihat waspada seperti
sadar sedang diperhatikan. Bunyi high heels yang dipakai wanita tersebut menjadi nada yang
saling mengejar dengan tarikan napasnya. Wanita itu berhenti sejenak, kemudian melihat kiri
kanan. Bahkan menatap ke tempat Maop bersembunyi. Yang terlihat hanya kegelapan.

Terdengar desahan napas lega. Wanita itu kembali melangkah tanpa rasa curiga. Maop
tersenyum dari balik bayang, “ Ini saatnya bergerak ….”

***

“Mirah, tak baik perempuan berjalan sendirian di malam hari,” ujar Nek Tu sambil
menyugibakong asoe. Wanita berpipi cabi di depannya tersenyum tipis. Nek Tu sudah terlalu
uzur untuk mengerti dunia yang maju lebih cepat belakangan ini. Bukankah lelaki dan
perempuan memiliki hak yang sama? Apa salahnya seorang perempuan berada di luar pada
malam hari? Toh ia hanya menjual kosmetik, bukan menjual diri. Pekerjaannya sebagai seorang
SPG di sebuah Mall yang berada di Kota Juang ini, mengharuskan wanita tersebut naik shif
malam. Mall tutup pada jam 22. 00 WIB.

“Jangan seperti ibumu,” ujar Nek Tu lain kali. Mirah tak pernah tahu apa yang terjadi pada ibu
kandungnya. Yang ia tahu wanita yang dipanggilnya ibu bukanlah ibu biologisnya. Tapi wanita
itu akan marah besar kalau Mirah mengungkit hal tersebut. Menurut Nek Tu, wanita yang
dipanggilnya Ibu yang menjadi menantunya adalah saudara jauh wanita yang sudah
melahirkannya. Wanita itu menitipkan Mirah pada menantunya, kemudian menghilang entah
kemana. Mirah segera disusui ibu dan dijadikan anak perempuan sulung di keluarga mereka. Nek
Tu sering mengulang-ngulang cerita itu di belakang ibunya. Perempuan itu sudah sangat tua dan
mulai linglung, pikir Mirah berusaha menghibur diri. Kakinya saja sudah tidak bisa dibawa
berjalan.

Ah! Kaki-kaki Nek Tu-nya pasti sudah terlalu tua untuk mengejar cepatnya perputaran dunia
dewasa ini. Bahkan perempuan sudah naik ke bulan. Nek Tu masih tetap di singgasana
kebesarannya dan menyugibakong asoe. Singgasana yang dimaksud di sini adalah sebuah kamar
belakang yang sengaja dibuat lebih tinggi oleh Bapak. Hanya kamar Nektu yang disangga tiang-
tiang di rumah ini. Lengkap dengan guha-guha yang memudahkan Nek Tu buang air kecil atau
meludah. Tungkai tuanya sudah kekurangan kalsium, tidak bisa dibawa berjalan lagi. Pantas saja
pikirannya hanya berkisar di seputar singgasana saja.

Paling sesekali NekTu mendongeng kisah kepahlawanan Cut Nyak Din atau Keumala Hayati.
Nek Tu tak pernah tahu jika seorang aktris telah mendapatkan penghargaan internasional karena
berperan sebagai istri Teuku Umar itu. Dan Keumala Hayati dan bahteranya sudah naik ke
teater-teater. Saat Nek Tu muda dulu di kampungnya tak ada TV. Ketika ia menjadi tua, matanya
tak sanggup lagi untuk beradaptasi dengan kilauan cahaya yang dipancarkan benda persegi
empat tersebut. Dan Mirah tak perlu menyalahkan Nek Tu atas segala prinsip hidup yang
diyakini perempuan tua tersebut. Bukan pilihan yang bijak untuk menantang Nek Tu. Ia sanggup
mengoceh dua hari dua malam. Membicarakan perangai Mirah pada setiap anak cucu yang
menggunjinginya. Bahkan ia masih sanggup mendendangkan hal itu sampai Lebaran tahun
depan.

Senja telah bewarna saga. berharap istrinya ngambek dan mengungsi ke rumah saudaranya. Ia hanya muncul di bawah bayang- . Barbie. betapa terkejutnya ia mendapati isi lemari telah kosong. Mungkin istri dan putrinya sedang berkunjung ke rumah saudara yang berada di ujung desa. Maop menjadi enggan menampakkan diri di depan umum. Nek Tu akan membukakan jendela kamarnya untuk Mirah. pendengaran perempuan tua itu masih sangat baik. “Maop …. hitam …. “Nyan naMaop. Kecemasan akan kepergok Nek Tu selesai sudah. Segala kecantikan. Hercules. Berwujud legam dan berada di bawah bayangan.Nek Tu memang sudah tua bersama kulitnya yang kian keriput. Kenapa ia harus menjadi legenda kegelapan? Mungkin karena fisiknya yang besar dan hitam? Orang-orang memang kerap melabelkan sesuatu sesuai dengan tampilan fisik. Maop yang kecapaian sepulang kerja beristirahat sejenak. untuk sosok perempuan bermata indah dan berambut panjang. Ia merasa gagal sebagai suami. pahlawan gagah putra dewa. lelaki gagah yang mampu menaklukkan hati banyak wanita. Rasa malu menamparnya ribuan kali.” Suatu waktu. Mirah tak punya pilihan lain selain mengetuk pintu kamar Nek Tu. seram …. istrinya tak kunjung kembali. Toh Nek Tu tak akan pernah tahu jadwal kerja Mirah. Tapi hanya sepucuk surat yang ditinggalkan istri pada saudaranya. Ia merasakan nyeri di dadanya kemudian beranjak pergi dari tempat tersebut. Wanita yang pernah menjadi istrimu …. Betapa menyedihkan berfisik buruk rupa. Benar-benar menyedihkan. Siapa sih yang ingin menjadi sosok yang menakutkan? Bahkan oleh anak kecil sekali pun. ia mendengar seorang ibu muda menakuti anaknya yang hendak berjalan ke dekat Maop. Keharuman nama mereka melekat pada fisik yang indah. Semenjak kejadian itu. Sementara Maop? Sosok hitamnya menjadi simbol ketakutan. Kecuali kalau penghuni rumah sudah terlelap semua dan tidak ada yang membukakan pintu untuknya. kebaikan dan kelembutan melekat pada sosok itu. “Aku sudah tidak sanggup hidup bersamamu lagi. Kemarin Mirah sudah menggandakan kunci pintu depan. Membiarkan ia tak ditantang di istananya merupakan keputusan yang bijak.” Kalimat itu mengiringi langkah Maop kala senja beranjak ke peraduan malam. Mungkin karena fisiknya juga anak dan istrinya pergi meninggalkan dirinya. seram!” Itulah kata-kata yang sering didendangkan orang untuknya. maop …. Jangan pernah mencariku lagi. *** Sosok bertubuh tinggi besar itu kembali mengutuk dirinya sendiri. Padahal sudah banyak legenda di dunia ini. Nak. Satu hal yang ajaib. Ia masuk ke kamar tidur. Arjuna. Pada suatu senja didapatinya rumah sudah kosong melompong. Sungguh ia tidak memilih untuk menjadi begini. Maop kembali berjalan pulang ke rumah mereka. Dan Mirah memanjat masuk lewat jendela dengan menyeret kursi teras ke bawah jendela Nek Tu. hitam …. Tergesa Maop menuju ke ujung desa. jangan ke situ. Lunglai.

tenggorokannya terasa kering. . Mirah berjalan cepat di lorong sempit yang mengarah ke rumahnya. Maop tersentak kaget. Sembari mengenang anak dan istri yang tak pernah kembali. Pemuda itu kabur tanpa sempat menaikkan celananya. Jangkrik bernyanyi dari tanah lapang yang berada di utara. Perasaannya seperti ada yang sedang megikuti terus mengusik hatinya. Wajah itu …. Tatapan mata wanita itu semakin menusuk dada kiri Maop. Hingga kegelapan mendatanginya. legam. Ia mendekap dada kiri. sosok hitam yang berada di bawah bayang-bayang. Kemudian terduduk di hadapan wanita yang mulai membuka matanya perlahan-lahan. Sungguh ia menikmati ini semua. Ketika kukunya mengenai kulit wanita tersebut. Sesosok hitam. pikir Maop kala itu. Maop akhirnya memutuskan menjadi seperti yang dikatakan mereka. Setelah menarik napas panjang. membuang hajat di badan sungai yang dipakai desa sebelah sebagai sumber air minum. tinggi besar sudah berdiri di hadapannya …. Tiba- tiba langkah Mirah berhenti. Tak ada apa-apa. Maop merasakan nyeri di ulu hatinya. Ia tercekat. kemudian mencampakkannya di jalanan. Dipegangnya bahu sang wanita yang tergetar ketakutan itu. Ia melakukannya tanpa rasa bersalah. Mendadak ia berhenti dan mengamati sekeliling. Sungguh tak beretika. menatap korbannya yang pasrah memejamkan mata. Maop merasakan sakit yang tiada dua. Seperti biasa kuku-kuku tajamnya akan menghunjam ke dada kiri korbannya. Bulan bergantung pucat di angkasa malam. *** Maop memamerkan giginya pada wanita yang sedang ketakutan di depannya. Wanita itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Pernah sekali waktu seorang pemuda yang hendak buang hajat di sungai melihatnya berdiri di bawah pohon waru. Makanannya kesedihan dan air mata menjadi pelepas dahaga satu-satunya. Maop. Bosan dengan tuduhan orang-orang terhadap dirinya. Ia selalu berandai-anda korbanya adalah istri yang tega meninggalkan Maop dalam kepedihan. Pita suaranya lumpuh. Ia telah dibuat takut oleh bunyi tapak sepatunya sendiri. ingin menjerit. Maop berjalan mendekati wanita yang berparas pucat tesebut. Tangannya seperti tersetrum ribuan volt listrik. Segumpal awan hitam yang dibawa angin menutupinya perlahan-lahan. Dan ia bisa mengambil hati korban- korbanya dengan bahagia. Itulah yang dikatakan orang terhadapnya. Siapa pun yang melihatnya akan lari terbirit-birit ketakutan. Ternyata perasaannya saja yang membuat ia ketakutan sendiri.bayang. Ia mundur ke belakang. Jahat. hitam dan legam …. dibuangnya rasa takut jauh-jauh. Rasa was-was menyelimuti hati. Tapi ia terlanjur dikenal sebagai sosok yang menakutkan. Wanita itu yang tak lain adalah Mirah itu menyodorkan botol air mineral pada sosok tinggi besar yang kini berlutut kesakitan di depannya.

Maop masih bersimpuh sambil menatap botol air mineral yang diberikan Mirah. Tanpa berkata-kata Mirah berjalan meninggalkan makhluk itu. Bunyi langkah yang menggunakan high heels terdengar semakin menjauh….Dengan tangan tergetar maop menerima benda tersebut. .