You are on page 1of 18

BAB II

PEMBAHASAN

A. PPNI Sebagai Organisasi Profesi

Sebelum membahas mengenai organisasi sebaiknya kita mengetahui


tentang apa itu organisasi dan profesi itu sendiri. W.J.S. Poerwadarminta
(dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia) organisasi yaitu susunan dan aturan
dari berbagai bagian, sehingga merupakan kesatuan yang teratur. Selanjutnya
menurut James D. Mooney, organisasi adalah bentuk setiap perserikatan
manusia untuk mencapai tujuan bersama. Chester I. Bernard, organisasi
merupakan suatu system aktivitas kerjasama yang dilakukan oleh dua orang
atau lebih. Dari berbagai pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa
organisasi merupakan suatu perserikatan manusia antaradua orang atau lebih
yang di dalamnya terdapat susunan dan aturan serta system aktivitas kerja
untuk mencapai tujuan bersama.

Selanjutnya yaitu mengenai profesi dapat diartikan sebagai suatu


pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah
hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. Adapun karakteristik dari
profesi antara lain adalah mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian
khusus, dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna
waktu), dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup dan dilaksanakan
dengan keterlibatan pribadi yang mendalam.

Berdasarkan UU No. 18 / 2002 tentang IPTEK, organisasi profesi adalah


wadah masyarakat ilmiah dalam suatu cabang atau lintas disiplin ilmu
pengetahuan dan teknologi atau suatu bidang kegiatan profesi, yang dijamin
oleh negara untuk mengembangkan profesionalisme dan etika profesi dalam
masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan (pasal 1 butir 14 UU
No. 18/2002 tentang IPTEK).

3
4

Dari berbagai uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa organisasi


profesi merupakan suatu organisasi yang didirikan oleh dua orang atau lebih
yang memiliki profesi yang sama untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan
Merton mendefinisikan bahwa organisasi profesi adalah organisasi dari praktisi
yang menilai atau mempertimbangkan seseorang atau yang lain mempunyai
kompetensi professional dan mempunyai ikatan bersama untuk
menyelenggarakan fungsi sosial yang mana tidak dapat dilaksanakan secara
terpisah sebagai individu.

Organisasi profesi menyediakan kendaraan untuk anggotanya dalam


menghadapi tantangan yang ada saat inidan akan datang serta bekerja kearah
positif terhadap perubahan - perubahan profesi sesuai dengan perubahan sosial.

Merton mendefinisikan bahwa organisasi profesi adalah organisasi dari


praktisi yang menilai mempertimbangkan seseorang atau yang lain mempunyai
kompetensi professional dan mempunyai ikatan bersama untuk
menyelenggarakan fungsi sosial yang mana tidak dapat dilaksanakan secara
terpisah sebagai individu.

Organisasi profesi mempunyai dua perhatian perhatian utama:

1. Kebutuhan hukum untuk melindungi masyarakat dan perawat yang tidak


dipersiapkan dengan baik.
2. Kurangnya standar dalam keperawatan.

Organisasi profesi mempunyai ciri – cirri sebagai berikut :

1. Hanya ada satu organisasi untuk setiap profesi.


2. Ikatan utama para anggota adalah kebanggan dan kehormatan.
3. Tujuan utama adalah menjaga martabat dan kehormatan profesi.
4. Kedudukan dan hubungan antar anggota bersifat persaudaraan.
5. Memiliki sifat kepemimpinan kolektif.
6. Mekanisme pengambilan keputusan atas dasar kesepakatan.
5

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai organisasi profesi


ini lahir berdasarkan serangkaian perundingan beberapa tokoh tenaga
keperawatan dari berbagai organisasi keperawatan yang berdiris endiri.
Dengan kesadaran akan pentingnya persatuan, maka pada tanggal 17 Maret
1974, mereka sepakat melaksanakan fusi menjadi Persatuan Perawat Nasional
Indonesia yang disingkat menjadi PPNI.

PPNI didirikan pada tanggal 17 Maret 1974 yang kepengurusannya terdiri


dari 1 Pengurus Pusat PPNI berkedudukan di Ibu Kota Negara, 32 Pengurus
PPNI Propinsi, 358 Pengurus PPNI Kabupaten/Kota dan lebih dari 2500
Pengurus Komisariat (tempat kerja) yang menghimpun ratusan ribu perawat
Indonesia baik yang berada di Indonesia maupun di Luar Negeri, saat ini
sudah dibentuk INNA-K ( Indonesian National Nurses Association in
Kuwait).

Sejak Juni 2003, PPNI telah menjadi anggota ICN (International Council
Nursing) yang ke - 125 dengan visi sebagai corong suara yang kuat bagi
komunitas keperawatan dan berkomitmen tinggi untuk memberikan pelayanan
dan asuhan keperawatan yang kompeten, aman dan bermutu bagi masyarakat
luas.

Visi dari PPNI sendiri adalah menjadi suara yang kuat bagi komunitas
keperawatan dan komit terhadap pemberian asuhan keperawatan professional
yang berkualitas bagi kepentingan masyarakat.

Misi dari PPNI antara lain adalah :

1. Memantapkan manajemen dan kepemimpinan Pengurus PPNI untuk


mencapai suatu kepengurusan yang kokoh dan jejaring kerja yang pada
semua tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten atau Kota, dan Komisaria.
2. Mendukung perawat Indonesia dalam melakukan praktik keperawatan
yang aman, kompeten dan professional bagi masyarakat.
3. Membuka pintu gerbang dunia bagi perawat Indonesia melalui kompetensi
global yang dimiliki.
6

Adapun fungsi dari PPNI adalah sebagai:

1. Sebagai wadah tenaga keperawatan yang memiliki persamaan kehendak


sesuai dgn jenis/profesi dan lingkungan kerja utk mencapai tujuan
organisasi.

2. Mengemban, mengamankan &membela Pancasila serta berorientasi pd


program pembangunan manusia seutuhnya tanpa membedakan thdp Tuhan
YME.

3. Menampung, memadukan, menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi


tenaga keperawatan serta mengembangkan keprofesian dan kesejahteraan
tenaga keperawatan.

Dalam pengembangan keperawatan organisasi profesi PPNI berfungsi:

1. Secara aktif turut dalam merumuskan dan menetapkan standar profesi


untuk pendidikan tinggi keperawatan dan untuk pelayanan dan asuhan
keperawatan dan kompetensi lulusan pendidikan tinggi keperawatan.
2. Turut mengidentifikasi berbagai jenis ketenagaan keperawatan dengan
berbagai jenjang kemampuan yang diperlukan dalam pengembagan
keperawatan dimasa depan.
3. Ikut menyusun criteria dan mekanisme penapisan serta penerapan
teknologi keperawatan maju secara tepat guna dan demi kemaslahatan
masyarakat secara keselurahan.
4. Bertanggung jawab dalam pengendalian dan pemanfaatan lulusan
pendidikan tinggi keperawatan khususnya dalam hal legislasi keperawatan
professional.
B. Etika dan Kode Etik Keperawatan

Menurut kamus webster, etik adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang
apa yang baik dan buruk secara moral. Dari pengertian di atas, etika adalah
ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana sepatutnya manusia
hidup di dalam masyarakat yang menyangkut aturan-aturan atau prinsip-prinsip
yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu baik dan buruk, kewajiban
dan tanggung jawab (Ismani: 2000).
7

Etik mempunyai arti dalam penggunaan umum. Pertama, etik mengacu


pada metode penyelidikan yang membantu orang memahami moralitas perilaku
manuia; yaitu, etik adalah studi moralitas. Ketika digunakan dalam acara ini,
etik adalah suatu aktifitas; etik adalah cara memandang atau menyelidiki isu
tertentu mengenai perilaku manusia. Kedua, etik mengacu pada praktek,
keyakinan, dan standar perilaku kelompok tertentu, misalnya etik dokter, etik
perawat.

Etika berbagai profesi digariskan dalam kode etik yang bersumber dari
martabat dan hak manusia (yang memiliki sikap menerima) dan kepercayaan
dari profesi.

Kode etik adalah suatu pernyataan formal mengenai suatu standar


kesempurnaan dan nilai kelompok. Kode etik adalah prinsip etik yang
digunakan oleh semua anggota kelompok, mencerminkan penilaian moral
mereka sepanjang waktu, dan berfungsi sebagai standar untuk tindakan
profesional mereka.

Aturan yang berlaku untuk seorang perawat Indonesia dalam


melaksanakan tugas atau fungsi perawat adalah kode etik perawat nasional
Indonesia, di mana seorang perawat selalau berpegang teguh terhadap kode etik
sehingga kejadian pelanggaran etik dapat di hindarkan .

Tujuan kode etik adalah agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya


kepada pemakai atau penggunanya. Adanya kode etik, akan melindungi
perbuatan yang tidak professional.

Prinsip bahwa dasar kode etik adalah menghargai hak dan martabat
manusia, tidak akan pernah berubah. Prinsip ini juga diterapkan baik dalam
bidang pendidikan maupun dalam pelerjaan, serta hak – haknya didalam
memperoleh pelayanan kesehatan. Adapun fungsi kode etik menurut
Hypocrates, yaitu :

1. Menghindari ketegangan antar manusia


2. Memperbaiki status kepribadian
8

3. Menopang pertumbuhan dan perkembangan kehidupan

Kode etik bukan merupakan kode yang kaku karena akibat perkembangan
zaman maka kode etik mungkin menjadi usang atau sudah tidak sesuai dengan
tuntutan zaman. Misalnya, kode etik tentang euthanasia (mati atas kehendak
sendiri), dahulu belum tercantum dalam kode etik kedokteran namun kini
sudah dicantumkan.

Kode etik disusun oleh organisasi profesi sehingga masing-masing profesi


memiliki kode etik tersendiri. Misalnya, kode etik dokter , perawat, dan lain-
lain.

Kode etik disusun dan disahkan oleh organisasi atau wadah yang membina
profesi tertentu baik secara nasional maupun internasional. Kode etik
keperawatan di Indonesia telah disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan
Perawat Nasional Indonesia melalui Musyawarah Nasional PPNI di jakarta
pada tanggal 29 November 1989.

Kode etik keperawatan Indonesia tersebut terdiri dari 4 bab dan 16 pasal.

1. Bab 1 terdiri dari 4 pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat


terhadap individu, keluarga dan masyarakat.
2. Bab 2 terdiri dari 5 pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat
terhadap tugasnya.
3. Bab 3 terdiri dari 2 pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat
terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lain.
4. Bab 4 terdiri dari 4 pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat
terhadapa profesi keperawatan.
5. Bab 5 terdiri dari 2 pasal, menejelaskan tentang tanggung jawab perawat
terhadap pemerintah, bangsa dan tanah air. (Ismani: 2000)
9

Tanggung jawab yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Tanggung Jawab Perawat terhadap Klien


Dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga atau
komunitas, perawat sangat memerlukan etika keperawatan yang merupakan
filsafat yang mengarahkan tanggung jawab moral yang mendasar terhadap
pelaksanaan praktik keperawatan, dimana inti dari falsafah tersebut adalah hak
dan martabat manusia. Karena itu, fokus dari etika keperawatan ditujukan
terhadap sifat manusia yang unik. Untuk memelihara dan meningkatkan
kepercayaan masyarakat, diperlukan peraturan tentang hubungan antara
perawat dengan masyarakat, yaitu sebagai berikut.
a. Perawat, dalam melaksanakan pengabdiannya, senantiasa berpedoman
pada tanggung jawab yang bersumber dari adanya kebutuhan terhadap
keperawatan individu, keluarga, dan masyarakat.
b. Perawat, dalam melaksanakan pengabdian di bidang keperawatan,
memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya,
adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari individu, keluarga
dan masyarakat.
c. Perawat, dalam melaksanakan kewajibannya terhadap individu,
keluarga dan masyarakat, senantiasa dilandasi rasa tulus, ikhlas sesuai
dengan martabat dan tradisi luhur keperawatan.
d. Perawat menjalin hubungan kerjasama dengan individu, keluarga dan
masyarakat, khususnya dalam mengambil prakarsa dan mengadakan
upaya kesehatan, serta upaya kesejahteraan pada umumnya sebagai
bagian dari tugas dan kewajiban bagi kepentingan masyarakat.

2. Tanggung Jawab Perawat terhadap Tugas


a. Perawat memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai
kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan serta
keterampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu,keluarga,
dan masyarakat.
b. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya
sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya,kecuali jika
10

diperlukan oleh pihak yang berwenang sesuai dengan ketentuan hukum


yang berlaku.
c. Perawat tidak akan menggunakan pengetahuan dan keterampilan
keperawatan yang dimilikinya untuk tujuan yang bertentangan dengan
norma-norma kemanusian.
d. Perawat,dalam menunaikan tugas dan kewajibannya,senantiasa
berusaha dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh oleh
pertimbangan kebangsaan,kesukuan,warna kulit,umur, jenis
kelamin,aliran politik,agama yang dianut, dan kedudukan sosial.
e. Perawat mengutamakan perlindungan dan keselamatan pasien/klien
dalam melaksanakan tugas keperawatannya,serta matang dalam
mempertimbangkan kemampuan jika menerima atau
mengalih/tugaskan tanggung jawab yang ada hubungannya dengan
keperawatan.

3. Tanggung Jawab Perawat terhadap Sejawat


Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan
lain adalah sebagai berikut:
a. Perawat memelihara hubungan baik antar sesama perawat dan tenaga
kesehatan lainnya, baik dalam memelihara keserasian suasana
lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan
secara menyeluruh.
b. Perawat menyebarluaskan pengetahuan,keterampilan, dan
pengalamannya kepada sesama perawat serta menerima pengetahuan
dan pengalaman dari profesi dalam rangka meningkatkan kemampuan
dalam bidang keperawatan.
4. Tanggung Jawab Perawat terhadap Profesi
a. Perawat berupaya meningkatkan kemampuan profesionalnya secara
sendiri-sendiri dan/atau bersama-sama dengan jalan menambah ilmu
pengetahuan,keterampilan, dan pengalaman yang bermanfaat bagi
perkembangan keperawatan.
11

b. Perawat menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan


menunjukan perilaku dan sifat-sifat pribadi yang luhur.
c. Perawat berperan dalam menentukan pembakuan pendidikan dan
pelayanan keperawatan, serta menerapkannya dalam kegiatan
pelayanan dan pendidikan keperawatan.
d. Perawat secara bersama-sama membina dan memelihara mutu
organisasi profesi keperawatan sebagai sarana pengabdiannya.

5. Tanggung Jawab Perawat terhadap Negara


a. Perawat melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai kebijaksanaan
yang telah di gariskan oleh pemerintah dalam bidang kesehatan dan
keperawatan.
b. Perawat berperan secara aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada
pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan
keperawatan kepada masyarakat.

C. Majelis Kehormatan Etik Keperawatan

Kode etik memerlukan pengawasan secara terus menerus yang pada


umumnya kode etik akan mengandung sanksi - sanksi yang akan dikenakan
pada pelanggar.
Dewan Kehormatan Kode Etik dibentuk oleh Organisasi Profesi untuk
menegakkan etika, pelaksanaan kegiatan profesi serta menilai pelanggaran
profesi yang dapat merugikan masyarakat atau kehidupan profesionalisme di
lingkungannya.

Salah satu hasil Musyawarah Nasional Persatuan Perawat Nasional


Indonesia ke VII, yang diselenggarakan di Manado pada tanggal 24 – 28 Juli
2005, pada pasal 25 Bab III, adalah menjelaskan tentang Majelis Kehormatan
Etik Keperawatan yang mengatur status, Kewenangan, dan susunan pengurus.
12

Berikut mengenai Pasal 25 Tentang Majelis Kehormatan Etik


Keperawatan:

1. Status
a. Majelis Kehormatan Etik Keperawatan adalah majelis yang
memberikan pertimbangan untuk masalah etik keperawatan kepada
pengurus pusat atau pengurus provinsi dan anggota.
b. Majelis Kehormatan Etik Keperawatan dibentuk melalui Musyawarah
Nasional di tingkat pusat, Musyawarah Provinsi di tingkat Provinsi,
sedangkan di tingkat Kabupaten Kota dapat dibentuk dengan
pertimbangan khusus pengurus pusat.
c. Masa bakti pengurus Majelis Etik Keperawatan selama 5 tahun.
d. Ketua Majlis Kehormatan Etik Keperawatan dapat dipilih untuk 2
(dua) periode berturut – turut.
2. Kewenangan
a. Melakukan penyelidikan dan menyelesaikan masalah etik yang
berkaitan dengan pelanggaran etik profesi keperawatan.
b. Membina penghayatan dan pengamalan kode etik keperawatan.
c. Melakukan koordinasi dengan Komite Etik Institusi sesuai jenjang
organisasi
3. Susunan pengurus
a. Kedudukan majelis kehormatan Etik Keperawatan berada di Pusat dan
Provinsi
b. Kepengurusan terdiri dari ketua, sekretaris, dan anggota 5 orang
c. Hal –hal lain yang belum diatur dalam ketentuan ini diatur dalam
peraturan tersendiri, selama tidak bertentangan dengan ketentuan yang
berlaku.

Semakin meningkatkan ilmu dan teknologi serta kewaspadaan masyarakat


terhadap pelayanan kesehatan yang diterimanya, membuat praktisi kesehatan
juga harus berhati-hati dan perlu dilindungi. Menurut Potter dan Perry (2005),
masalah etis jarang dipecahkan dengan cara top down, di mana individu yang
berwenang. Penerapan etik dalam praktik sehari-hari di lingkungan
13

institusional adalah aktivitas komunitas yang meliputi masukan dari klien,


keluarga, tenaga profesional yang lain, serta administrator.
Untuk membantu menjembatani dialog dan memberikan pendidikan serta
sumber kebijakan yang diperlukan guna menciptakan suasana yang peka bagi
pelanggar prinsip etis, institusi kesehatan telah mengembangkan komite etik
melayani berbagai tujuan yang antara lain meliputi, pendidikan, rekomendasi
kebijakan, serta konsultasi atau tinjauan kasus. Adapun fungsi utama komite
etik adalah sebagai berikut:
1. Memberikan pendidikan terkait etika untuk kelompok masyarakat yang
berbeda seperti klien, keluarga, profesional, staf institusi, dan anggota
komunitas.
2. Untuk mendukung institusi dalam perkembangan dan peninjauan
kebijakan yang berhubungan dengan tanggung jawab etik.
3. Untuk menyakinkan bahwa kebijakan tersebut diimplementasikan dan
dipahami oleh kelompok dan praktisi mana pun.
4. Untuk berperan sebagai konsultan dalam situasi klien tertentu dengan
dimensi etik.

Menurut Rushton (1994), dalam Potter dan Perry (2005), menyatakan


bahwa pada awal sejarah komite etik, perawat belum terlibat dalam
keanggotaan tersebut. Hal ini dipersepsikan bahwa yang mengambil keputusan
klinik, bahkan dalam bidang etika adalah fungsi dari dokter. Namun dengan
berkembangnya keilmuan, maka keikut sertaan perawat dalam komite dan etik
juga terus berkembang. Komposisi komite bersifat multi disiplin yang meliputi
perawat, dokter, administrator, pendidik, pekerja sosial, tokoh agama,
mahasiswa kedokteran atau keperawatan, dan wakil orang awam.
Sebelum diambil keputusan, perlu ada pemetaan pelanggaran yang
dilakukan terhadap tenaga perawat terkait. Pada gambar dapat dilihat bahwa
pelanggaran yang dapat dilakukan oleh tenaga keperawatan terdiri dari
berbagai kategori, dari yang paling ringan sampai dengan yang terberat.
Pelanggaran etika termasuk dalam kategori yang paling ringan dan banyak
dilakukan. Sanksinya ada pada perawat itu sendiri dan tanggung jawab moral
14

merupakan urusan individu dengan Tuhan, hati nuraninya akan menjawab


dengan jujur apa yang telah dilanggarnya dan apa yang akan dilakukan untuk
perbaikan dirinya, tetapi dalam praktik dapat juga mengarah pada sanksi
administratif . Institusi Pelayanan Kesehatan perlu memikirkan bagaimana cara
terbaik agar tanggung jawab moral dan usaha untuk memperbaiki diri pada
perawat dapat terbina dengan baik. Arahan sanksi biasanya dalam bentuk
pemberian peringatan, pendidikan, dan mencabut rekomendasi izin praktik.

PIDANA

PERDATA

DISIPLIN

ETIKA

Gambar 2.1 Pemetaan jenis Pelanggaran

Pelanggaran disiplin berkaitan dengan konflik antara individu dngan peer


groupnya, biasanya dilakukan terkait dengan standar profesi seperti
kemampuan dibawah standar, kepatuhan terhadap peraturan, dan masalah
komunikasi. Sebagai contoh, perawat shift sore yang seharusnya datang jam
13.30 untuk menggantikan temannya, ternyata baru datang jam 15.00. tentu
saja ini menggangu sistem dan berdampak kerugian pada orang lain.
Pelanggaran perdat dan pidana adalah ranah hukum, terkait dengan
pelanggaran norma hukum yang diselesaikan oleh pengadilan dan meliputi
individu yang berperan menjadi hakim, penggugat atau jaksa, serta adanya
terdakwa. Biasanya untuk perawat, dokter, dan rumah sakit terkait dengan
adanya kelalaian.
15

Di indonesia untuk mengatur tenaga kesehatan yang secara individual


mengabdikan dirinya dalam pelayanan kesehatan, diberikan kewenangan untuk
menangani klien sesuai dengan kualitas yang diharapkan. Untuk melindungi
kepentingan klien meupun tenaga kesehatan itu sendiri, maka perlu di buat
lembaga yang bersifat otonom, mandiri, dan nonstruktural yang disebut dengan
Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan (MDKT). Berikut ini disajikan tentang
Majelis Disiplin Tenaga KesEhatan, yang dikutip dari Wijono Djoko (2000).
Menurut KepPres No.56 Tahun 1995, Majelis Disiplin Tenaga Kesehtan
(MDKT), Presiden RI menimbang :
1. Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian
dalam melaksanakan tugas profesinya, dapat dikenakan tindakan disiplin.
2. Untuk memberikan penilian yang objektif ada atau tidak adanya kesalahan
atau kelalaian dalam penerapan standar profesinya yang dilakukan oleh
tenaga kesehatan, dipandang perlu membentuk Majelis Disiplin Tenaga
Kesehatan dengan Keputusan Presiden.

Dalam rangka pemberian perlindungan yang seimbang dan objektif kepada


tenaga kesehatan dan masyarakat penerima pelayanan kesehatan, dibentuk
Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan untuk menentukan ada atau tidak adanya
kesalahan atau kelalaian tenaga kesehatan dalam menerapkan standar profesi.
Majelis Disiplin tenaga Kesehatan yang selanjutnya disingkat MDKT
merupakan lembaga yang bersifat otonom, mandiri, dan nonstruktural.

D. Pemecahan Masalah Etis


Kode etik mengimbau perawat tentang hal yang boleh dan tidak boleh
dilakukan. Sebetulnya hal ini bukanlah sebuah paksaan, semua iru bergantung
pada perawat itu sendiri. Perawat bebas mendengarkan kata hatinya bila telah
menerima hal yang baik tentu kata hati akan menuntunnya, dan akan tertanam
nilai moral.
Prinsip moral mempunyai nilai yang penting dalam menentukan perilaku
yang etis dalam pemecahan masalah etik. Prinsip moral merupakan standar
yang umum dalam menentukan sesuatu sehingga membentuk suatu sistem
16

etik. Prinsip moral berfungsi untuk membuat secara spesifik apakah suatu
tindakan dilarang, diperlukan, atau diizinkan dalam suatu keadaan. Terdapat
tiga prinsip moral (Johnstone, 1989), diantaranya yaitu:
1. Otonomi
Otonomi berasal dari bahasa latin, yaitu autos, yang berarti sendiri
dan nomos, yang berarti aturan. Otonomi berarti kemampuan untuk
menentukan sendiri atau mengatur diri sendiri. Menghargai otonomi
berarti menghargai manusia sebagai seseorang yang mempunyai harga diri
dan martabat yang mampu menentukan sesuatu bagi dirinya. Perawat
harus menghargai harkat dan martabat manusia sebagai individu yang
dapat memutuskan hal yang terbaik bagi dirinya. Perawat harus
melibatkan klien untuk berpartisipasi dalam membuat keputusan yang
berhubungan dengan asuhan keperawatan klien tersebut.
Beberapa tindakan yang tidak memperhatikan otonomi, adalah:
a. Melakukan sesuatu pada klien tanpa mereka diberitahu
sebelumnya.
b. Memberikan sesuatu tanpa memberikan informasi yang relevan
yang penting diketahui klien dalam membuat suatu pilihan.
c. Memberitahukan klien bahwa keadaannya baik, padahal terdapat
gangguan atau penyimpangan.
d. Memaksa klien untuk memberikan informasi tentang hal – hal
yang klien sudah tidak mau menjelaskannya.

Perawat yang menghargai manusia dalam penerapan otonomi,


termasuk juga menghargai profesi lain dalam lingkup tugas perawat,
misalnya dokter, ahli gizi, ahli farmasi, dan sebagainya.

2. Non-maleficience
Non-maleficience berarti tidak melukai atau tidak menimbulkan
bahaya atau cedera bagi orang lain. Johnson (1989) menyatakan bahwa
prinsip untuk tidak melukai orang lain berbeda dan lebih keras daripada
prinsip untuk melakukan yang baik.
17

Beneficience merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan


tidak merugikan orang lain. Contohnya, saat sesorang klien tidak mau
diberikan tindakan yang bertentangan dengan hati nuraninya, namun
keadaaan memaksa bahwa klien harus diberikan tindakan tersebut karena
tidak ada opsional lain. Tindakan inilah yang disebut prinsip beneficience,
walaupun saat bersamaan terjadi prinsip maleficience.
3. Keadilan
Keadilan merupan prinsip moral berlaku adil untuk semua
individu. Tindakan yang dilakukan untuk semua orang sama. Tindakan
yang sama tidak selalu identik , tetapi dalam hal ini persamaan berarti
mempunyai kontribusi yang relative sama untuk kebaikan dan kehidupan
seseorang. Dalam aplikasinya, prinsip moral ini tidak berdiri sendiri, tetapi
bersifat koplementer sehingga kadang – kadang menimbulkan masalah
dalam berbagai situasi.
Kontak yang terus menerus antara perawat dan klien menimbulkan
suatu hubungan perawat – klien yang spesifik, yang dibina atasa dasar
saling percaya. Hubungan yang spesifik ini merupakan dasar dalam etika
keperawatan. Hubungan perawat – klien didasarkan pada penghargaan
harkat dan martabat manusia, pertumbuhan rasa saling percaya, cara
pemecahan masalah dan kolaborasi. Dalam hubungan perawat – klien,
perawat relevan dengan masalah klien. Perawat juga berfungsi sebagai
konselor, yaitu ketika menjelaskan perasaannya dan hal – hal yang
berkaitan dengan kesakitannya.
Disamping itu perawat juga dapat berfungsi sebagai pengganti
orang tua, saudara kandung, atau orang yang paling dekat dengan klien
sehingga memungkinkan klien mengekspresikan perasaannya sesuai
dengan sifat hubungan tersebut. Fungsi lain yang dilaksanakan perawat
adalah sebagai seorang ahli yang mempunyai pengetahuan dan
keterampilan dalam mengatasi masalah klien. Pada proses hubungan
perawat – klien, klien mengutarakan masalahnya dalam rangka
mendapatkan pertolongan, artinya klien mempercayakan dirinya terhadap
asuhan keperawatan yang diberikan, untuk ini perawat mempunyai
18

kewajiban untuk menghargai kepercayaan klien dengan memberikan


asuhan secara kompeten, melindungi harkat dan martabat klien, dan
menjaga kerahasiaan klien. Hubungan ini memerlukan perlakuan yang adil
dan penghargaan atas hak dan kewajiban kedua belah pihak.
Dalam hubungan saling percaya terdapat kewajiban untuk
mengatakan kebenaran dan kewajiban untuk tidak menipu. Perawat
diharapkan berinteraksi dengan klien dengan cara selalu mengatakan yang
sebenarnya. Kepercayaan ini dibutuhkan klien dalam menghadapi keadaan
sakitnya dan hal ini sangat penting dalam menjamin kolaborasi perawat –
klien yang optimal. hubungan perawat – klien ini menjadi dasar dalam
peran perawat sebagai pembela klien.
19

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pengendalian praktek keperawatan secara internal adalah Kode Etik


sedangkan secara eksternal adalah hukum. Praktek keperawatan harus
dilakukan secara benar dalam arti keilmuannya dan baik dalam arti aspek Etik
dan legalnya. Praktek Keperawatan berkaitan erat dengan kehidupan manusia
untuk itu praktik keperawatan harus dilakukan oleh perawat profesional yang
berkompeten. Setiap perawat yang praktek wajib memiliki SIP, SIK, SIPP.
Kode etik adalah pernyataan standar profesional yang digunakan sebagai
pedoman perilaku dan menjadi kerangka kerja untuk membuat
keputusan.Aturan yang berlaku untuk seorang perawat Indonesia dalam
melaksanakan tugas/fungsi perawat adalah kode etik perawat nasional
Indonesia, dimana seorang perawat selalu berpegang teguh terhadap kode etik
sehingga kejadian pelanggaran etik dapat dihindarkan.
Kode etik keperawatan di Indonesia telah disusun oleh Dewan Pinpinan
Pusat Persatuan Perawat Nasioanl Indonesia (DPP PPNI) melalui munas PPNI
di Jakarta pada tangal 29 November 1989.
Pelanggaran etika maupun pelanggaran kode etik keperawatan ditegakkan
oleh salah satu organisasi atau tim yang dibentuk oleh PPNI, yaitu Majelis
Kode Etik Keperawatan yang tugasnya adalah mengadili dan member sanksi
profesi sesuai dengan pelanggaran etika yang dilakukan.

B. Saran
Keperawatan merupakan sebuah profesi, alangkah baiknya bila dalam
menjalankan keprofesian tersebut ada sebuah organisasi profesi yang mampu
menjadi landasan baik dalam bekerja maupun dalam beretika. PPNI dalam
dunia keperawatan adalah satu – satunya organisasi yang mampu menjamin
perlindungan bagi anggotanya, yang menjalankan peran advokasi nya bila
dalam perjalanan keanggotaan nya terlibat permasalahan etik.
20