You are on page 1of 48

Laporan Pendahuluan Gangguan Konsep Diri; Harga Diri Rendah

1. Definisi

Harga diri adalah penilaian tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh
perilaku sesuai dengan ideal diri. ( Keliat B.A , 1992 )

Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri
yang negatif, dapat secara langsung atau tidak langsung di ekspresikan.

2. Tanda dan gejala
a. Perasaan negatif terhadap diri sendiri
b. Hilang kepercayaan diri
c. Merasa gagal mencapai keingginan
d. Menyatakan diri tidak berharga, tidak berguna dan tidak mampu
e. Mengeluh tidak mampu melakukan peran dan fungsi sebagai mana mestinya
f. Menarik diri dari kehidupan sosial
g. Banyak diam dan sulit berkomunikasi
3. Penyebab

Koping individu tidak efektif

Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak efektif, koping merupakan
respon pertahanan individu terhadap suatu masalah. Jika koping itu tidak efektif maka
individu tidak bisa mencapai harga dirinya dalam mencapai suatu perilaku.

4. Akibat

Menarik diri

Mekanisme terjadinya masalah :

Harga diri merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya, individu dengan harga diri
rendah akan merasa tidak mampu , tidak berdaya, pesimis dapat menghadapi kehidupan,
dan tidak percaya pada diri sendiri. Untuk menutup rasa tidak mampu individu akan
banyak diam, menyendiri, tidak berkomunikasi dan menarik diri dari kehidupan sosial.

5. Pohon Masalah

Gangguan isolasi sosial : menarik diri

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

Koping individu tidak efektif

6. Masalah Keperawatan dan Data Yang Perlu di Kaji
1) Isolasi sosial : menarik diri

Data yang perlu dikaji

a. Lebih banyak diam
b. Lebih suka menyendiri/ hubungan interpersonal kurang
c. Personal hygiene kurang
d. Merasa tidak nyaman diantara orang
e. Tidak cukupnya ketrampilan sosial
f. Berkurangnya frekwensi, jumlah dan spontanitas dalam berkomunikasi
2) Gangguan konsep diri harga diri rendah

Data yang perlu dikaji

a. Perasaan rendah diri
b. Pikiran mengarah
c. Mengkritik diri sendiri
d. Kurang terlibat dalam hubungan sosial
e. Meremehkan kekuatan/ kemampuan diri
f. Menyalahkan diri sendiri
g. Perasaan putus asa dan tidak berdaya.
3) Koping individu tidak efektif
a. Masalah yang di hadapi pasien (sumber koping)
b. Strategi dalam menghadapi masalah
c. Status emosi pasien

IV. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan interaksi sosial ; menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.

2. Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak efektif.

V. Rencana Tindakan Keperawatan

Diagnosa 2 : Gangguan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri
rendah.

TUM : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal.

TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya.

TUK 2 : Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang dimiliki.

a. Kriteria hasil :

2.1. Klien mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

- kemampuan yang dimiliki

- aspek positif keluarga

- aspek positif lingkungan yang di miliki klien.

b. Intervensi

2.1.1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.

2.1.2. Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif.

2.1.3. Utamakan memberi pujian yang realistik.

TUK 3 : Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.

a. Kriteria evaluasi

3.1. Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan.

b. Intervensi

3.1.1. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit.

3.1.2. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.

TUK 4 : Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan
yang dimiliki.

a. Kriteria evaluasi

4.1. Klien membuat rencana kegiatan harian.

b. Intervensi

4.1.1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan.

- kegiatan mandiri

- kegiatan dengan bantuan sebagian

- kegiatan yang membutuhkan bantuan total.

4.1.2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.

4.1.3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.

TUK 5 : Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.

a. Kriteria evaluasi

5.1. Klien melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.

b. Intervensi

5.1.1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.

5.1.2. Beri pujian atas keberhasilan klien.

5.1.3. Diskusikan kemungkinan, pelaksanaan di rumah.

TUK 6 : Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada :

a. Kriteria evaluasi

6.1. Klien memanfaatkan sistem pendukung yang ada di keluarga.

b. Intervensi

6.1.1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan
harga diri rendah.

Diagnosa Keperawatan Gangguan isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. Beri peerhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien 2. banyak diam sulit berkomunikasi dengan teman- temannya. Jelaskan tujuan pertemuan e. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal b. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.1. Tujuan Khusus Tuk : a. Klien dapat membina hubungan saling percaya. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya g. 2. Kondisi Klien Klien lebih suka menyendiri. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien b. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN I A. pandangan mata kosong. 3. Bina hubungan saling percaya a.1. 4. 6. 6.2. Proses Keperawatan 1. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien d. klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki a. Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif . Jujur dan menepati janji f. Tindakan Keperawatan 1. b. Perkenalkan diri dengan sopan c. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.3.

jika mbak akan mengatakan sesuatu saya siap mendengarkan. Baik." 3. Utamakan memberikan pujian yang realistis B. apalagi mbak ?" "Bagus sekali ternyata mbak memiliki kemampuan yang banyak sekali. Rencana tindak lanjut . Evaluasi/ validasi "Bagaimana perasaan mbak hari ini. Fase Terminasi a. c. saya akan duduk di samping mbak. 2. Fase Orientasi a. Evaluasi "Apa yang mbak rasakan setelah kita bincang-bincang selama 15 menit tadi ?" "Bisa mbak ulangi lagi apa yang telah kita bicarakan tadi ?" b. kalau boleh saya tahu apa yang terjaadi di rumah sehingga mbak sampai dibawa kemari ?" c. Fase Kerja "Nah. Kontrak "Mbak bagaimana kalau hari ini kita bincang-bincang tentang kemampuan yang mbak miliki. nama mbak siapa ? dan panggilan apa yang mbak sukai ? Baiklah mbak. di mana kita ngobrol mbak ? berapa lama ? baiklah bagaimana kalau kta nanti ngobrol di taman selama + 15 menit. saya biasa dipanggil Ndari. Strategi Komunikasi dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan 1." b. di sini saya akan menemani mbak. saya ingin sekali ingin membantu menyelesaikan masalah mbak dan saya harap mbak mau bekerja sama dengan saya. coba mbak cari kemampuan yang bisa mbak lakukan selama sebelum sakit. perkenalkan nama saya Sri Sundari. Salam tarapeutik "Selamat pagi mbak.

kira-kira jam berapa kita bertemu lagi ? tempatnya di mana ?" "Baiklah mbak bagaimana kalau kita bertemu lagi jam 11 selama + 20 menit. Tindakan Keperawatan 1." c. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya 2. 3. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan. banyak diam. kurang berkomunikasi dengan teman- temannya. Tuk 5 : klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan a. Proses Keperawatan 1. Diagnosa Keperawatan Gangguan interaksi sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit. "Setelah ini kita akan berbicara mengenai kemampuan yang masih bisa mbak gunakan selama sakit. 4. Tujuan Khusus Tuk 3 : klien dapat menilai kemampuan yang digunakan. waktu kita sudah habis bagaimana kalau kita cukupkan sampai di sini. 2. Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Kontrak "Baiklah mbak. Tuk 4 : klien dapat ( menetapkan ) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. . a. Kondisi Klien Klien lebih suka menyendiri." STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN II A. b.

Fase Kerja "Sekarang coba mbak ssebutkan kegiatan yang bisa mbak lakukan selama sakit." b.Kegiatan mandiri . 3.Kegiatan yang membutuhkan bantuan total b.Kegiatan dengan bantuan sebagian . bagaimana kalau kita mulai pembicaraan kita mengenai kemampuan yang bisa mbak lakukan selama sakit atau di rumah sakit ini. bagus ternyata mbak masih ingat. apalagi mbak ?" "Mbak punya hobi apa ? memasak atau mungkin membuat ketrampilan ?" . Beri pujian atas keberhasilan klien c. Kontrak "Kemarin kita sudah berbicaara mengenai kemampuan yang mbak miliki selama sebelum sakit. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya a. Salam terapeutik "Selamat pagi mbak. bagaimana perasaan mbak hari ini ?" c. Coba sebutkan nama saya. mbak masih ingat dengan saya. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien. di mana kita bicara nanti mbak ? Bagaimana kalau kita bicara di ruang tamu + 30 menit. . nah sekarang sesuai dengan janji kita. Fase Orientasi a. b. 2. Strategi Komunikasi dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan 1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan. c." "Baik. Evaluasi/ validasi "Mbak kelihatan cantik dan segar hari ini. Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan . Diskusikan tentang kemungkinan melaksanakan di rumah B.

" c." "Masih banyak kegiatan yang bisa mbak lakukan di sini sesuai dengan bakat dan kemampuan mbak. bagaimana kalau kita cukupkan sampai di sini. kira-kira jam berapa kita bertemu lagi ? tempatnya di mana ?" . Fase Terminasi a. Evaluasi "Apa yang mbak rasakan setelah kita bincang-bincang selama 30 menit tadi ?" "Bisa mbak ulangi lagi apa yang elah kita bicarakan tadi ?" b. Rencana tindak lanjut "Mulai saat ini coba mbak lakukan sedikit demi sedikit apa yang telah kita bicarakan tadi." 3. "Nah… ya itu tadi bisa mbak lakukan di rumah sakit ini. waktu kita sudah habis. di sini tersedia fasilitas untuk mbak bisa menggali kemampuan mbak . Kontrak "Baiklah mbak.

afek tumpul b. senyum dan tertawa sendiri • Menarik diri dan menghindar dari orang lain • Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan tidak nyata • Tidak dapat memusatkan perhatian • Curiga. Tanda dan gejala : • Bicara. takut • Ekspresi muka tegang. Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain. Pengertian Halusinasi Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik (Stuart & Sundenn. 1999) 2. menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins. ekspresi sedih.1993). orang lain dan lingkungannya). Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain/ perawat . Halusinasi adalah persepsi tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indera seorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar/terbangun. Tanda dan Gejala : a. merusak (diri sendiri. 1998). Penyebab dari Halusinasi Salah satu penyebab dari Perubahan sensori perseptual : halusinasi yaitu isolasi social : menarik diri. mudah tersinggung (Budi Anna Keliat. (Maramis. hal 119) Halusinasi yaitu gangguan persepsi (proses penyerapan) pada panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar pada pasien dalam keadaan sadar. bermusuhan. Menghindar dari orang lain (menyendiri) c. KEPERAWATAN JIWA Halusinasi 1. Apatis. Komunikasi kurang/ tidak ada.

Akibat dari Halusinasi Pasien yang mengalami perubahan persepsi sensori: halusinasi dapat beresiko mencederai diri sendiri. orang lain dan lingkungannya. Perubahan sensori perseptual : halusinasi . Tidak ada kontak mata. orang lain dan lingkungan. orang lain dan lingkungan 2. Tanda dan Gejala : • Memperlihatkan permusuhan • Mendekati orang lain dengan ancaman • Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai • Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan • Mempunyai rencana untuk melukai III. klien sering menunduk e. Risiko mencederai diri. Masalah keperawatan 1. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji 1. Pohon Masalah Risiko mencederai diri . klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap g. Berdiam diri di kamar/ klien kurang mobilitas f. (Budi Anna Keliat. Menolak berhubungan dengan orang lain. orang lain dan lingkungan Perubahan sensori perseptual: halusinasi Isolasi sosial : menarik diri IV. 1998) 3. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri. Tidak/ jarang melakukan kegiatan sehari-hari. d.

1. • Disorientasi. Data Subjektif • Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata. • Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus. orang lain dan lingkungan 1. ingin membunuh. Data Objektif • Klien berbicar dan tertawa sendiri. Perubahan sensori perseptual : halusinasi 1. • Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu. Isolasi sosial : menarik diri 2. Risiko mencederai diri. • Klien merasa makan sesuatu. ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya. • Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya. 2.3. • Klien ingin memukul/ melempar barang-barang. melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya. • Klien takut pada suara/ bunyi/ gambar yang dilihat dan didengar. Data subjektif Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain. Data yang perlu dikaji 1. . 2. • Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu. • Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata. merusak dan melempar barang-barang. Data objektif Klien mengamuk.

1. Data Subjektif • Klien mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi • Klien mengungkapkan enggan berbicara dengan orang lain • Klien malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain.1. Data Objektif • Klien terlihat lebih suka sendiri • Bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan • Ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup . Isolasi sosial : menarik diri 1.

2. orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perubahan sensori perseptual : halusinasi. waktu. Perubahan sensori perseptual : halusinasi berhubungan dengan menarik diri. d) Ajak membicarakan hal-hal yang ada di lingkungan. b) Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi (verbal dan non verbal). frekuensi terjadinya halusinasi serta apa yang dirasakan saat terjadi halusinasi. Risiko mencederai diri. Tindakan : a) Kontak sering dan singkat. Tindakan : a) Salam terapeutik – perkenalan diri – jelaskan tujuan – ciptakan lingkungan yang tenang – buat kontrak yang jelas (waktu. tempat. orang lain dan lingkungan. Rencana Tindakan Keperawatan Diagnosa 1: Risiko mencederai diri. orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perubahan sensori perseptual : halusinasi. Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu. e) Dorong untuk mengungkapkan perasaan saat terjadi halusinasi. b) Beri kesempatan mengungkapkan perasaan. 2. Klien dapat mengenal halusinasinya. c) Bantu mengenal halusinasinya dengan menanyakan apakah ada suara yang didengar dan apa yang dikatakan oleh suara itu. .Diagnosa Keperawatan 1. Tujuan khusus : a. 1. tetapi perawat tidak. Tujuan umum : klien tidak mencederai diri sendiri. d) Diskusi tentang situasi yang menimbulkan halusinasi. topik). c) Empati. Klien dapat membina hubungan saling percaya. Katakan perawat akan membantu. b.

Klien dapat membina hubungan saling percaya . d) Beri reinforcement positif klien minum obat yang benar. cara.” d) Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih/dilakukan. Tindakan : a) Beri pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga tentang gejala. melakukan kegiatan. b) Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama pasien. 2. dosis. b) Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga. cara. Diagnosa 2: Perubahan sensori perseptual : halusinasi berhubungan dengan menarik diri. 1. Tindakan : a) Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika terjadi halusinasi. c) Anjurkan membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan. Tujuan Khusus: 1. 3. 4. efek dan efek samping minum obat. cara merawat. Klien dapat mengontrol halusinasinya. frekuensi. memutus halusinasi. informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan. e) Beri kesempatan melakukan cara yang telah dipilih dan beri pujian jika berhasil. nama. mengatakan pada suara tersebut “saya tidak mau dengar. waktu). obat. Klien dapat dukungan dari keluarga. Klien dapat menggunakan obat dengan benar. Tujuan Umum: Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal 2. Tindakan : a) Diskusikan tentang dosis. b) Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien dan cara baru untuk mengontrol halusinasinya. f) Libatkan klien dalam TAK : stimulasi persepsi. 5. c) Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi : bicara dengan orang lain bila muncul halusinasi.

Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien 2. Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya Tindakan : 1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapetutik 1. 2. Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya 7. Utamakan memberikan pujian yang realistik 3.1.1. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien 4. Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif 2. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan Rasional : . kontrol diri atau integritas ego diperlakukan sebagai dasar asuhan keperawatannya. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Rasional : • Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realitas.1. sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal 2. Jujur dan menepati janji 6. Perkenalkan diri dengan sopan 3. Jelaskan tujuan pertemuan 5. • Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri klien • Pujian yang realistik tidak menyebabkan klien melakukan kegiatan hanya karena ingin mendapatkan pujian Tindakan: 2.

Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya Rasional : . Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit 2.• Keterbukaan dan pengertian tentang kemampuan yang dimiliki adalah prasyarat untuk berubah. 4. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan • Kegiatan mandiri • Kegiatan dengan bantuan sebagian • Kegiatan yang membutuhkan bantuan total 1. Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Rasional : • Membentuk individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri • Klien perlu bertindak secara realistis dalam kehidupannya. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien 2. • Pengertian tentang kemampuan yang dimiliki diri memotivasi untuk tetap mempertahankan penggunaannya Tindakan: 1. • Contoh peran yang dilihat klien akan memotivasi klien untuk melaksanakan kegiatan Tindakan: 1. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan 5.

Beri pujian atas keberhasilan klien 5. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah .Memberikan kesempatan kepada klien mandiri dapat meningkatkan motivasi dan harga diri klien Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien Memberikan kesempatan kepada klien ntk tetap melakukan kegiatan yang bisa dilakukan Tindakan: 1. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat 3. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan 5. • Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien di rumah. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Rasional: • Mendorong keluarga untuk mampu merawat klien mandiri di rumah • Support sistem keluarga akan sangat berpengaruh dalam mempercepat proses penyembuhan klien. Tindakan: 6.1 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah 2. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah 4.2.3.

DAFTAR PUSTAKA 1. Standar Asuhan Keperawatan Jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. Keliat Budi Ana. 2003 4. Jakarta : EGC. Amino Gonohutomo. Sundeen. RSJP Bandung. Edisi I. Aziz R. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Tim Direktorat Keswa. Bandung. 2000 . Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. 1999 3. Stuart GW. dkk. Buku Saku Keperawatan Jiwa. 1995 2.

dan tidak sanggup berbagi pengalaman. 2009: 1045). dkk. pasien mungkin merasa ditolak. tetapi tidak mampu mewujudkannya (Lynda Juall C. dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Budi Keliat Anna. Etiologi . kesepian. tidak diterima.. Isolasi sosial adalah keadaan seorang induividu yang mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain. tidak ada perhatian. pikiran dan kegagalan. Isolasi sosial adalah kondisi ketika individu atau kelompok mengalami. ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN ISOLASI SOSIAL 1. 2011: 131). Klien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri. 2.. atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk lebih terlibat dalam aktivitas bersama orang lain. Definisi Menurut Balitbang (2007) isolasi sosial merupakan upaya menghindari suatu hubungan komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi rasa.

Mengisolasi diri h. Apatis (acuh terhadap lingkungan) c. putus asa terhadap orang lain. maka akan menyebabkan perubahan persepsi sensori : halusinasi dan risiko mencederai diri. Tidak ada dan tidak memperhatikan kebersihan f.D. Postur tubuh berubah. Rendah diri n. Tidak merawat diri dan tidak memperlihatkan kebersihan e. Terjadinya gangguan ini dipengaruhi oleh faktor predisposisi di antaranya perkembangan dan sosial budaya. . Ekspresi wajah kurang berseri d. orang lain. Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitar i. dan kegiatan sehari- hari terabaikan (Ade Herman S. takut salah.2011 : 123). lebih menyukai berdiam diri. tidak percaya pada orang lain.. 3. dan merasa tertekan. tidak mampu merumuskan keinginan. sehingga timbul perasaan malu untuk berinteraksi dengan orang lain. Aktivitas menurun l. Perilaku yang tertutup dengan orang lain juga bisa menyebabkan intoleransi aktivitas yang akhirnya bisa berpengaruh terhadap ketidakmampuan untuk melakukan perawatan secara mandiri. bahkan lingkungan. Kurang spontan b. Tidak ada atau kurang komunikasi verbal g. Keadaan ini dapat menimbulkan perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain. Retensi urin dan feses k. Bila tidak dilakukan intervensi lebih lanjut. Manifestasi Klinis Berikut ini adalah tanda dan gejala klien dengan isolasi sosial : a. Kegagalan dapat mengakibatkan individu tidak percaya pada diri. ragu. Asupan makanan dan minuman terganggu j. misalnya sikap fetus atau janin (khususnya pada posisi tidur) Perilaku ini biasanya disebabkan karena seseorang menilai dirinya rendah. pesimis. menghindar dari orang lain. Kurang energi (tenaga) m.

tidak mampu mandiri dan menyelesaikan tugas. 2011 : 125). Oleh karena itu. bila sistem pendukungnya tidak baik (koping keluarga tidak efektif) maka akan mendukung seseorang memiliki harga diri rendah (Ade Herman S. ketidakberdayaan. bersekolah. menyangkal tidak mampu menghadapi kenyataan dan menarik diri dari lingkungan. jenis kelamin yang tidak di inginkan. Stessor Internal and External Misal : .. Ineffective coping (Koping Individu Tidak Efektif) Misal : Saat individu menghadapi kegagalan menyalahkan orang lain. bergaul. menyalahkan anak. Rentang Respon Pattern of parenting (Pola Asuh) Misal : Pada anak yang kelahirannya tidak dikehendaki (unwanted child) akibat kegagalan KB. bentuk fisik kurang menawan menyebabkan keluarga mengeluarkan komentar-komentar negatif. Lack of Development task (Gangguan Tugas Perkembangan) Misal : Kegagalan menjalani hubungan intim dengan sesama jenis atau lawan jenis. merendahkan. bekerja. sehingga orang tersebut berperilaku tidak normal (koping individu tidak efektif). menyebabkan ketergantungan pada orang tua. 4. hamil diluar nikah. Seseorang yang mempunyai harga diri rendah awalnya disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah dalam hidupnya.D. terlalu tingginya self ideal dan tidak mampu menerima realitas dengan rasa syukur. rendahnya ketahanan terhadap berbagai kegagalan. Peranan keluarga cukup besar dalam mendorong klien agar mampu menyelesaikan masalah.

Otonomi. dan perasaan dalam hubungan sosial. sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku. saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal. b. respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah terjadi di lingkungan sosialnya ii. pikiran. Ketergantungan. ii. Berikut ini adalah perilaku yang termasuk respon maladaptif : i. seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga tergantung dengan orang lain. Dengan kata lain individu tersebut masih dalam batas normal ketika menyelesaikan masalah. i.Stres terjadi akibat ansietas yang berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Berikut ini adalah sikap yang termasuk respon adaptif. seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu sehingga tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam . Bekerja sama. Manipulasi. Respon adaptif Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma. merupakan suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain. kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide. Respon maladaptif Respon maladaptif adalah respon yang menyimpang dari norma sosial dan kehidupan di suatu tempat. iv. hilangnya pekerjaan atau orang yang dicintai. Interdependen. kemampuan individu yang saling membutuhkan satu sama lain. iii. Rentang Respon Isolasi Sosial Berikut ini akan dijelaskan tentang respon yang terjadi pada isolasi sosial : a. Menarik diri. Menyendiri. iii. Ansietas terjadi akibat akibat berpisah dengan orang terdekat.

tidak ada perhatian lagi terhadap dunia sekelilingnya. Arus tersebut menimbulkan kejang grand mall yang berlangsung 25-30 detik dengan tujuan terapeutik. (2) Klien depresi ringan adanya riwayat responsif atau memberikan respon membaik pada ECT. kehilangan berat badan yang berlebihan dan adanya ide bunuh diri yang menetap. (3) Klien depresi yang tidak ada respon terhadap pengobatan antidepresan atau klien tidak dapat menerima antidepresan. Electro Convulsive Therapy (ECT) Electro Convulsive Therapy (ECT) adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik digunakan pada otak dengan menggunakan 2 elektrode yang ditempatkan dibagian temporal kepala (pelipis kiri dan kanan). seseorang yang mengembangkan rasa curiga terhadap orang lain. Penatalaksanaan Medis (Dalami. 1998).all. Respon bangkitan listriknya di otak menyebabkan terjadinya perubahan faal dan biokimia dalam otak. 6. Curiga. et.120) Isolasi sosial termasuk dalam kelompok penyakit skizofrenia tak tergolongkan maka jenis penatalaksanaan medis yang bisa dilakukan adalah : i. Indikasi : b) Depresi mayor (1) Klien depresi berat dengan retardasi mental. (Stuart dan Sundeen. c) Maniak . Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada klien dengan isolasi sosial adalah sebagai berikut : a. waham. 2009 : hal. iv.

memperkuat dan meningkatkan harga diri seseorang (Dalami. menerima klien apa adanya. Terapi Okupasi Adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisipasi seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau tugas yang sengaja dipilih dengan maksud untuk memperbaiki. tetapi bermanfaat pada skizofrenia yang sudah lama tidak kambuh. b. Psikoterapi Membutuhkan waktu yang relatif cukup lama dan merupakan bagian penting dalam proses terapeutik. dkk. bersikap ramah. (Keliat.1) b) Tujuan Membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptif. Klien maniak yang tidak responsif terhadap cara terapi yang lain atau terapi lain berbahaya bagi klien. iii. sopan dan jujur kepada klien.3) .120). memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal.. 2004 : hal. tidak efektif untuk skizofrenia kronik. 2009 : hal. ii. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) a) Pengertian TAK merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama (Keliat. upaya dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang. bersifat empati. Penatalaksanaan Keperawatan Terapi Modalitas Keperawatan yang dilakukan adalah: i. d) Skizofrenia Terutama akut. 2004 : hal. menciptakan lingkungan yang terapeutik.

(2) Bersama klien menilai manfaat dari pembicaraan dengan perawat. (3) Anjurkan klien untuk menggunakan koping yang konstruktif. Prinsip Perawatan Isolasi Sosial i. (2) Dukung koping klien yang konstruktif. kelompok dan massa (Keliat. c) Terapi aktivitas kelompok yang digunakan untuk pasien dengan isolasi sosial adalah TAK Sosialisasi dimana klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada di sekitar klien. 2004 : hal. (2) Ajak klien bercakap-cakap dengan memanggil nama klien. c. (3) Gunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai. (4) Tunjukan sikap empati dan beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya. (1) Bahas dengan klien tentang koping yang konstruktif. d) Bantu klien mengurangi ansietasnya ketika hubungan interpersonal . untuk menunjukan penghargaan yang tulus. jelas dan teratur. c) Kenal dan dukung kelebihan klien Tunjukkan dan cari penyelesaian masalah (koping) yang bisa digunakan klien. Psikoterapeutik a) Bina hubungan saling percaya : (1) Buat kontrak dengan pasien memperkenalkan nama perawat pada waktu interaksi dan tujuan. (3) Jelaskan pada klien bahwa informasi tentang pribadi klien tidak akan diberitahukan kepada orang lain yang tidak berkepentingan. cara menceritakan perasaannya kepada orang lain yang terdekat/dipercaya. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal. b) Berkomunikasi dengan pasien secara jelas dan terbuka (1) Bicarakan dengan pasien tentang sesuatu yang nyata dan pakai istilah yang sederhana.14).

c) Jelaskan dan anjurkan pada keluarga untuk tetap mengadakan hubungan dengan klien. . (4) Libatkan klien dalam aktifitas kelompok. sediakan sarana informasi dan hiburan seperti majalah. (2) Lakukan interaksi dengan klien sesering mungkin. c) Batasi kesempatan untuk tidur. ii. b) Bicarakan dengan klien peristiwa yang menyebabkan menarik diri. (3) Temani klien beberapa saat dengan duduk di sampingnya. berolahraga atau bermain musik. b) Cegah agar klien tidak berada di dalam ruang sendiri dalam jangka waktu yang lama. menggambar. d) Buat dan rencanakan jadwal kegiatan bersama-sama klien. Kegiatan hidup sehari-hari (ADL) a) Bantu klien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai dapat melaksanakan secara mandiri. iv. menangis. b) Bimbing klien berpakaian yang rapi. radio dan televisi. Lingkungan terapeutik a) Pindahkan barang-barang yang dapat membahayakan klien maupun orang lain di lingkungan. iii. d) Anjurkan kepada keluarga agar mengikutsertakan klien dalam kegiatan di masyarakat. Libatkan klien dalam berinteraksi dengan orang lain secara bertahap. gambar hiasan di ruangan (Nursing Poltekes. surat kabar. 2012). (1) Batasi jumlah orang yang berhubungan dengan klien pada awal terapi. Pendidikan kesehatan a) Jelaskan kepada klien cara mengungkapkan perasaan klien selain kata-kata seperti menulis. c) Beri rangsangan sensorik seperti suara musik.

dan hati nurani Sekolah belajar berkompetisi. bekerjasama. rasa tanggung jawab. Bila tugas-tugas dalam perkembangan ini tidak terpenuhi maka akan menghambat fase perkembangan sosial yang nantinya akan menimbulkan masalah. dan berkompromi Pra remaja menjalin hubungan intim dengan teman sesame jenis kelamin Remaja menjadi intim dengan teman lawan jenis atau bergantung Dewasa muda .ASUHAN KEPERAWATAN 1) Faktor Predisposisi a) Tumbuh kembang Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Berikut adalah tahap perkembangan beserta tugas yang harus dijalani setiap individu : Masa Kembang Tugas Bayi menetapkan rasa percaya Bermain mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri Pra sekolah belajar menunjukkan inisiatif.

serta perubahan ukuran dan bentuk sel-sel dalam limbic dan daerah kortikal (Ade Herman Surya D.menjadi saling bergantung antara orang tua dan teman.. Dalam teori ini yang termasuk masalah dalam berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan (double bind) yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar keluarga. c) Faktor sosial budaya Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat memengaruhi terjadinya gangguan hubungan adalah otak. dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya. berpenyakit kronis. Hal ini disebabkan oleh norma- norma yang salah yang dianut oleh keluarga. 2) Faktor Presipitasi . menikah dan mempunyai anak Tengah baya belajar menerima hasil kehidupan yang sudah dilalui Dewasa tua berduka karena kehilangan dan mengembangkan perasaan keterikatan dengan budaya b) Faktor komunikasi dalam keluarga Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. misalnya pada pasien Skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal pada otak seperti atrofi otak. dimana setiap anggota yang tidak produktif seperti usia lanjut. mencari pasangan. d) Faktor biologis Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan isolasi sosial. 2011: 123-125).

Afektik c. yaitu stress terjadi akibat ansietas atau kecemasan yang berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Kognitif b. 2012). represi dan isolasi.Terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan eksterna seseorang. b) Faktor internal Contohnya adalah stressor psikologis. seperti intelegensi dan kretifitas yang tinggi. Sosial e. Perilaku d. Faktor stressor presipitasi dapat dikelompokkan sebagai berikut : a) Faktor eksternal Contohnya adalah stressor sosial budaya. Kekuatan dapat meliputi model. Mekanisme koping yang sering digunakan pada menarik diri adalah regresi.. 2011: 123-125). 3) Sumber Koping Sumber koping individu harus dikaji dengan pemahaman tentang pengaruh gangguan otak pada prilaku. Orang tua harus secara aktif mendidik anak – anak dan dewasa muda tentang keterampilan koping kerena mereka biasanya tidak hanya belajar dari pangalaman ( Nursing Poltekes. fisiologis . 4) Mekanisme Koping Mekanisme koping digunakan klien sebagai usaha mengatasi kecemasan yang merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam dirinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntunan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu (Ade Herman Surya D. 5) Penilaian Terhadap Stressor a. yaitu stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya seperti keluarga.

2012. Budi Anna.html. Lynda Juall. Halusinasi DAFTAR PUSTAKA Carpenito. (Online). Direja. 2005. Gail W. Diagnosis Keperawatan : Aplikasi Pada Praktis Klinis Edisi 9. diakses pada 19 Oktober 2013). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 3. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5. . Gangguan konsep diri (harga diri rendah) c. Jakarta : EGC.Pohon Masalah Pohon Masalah Isolasi Sosial Diagnosa Keperawatan Diagnosa pada klien dengan gangguan isolasi sosial adalah sebagai berikut: a. 2009. Ade Herman Surya. Isolasi sosial b. “Asuhan Keperawatan Isolasi Sosial”. 2011. Stuart. Jakarta : EGC. 2007. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.blogspot. (http:// keperawatanpoltekkes26. Yogyakarta: Nuha Medika. Jakarta : EGC Nursing Poltekes.com/2012/01/asuhan-keperawatan-isolasi-sosial. Keliat.

mudah tersinggung. memberi kata-kata ancaman-ancaman. Frustasi. spiritual (merasa dirinya sangat berkuasa. LAPORAN PENDAHULUAN RPK 1. dan yang paling berat adalah melukai/ merusak secara serius. peningkatan mobilitas tubuh). b. Perilaku kekerasan merupakan suatu tanda dan gejala dari gangguan skizofrenia akut yang tidak lebih dari satu persen (Purba dkk. Jadi. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan. Kekerasan yaitu sering juga disebut gaduh-gaduh atau amuk. 2008). DEFINISI Perilaku adalah tingkah laku atau sikap seseorang yang dicerminkan seseorang sebagai kebiasaannya. dan menentang). Ia merasa terancam dan cemas. orang lain bahkan merusak lingkungan. Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk ekspresi kemarahan yang tidak sesuai dimana seseorang melakukan tindakan-tindakan yang dapat membayangkan/mencederai diri sendiri. 2008). hilang kepercayaan diri.melukai disertai melukai pada tingkat ringan. ETIOLOGI a. seseorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. psikologis (emosional. Menurut Stuart dan Laraia (1998). Hilangnya harga diri . Jika . tidak bermoral). 2. Perilaku kekerasan ditandai dengan menyentuh orang lain secara menakutkan. Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut (Purba dkk. marah. merasa gagal mencapai keinginan. perilaku kekerasan dapat dimanifestasikan secara fisik (mencederai diri sendiri. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri. Gangguan harga diri: harga diri rendah. pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama untuk dihargai.

artinya mungkin terjadi/ mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan jika faktor berikut dialami oleh individu: a. lekas tersinggung. Psikologis. 4. b. lobus frontal. Sosial budaya. budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap pelaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan yang diterima (permissive). Pasif : Diam saja karena merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan yang sedang dialami. d. sering mengobservasi kekerasan di rumah atau di luar rumah. ( ADAPTIF ) Frustasi : Merasa gagal mencapai tujuan disebabkan karena tujuan yang tidak realistis. banyak bahwa kerusakan sistem limbik. Akibatnya klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri. tidak berani bertindak. reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri. 3. semua aspek ini menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan. dan sebagainya. Agresif : Tindakan destruktif terhadap lingkungan yang masih terkontrol. c. orang lain dan lingkungan. FAKTOR PREDISPOSISI Faktor pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan factor predisposisi. . dianiaya atau sanksi penganiayaan. orang lain dan lingkungan. lekas marah. dihina. lobus temporal dan ketidakseimbangan neurotransmitter turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan. c. Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak. RENTANG RESPON MARAH Asertif : mampu menyatakan rasa marah tanpa menyakiti orang lain dan merasa lega. kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Bioneurologis. Perilaku. kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri.

Kemudian perawat dapat melakukan pengkajian dengan cara: • Observasi: Muka merah. FAKTOR PRESPITASI Faktor prespitasi dapat bersumber dari klien. • Wawancara: diarahkan pada penyebab marah. keputusan. Amuk : tindakan destruktif dan bermusuhan yang kuat dan tidak terkontrol. tanda-tanda marah yang dirasakan klien. mungkin klien akan mengakiri kehidupannya. berdebat. rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri). padat. Pengkajian a. gangguan hubungan sosial (menarik diri). Aspek biologis . Sering pula tampak klien memaksakan kehendak: merampas makanan. Demikian pula dengan situasi lingkungan yang ribut. lingkungan atau interaksi dengan orang lain. nada suara tinggi. 6. perasaan marah. • Menurut Budiana Keliat. ASUHAN KEPERAWATAN 1. percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan). Interaksi sosial yang provokatif dan konflik dapat pula memicu perilaku kekerasan. 1999 tanda-tanda klinisnya yaitu Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi). MANIFESTASI KLINIS Pada pengkajian awal dapat diketahui alasan utama klien ke rumah sakit adalah perilaku kekerasan di rumah. percaya diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Kondisi klien seperti ke lemahan fisik (penyakit fisik) .ketidakberdayaan. pandangan tajam. kehilangan orang yang dicintai/ pekerjaan dan kekerasan merupakan faktor penyebab yang lain. memukul jika tidak senang. 7. otot tegang. kritikan yang mengarah pada penghinaan.( MALADAPTIF ) 5. mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram.

konsep rasa percaya dan ketergantungan. pupil melebar. menyalahkan dan menuntut. menolak mengikuti aturan. dan diintegrasikan. tubuh kaku. frustasi. Hal ini disebabkan oleh energi yang dikeluarkan saat marah bertambah. Perawat perlu mengkaji cara klien marah. bagaimana informasi diproses. merasa tidak berdaya. Aspek intelektual Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual. ketegangan otot seperti rahang terkatup. budaya. Pohon Masalah . Aspek emosional Individu yang marah merasa tidak nyaman. nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungan. bermusuhan dan sakit hati. peran panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman. dendam. Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri. Emosi marah sering merangsang kemarahan orang lain. Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras. ingin memukul orang lain. 2. muka merah. c. Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat. jengkel. d. diklarifikasi. mengidentifikasi penyebab kemarahan. b. tangan dikepal. Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan. Aspek social Meliputi interaksi sosial. pengeluaran urine meningkat. mengamuk. Aspek spiritual Kepercayaan. e. dan refleks cepat. Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa. menjauhkan diri dari orang lain. tachikardi.

wajah agak merah. malu. merendahkan dirinya. Diagnosa Keperawatan o RPK diri sendiri. Dengan data subjektifnya :Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain. orang lain dan lingkungan. Oval: Perilaku kekerasan ( CP )RPK terhadap diri dan orang lain dan lingkung Harga Diri Rendah (HDR) 3. Merusak dan melempar barang barang. Dengan data Objektifnya : Mata merah. melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya. o Gangguan konsep diri: HDR Dengan data subjekif : Klien merasa tidak mampu. merusak dan melempar barang- barang. Dengan data objektifnya :Klien mengamuk. pandangan tajam.Pasien dapat melanjutkan hubungan peran sesuai tanggung jawab. Dengan data objektifnya : terlihat tidak menerima keadaannya. PPasien dapat Membina Hubungan saling percaya .Perilaku kekerasan TUM: . Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah. 4. o Perilaku kekerasan / amuk Dengan data subjektifnya :Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang. Ekspresi marah saat membicarakan orang. Intervensi Keperawatan 1. ingin membunuh. TUK: 1. bicara menguasai. Nada suara tinggi dan keras. ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya. menyalahkan dirinya dengan masalah yang terjadi padanya. Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.

x20 menit interaksi diharapkan klien menunjukkan tanda-tanda a. Pasien dapat mengungkapkan perasaan saat marah /jengkel. Pasien tersenyum e. b. Pasien mau membalas salam. PPasien dapat mengidentifikasi penyebab marah / amuk a. PPasien dapat mengidentifikasi tanda marah a.. Pasien dapat menyebutkan perasaan marah / jengkel • Beri kesempatan untuk Mengungkapkan perasaannya..Setelah dilakukan . Pasien ada kontak Mata f. Pasien tahu nama Perawat Pasien menyediakan waktu untuk kontrak • Beri salam / panggil nama pasien. TUK: 3. Pasien dapat Mengungkapkan perasaannya. Pasien dapat menyimpulkan tanda-tanda jengkel / kesal . Pasien mau jabatan c. • Bantu pasien untuk mengungkapkan marah atau jengkel. b. b. Pasien menyebutkan Nama d. • Sebut nama perawat sambil Salaman • Jelaskan maksud hubungan Interaksi • Beri rasa nyaman dan sikap Empatis • Lakukan kontrak singkat tapi sering TUK: 2.

Pasien dapat bermain peran dengan perilaku marah yang dilakukan c. PPasien mengidentifikasi cara construksi dalam berespon terhadap perilaku kekerasan a. Tanyakan pasien apakah mau tahu cara marah yang sehat TUK: 6. Pasien mengungkapkan marah yang biasa dilakukan b. PPasien dapat mengungkapkan perilaku marah yang sering dilakukan a. Pasien dapat melakukan berespon terhadap kemarahan secara konstruktif. • Observasi tanda perilaku kekerasan pada pasien TUK: 4.• Anjurkan pasien mengungkapkan perasaan saat marah /jengkel. PPasien dapat mengidentifikasi akibat perilaku Kekerasan a. Bicarakan dengan pasien apa dengan cara itu bisa menyelesaikan masalah TUK: 5. Pasien dapat mengetahui cara marah yang dilakukan menyelesaikan masalah atau tidak • Anjurkan pasien mengungkapkan marah yang biasa dilakukan • Bantu pasien bermain peran sesuai perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. • Tanyakan pada pasien apakah pasien mau tahu cara baru yang sehat . Pasien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan • Bicarakan akibat / kerugian cara yang dilakukan • Bersama pasien menyimpulkan cara yang digunkana pasien.

Keluarga pasien dapat : . a) Pukul bantal untuk melampiaskan marah b) Tarik nafas dalam c) Mengatakan pada teman saat ingin marah Anjurkan pasien sholat atau berdoa TUK: 7.• Beri pujian jika pasien engetahui cara lain yang ehat • Diskusikan cara marah yang sehat dengan pasien. 2. Anjurkan pasien menggunakan cara yang telah dipelajari. Pasien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan a) Tarik nafas dalam b) Mengatakan secara langsung tanpa menyakiti c) Dengan sholat/berdoa • Pasien dapat memilih cara yang paling tepat. RPK (Resiko Perilaku Kekerasan) TUK: 8. • Pasien dapat mengidentifikasi manfaat yang terpilih • Bantu pasien menstimulasi cara tersebut. PPasien dapat dukungan keluarga mengontrol marah a. • Beri reinforcement positif atas keberhasilan. PPasien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol marah a.

3 Anjurkan pasien minum obat tepat waktu TUK: 10. b.• Menyebutkan cara merawat pasien dengan perilaku kekerasan. Pasien dapat minum obat sesuai program pengobatan • Jelaskan jenis-jenis obat yang diminum pasien dan oeluarga. PPasien dapat menggunakan obat dengan benar a. • Mengungkapkan rasa puas dalam merawat pasien • Identifikasi kemampuan keluarga merawat pasien dari sikap apa yang telah dilakukan • Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat pasien.2 Jelaskan prinsip 5 benar minum obat .Harga Diri Rendah (HDR) TUM: . Pasien dapat menggunakan obat-obat yang diminum dengan kegunaannya. • Jelaskan peran serta lingkungan terhadap kondisi pasien • Beri penjelasan bagaimana cara menyikapi pasien dengan perilaku kekerasan • Diskusikan cara -cara yang dilakukan untuk menyikapi pasien dengan perilaku kekerasan 3. Lingkungan mengetahui bagaimana cara menyikapi pasien dengan perilaku kekerasan. . • Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat pasien. PPasien dapat dukungan dari lingkungan untuk mengontrol marah a. TUK: 9. • Jelaskan cara-cara merawat pasien.1 Diskusikan manfaat minum obat. • Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah melakukan demonstrasi. .

Daftar positif keluarga pasien c. ada kontak mata. mau mengutarakan masalah yang dihadapi • Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi tcrapeutik Sapa pasien dengan ramah laik verbal maupun non verbal a. Ekspresi Wajah bersahabat .Pasien dapat mengontrol perilaku kekerasan pada saat berhubungan dengan orang lain TUK : 1. PPasien dapat membina hubungan saling percaya a. mau menjawab salam. mau menyebutkan nama. menunjukkan rasa scaang. rumah. Jujur dan menepati janji e. Perkenalkan diri dengan sopan b. mau berjabat tangan. Jelaskan tujuan pertemuan d. sekolah dan tempat kerja b. klien mau duduk berdampingan dengan perawat. Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimilik a. Beri perhatian kepada pasien dan perhatikan kebutuhan dasar pasien TUK : 2. Pasien dapat menilai kemampuan yang digunakan . negatif Utamakan memberi pujian yang realistic pada kemampuan dan aspek positif pasien TUK 3. Tunjukkan siknp empati dan menerima pasien apa adanya f.Tanyakan nama iengkap pasien dan nama panggilan disukai pasien c. Daftar kemampuan yang dimiliki pasien di rumah sakit. Daftar positif lingkungan pasien § Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki buat daftarnya § Setiap bertemu pasien dihindarknn dari metnberi penilni.

• Diskusi kaji jadwal kegiatan harian atas kegiatan yang telah dilatih Catatan : Ulangi untuk kemampuan lain sampai semua selesai TUK: 5. Pasien menilai kemampuan yang akan . PPasien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dari kemampuannya a.a. Pasien melakukan kegiatan yang telah di latih (mandiri. Pasien memiliki kemampuan yang dapat digunakan di rumah • Diskusikan dengan pasien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit • Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan pengguna di rumah sakit Berikan pujian TUK : 4. Pasien dapat memanfatkan system pendukung yang ada a. Pasien marnpu melakukan beberapa kegiatan secara mandiri • Beri kesempatan pada pasien untuk mencoba kcgiatan yang telah direncanakan • Beri pujian atas keberhasian pasien Diskusikan kemungkinan penaksiiran di rumah TUK : 6. Pasien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki a. Pasien mencoba Susunan jadwal harian • Meminta pasien untuk:memilih satu kcgiatan yang mau dilakukan di rumah sakit • Bantu pasien melakukannya jika perlu beri contoh • Beri pujian atas keberhasilan pasien. Keluarga memberi dakungan dan pujian . dilatih b. dengan bantuan atau tergantung) b. Pasien menilai kemampuan yang digunakan b.

Anggota tim krisis dapat staf perawat. Keluarga memahami jadwal kegiatan harian pasien • Beri pendidikan kcschatan pada keluarga tentang cara merawat pasien dengan harga diri rcndah • Bantu keluarga memberikan dukungnn selama pasien dirawat. dokter atau konselor yang telah terlatih menangani krisis. yang penting ditetapkan sebelum melakukan tindakan.b. • Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah • Jelaskan cara pelaksmann jadwal kegiatan pasien di rumah Anjurkan memberi pujian pada pasien setiap berhasil PEDOMAN MANAJEMEN KRISIS SAAT TERJADI PERILAKU KEKERASAN 1. penanggung jawab “shif” perawat primer. Ketua tim adalah perawat yang berperan sebagai kepala ruangan.1998): • Aktivitas ketua tim krisis • Susun anggota tim krisis • Beritahu petugas keamanan jika perlu • Pindahkan klien lain dari area penanganan • Ambil alat pengikat (jika pengekangan akan dilakukan) • Uraikan perencanaan penanganan pada tim • Tunjukkan anggota tim untuk mengamankan anggota gerak klien • Jelaskan tindakan pada klien dan berusaha membuat klien kooperatif • Ikat klien dengan petunjuk ketua tim . Aktifitas yang dilakukan oleh tim krisis adalah sebagai berikut (Stuart & Laraia. Tim Krisis Perilaku Kekerasan Tim krisis perilaku kekerasan terdiri dari ketua tim krisis yang berperan sebagai pemimpin (“leader”) dan anggota tim minimal 2 (dua)orang. ketua tim atau staf perawat.

Istilah yang biasa digunakan dirumah sakit jiwa untuk tempat pembatasan gerak adalah kamar isolasi. • Libatkan klien dalam memutuskan pemindahan klien secara bertahap • Dokumentasikan alasan pembatasan gerak. hidrasi. klien lain dan staf dari kemungkinan bahaya. Pengekangan/ pengikatan fisik . prosedur dan lama tindakan pada klien dan staf lain. eliminasi. Langkah-langkah pelaksanaan pembatasan gerak adalah sebagai berikut: • Tunjuk ketua tim krisis • Jelaskan tujuan.• Berikan obat sesuai program terapi dokter • Pertahankan sikap yang tenang dan konsisten terhadap klien • Evaluasi tindakan yang telah dilakukan bersama anggota tim • Jelaskan kejadian pada klien dan staf jika diperlukan • Integrasikan klien kembali pada lingkungan secara bertahap 2. kebersihan diri. • Bantu klien memenuhi kebutuhan nutrisi. • Buat perjanjian dengan klien untuk mempertahankan mengontrol perilakunya • Bantu klien menggunakan metoda kontrol diri yang diperlukan. • Jelaskan kepada klien dan staf lain tentang perilaku yang diperlukan untuk mengakhiri tindakan. Pembatasan Gerak Pembatasan gerak adalah memisahkan klien di tempat yang aman dengan tujuan melindungi klien. dan kebersihan kamar. 1998). Klien dibatasi pergerakannya karena dapat mencederai orang lain atau dicederai orang lain. respon klien dan alasan penghentian pembatasan gerak. • Lakukan supervisi secara periodik untuk membantu dan memberikan tindakan keperawatan yang diperlukan. membutuhkan interaksi dengan orang lain dan memerlukan pengurangan stimulus dari lingkungan (Stuart dan Laraia. tindakan yang dilakukan. 3.

• Beri aktivitas seperti televisi. • Bantu pemenuhan kebutuhan nutrisi. sensasi. b) Lakukan latihan gerak pada tungkai yang diikat secara bergantian setiap (dua) jam. karena harga diri klien yang berkurang karena pengekangan. 1998): • Beri suasana yang menghargai dengan supervisi yang adekuat. eliminasi. • Lakukan supervisi yang adekuat dengan tindakan terapeutik dan pemberian rasa nyaman. dkk. • Perawatan pada daerah pengikatan: a) Pantau kondisi kulit yang diikat: warna. • Libatkan dan latih klien untuk mengontrol perilaku sebelum ikatan dibuka secara bertahap. Dan kurangi pengekangan secara bertahap. 1998). Dan perubahan posisi tidur. melukai diri sendiri atau orang lain (Rawhins. Dan Jangan mengikat pada pinggir tempat tidur. Pengekangan adalah pembatasan gerak klien dengan mengikat tungkai klien (Stuart dan Laraia. misalnya setelah ikatan dibuka satu persatu secara bertahap. Tindakan pengekangan masih umum digunakan perawat disertai dengan penggunaan obat psikotropik (Duxbury. Ikat dengan posisi anatomis. c) Periksa tanda-tanda vital tiap 2 (dua) jam. . • Tunjuk satu orang perawat sebagai ketua tim.Pengekangan dilakukanjika perilaku klien berbahaya. • Jelaskan perilaku yang mengindikasikan pengelepasan pada klien dan staf. hidrasi. bacakan buku pada klien untuk memfasilitasi kerjasama klien pada tindakan. 1999). dan kebersihan diri. • Jelaskan tujuan. Langkah-langkah pelaksanaan pengekangan (Start dan Laraia. 1993) atau strategi tindakan yang lain tidak bermanfaat. • Siapkan junlah staf yang cukup dengan alat pengekang yang aman dan nyaman. temperatur. Dan ikatan tidak terjangkau klien. kemudian dilanjutkan dengan pembatasan gerak kemudian kembali ke lingkungan semula. prosedur dan lamanya pada klien dan staf agar dimengerti dan bukan hukuman.

Rekam medis : klien dirawat karena marah-marah sejak 1. Klien mengatakan malu karena istrinya selingkuh dan tak tahu harus bagaimana lagi membimbing istrinya hingga akhirnya kami bercerai. Klien tampak gelisah dan selalu mondar mandir diruang rawat. Diantar keluarga karena mengamuk dan memukul. B. POHON MASALAH Oval: Perilaku kekerasan ( CP )RPK terhadap diri dan orang lain dan lingkungan Harga diri rendah (HDR) C. Saat dikaji tentang perilaku amuk.• Dokumentasikan seluruh tindakan yang dilakukan beserta respon klien KASUS Tn. Klien mengatakan saya melempar barang-barang milik mantan istri saya keluar rumah dan menyobek-nyobek semua kenangan yang ada tentang istri saya.5 tahun yang lalu. Pandangan mata klien tampak tajam dan wajah tampak tegang. DIAGNOSA KEPERAWATAN • Perilaku kekerasan • Gangguan konsep diri: HDR • RPK terhadap diri dan orang lain dan lingkungan . klien menolak dengan mengatakan bahwa dia tidak mengamuk dan memukul. Klien sering membanting alat-alat keperluan rumah tangga yang ada dirumah. Klien mengatakan kesal karena sering dibentak-bentak dan sering kesal jika mengingat peristiwa perceraian dengan istrinya 1 tahun lalu.B masuk RSMM 2 hari yang lalu.

Jakarta : EGC . Jakarta : EGC Keliat. Budi Anna. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 3. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. 2009. Purba. 2005. Diagnosis Keperawatan : Aplikasi Pada Praktis Klinis Edisi 9. . Lynda Juall. Jakarta : EGC. 2008.

Standar Asuhan Keperawatan Jiwa. DAFTAR PUSTAKA Nurjannah. Perry. 2000. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Bandung. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5. 2004. Yogyakarta: Nuha Medika. Edisi 1. RSJP Bandung . Jakarta : EGC Tarwoto dan Wartonah. Potter. 2005.