You are on page 1of 23

Antipsikotik Atipikal

Pendahuluan
Agen anti psikosis atipikal pertama yang diperkenalkan adalah clozapine pada tahun
1990 sebagai pengobatan lini pertama pada skizofrenia dalam kurun 30 tahun. Beberapa obat
anti psikosis atipikal baru juga diperkenalkan yaitu risperidones, olanzapine, dan quetipine.
Obat-obat tersebut juga dapat digunakan pada gejala negatif serta pengobatan untuk psikosis
yang sukar disembuhkan yang mana efek terhadap movement disorder lebih sedikit daripada
anti psikotik konvensional.
Antipsikotik atipikal sering disebut juga sebagai Serotonin Dopamin Antagosis (SDA)
atau APG II. APG II mempunyai mekanisme kerja melalui interaksi antar serotonin dan
dopamin pada ke 4 jalur dopamin di otak. Hal ini yang menyebabkan efek samping EPS lebih
rendah dan sangat efektif untuk mengatasi gejala negatif. Perbedaan antara APG I dan APG
II adalah APG I hanya dapat memblok reseptor D2 sedangkan APG II memblok secara
bersamaan reseptor serotonin (5HT2A) dan reseptor dopamin (D2) seperti yang terlihat pada
gambar 2.1. Selain itu antipsiktik atipikal juga menjadi agonis parsial D2 sehingga terdapat
keseimbangan antara aksi agonis dan antagonis. Ilustrasi diperlihatkan pada gambar 2.1 APG
II yang dikenal saat ini adalah clozapine, risperidone, olanzapine, quetiapine, zotepine,
ziprasidone, aripiprazole. Saat ini antipsikotik ziprasidone belum tersedia di Indonesia. 2,4

Gambar 2.1. Perbedaan antipsikosis atypical

Fungsi jalur nigrostriatal adalah untuk mengontrol pergerakan.3 Dalam keadaan normal. Sehingga pada saat 5HT menempati reseptor 5HT2A. rigiditas. Pada gambar 2. dan akinesia atau bradikinesia.3 a diperlihatkan bahwa Dopamin dihasilkan karena tidak ada 5HT yang menghambatnya dengan lebih spesifik karena tidak ada 5HT pada reseptor 5HT2A pada neuron dopamin. Bila jalur ini diblok. Sedangkan pada gambar 2. . Gejala yang terjadi antara lain akhatisia. Terdapat beberapa dopamin pathways utama di otak yang dapat dilihat pada gambar 2.2 Jalur dopamin dan regio penting di otak a. 5HT akan menghambat Dopamin. Nigrostriatal Pathways Jalur ini berproyeksi dari substansia nigra menuju ganglia basalis. reseptor neuron dopamin menghambat oelepasan Dopamin yang mengakibatkan tidak adanya dopamin di sinaps.Mekanisme Kerja Penghambatan reseptor dopamin adalah efek utama yang berhubungan dengan keuntungan terapi obat-obatan antipsikotik lama.1 di bawah ini: Gambar 2. dystonia (terutama pada wajah dan leher). akan terjadi kelainan pergerakan seperti pada Parkinson yang disebut extrapyramidal reaction (EPR).3 b dopamin dihambat oleh 5HT di nigrostriatal dopamine pathway.

Gambr 2. Begitu menarik yang terjadi bila terdapat antagonis 5HT2A maka yang akan terjadi adalah kebalikan dari antagonis D2.4 (b) terlihat dua aksi dari antipsikosis atipikal dimana D2 dan reseptor 5HT2A juga di blokade. Mekasnisme yang diperlihatkan pada gambar 2. Sedangkan bila dilihat pada gambar 2. Oleh karena itu. obat antipsikosis atipikal menyebabkan sediit gejala ekstrapiramidal dan tardive dyskinesia. blokade reseptor 5HT2A tidak sepenuhnya menghambat neuron dopamin.3 Interaksi Jalur Dopamin pada akson terminal . Hal ini terjadi karena dopamin dikeluarkan ketika serotonin tidak dapat lagi menghambat pegeluarannya.4 (a) menunjukkan bahwa reseptor pos sinaptik dopamine (D2) yang di blokade oleh SDA di jalur dopamine nigrostriatal. Pada blokade resptor D2 disertai dengan blokade reseptor 5HT2A maka dapat mengurangi sedikitnya gejala ekstrapiramidal yang sering kali terjadi. melainkan menyebabkan pengeluaran dopamine yang sedikit. Konsekuensi yang terjadi adalah kompetisi antipsikosis atypical dengan reseptor D2 dan kebalikan dari penghambatan yang terjadi. Karena blokade D2 diputar balikkan. Hal tersebut yang akan terjadi bila hanya D2 yang di blokade shingga obat akan terikat dengan postsinaps D2 dan memblokadenya.

Mekanisme Antipsikosis Atipikal di jalur nigostriatal b. Hal ini yang menyebabkan APG II dapat memperbaiki gejala positif. Jalur ini mempengaruhi banyak tingkah laku. seperti pleasure sensation. dan halusinasi. Mesolimbik Pathways APG II di jalur mesolimbik. Gambar 2. . c. APG II dapat memperbaiki gejala negatif jauh lebih baik dibandingkan APG I karena di jalur mesokortikal reseptor 5HT2A jumlahnya lebih banyak dari reseptor D2. dan APG II lebih banyak berkaitan dan memblok reseptor 5HT2A dan sedikti memblok reseptor D2 akibatnya dopamin yang di lepas jumlahnya lebih banyak. euphoria. Pada keadaan normal serotonin akan menghambat pelepasan dari dopamin. sehingga blokade reseptor D2 menang. Hal ini menyebabkan berkurangnya gejala negatif maka tidak terjadi lagi penurunan dopamin di jalur mesokortikal dan gejala negatif yang ada dapat diperbaiki. antagonis 5HT2A gagal untuk mengalahkan antagonis D2 di jalur tersebut. Sehingga antagonis 5HT2A tidak dapat mempengaruhi blokade reseptor D2 di mesolimbik. energi.4. waham. Mesokortikal Pathways Antagonis 5HT2A tidak hanya akan menyababkan berkurangnya blokade terhadap antagonis D2 tetapi juga menyebabkan terjadinya aktivitas dopamin pathways sehingga terjadi keseimbangan antara serotonin dan dopamin. APG II lebih berpengaruh banyak dalam memblok reseptor 5HT2A dengan demikian meningkatkan pelepasan dopamin dan dopamin yang dilepas menang dari pada yang dihambat di jalur mesokortikal.

Pemberian APG II dalam dosis terapi akan menghambat reseptor 5HT2A sehingga menyebabkan pelepasan dopamin menigkat.5 memperlihatkan bagaimana antagonis reseptor 5HT2A membalikkan kemampuan antagonis D2 untuk menambah seksresi prolaktin. d. Pada gambar 2. Tuberoinfundibular Pathways APG II di jalur tuberoinfundibular.5. Gambar 2. Ini mengakibatkan pelepasan prolaktin menurun sehingga tidak terjadi hiperprolaktinemia. hal yang sama dikatakan bahwa blokade reseptor 5HT2A memutar balikkan efek blokade reseptor D2. stimulasi reseptor 5HT2A akan membalikkan efek stimulasi terhadap reseptor D2. Dopamin akan menghambat pengelepasan prolaktin. karena itu defisit dopamin di jalur mesokrtikal berkurang sehingga menyebabkan perbaikan gejala negatif skizofrenia. Antipsikosis atipikal dan prolaktin . Sehingga. antagonis reseptor 5HT2A dapat mengalahkan antagonis reseptor D2. Hubungan antara neurotransmiter serotonin dan dopamin sifatnya antagonis dan resiprokal dalam kontrol sekresi prolaktin dari hipofise. Hal ini dikarenakan serotonin dan dopamin memiliki hubungan timbal balik terhadap sekresi prolaktin. sedangkan serotonin menigkatkan pelepasan prolaktin.

 Telah ditemukan peningkatan densitas reseptor dopamin dalam region tertentu di otak penderita skizofren yang tidak diobati. Reseptor D2. tic klinis lebih jelas jika jumlah reseptor D2 kaudatus meningkat. amfetamin (merangsang sekresi dopamin).  Pada pasien skizofrenia yang terapinya berhasil. yaitu D1 – D5. dan urin. Secara umum. ditemukan dalam kaudatus-putamen. kortek . ventral mesenchephalon.  Pemeriksaan dengan positron emission tomography (PET) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan reseptor dopamin pada pasien skizofrenia (baik yang menjalani terapi ataupun tidak) bila dibandingkan dengan orang yang tidak menderita skizofrenia. Pada pasien sindroma Tourette. Diduga berpengaruh terhadap efek mengantuk seseorang dan arousal behaviour. Hipotesis dopamin untuk penyakit skizofren tidak sepenuhnya memuaskan karena obat- obatan antipsikotik hanya sebagian yang efektif pada kebanyakan pasien dan obat-obatan tertentu yang efektif mempunyai afinitas yang jauh lebih tinggi untuk reseptor-reseptor selain reseptor D2. e. telah ditemukan perubahan jumlah homovallinic acid (HVA) yang merupakan metabolit dopamin. Hipotesis dopamin untuk penyakit psikotik mengatakan bahwa kelainan tersebut disebabkan oleh peningkatan berlebihan yang relatif dalam aktifitas fungsional neurotransmiter dopamin dalam traktus tertentu dalam otak. nucleus prabrachial lateral menuju talamus. terutama pada sistem mesolimbik-frontal. pada cairan serebrospinal. plasma. Hipotesis ini berlandaskan observasi berikut:  Sebagian besar obat antipsikotik memblok reseptor postsinaps pada SSP. nukleus accumbens. Setiap satu reseptor dopamin adalah berpasangan dengan protein G dan mempunyai tujuh domain transmembran. seperti levodopa (prekursor dopamin).  Penggunaan obat yang meningkatkan aktivitas dopamin. Fungsi dopamin dalam jalur ini masih banyak belum diketahui. Multiple Sites Pathways Jalur ini berasal dari beberapa tempat diantaranya periaquedectal gray. apomorfin (agonis langsung reseptor dopamin) dapat memperburuk skizofrenia ataupun menyebabkan psikosis de novo pada pasien. hypothalamic nuclei. terdapat beberapa hipotesis tentang cara kerja antipsikotik. Lima reseptor dopamin yang berbeda telah ditemukan. yang dapat digolongkan berdasarkan jalur reseptor dopamin atau reseptor non-dopamine.

Hubungan antara antipsikosis terhadap aksi klinis Pada kenyataannya. resperidon dan serindole) mempunyai afinitas yang tinggi terhadap reseptor 5-HT2A. Aksi sebagai anti depresan pada bipolar dan unipolar depresi Antipsikotik atipikal juga dapat berperan sebagai anti depresan kerja tunggal ataupun bila dikombinasikan dengan anti depresan lainnya. dan risperidone memiliki potensi yang lebih tinggi untuk antidepresan bila dibandingkan dengan anti psikotik atipikal lainnya. Akan tetapi. dan 5HT7. 5HT3. Selain itu. 5-HT2. a. mekanisme aksi anti depresan berhubungan terhadap anti psikotik atypical diantaranya:  Serotonin and/or norepinephrine re uptake inhibition >> Quetipine memiliki potensi yang lebih besar daripada ikatannya dengan D2. Efek terapi relatif untuk kebanyakan obat-obatan antipsikotik lama mempunyai korelasi dengan afinitas mereka terhadap reseptor D2.serebral dan hipotalamus. Beberapa antipsikotik yang lebih baru mempunyai afinitas yang lebih tinggi terhadap reseptor-reseptor selain reseptor D2. satu obat yang mempunyai tindakan menghambat reseptor D1. Kebanyakan obat-obatan atipikal yang baru (seperti olanzapin. tindakan menghambat alfa-adrenoseptor mempunyai korelasi baik dengan efek antipsikotik kebanyakan obat baru ini. untuk non psikosis mania. clozapine. Clozapin. hipotesis mayor . 5HT2C. quetiapin. antipsikotik atipikal menjadi pengelompokan obat yang mungkin paling rumit pada pengikatan neurotransmitter diantara kelas obat lainnya dalam psikofarmakologi. b. Contohnya. Tidak ada diantara dua agen yang memiliki farmakologi yang sama. Inhibisi reseptor serotonin (S) juga merupakan cara kerja obat-obatan antipsikotik baru ini. mempunyai afinitas yang rendah terhadap reseptor D2. muskarinik dan alfa- adrenergik yang signifikan.  Alpha-2 antagonism>> Quetipine. walaupun obat-obat tersebut juga bisa berinteraksi dengan reseptor D2 atau reseptor lainnya. namun anti psikotik atipikal memiliki efikasi yang lebih besar. D4. Beberapa ikatan reseptor berhubungan terhadap bermacam reseptor serotonin seperti contohnya agonis parsial reseptor 5HT1A dan antagonis reseptor 5HT1B/D. Aksi sebagai anti manik Seluruh anti psikotik efektif terhadap psikotik mania. berpasangan secara negatif kepada adenyl cyclase. terdapat korelasi dengan hambatan reseptor D2 dan disfungsi ekstrapiramidal.

Aksi cardiometabolic Meskipun seluruh antipsikosis atipikal memiliki peringatan terhadap efek samping penambahan berat badan. dan alpha 1. quetipine. quetipine. asetilkolin. namun yang punya potensi relatif kuat adalah clozapine.adrenergic receptors>> Seluruh antipsikotik atipikal memiliki paling tidak potensi sedang dalam pengikatan terhadap reseptor alpha 1. selama masa perawatan.adrenergic receptors. ataupun membutuhkan induksi untuk tidur. dan norepinephrin mempengaruhi jalur arousal. Beberapa obat yang paling dapat menyebabkan sedasi:  Aksi antihistamin kuat>> Clozapine. dan alpha 1. risperidones.  Antagonis alpha 1. Sedangkan pada kasus lain. dan resiko percepatan . agitasi. dan olanzapin yang memiliki potensi kuat terhadapa reseptor muskarinik. histamin. Aksi sebagai anxiolitik Beberapa studi menunjukkan bahwa terdapat afinitas pada berbagai macam anti psikotik atipikal terhadap gangguan cemas menyeluruh namun masih kontroversial bila digunakan pada pasien post-traumatic disease. iloperidone. c. Namun tidak seluruh anti psikotik memiliki efek sedasi karena tidak semuanya memiliki potensi terhadap h1 histamin. pengobatan jangka panjang menyebabkan sedasi merupakan efek samping yang ditemukan namun harus dihindari karena dapat mengurangi arousal. Beberapa blokade terhadap reseptor ini dapat menyebabkan sedasi yaitu M1. H-1 histaminic receptors. dan somnolen yang hingga menyebabkan gangguan kognitif. dan seluruh anti psikotik memiliki potensi sedang kecuali lurasidone yang tidak berikatan dengan H1. dan iloperidone. Aksi sebagai sedatif hipnotik dan sedatif Efek sedasi terkadang dibutuhkan terutama pada early treatment. resiko obesitas.adrenergic receptors berhubungan dengan orthostatic hypotension. e.adrenergic receptors. olanzapine. muscarinic cholinergic. quetipine. blokade perifer alpha 1. dan saat pasien agresif.adrenergic receptors. menyebabkan kantuk.muscharinic cholinergic receptor.  Aksi antikolinergik kuat>> Hanya golongan pines yaitu clozapine. ditujukan bahwa kombinasi antagonis/ parsial agonis D2 adalah jawaban terhadap mekanisme ini. d. Sedangkan Central Dopamine. dislipidemia. Blokade sentral alpha-1 adrenergic receptors berhubungan dengan sedasi.

lurasidone Klasifikasi Anti Psikosis Atipikal Antipsikotik generasi kedua yang digunakan sebagai berikut: 4  First line: Risperidone. Obat ini berguna untuk pasien yang refrakter dan terganggu berat selama pengobatan. yang berhubungan dengan fungsi emosional dan mental yang lebih tinggi. Iloperidone (penambahan berat badan)  Resiko metabolik rendah>> Ziprasidone. Clozapine merupakan gold standard pada pasien yang telah resisten dengan obat antipsikotik lainnya. Ziprasidone. masih ada spektrum resiko pada beberapa agen. iloperidones. 4. Paliperidones. tetapi dapat mempengaruhi fungsi saraf dopamin pada sistem mesolimbik- mesokortikal otak. Quetiapine. Quetipine. Pasien yang diberi clozapine perlu di pantau sel darah putihnya setiap minggu. karena clozapin memiliki efek resiko agranulositosis yang lebih tinggi dibandingkan antipsikosis yag lain. 4 Clozapine efektif untuk menggontrol gejala-gejala psikosis dan skizofrenia baik yang positif (iritabilitias) maupun yang negatif (social disinterest dan incompetence. 1. clozapine menunjukkan efek dopaminergik rendah. olanzapine  Resiko emtabolik sedang>> Risperidone. diikuti perbaikan secara bertahap pada minggu-minggu berikutnya. Aripiprazole. maka pengunaannya di batasi hanya pada pasien yang resisten atau tidak dapat mentoleransi antipsikosis lain. personal neatness). penyakit jantung dan bahkan premature death. diantaranya:  Resiko metabolik tinggi>> Clozapine. Aripiprazole.  Second line: Clozapine. Clozapine Merupakan APG II yang pertama dikenal kurang menyebabkan timbulnya EPS. Olanzapine.6. Selain itu. Namun. Profil farmakologinya atipikal bila dibandingkan terhadap psikotropik yang lain.10 . Efek yang bermanfaat terlihat dalam waktu 2 minggu. yang berbeda dari dopamin neuron di daerah nigrostriatal (daerah gerak) dan tuberoinfundibular (daerah neruendokrin). obat ini cocok untuk pasien yang menunjukkan gejala EPS yang berat bila diberikan antipsikosis yang lain. karena resiko efek samping EPS yang sangat rendah. tidak menyebabkan terjadinya tardice dyskinesia dan tidak terjadi peningkatan dari prolaktin.

eosinofilia. delirium. tidur. Clozapine dilaporkan memiliki waktu paruh 11-105 jam (rata-rata 16) dan mencapai steady state pada hari ke empat atau delapan. leukositosis. Hari 1 : 1 – 2 x 12. lemah.5 mg.Dsb. dan glucoronidated Distribusi dari clozapine dibandingkan obat antipsikotik lainnya lebih rendah. penglihata kabur. agitasi. lesu. agranulositosis. . Pada reseptor D4 afinitasnya lebig tinggi 10 kali lipat dibandingkan antipsikotik lainnya. Produk eliminasi tambahan berupa produk methylated. . takikardi. Sediaan yang ada di pasaran tablet 25 mg dan 100 mg Efek samping : 4. postural hipotensi. .7 . Clozapine secara garis besar di metabolisme di hepar. Secara farmakokinetik. 6 Luas volum distribusi sekitar 2-5L/kg. Umunya afinitas dari clozapine rendah pada reseptor D2 dan tinggi pada reseptor 5HT2A sehingga cenderung rendah untuk menyebabkan terjadinya efek samping EPS.10 . dimana reseptor D4 terdapat pada daerah korteks dan sedikit pada daerah striatal. Kadar puncak plasma tercapai pada kira-kira 3-4 jam setelah pemberian obat. gelisah. .Mulut kering atau hipersalivasi. bingung. trombositopeni. sakit kepala. Clozapine secara ekstensif diikat protein plasma (>95%). clozapine di absorpsi secara cepat dan sempurna pada pemberian per oral.Berikutnya ditingkatkan 25 – 50 mg / hari sp 300 – 450 mg / hari dengan pemberian terbagi. obat ini di metabolisme hampir sempurna sebelum dieksresi lewat urin dan tinja (30% melaui kantong empedu dan 50% melaui urine). Pemberian clozapine dengan atau tanpa makanan dilaporkan tidak memberikan pengaruh penyerapan yang signifikan.Ngantuk.Granulositopeni.8 jam sehingga pemberiannya dianjurkan 2 kali dalam sehari. . leukemia. dengan waktu paruh rata-rata 11. hydroxylated. Hal ini lah yang membedakan clozapine dengan APG I. 4 Dosis : 4. Ada hubungan yang linear antara clozapine dan konsentrasi plasma. Dosis maksimal 600 mg / hari. hipertensi.7. . Oral Availabilitas dilaporkan sekitar 12-81%. .

gangguan perilaku yang di hubungkan dengan demensia.  RISPERIDONE Risperidone merupakan obat APG II yang kedua diterima oleh FDA (Food and Drug Administration) sebagai antipsikotik setelah clozapine. pada dosis tinggi dapat terjadi EPS. Pemakaian risperidone yang teratur dapat mencegah terjadinya kekambuhan dan menurunkan jumlah dan lama perawatan sehingga baik digunakan dalam dosis pemeliharaan.Ganguan jantung dan ginjal berat. Hydroxyrisperidone mempunyai potensi afinitas terhadap reseptor dopamin yang setara . Obat ini juga dapat memperbaiki fungsi kognitif tidak hanya pada skizofrenia tetapi juga pada penderita demensia misalnya demensia Alzheimer.Gangguan fungsi Sumsum tulang.Kontra indikasi : 4. . misalnya pada pasien usia lanjut dengan psikosis. . .Intoksikasi obat. . setelah pemberian APG I dengan dosis yang kecil dihentikan.Ada riwayat toksik/hipersensitif. . 4 Risperidone dapat memperbaiki skizofrenia yang gagal di terapi dengan APG I tetapi hasil pengobatannya tidak sebaik clozapine. Absorpsi risperidone di usus tidak di pengaruhi oleh makanan dan efek terapeutik nya terjadi dalam dosis rendah. Pemakaian riperidone masih diizinkan dalam dosis sedang. . Rumus kimianya adalah benzisoxazole derivative. .Psikosis alkoholik dan psikosis toksik lainnya. .Koma.Gangguan liver.7 .Depresi SSP. agitasi.Epilepsi yang tidak terkontrol.Kollaps sirkulasi. . 4 Metabolisme risperidone sebagian besar terjadi di hati oleh enzim CYP 2D6 menjadi 9-hydroxyrisperidone dan sebagian kecil oleh enzim CYP 3A4.

hari 3 : 3 mg. jika belum terlihat respon perlu penilaian ulang.Umunya perbaikan mulai terlihat dalam 8 minggu dari pengobatan awal.Peningkatan berat badan . ditingkatkan sp 1 – 2 mg dengan 2 x pemberian. 4. .Konstipasi . .8 Indikasi : 4.dengan risperidone.Skizofrenia akut dan kronik dengan gejala positif dan negatif. maka dosis risperidone harus dikurangi untuk meminimalkan timbulnya efek samping dan toksik. hari 2 : 2mg.Pusing . Metabolisme risperiodne dihambat oleh antidepresan fluoxetine dan paroxetine.Sedasi .7 . karena antidepresan ini menghambat kerja dari enzim CYP 2D6 dan CYP 3A4 sehingga pada pemberian bersama antidepresan ini. disfungsi seksual) . .7 . Metabolisme obat ini dipercepat bila diberikan bersamaan carbamazepin.EPS . Efek samping: 4. .Sindroma neuroleptik malignan .4 mg / hari dengan 2 x pemberian. karena menginduksi CYP 3A4 sehingga perlu peningkatan dosis risperidone pada pemberiaan bersama carbamazepin disebabkan konsentrasi risperidone di dalam plasma rendah.Gejala afektif pada skizofrenia (skizoafektif).Takikardi  OLANZAPINE .Hari 1 : 1 mg. Eksresi terutama melalui urin.Dosis optimal . . galaktorea.Kadar puncak plasma dicapai dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian oral. Dosis : 4.Peningkatan prolaktin (ditandai dengan gangguan menstruasi.5 mg.Pada orang tua.7 . gangguan liver atau ginjal dimulai dengan 0.

Metabolisme olanzapine di sitokrom P450 CYP 1A2 dan 2D6. . hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan efektivitas dan efek samping antara wanita dan pria. Berikatan lemah dengan reseptor GABAA.Pencegahan kekambuhan gangguan bipolar.8 Indikasi : 4. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh makanan.7 .Sizofrenia atau psikosis lain dengan gejala positive dan negatif. 4. benzodiazepin dan β- adrenergik.7 .Untuk skizofrenia mulai dengan dosis 10 mg 1 x sehari. . 4 Eliminasi waktu paruh dari olanzapine memanjang pada penderita usia lanjut. sedangkan pada pemberian intramuskular dapat dicapai setelah 15-45 menit dengn waktu paruh 30 jam (antara 21-54 jam) sehingga pemberian cukup 1 kali sehari. . Sehingga perlu modifikasi dosis yang lebih rendah pada wanita. 4 Olanzapine merupaka antagonis monoaminergik selektif yang mempunyai afinitas yang kuat terhadap reseptor dopamin (D1-D4). Afinitas sedang dengan reseptor kolinergik muskarinik (M1-5) dan serotonin (5HT3). serotonin (5HT2A/2c).Untuk pecegahan kekambuhan gangguan bipolar 10 mg / hari. Merupakan derivat dari clozapine dan dikelompokkan dalam golongan dibenobenzodiazepine. Afinitas lemah pada sitokrom P450 hati sehingga pengaruhnya terhadap metabolisme obat lain rendah dan pengaruh obat lain minimal terhadap konsentrasi olanzapine. sehingga perlu penyesuaian dosis yang lebih tinggi pada penderita yang merokok. Cleareance olanzapine meningkat sekitar 40% pada perokok dibandingkan yang tidak merokok. Metabolisme akan meningkat pada penderita yang merokok dan menurun bila diberikan bersama dengan antidepresan fluvoxamine atau antibiotik ciprofloxacin.Episode manik moderat dan severe. Histamin (H1) dan α1 adrenergik. Plasma puncak olanzapine dicapai dalam waktu 5-6 jam setalah pemberian oral. . Dosis : 4. . Cleareance 30% lebih rendah pada wanita dibanding pria.Untuk episode manik mulai dengan dosis 15 mg 1 x sehari.

kemudian dinaikkan lagi menjadi 300 mg. pada jalur sulfoxidation dan oksidasi menjadi metabolit tidak aktif dan waktu paruhnya 6 jam. masuk dalam kelompok dibenzodiazepine derivates. Afinitasnya lemah pada reseptor muskarinik (M1) dan reseptor benzodiazepin. sehinga perlu penyesuaian dosis yang lebih rendah dan menurun 30% pada penderita yang mengalami gangguan fungsi hati. peningkatan berat badan. Pemberian pada pasien pertama kali mendapat quetiapine perlu dilakukan titrasi dosis untuk mencegah terjadinya sinkope dan hipotensi postural. Efek samping obat ini yang sering adalah somnolen. konsentrasi plasma puncak dicapai dalam waktu 1.Somnolen .Penigkatan berat badan .Efek samping: 4.ah itu dicari dosis efektif antara 300-450 mg/hari. reseptor histamin (H1). 4 Quetiapine merupaka antagonis reseptor serotonin (5HT1A dan 5HT2A). dan hipertensi. Dapat juga memperbaiki pasien yang resisten dengan antipsikotik generasi pertama tetapi hasilnya tidak sebaik apabila di terapi dengan clozapine. 4  ZIPRASIDONE .EPS dan kejang rendah . reseptor adrenergik α1 dan α2. negatif. reseptor dopamin (D1 dan D2). Dimulai dengan dosis 50 mg per hari selama 4 hari. takikardi. pusing. Cleareance quetiapine menurun 40% pada penderita usia lanjut. Absorpsinya berlangsung cepat setelah pemberian oral. Metabolisme terjadi di hati. kognitif dan mood.Insiden tardive dyskinesia rendah  QUETIAPINE Struktur kimia yang mirip dengan clozapine. kemudian dinaikkan menjadi 100 mg selama 4 ahri. Cleareance quetiapine meningkat apabila pemberiannya dilakukan bersamaan dengan antiepileptik fenitoin.5 jam setelah pemberian.Hipotensi ortostatik berkaitan dengan blokade reseptor α1 . 4 Quetiapine dapat memperbaiki gejala positif. Sete.7 . hipotensi postural. barbiturat. carbamazepin dan antijamur ketokonazole.

Pemberiannya akan semakin efektif bila bersamaan dengan makanan. tetapi tidak dipangruhi oleh usia. Peningkatan berat badan sangat kecil atau dapat dikatan tidak ada. 4  ARIPIPRAZOLE . Ziprasidone merupakan antipsikotik dengan efek antagonsis antara reseptor 5HT2A dan D2. gangguan pernafasan (8%). Berinteraksi juga denga reseptor 5HT2C. peningkatan berat badan (10%). Ziprasidone tidak menyebabkan gangguan jantung. Afinitas sedang pada reseptor histamin dan α1. 5HT1D dan 5HT1A. APG II dengan struktur kimia yang baru. obai ini belum tersedia di Indonesia. dan bercak- bercak merah di kulit (4%). 7 Terjadinya efek samping EPS rendah dan tidak terjadi peningkatan kadar prolaktin. Obat ini aman diberikan pada penderita usia lanjut. sehingga pemberiannya 2 kali sehari. Dosis pemeliharaan berkisar antara 40-60 mg per hari. Konsentrasi plasma puncak dicapai dalam waktu 2-6 jam setelah pemberian oral dengan waktu paruh obat rata-rata 5-10 jam. Mekanisme kerja farmakologik diperkirakan pro-serotonergik dan pro- noradregenik sehingga di prediksi dapat bekerja sebagai antidepresan dan ansiolitik. Ziprasidone tidak bekerja pada muskarinik (M1). karena bekerja sangat lemah pada reseptor AH1 walaupun bekerja juga sebagai antagonis pada reseptor 5HT2c. 5 Absorpsi ziprasidone akan meningkat dengan adanya makan. EPS (5%). Obat ini efektif digunakan untuk gejala negatif dan penderita yang refrakter dengan antipsikotik. Metabolsime ziprasidone melalui hati. 4 Dosis intial yang aman diberikan tanpa dosis titrasi adalah sebesar 40 mg perhari. 4 Ziprasidone juga antipsikotik yang mempunyai mekanisme kerja yang unik karena menghambat pengambilan kembali (reuptake) neurotransmiter serotonin dan norepineprine di sinaps. gangguan fungsi hati atau ginjal. negatif. afinitasnya pada reseptor ini sama atau lebih besar dari afinitas pada reseptor D2. jenis kelamin. untuk pengobatan terhadap gejala positif. dan depresif pada pasien skizofrenia. sebagian besar pada isoenzim CYP 3A4 dan sebagian kecil di CYP 1A2. Efek samping yang dijumpai selama uji klinis adalah somnolen (14%). Efikasi dari ziprasidone terjadi pada dosis 80-160 mg/hari.

Sakit kepala. Absorpsi aripiprazole mencapai konsentrasi plasma ouncak dalam waktu 3-5 jam setelah pemberian oral.Akhatisia. . . Efek samping : . . insomnia. somnolens. . 4 Indikasi : . Dosis : .Konstipasi. . Aripiprazole bekerja sebagai dopamin sistem stabilizer artinya menghasilkan signal transmisi dopamin yang sama pada keadaan hiper atau hipo-dopaminergik karena pada keadaan hiperdopaminergik aripiprazole afinitasnya lebih kuat dari dopamin akan mengeser secara kompetitif neurotransmiter dopamin dan berikatan dengan reseptor dopamin.Skizofrenia. mual dan muntah.10 atau 15 mg 1 x sehari. menjadi dehydro-aripiprazole. yang bersifat partial agonis pada reseptor D2 dan reseptor serptonin 5HT1A serta antagonis pada reseptor serotonin 5HT2A. Waktu paruh berkisar antara 75-94 jam sehingga pemberian cukup 1 kali sehari. muntah. Pada keadaan hipodopaminergik maka aripiprazole dapat menggantikan peran neurotransmiter dopamin dan akan berikatan dengan reseptro dopamin. Merupakan antipsikotik generasi baru.Ansietas. Aripiprazole sebaiknya diberikan sesudah makan. terutama pada pasien yang mempunyai keluhan dispepsia.Mual. 4 Aripiprazole di metabolisme di hati melaui isoenzim P450 pada CYP 2D6 dan CYP 3A4. Afinitas dari hasil metabolisme ini mirip dengan aripiprazole pada reseptor D2 dan berada di plasma sebesar 40% dari keseluruhan aripiprazole.

 Antipsikosis + Antidepresan trisiklik = efek samping antikolinergik meningkat (hati- hati pada pasien dengna hipertrofi prostat. oleh karena itu dosis antikonvulsan harus lebih besar (dose- related). Yang paling minimal menurunkan ambang kejang adalah obat anti-psikosis Haloperidol. B. Chlorpromazine + Reserpine = potensiasi efek hipotensif. kemungkinan serangan kejang meningkat. bermanfaat untuk kasus dengan gejala dan gaduh gelisah yang sangat hebat (acute adjunctive therapy).  Antipsikosis + anti-anxietas = efek sedasi meningkat. Misalnya.  Antispikosis + ECT = dianjurkan tidak memberikan obat anti-psikosis pada pagi hari sebelum ECT (Electro Convulsive Therapy) oleh karena angka mortalitas yang tinggi.  Antipsikosis + Antasida = efektivitas obat antu-psikosis menurun disebabkan gangguan absorpsi. penyakit jantung).A. ileus.  Antipsikosis + antikonvulsan = ambang konvulsi menurun. glaukoma. INTERAKSI OBAT 5  Antipsikosis + Antipsikosis lain = potensi efek samping obat dan tidak ada bukti lebih efektif (tidak ada sinergis antara 2 obat anti-psikosis). CARA PENGGUNAAN .

otonomik. ekstrapiramidal). isi pikiran miskin) lebih menonjol dari gejala positif (waham. sedasi. bicara kacau.  Apabila dalam riwayat penggunaan obat anti-psikosis sebelumnya. jenis obat anti- psikosis tertentu yang sudah terbukti efektif dan ditolerir dengan baik efek samping- nya. penarikan diri. dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang. Pergantian obat disesuaikan dengan dosis ekivalen.Pemilihan Obat  Pada dasarnya semua obat anti-psikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis ekivalen. dosis malam lebih besar) sehingga tidak begitu mengganggu kualitas hidup pasien. halusinasi. Pengaturan Dosis Dalam pengaturan dosis perlu dipertimbangkan : 5  Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2 – 4 minggu Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2 – 6 jam. hipobulia. Mulai dengan “dosis awal” sesuai dengan “dosis anjuran”. perbedaan terutama pada efek sekunder (efek samping . perilaku tak terkendali) pada pasien Skizofrenia.  Apabila gejala negatif (afek tumpul. pilihan obat antipsikosis – atipikal perlu dipertimbangkan. Khususnya pada penderita Skizofrenia yang tidak dapat mentolerir efek samping ekstrapiramidal atau mempunyai risiko medik dengan adanya gejala ekstrapiramidal (neuroleptic induced medical complication).  Waktu paruh : 12 – 14 jam (pemberian obat 1-2 x perhari). dapat diganti dengan obat anti-psikosis lain (sebaiknya dari golongan yang tidak sama). dinaikkan setiap 2-3 hari  sampai mencapai “dosis efektif” (mulai timbul peredaran Sindrom Psikosis)  dievaluasi setiap 2 minggu dan bila perlu dinaikkan  “dosis optimal”  dipertahankan sekitar 8-12 minggu (stabilisasi)  diturunkan setiap 2 minggu  . dengan dosis ekivalen-nya.  Dosis pagi dan malam dapat berbeda untuk mengurangi dampak dari efek samping (dosis pagi kecil. dimana profil efek samping belum tentu sama. 5  Pemilihan jenis obat anti-psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat.  Apabila obat anti-psikosis tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang memadai.

Obat anti psikosis tidak menimbulkan gejala lepas obat yang hebat walaupun diberikan dalam jangka waktu lama.25 mg (im). bila sudah tiba waktu penghentian obat. sehingga potensi ketergantungan obat kecil sekali. metabolit- metabolit masih mempunyai keaktifan anti-psikosis. . Pada umumnya pemberian obat anti-psikosis sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai 1 tahun setelah semua gejala psikosis mereda sama sekali. setiap 2 – 4 minggu sangat berguna untuk pasien yang tidak mau atau sulit teratur makan obat atau apapun yang tidak efektif terhadap medikasi oral.5 – 5 kali. kemudian baru menyusul obat antiparkinson. “dosis maintenance”  dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun (diselingi “drug holiday” 1-2 hari/minggu)  tapering off (dosis diturunkan tiap 2-4 minggu)  stop. Pemberian yang cukup lama ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2. pusing. diare. sampai beberapa hari setelah dosis terakhir masih mempunyai efek klinis. Untuk “Psikosis Reaktif Singkat” penurunan obat secara bertahap setelah hilangnya gejala dalam kurun waktu 2 minggu – 2 bulan. Hal tersebut disebabkan metabolisme dan ekskresi obat sangat lambat. Pada penghentian yang mendadak dapat timbul gejala “Cholinergic Rebound” : gangguan lambung. mual. im. terapi pemeliharaan (maintenance) diberikan paling sedikit selama 5 tahun. 5 Penggunaan Parenteral Obat anti-psikosis “long acting” Fluphenazine Decanoate 25 mg/cc atau Haloperidol Decanoas 50 mg/cc. Sebaiknya sebelum penggunaan parenteral diberikan secara oral lebih dahulu beberapa minggu untuk melihat apakah terdapat efek hipersensitivitas. Sehingga tidak langsung menimbulkan kekambuhan setelah obat dihentikan. Keadaan ini akan mereda dengan pemberian “anticholinergic agent” (injeksi Sulfas Atropin 0. tablet Trihexyphenidyl 3x 2 mg/h). gemetar dan lain-lain. muntah. biasanya satu bulan kemudian baru gejala Sindrom Psikosis kambuh kembali. Lama Pemberian Untuk pasien dengan serangan Sindrom Psikosis yang “multi episode”. Oleh karena itu pada penggunaan bersama obat anti-psikosis + antiparkinson. Efek obat anti-psikosis secara relatif berlangsung lama. obat antipsikosis dihentikan lebih dahulu.

75 mg (im). Bila dibutuhkan dapat diberikan Norepinephrine bitartrate (LEVOPHED – Abbot atau RAIVAS – Dexa Medica atau VASCON – Fahrenheit) ampul 4 mg/4cc dalam infus 1000 ml dextrose 5% dengan kecepatan infus 2-3cc/menit.50-0. 15 – 25 % kasus menunjukkan toleransi yang baik terhadap efek samping ektrapiramidal. 5 C. Tindakan mengatasinya dengan tablet Trihexyphenidyl (Artane) 3-4x 2 mg/hari. Hipotensi ortostatik seringkali dapat dicegah dengan tidak langsung bangun setelah mendapat suntikan dan dibiarkan tiduran selama sekitar 5-10 menit. Tindakan mengatasinya dengan injeksi Nor-adrenaline (Nor-epinephrine) sebagai “alfa adrenergic stimulator”. Secara umum dianjurkan penggunaan obat antiparkinson tidak lebih lama dari 3 bulan (risiko timbul “atropine toxic syndrome”). Dalam keadaan ini tidak diberikan Adrenaline oleh karena bersifat “alfa dan beta adrenergic stimulator” sehingga efek beta-adrenergic tetap ada dan dapat terjadi Shock. Sulfas Atropin 0. oleh karena dapat mempengaruhi penyerapan/absorpsi obat anti-psikosis sehingga kadarnya dalam plasma rendah. Obat anti-psikosis yang kuat (Haloperidol) sering menimbulkan gejalan Ekstrapiramidal/Sindrom Parkinson. Pemberian obat anti psikosis “long acting” hanya untuk terapi stabilisasi dan pemeliharaan (maintenance therapy) terhadap kasus Skizofrenia. Tidak dianjurkan pemberian “antiparkinson profilaksis”. Apabila Sindrom Parkinson sudah terkendali diusahakan penurunan dosis secara bertahap. PERHATIAN KHUSUS  Efek samping yang sering timbul dan tindakan mengatasinya : 5 Penggunaan Chlorpromazine injeksi (im) : sering menimbulkan Hipotensi Ortostatik pada waktu perubahan posisi tubuh (efek alfa adrenergic blockade). dan dapt menghalangi . untuk menentukan apakah masih dibutuhkan penggunaan obat antiparkinson. Dosis mulai dengan ½ cc setiap 2 minggu pad bulan pertama kemudian bau ditingkatkan menjadi 1 cc setiap bulan.

Penyakit hati (hepato-toksik).Penyakit darah (hemato-toksik). .Penyakit SSP (parkinson. .  “Rapid Neuroleptizattion” : Haloperidol 5 – 10 mg (im) dapt diulangi setiap 2 jam. gaduh-gelisah. .Epilepsi (menurunkan ambang kejang). . dosis maksimum adalah 100 mg dalam 24 jam. tumor otak dll). hiperaktivitas psikomotorm impulsif.manifestasi gejala psikopatologis yang dibutuhkan untuk penyesuaian dosis obat anti- psikosis agar tercapai dosis efektif. . .Ketergantungan alkohol (penekanan SSP meningkat).  Kontraindikasi : . menyerang. Biasanya dalam 6 jam sudah dapat mengatasi gejala-gejala akut dari Sindrom Psikosis (agitasi.Kelainan jantung (menghambat irama jantung). perilaku destruktif dll).Febris yang tinggai (thermoregulator di SSP). .