You are on page 1of 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Low back pain (LBP) atau nyeri pinggang bawah merupakan suatu sensasi

tidak mengenakkan yang dirasakan pada tulang vertebrae lumbosacral dan

sacroiliaca. Keluhan LBP dikatakan akut jika durasi terjadinya keluhan akan

hilang dalam waktu 6-12 minggu, sedangkan jika dikatakan kronis bila penderita

mengalami nyeri lebih dari 3 bulan (Hills, 2016).

Secara umum LBP adalah keluhan yang dialami oleh hampir semua orang

yang berusia produktif maupun usia lanjut. Penyakit ini tidak menyebabkan

kematian pada penderitanya, namun menyebabkan gangguan terhadap kualitas

kerja dan aktivitas lainnya diluar pekerjaan. Keluhan ini akan mengakibatkan

kerugian pada individu dan instansi tempat bekerja (Patrianingrum et al, 2015).

Keluhan LBP merupakan masalah kesehatan yang luas dan kompleks di

negara-negara maju. Keluhan ini yang menyebabkan penderitanya banyak dirawat

di bagian pusat pelayanan primer. Keluhan yang dirasakan biasanya seperti nyeri,

ketegangan otot atau kekakuan otot di bagian bawah kosta belakang dan di atas

gluteus dengan atau tanpa nyeri pada kaki (Koes et al, 2006). Keluhan ini adalah

alasan kedua yang sering menyebabkan pasien datang untuk berobat setelah

keluhan nyeri kepala (Moore dan Dalley, 2013).

Prevalensi LBP di Amerika Serikat sekitar 80% dan meningkat sekitar 15-

65% pertahun. Enam puluh lima persen diantaranya sembuh dalam waktu 6

minggu dan 80-90% sembuh dalam waktu 12 minggu (Hills, 2016). Prevalensi

1
2

LBP pada laki-laki sama dengan wanita. Faktor pekerjaan yang mempengaruhi

LBP antara lain beban kerja, postur janggal, pengulangan dan durasi. Faktor

lingkungan yang dapat mempengaruhi LBP antara lain getaran dan kebisingan

(Andini, 2015).

Laporan dinas kesehatan Provinsi Riau tahun 2013, menunjukkan bahwa

LBP merupakan penyakit terbanyak keempat dari sepuluh kasus terbanyak di

Provinsi Riau pada pasien rawat jalan di RSUD Arifin Achmad. Keluhan LBP di

posisi keempat setelah dyspepsia, hipertensi esensial primer, dan infeksi saluran

nafas atas (ISPA) (Dinas kesehatan Provinsi Riau, 2013).

Penyebab LBP bermacam-macam diantaranya sekitar 70% kasus

disebabkan adanya regangan pada lumbal, 10% kasus karena adanya perubahan

degeneratif, 4% kasus disebabkan adanya disk hernia, 4% kasus disebabkan

fraktur kompresi osteoporosis, 3% kasus disebabkan stenosis tulang belakang, dan

1% kasus tidak diketahui penyebabnya (Hills, 2016).

Tiga faktor risiko yang dapat menyebabkan LBP yaitu faktor individu,

pekerjaan dan lingkungan. Faktor individu yang mempengaruhi LBP adalah usia,

jenis kelamin, indeks massa tubuh, masa kerja, kebiasaan merokok, faktor

pendidikan, pekerjaan, aktivitas fisik, riwayat penyakit terkait dan trauma.

Kejadian LBP pada laki-laki meningkat pada usia 20-24 tahun, sedangkan pada

wanita meningkat pada usia 30-34 tahun (Albar, 2009). Menurut penelitian

Sakinah et al pada tahun 2012 menyatakan bahwa keluhan LBP meningkat pada

usia >35 tahun dan semakin bertambah usia maka semakin berisiko terhadap LBP.
3

Industri batu bata akhir-akhir ini banyak dijumpai diberbagai daerah,

termasuk di Kecamatan Tenayan Raya Pekanbaru. Sulitnya mencari lapangan

pekerjaan dan kurangnya keahlian atau keterampilan yang dimiliki menjadi salah

satu alasan sebagian penduduk di Kecamatan Tenayan Raya bekerja sebagai

produsen atau penghasil batu bata. Hal ini didukung juga dengan keadaan

demografi Kecamatan Tenayan Raya yang banyak terdapat jenis tanah liat yang

cocok digunakan sebagai bahan baku pembuatan batu bata (Rinaldi Erwin et al,

2015).

Berdasarkan pengamatan peneliti aktifitas pekerja industri batu bata yang

dilakukan secara manual berisiko untuk menyebabkan LBP. Hal ini dikarenakan

beberapa tahapan proses pekerjaan terdiri dari mencangkul tanah, memasukkan

tanah ke dalam gerobak sorong, mencetak batu bata dengan alat cetak,

mengangkat batu bata dengan gerobak sorong serta menyusun batu bata yang

akan di panggang serta mengangkat kedalam mobil pengangkut. Kegiatan yang

dilakukan dengan berulang-ulang, membungkuk dan memutar serta beban yang

diangkat berlebihan tersebut juga ditambah dengan posisi kerja yang salah

membuat ketegangan pada otot sehingga para pekerja semakin beresiko

mengalami LBP (Rinaldi Erwin et al, 2015).

Selain itu belum ada penelitian yang dilakukan mengenai faktor-fakor

yang terkait dengan keluhan LBP pada pekerja industri batu bata yang berada di

kecamatan Tenayan Raya, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

mengenai “Faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan Low Back Pain


4

(LBP) pada pekerja pekerja industri batu bata di kecamatan Tenayan Raya tahun

2018”.

1.2 Perumusan masalah.

Perumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimanakah hubungan

usia, masa kerja, dan postur janggal dengan keluhan LBP pada pekerja batu bata

di Kecamatan Tenayan Raya ?

1.3 Orisinalitas penelitian

Ada beberapa penelitian sebelumnya yang telah dilakukan di Indonesia

tentang hubungan postur janggal dan faktor risiko yang dapat mempengaruhi

kejadian LBP. Perbedaan dengan penelitian ini adalah responden yang akan

mengikuti penelitian dan tempat penelitian. Penelitian sebelumnya yang

berhubungan dengan penelitian ini:

Tabel 1 Orisinalitas penelitian

Peneliti Desain penelitian Variabel


Rinaldi Pendekatan koralasi Hubungan posisi kerja pada pekerja industri batu
Erwin et deskritif dan desain bata dengan kejadian low back pain
al, 2015 cross sectional
Kusuma et Survei analitik dengan Pengaruh posisi kerja tehadap kejadian Low back
al, 2014 rancangan cross pain pada pekerja di kampumg Sepatu, Kelurahan
sectional Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.
Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu kelompok
bekerja dengan posisi duduk dan kelompok bekerja
dengan posisi berdiri. Variabel terikat adalah
keluhan subjektif pada punggung.
Koesyanto, Observasional analitik Masa kerja dan sikap kerja terhadap nyeri
2013 dengan pendekatan punggung. Variabel bebas dalam penelitian ini
cross sectional yaitu, usia, masa kerja, sikap kerja duduk, dan
desain kursi kerja. Variabel terikat, yaitu keluhan
subjektif pada punggung pekerja tenun sarung.
5

1.4 Tujuan penelitian

1.4.1 Tujuan umum

Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan LBP pada

pekerja industri batu bata di kecamatan Tenayan Raya.

1.4.2 Tujuan khusus

a. Mengetahui gambaran karakteristik responden meliputi usia, masa kerja

dan postur janggal pada pekerja industri batu bata di kecamatan Tenayan

Raya.

b. Mengetahui hubungan usia, masa kerja dan postur janggal dengan LBP

pada pekerja industri batu bata di kecamatan Tenayan Raya.

1.5 Manfaat penelitian

1.5.1 Bagi dunia kedokteran

Sebagai gambaran hubungan usia, masa kerja dan postur janggal peerja

batu bata dengan LBP sehingga dapat digunakan sebagai referensi.

1.5.2 Bagi pekerja/ masyarakat

Sebagai tambahan pengetahuan dan informasi untuk pekerja bagaimana

usia, masa kerja dan postur janggal dapat mempengaruhi LBP sehingga,

Pekerja dapat memprediksi dan mengatasi kemungkinan penyakit akibat

kerja yang akan dialaminya.

1.5.3 Bagi bidang lainnya

Sebagai pertimbangan dibagian lainnya agar dapat menciptakan suatu alat

yang dapat meringankan beban pekerja industri batu bata.


6

1.5.4 Bagi peneliti

Sebagai pengalaman dan penambahan pengetahuan dalam upaya

penerapan antara ilmu yang didapat dengan keadaan yang nyata didalam

masyarakat, serta sebagai bekal dalam menghadapi permasalahan dimasa

yang akan datang.