You are on page 1of 15

Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.

) XI (1 ): 31-45 ISSN: 0853-6384 31

Full Paper
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN KIMIA, FISIKA TERHADAP DISTRIBUSI PLANKTON DI
PERAIRAN BELITUNG TIMUR, BANGKA BELITUNG

THE CORELATION OF ENVIRONMENT FACTOR CHEMISTRY, PHYSICS ON PLANKTON
DISTRIBUTION IN THE EAST BELITUNG WATERS, BANGKA BELITUNG

Marojahan Simanjuntak*)

Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jl, Pasir Putih 1, Telp, 021-64713850, Jakarta 14430, Fax: (021) 64711948,
Penulis untuk korespondensi: E mail: ojak_sm@yahoo.com. HP: 081385597038

Abstract
The purpose of this study w as to know the distribution of nutrients and their effect to the distribution of
phytoplankton in the eastern area of Belitung water. Sampling was done on October 2006. Water samples
were collected from the surface and at depth 10 m among 10 stations. For chemical and physical properties,
samples were collected from both of surface and at depth 10 m while for phytoplankton content, samples
were collected fr om surface water. Samples were analyzed for phosphate, nitrate, nitrite, ammonia,
silicate, pH, dissolved oxygen, temperature, salinity and concentration of plankton. The result showed
that the concentration of phosphate, nitrate, nitrite and silicate were tended to decrease followed to the
distance of station from the shore line. Dissolved oxygen and phytoplankton were tended to decrease
as the depth. There was positive correlation between salinity and concentration of plankton. It led to
conclusion that the water was still suitable for living biota.

Key words: East Belitung Waters, nutrients, plankton

Pengantar organisme (Wiadnyana, 2000). Tujuan penelitian ini
adalah untuk memperoleh informasi kondisi zat hara
Secara geografis ekosistem perairan Belitung Timur, (kimia) dan fi sika (suhu, salinitas) ser ta kaitannya
Bangka Bel itung dipengaruhi oleh arus Laut Cina dengan p lankton pad a musi m ti mur (A gustu s).
Selatan dibagian utara dan Selat Karimata di sebelah Data parameter yang di teliti merupakan indi kator
timur serta Laut Jawa disebelah selatan. Pemanfaatan kes ubur an perai ran sehingga dapat digun akan
sumberdaya yang optimal dari perairan ini sangat sebagai dasar untuk pemanfaatan dan pengelolaan
membutuhkan pengelolaan lingkungan perairan perairan Belitung Timur, Bangka Belitung.
yang baik, diantaranya mengenai fungsi ekosistem di
perairan tersebut. Interaksi antar komponen penyusun
ekosistem akan berpengaruh terhadap keberadaan Bahan dan Metode
zat hara perairan. Zat hara yang merupakan bahan Penelitian dilakukan di perairan Belitung Timur pada
makanan bagi fitopl ankt on um umnya di peroleh bulan Oktober 2006. Stas iun sam pling ditentukan
dari daratan sekitarnya dan berasal dar i ber bagai berdasar kan kar akt er isti k hidrograf is perai ran.
limbah industri. F itoplankton m erupakan komponen Contoh air diambil menggunakan botol Nansen pada
utam a rantai makanan bagi bi ota laut sehingga kedalaman 0 m (permukaan) dan kedalaman 10 m
keberadaan zat hara dan fitoplankton merupakan pada 10 stasiun penelitian (Gambar 1). Parameter
salah satu i ndikator kesuburan perairan. Beberapa kimia yang diamati meliputi pH , ok sigen terlarut,
lokasi disepanjang perairan Belitung Timur digunakan fos fat, ni trat, nitr it, am monia, silikat sem entara
untuk hatchery dan budiday a perikanan. Seiri ng parameter fis ika yang diamati meli puti suhu dan
dengan perkembangan aktivitas manusia di daerah salinitas. Par ameter biologi y ang diamati meliputi
itu, berbagai faktor lingkungan dapat mempengaruhi fitoplankton dan zooplankton. Contoh air dianalisis
kondi si per airan ini, misalnya faktor f isika- kimia kadar fosfat, nitrat, nitrit, silikat dan amoniak menurut
perairan, perubahan musim dan ber bagai limbah Strickland & Parson (1968) dengan menggunakan
pert anian, ind ust ri ma upun p er kot aan. Fu ngsi spektrofotometer. Derajat keasaman (pH) ai r laut
perairan sering berubah akibat perubahan struktur diukur dengan pH meter, sedangkan kadar oksigen
dan kuantitas plankton yang meliputi fungsi dan tingkat terlarut diukur dengan metode titrimetrik Winkler. Suhu
kemampuan perairan sebagai pendukung kehidupan dan salinitas diukur dengan Conductivity Temperature

Copyright©2009. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved

09 33.41-0.015 Tabel 1. Posisi stasiun ditent ukan dengan Kadar zat hara (fosfat.55 Nitrat (µg A/l) 0.19 0.49-0.34-33.03-1.44 Ammonia (µg A/l) 1.76 Oksigen (ml/l) 4.06 12. Parameter kualitas air pada lapisan permukaan dan 10 m di perairan Belitung Timur.18 Salinitas (psu) 32.24 3.24 32.60 0.81-4.91 Keasaman (pH) 8.82-5. kedua unsur ini sangat kecil dalam air laut.06 0.99 32.38 0.028 mg/l masih baik untuk kepentingan biota 2006. Menurut Nybakken (1988) kadar (Wickstead.05 0.39 1.15 33.32 0. .61-1. Di perairan tropis dan subtropis kadar zat hara pada umumnya rendah di lapisan permukaan LS dan meningkat s eiring bertambahnya kedalaman.69 0.45 1.15 0. merupakan zat hara anorganik utama menetapkan nilai ambang batas nitrat untuk biota yang dibutuhkan fitoplankton sebagai rantai makanan laut sebesar 0. .82-33.39 0. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved .18 4. - Copyright©2009. Kadar fosfat yang diperoleh di Gambar 1.86 Silikat (µg A/l) 1. Hasil pengujian kadar nitrat memberikan hasil kadar nitrat di lapisan permukaan lebih rendah bila dibandingkan Hasil dan pembahasan dengan di kedalaman 10 m.52 4.35 % menunjuk kan kadar 2 dan 3. di per ol eh sebesar 16.35 Nitrit (µg A/l) 0.55 % mengindikasikan perairan ini relatif homogen.14 19.39 1. 1965).27 0. Hasil penguk uran terhadap nilai koefisien variasinya (CV) memberikan hasil sebesar 19. Nilai koefisien variasi Hasil pengukuran kualitas air disajikan pada Tabel 1.34 1. Unsur fosfor (sebagai fosfat) dan nitrogen nitrat relatif homogen di perairan ini.18 0.04 28.85-29. Anonim (2004) menetapkan nilai ambang batas sampling. 2004) .07 µg A/l atau 0.87 0.48 0. Analisa fitoplankton pula.54 Fitoplankton (sel/m3) 16205-54535 30263 10873 36 . 2009 Dept h (CTD).12 0.05 0.3 16. nitrat.84 0.32 3.43 3.112 μg A/l namun untuk per tum buhan dan perkembangan hidupnya.18 0.42-2. fosfat adalah 0. Anonim (2004) (sebagai nitrat).008 mg/l atau 0. Has il penguk uran pada kadar rata-rata fosfat di perairan ini menunj ukkan hasil k adar fosfat pada lapisan permukaan lebih rendah dibandingkan dengan di kedal aman 10 m (Tabel 1).37 2. Lapisan Permukaan Kedalaman 10 m Parameter Kisaran Rerata δ CV (%) Kisaran Rerata δ CV (%) Fosfat (µg A/l) 0.56 0.57 1. Bangka Belitung. Bangka Belitung.72 0. No 1 sam pai 10 a dala h st asi un laut. Tingginya zat hara di perairan tawar fitoplankton dan jaring Norpac untuk zooplankton yang ini mengakibatkan kelimpahan plankton semakin tinggi dilengkapi dengan flowmeter.27 0.88 µg A/l atau Belitung Timur..98-8. Oktober 0. sehingga mer upakan faktor pembatas bagi pertumbuhan BT fitoplankton.48 0.14 3. Zat hara ini contoh plankton dilakukan dengan menyaring air berasal dari berbagai limbah industri maupun aktivitas dari permukaan menggunakan jaring Kitahara untuk manusia lainnya.40 1. Kandungan zat hara tersebut sangat dipengaruhi ol eh al iran dr ai nas e sungai di pe ra iran pantai (Koesoebiono. Kelangsungan hidup biota air yang baik dalam dan zoopl ankton di lak ukan dengan menghitung suatu perairan membutuhkan kisaran kadar oksigen kel impahannya masi ng-masing dengan metode terlarut 2 – 10 ppm dan tidak boleh kurang dari 2 ppm Rafter Counting Cel l dan Displacement Volume (Anonim. 1981). Lokasi pengambilan contoh air di perairan perairan yang berkisar antara 0.82 0.85 0.39 0.76 1.60 28. .03 26.82 0.007-0. Pengambilan umumnya di temukan di perairan tawar.015 mg/l atau 0.49 33.20 8.32-4.14 16.09-4. bulan Oktober 2006.14-0. silikat) yang tinggi pada menggunakan alat GPS Garmin 45 XL.03-29.88 0.08 41. .57 7.55 29.08 12.19 0.12 0.04-8.16 8.49 Suhu (ºC) 28.32 Simanjuntak et al.41-0.013-0.99 0.41-0. - Zooplankton (Individu/m3) 28 -371 171 109 64 .49-1.465 µg A/l .07-0.21 15. dengan kisaran 0.07 0.

) XI (1 ): 31-45 ISSN: 0853-6384 33 mg/l masih baik untuk kehidupan biota laut. kadar silikat dalam suatu perairan berenang ikan. koefi sien variasi sebesar 3. Selain itu.98-8. nilai pH dapat menjadi lebih rendah dan meningkatkan toksisitas polutan (Mulyanto. Dari nilai minimum (Tabel 1). tekanan variasi sebesar 29. pergerakan massa air. aliran air tanah ke dalam perairan.20) Pengaruh suhu tidak langsung adalah berkurangnya masih memenuhi nilai am bang batas baku mutu kelimpahan plankton akibat suhu semakin menurun untuk peruntukan Biota Laut (Budidaya) yaitu 7 – 8.20 dengan rata-rata 8. Anonim (1994) zat besi.014-0. nilai pH yang baik untuk besar makhluk hidup membutuhkan kisaran suhu kehidupan ikan berkisar antara 5 – 9 dan antara yang relatif sempit. Kadar silikat rata-rata di sedang akan menurunkan kegiatan fisiologis mahluk lapisan permukaan lebih rendah bila dibandingkan hidup dalam air diantaranya terjadinya penurunan dengan kedalaman 10 m. Hasi l pengukuran pH langsung terhadap plankton adalah meningkatkan pada perairan ini memberikan nilai r ata-rata secara reaksi kimia sehingga laju fotosintesis meningkat keseluruhan antara 7.81 – besar dari 7 yang cenderung bersifat basa. Sci. ok sigen terlar ut dan ad anya anion d an kation 1976).57 ml/l (Anonim. memenuhi nilai ambang batas oksigen > 5 mg/l atau Derajat keasaman suatu perairan merupakan salah > 3. reduksi yang disebabkan oleh desakan gas menganjurkan kadar ammonia tidak lebih dari 0. Kondisi oksigen Pada umumnya air laut mempunyai nilai pH lebih terlarut di perairan ini dengan kisaran antara 3. Secar a keseluruhan oksigen koefisien variasi yang di peroleh sebesar 25.37 µg A/l atau 0. 2004). Disamping itu tamb ak dan pe rik anan la ut. namun 4.42 lainnya dalam air. 1992). respirasi biota dan dekomposisi ppm untuk kriteria t ingkat kesesuaian perikanan bahan or ganik (Nybakken.20 µg pada malam hari karena oksigen terlarut digunakan A/l. dan intensitas bervariasi. memenuhi nilai ambang batas yang diperkenankan Penurunan kadar oksigen terlarut dalam jumlah yang untuk kehidupan biota laut. Secara keseluruhan kadar nitrit di Kondisi oksigen terlarut di perairan dipengaruhi antara perairan ini relatif homogen dengan nilai koefi sien lain oleh suhu.67 %.3 mg/l atau 4. 1988). Kadar rata-rata ammonia atmosfir. Perubahan ni lai penting dal am mengatur pr oses kehidupan dan pH suat u perairan terhadap or gani sme ak uati k penyebaran organisme. Secara keseluruhan.5 (Anoni m. 1988). Kadar oksigen terlarut di perairan ini secara alami digunakan sesuai dengan kebutuhan mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya organisme yang hidup di perairan tersebut dan belum kedal am an sam p ai menc apai ok s ig en t er lar ut diperoleh nilai ambang batas yang baku.Jurnal Perikanan (J. Kondisi nilai pH di perairan i ni (7.91 %. 2004). Metabolisme yang optimum bagi sebagian Menurut Mulyanto (1992).5 – 8. Fish. salinitas. nitrit maksimum. Pada umumnya. kadar nitrit mengalami kenaikan seiring ini relatif homogen yang didukung oleh nilai koefisien dengan bertambahnya kedalaman sampai mencapai variasi yang sangat kecil yaitu 0. disebabkan kandungan bahan organik yang tinggi. Sedan gkan untu k plankton juga memiliki per anan terhadap oksi gen kepentingan biota laut. ± 0. Anonim (2004) menetapkan terlarut seperti menurunnya kadar oksigen terlarut nilai ambang batas ammonia 0. nilai pH dalam faktor geografis dan dinamika arus (Sijabat.5 dan ke rapat an ai r sem ak in me ni ngkat sei ring Copyright©2009. Suhu air laut di suatu perairan mempunyai batasan tertentu dengan nilai pH yang dipengaruhi oleh kondis i atmosfer. Secara (Anonim. suatu perairan berkisar antara 4 – 9. pertumbuhan dan kecepatan lainnya seperti nitrit.44 – 6. Sama halnya zat hara pada nafsu makan.92 %.061 mg/l) masih karena terjadinya proses fotosintesis pada siang hari.98-8. Nilai koefisien var iasi y ang diperoleh terlarut antara lain disebabkan pelepasan oksigen sebesar 28. satu parameter kimia yang cukup penting dalam Suhu merupakan sal ah s atu faktor yang sangat memantau kestabilan perairan. adanya homogen ditinjau dari kadar ammonia. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved .05. konsentrasi fitoplankton dan tingkat saturasi mengalami sedikit kenaikan dengan bertambahnya oksi gen sekelilingny a serta adanya pengadukan kedal a man 10 m sam pa i mencap ai a mmonia massa air oleh angin. Dengan demikian kadar ammonia di perairan untuk respirasi dan bertambahnya oksigen terlarut ini (1. pH di perairan rata-rata. Menurunnya kadar oksigen maksimum. antara Pengaruh suhu secara 6. 1974).33 mg/l masih dapat digunakan dalam kondisi tertentu nilainya dapat menjadi lebih untuk kepentingan budidaya perikanan karena masih rendah dari 7 sehingga menjadi bersifat asam. tergantung pada suhu air laut.03-4. suhu air laut juga dipengaruhi oleh (Pescod.63 % mengindikasikan perairan ini relatif ke udara.15 % terlarut di perairan ini relatif homogen dengan nilai menunjukkan kadar silikat relatif homogen.09 seiring dengan kenaikan suhu (dari 10 ºC – 20 ºC). sedangkan di Kenaikan suhu dapat menurunkan kelarutan oksigen daerah bakau. konsentrasi penyi naran matahari y ang masuk k e laut (Officer. 1978) .43 ml/l atau 5.

Variasi sal ini tas dap at mem p engaruhi dekat pantai. yang letaknya jauh dari pantai yang bersalini tas Indeks kemerataan berkisar antara 0. Jenis massa air bersalinitas tinggi (> 32 ‰) yang berasal Copepoda yang mendominasi yaitu Calanoida dan dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa serta terjadinya Cyclopoida (Anonimus.835 sel/m3 ) pada stasiun 4 di dekat Cina Selatan dan Laut Jawa.62) pada stasiun 6 di dekat pantai.32) diperoleh pada stasiun 2 di dekat pantai dan ini diduga terjadi disebabkan adanya pemasukan tertinggi (3.263. Indeks kem erataan berkisar antara 0. Kepadatan terendah (28. 1 di lepas pantai dan tertinggi (0.89 dan Pr o tope ridi ni um berkisar an tara 195 . Pola distribusi nitrat di lapisan permukaan pantai. Indeks keanekaragaman terendah (1.77 ‰ Fosfat mengindikasikan perairan ini relatif homogen. sesuai dengan klasifikasi Wyrtki (370. Pola distr ibusi hor izontal fosfat di per mukaan dan Zoopl ankt on dan fi toplank ton mer upakan sal ah kedalaman 10 m disajikan pada Gambar 2.64) pada stasiun rata di perairan ini lebih tinggi dibandingkan dengan 10 di dekat pantai.08) disebabkan pola dan arah arus berbeda tiap waktu diperoleh pada stasiun 6 di dekat pantai dan tertinggi dan kedalaman. Pyrodinium dan Protoperidinium di 5 stasiun berkisar 1980).205 kearah dekat pantai memperlihatkan pengaruh daratan sel/m3 ) diperoleh pada stasiun 3 di lepas pantai dan lebih menonjol dibandingkan dengan pengaruh Laut tertinggi (54. 2006)..49) ditemukan di stasiun 6 Pola distribusi horizontal kadar nitrat disajikan pada dekat pantai dan tertinggi (0.48 – dan kedalaman 10 m menunjukkan kecenderungan 1.62. Indek s Nitrat kemerataan terendah (0. Keberadaanya di perairan perlu ini menunjukk an bahwa sal ini tas di dekat pant ai diwaspadai karena akan menimbulkan bencana red umumnya lebih rendah dibandingkan dengan lepas tide (Anonimus. Hasil sat u parameter bi ologi yang erat hubungannya pengukuran memberikan kadar fosfat maks imum dengan silikat karena tinggi rendahnya kelimpahan pada lapisan permukaan dan 10 meter (> 0. dan Dinoflagellata 4 jenis.835 sel/m3. Kondisi ini erat Copyright©2009.43-0.10. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved .270 individu/m 3) ose anik (oceanic wat er) yan g me mpuny ai nilai diperoleh pada stasiun 1 di lepas pantai dan tertinggi salinitas > 34. Hal (1. Indeks keanekaragaman berkisar antara kehidupan berbagai jenis plank ton dalam suatu 1.02 – 1.10) dekat pantai semakin menurun secara beraturan ke arah diperoleh pada stasiun 4 di dekat pantai.205 – 54. Secara keseluruhan suhu di perairan ini relatif antara 295. Indeks kekayaan jenis berkisar di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu dengan nilai antara 1.64.680 perairan pantai (coastal water) daripada bersifat individu/m3. Kepadatan zooplankton dari pantai (offshore).5 ‰ (Ilahude et al.90 μg A/l) zooplankton dan fitoplankton dalam s uatu perairan diperoleh dibagian utara dekat pantai dan semakin tergantung kepada kadar silikat (Nybakken. Jumlah berkisar antara Kecenderungan kadar fosfat yang semakin tinggi 16.. Pengukuran nilai salinitas pada perairan – 1. Indeks kekayaan jenis terendah (0. 2006). Kelimpahan terendah (16. 1988).83) pada stasiun 5 dekat (Gambar 3).870 sel/m3. Nilai rata-rata salinitas mengalami kenaikan sebagai makanan hewan laut terutama ikan.32–3.64. menurun ke arah lepas pantai sebelah timur (<0.89.83.49 – 0. Indeks keanekaragaman terendah (1.680 individu/m3 ) diperoleh pada stasiun 8 di (1961 ).34 Simanjuntak et al. Di perairan pantai yang bersalinitas rendah ditemukan pada Stasiun 2 dekat pantai dan tertinggi komunitas plankton lebih tinggi dari pada perairan (1. Hasil pengukuran mengindikasikan 10 stasiun teridentifikasi sebanyak 30 jenis dengan bahw a perairan ini cenderung bersifat sebagai kepadatan individu berkisar antara 28. Kondisi ini er at kai tannya dengan limbah sebanyak 19 jenis yang terdiri dari Diatomae 15 jenis yang berasal dari daratan yang mengandung fosfat.50 ìg A/l).64) di per oleh pada stasiun 3 di lepas pantai .89) diperoleh pada stasiun 8 di dekat pantai. Indeks kekayaan jenis ter endah salinitas rata-rata 32.43) diperoleh pada stasiun jenisnya (Chua. Indeks tinggi terutama dalam menentukan terjadinya suksesi kemerataan terendah (0.08 perairan ini terlihat tidak terpola dengan teratur yang – 1. 1975). Komunitas fitoplankton penguapan air laut yang tinggi dan rendahnya curah dan zoopl ankton di perairan ini cuk up meli mpah hujan. Indeks kekayaan jenis berkisar antara 0.10 ìg A/l) disebelah barat pada stasiun 7 di lepas pantai dan tertinggi (1. (1. 2009 bert am bahnya kedal am an p er aira n (Raym ont . Ditemukan lepas pantai sebelah timur (<0.270-370. Indeks keanekaragaman berkisar antara 1.02) perairan. Konsentrasi fosfat di pantai. Kondisi nilai salinitas rata. dengan bertambahnya kedalaman (Tabel 1).24 0 % (Tabel 1). Nilai Distribusi horizontal parameter lingkungan koefis ien variasi yang diperoleh sebesar 0.5 ‰.930 s el /m 3 (Py ro dinium ) homogen dengan nilai koefisien variasi sebesar 0. 1970).50 Secara keseluruhan dari 10 stasiun terindentifikasi μg A/l).48) diperoleh konsentrasi yang tinggi (<1.100 – 631.

02 2.39 11 Pleurosigma . . .Jurnal Perikanan (J.93 2. .03 1.09 1. .70 15. .958.026. 186. 742.953. .269. 556. .29 16.33 .44 195.07 13 Streptotheca . .20 760.77 51.82 570. 4. . - 12 Rhizosolenia 4.67 29.11 5.634. - 7 Dytilum .205 100. .08 5.534..27 1.67 3.304. Fish. .78 1.56 0. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved . - 2 Bacillaria 4.82 . .52 .76 373. . .05 1.76 .81 9.88 17. . . .140. 195. . 190. . . 5.80 96. .09 3.096.48 . . .08 DINOFLAGELLATA 16 Ceratium 2.42 7.46 91.18 6.86 5.535 100.05 1.680.692.858.79 552. . . - 4 Climacodium 2.96 10. .51 13. . 3.59 .53 7 Dytilum 295.59 2.05 1.104.03 9.22 10 Odontela .70 8 Hemiaulus 3.05 14 Thalassiosira .37 12.35 6 Chaetoceros 4. - 3 Bacteriastrum . .033. .268.95 DINOFLAGELLATA 16 Ceratium 1.15 3 Bacteriastrum .51 1. .34 34.18 16.214.25 21. .140.470. - 19 Protoperidinium 885.42 10.62 Indek Kekayaan Jenis 0. - 12 Rhizosolenia 25.94 4.09 9 Nitzschia . - Jumlah Diatomae 34.230.131.10 0.00 16. .66 0.00 54.61 1.12 33.19 . .53 17 Cyst .02 10.10 0.753.39 25.171.16 51.00 25. 185.38 9.968.01 7.92 66.949.25 6. .20 380.05 . .94 4. .416. .41 29. .072.053. .30 5.57 8. .31 6.22 3.85 1.15 5.74 .79 0. .11 2.89 14 Thalassiosira .10 Stasiun 5 Stasiun 6 Stasiun 7 Stasiun 8 No. .01 13.634. - 15 Thalassiothrix . . .00 Indek Keanekaragaman 1. .19 92. .107.19 .395.32 9.79 94.) XI (1 ): 31-45 ISSN: 0853-6384 35 Tabel 2.08 2.09 9 Nitzschia 1. .63 43.67 1. - 4 Climacodium . . . . . .69 0.81 0.09 10 Odontela .73 2.39 . . Fitoplankton Sel/m3 % Sel/m3 % Sel/m3 % Sel/m3 % DIATOM 1 Asterionella .61 0. . . Sci.83 1. . .16 1. - Copyright©2009. . .16 6.07 1. 570. .69 0.83 1.953 100.876.13 87.07 1.360.08 71.72 6 Chaetoceros . 780. . .32 25.68 52. .12 4.951. - 18 Pyrodinium 631.67 .18 16.63 976.61 1.204 100.30 15 Thalassiothrix . . .11 2.69 2.96 89. .02 0. . Fitoplankton Sel/m3 % Sel/m3 % Sel/m3 % Sel/m3 % DIATOMAE 1 Asterionella . . .27 . .39 1.131.60 Indek Kemerataan 0.24 1. 1.90 17 Cyst .61 .14 15.06 920.21 14. 8. . . . .93 8.216.836. .57 11.57 11 Pleurosigma .71 3. 780. . . 368.52 83.310.23 3. . . .470. 585.62 1. 780. . - 18 Pyrodinium 295. . .39 Jumlah 4. .306.080. .05 3.58 2. . .36 25.79 8.514. .07 96.821.17 4. . . . 4.210.82 . . Jenis dan kerapatan fitoplankton pada tiap stasiun pengamatan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 No.61 4.06 16.34 5 Coscinodiscus . 736.427.20 1.57 32.24 1. . .697. .651. 760. . .94 4.04 0.82 13 Streptotheca 10. .57 .23 4. .52 39.30 1.224.23 4. - 8 Hemiaulus . - Jumlah Diatomae 24. 28.92 Dinoflagel lata Jumlah Fitoplankton 38.06 2. .61 2 Bacillaria .227.37 3.340. .87 17.120.197. .42 10. . . 1.472.44 2.05 5 Coscinodiscus 590. .39 21.685.67 6.902.30 2. 6.

04 57. .35 .65 7 Dytilum 363.94 0.87 91.924. .36 Simanjuntak et al.38 13. - 18 Pyrodinium 545. .07 .728.05 .09 4 Chaetognatha .728. Jenis dan kerapatan zooplankton pada tiap stasiun pengamatan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 No.72 1. 1.190. .13 0.59 2. - Copyright©2009.18 1.46 6 Cyclopoida (Copepoda) 8.87 Lanjutan Tabel 2.68 0.01 . . .98 10 Odontela 181.27 .00 Indek Keanekaragaman 1. .08 0.33 7 Harpacticoida (Copepoda) .40 0. .11 3.49 19 Protoperidinium 909.55 368.75 1. 194. .20 4.09 Dinoflagellata Jumlah Fitoplankton 31. .93 22.78 Indek Kekayaan Jenis 0.57 .164.76 0.88 1.598. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved . - 11 Pleurosigma .02 1.15 3.92 0.96 12.72 Indek Kemerataan 0.27 .294 100.15 7.68 0.98 Jumlah 2.29 77.15 . 371.688 100.63 0.82 69.12 0.147 100.12 . .59 2.87 4. .296 100.08 0.44 2 Bacillaria ..164.15 3.05 1.66 1.08 1. 0. - 9 Nitzschia .268.43 0. - 3 Medusae 0.82 Indek Kekayaan Jenis 0.82 Tabel 3.60 58. 0. . 2009 19 Protoperidinium 1. .373.65 51.74 17.00 16. . . Zooplankton Ind/m3 % Ind/m3 % Ind/m3 % Ind/m3 % 1 Siphonophora 0.83 1.87 776.71 55.37 31.48 0. .27 0.22 26.00 32.47 1.87 44.22 1.53 8.29 6. .11 0.288.273.00 Indek Keanekaragaman 1.580. .31 31. .72 582. - 11 Cyphonautes 0.00 5 Calanoida (Copepoda) 16. . .550.63 17 Cyst .686.69 0. 582.63 23.910. .15 Jumlah 3. . .33 45.39 1. - 9 Amphipoda .87 33. . - 14 Thalassiosira .805 100.49 0.76 8. . - 4 Climacodium .87 1.263.87 31. .00 35.13 0. .83 0. . 0. .05 3. . .76 8.36 2 Stenophores .62 .09 8 Paracitic (Copepoda) 0. .11 0. - 15 Thalassiothrix .59 2. .08 0.58 27.30 1.62 3.31 58.42 4.49 6 Chaetoceros 909. 0.27 .89 Indek Kemerataan 0.91 DINOFLAGELLATA 16 Ceratium 1.29 6.77 0. - 8 Hemiaulus 8. - Jumlah Diatomae 28. - 3 Bacteriastrum . . . .80 0. 2. Fitoplankton Sel/m3 % Sel/m3 % DIATOMAE 1 Asterionella . .12 27.03 1.19 13 Streptotheca 2.49 11. - 10 Cumacea .61 1. - 5 Coscinodiscus .60 39.654 100. Stasiun 9 Stasiun 10 No.001.940. . .05 Dinoflagellata Jumlah Fitoplankton 27.00 35. 0.81 1.82 0. . . 1.23 0.16 12 Rhizosolenia 16.

22 1.35 43. .11 0.56 100. . - 30 Flatworm 0.09 .00 95. . ./m3 28.08 0. 0.44 0. . .09 0.09 . .36 4.08 0. .53 0. . 0.68 21.62 0. .18 0. . .43 0.54 0.00 Indek Keanekaragaman 1. . .27 100. .45 25 Gastropoda 0.52 26 Echinopluteus .09 .37 .47 0.95 3.15 0.31 16 Acetes zoea .91 7. .65 10. .38 0. .96 15. .14 14. . .18 19 Caridean larvae . .18 0.82 0.15 0. - 13 Luciferidae mysis .00 38.18 0. .23 0.81 18. .78 77. .10 5.61 1.31 33.00 116.61 0. .18 24.10 0.92 0.45 0. .58 0.43 0. - 29 Fish larvae .12 15.08 0. - 18 Brachyura zoea .98 4. .23 6 Cyclopoida (Copepoda) 39.11 0.10 1. .29 0. .18 0. 0. . .29 1. . .72 Lanjutan Tabel 3 Stasiun 5 Stasiun 6 Stasiun 7 Stasiun 8 No. .12 21 Penaeidae zoea . . .58 . . 0.27 .15 0.59 0.13 9.32 0. . .47 5.44 0.57 . . .09 0.08 0. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved . . .00 118.Jurnal Perikanan (J.64 1.45 0. .09 17 Acetes post larvae . . . . - 17 Acetes post larvae . 1.20 63.13 0. .34 0. .93 55. - 15 Oikopleura 0.25 12 Luciferidae zoea 0.35 4. - 4 Chaetognatha 0. .01 100.78 64. .15 0. .54 0.27 .49 22 Polychaeta 0.19 0. .09 . .27 0. . .80 .42 7 Harpacticoida (Copepoda) 0.36 0.45 0.24 91.73 40.12 8 Paracitic (Copepoda) .45 0. - 27 Ophiopluteus 0.60 100.32 18.25 20 Cirripedia .41 4.74 4. .09 .51 16 Acetes zoea .37 2. . - 24 Bivalvia . .76 0.40 1. 0.18 0.76 0. .18 0.09 .15 0.39 .12 13 Luciferidae mysis .09 21 Penaeidae zoea . Zooplankton Ind/m 3 % Ind/m3 % Ind/m3 % Ind/m3 % 1 Siphonophora .61 0.37 0. 0. - 10 Cumacea .02 1.21 0. .56 1. 0.74 238. . 0.59 1.52 0. 0. . 21. .10 0. .91 0.74 15. . .36 27. . . - 15 Oikopleura 23. - 22 Polychaeta .09 . . . . - 24 Bivalvia 0.68 2. - 23 Stomatopoda .20 0. . .19 .) XI (1 ): 31-45 ISSN: 0853-6384 37 12 Luciferidae zoea .67 0.15 0. .91 0.45 28 Fish eggs 0.20 1.09 . 0. . . 0. .67 0.10 26 Echinopluteus . 0. .09 1.27 0. - 14 Mysidacea larvae 0. Fish. .15 0.38 11.10 1. .09 0.15 0.45 0. .91 3.44 Indek Kekayaan Jenis 3. - 9 Amphipoda .09 1. - 23 Stomatopoda 0.23 0.20 10. . - Jumlah Individu. . .49 5 Calanoida (Copepoda) 63.90 0. - 2 Stenophores . .37 25 Gastropoda 15.12 0.23 0.15 2.02 3. .27 0.12 19 Caridean larvae 0. .20 78. .23 .80 1. . . . . 0.25 11 Cyphonautes .17 Indek Kemerataan 0. . . . . . .15 0.12 Copyright©2009. . 0. 0. 0. . - 14 Mysidacea larvae .15 0.29 0. . . .32 3. .58 0. . - 18 Brachyura zoea 0. . .40 1.48 11. .29 1.36 0.91 0. . 1. . - 27 Ophiopluteus 0. . . .31 0. .59 0.13 0.82 0.82 28.89 1. . .60 8.18 0.77 25. 2. . . . 0. - 3 Medusae 0. .10 0.18 4. .85 .36 20 Cirripedia . . .35 0. Sci.

- 9 Amphipoda . - 20 Cirripedia .52 0.16 38.13 .28 0. . .34 28 Fish eggs 1. .12 30 Flatworm .49 16 Acetes zoea .18 0. - 25 Gastropoda 6. .52 0.61 3.46 100. - 2 Stenophores .82 43.47 0.29 1.12 22.69 12 Luciferidae zoea . . . .45 0.21 23.50 44. .90 0.13 .70 Lanjutan Tabel 3 Stasiun 9 Stasiun 10 No.00 Indek Keanekaragaman 1.95 29. .07 Indek Kemerataan 0. - 4 Chaetognatha 4.45 0.38 49. - 13 Luciferidae mysis .50 1. .00 127. . .64 Indek Kekayaan Jenis 1. - 15 Oikopleura 78.34 19 Caridean larvae 0.32 1. . 0.45 0. . .00 Indek Keanekaragaman 1.44 0.38 Indek Kekayaan Jenis 2. - 29 Fish larvae 0.15 0.45 0. . - 3 Medusae . - 21 Penaeidae zoea . . - 18 Brachyura zoea 0.26 0.70 100.70 18. - 22 Polychaeta . . - Jumlah Individu. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved .09 0. - 17 Acetes post larvae . .13 0. . . - 10 Cumacea . . .16 1.74 2. - 30 Flatworm .45 0.00 370.76 1. 0.44 Copyright©2009. . . - 8 Paracitic (Copepoda) .73 0. - Jumlah Individu. . .00 190. . . .26 .51 .44 0.71 7 Harpacticoida (Copepoda) . Zooplankton Ind/m3 % Ind/m3 % 1 Siphonophora 0. - 27 Ophiopluteus 0.90 0. . 2009 28 Fish eggs 0. .02 5.34 Indek Kemerataan 0.28 1.50 0.12 29 Fish larvae .38 Simanjuntak et al.33 34. - 23 Stomatopoda . . - 11 Cyphonautes 1.52 . - 14 Mysidacea larvae .56 6 Cyclopoida (Copepoda) 102.81 0.72 100.38 1.46 0. .68 100./m3 349.88 1.00 164.52 0. .88 0. .93 100.06 1.81 0. .62 2.81 7.37 5 Calanoida (Copepoda) 150. ./m3 144. . . .09 0. . .50 26 Echinopluteus .. - 24 Bivalvia .05 100. .

Distribusi fosfat di lapisan permukaan (A) dan 10 m (B) di perairan Belitung Timur. Oktober 2006. Distribusi nitrat di lapisan permukaan (A) dan 10 m (B) di perairan Belitung Timur. Gambar 4.) XI (1 ): 31-45 ISSN: 0853-6384 39 Gambar 2. Di stribusi nitrit di lapisan permukaan (A) dan 10 m (B) di perairan Belitung Timur. Sci. Copyright©2009. Gambar 3. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved . Oktober 2006. Oktober 2006.Jurnal Perikanan (J. Fish.

Copyright©2009. Pola mengandung nitrat.00 μg A/l).00 μg A/l) disebelah barat dekat pantai dan dibandingkan dengan pengaruh Laut Cina Selatan semakin menurun secara beraturan ke arah lepas dan Laut Jawa pantai sebelah timur (< 2.00 μg A/l) lepas pantai sebelah timur (<0. Pola terpola dengan teratur. Hal ini secara beraturan ke arah lepas pantai sebelah timur (< disebabkan pengaruh pola dan arah arus yang berbeda 2. Distribusi ammonia di lapisan permukaan (A) dan 10 m (B) di perairan Belitung Timur. pada lapis an permukaan dekat muara sungai dan semakin menurun ke arah lepas pantai menunjukkan Silikat perbedaan pola distribusi nitrit dengan nitrat. Kondisi ini erat kaitannya dengan limbah yang berasal dari daratan Ammonia yang mengandung ammonia.. Kondisi ke sebelah utara lokasi penelitian ini menunjukkan ini erat kaitannya dengan limbah yang berasal dari perbedaan pola distribusi silikat dengan nitrat. Kecenderungan kadar ammonia yang semakin tinggi Nitrit kearah dekat pantai memperlihatkan pengaruh daratan Ko nse ntras i ni t rit p ada la pi san permu kaa n di lebih menonjol dibandingkan dengan pengaruh Laut perairan ini terlihat ti dak terpola dengan t eratur. Cina Selatan dan Laut Jawa. Kecenderungan kadar Pola distribusi horizontal kadar ammonia disajikan pada ammonia yang semakin tinggi kearah dekat pantai Gambar 5. nitrit daratan yang mengandung nitrit. Konsentrasi ammonia yang di sebabkan pengaruh pola dan ar ah ar us pada lapisan permukaan di perairan ini terlihat tidak berbeda pada seti ap waktu dan kedal aman.50 μg A/l) pada lapisan permukaan di pantai semakin menurun secara beraturan ke arah sebelah selatan dan semakin menurun (<2. Kecenderungan kadar ammonia yang tinggi memperlihatkan pengaruh daratan lebih menonjol (>1. Kecenderungan dan ammonia. Kecenderungan kadar nitrat yang distribusi ammonia di kedalaman 10 m menunjukkan semakin tinggi kearah dekat pantai memperlihatkan kecenderungan konsentrasi yang tinggi (> 4. Hal i ni disebabkan pengaruh di stribusi h orizontal kadar n itrit d isaji kan pada pola dan arah arus yang berbeda pada tiap-tiap waktu Gambar 4. Kecenderungan kadar silikat yang tinggi (<1. Kondisi ini erat kaitannya dengan limbah pada tiap-tiap waktu dan kedalaman. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved . Konsentrasi silikat pada lapisan pantai sebelah utara lokasi penelitian ini menunjukkan Gambar 5. Oktober 2006. yang berasal dari daratan yang mengandung ammonia. Oktober 2006 10 m menunjukk an kecender ungan konsentrasi disajikan pada Gambar 6.50 μg A/l).10 μg A/l) pengaruh daratan lebih menonjol dibandingkan dengan disebelah barat dekat pantai dan semakin menurun pengaruh Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Kecenderungan kadar nitrit yang rendah dan kedalaman.00 μg A/l). 2009 kaitannya dengan limbah yang berasal dari daratan yang perbedaan pola distribusi ammonia dengan nitrat.50 μg A/l) pada lapisan permukaan di sebelah timur dibandingkan dengan pengaruh Laut Cina Selatan dan semakin menurun (<1. Pola Distribusi silikat di lapisan permukaan (atas) dan 10 distribusi nitrit di lapisan permukaan dan kedalaman m (bawah) di perairan Belitung Timur.40 Simanjuntak et al.50 μg A/l) ke arah dekat dan Laut Jaw a. Pola distribusi silikat di kedalaman 10 kadar nitrit yang semakin tinggi kearah dekat pantai m menunjukkan kecenderungan konsentrasi yang memperlihatkan pengaruh daratan lebih menonjol tinggi (>4.10 μg A/l) di sebelah barat dekat yang tinggi (>2.

Nilai pH maksimum pada lapisan ml/l) di peroleh dibagian bar at di lepas pantai dan permukaan dan 10 meter (>8. Kondisi ini erat kaitannya dengan yang mengandung oksigen pada kedalaman dengan massa air yang relatif bersifat asam yang berasal dari kelimpahan fi toplankton dan alga hijau yang ti nggi daratan Belitung Timur melalui sungai m enyebabkan akan menghasilkan oksigen dari proses fotosintesis. Kondisi i ni erat kaitannya dengan massa air dekat pantai (<8. perairan di sekitarnya mempunyai pH yang lebih rendah Terjadinya proses fotosintetis dalam suatu perairan dibandingkan dengan stasiun lainnya yang jauh dari pada kedalaman tertentu mengindikasikan banyaknya daratan. Ok s igen te rlar ut ma ksimum nilai pH semakin tinggi.Jurnal Perikanan (J.) XI (1 ): 31-45 ISSN: 0853-6384 41 Gambar 6. Derajat keasaman (pH) Distribusi horizontal kadar oksigen terlarut disajikan Pola distribusi horizontal terlihat semakin jauh dari pantai pa da Gamb ar 8 . Hal ini disebabkan pengaruh pola dan arah dan untuk perkembang biakan. Sebaran horizontal pH disajikan pada lapisan permuk aan dan 10 meter (> 4.85 barat di lepas pantai dan semakin menurun ke arah ml/l).15) diperoleh dibagian sem aki n ber kur ang k e arah dekat pantai (<3. Distribusi derajat keasaman (pH) di lapisan permukaan (A) dan 10 m (B) di perairan Belitung Timur. Sci. Copyright©2009. Oksigen terlarut Distribusi horizontal terlihat semakin jauh dari pantai Pola di st ribus i horizont al terlihat sem aki n jauh kadar silikat semakin rendah. Fish. permukaan di perairan ini terlihat tidak terpola dengan kondusif terhadap keberadaan plankton di perairan ini teratur. dari pantai kadar oksi gen terlarut s emakin tinggi. arus berbeda pada tiap-tiap waktu dan kedalaman. Gambar 7. Oktober 2006. D istribusi silikat di lapisan permukaan (A) dan 10 m (B) di perairan Belitung Timur.00). Nilai pH ini akan membuat lingkungan menjadi kandungan oksigen di lokasi tersebut. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved .15 pada Gambar 7. Oktober 2006.

Oktober 2006. Oktober 2006.70‰ diperoleh salinitas di permukaan dan pada kedalaman 10 m dibagian barat di dekat pantai dan semakin tinggi ke disajikan pada Gambar 10. ini erat kaitannya dengan mass a air yang relati f Salinitas maksimum pada lapisan permukaan dan lebih tinggi yang berasal dari daratan Belitung Timur 10 m (<34.10 ‰) dan minimum (>33. Kondisi ini erat kaitannya dengan dengan stasiun lainnya yang jauh dari daratan. Pola distribusi Salinitas horizontal salinitas terlihat semakin dekat ke pantai Salinitas maksimum pada lapisan permukaan dan nilai salinitas semakin rendah. Distribusi suhu di lapisan permukaan (A) dan 10 m (B) di perairan Belitung Timur. Suhu maksimum pada dan penyusupan massa air yang bersalinitas tinggi lapisan permukaan (>28. Kondisi pantai nilai salinitas semakin rendah (Gambar 10). Dari pola diperoleh dibagian barat di dekat pantai dan semakin distribusi horizontal salinitas terlihat semakin dekat ke menurun ke arah lepas pantai (<28.30 ºC). Gambar 9. 2009 Gambar 8.70 ‰ diperoleh melalui sungai menyebabkan perairan di sekitarnya dibagian barat di dekat pantai dan semakin tinggi ke mempunyai suhu yang lebih tinggi di bandingkan arah lepas pantai.42 Simanjuntak et al. Pola pengadukan massa air dari bawah ke permukaan dan distribusi horizontal suhu terlihat semakin jauh dari penyusupan massa air yang bersalinitas tinggi yang pantai nilai suhu semakin menurun. Kondisi ini erat kaitannya dengan Distribusi suhu permukaan dan pada kedalaman 10 pengadukan massa air dari bawah ke permukaan m disajikan pada Gambar 9. Sebaran horizontal 10 m (<34. Suhu.10‰) dan minimum (>33.80 ºC) yang bergerak dari arah laut menuju pantai. Copyright©2009. arah lepas pantai.80 ºC) dan 10 m (>28. Distribusi oksigen terlarut di lapisan permukaan (A) dan 10 m (B) di perairan Belitung Timur. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved . bergerak dari arah laut menuju pantai..

1970*). fi topl ankton (0. Sci.05) dan berkorelasi tengah perairan ini diasumsikan bahwa fitoplankton positip ditunjukkan oleh salinitas dengan komunitas di lokasi tersebut banyak di makan zooplankton. Kelimpahan zooplankton yang Pola distribusi fitoplankton dan zooplankton disajikan tinggi (> 300 sel/m3) di peroleh di sebelah selatan pad a G am bar 11 . Kelimpahan fit opl ankton yang rendah di bagian Hubungan yang signifikan (p<0. kimia) terhadap ke arah selatan perairan ini (40000-50000 sel/m3). Kelimpahan fitoplankton yang tinggi Hubungan antara parameter lingkungan dengan (> 50000 sel/m3) di peroleh di sebelah utara dekat plankton pantai dan semakin menurun (20000 sel /m3) ke Hasil analisis korelasi menunjukkan hubungan keeratan arah tengah perairan namun cenderung naik l agi antara parameter lingkungan (fisika. kelimpahan fitoplankton dan zooplankton (Tabel 4).Jurnal Perikanan (J.) XI (1 ): 31-45 ISSN: 0853-6384 43 Gambar 10.720*). P ol a d ist ribusi fit oplan kt on dekat pantai dan semakin m enurun (> 100 sel/m3) memperlihatkan distribusi fitoplankton tidak terpola ke arah lepas pantai. Oktober 2006. Hal ini menunjukkan bahwa fitoplankton dan zooplankton menunjukkan kelimpahan keberadaan fi toplankton didukung oleh keberadaan plankton yang semakin tinggi dengan semakin tingginya fosfat dan nitr at. Fish. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved .648*) dan silikat (– 0. Dari pola distr ibusi zoopl ankton salinitas (Chua.73 %. Fitoplankton mencapai 63. Distribusi fitoplankton (A) dan zooplankton (B) di perairan Belitung Timur. dengan t eratur kar ena ni lai koefisien variasi nya ammonia (– 0. Gambar 11.685*) dan z ooplank ton (0.765*) menunjukkan Copyright©2009. Distribusi sali nitas di l api san permukaan (A) dan 10 m (B) di perairan Belitung Timur. dengan teratur. Kelimpahan fitoplankton mempunyai pola yang mirip Hubungan positip antara salinitas dengan kelimpahan dengan fosfat dan nitrat. Kombinasi variabel abiotik yang dapat dilihat distribusi zooplankton juga tidak terpola yang berkorelasi negatip adalah pH dengan nitrit (– 698*). Oktober 2006.

sehingga biota laut dapat berkembang biak Kontribusi zat har a dari sungai yang ber muara di terutama untuk peruntukan budidaya perikanan serta perairan Belitung Timur sangat sediki sehingga monitoring kualitas air yang dilakukan secara terjadwal. nitrat dan silikat dengan fitoplankton maupun positif terjadi antara parameter abiotik dengan biotik pada zooplankton bukan berarti bahwa zat hara tidak berperan salinitas dengan fitoplankton (0. Untuk lainnya tidak memperlihatkan hubungan yang berarti mel estar ikan perai ran terseb ut perlu dil ak ukan dengan komunitas fitoplankton dan zooplankton.694*) dan ammonia (0. Korelasi non-parametrik antara parameter lingkungan dengan plankton Para Fito Zoo Suhu Sal pH O2 PO 4 NO3 NO2 NH3 SiO 3 meter plankton plankton Suhu Sal 0.706(*) PO 4 NO3 NO2 0.648(*) .828**). ini menunjukkan kenaikan nilai pH akan diikuti kadar Kondisi pH. Tidak dan silikat. sedangkan oksigen terlarut berkorelasi positip terhadap ni lai sali nit as lebih dominan dari pada dengan nitrit (0.01) akan tetapi mungkin dikarenakan variabilitas zat hara dan berkorelasi negatip terdapat pada kombinasi antara serta jumlah sampelnya tidak begitu besar sehingga nitrit dengan ammonia (0. Hubungan antar abiotik yang berkorelasi signifikan antara fosfat dengan fitoplankton ditemukan di negatip adalah pH dengan ammonia (. oksigen terlarut.694*) dan ammonia seragam.0.694(*) . pH Teluk Jakarta (Soedibjo 2007).0..694) dan ammonia (.685) dan zooplankton sebagai bahan makanan dalam kehidupan fitoplankton (0.0. terlihatnya hubungan yang signifikan antara zat hara Hubungan yang signifikan (p<0.05). masih baik untuk kehidupan biota laut. nitrit.0.698(*) .05) dan berkorelasi fosfat. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved . Hubungan yang sangat dengan silikat (. bahwa meningkatnya kadar nitrit.01) dan berkorelasi positip ditunjukkan (. ammonia ammonia dan silikat yang semakin meningkat.765(*) O2 . nitrat.828). pelarangan oleh pemerintah setem pat terhadap perusakan terumbu karang dan penebangan hutan Kesimpulan mangrove untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Hal ini mengindikasikan kenaikan kadar Saran nitrit diikuti dengan bertambahnya kadar ammonia Kondisi perairan Belitung Timur m erupakan perairan sedangkan kenaikan kadar ammonia diikuti pula dengan yang baik untuk kehidupan berbagai biota laut ditinjau bertam bahnya k adar silikat. Parameter lingkungan dari parameter zat hara. fluktuasi kandungan zat hara lebih banyak di pengaruhi Terumbu karang dan hutan mangrove yang tumbuh musim. oksigen terlarut dengan nitrit signifikan (p<0.827**) dan ammonia dengan silikat (0.694*). ** Korelasi sangat signifikan (p < 0.0.720) sedangkan hubungan sangat signifikan (p<0.0. arus.0. oleh kombinasi variabel abiotik yang berkorelasi antara nitrit dengan ammonia (0. fisika dan plankton.685(*) 0.648). 2009 Tabel 4.0.828(**) SiO 3 Fito Zoo *Korelasi signifikan (p < 0. Hubungan yang tidak silikat (0.706*).720(*) pH .827(**) NH 3 0. Pengaruh Laut Jawa dan Laut Cina Selatan (0. Copyright©2009.01).44 Simanjuntak et al. Kondisi pengaruh dari daratan Pulau Belitung.0. fosfat. pengadukan massa air laut oleh ombak dengan baik merupakan tempat asuhan berbagai biota.827) dan ammonia dengan korelasinya tidak begitu tampak. ammoni ak dan serta fitoplankton.765).706). Sebaran suhu dan salinitas relatif silikat diikuti oleh menurunnya nilai derajat keasaman homogen dengan kisaran keragam an ni lai yang (pH) Hal yang sama terlihat hubungan negatip antara kecil di setiap kedalaman dan nilai kecerahan yang oksigen terlarut dengan nitrit ( 0.

reviewers serta rekan-rekan yang telah estuaries and ass ociated coastal waters.W. M. C. 1970. Sudibjo.. A.G.E. 1975.G & S. Pr ogr am Depa rteme n P endi d ikan da n K ebud ay aan Kalimant an d an Ba ngka Belitu ng. ed). for oceanography observation. Ir. An Introduction ToThe Study KANTOR PUSAT LIPI. 17 (V): 19-28. M arine Biology and Ecology Proyek Penelitian dan Pengembangan Iptek Riset Approach. Kompetitif LIPI yang telah mengijinkan penulis serta Drs.Sc. Pengembangan IPTEK RISET KOMPETITIF LIPI Tahun Anggaran 2006.Jurnal Perikanan (J. Washington. Rudi Subagja. Dalam : (nutrisi) dan plankton sehingga kehidupan biota akan ”Teluk Jakarta.Instruction manual Kepe nduduk an da n Li ngkungan Hidu p No. New York. Bull. M. S. Potensi Sumberdaya ikan Wiadnyana. Penelitian. Jhon mendorong penul is dan semua fihak yang telah Willey and Sons. handbook of seawater analy sis. Bo ar d. 1994. Fish. Physical Oceanography of South of the Ponggol Estuary. Institut Anonim. L apor an Ak hi r Pe nelitia n d an Kelautan. Prescod. Sijabat. Tentang Baku Mutu Air Laut .H & T. N . Pl ankton dan Produkt ivitas Terima kasih yang sedalam-dalamnya disampaikan Bahari. East Asia Waters.B. J. Sci. Fish. 20 07 . A preliminary study on the plankton Wyrtki. Sorong. Sebaran normal baik pula. A Practical Penetapan Baku Mutu Lingkungan: 57 hal.N . Djamali. Keputusan Kantor Menteri Negara Pertanian Bogor.S. 1958. 1978. Canad a. Nontji dan A. Bambang. Asikin Djamali Muly anto. 1992. Dr.C. koord in ator Jakarta. 1981. Lia Saputra. 167 : 1 –3 U. Vol. Of fi ce r. 465 pp. Michigan 59 pp. biologi berlangsung dengan baik. S oe di b jo . Laporan Pergamon Press. B . London. oceans (Second edition). PUSAT PENELITIAN of Tropical Plankton Hutchinson Trop. D. Manog.D. Pulau Sumbawa.H. Res . kimia. Plankton and Productivity in the Anonim. T. O. Dr. Environmental Indices Theory and Practice. 1965. R. Pengantar Oseanografi .B. 2004. 51Tahun 2004. Majalah Ilmu Kelautan. Oxford: 273-275 pp. Pr of. Lembaga Oseanologi Nasional-LIPI: 59-67. 1–160 p. Kemelimpahan Plankton dan Lingkungannya di perairan di Perai ran Selat S ele. (A. P2O-LIPI. Dr. dan geologi tahun 1975-1979”. 1988. H. M. M. Sdr. Tentang Pedoman Strickland.) XI (1 ): 31-45 ISSN: 0853-6384 45 dan mengindikasikan tingkat kesuburan perairan yang Ilahude.M. di Perairan Teluk Jakarta. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved . Li ngkungan Hidup Untuk Ik an. Irian Jay a. Integrasi Citra Inderaja dan SIG. Study di Teluk Saleh. Chua. 20 06. 1976 . S. 35:254–272. J. J. Kepulauan Bangka Belitung untuk mendukung industri perikanan terpadu di Teluk Klabat. DIPA Wickstead. J. harian dan koordinator lapangan pada Pr ogram Nybakken. Kepe nduduk an da n Li ngkungan Hidu p No. Naga Report 2 Copyright©2009. Nav y Anonim. Jakarta: 459 p. Kep 02/MENKLH/ I / 1988. Sdr. 1988. pengkajian fisika. Parsons. 12(3): 119-124. Daftar Pustaka Raymont.E. Ann Arbour Science Inc. Kant or Ment er i Negar a Li ngkungan Hidup. Jakarta. Fen om en a k e ha di r an Skeletonema sp. 1980. Gramedia. Ucapan Terimakasih Koesoebiono. 1968.Eng. METALURGI. masing-masing selaku Koordi nator Sub. Phys ical o cea nogr aph y o f Madisaeni. 1961. Parino. Hydrobiol. Ilmu An onim. 2000. Faperi IPB Bogor: 173 hal kepada Bapak Prof. 1974. Keputusan Kantor Menteri Negara Hydrographic Offi ce. Jan Sophaheluwakan. 1: Phytoplankton. Publ. ditandai dengan tingginya kadar zat hara parameter hidrologi di Tel uk Jakarta. membantu terwujudnya tulisan ini. 607. K.