You are on page 1of 15

POLIGAMI

A. DEFINISI
1. Definisi Tekstual
Poligami adalah Perkawinan antara seseorang dengan dua orang atau lebih (Namun
diartikan perkawinan seorang suami dengan dua istri atu lebih).
(Kamus ilmiah popular internasional, Budiono MA 2005)
Menurut Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA Poligami ialah perkawinan antara seorang
laki-laki dengan wanita lebih dari satu orang.
c. Kata poligami secara etimologi berasal dari bahasa yunani, yaitu dari kata polus
yang berarti banyak dan gamos yang berarti perkawinan (Kuselamatkan perempuan
dengan poligami, 2010 hal 13)
Yang dimaksud poligami ialah mengamalkan beristri lebih dari satu yaitu dua, tiga
atau empat.( “ Pedoman mengayuh bahtera rumah tangga”,1998)
Dalam “ensiklopedi Indonesia jilid 5, Ikhtiar 1984 yang punya arti “suatu perkawinan
yang banyak atau lebih dari satu orang.” Sistem perkawinan yang banyak atau
seorang lelaki mempunyai istri lebih dari satu orang dan sebaliknya dalam waktu
yang bersamaan pada dasrnya disebut poligami.
f. Menurut syariat islam , poligami diartikan sebagai kebolehan mengawini
perempuan yang disenangi : dua, tiga, atau empat kalau bisa berlaku adil
sebagaimana tercantum dalam QS An-Nisa’ayat 3
Poligami adalah perintah Tuhan untuk memecahkan masalah sosial seperti seks
bebas, perzinahan, dan sebagainya (Mansur bin mashadi, tuntunan perkawinan
Keluarga Bahagia dalam islam, 1995)
2. Definisi kontekstual
Dalam bahasa sehari-hari Poligami adalah perkawinan antara seorang laki-laki
dengan wanita lebih dari satu orang dengan kata lain laki-laki atau suami yang
mempunyai banyak istri dalam waktu yang bersamaan.
ANALISIS PRO KONTRA
PRO
a. Sesungguhnya praktek poligami yang bertanggung jawab dalam arti punya
kemampuan melaksanakannya adalah suatu realitas kehidupan yang baik, banyak
hikmah yang dikandungnya, berdampak maslahat bagi kaum perempuan. Hidup para
permpuan diharapkan dapat baik, terhindar dari kehidupan yang menyendiri tanpa
bersuami yang dalam pandangan masyarakat akan banyak menimbulkan penilaian
yang negative.
(Kuselamatkan perempuan dengan poligami,2010 :7)
Islam membolehkan poligami dengan syarat adil, dan jika ditemukan adanya
kekurangan yang signifikan (menonjol) pada istri sebelumnya, serta terpenuhi
beberapa kondisi tertentu untuk menghindari jatuhnya sang suami kedalam

Yang demikian itu lebih dekat supaya kamu tidak berlaku aniaya. Namun sesungguhnya ketentuan itu adalah satu alternative untuk . Si istri dalam keadaan uzur atau sakit sehingga ia tidak dapat lagi melayani suaminya. Dan bertujuan untuk membela kaum wanita yang sudah menjadi janda karena suaminya gugur dalam berjihad. karena mereka mempunyai banyak istri dan gundik”. artinya poligami tidak diwajibkan dan tidak pula diharamkan. sehingga sebagai pintu exit-nya dibolehkan berpoligami (http://marhamahsaleh. ( Kuselamatkan perempuan dengan pligami 2010:24) f. 2010:29) Dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil tehadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bila kamu mengawininya). (Kado terindah untuk mempelai.com/ Email: marhamahsaleh@yahoo.com) Poligami itu boleh dilakukan karena ada beberapa manfaat: Membantu seorang lelaki yang tidak cukup dengan satu istri agar dapat menjaganya dari perbuatan zina Mencegah pelacuran dalam masyarakat Mengurangi jumlah janda dan perawan tua yang tidak memperoleh pinangan khususnya setelah terjadi perang. atau budak-budak yang kamu miliki. ( “ Pedoman mengayuh bahtera rumah tangga”. Poligami itu boleh dilakukkan karena beberapa sebab yaitu Apabila suami mempunyai dorongan nafsu syahwat yang kekuatanya luar biasa. Kebolehan poligami dalam islam sebenarnya bukanlah satu hal yang dianggap tidak manusiawi. tiga atau empat tetapi jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka seorang saja. dua. QS An-Nisa’ayat 3 h.wordpress. 2010 : 19) Menurut orang mesir kuno. sehingga istri tak sanggup lagi memenuhi keinginannya. Beristri lebih dari satu (poligami) sampai dengan empat istri diperbolehkan dalam islam. pelaksanaan poligami bukanlah tindakan yang bertentangan dengan akhlaq mulia manusia sebagaimana yang tercantum di dalam undang-undang yang berlaku didalam kehidupan mereka yang menyatakan : “ Sesungguhnya Tuhan memberkahi laki-laki. Beberapa pengamat mengkaitkan poligami dengan system kekeluargaan. ( Hukum Perkawinan. (Kado terindah untuk mempelai.perzinaan. kitab suci yahudi dan nasrani tidak melarang praktek poligami. maka kawinilah perempuan-perempuan(lain) yang kamu sukai.2010 :85) i. Menurut syekh muhaad ahmad kanan.2010:30) Apabila dikaji secara mendalam islam mengharuskan poligami ialah karena terdapat beberapa faedah dan sebab-sebab yang tujuanya adalah untuk memelihara kesucian dan kebaikan umat manusia. Menurut john L Esposito sebelum islam datang poligini dipraktekkan dalam banyak masyarkat Mesopotamia dan mediterania. Secara historis poligami sudah dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat islam lahir.

ekonomi. Walaupun ada beberapa suami memang dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya. poligami tidak boleh. http://marhamahsaleh.mengatasi penyaluran kebutuhan seks lelaki yang menggangu ketenangan batinya agar tidak sampai jatuh kelembah perzinahan atau pelacuran. Jadi perkawinan yang diakui sah adalah perkawinan seorang lelaki dengan seorang perempuan. anak tidak mendapatkankasih sayang yang sepenuhnya dari ayahnya karena si ayahtidak dapat bermesraan lebih lama dengan anak-anaknya. (Kuselamatkan perempuan dengan pligami 2010:40) 2.com Bagi kalangan Kristen perkawinan adalah hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan secara beragama selama hidupnya sebagai suami isteri. ( Kuselamatkan perempuan dengan poligami. sehingga perkawinan dianggap tidak sah oleh negara. Pihak perempuan akan dirugikan karena konsekuensinya suatu perkawinan dianggap tidak ada. v Dampak ekonomi: Ketergantungan secara ekonomi kepada suami. KONTRA Apabila keadaan tidak betul-betul memaksa hendaklah dihindarkan berpoligami sebab poligami akan memberikan kesan yang kurang baik terhadap anak.com/ Email: marhamahsaleh@yahoo. khususnya bagi PNS. v Dampak kesehatan: Kebiasaan berganti-ganti pasangan menyebabkan suami/istri menjadi rentan terhadap penyakit menular seksual (PMS). Sebab itu tujuanya adalah agar suami tidak terjerumus ke jurang maksiat dengan memenuhi syarat yang jelas terutama dapat berlaku adil. seksual maupun psikologis.wordpress. walaupun begitu kekerasan juga dapat terjadi pada rumah tangga yang monogami. Akibatnya istri yang tidak memiliki pekerjaan akan sangat kesulitan menutupi kebutuhan sehari-hari. (Pedoman mengayuh bahtera rumah tangga.2010:19) . seperti hak waris dan sebagainya. Hal ini umum terjadi pada rumah tangga poligami.1998:21) Poligami akan memberi Dampak yang buruk Bagi Wanita v Dampak psikologis: perasaan inferior istri dan menyalahkan diri karena merasa tindakan suaminya berpoligami adalah akibat dari ketidakmampuan dirinya memenuhi kebutuhan biologis suaminya. Hal ini akan mengakibatkan anak-anak tidak mendapatkan bimbingan sepenuhnya. v Kekerasan terhadap perempuan. v Dampak hukum: Seringnya terjadi nikah di bawah tangan (perkawinan yang tidak dicatatkan pada Kantor Catatan Sipil atau Kantor Urusan Agama). baik kekerasan fisik. walaupun perkawinan tersebut sah menurut agama. tetapi dalam praktiknya lebih sering ditemukan bahwa suami lebih mementingkan istri muda dan menelantarkan istri dan anak-anaknya terdahulu.

POSISI PRIBADI Menurut saya Poligami itu baik jika dilakukan dengan melihat peraturan dan ketentuan dari moral maupun hukum yang berlaku. Melainkan tindakan yang dilakukan lebih terarah kepada satu hasrat untuk mencari nilai lebih atas nilai tukar pada barang yang didapatnya. Yang menjadi pertanyaan bagi kita semua bahwa yang dimaksud disini apakah dalam ukuran manusia atau ukuran Tuhan. yang tidak pernah ditangisi dengan keras yaitu poligami (Alisa G. namun hanya bisa dianggap sebagai kecenderungan atau mendekati. Thomson Zainuddin. Akibatnya adalah budaya poligami yang dilaksanakan dalam masyarakat bukan lagi didorong sebagai satu kebutuhan subtansial namun lebih mendorong kepada pencapaian citra sosial tertentu pada masyarakat.2010:7) Masyarakat harus tahu bahwa kita benar-benar sedang memerangi sebuah nama yang menjadi musuhyang seharusnyantidak kita terima. sejak awal pernikahanya. Sesungguhnya manusia itu tidak bisa dianggap adil. meskipun nabi Muhamad dalam hidupnya berpoligami namun tidak pernah ada bukti nabi berniat melakukan hal itu. tapi keadilan yang menyangkut perasaan itu sulit.2010:26) 3. Menurut saya poligami akan mendorong martabat wanita semakin terperosok kebelakang.1979:11) Perkawinan menjamin pemberian cinta yang utuh dan tidak terbagi diantara keduanya. poliandri serentak baik secara hokum maupun moral (Kursus persiapan perkawinan 2008:14) Poligami bila dipandang dari sudut negative dapat dipandang sebagai satu praktek inteaksi antara seorang manusia dengan lainya dengan maksud yang bersifat konsumtif (tindakan menikmati sajian yang tersedia). ( Kuselamatkan perempuan dengan poligami. Pernikahan poligami atau monogami adalah satu hal yang menjadi hak masyarakat dalam membentuk sebuah keluarga. kegembiraan. Dalam Al-Quran surat an-nisa ayat 3 menyatakan kebolehan menikahi lebih dari satu wanita satu syaratnya berlaku adil. Hal itu dapat disandarkan kepada teori yang dikemukakan oleh pemikir dari mahsab frankfut. Keadilan dalam segi materi mungkin saja mudah untuk dilakukan. Dan menguatkan asumsi public bahwa wanita hanya selalu dijadikan alat . Akhir-akhir ini banyak sekali para suami melakukan poligami bukanlah satu tindakan untuk menggali guna atau manfaat terhadap tindakan yang dilakukan. dilain pihak hal ini juga mencerminkan prinsip kesetaraan martabat antara pria dan wanita kej 1:26-30. Tetapi hakekatnya saya lebih setuju dengan monogami dengan kata lain menolak perkawinan poligami. atau kebahagiaan yang akan didapat dari beberapa istri yang dimilikinya. Perkawinan katolik menolak perkawinan poligami. Maksudnya berusaha untuk mendapatkan kenikmatan. (Poligami tidak sunah.Al-quran tidak menyatakan poligami praktek yang halal.

Indonesia dihebohkan oleh pelaksanaan poligami oleh salah seorang mubaligh kondang tanah air. Selain itu akan berdampak negative bagi istri. Ternyata. Dasar Teologis Poligami Dari sisi teori. Islam datang lalu memberikan syarat-syarat dan batasan yang lebih jelas dalam praktek poligami. dalam istilah fikih. Apalagi baru-baru ini. Poligami: antara Pro dan Kontra Oleh : Euis Daryati Pendahuluan Saya teringat ketika kami sedang membahas tentang poligami di bangku kuliah. Oleh karena itu.pelampiasan nafsu belaka oleh kaum laki-laki. atau paling tidak. Begitu sensitifnya permasalahan ini. pernah mendengarnya. Karena jika dilarang secara total akan timbul dampak yang sangat negatif seperti meratanya perselingkuhan dan hubungan di luar nikah (zina). diperbolehkannya praktek poligami bukanlah hukum baru yang dibawa oleh Islam karena ia sudah ada sebelum datangnya agama Islam. hukum poligami bukan merupakan hukum ta’sisi melainkam hukum imdha’i [5]. Abdullah Gymnastiar (Aa’ Gym). berdasarkan jajak pendapat. Hal ini membuktikan bahwa praktek poligami tidak mungkin dilarang secara total. Ini jika kita hanya berpegang atas poling yang ada. anak. ‘keluar’ dari agama Islam karena hukum poligami”.B Yudhoyono) pun sempat hendak secara langsung turut menangani masalah ini. mayoritas suara (60% lebih) mengusulkan untuk merevisi kembali undang- undang pelarangan tersebut sedang selebihnya setuju dan abstain[4]. Jika kita hendak kembali menelusuri sejarah. hingga presiden RI (Bapak S. Lalu sambil bercanda beliau mengatakan: “Kenapa kita (kaum muslimah) justru sebaliknya. mayoritas kaum muslimin sudah mengetahui hukum poligami. Pembahasan poligami merupakan salah satu pembahasan yang tidak pernah kehilangan peminatnya. Praktek poligami merupakan salah satu hukum yang telah disahkan oleh agama Islam dan hukum ini merupakan salah satu dari kejelasan fikih Islam (dzaruriyaatul-fiqh) yang tidak bisa . dosen saya[3] menceritakan tentang seorang perempuan terpelajar berwarga negara Jepang yang masuk Islam karena hukum poligami setelah membaca sebuah buku yang membahas permasalahan tersebut secara detail dan jelas. Pro dan kontra terus mengalir menanggapi praktek poligami Aa’ Gym. dan keluarga. hingga akhirnya merembet ke pembahasan untuk melihat dan mempertimbangkan kembali Undang-undang No: 10 tahun 1983 tentang pelarangan praktek poligami.

dengan jelas Islam telah mengajarkan pengikutnya untuk berpikir dan bertindak secara logis dan proporsional (wajar dan pada tempatnya). melainkan Allah swt sendiri. Karena Allah swt merupakan Dzat Maha Sempurna dan Sumber segala kesempurnaan. karena Ia Maha Menyaksikan. Karena jika demikian. Tidak ada yang berhak merubah hukum-hukum Allah. dalam kasus-kasus yang ada. Dan tentu saja. Oleh karena itu. segala problem yang timbul bukan berasal dari ajaran Islam itu sendiri tetapi berasal dari oknum pelaku yang telah mengetahui ajaran Islam namun tidak mampu melaksanakannya atau mereka yang tidak tahu dan salah dalam mempraktekannya. mayoritas kaum Hawa—termasuk kaum muslimah sendiri—merasa gerah dan keberatan. Dari banyak argumen yang ada. terkadang kita terpaksa harus memisahkan antara ajaran asli agama dan pelaku yang mengaku sebagai penganut ajaran tersebut. agar kita tidak terjerumus ke dalam jurang ekstrimitas berpikir dan bertindak (ifrath-tafrith). Berdasarkan sifat Maha Bijaksana dan Maha Sempurna-Nya. Dia Maha Pencipta dan Dia pulalah yang Mengetahui segala apa yang “dibutuhkan” oleh setiap hasil ciptaan-Nya. Naudzubillah min dzalik . Sudah seharusnya kita bersikap “dewasa” dalam menghadapi setiap permasalahan. Kita akan selalu berharap. Hanya saja. Ini merupakan jenis pentauhidan (baca: pengesaan) Allah dari sisi otoritas penentu hukum (at- Tauhid fil-hakimiyah). maka Ia harus disucikan dari segala bentuk kekurangan. Kita semua mengetahui apa konsekuensi dari kebencian terhadap Allah swt bukan? Tentu saja anti praktek poligami yang disebabkan oleh penyalahgunaan para oknum—seperti yang terjadi pada kasus nikah mut’ah—tidak secara otomatis meniscayakan kebencian kepada hukum Allah. inil-hukmu illa lillah. dalam arti segala prilaku-Nya memiliki tujuan dan hikmah tertentu bagi hamba-Nya. Meng-Esa-kan Allah swt memiliki banyak bentuk dan mencakup segala hal. Segala bentuk kesia-siaan adalah keburukan yang dihasilkan oleh dzat yang memiliki kekurangan. Sebagai penyembah Tuhan yang Esa. termasuk meyakini bahwa hanya Allah-lah yang berhak menentukan hukum. Dia telah menetapkan berbagai hukum dalam al-Qur’an dan salah satunya adalah diperbolehkannya praktek poligami. Tak ada satupun dari ciptaan-Nya yang luput dari pantauan-Nya. kita meyakini bahwa Allah swt adalah Dzat yang maha Bijaksana dan Sempurna. secara tidak langsung berarti kita telah membenci sang penetap hukum poligami tersebut. Dia pun Maha Bijak. dari sisi prakteknya. Dia tidak pernah melakukan perbuatan yang sia-sia dan tanpa dasar. Allah swt. Jika ada seseorang yang mengaku muslim dan meng- Esa-kan Tuhan lantas tidak setuju atau ingin merubah hukum tersebut berdasarkan bisikan “ego-emosional” ataupun “ego-intelektual” yang bersumber dari hawa nafsunya. niscaya ia telah mempersekutukan Allah swt (musyrik) dengan emosi dan perasaan intelektualnya.diganggu gugat oleh siapapun. mudah-mudahan ‘kebencian’ kaum hawa terhadap praktek poligami tidak berakhir dengan kebencian kepada hukum tersebut.

Dan sebaliknya. Padahal. berarti di situ Allah swt menggunakan kalimat perintah (amr). Tentu itu jika kita berbicara pada dataran hukum primer (hukmul. hal ini akan menjadi tanda tanya buat sebagian orang. niscaya tidak akan pernah “terbesit kebencian” dalam hatinya atas hukum yang telah ditetapkan Tuhan-Nya. Artinya. baik yang dikemas dalam kemasan intelektual ataupun emosional. tentu terdapat kemaslahatan dan hikmah dibalik diperbolehkannya praktek poligami. baik secara terang- terangan dan diungkapkan melalui lisan dan prilaku. berdasarkan kaidah ushul fikih. wajib dan sunah) dengan melihat situasi dan kondisi pelakunya. jawabannya sudah jelas. karena faktor eksternal. tanpa memperhatikan potongan ayat sebelumnya. penggunaan bentuk perintah “fankihuu” yang berarti “maka nikahilah”[7]. Sebagai contoh. kemudian Allah swt –dalam ayat yang sama- memerintahkan untuk menikahi perempuan ke-dua. . Ringkasnya. jika seseorang benar-benar meyakini akan sifat Maha Sempurna dan Maha Bijaksananya Allah swt. maka keyakinan tersebut berlaku pula pada hukum Allah tentang diperbolehkannya praktek poligami. haram. sebuah obyek hukum akan diwajibkan karena terdapat kemaslahatan yang sangat kuat (maslahah syadidah)[6] di dalamnya. hukum poligami adalah diperbolehkan dan bukan diwajibkan. Jika kmelihat zahir ayat tentang poligami. sebuah obyek hukum akan diharamkan karena terdapat dampak negatif yang sangat kuat (mafsadah syadidah) di dalamnya. poligami boleh dilakukan dan boleh ditinggalkan. Hukum Poligami Dalam Islam. ataupun hanya dipendam dalam hati yang sewaktu-waktu siap dimuntahkan keluar. jika suatu perintah datang setelah larangan maka akan memberi makna dan menunjukkan hukum “boleh“ (Jaiz). mustahab/sunah dan makruh). Di saat kita meyakini bahwa Allah swt tidak mungkin menetapkan suatu hukum melainkan terdapat hikmah di baliknya.awwaly) poligami.Dalam berbagai kitab ushul-fikih dijelaskan. Demikian seterusnya dengan hukum-hukum fikih yang lain (mubah. ke-tiga atau ke-empat. swt dalam menentukan sebuah hukum pada obyek-obyeknya Allah selalu memiliki landasan dari sisi maslahat dan bahaya (mafsadah)-nya. bukan wajib ataupun haram. Padahal jika diperhatikan potongan ayat sebelumnya yang berupa larangan menikahi perempuan yatim[9] dan karena alasan takut tidak dapat berlaku adil terhadap mereka. Dimana dalam kaidah ushul fikih dijelaskan. penentuan akan “hukum wajib” dari ayat tersebut akan terjadi jika seseorang tidak mengetahui (baca: bodoh) atas kaidah ilmu ushul fikih dan hanya melihat ayat di atas dengan sepenggal- sepenggal. Artinya. Sedang pada dataran hukum sekunder (hukmul-tsnawy) maka hukum poligami bisa berubah menjadi hukum yang lain (makruh. “bentuk perintah menunjukkan wajib” (shighatu fi’lil-amr tadullu alal wujub)[8]. berarti ayat itu meniscayakan suatu kewajiban. Jelas.

ayat 3 dan ayat 129 yang keduanya terdapat dalam surat an-Nisa’. Hal itu dikarenakan monogami merupakan hak semua manusia. seakan yang menjadi dasar dalam hukum Islam dalam ayat tadi adalah ber-poligami. karena sudah bersifat badihi [aksiomatis]. jika “dapat berlaku adil”. bukan atas dasar “tahu” (memiliki pengetahuan)[10].Satu poin menarik dari ayat diatas adalah. dalam ayat ke-129. abadiyah” yang artinya “Tidak akan pernah (untuk selamanya)”. dan mungkinkah Allah swt menetapkan sesuatu akan tetapi sesuatu tersebut di luar batas kemampuan seluruh lelaki (taklif bimaa laa yuthoq) yang ada di muka bumi ini? Bukankah hal itu meniscayakan bahwa Allah swt telah melakukan perbutan sia-sia dan tidak proposional (zalim) terhadap hamba-Nya.ia harus melaksanakan anjuran al-Quran untuk menikahi satu permpuan saja. dimana dalam tata bahasa Arab. tidak ada seorangpun yang akan menggugatnya. Apalagi buat lelaki yang “mengetahui” bahwa jika dia menikah lebih dari satu niscaya dia tidak akan bisa berbuat adil. ayat itu langsung mengisyaratkan tentang poligami dengan mengatakan: “Nikahilah. bukankah ini paradoks? Mungkinkah menetapkan hukum yang bersifat paradoks. keadilan yang . syarat poligami adalah. berdasarkan ayat di atas. bukan ber-monogamy (satu istri). dikarenakan syarat utamanya tidak terpenuhi. ia tidak bisa untuk menikah lebih dari satu. tiga. Maka berdasarkan kaidah prioritas hukum (qiyas awlawiyah). Dalam ayat di atas menggunakan kata “lan. kata tersebut digunakan untuk sesuatu yang tidak akan pernah dapat dilakukan[11]. Seorang lelaki yang akan melaksanakan praktek poligami lantas terlintas “perasaan khawatir” untuk tidak dapat berlaku adil. maka –berdasarkan ayat tadi. dan empat. Dalam tafsir al-Mizan. Allah swt menyatakan bahwa seorang suami tidak akan pernah dapat berlaku adil. Lantas. seorang lelaki “mustahil” dapat berlaku adil: ”Dan kamu sekali-kali tidak dapat berlaku adil di antara istri-istri-(mu). Syarat-Syarat Poligami Terdapat dua ayat dalam-Qur’an yang menjelaskan tentang poligami.…”. walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…”. Atau dengan bahasa lain. Allamah Thabatha’i ra menjelaskan. Allah swt tidak mungkin melakukan semua hal tersebut. terkhusus kaum lelaki? Tentu berdasarkan ajaran teologi Islam –yang berlandaskan pada argument akal maupun teks. Sedang. Jadi. … baru hanya satu istri saja jika terdapat rasa khawatir (takut) tidak dapat berlaku adil”. Allah swt telah melarang orang untuk poligami di saat “takut” (baca: khawatir) tidak dapat berlaku adil. Dalam ayat ke-3 dijelaskan tentang syarat poligami dengan menyatakan: “…jika kalian takut tidak dapat berlaku adil. Oleh karenanya praktek monogami tidak dijelaskan kembali dalam ayat al-Qur’an tersebut.jawabannya sudah sangat jelas. hendaknya nikahilah seorang saja. dan tentu semua dapat menerimanya. dengan bentuk apapun. Sekilas. dua. Ini menunjukkan betapa sensitifnya keadilan tersebut. Lantas.

Lantas Aisyah menjawab: “Kebiasaan Rasul ialah memperlakukan kita secara sama dan tidak ada yang lebih diutamakan. tidak mungkin (baca: mustahil) menyamaratakan antara kedua istrinya dalam semua hal. kasih dan pengorbanannya dengan tetap menghormati teman-teman dekat Khadijah as. Hal ini yang membuat cemburu sebagian istri Rasul lainnya. Urwah bin Zubair (keponakan ummulmukminin Aisyah) telah bertanya kepada bibinya tentang prilaku Rasul saww terhadap para istrinya. dan lainnya yang bersifat primer maupun sekunder. Menyamaratakan kekhususan rumah istri satu dengan yang lain dari segala bentuk dan sisinya. karena itu mustahil dilakukan oleh manusia siapapun. papan. giliran waktu. Karena cinta bukan hal materi yang dapat dibagi secara rata. mengundang mereka dan selalu menyebut nama Khadijah as. seperti memenuhi kebutuhan sandang. Dan hal ini sesuai dengan kaidah filsafat (akal) yang menyatakan “sesuatu yang asli tidak akan mendua dan berbilang” (shirfus-syai’ laa yatatsanna wa laa yatakarrar). harus tetap ada usaha zahir secara maksimal dalam melaksanakan pengontrolan prilaku hati (batiniyah). dan keadilan mana yang sama sekali diluar batas kemampuan manusia (baca: lelaki)? Keadilan yang telah disyaratkan dalam (ayat) poligami adalah keadilan yang bersifat “lahiriyah”. perhatian semua istri dan anak dari semua istri. Sementara keadilan yang mustahil dapat diberlakukan diantara para istri ialah keadilan yang bersifat “batiniyah”. Rasul saww sebagai penjelmaan paling sempurna dari keadilan telah menjalankan konsep tersebut dengan sebaik- baiknya di antara para istrinya. Dalam sejarah dijelaskan. Syarat adil dalam praktek poligami menurut Islam bersifat rasional dan mungkin dipenuhi dan dilaksanakan. Beliau berlaku adil terhadap semua istrinya. sehingga beliau selalu mengenang segala cinta. Namun berbuat adil yang diisyaratkan dalam Islam adalah “memberikan haknya sesuai dengan kelayakan penerimanya” atau “menempatkan sesuatu pada tempatnya”. Hal ini juga yang menjadi acuan dalam syarat poligami. Selain tidak mungkin. betapa cinta (prilaku batin) Rasul terhadap ummul-mukminin sayyidah Khadijah as yang telah meninggal. Tidak mungkin menyamakan ukuran baju istri yang tinggi dengan istri yang pendek. pangan. Singkat kata. Dan inilah yang dimaksudkan oleh ayat ke-129 tadi[12]. Namun. Dalam banyak kasus hal itu terbukti kebenarannya.bagaimana yang disyaratkan dalam praktek poligami. Itu semua karena prilaku dan urusan hati tidak dapat dikontrol secara penuh (diluar sadar). bukan itu tuntutan Islam dalam memberikan syarat adil dalam berpoligami. yang berkaitan dengan urusan hati. Karena tidak mungkin menyamakan biaya hidup istri yang memiliki anak tiga dengan istri yang hanya memiliki anak satu misalnya. Jarang sekali . Kita lihat dalam sejarah. Sangat tidak bijak jika Islam mensyaratkan adil dalam praktek poligami adalah menyamaratakan dalam semua hal. Namun harus diingat bahwa “keadilan bukan berarti harus sama (baca: menyamaratakan)”. walau begitu.

Dan merekapun mengizinkannya untuk tinggal di rumahku (Aisyah)”[13]. jika ternyata kita menghadapi pertanyaan-pertanyaan di bawah ini yang memiliki konsekuensi masing-masing. Dan ketika sampai giliran salah seorang dari kami. Menggugat balik atas Gugatan Poligami (argument lain) Dapat kita lihat banyaknya berbagai gugatan terhadap hukum poligami dari berbagai kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai ‘pembela hak asasi wanita’ yang berbasis feminisme. Begitu juga apa yan diakukan oleh imam Ali as. beliau tetap berlaku adil secara sempurna dan tetap menjaga giliran tersebut. di Tanah Air pelopor dari gerakan ini adalah justru para kaum muslimah yang mengaku peng-Esa Tuhan dan pengaku al-Quran sebagai kitab sucinya. maka beliau akan meminta izin terlebih dahulu kepada istri yang mendapat giliran tersebut. bahkan terdapat istri seorang pemuka agama. Terlepas dari status kita sebagai makhluk agamis (peng-Esa Tuhan). Hingga akhirnya. Bahkan ketika dalam keadaan sakit sekalipun. Dan aku adalah istri yang ketika Rasul meminta izin kepadaku niscaya aku tidak akan mengizinkannya.yang mereka lontarkan. tiada argument kokoh –baik tekstual maupun rasional. Yang mereka kemukakan tidak lebih dari “argument emosional” dalam melihat beberapa “kasus penyimpangan praktek poligami” yang lantas dijeneralisasikan pada satu kaidah umum yang menghasilkan satu bentuk hukum universal. Apa dampak sosial dan moral jika poligami dihapuskan? Dapatkah poligami dilarang secara total? Apakah selamanya istri muda selalu disebut sebagai perebut suami dan perusak rumahtangga orang? Apakah seorang wanita perlu terhadap seorang lelaki (suami) hanya terbatas kepada masalah pemenuhan kebutuhan biologis atau materi saja? Terbukti bahwa jumlah wanita lebih banyak (secara kuantitas) daripada jumlah lelaki. siapapun dan apapun agamanya. Selama ini. Ketika imam Ali as memiliki dua istri. pada suatu hari ketika beliau sakit beliau telah parah. penghapusan hukum dan pelarangan praktek poligami secara total. namun jika tidak maka beliau pun tidak akan melakukannya. lantas apakah jawaban kita. beliau tidak melakukan sesuatu di tempat istri yang bukan gilirannya. meskipun hanya untuk berwudhu[14]. Beliau menyatakan. Mereka menyerukan untuk memerangi hukum poligami yang sebagai salah satu bentuk dari penindasan atas hak asasi wanita. Dan ketika hendak pergi atau ada perlu dengan istri yang bukan gilirannya.terjadi beliau tidak menengok dan menanyakan keadaan kami semua. beliau mengumpulkan segenap istrinya dan meminta izin kepada mereka untuk tinggal menetap di satu rumah saja. jika diizinkan maka beliau akan pergi. Sayangnya. sedang semua manusia –lelaki maupun perempuan.memiliki libido seksual yang harus disalurkan melalui jalan yang legal yang sesuai dengan keridhoan .maka yang bukan gilirannya hanya cukup dengan menanyakan keadaannya saja. murid dan sahabat yang paling mewarisi segala keutamaan Rasul.

urusan akan selesai!”. Bisa dijawab. bukan istri.Tuhan. Hanya “cemburu yang pada batas kewajaran” saja yang merupakan anugerah Ilahi. siapkah kita menerima hal itu? Jika dengan tegas kita menolaknya. imam Ali as pernah bersabda: “Kecemburuan seorang wanita adalah kekufuran. daya tahan tubuh perempuan lebih kuat dibanding laki- laki dalam menghadapi banyak penyakit[17]. bukan semua cemburu. benar. jika poligami dilarang secara total? Apakah kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka harus dikebiri? Sebagaimana setiap manusia pun memiliki rasa cinta (ketertarikan) terhadap lawan jenis yang harus disalurkan dengan cara yang legal. Walau tanpa melakukan sensus secara ilmiyah. Hal itu salah satunya disebabkan karena pekerjaan mereka (suami) lebih keras dan sulit dibanding perempuan. Belum lagi dengan adanya peperangan yang lebih banyak melibatkan kaum lelaki. menurut medis. Selain itu. lantas hendak dikemanakan ketertarikan alami (rasa cinta) para wanita yang belum mendapat pasangan hidup itu? Apakah rasa ketertarikan itu harus dihalau sehingga hanya boleh berada di alam khayal saja? Bagaimana jika salah satu dari wanita itu adalah kita. apakah kebutuhan seorang janda akan suami hanya terbatas pada memenuhi kebutuhan materi (baca: harta) saja sehingga akan selesai dengan mengasuh anaknya yang yatim? Jadi ungkapan seseorang yang mengatakan: “Toch menolong bukan berarti harus . “Asuh saja anak yatimnya. sedang kecumburuan seorang lelaki adalah keimanan”[15]. Sekali lagi. namun secara umum dari realitas yang ada. Hal itu karena rasa cemburu merupakan salah satu perwujudan rasa cinta. lantas jika setiap lelaki harus tetap pada satu istri saja. Tuhan jualah yang telah menganugrahkan rasa cemburu. Dan bukankah Tuhan sendiri yang telah memberikan rasa cemburu kepada saya?”. pasangan yang lebih dahulu meninggal adalah suami (lelaki). apakah kita tidak egois dengan menerima kenyataan ini? Sebagian wanita mengatakan: “Saya tidak dapat menerima poligami karena saya merasa cemburu. Akan tetapi. Lantas bagaimana nasib para janda yang ditinggal oleh suaminya.pun termasuk anugerah Tuhan? Hanya rasa cemburu yang sesuai dengan kadarnya (sesuai dengan ajaran akal sehat) saja yang anugerah Tuhan. lantas bagaimana pemenuhan kebutuhan biologis sebagian wanita yang tidak mendapat bagian dalam memperoleh pasangan hidup. rasa cemburu yang mana dan yang bagaimana? Apakah cemburu yang berlebihan yang membuat mata kita buta sehingga ‘tidak dapat menerima’ hukum Tuhan -walaupun dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh-Nya. sehingga kita menyangka bahwa cemburu tadi bisa dijadikan sebagai tameng menentang hukum Allah. Atas dasar itu. serta serta anak-anak yatim yang diasuhnya? Mungkin dan boleh jadi anda akan mengatakan. Hal itu sesuai hadis Imam Musa Kadzim as berkata :“Sebaik-baiknya perkara ialah yang berada di pertengahan”[16]. kasih dan sayang terhadap yang dicintai.

ataukah hanya untuk memenuhi kebutuhan materi saja. iapun harus . pelindung dan sebagainya. maka silahkan buktikan secara konkrit!? Dan kalaulah jawabannya adalah negatif berarti hal itu kembali kepada pribadi dan oknumnya itu sendiri. merupakan ungkapan yang egois. Apakah kasih sayang seorang ayah dapat diganti atau hanya berupa uang (harta) saja? Apakah kita perlu terhadap keberadaan seorang suami hanya karena masalah memenuhi kebutuhan biologis dan materi saja? Jawabannya mari kita kembalikan kepada diri kita masing-masing. sebagian wanita tidak sampai kepada haknya tersebut. “Tuhan” kita semua? Salah satu gugatan lagi yang sering dilontarkan kepada poligami .menikahinya. apakah hanya poligami saja yang menjadi penyebab hal tersebut? Dan sebaliknya. apakah kita membutuhkan keberadaan suami hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis kita saja. ataukah lebih umum dari itu? Kita juga harus melihat. bahwa poligami menyebabkan keluarga berantakan. Karena disamping secara materi ia harus menghidupi istri lebih dari satu. sementara wanita lain dilarang untuk mendapatkan hak-haknya tersebut. maka pada kondisi semacam ini tentu orang yang berpoligami akan memiliki tanggungjawab lebih besar dibanding para pelaku monogamy. sebagaimana seorang suami sebagai kepala rumah tangga yang bertanggungjawab terhadap keluarganya baik dalam urusan material (jasmani) maupun spiritual (rohani) seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an :”…jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Quu anfusakum wa ahlikum naaro)[18]. apakah semua yang berpoligami memiliki efek negative semacam itu. walaupun orang tersebut telah menjalankan semua yang telah dianjurkan agama? Kalau jawabannya positif. anak-anak Broken-Home dan permusuhan. melainkan dengan status bukan istri pertama. dan sekaligus pelindung. Kita semua mengetahui. Coba sekali lagi kita lihat diri kita. walau melalui cara poligami yang diperbolehkan Allah swt. Padahal ia juga punya hak untuk memiliki pasangan dan teman hidup? Bukankah memiliki pasangan hidup merupakan hak setiap wanita? Namun karena berbagai alasan seperti yang telah disebutkan di atas. Suami berfungsi sebagai teman hidup. lantas masihkah kita marah jika disebut egois? Tidakkah kita layak disebut egois ketika kita ingin memiliki teman hidup. sementara ia tidak bisa mendapatkan yang sama-sama single (bujang). Tentu anda akan setuju dengan saya bahwa fungsi suami lebih dari itu. tempat curhat. Berikan saja bantuan dana untuk mencukupi kehidupannya!!!”. teman curhat. bagaimana nasib seorang gadis yang karena alasan tertentu tidak dapat lekas mendapat pasangan hidup. Silahkan dibayangkan jika perempuan itu adalah kita!? Jika kita tetap gelap mata dan bersikeras untuk tetap ‘menolak’ hukum dan pelaksanaan hukum Allah tersebut oleh pribadi-pribadi (lelaki) yang telah merasa mampu untuk berlaku adil terhadap seorang wanita-wanita muslimah sebagai istrinya. Bisa kembali balik ditanyakan kepada pelontar gugatan tersebut. Coba kita tanyakan kembali kepada hati nurani kita.

tentu yang salah bukan hukumnya. pelampiasan nafsu syahwat ataupun untuk sekedar kebanggaan. riwayat-riwayat semacam inipun harus dijadikan bahan renungan dan pertimbangan bagi para suami yang berencana dan ingin untuk berpoligami. akan tetapi untuk tujuan yang lebih rasional dalam menggapai kesempurnaan spiritual berupa “ridho Ilahi”. diperlukan kerjasama dengan segenap anggota keluarga. Saat diberlakukan undang-undang itu. Penyalahgunaan praktek hukum.mendidik mereka beserta para anaknya. Walaupun hal ini mungkin juga terjadi pada pernikahan monogamy. namun pada poligami akan memberikan kemungkinan yang lebih besar. Dan itu terbukti pasca diberlakukannya undang-undang no:10 tahun: 1983 pada masa Orde Baru dimana banyak pegawai negeri yang melakukan “hubungan gelap” dengan wanita lain akibat pelarangan berpoligami.biasanya karena sulutan dari para ibunya. pasti akan terdapat efek samping yang bahaya dari pelarangan tersebut.dimana beliau bersabda: “Barangsiapa yang memiliki dua istri sedangkan ia tidak berlaku adil diantara keduanya. Inilah tugas berat suami untuk dapat mengontrol dan mendidik mereka tetap menjadi keluarga sakinah (tentram) yang berasaskan pada mawaddah wa rahmah (kasih dan sayang). terkhusus dari para istrinya . dengan syarat-syarat tertentu. mereka lebih memilih untuk berhubungan gelap ketimbang menikah secara resmi (poligami) yang memiliki syarat-syarat yang teramat memberatkan. terdapat sabda Rasul saww -yang telah disepakati oleh kelompok Sunni maupun Syi’ah. akan tetapi oknumnya. Islam dengan jelas telah membolehkan poligami. Berdasarkan hikmah Ilahi. niscaya dampak negative akan selalu mengancam keutuhan keluarga tersebut. Dengan ditiadakan praktek poligami niscaya akan banyak praktek mesum illegal di antara para suami pemilik istri. bahkan seharusnya. Masalah syarat berlaku adil sangat ditekankan sekali. Jangan sampai mereka hanya melihat “sisi enak” praktek . Syahid Ayatullah Muthahari ra menuliskan[19]. Tanpa ada kerjasama yang baik. Sehingga dari situ ketika ia melakukan poligami bukan hanya sekedar untuk koleksi istri. bahkan menjadi syarat utama dalam ber-poligami. maka di hari kiamat ia akan dibangkitkan dalam keadaan sebelah badannya terseret sampai masuk ke dalam api neraka”. tidak sesuai dengan “konsep keadilan”. Karena permusuhan yang terjadi di antara para anak dari para istrinya –terkhusus pasca meninggalnya sang suami. Tentu ini bukan tugas yang ringan dan tentulah tidak mudah. Sudah seharusnya bagi seorang suami ketika hendak ber-poligami untuk memiliki kesiapan matang dengan memberikan jalan keluar yang bijak terhadap segala kemungkinan terpahit yang mungkin bakal dihadapinya sewaktu berpoligami. Sebaiknya. Bukankah dunia adalah ladang untuk kehidupan akherat (mazra’atul- akhirah)? Penutup Praktek poligami tidak mungkin untuk dilarang.

Isu-isu yang diajukan oleh kelompok di atas pun meluas tidak hanya masalah warisan. Selain itu mereka juga berargumen bahwa ayat al-Quran menyatakan bahwa seorang suami tidak akan dapat berlaku adil jika memiliki istri lebih dari satu (QS Al-Nisa/4:129). hingga pada haramnya poligami yang kebanyakan bertentangan dengan ajaran Islam yang selama ini dipegang teguh oleh umat Islam. Selain penjelasan dari ayat-ayat al-Quran yang jelas dan menunjukan kepada ketidak bolehan poligami. seperti tidak dapat berlaku adil kepada istri-istrinya meski dalam masalah nafkah atau pun bermalamnya saja. Mudharat yang lain adalah timbulnya pertikaian isrti pertama yang tidak rela suaminya menikah dengan istri keduanya. Terkahir adalah kesimpulan yang berusaha dibuat oleh penulis sendiri tentang hal tersebut. Apalagi jika praktek poligami menyebabkannya melupakan istri tua. Dari masalah Lumpur panas Lapindo yang tidak kunjung usai. dari upaya pemulihan tapol G30S PKI. hingga perkawinan dai kondang yang menimbulkan reaksi besar khususnya di kalangan wanita. Selain itu seperti yang disebutkan oleh Musdah Mulia dalam penelitiannya aspek negatif dari poligami adalah timbulnya kekerasan n dalam rumah tangga hingga pada pengabaian kepada anak-anak. Jika sebelum-sebelumnya Munawir Sadzali sebagai menteri agama di era Soeharto telah menganjukan pandangan warisan 1:1 untuk lelaki dan perempuan yang bertentangan dengan al-Quran. maka sesudah jatuhnya Soeharto. hal ini juga menunjukan ketidak bolehan poligami khususnya jika poligami akan menyakiti istrinya. 2. dan lain sebagainya hingga demonstrasi terhadap sistem ekonomi pemerintah yang kapitalis di mana lebih banyak memihak pemilik modal dari pada golongan pekerja. praktek poligami yang didasari oleh hal-hal semacam ini akan menjadi haram hukumnya. yang dikenal dengan gerakan liberal Islam. hal negatif lainnya adalah munculnya perselisihan yang tidak hanya terbatas kepada pelakunya saja tapi seringkali bahkan melibatkan anggota keluarga yang lain seperti orang tua kedua belah pihak atau saudara kandung masing-masing. tidak berlaku adil di antara beberapa istrinya atau menyebabkan putusnya hubungan silaturahmi antar sesama muslim atau muslimah yang semua itu diharamkan oleh ajaran agama Islam. gerakan pembaharuan keagamaan pun muncul menggugat banyak pandangan-pandangan lama yang dipandang oleh para pengeritik sebagai sesuatu sudah tidak relevan. karena poligami adalah perbuatan menyakitkan hati istri maka jelas Islam secara substantif melarang poligami. celaka di dunia sebelum merasakan celaka pula di akherat kelak. dalam Masalah poligami kelompok ini misalnya berpendapat bahwa Rasulullah melakukan poligami setelah istri pertamanya khadijah wafat. serta pandangan yang tidak setuju akan peraktek poligami. jatuhnya pemerintahan Soeharto setelah kurang lebih 30 tahun berkuasa menimbulkan fenomena baru. tapol kalangan Islam.poligami saja. Demikian di antara argumen kelompok yang menolak poligami. berdasarkan hukum sekunder (al-hukmul-tsanawi). tapi lebih dari itu seperti bolehnya pernikahan antar agama. tidak mengindahkan hak-hak istri muda. Pendahuluan Akhir-akhir ini banyak kejadian-kejadian yang menjadi pembicaraan orang ramai di Indonesia. Kelompok yang Menolak Poligami Dalam konteks Indonesia. dan terus menjadi perdebatan hingga kini. artinya adalah bahwa nabi Muhammad bermonogami selama 28 tahun. Di era akhir tahun 2000 muncul gerakan yang lebih berani melakukan kritik terhadap ajaran Islam. Jika itu yang terjadi maka celakalah lelaki yang berpoligami semacam ini. Pihak ini berpendapat bahwa banyaknya mudhorat yang ditimbulkan bagi orang yang melakukan poligami. Tanpa diragukan lagi. suara yang terbungkam sebelumnya pun dapat dengan lebih leluasa menyampaikan aspirasinya. Jika sebelumnya segala kebijakan harus merujuk kepada sikap pemerintah di masa itu. dan ayat ini juga didukung oleh hadits nabi yang menyatakan bahwa "sebaik-baik suami adalah yang paling baik prilakunya kepada istrinya". makalah ini mencoba untuk membahas masalah pro-kontra poligami dalam hukum Islam dengan memaparkan pandangan yang mendukung poligami dan argumen-argumennya.Wallahu a’lam. Kalangan yang Membolehkan Poligami . Dan jangan sampai prilaku mereka dalam berpoligami menjadi penyebab tercorengnya Islam dan hukum Islam. kelompok ini juga meninjau dari aspek kaidah hukum Islam seperti kemudharatan atau hal-hal negatif atau yang berbahaya. Bidang agama pun dalam hal ini tak luput hal tersebut. dan ini menurut mereka menunjukan kepada lebih baik monogami dan haramnya poligami. Karena cukup penting dan krusialnya masalah terakhir tersebut. PRO-KONTRA POLIGAMI DALAM HUKUM ISLAM Oleh: Didi Supandi 1. Dari semua mudharat yang besar ini maka kelompok ini kemudia berkesimpulan akhir bahwa poligami adalah haram hukumnya. 25 ketika Khadijah hidup dan 3 tahun sesudah meninggalnya Khadijah. Argumentasi lainnya adalah perintah berbuat baik kepada istri (QS Al- Nisa/4:19). 3.[] .

seperti pernikahan dan perceraian. atau ketika wanita tidak mempunyai suami. maka tidak selayaknya orang luar yang tidak tahu menghukum dan memfitnahnya. Syeikh Qardhawi menjelaskan lebih lanjut bahwa di antara istri ada yang mandul sedang suami ingin sekali memiliki keturunan. jumlah wanita yang lebih banyak dari laki-laki karena perang yang umumnya dilakukan oleh laki-laki. seperti pendapat para imam mazhab besar yang empat yakni Imam Malik. Secara umum dapat dikatakan bahwa ulama-ulama salaf tidak ada yang berpedapat kecuali bolehnya poligami dalam Islam. Abu Hanifah. akan tetapi di ayat yang lain melarangnya karena orang yang menikah lebih dari satu tidak akan dapat berlaku adil. dan bukan untuk satu masa tapi sepanjang masa. maka janganlah cela aku terhadap apa yang engkau miliki dan tidak aku miliki" 4. yang berbenturan dengan kepentingan orang lain. desa. betapapun tidak dibenarkan oleh undang-undang dan moral. Kesimpulan Poligami. Tidak diragukan lagi. atau istri yang sakit sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis suaminya. mungkin mereka mau dikawini oleh suami yang sudah beristri yang mampu memberi nafkah dan mau berlaku adil. dan norma agama. kedua hal tersebut hukumnya adalah boleh. Menurutnya kalau sampai ada ulama yang berpendapat demikian. dan tidak hidup sepanjang umur berdiam diri di rumah. Karena di satu ayat membolehkan menikah wanita lebih dari satu orang dengan syarat adil. . atau anak. Dan kalaupun kalangan yang mengharamkan berdalil berdasarkan ayat " dan kamu tidak akan berlaku adil terhadap istri-istrimu" menurut yusuf Qardhawi adalah bahwa keadilan yang sempurna adalah hal yang tidak mungkin hingga rasulullah sendiri hanya dapat berbagi dengan istri-istrinya dalam urusan-urusan yang luar saja sampai Rasul sendiri bersabda: "Ya Allah ini adalah bagian yang aku punya saja. ia tidak mengerti kalau sampai ada ulama yang berpendapat demikian. Yusuf Qardhawi sendiri menjelaskan. bahwa kemungkinan ketiga adalah satu-satunya jalan yang paling bijaksana dan obat mujarrab. sehingga dengan demikian mereka akan merupakan manusia yang bergharizah. Maka dalam kondisi-kondisi seperti ini menurutnya "Bukankah suatu kehormatan bagi si isteri dan keutamaan bagi si suami kalau dia kawin lagi dengan seorang wanita tanpa mencerai isteri pertama dengan memenuhi hak-haknya?" Maka di sini poligami kata Yusuf Qardhawi merupakan suatu kemaslahatan bagi masyarakat dan perempuan itu sendiri. menyangkut persoalan pribadi yang melibatkan orang lain. Pertama. Syeikh Yusuf Qardhawi menjelaskan Bahwa Islam datang sebagai agama yang menyuluruh untuk semua umat manusia baik yang tinggal di kota. tempat dingin. artinya pada dasarnya. Dan menurut Yusuf Qardhawi pandangan yang mengharamkan poligami sepertinya menuduh nabi dan para sahabat tidak mengerti al-quran dan bilangan. Maka hal tersebut haruslah dilakukan sangat hati-hati sekali. nikmatnya sebagai ibu dan keibuan sesuai pula dengan panggilan fitrah. Selanjutnya jika terjadi poligami oleh seseorang maka hal itu telah menjadi tanggung jawabnya dan sangat pribadi sekali. Di dalamnya ada persoalan tentang hak pribadi. panas. Waullahu A'lam. atau keluarga. syafi'i dan Ahmad bin Hambal. ketika ditanya tentang adanya ulama yang mengharamkan poligami. Kalau begitu manakah dua golongan tersebut yang lebih kukuh dan lebih baik? 5. Poligami liar dan tidak bermoral ini akan menimbulkan perempuan dan keluarga yang liar dan tidak bermoral juga. Dalam beberapa hal menurut penulis hukum poligami bisa seperti hukum menikah yang sangat kondisional. tidak kawin dan tidak dapat melaksanakan hidup berumahtangga yang di dalamnya terdapat suatu ketenteraman. atau istri yang dingin atau frigid. tapi bisa haram jika tidak memenuhi syarat-syaratnya. Hikmah Dibolehkannya Poligami Dalam bukunya Halal dan Haram dalam Islam. Karena itu musyawarah untuk mencapai kemaslahatan adalah jalan terbaik. dan ketiga. Ada tiga kemungkinan bagi perempuan dalam masalah seperti di atas. perempuan hidup sendiri dalam kepahitan hidup tanpa suami. sedang "Siapakah hukumnya yang lebih baik selain hukum Allah untuk orang-orang yang mau beriman?" Inilah sistem poligami yang banyak ditentang oleh orang-orang Kristen Barat yang dijadikan alat untuk menyerang kaum Muslimin. bahwa katanya. dan sepertinya ia menuduh ayat al- Quran itu kontradiksi antara satu dengan lainnya. kata Yusuf Qardhawi. di mana mereka sendiri membenarkan laki-lakinya untuk bermain dengan perempuan-perempuan cabul. kecintaan. tanpa suatu ikatan dan perhitungan. maka orang itu tidak mengerti kaidah istbat dan nafi. Dan inilah hukum yang dipakai oleh Islam. Kedua. Berkenaan dengan masalah pernikahan dan poligami. masa haid yang panjang sedangkan suami memiliki nafsu yang besar. menggunakan alat-alat kontrasepsi untuk bermain-main dengan lelaki yang haram. perlindungan.