You are on page 1of 17

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat, meracik,
formulasi obat, identifikasi, kombinasi, analisis dan standarisasi atau
pembakuan obat serta pengobatan, termasuk pula sifat-sifat obat dan
distribusinya serta penggunaan yang aman. (Syamsuni, 2006) Dalam farmasi
terdapat beragam ilmu seperti contohnya yaitu ilmu farmakologi.
Farmakologi (pharmacology) berasal dari bahasaYunani, yaitu
pharmacon adalah obat dan logos adalah ilmu. Farmakologi mempelajari asal-
usul atau sumber obat, sifat fisika-kimia, cara pembuatan, efek biokimiawi
dan fisiologi yang ditimbulkan, perjalanan obat dalam tubuh, dan lain-lain.
Definisi farmakologi yang lain adalah zatkimia yang dapat mempengaruhi
jaringan biologi. Dari sekian banyak definisi farmakologi, topik utamanya
adalah sama yaitu tentang bahan-bahan obat. Farmakologi Mempunyai
cabang-cabang ilmu yang mempelajari obat secara lebih spesifik. Cabang-
cabang farmakologi seperti Farmakodinamik, Farmakokinetik ,Farmakoterapi,
Farmakognosi, Khemoterapi, Toksikologi, (Siswandono dan Soekardjo, 1995)
Farmakokinetik, adalah ilmu yang mempelajari cara pemberian obat,
biotranformasi atau perubahan yang dialami obat di dalam tubuh dan cara obat
di keluarkan dari tubuh (ekskresi).(Katzug, B.G., 1989)
Rute pemberian obat (Routes Of Administration) merupakan salah
satu factor yang mempengaruhi efek obat, karena karakterstik lingkungan
fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak tubuh dan
tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda;
enzim-enzim dan getah- getah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut
yang berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat
mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda, tergantung dari
rute pemberian obat. (Katzug, B.G., 1989)
Cara pemberian obat dapat melalui oral (Mulut), sublingual (Bawah
Lidah), Rektal (Dubur), dan parenteral tertentu, seperti melalui intradermal,

1

Untuk mengetahui cara rute pemberian obat secara subkutan 2.1 Maksud percobaan Mengetahui dan memahami cara pemberian obat secara subkutan kepada hewan uji (Mencit).3 PrinsipPercobaan Adapun Prinsip percobaan yakni mencit terlebih dahulu diberikan perlakuan yang membuat hewan coba merasa nyaman. 1.2 Maksud dan Tujuan 1. dan intraperitoneal. subkutan. setelahnya dapat diamati dan dihitung waktu setelah pemberian obat (onset) serta durasinya. setelahnya disuntikan larutan Na cmc yang sudah dilarutkan furosemid tepat di daerah bawah kulit tengkuk atau abdomen dari hewan coba mencit. Omset dihitung sejak hewan coba mencit mengeluarkan urin pertama kalinya dan untuk kedua kalinya digunakan untuk menghitung durasi. (Siswandono dan Soekardjo.2006). Mengetahui dan menghitung dengan tepat waktu setelah pemberian obat (Onset) serta durasinya. 2 intramuscular.2.2 Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah : 1.2. . I. Adapun pemberian melalui subkutan yaitu pemberian obat melalui suntikan ke area bawah kulit yaitu pada jaringan konektif ataulemak di bawah dermis (Aziz. I. hal ini dimaksudkan agar lebih mudah ketika diberikan perlakuan (memegang). 1995) Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan mengenai rute pemberian obat dengan cara pemberian melalui subkutan.

mudah tidaknya diperoleh. Animal model atau hewan model adalah objek hewan sebagai imitasi (peniruan) manusia (atau spesies lain). 2010). di samping faktor ekonomis. dan juga untuk mempelajari dan mengembangkan berbagai macam bidang ilmu dalam skala penelitian atau pengamatan laboratorik. Dalam ilmu kedokteran senyawa tersebut ialah obat. pencegahan atau diagnosa suatu penyakit.1 Dasar Teori II.2 Karakteristik hewan coba Ditinjau dari segi sistem pengelolaannya atau cara pemeliharaannya. Pada dasarnya hewan percobaan dapat merupakan suatu kunci dalam mengembangkan suatu penelitian dan telah memberi banyak jasa bagi ilmu pengetahuan. II. khususnya pengetahuan tenteng berbagai macam penyakit. lewat proses kimia khusnya lewat reseptor. antara lain persyaratan genetis/ keturunan dan lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya.1. 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. 2003). 1987). maka ada 4 golongan hewan. peredaan. Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. perbaikan atau pengubahan fungsi organik pada manusia atau hewan (Sugandhi. kelainan fisik atau gejala- gejalanya pada manusia atau hewan baik dalam pemulihan.1. Secara sederhana obat adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk pengobatan.1 Definisi hewan coba Dalam arti luas farmakologi adalah mengenai pengaruh senyawa terhadap sel hidup. di mana faktor keturunan dan lingkungan berhubungan dengan sifat biologis yang terlihat/karakteristik hewan percobaan.E. Hewan percobaan atau hewan laboratorium adalah hewan yang sengaja dipelihara dan diternakkan untuk dipakai sebagai hewan model. yaitu : 3 . serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia (Sulaksono M. yang digunakan untuk menyelidiki fenomena biologis atau patobiologis (Hau & Hoosier Jr.

Penanganan yang tidak wajar terhadap hewan percobaan dapat mempengaruhi hasil percobaan. dan sifat genetik. jenis kelamin. suasana kandang. Faktor internal pada hewan percobaan sendiri: umur. Di samping itu cara pemberian senyawa bioaktif terhadap hewan percobaan tentu mempengaruhi respon hewan terhadap senyawa bioaktif yang bersangkutan terutama segi kemunculan efeknya. bobot badan. 2. suplai oksigen dalam ruang pemeliharaan. Hewan yang bebas kuman spesifik patogen. populasi dalam kandang. 3. yaitu hewan yang dipelihara dengan sistem isolator.1. yaitu hewan yang dipelihara secara terbuka 3. Hewan liar 2. 4. Di dalam menilai efek farmakologis suatu senyawa bioaktif dengan hewan percobaan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. yaitu hewan yang dipelihara dengan sistim barrier (tertutup). dan cara pemeliharaan. antara lain (Malole. Keadaan faktor–faktor ini dapat merubah atau mempengaruhi respon hewan percobaan terhadap senyawa bioaktif yang diujikan. memberikan penyimpangan hasil. keadaan ruang tempat pemeliharaan. Hewan yang bebas sama sekali dari benih kuman. . pengalaman hewan percobaan sebelumnya. keadaan kandang. Faktor–faktor lain yaitu faktor lingkungan.3 Faktor yang mempengaruhi hewan coba Penanganan hewan percobaan hendaklah dilakukan dengan penuh rasa kasih sayang dan berprikemanusiaan. senyawa bioaktif harus melalui proses absorpsi terlebih dahulu. Sebelum senyawa bioaktif dapat mencapai tempat kerjanya. II. Hewan yang konvensional. 4 1. keadaan kesehatan. 1989) : 1. nutrisi. Cara pemberian yang digunakan tentu tergantung pula kepada bahan atau bentuk sediaan yang akan digunakan serta hewan percobaan yang akan digunakan.

jarum ini ujungnya bulat dan berlubang ke samping.5-2. Obat obat dapat diberikan kepada mencit dengan jarum yang panjangnya 0. d. suntikkan tidak boleh terlalu dalam agar tidak terkena pembuluh darah.0 cm dengan ukuran 22-24 (22-24 gauge). Rute pemberian obat secara intravena haruslah dalam keadaan mencit tidak dapat bergerak ini dapat dilakukan dengan mencit dimasukkan ke dalam tabung plastic cukup besar agar mencit tidak . Rute subkutan paling mudah dilakukan pada mencit. b. 1.G.1.G.4 Rute pemberian obat pada hewan coba Rute pemberian obat (Routes of Administration) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efek obat. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda. 5 II.5- 1. Obat bisa disuntikkan dibawah kulit di daerah punggung atau didaerah perut. Rute peroral dapat diberikan dengan mencampurkan obat bersama makanan. 1989). intravena dan intraperitonial (Katzug B.0 cm dengan ukuran 24 gauge. Rute pemberian obat secara intramuscular lebih sulit karena otot mencit sangat kecil. obat bisa disuntikkan ke otot paha bagian belakang dengan jarum panjang 0. 1989). subkutan. bisa pula dengan jarum khusus ukuran 20 dan panjang kira-kira 5cm untuk memasukkan senyawa langsung ke dalam lambung melalui esophagus. a. tergantung dari rute pemberian obat (Katzug B. intramuscular. enzim-enzim dan getah-getah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut berbeda. dapat diberikan secara peroral. c. Kekurangan dari rute ini adalah obat harus dapat larut dalam cairan hingga dapat disuntikkan. Macam-macam rute pemberian obat Rute pemberian obat. karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda.

Kemampuan pasien menelan obat melalui oral Bentuk sediaan yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan besarnya obat yang diabsorpsi. Masalah yang perlu di pertimbangkan dalam pemberian obat Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi. Cara intraperitoneal hampir sama dengan IM. Stabilitas obat di dalam lambung atau usus d. jarum yang digunakan berukuran 28 gauge dengan panjang 0.1. Harga obat yang relatif ekonomis dalam penyediaan obat melalui bermacam-macam rute. Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau efek sistemik b. cara ini tidak dapat dilakukan karena ada kulit mencit yang berpigmen jadi venanya kecil dan sukar dilihat walaupun mencit berwarna putih.5 Penggunaan hewan coba Adapun tujuan penggunaan hewan percobaan sejalan dengan arah bidang ilmu ialah sebagai berikut (Malole. e. Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter f. Bentuk sediaan obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. sedang efek lokal adalah efek obat yang bekerja setempat misalnya salep (Anief. sifat obatnya serta kondisi pasien. suntikkan dilakukan di daerah abdomen diantara cartilage xiphoidea dan symphysis pubis. II. 2. 1990). Efek sistemik diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute e.1989) : . 6 dapat berputar ke belakang dan supaya ekornya keluar dari tabung. Apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama c. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan masalah-masalah seperti berikut: a. g.5cm dan disuntikkan pada vena lateralis ekor. dengan demikian akan mempengaruhi pula kegunaan dan efek terapi obat.

selain itu dapat juga digunakan untuk mendeterminasi penyakit berdasarkan perubahan- perubahan jaringan dan organ tubuh yang terjadi setelah hewan percobaan tersebut mendapat perlakuan (keracunan karena mengisap chloroform. 7 1. kepadatan dan lain-lain). c. Defisiensi makanan (defisiensi vit. E) Hewan percobaan juga dimanfaatkan oleh ahli patolgi untuk penelitian tentang tumor dan kanker bahkan hewan percobaan juga dimanfaatkan sebagai lahan untuk menanam dan menghasilkan sel–sel tumor ini dapat dimanfaatkan oleh ahli mikrobiologi untuk membuat biakan jaringan guna membiakkan virus. sanitasi. Terjadinya kontak antar spesies (infeksi mikroorganisme atau invasi parasit pada hewan atau menusia). kelembaban. keracunan aflatoksin melalui ransum). Keracunan makanan d. defisiensi vit. efektif daya kerjanya dan masih mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Profil hematologi dan kimia darah d. Penyakit menular 2. Stress karena faktor lingkungan (suhu. . A. Bidang Toksikologi Pengujian toksikologi dengan menggunakan hewan percobaan yang dilakukan di lingkungan industri bertujuan agar bahan kimia yang dibubuhkan pada bahan makanan tepat dalam arti aman buat konsumen. ventilasi. Patologi c. Ektoparasit dan endoparasit b. Status kesehatan berdasarkan pemeriksaan yaitu : a. b. Bidang Patologi Para ahli patologi memakai hewan percobaan terutama untuk meneliti atau mengamati adanya perubahan-perubahan patologik jaringan tubuh yang disebabkan oleh : a.

Bidang Imunologi Respon imun pada hewan percobaan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. melalui proses seleksi. virus maupun parasit. setelah manusia. mudah ditangani. Mencit sangat mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang dibuat oleh manusia. yaitu termasuk perihal infeksi oleh bakteri. serta bersarang di sudut-sudut lemari. takut cahaya dan aktif pada malam hari.2. Mencit yang dipelihara sendiri makannya lebih sedikit dan bobotnya lebih ringan dibanding yang dipelihara bersama-sama dalam satu . sebelum melangkah untuk melakukan penelitian dalam bidang parasitologi. faktor diet / ransum dan peradangan non spesifik. stress. II.1 Karakteristik mencit Mencit merupakan hewan yang jinak. Mencit mudah dijumpai di rumah-rumah dan dikenal sebagai hewan pengganggu karena kebiasaannya menggigiti mebel dan barang-barang kecil lainnya. Mencit merupakan anggota dari Muridae ( tikus-tikusan) yang berukuran kecil. Hewan ini diduga sebagai mamalia terbanyak kedua di dunia.misalnya pada hewan mencit yang diberi antibiotik untuk mengusir mikroflora dalam usus dan kemudian diganti oleh mikroorganisme tertentu. 4. Mencit percobaan (laboratorium) dikembangkan dari mencit. lemah. bahkan jumlahnya yang hidup liar di hutan barangkali lebih sedikit daripada yang tinggal di perkotaan.2 Uraian hewan coba Mencit ( Mus musculus ) merupakan hewan laboratorium yang paling luas dan paling banyak digunakan untuk praktikum. Sekarang mencit juga dikembangkan sebagai hewan peliharaan (Amori. 1996). kita perlu mengetahui interaksi antar parasit sendiri. Pada umumnya mencit sangat senang berada pada belakang perabotan jika dipelahara atau berkeliaran di rumah. II. Bidang Parasitologi Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian parasitologi dikehendaki berkualitas baik. 8 3.

a.18-35 g betina Berat Lahir : 0. Sistem sosial: berkelompok 4. 3.2 tahun. Lama Hidup : 1. penglihatan jelek karena sel konus sedikit sehingga tidak dapat melihat warna. 2.4˚C ) Perkawinan Kelompok : 4 betina dengan 1 jantan Aktivitas : Nokturnal (malam) b. pembauannya sangat peka yang memiliki fungsi untuk mendeteksi akan. deteksi predator dan deteksi signal (feromon). Betina dewasa + jantan dewasa damai. Betina dewasa + betina dewasa damai c. kadang-kadang mempunyai sifat kanibal. Klasifikasi mencit Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata Class : Mamalia Sub Class : Rodentia . 9 kandang.0 gram Jumlah anak : rata-rata 6. Terlebih jika makanan yang dibutuhkannya telah habis sehingga mereka merasa sangat kelaparan. bisa sampai 3 tahun Lama Bunting : 19 . Sifat-sifat mencit 1.21 hari Umur Disapih : 21 hari Umur Dewasa : 35 hari Siklus Kelamin : poliestrus Siklus Estrus : 4-5 hari Lama Estrus : 12-24 jam Berat Dewasa : 20-40 g jantan.5-1. Tingkah laku: jantan dewasa + jantan dewasa akan berkelahi. bisa 15 Suhu ( rektal ) : 35-39˚C( rata-rata 37. Mencit (Mus musculus ).

5 2. e.0.0-5. Bulu mereka berwarna putih. 50. Banyak bentuk-bentuk domestik tikus telah dikembangkan yang yang menghasilkan variasi dalam warna putih menjadi hitam dan yang lainnya.0 Anjing 5 kg 10. 10 Family : Muridae Genus : Mus Spesies : Mus Musculus d.0.0-20.1 2.0 10.0 20.5 0.0 10.0 2.0-10.0 0.0 10.0 g Tikus 100 g 1.05 1. Tikus putih cenderung memiliki panjang bulu ekor dan lebih gelap ketika hidup dengan manusia (dipelihara).m i.o Mencit 20-30 0.0-50. Mereka memiliki ekor panjang yang memiliki sedikit bulu dan memiliki deretan lingkaran sisik (annulations).0 10.1 1.0..0 1.5 2.5 Marmot 250 g . 100.25 2.c p.0 1.5 10. 0.0 Kucing 3 kg 5.0-20. 0.0 0.0 5.5-1. 5.0 0.0 2.0 .0 5.0 5.0 20.0 0.p s. kg 5.0 Kelinci 2.0 Merpati 300 g 2.0 2.0-5.0-5. 20.0 5.v i.0-5.0 10.0 Hamster 50 g .0 10.0 5. dan mereka umumnya memiliki bellys Buffy. Tabel volume maksimum larutan obat yang diberikan pada hewan coba Cara pemberian dan volume maksimum (ml) Binatang i.0-10. Morfologi mencit Tikus putih mempunyai panjang panjang keseluruuhan sekitar 15-20 cm. Sementara berat badan mereka berkisar 16-20 gr.0.

Dilarutkan dalam 100ml air 5. Labu takar 5. Disiapkan alat dan bahan 2. Ditimbang 1 gram Na-cmc 4.2. Erlenmeyer 6. 18 April 2017 pada pukul 14. Pipet volume III. Diaduk hingga homogen 11 .3.2 Bahan 1.1 Pembuatan larutan Na Cmc . 25.2. Dimasukan furosemid kedalam larutan Na-Cmc 7. Etanol 3. Na-Cmc III.2 Alat dan Bahan III. Universitas Negeri Gorontalo. Fakultas Olahraga dan Kesehatan. Gelas beker 5.30 WITA. 11 BAB III METODE PRAKTIKUM III. Diaduk 6. Dibersihkan alat menggunakan etanol 3.3 Cara Kerja III. Furosemid 2. Bertempat di Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi.1 Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum Farmakologi Dasar tentang rute pemberian obat ini dilaksanakan pada hari Selasa. dan 50 mL 4.Furosemid 1. III. Spuit injeksi dan jarumnya 2.1 Alat 1. Batang pengaduk 7. Kapas 4. Timbangan analitik digital 3.

Dimasukan cairan obat sebanyak 1 ml ke dalam dispo 6. Dicatat hasil . Dijepit tengkuk mencit dengan jempol dan ibu jari 4. 12 III. Dielus mencit hingga nyaman 3.2 Pemberian furosemid secara subkutan 1. Dibersihkan area kulit yang akan disuntik menggunakan alkohol 70% 5. Disuntikan secara horizontal darii arah depan menembus kulit 7.3. Disediakan dispo 2. Dinyalakan stopwatch untuk menghitung waktu onset dan durasinya 8.

karena karakterstik lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak tubuh dan tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda.. karena karakterstik lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak tubuh dan tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda.G. Rute pemberian obat (Routes Of Administration) merupakan salah satu factor yang mempengaruhi efek obat. (Katzug. enzim-enzim dan getah. enzim-enzim dan getah. B.2 Pembahasan Pada praktikum kali ini kami mempelajari mengenai rute pemberian obat dengan menggunakan hewan coba yaitu mencit. tergantung dari rute pemberian obat. yaitu siklus hidup yang relatif pendek.1 Hasil Pengamatan Hewan Onset Durasi Mencit 10:48:49 21: 04:57 IV. yaitu sekitar 40-80%. jumlah anak per kelahiran banyak. Digunakannya mencit dikarenakan mencit hewan yang paling umum digunakan pada penelitian laboratorium sebagai hewan percobaan. 1989) 13 .G. 1989) Rute pemberian obat (Routes Of Administration) merupakan salah satu factor yang mempengaruhi efek obat. Mencit memiliki banyak keunggulan sebagai hewan percobaan. (Katzung. 1994). Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda.getah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut yang berbeda. tergantung dari rute pemberian obat. B.getah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut yang berbeda.. variasi sifat-sifatnya tinggi dan mudah dalam penanganannya (Moriwaki. 13 BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN IV.

Karena itu. Ekskresi Ca++ dan Mg++ juga ditingkatkan sebanding denganpeninggian ekskresi Na+ . Digunakan jarum injeksi yang berujung tumpul agar tidak membahayakan bagi hewan uji (Siswandono. 2008) Pemberian obat secara Subkutan yaitu dengan melakukan penyuntikan di bawah kulit pada daerah tengkuk. 1995) Pada rute pemberian obat secara subkutan umumnya absorpsi terjadi secara lambat dan konstant sehingga efeknya bertahan lama. Dimana obat furosemide termasuk golongan “Loop Diuretic”. kemudian bersihkan area kulit yang akan disuntik dengan alcohol 70%. Masukkan cairan obat sebanyak 1 ml dengan menggunakan alat suntik secara horizontal dari arah depan menembus kulit. 2001) . Furosemid menyebabkan peningkatan ekskresi K+ dan kadar asam uratplasma. Penyuntikan ini dilakukan dengan cepat untuk menghindari pendarahan yang terjadi dengan kepala mencit (Adnan. Obat yang digunakan yaitu.bertahan selama 4-6 jam (Sukandar. Dan mekanisme kerja untuk obat furosemide adalah “Loop diuretic” menghambat kotranspor Na+ /K+ /Cl dari membran lumen pada pars asendens ansa Henle. 2013). reabsorbsi Na+. K+. Diuretik kuat meningkatkan ekskresi asam yang dapat dititrasi dari ammonia (Mycek. Oleh karena itu waktu yang dihasilkan ketika menimbulkan efek relatif lebih lama dibandingkan dengan rute lainnya. 2008) Furosemid bekerja pada epitel tebal ansa henle bagian asenden. “Loop diuretic” merupakan obat diuretik yang paling efektif. karena obat diabsorsi secara lambat dan konstan sehingga efeknya dapat bertahan lama sampai 23 menit sampai efek obatnya habis (Tanu. Obat ini digunakan sebagai perangsang diuresis (urine) untuk mengetahui efek dari pada obat ini bagi fungsi ginjal. furosemid. Cl menurun. 14 Pemberian obat pada hewan uji pada percobaan ini dilakukan melalui cara subkutan. karena pars asendens bertanggung jawab untuk reabsorbsi 25-30% NaCl yang disaring dan bagian distalnya tidak mampu untuk mengkompensasi kenaikan muatan Na+ Efek per oral cepat (1/2-1 jam).dengan terlebih dahulu tengkuk dicubit dengan jempol dan telunjuk.

. ketika disuntikan furosemid mencit masih belum menimbulkan efek. mencit mulai kembali aktif dikarenakan efek dari obat furosemid telah habis. Kemudian pada menit ke-21 mencit mengeluarkan urine kembali dikarenakan efek dari obat furosemid masih ada. Setelah dimenit ke 10 mencit mengeluarkan urin. Setelah menit-menit berikutnya. 15 Berdasarkan hasil pengamatan pada kelompok kami (pemberian obat secara subkutan). setelah menit ke-15 tampaknya mencit mulai tenang.

1 Kesimpulan 1. IV.2.2 Laboratorium Diharapkan dalam pelaksanaan praktikum. Onset dari mencit yaitu 10:48:49 sedangkan durasinya yakni 21:04:57 V.1 Saran IV.1 Asisten Cara pengarahan dalam praktikum sudah bagus dan efektif sehingga sebaiknya dipertahankan. kita dapat membangun suasana dalam laboratorium yang tenang sehingga meminimalisir kegaduhan dalam ruangan praktikum.2 Praktikan Diharapkan kepada praktikan dalam melakukan praktikum lebih berhati-hati dalam menggunakan alat-alat dan hewan yang digunakan dalam laboratorium IV. Masukkan cairan obat sebanyak 1 ml dengan menggunakan alat suntik secara horizontal dari arah depan menembus kulit. 16 BAB V PENUTUP V. Pemberian obat secara Subkutan yaitu dengan melakukan penyuntikan di bawah kulit pada daerah tengkuk.dengan terlebih dahulu tengkuk dijepit dengan jempol dan telunjuk.2. kemudian bersihkan area kulit yang akan disuntik dengan alcohol 70%. Penyuntikan ini dilakukan dengan cepat untuk menghindari pendarahan yang terjadi dengan kepala mencit 2. 16 .2.

DitJen Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Katzung. 2006. Jakarta: Widya Medika. 17 DAFTAR PUSTAKA Adnan. 2013. Ian. Jakarta: Salemba Medika Green. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi IV.A. (1968).J. Jakarta: PT . E. M. P. Biology of The Laboratory Mouse.ISFI Tanu. Jakarta : Balai Penerbit FKUI . B. Moriwaki. Farmakologi dan Terapi. Mycek. Tokyo: Karger. Penuntun Praktikum Pengembangan Hewan. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep (Jilid 1). 1995. Kimia Medisinil.Harvey. 1994. R. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM Aziz. Ilmu Resep. Mekanisme Transpor Tubulus Ginjal Dalam Buku Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi II.Champe. Siswando. 1989. Edisi Kelima. ISO Farmakoterapi .G. K. Bogor : IPB. 2006.Jakarta : Buku Kedokteran EGC Malole. Penggunaan Hewan – Hewan Percobaan Laboratorium. New York: Hill Book.C 2001.Its Application to Biomedical Research. 2008.A. Surabaya: Airlangga Press Syamsuni.. 1998. Yogyakarta: Buku Kedokteran EGC Sukandar dkk. H. dkk. 2007.. Genetic in Wild Mice.